Pages

Showing posts with label Micro Plastic. Show all posts
Showing posts with label Micro Plastic. Show all posts

Sunday, December 29, 2024

Inovasi Filter Mikroplastik

Teknologi Bulk Acoustic Wave untuk Penyaringan Mikroplastik Efektif

Mikroplastik adalah ancaman lingkungan yang semakin mendesak. Partikel-partikel plastik kecil ini, yang berukuran kurang dari 5 mm, telah mencemari ekosistem darat dan laut, bahkan masuk ke dalam rantai makanan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan mengembangkan teknologi inovatif berbasis Bulk Acoustic Wave (BAW) yang mampu menyaring mikroplastik secara efisien dari air.

Apa Itu Bulk Acoustic Wave (BAW)?

Bulk Acoustic Wave (BAW) adalah gelombang akustik yang merambat melalui medium padat atau cair. Dalam konteks penyaringan mikroplastik, teknologi ini memanfaatkan getaran ultrasonik untuk memisahkan partikel berdasarkan ukuran, densitas, dan sifat materialnya.

Prinsip utama teknologi BAW adalah menciptakan medan tekanan akustik yang dapat mengarahkan mikroplastik ke area tertentu dalam cairan. Proses ini bekerja tanpa memerlukan bahan kimia tambahan, menjadikannya solusi yang ramah lingkungan.

Cara Kerja Teknologi BAW dalam Penyaringan Mikroplastik

  1. Generasi Gelombang Akustik

    • Gelombang akustik dihasilkan menggunakan elemen piezoelektrik yang dikendalikan oleh generator frekuensi tinggi.
    • Getaran ultrasonik menciptakan medan tekanan dalam air yang mengandung mikroplastik.
  2. Pemisahan Mikroplastik

    • Mikroplastik terdorong menuju area tertentu berdasarkan massa dan ukuran partikelnya.
    • Partikel yang lebih kecil atau memiliki densitas lebih rendah akan merespons medan tekanan dengan cara yang berbeda dari partikel lainnya.
  3. Pengumpulan Mikroplastik

    • Mikroplastik yang telah dipisahkan kemudian dikumpulkan menggunakan perangkat penyaring tambahan atau sistem aliran.
    • Air yang sudah bersih dilepaskan ke lingkungan atau digunakan kembali.

Keunggulan Teknologi Bulk Acoustic Wave

  1. Efisiensi Tinggi
    Teknologi BAW dapat memisahkan partikel berukuran sangat kecil dengan tingkat presisi yang tinggi, menjadikannya solusi ideal untuk mikroplastik.

  2. Ramah Lingkungan
    Karena tidak menggunakan bahan kimia tambahan, teknologi ini mengurangi dampak lingkungan dibandingkan metode penyaringan konvensional.

  3. Fleksibilitas Aplikasi
    Sistem ini dapat diintegrasikan dalam berbagai jenis fasilitas pengolahan air, seperti instalasi air limbah domestik, industri, dan pemurnian air minum.

  4. Minim Pemeliharaan
    Teknologi ini menggunakan komponen yang tahan lama dan minim perawatan, sehingga mengurangi biaya operasional jangka panjang.

Aplikasi Potensial Teknologi BAW

  1. Pengolahan Air Limbah
    Diterapkan pada instalasi pengolahan limbah domestik dan industri untuk mencegah mikroplastik memasuki lingkungan perairan.

  2. Pemurnian Air Minum
    Membersihkan air dari partikel mikroplastik, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

  3. Pemulihan Ekosistem Laut
    Teknologi ini dapat digunakan pada kapal atau instalasi terapung untuk menyaring mikroplastik langsung dari laut.

  4. Industri Pakaian
    Mencegah pelepasan mikroplastik dari serat sintetis selama proses pencucian dengan memasang filter BAW pada mesin cuci.

Tantangan dan Masa Depan Teknologi BAW

Meski menjanjikan, teknologi BAW menghadapi beberapa tantangan:

  • Skalabilitas: Memproduksi perangkat dalam skala besar dan biaya terjangkau masih menjadi kendala.
  • Energi: Operasi BAW memerlukan sumber daya energi yang stabil, sehingga perlu inovasi untuk meningkatkan efisiensi energi.

Namun, dengan meningkatnya perhatian terhadap polusi mikroplastik, investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi BAW terus meningkat. Dalam waktu dekat, teknologi ini diharapkan menjadi salah satu solusi utama untuk mengatasi masalah mikroplastik global.

Kesimpulan

Teknologi Bulk Acoustic Wave adalah inovasi mutakhir yang mampu menyaring mikroplastik dengan cara yang efektif, ramah lingkungan, dan fleksibel. Dengan adopsi teknologi ini, dunia dapat mengambil langkah signifikan dalam melindungi ekosistem, meningkatkan kualitas air, dan mengurangi dampak buruk mikroplastik pada kesehatan manusia.


Sumber :

https://www.its.ac.id/news/en/2021/12/03/its-students-innovation-for-a-microplastic-free-ocean/

Trash Trap, Solusi Memerangi Mikroplastik

Plastik sudah banyak memudahkan hidup manusia dalam berbagai keperluan. Sifatnya yang ringan, mudah dibentuk, dan praktis membuat plastik banyak digunakan di beberapa produk sehari-hari.

Namun, siapa sangka plastik akan turut menjadi penyumbang sampah terbesar bagi bumi. Dikutip dari Republika, sekitar delapan juta ton sampah plastik terbuang dan terdeposit di lautan. Mengganggu kehidupan hewan-hewan laut di dalamnya juga menimbulkan ancaman mikroplastik bagi dunia.


Asal Muasal Mikroplastik

Mikroplastik adalah pecahan plastik yang berukuran kurang dari 5 mm. Sampah plastik di laut merupakan sumber dari mikroplastik yang telah mengalami proses dekomposisi. Sehingga plastik berukuran besar terurai menjadi partikel kecil yang dapat mengotori lautan karena ukurannya yang terlalu kecil sehingga sulit untuk disaring.

Mikroplastik sangat dikhawatirkan masuk ke tubuh manusia. Organisasi internasional Plastic Health Coalition menyebut bahwa paparan mikroplastik dalam tubuh manusia mampu menyebabkan kerusakan DNA, peradangan, hingga masalah kesehatan serius lainnya.

Kabar baiknya, berbagai inovasi telah ditemukan untuk memerangi mikroplastik termasuk penemuan filter yang terbuat dari Indonesia. 


Inovasi Filter Mikroplastik Buatan Indonesia

Melalui laman resminya, tim mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menemukan sebuah alat berupa penyaring yang berguna untuk menyaring mikroplastik dengan basis Bulk Acoustic Wave (BAW). Tim beranggotakan dua perempuan dan tiga laki-laki tersebut memanfaatkan gelombang akustik yang bersumber dari pengeras suara untuk membuat filter ini bekerja.

Gelombang akustik tersebut mendorong partikel-partikel mikroplastik sehingga dapat tersaring dari air. Tak hanya menyaring mikroplastik dari air laut, alat ini juga mampu bekerja untuk menyaring air tawar. 

Skema alat penyaring ini diawali dengan pemompaan air hingga air mengalir ke dalam alat melalui pipa akrilik. Kemudian, air akan dialirkan melewati dua buah pengeras suara full range yang mengapit pipa akrilik tersebut. Pengeras suara yang digunakan menimbulkan gaya dorong hingga partikel mikroplastik terpusat ke jalur pipa bagian tengah dan air akan terfiltrasi melalui pipa ujung kanan dan kiri. 

Inovasi yang diawali atas kekhawatiran degradasi sampah plastik di laut mampu mewujudkan 14 poin SDGs (Sustainable Development Goals) tentang menjaga ekosistem laut. Inovasi ini juga mampu menghasilkan medali perak pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di 2021 lalu. 


Magnet Ferrofluid Buatan Anak Usia 12 tahun

Inovasi lainnya berasal dari inventor muda berusia 12 tahun, Fionn Ferreira. Masa kecilnya yang ia habiskan di pesisir pantai dekat kampung halamannya yang penuh dengan sampah plastik, membuat ia bertekad untuk menghilangkan plastik kecil yang berasal dari sampah plastik di laut ini. Pada usia ke-12, pemuda asal Irlandia ini menemukan solusi menghilangkan mikroplastik dari air. 

Dengan tekadnya, ia merancang spektrometer yang menggunakan sinar ultraviolet guna mengukur tingkat kepadatan mikroplastik dalam larutan. Lalu, ia mencampur minyak dengan bubuk oksida besi untuk membuat cairan magnetik yang dikenal dengan sebutan dengan Ferrofluid. Kemudian, cairan magnet tersebut dapat digunakan untuk menghilangkan mikroplastik dalam larutan air, sehingga hanya menyisakan air yang bersih. 

Ferreira harus melakukan percobaan hingga 5000 kali, hingga ia mampu menciptakan metode ekstraksi mikroplastik dalam air ini secara 87% efektif. Atas temuannya, ia pun berhasil memenangkan kompetisi di Google Science Fair dan mendapatkan beasiswa senilai $50.000 atau setara dengan 117 juta rupiah pada 2019 lalu.

Kini, ia terus melanjutkan langkahnya sebagai ilmuwan sekaligus aktivis lingkungan bahkan telah mendapatkan penghargaan majalah Forbes dalam Forbes 30 under 30. 

Trash Trap, Penyaring Sampah di Sungai

Sesuai dengan namanya, trash trap berguna untuk menjerat sampah yang ada di sungai. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk memberhentikan laju sampah plastik di laut yang nantinya dapat menyebabkan timbulnya mikroplastik. Penggunaan trash trap ini telah banyak diterapkan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. 

Pemerintah kota Tangerang salah satunya. Penerapan penyaring sampah  di instalasi di Sungai Cisadane, Tangerang. Dengan bekerja sama bersama Yayasan Banksasuci, Aliansi Air DAS Cisadane, serta Multi Bintang Indonesia, instalasi penyaring sampah ini dilakukan pada 2020 lalu.

Penyaring berbahan dasar pipa PVC dan galvanis ini mampu mengurangi pencemaran air di sungai Cisadane dari sampah secara signifikan sehingga berdampak pada pengurangan jumlah sampah plastik di laut. Sampah yang terjerat dikumpulkan dan dikirim untuk dikelola oleh bank sampah setempat yang kemudian menghasilkan sejumlah dana yang kemudian digunakan menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar.

Meski penggunaan trash trap ini efektif digunakan, wali kota Tangerang tetap menghimbau warga nya untuk menjaga kebersihan sungai dari sampah. 

Instalasi penyaring sampah juga diterapkan di Nusa Tenggara Barat. Pemuda dari Central Environmental and Fisheries (CEF) menciptakan alat penyaring sampah yang terbuat dari tong plastik, jaring besi, dan kawat sebagai tali pengikat.


Kondisi Pantai Labuhan Haji, Nusa Tenggara Barat yang dipenuhi sampah akibat dari aliran sampah di sungai membuat mereka tergerak untuk mengantisipasi sampah di sungai. Tidak hanya berfungsi menjerat sampah, trash trap juga mampu digunakan sebagai alat penyeberangan sungai yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitar. 


Sumber :

https://waste4change.com/blog/trash-trap-solusi-memerangi-mikroplastik/#:~:text=Melalui%20laman%20resminya%2C%20tim%20mahasiswa,(PIMNAS)%20di%202021%20lalu.

Sunday, May 12, 2024

Sedotan Plastik : Ancaman Lingkungan Global & Perubahan Iklim



Sampah Sedotan Plastik: Ancaman Lingkungan Global yang Perlu Diperhatikan.

Sampah plastik telah menjadi masalah serius yang mengancam lingkungan kita, dan salah satu kontributornya adalah sampah sedotan plastik. Sedotan plastik, yang sering kali digunakan sekali pakai, telah menjadi salah satu sumber polusi plastik yang paling umum di seluruh dunia. Meskipun kecil dan tampaknya tidak berbahaya, dampaknya terhadap lingkungan sangat besar dan perlu diperhatikan dengan serius.

Dampak Lingkungan dari Sampah Sedotan Plastik.
Sampah sedotan plastik memiliki dampak yang merugikan bagi lingkungan dan kehidupan laut, yaitu diantaranya:

Menyumbat Saluran Pembuangan.
Sedotan plastik yang dibuang sembarangan seringkali menyumbat saluran pembuangan air dan menyebabkan banjir di daerah perkotaan.

Mengancam Kehidupan Laut.
Hewan laut seperti penyu, ikan, dan burung laut sering kali tertangkap atau memakan sedotan plastik yang terbuang di laut. Hal ini dapat menyebabkan cedera atau bahkan kematian.

Mikroplastik.
Ketika sedotan plastik terurai menjadi mikroplastik, mereka dapat masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya sampai ke piring kita. Ini berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi manusia.

Langkah-langkah untuk Mengurangi Penggunaan Sedotan Plastik.
Untuk mengatasi masalah sampah sedotan plastik, langkah-langkah berikut dapat diambil:

1. Pengurangan Penggunaan.
Mengurangi penggunaan sedotan plastik dengan menggunakan alternatif ramah lingkungan seperti sedotan kertas atau logam.

2. Edukasi Masyarakat.
Mengedukasi masyarakat tentang bahaya sedotan plastik bagi lingkungan dan mendorong penggunaan yang bertanggung jawab.

3. Regulasi Pemerintah.
Menerapkan regulasi yang melarang atau membatasi penggunaan sedotan plastik sekali pakai di restoran, kafe, dan toko-toko lainnya.

4. Pembersihan Lingkungan.
Mengadakan kegiatan pembersihan lingkungan untuk menghilangkan sampah sedotan plastik dari pantai, sungai, dan lautan.

5. Pentingnya Tindakan Bersama.
Masalah sampah sedotan plastik membutuhkan tindakan bersama dari individu, pemerintah, dan industri. Dengan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik dan mengelola limbah plastik dengan lebih baik, kita dapat melindungi lingkungan dan kehidupan laut untuk generasi mendatang.

Dengan kesadaran akan dampak negatifnya dan kerjasama yang kuat, kita dapat membuat perubahan positif dalam mengatasi masalah sampah sedotan plastik dan menjaga keberlanjutan planet ini.


Ancaman Tersembunyi bagi Perubahan Iklim.

Sampah plastik telah lama menjadi masalah lingkungan yang mendapat perhatian global. Namun, selain mengancam kehidupan laut dan ekosistem darat, sampah plastik juga memiliki dampak yang kurang diperhatikan, yaitu terhadap perubahan iklim. Salah satu kontributor terbesar terhadap masalah ini adalah sampah sedotan plastik. Mari kita lihat lebih dekat bagaimana sampah sedotan plastik dapat memperburuk perubahan iklim.

Peran Sampah Sedotan Plastik dalam Perubahan Iklim.

1. Produksi.
Produksi sedotan plastik melibatkan penggunaan bahan bakar fosil yang besar, seperti minyak bumi. Proses ini menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar, terutama karbon dioksida (CO2), yang berkontribusi pada pemanasan global.

2. Pembuangan.
Sampah sedotan plastik yang dibuang ke tempat pembuangan sampah atau terbuang secara ilegal seringkali dibakar. Pembakaran plastik melepaskan gas beracun dan emisi CO2 ke atmosfer, meningkatkan jejak karbon kita.

3. Pembusukan.
Ketika sampah sedotan plastik terurai di lingkungan, mereka melepaskan metana, gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2 dalam memperburuk efek rumah kaca dan menyebabkan pemanasan global.

Dampaknya pada Lingkungan dan Masyarakat.

Kerusakan Ekosistem.
Peningkatan suhu global dan perubahan pola cuaca dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, termasuk terumbu karang yang rusak dan kehilangan habitat bagi satwa liar.

Krisis Air.
Pemanasan global juga berkontribusi pada peningkatan kekeringan dan krisis air di berbagai wilayah, yang berdampak pada pertanian, ketersediaan air bersih, dan kehidupan masyarakat.

Kenaikan Permukaan Laut.
Mencairnya es kutub sebagai akibat dari pemanasan global menyebabkan kenaikan permukaan laut, mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh dunia.


Langkah-langkah untuk Mengatasi Masalah.

1. Pengurangan Penggunaan.
Mengurangi penggunaan sedotan plastik sekali pakai dengan beralih ke alternatif ramah lingkungan seperti sedotan kertas atau logam.

2. Pengelolaan Limbah.
Memperketat pengelolaan limbah plastik, termasuk daur ulang dan pemusnahan yang aman, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembakaran dan pembusukan plastik.

3. Edukasi dan Kesadaran.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hubungan antara sampah sedotan plastik dan perubahan iklim, serta mendorong tindakan yang lebih berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan.

Sampah sedotan plastik bukan hanya ancaman bagi kehidupan laut dan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada perubahan iklim yang semakin memburuk. Untuk melindungi planet kita dan mengatasi krisis perubahan iklim, penting bagi kita semua untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengelola limbah plastik dengan lebih baik. Dengan kerjasama global dan kesadaran kolektif, kita dapat melawan dampak negatif sampah sedotan plastik dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Thursday, May 2, 2024

Berbahayakah Jika Kita Tidak Sengaja Menelan Nanoplastik?


Air Mineral dalam Kemasan Terpapar Nanoplastik: Apa Bahayanya?.

Baru-baru ini, sebuah penelitian mengejutkan telah mengungkap bahwa air mineral dalam kemasan juga terpapar oleh nanoplastik. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan manusia dan menyoroti masalah polusi plastik yang semakin meresahkan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar merek air mineral dalam kemasan mengandung nanoplastik. Nanoplastik adalah fragmen plastik yang sangat kecil, dengan ukuran kurang dari 100 nanometer, yang dapat dengan mudah terlarut dalam air dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi air.

Kehadiran nanoplastik dalam air mineral dapat menjadi masalah serius karena potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia. Meskipun dampaknya masih belum sepenuhnya dipahami, beberapa penelitian menunjukkan bahwa nanoplastik dapat merusak organ dalam, menyebabkan gangguan hormonal, dan bahkan berkontribusi pada perkembangan penyakit seperti kanker.

Selain itu, kehadiran nanoplastik dalam air mineral juga menggarisbawahi masalah yang lebih besar tentang polusi plastik di lingkungan kita. Sampah plastik yang terbuang sembarangan sering kali memasuki lingkungan air, baik melalui sungai maupun laut, dan akhirnya terurai menjadi nanoplastik yang tersebar luas.

Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah dan produsen air mineral perlu meningkatkan pengawasan dan pengendalian mutu produk mereka untuk memastikan air mineral yang aman dan bebas dari kontaminasi nanoplastik. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang bahaya polusi plastik dan pentingnya penggunaan yang bertanggung jawab perlu ditingkatkan.

Di samping itu, inovasi dalam pengemasan yang ramah lingkungan dan pengembangan teknologi filtrasi yang lebih efektif juga dapat membantu mengurangi risiko terpaparnya air mineral oleh nanoplastik. Upaya kolaboratif dari semua pihak, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat, diperlukan untuk mengatasi masalah serius ini dan melindungi kesehatan manusia serta lingkungan hidup dari dampak negatif polusi plastik.


Berapa Banyak Plastik yang Kita Telan Saat Minum Air Kemasan?.

Air kemasan adalah pilihan minuman yang populer di tengah masyarakat modern saat ini. Namun, tahukah Anda bahwa dalam setiap tegukan air kemasan yang kita minum, kita mungkin juga menelan sejumlah kecil partikel plastik?.

Penelitian baru-baru ini telah mengungkap bahwa air kemasan juga mengandung sejumlah kecil partikel plastik yang mungkin terlarut dalam air. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Newcastle, Inggris, ditemukan bahwa rata-rata orang dapat mengonsumsi sekitar 2.000 serat plastik setiap minggunya hanya dari air minum kemasan.

Penelitian ini menyatakan bahwa mikroplastik, termasuk serat plastik, telah menjadi masalah global yang signifikan. Mereka dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk air minum, makanan laut, dan udara. Ketika dikonsumsi oleh manusia, mikroplastik ini dapat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan, meskipun dampaknya pada tubuh manusia masih belum sepenuhnya dipahami.

Pentingnya kesadaran akan masalah ini adalah agar masyarakat dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan mereka. Beberapa langkah yang dapat diambil termasuk:

1. Memilih Alternatif Minuman.

Selain air kemasan, memilih minuman lain yang lebih aman dari kontaminasi plastik, seperti air dari sumber yang teruji dan terpercaya, dapat membantu mengurangi paparan mikroplastik.

2. Menggunakan Filter Air.

Menggunakan filter air yang efektif dapat membantu menghilangkan sebagian besar mikroplastik dari air minum. Pastikan untuk memilih filter yang sesuai dengan kebutuhan dan berkualitas baik.

3. Mengurangi Penggunaan Plastik.

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, seperti botol air plastik, dapat membantu mengurangi pencemaran plastik secara keseluruhan. Beralih ke botol air yang dapat diisi ulang atau menggunakan gelas dan termos dapat menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

Meskipun keberadaan mikroplastik dalam air minum adalah masalah yang serius, langkah-langkah ini dapat membantu mengurangi risiko paparan mikroplastik dan melindungi kesehatan kita. Namun, upaya lebih lanjut untuk mengatasi masalah polusi plastik secara keseluruhan tetap diperlukan untuk melindungi lingkungan dan kesehatan manusia secara keseluruhan.


Begini Cara Aman Minum Air Putih tanpa Cemaran Partikel Nanoplastik.

Air putih adalah sumber hidrasi yang penting bagi tubuh manusia. Namun, baru-baru ini, kekhawatiran muncul terkait kemungkinan cemaran partikel nanoplastik dalam air minum. Bagaimana caranya agar kita dapat minum air putih dengan aman tanpa khawatir akan cemaran tersebut?

Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan bahwa air minum yang kita konsumsi tidak terkontaminasi oleh partikel nanoplastik:


1. Pilih Sumber Air yang Aman.

Lebih baik memilih air minum yang berasal dari sumber yang terjamin kebersihannya. Air dari sumur yang telah diuji kualitasnya secara berkala atau air minum kemasan yang telah teruji dan terbukti aman adalah pilihan yang lebih baik.

2. Gunakan Filter Air.

Menggunakan alat penyaring air dapat membantu menghilangkan partikel nanoplastik yang mungkin terkandung dalam air minum. Pastikan untuk memilih filter air yang efektif dalam menyaring partikel-partikel kecil seperti nanoplastik.

3. Hindari Botol Plastik Sekali Pakai.

Menghindari penggunaan botol plastik sekali pakai adalah langkah yang baik untuk mengurangi risiko terpapar nanoplastik. Botol plastik sekali pakai rentan terhadap degradasi dan pelepasan partikel-partikel plastik ke dalam air minum.

4. Pilih Botol Minum yang Aman.

Jika menggunakan botol minum pribadi, pastikan untuk memilih yang terbuat dari bahan yang aman, seperti stainless steel atau kaca. Hindari botol plastik yang dapat mengandung bahan kimia berbahaya.

5. Konsumsi Air dengan Porsi yang Tepat.

Meminum air dengan porsi yang tepat dapat membantu memastikan bahwa tubuh mendapatkan hidrasi yang cukup tanpa terlalu banyak terpapar potensi cemaran nanoplastik.

Meskipun risiko terpapar nanoplastik dalam air minum mungkin masih menjadi perhatian, langkah-langkah ini dapat membantu mengurangi risiko terhadap kesehatan kita. Penting untuk tetap mengikuti perkembangan penelitian dan rekomendasi dari otoritas kesehatan terkait masalah ini, sambil menjaga kebiasaan hidrasi yang sehat.


Sumber :

https://food.detik.com/info-kuliner/d-7289752/air-mineral-dalam-kemasan-terpapar-nanoplastik-apa-bahayanya

https://food.detik.com/info-sehat/d-7226657/begini-cara-aman-minum-air-putih-tanpa-cemaran-partikel-nanoplastik

https://lestari.kompas.com/read/2024/01/11/070000086/berapa-banyak-plastik-yang-kita-telan-saat-minum-air-kemasan-?page=all

Monday, April 29, 2024

Mengapa Mikroplastik Berbahaya?



Menyelusuri Dampaknya Terhadap Kesehatan dan Lingkungan.

Penelitian Ungkap Sejumlah Makanan Diam-Diam Mengandung Mikroplastik.

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap fakta yang mengejutkan: sejumlah makanan yang sering kita konsumsi secara diam-diam mengandung mikroplastik. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang dampak penggunaan plastik terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Penelitian ini mengungkap bahwa berbagai jenis makanan, mulai dari ikan, kerang, hingga garam, mengandung partikel mikroplastik. Peneliti menemukan bahwa mikroplastik telah menyebar ke berbagai ekosistem, termasuk lautan, sungai, dan bahkan tanah.

Mikroplastik adalah fragmen plastik kecil yang kurang dari lima milimeter dalam ukuran. Mereka dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk sampah plastik yang terurai, produk-produk kosmetik, dan bahan sintetis lainnya. Ketika mencapai lingkungan, mikroplastik dapat dengan mudah dimakan oleh makhluk hidup di berbagai tingkat trofik, termasuk manusia.

Penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran akan masalah polusi plastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Meskipun dampak kesehatan dari konsumsi mikroplastik masih belum sepenuhnya dipahami, ada kekhawatiran bahwa partikel-partikel ini dapat merusak organ dalam dan menyebabkan masalah kesehatan lainnya dalam jangka panjang.

Selain itu, penemuan ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan limbah plastik yang lebih baik dan upaya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Inisiatif untuk mendaur ulang plastik, mengembangkan produk-produk ramah lingkungan, dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya polusi plastik perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah ini.

Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang masalah mikroplastik, tetapi juga memicu panggilan untuk tindakan lebih lanjut dalam memerangi polusi plastik dan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.


Mikroplastik, partikel kecil yang terbuat dari plastik dengan ukuran kurang dari lima milimeter, telah menjadi perhatian besar dalam beberapa tahun terakhir karena dampaknya yang berpotensi merusak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Meskipun ukurannya kecil, mikroplastik memiliki potensi untuk menyebabkan dampak yang besar pada ekosistem dan kesehatan manusia. Mari kita jelajahi mengapa mikroplastik dianggap berbahaya:


1. Masuk ke Rantai Makanan.

Salah satu alasan utama mengapa mikroplastik dianggap berbahaya adalah kemampuannya untuk masuk ke dalam rantai makanan. Mikroplastik dapat dengan mudah dimakan oleh makhluk hidup di air, tanah, dan udara. Ketika makhluk ini dimakan oleh organisme yang lebih tinggi dalam rantai makanan, mikroplastik dapat terakumulasi dalam tubuh mereka, termasuk dalam tubuh manusia melalui makanan.


2. Bahaya Kesehatan Manusia.

Konsumsi mikroplastik melalui makanan dan minuman telah menjadi sumber keprihatinan utama dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun dampaknya pada kesehatan manusia masih belum sepenuhnya dipahami, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk peradangan, gangguan hormonal, dan kerusakan organ dalam.


3. Pencemaran Lingkungan.

Mikroplastik juga dapat mencemari lingkungan secara luas, termasuk air laut, sungai, tanah, dan udara. Dampaknya terhadap ekosistem bisa sangat merusak. Misalnya, mikroplastik yang terendap di dasar laut dapat merusak biota laut seperti terumbu karang dan makhluk laut lainnya.


4. Efek Toksik.

Selain sebagai bahan kimia yang beracun dalam plastik, mikroplastik juga dapat menyerap zat-zat kimia beracun lainnya dari lingkungan sekitarnya. Ketika dimakan oleh organisme, zat-zat beracun ini dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan efek toksik yang berbahaya.


5. Perubahan Ekologi.

Mikroplastik juga dapat mengganggu ekologi dan dinamika populasi dalam ekosistem tertentu. Misalnya, partikel plastik yang terendap di tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan mengubah komposisi mikroba tanah yang penting untuk siklus nutrisi.


Dengan memahami bahaya mikroplastik, penting bagi kita untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan sistem daur ulang, dan mengembangkan alternatif ramah lingkungan. Hanya dengan upaya bersama, kita dapat melindungi kesehatan manusia dan ekosistem bumi dari dampak negatif mikroplastik.


Sumber :

https://www.kompas.com/tren/read/2024/04/28/120000365/penelitian-ungkap-sejumlah-makanan-diam-diam-mengandung-mikroplastik?page=all

Thursday, February 8, 2024

Hubungan Sampah Plastik dan Efek Rumah Kaca

Sampah plastik yang tidak dibutuhkan sering dibuang di sembarang tempat, yang kemudian sebagian terakumulasi ke laut. Sampah plastik ini dapat mencemari ekosistem di laut. Selain mencemari laut, sampah plastik juga dapat mengakibatkan perubahan iklim, yaitu disebabkan oleh tingginya jumlah emisi gas CO2.


Polusi plastik laut dan perubahan iklim sangat berkaitan. Hal ini terbukti dengan tiga cara. 

Pertama, produksi plastik sangat bergantung pada ekstraksi bahan bakar fosil dan konsumsi sumber daya yang terbatas. 

Kedua, peristiwa iklim, seperti banjir, peningkatan cuaca ekstrim, mempengaruhi distribusi polusi plastik dan akan menyebar lebih jauh.

Ketiga, pemanasan global sendiri memiliki konsekuensi bencana yang dapat dibuktikan pada lingkungan laut, sementara dampak polusi plastik juga membuktikan sangat berbahaya bagi spesies dan ekosistem. Banyak satwa laut mati karena makan sampah plastik. Paling sering tersiar, hewan langka penyu.


Dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer.

Kantong plastik adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim. Karena, sejak proses produksi hingga tahap pembuangan dan pengelolaan, sampah plastik menimbulkan emisi banyak gas rumah kaca ke atmosfer.

Plastik terbuat dari minyak bumi dengan proses mengubah komponen minyak bumi menjadi molekul kecil yang disebut monomer. Kegiatan memproduksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel bahan baku minyak. 

Untuk mengubah minyak bumi menjadi monomer digunakan cara pembakaran. Dari metode inilah banyak gas rumah kaca menghasilkan emisi ke atmosfer.

Plastik terbuat dari minyak bumi yang diambil dari perut bumi lalu diolah menjadi turunan minyak dan gas bumi serta nafta yang merupakan bahan baku plastik. Nafta diolah menjadi pelet atau resin plastik. 

Proses ini membutuhkan energi yang besar sehingga menghasilkan emisi karbon yang sangat besar yaitu 1.781 juta metric ton CO2.

Kemudian pelet diolah dan dicetak menjadi produk plastik seperti botol plastik. Proses ini membutuhkan suhu tinggi dari pembakaran batu bara yang kira dapat menghasilkan emisi karbon sebesar 535 juta metric ton CO2.


Diperkirakan 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat.

Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Sebuah waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, tanggul, sehingga mengakibatkan banjir.


Polusi plastik adalah masalah global. Sebuah penelitian memprediksi 710 juta ton plastik akan mencemari lingkungan pada 2040. Plastik ditemukan di seluruh lautan, danau, sungai, tanah, sedimen, atmosfer, hingga biomassa hewan imbas pertumbuhan industri dan ekonomi yang mengabaikan limbah.

Diperkirakan sekitar 8 juta ton makroplastik dan 1,5 ton mikroplastik primer mencemari lautan setiap tahun. Sehingga, jika produksi plastik dan timbunan limbah terus tumbuh dengan angka tersebut, maka diproyeksikan polusi meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat pada 2050.

Tindakan global yang terkoordinasi diperlukan untuk menghindari tumpukan plastik yang lebih besar dari perkiraan 710 juta metrik ton pada tahun 2040.


Sumber :
http://www.taufanyanuar.com/2021/10/plastik-dapat-mempengaruhi-perubahan.html
http://www.taufanyanuar.com/2008/02/selamatkan-bumi-dari-plastik.html
https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/2022/06/plastik-dan-perubahan-iklim.html
https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/2023/07/tahun-2040-sampah-plastik-akan-menumpuk.html
https://www.mongabay.co.id/2023/06/02/sampah-plastik-dan-perubahan-iklim-seperti-apa/
https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/bagaimana-plastik-berpengaruh-pada-perubahan-iklim/

Wednesday, February 7, 2024

Nanoplastik yang Lebih Berbahaya daripada Mikroplastik

Penelitian terakhir menunjukkan nanoplastik telah ada di lingkungan. Nanoplastik ini lebih buruk dan berbahaya daripada mikroplastik. Jika mikroplastik berukuran dalam skala mikrometer, sedangkan nanoplastik hanya berukuran nanometer. Jika mikroplastik masih terlihat oleh mata atau mikroskop, sedangkan nanoplastik nyaris tidak terlihat. 

Nanoplastik terbentuk ketika potongan-potongan plastik yang lebih besar terurai karena sinar UV, gelombang, enzim alami, atau faktor lingkungan lainnya. 

Pencemaran ini terjadi seiring dengan lamanya waktu sampah plastik akan mengalami degradasi akibat adanya tekanan mekanis atau radiasi ultraviolet matahari menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

Masuknya polutan partikel ini juga bisa melalui sistem pernapasan karena partikel nanoplastik tersebar di udara. Nanoplastik dapat terurai dan terlepas ke udara, misalnya ketika seseorang memperbaiki pipa saluran pembuangan. Setelah mengudara, nanoplastik dapat melayang sejauh ribuan kilometer, hingga kutub bumi. 

Metode terbaik mendeteksi nanoplastik bergantung pada jumlah pengambilan sampel di air laut dan proses filterisasi. Jika manusia mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi partikel nanoplastik dapat terakumulasi di dalam tubuh sehingga menurunkan kesehatan.

Diperkirakan nanoplastik sudah ada lebih dari 100 tahun sejak penemuan plastik. 

Karena ukurannya yang jauh lebih kecil, nanoplastik dapat masuk ke tempat-tempat yang tidak dapat dimasuki oleh mikroplastik. Misalnya, jika mikroplastik bisa masuk ke dalam organ tubuh hewan, nanoplastik bisa masuk ke dalam sel mereka. 


Mikroplastik dan nano plastik saat ini sudah menjadi bahaya laten bagi kesehatan manusia semakin nyata. Hasil penelitian menunjukkan, setiap tahunnya rata rata orang memakan sekitar 50.000 partikel mikroplastik dan juga dalam jumlah yang sama kita menghirupnya melalui udara yang tercemar.

Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka dalam waktu dekat mikroplastik dan nano plastik  akan menjadi masalah kesehatan yang sangat serius bagi Indonesia.

Sampah plastik telah terbukti mempengaruhi lebih dari 660 spesies laut di seluruh dunia. Plastik yang dikenal ringan, kuat, tahan lama, dan murah, dan karakteristik ini membuatnya cocok untuk pembuatan berbagai produk. Namun, plastik juga dapat membahayakan lingkungan hidup. Ancaman plastik yang paling menonjol bagi kehidupan akuatik terjadi dari proses konsumsi rantai makanan.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa kontaminasi mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini karena akan berdampak buruk tidak saja pada lingkungan namun juga pada kesehatan masyarakat tanpa disadari banyak orang. 

Nanoplastik membawa segala macam bahan aditif kimia yang bisa menyebabkan sel-sel stres, kerusakan DNA dan perubahan metabolisme atau fungsi-fungsi sel.


Sekitar 90 persen dari partikel plastik yang ditemukan di air mineral adalah nanoplastik yang tidak terdeteksi di penelitian sebelumnya. Sebuah studi mengevaluasi air kemasan plastik dapat mengandung partikel plastik 100 kali lebih banyak atau 240.000 pecahan plastik yang dapat membawa masalah kesehatan. 

Sumber lain sebuah penelitian baru, menunjukkan bahwa sebuah botol air berkapasitas satu liter (33 ons) rata-rata mengandung sekitar 240.000 fragmen plastik. 

Dan dari sumber yang lain, mengungkap temuan 250.000 potongan partikel nanoplastik yang sangat kecil dan tidak terlihat ada di dalam botol kemasan. Temuan terkini itu terdeteksi dan dikategorikan untuk pertama kalinya oleh mikroskop menggunakan laser ganda.

Meskipun polusi plastik ada di mana-mana di bumi, air kemasan menjadi perhatian khusus para ilmuwan karena potensinya memasukkan partikel plastik ke dalam tubuh manusia. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2022 menemukan bahwa konsentrasi mikroplastik dalam air kemasan lebih tinggi dibandingkan air keran.

Sebuah laporan dari tahun 2021 memperingatkan bahwa membuka dan menutup tutup botol plastik berisi air dapat melepaskan serpihan plastik kecil ke dalam cairan. Mereka juga berencana untuk menyelidiki nanoplastik dalam sampel air keran dan salju yang dikumpulkan dari Antartika bagian barat.


Dunia saat ini sedang tenggelam di timbunan polusi plastik, dengan lebih dari 430 juta ton plastik diproduksi tiap tahunnya dan mikroplastik ditemukan di lautan dunia, makanan dan air minum, di mana sumber-sumbernya banyak yang berasal dari pakaian dan filter rokok.

Hampir seluruh peneliti menyatakan untuk mengurangi konsumsi AMDK, air minum dalam kemasan. Para peneliti telah mulai mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan setidaknya separuhnya, lalu mulai lebih mengandalkan air yang disaring di rumah.


Penelitian modern mengenai dampak nanoplastik terhadap lingkungan laut. Diantaranya adalah sebagai berikut.

Nanoplastik berdampak negatif terhadap ukuran, kesuburan dan perkembangan embrio Daphnia, krustasea kecil yang ukuran tubuhnya tidak melebihi 6 mm bahkan di usia dewasa. Sedangkan untuk mikroalga, nanoplastik mempengaruhi ukuran dan jumlah sel di coenobia, kelompok sel independen yang hidup bersama. 

Daphnia dan ganggang hijau Scenedesmus, yang hidup di air tawar, ditambahkan emulsi nanopartikel polistiren dengan konsentrasi tertentu. Percobaan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi polistiren menyebabkan penurunan ukuran tubuh dan kesuburan Daphnia. 

Dalam kasus mikroalga, dampak nanoplastik terlihat pada perubahan jumlah dan proporsi sel hidup dalam suatu populasi, serta ukuran sel dan jumlahnya di coenobium. 


Sumber :

https://www.republika.id/posts/48696/nanoplastik-lebih-bahaya-daripada-makroplastik

https://ppid.ipb.ac.id/prof-ronny-rachman-noor-ungkap-semakin-nyatanya-bahaya-laten-mikroplastik-dan-nanoplastik-bagi-kesehatan/

https://unair.ac.id/rumput-laut-dan-respon-imun-tubuh-yang-terpapar-nanoplastik/

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240115120549-37-505684/ada-240-ribu-serpih-plastik-di-1-liter-air-mineral-botol-ini-risetnya

https://www.kompasiana.com/rimantho/5fd99aca8ede4839bb020da2/apa-itu-nano-plastik-apa-bahayanya-bagi-lingkungan?page=all

https://www.antaranews.com/berita/3906852/kandungan-nanoplastik-dalam-air-kemasan-dapat-bahayakan-kesehatan

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240114191612-33-505507/astaga-ahli-temukan-250000-nanoplastik-di-botol-kemasan

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/26164/peneliti-air-botol-kemasan-mengandung-ratusan-nanoplastik

https://agroindonesia.co.id/awas-ilmuwan-temukan-partikel-nanoplastik-di-amdk/

https://www.kalbarnews.co.id/2024/01/menurut-penelitian-nanoplastik.html#google_vignette

Saturday, February 3, 2024

Hujan Plastik akibat Sampah Mikroplastik

Musim hujan sekarang ini kita perlu waspada. Bukan hanya dari derasnya hujan, atau karena kita bisa terserang penyakit karena kedinginan, namun juga kita harus waspada terhadap kandungan air hujan. Karena air hujan diduga mengandung partikel plastik.

Sebuah studi mengatakan bahwa dalam air hujan terdapat kandungan plastik berukuran mikroskopis yang pada akhirnya akan menyebabkan hujan plastik. Mikroplastik adalah partikel yang berukuran kurang dari 5mm yang dapat mengontaminasi air yang kita konsumsi dan minum.

Hal ini dikarenakan mikroplastik sangat melimpah yang menjadi sumber polusi yang dapat kita temui baik di daratan maupun di lautan. Sampah plastik terurai menjadi potongan-potongan kecil seiring berjalannya waktu dan menyebar ke atmosfer, tubuh manusia, dan spesies.

Partikel mikroplastik dapat menimbulkan penyakit dan kondisi termasuk kanker, infertilitas, dan gangguan hormon. Bahkan, tidak menyerang manusia saja, mikroplastik juga mempengaruhi pembentukan awan dan potensi dampaknya terhadap krisis iklim.

Jika polusi udara plastik tidak segera ditangani dengan serius, maka kombinasi dengan perubahan iklim akan menjadi risiko ekologi yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

Hujan plastik, dimulai dari siklus alamiah dari siklus air, dimana air yang ada di bumi menguap karena terpapar sinar matahari. Kemudian, terbentuk sekumpulan awan hingga akhirnya turun hujan. Yang menjadi masalah adalah kondisi air sekarang dipenuhi oleh sampah plastik. Sampah plastik menutupi permukaan lautan, sungai dan got. 

Plastik sebagai benda yang sulit terurai, plastik akan terus berada di air. Namun, tidak selamanya berada dalam kondisi utuh. Ada yang terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Pecahan-pecahan tersebut kemudian disebut mikroplastik yang tidak terlihat secara kasat mata, tetapi berada di air. Masalah makin besar ketika mikroplastik itu berubah menjadi partikel kecil bernama nanoplastik. Saat terjadi siklus air tersebutlah, plastik-plastik tersebut ikut serta ke langit dan turun sebagai hujan di berbagai tempat.


AMDK atau air minum dalam kemasan dalam bentuk gelas maupun botol plastik yang paling banyak menyumbangkan sampah di perairan Indonesia, yang memperbesar kerusakan lingkungan dan memperbesar risiko penyebaran mikroplastik dari konsumsi makanan laut ke tubuh manusia.

Selain berasal dari sampah plastik besar yang terpecah menjadi potongan lebih kecil, mikroplastik juga bisa berasal dari plastik polietilen yang sengaja diproduksi dan ditambahkan ke produk-produk tertentu. Misalnya, produk kecantikan, bahan pembersih, cat, dan sebagainya. Dengan ukuran sangat kecil dan ringan, mikroplastik dapat menyebar mudah ke seluruh pelosok Bumi


Menurut penelitian, paus biru secara tidak sengaja mengkonsumsi hingga 10 juta keping mikroplastik setiap hari. Itu setara dengan satu truk sampah plastik yang dibuang ke laut setiap menit. Pada manusia, potongan plastik mikroskopis telah terdeteksi dalam darah, ASI, dan plasenta.

Bahkan sebuah studi menunjukkan fenomena hujan mikroplastik terjadi di beberapa puncak gunung tertinggi di dunia. Misalnya di Pegunungan Rocky, Amerika Serikat. Studi lainnya, juga ditemukan mikroplastik dalam jumlah banyak di puncak Pyreness, pegunungan yang terletak di antara Prancis dan Spanyol. 

Hal ini tentunya sangat mengejutkan karena partikel mikroplastik yang dilihat di pegunungan tentunya telah terangkut dari jarak jauh. Serat plastik mikroskopis beraneka warna kemudian ditemukan pada lebih dari 90% sampel. Warna yang paling sering muncul adalah biru, merah, perah, ungu, hijau, dan kuning. 


Sumber :

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7150018/waspada-hujan-plastik-indonesia-tak-luput.

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240117102551-33-506505/fenomena-hujan-plastik-menghantui-bumi-begini-gambarannya

https://www.mongabay.co.id/2022/09/11/fenomena-hujan-plastik-mungkinkah-terjadi/

https://nationalgeographic.grid.id/read/131824515/hujan-plastik-terjadi-di-salah-satu-pegunungan-tertinggi-di-amerika

https://www.dream.co.id/stories/aneh-tapi-nyata-hujan-plastik-terjadi-di-paris-kok-bisa-230530h.html

https://nasional.tempo.co/read/1723618/mikroplastik-dibalik-kemasan-botol-dan-gelas-plastik

Tuesday, October 3, 2023

Mikroplastik pada Makanan dan Minuman

Mikroplastik Berbahaya yang Mungkin Ada di Makanan Kita

Selasa, 3 Oktober 2023 | 10:36 WIB

Mikroplastik adalah potongan kecil plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Mikroplastik tidak hanya ditemukan di lingkungan seperti di udara, air sungai atau air laut saja. Mikroplastik, bahkan sebenarnya juga ditemukan di dalam air minum dan makanan, yang artinya potongan plastik kecil ini mungkin ada di dalam tubuh kita.

Partikel-partikel mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk pemecahan plastik yang lebih besar, produk-produk plastik mikro dan limbah plastik yang tersebar di lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di dalam tubuh manusia termasuk darah, tinja dan jaringan tubuh yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh.


Dampak Negatif Mikroplastik bagi Tubuh

Mikroplastik dapat berdampak negatif bagi kesehatan tubuh, di antaranya:


Kemungkinan paparan zat kimia

Mikroplastik memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap zat kimia dari lingkungan. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan atau minuman, zat kimia yang menempel pada mikroplastik bisa berpindah ke tubuh manusia.


Risiko peradangan

Risiko peradangan akibat partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia hingga kini masih belum dipahami sepenuhnya dan masih terus diteliti. Namun, potensi reaksi inflamasi tubuh berlebihan mungkin terjadi saat mikroplastik dan zat kimia berbahaya yang diserapnya masuk lebih dalam ke tubuh.

Inflamasi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan autoimun.


Gangguan hormonal

Mikroplastik yang terpapar zat-zat kimia berbahaya bisa masuk ke dalam tubuh dan menjadi zat-zat pengganggu hormon yang memengaruhi sistem endokrin manusia. Ini dapat berdampak pada keseimbangan hormon di dalam tubuh dan memiliki efek jangka panjang yang tidak diinginkan.

Selain zat-zat pengganggu endokrin, mikroplastik juga mungkin membawa logam berat atau polutan organik yang meningkatkan paparan bahan kimia berbahaya di tubuh.


Jenis Mikroplastik yang Mungkin Terkandung di Dalam Makanan dan Minuman

Tidak hanya mungkin terhirup oleh hidung, mikroplastik juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman. Adapun beberapa jenis mikroplastik yang bisa ditemukan di dalam makanan atau minuman di antaranya:


BPA (Bisphenol A)

BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam produksi plastik seperti botol plastik, galon air kemasan, peralatan makan, peralatan dapur, mainan, lapisan pelindung kaleng makanan atau minuman serta produk kemasan makanan lainnya. BPA telah menjadi subjek perhatian karena potensinya sebagai zat kimia yang dapat mengganggu sistem endokrin.


BPA dapat menyebabkan dampak negatif lain bagi tubuh, di antaranya:

  • Memengaruhi perkembangan otak janin dan anak-anak
  • Memengaruh kesehatan reproduksi pria
  • Berdampak pada perubahan perilaku anak-anak
  • Meningkatkan tekanan darah, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular


Dioxin

Dioxin adalah sekelompok senyawa kimia yang sangat beracun yang merupakan produk sampingan dari proses industri dan pembakaran termasuk pembakaran sampah, pembakaran bahan bakar fosil dan proses kimia tertentu. Dioxin dikaitkan dengan masalah sistem reproduksi termasuk gangguan menstruasi, penurunan kesuburan dan masalah perkembangan seksual.

Dioxin juga dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh, gangguan hormonal, meningkatkan risiko perkembangan kanker serta memengaruhi sistem saraf dan perkembangan otak anak-anak secara negatif.


Phthalate

Phthalate adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai agen pemlastis. Bahan kimia ini dapat meningkatkan fleksibilitas, kekuatan dan daya tahan plastik sehingga lebih mudah dibentuk dan tahan lama. Beberapa jenis phthalate dikaitkan dengan gangguan hormonal yang berdampak negatif terutama bagi anak-anak.


Polyethylene dan polypropylene

Kedua jenis bahan kimia ini membuat kemasan menjadi lebih ringan dan tahan lama. Penelitian menemukan bahwa bahan kimia ini mungkin berkontribusi terhadap beberapa jenis kanker.


Sumber :

https://www.ai-care.id/penyakit/mikroplastik-berbahaya-yang-mungkin-ada-di-makanan-kita

Wednesday, September 27, 2023

Mikroplastik Ada di Jantung hingga Otak

Mikroplastik Ada di Jantung hingga Otak, Masuk via Air Minum

20 September 2023 09:30


Kandungan mikroplastik di air minum ternyata bisa masuk ke jantung hingga otak. Hal ini diketahui berdasarkan penelitian yang dilakukan para ilmuwan tentang dampak mikroplastik terhadap kesehatan.

Studi tersebut menemukan beberapa hasil awal yang bikin ngeri dalam percobaan yang dilakukan pada tikus.

Tikus tua dan muda diuji dengan meminum air dengan kandungan plastik mikroskopis yang tersuspensi selama tiga minggu. Para peneliti di Universitas Rhodes Island menemukan jejak polutan telah terakumulasi di setiap organ tubuh mamalia kecil tersebut, bahkan di otak.

Kehadiran mikroplastik ini juga dibarengi dengan perubahan perilaku seperti demensia pada manusia, serta perubahan penanda imun di hati dan otak.

"Bagi kami, ini sangat mengejutkan. Ini bukan mikroplastik dosis tinggi. Namun hanya dalam waktu singkat, kami melihat perubahannya," jelas ahli saraf Jaime Ross, dikutip dari Science Alert, Selasa (19/9/2023).

"Tidak ada yang benar-benar memahami siklus hidup mikroplastik ini di dalam tubuh, jadi salah satu hal yang ingin kami jawab adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi seiring bertambahnya usia,"

"Apakah Anda lebih rentan terhadap peradangan sistemik dari mikroplastik ini seiring bertambahnya usia? menghilangkannya dengan mudah? Apakah sel-sel Anda memberikan respons yang berbeda terhadap racun-racun ini?"

Hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung pada manusia, tetapi penelitian yang melibatkan model hewan seperti ini adalah langkah awal yang penting dalam penelitian klinis selanjutnya.

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan mikroplastik bersembunyi di usus manusia, beredar di aliran darah, berkumpul di paru-paru, dan merembes ke plasenta.

Pada tahun 2021, para ahli toksikologi memperingatkan bahwa penelitian di masa depan perlu segera mengungkap pengaruh polutan ini terhadap kesehatan manusia, terutama karena paparannya kini hampir mustahil untuk dihindari.


Beberapa tikus juga diberi air minum biasa sebagai kontrol.

Selama uji coba tiga minggu, perilaku tikus dinilai secara teratur selama uji lapangan terbuka yang mendorong perilaku eksplorasi. Mereka juga melakukan tes preferensi terang-gelap, yang didasarkan pada keengganan alami hewan pengerat terhadap area yang terang benderang.

Dibandingkan dengan kelompok yang dikontrol, tikus yang meminum air yang terkontaminasi mikroplastik selama tiga minggu menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Perubahan terjadi terlihat terutama pada tikus yang lebih tua.

Pada akhir tiga minggu, partikel mikroplastik berpendar merah ditemukan di setiap jenis jaringan yang diperiksa tim seperti otak, hati, ginjal, saluran pencernaan, jantung, limpa, dan paru-paru. Plastik juga ada di kotoran dan urin tikus.

Fakta bahwa polutan terdeteksi di luar sistem pencernaan menunjukkan bahwa polutan tersebut mengalami sirkulasi sistemik.

Kehadiran mereka di otak sangat memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa polutan yang berpotensi beracun ini dapat melewati penghalang kekebalan yang memisahkan sistem saraf pusat dari aliran darah tubuh lainnya, sehingga mungkin menyebabkan masalah neurokognitif.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230920075758-37-473918/mikroplastik-ada-di-jantung-hingga-otak-masuk-via-air-minum

Sunday, August 27, 2023

Microplastic Fibres were Found Deep in the Lower Lungs

Study finds plastics found in masks present in patients’ lungs

By Amanda Brown Apr 17, 2022  3

Microplastic fibres were found deep in the lower lungs of living human beings in almost every person sampled in a recent UK study.

The study from Great Britain discovered microplastic particles — present in many COVID-19 masks — in the lung tissue of 11 out of 13 patients undergoing surgery.

Polypropylene (PP) and polyethylene terephthalate (PET) were the most prevalent substances present in the lungs.

The microscopic plastic fragments and fibres were discovered by scientists at Hull York Medical School in the UK. Some of the filaments were two millimetres long in patients undergoing surgery whose lung tissue they sampled.

The plastic dust and microscopic debris comprises the same plastics used to manufacture the ubiquitous surgical masks worn by hundreds of millions of people around the world as mandated by governments in an attempt to halt the spread of COVID-19.

The material most commonly used to make these masks is PP — PP fabric is made from a “thermoplastic” polymer, meaning that it’s easy to work with and shape at high temperatures.

Blue surgical masks can also be made of polystyrene, polycarbonate, polyethylene, or polyester, all of which are types of fabrics derived from thermoplastic polymers.

Disposable blue masks are to be found littering almost every city street in the developed world after two years of COVID-19 mandates ruled that masks should be worn in most indoor environments much of the time. Healthy adults, children, the immunocompromised, and the elderly have all been subject to mask mandates.

Microplastics were detected in human blood for the first time in March, showing the particles can travel around the human body and may become embedded in organs. The impact on health is still to be determined.

Researchers are concerned because microplastics cause damage to human cells in the laboratory and air pollution particles are already known to enter the body and cause millions of premature deaths each year.

Mask under a microscope. Image courtesy E.P. Vicenzi/Smithsonian’s Museum Conservation Institute and NIST

“Airborne microplastics (MPs) have been sampled globally, and their concentration is known to increase in areas of high human population and activity, especially indoors. Respiratory symptoms and disease following exposure to occupational levels of MPs within industry settings have also been reported,” the UK study said. “In total, 39 MPs were identified within 11 of the 13 lung tissue samples… These results support inhalation as a route of exposure for environmental MPs, and this characterization of types and levels can now inform realistic conditions for laboratory exposure experiments, with the aim of determining health impacts.”

“We did not expect to find the highest number of particles in the lower regions of the lungs, or particles of the sizes we found,” said Laura Sadofsky, at Hull York Medical School in the UK, a senior author of the study. “It is surprising as the airways are smaller in the lower parts of the lungs and we would have expected particles of these sizes to be filtered out or trapped before getting this deep.”

“This data provides an important advance in the field of air pollution, microplastics, and human health,” she said.

The research used samples of healthy lung tissue from next to the lung region targeted for surgery. It analyzed particles as small as .003mm in size and used spectroscopy to identify plastic types.

It also used control samples to account for the level of background contamination. The study has been accepted for publication by the journal Science of the Total Environment.

An older study published in 2020 looked into the risks associated with mask-wearing and the inhalation of microplastics. The study concluded:

• Wearing masks poses microplastic inhalation risk, reusing masks increases the risk

• Wearing N95 masks poses lowest microplastic inhalation risks in the long term

• Wearing masks, except for N95, poses higher stripe-type microplastic inhalation risk

• Wearing masks poses considerably lower spherical-type microplastic inhalation risk

• Wearing masks leads to lower gross microplastic inhalation risk in the long term


“Surgical, cotton, fashion, and activated carbon masks wearing pose higher fibre-like microplastic inhalation risk, while all masks generally reduced exposure when used under their supposed time (<4 h),” the study said.

Chris Schaefer is a respirator specialist and onsite training expert based in Edmonton, Alta. He has been teaching and conducting respirator fit testing for more than 20 years with his company, SafeCom Training Services Inc. His clients include government departments, Canada’s military, Alberta Health Services, educational institutions, and private industry. Schaefer is a published author and a recognized authority on the subject of respirators and masks.

The Western Standard asked Schaefer if he believed surgical masks of the type used by millions of Canadians, and people throughout the world, presented a significant risk of microplastic inhalation from the masks themselves. He began by clarifying that the face covering generally referred to as a ‘mask’ is not, in fact, a mask, at all.

Schaefer refers to COVID-19 face coverings as “breathing barriers.”

“What has been mandated in hospitals and through the general public through this whole COVID-19 agenda, are not masks. They don’t meet the legal definition [of a mask,] “Shaefer said. “A [proper] mask has engineered breathing openings in front of mouth and nose to ensure easy and effortless breathing. A breathing barrier is closed both over mouth and nose. And by doing that, it captures carbon dioxide that you exhale, forces you to re-inhale it, causing a reduction in your inhaled oxygen levels and causes excessive carbon dioxide. So they’re not safe to wear.”

“As far as whether it could cause somebody to inhale the polypropylene fibres that are used to make this and synthetic polymers that are used to make the filtration of these devices — absolutely. Take a pair of scissors and cut one open. You can see that in between the two main covers that are encapsulating, these loose fibres are breaking away. They’re becoming dislodged from the cover itself, just through normal wear and tear and the agitation of putting it on and taking it off,” Schaefer said.

“The heat and moisture that it captures will cause the degradation of those fibres to break down smaller. Absolutely, people are inhaling [microplastic particles]. I’ve written very extensively on the hazards of these breathing barriers the last two years, I’ve spoken to scientists [and other] people for the last two years about people inhaling the fibres. If you get the sensation that you’ve gotten a little bit of cat hair, or any type of irritation in the back of your throat after wearing them,” said Schrieffer. “That means you’re inhaling the fibres.”

Schaefer said we will have to wait to see the the long-term effects of the inhalation of microplastics from masks.

“So we know that people are inhaling the fibres. What the risks are going to be, what the effects are going to be — it could be anything — but it could definitely cause lung inflammation and could cause full-body inflammation. Absolutely,” Schaefer said.

“This is not normal. Anybody who would normally be exposed to any type of synthetic polymers or polypropylene fibres [in an occupational environment] would have to wear approved respiratory protection. These breathing barriers are not respirators. These fibres break down to between .2 mm, and the large ones are five mm. So they’re totally inhalable, they break down very small and and, well, what that’s going to do to people in the in the form of lung function — as well as toxicity overload in their body — I guess we’ll know in a few years.

Although the latter study assessed the masks’ abilities to filter incoming environmental microplastics, the study did not assess whether particles were shed from the construction of the mask fabric itself on its alternate side — particles that would enter the lungs of a wearer.


Sumber :

https://www.westernstandard.news/features/study-finds-plastics-found-in-masks-present-in-patients-lungs/article_056590f2-0615-5bc9-aab0-730e7704634e.html

Monday, August 21, 2023

Mikroplastik Dibalik Kemasan Botol dan Gelas Plastik

Selasa, 9 Mei 2023 13:03 WIB

Kandungan mikroplastik dari hasil penelitian atas tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). Air minum dalam kemasan (AMDK) plastik yang kita minum ternyata mengandung mikroplastik berbahaya. Konsumen menelan butiran plastik tak kasat mata dalam AMDK botol atau gelas plastik yang dikonsumsi sehari-hari.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian global yang dilakukan oleh State University of New York at Fredonia dan didukung oleh organisasi media nirlaba di Amerika Serikat, Orb Media. Penelitian ini menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di delapan negara, termasuk air minum yang diproduksi salah satu produsen AMDK di Indonesia. Hasilnya, 93 persen AMDK yang menjadi contoh, ternyata mengandung mikroplastik.

“Indonesia menjadi salah satu negara yang diambil sampelnya karena memiliki pangsa besar air minum dalam kemasan. Tim peneliti mengambil 30 botol AMDK salah satu produsen dari Jakarta, Bali, dan Medan dan dibawa ke New York pada November 2017 untuk diuji di laboratorium State University of New York at Fredonia,” demikian paparan tim peneliti via publikasi rilis mereka.

Hasilnya sangat mengkhawatirkan, karena setiap botol, rata-rata mengandung 382 mikroplastik partikel per liter. Bahkan, kandungan mikroplastik terbanyak ada dalam 1 sampel botol yang mencapai 4.713 partikel mikroplastik per liter.

“Ukuran mikroplastik yang ditemukan beragam, mulai dari 6,5 mikrometer atau setara sel darah merah, hingga lebih dari 100 mikrometer atau setara dengan diameter rambut manusia,” papar riset tersebut.

Paparan dari banyak temuan hasil riset, kandungan mikroplastik dalam air minum dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius bagi manusia. Ahli toksikologi dari Universitas Indonesia, Budiawan, menyatakan bahwa partikel mikroplastik berukuran sama atau lebih kecil dari sel manusia berpotensi menjadi bahaya, karena dapat diserap dan masuk ke dalam aliran darah.

Selain itu, akumulasi mikroplastik dalam tubuh dapat mengganggu kerja organ vital seperti ginjal dan hati. “Akumulasi terjadi kalau tubuh tidak mengeluarkan partikel asing secara alami lewat ekskresi,” kata Budiawan.

Ahli nutrisi, Tan Shot Yen, juga mengatakan bahwa semakin kecil partikel mikroplastiknya, semakin mudah dan semakin banyak diserap sel. Tan merujuk salah satu penelitian dari Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel itu terhadap plankton di perairan bebas yang telah tercemar.

“Dampak terberatnya adalah gangguan pertumbuhan dan reproduksi. Tentu saja, jika mencetuskan radikal bebas, resiko kanker tidak bisa ditepis,” kata Tan.

Di luar botol plastik, riset terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, bekerja sama dengan lembaga FMCG Insights menunjukkan, AMDK gelas plastik ternyata juga paling banyak terkontaminasi mikroplastik.

Penelitian ini dilakukan terhadap beberapa merek AMDK dalam berbagai bentuk kemasan, yaitu botol, galon, dan gelas. Dari tiap-tiap merek dan kemasan diambil sampel empat buah.

Hasil penelitian ini kemudian mendapati bahwa hanya ada lima dari total 48 sampel yang tidak terkontaminasi oleh mikroplastik. “Dengan kata lain, ada 89,6 persen sampel AMDK yang terkontaminasi mikroplastik,” kata Khusnul Yaqin, salah satu peneliti utama yang bersama timnya melakukan penelitian dan pengambilan sampel di Makassar, Sulawesi Selatan.

Berdasarkan hasil penelitian timnya, ia mengatakan bahwa mikroplastik yang ditemukan di dalam AMDK bisa juga berasal dari sumber air bakunya atau mikroplastik yang ada di udara pada saat proses pengemasan AMDK.

“Yang menjadi perhatian saat ini adalah keberadaan mikroplastik dalam jumlah besar di badan perairan, yang bisa berakibat fatal bagi biota laut,” kata ahli ekotoksikologi itu. Dengan kata lain, mikroplastik bisa berpengaruh pada rantai pangan yang nantinya masuk dan terakumulasi di dalam tubuh manusia, artinya, bicara mikroplastik tak bisa dilepaskan dari siapa yang paling bertanggungjawab sebagai penyumbang sampah dan mikroplastik terbesar di Indonesia.

Berdasarkan laporan brand audit yang dikeluarkan oleh NGO di bidang lingkungan. AMDK gelas plastik yang paling banyak menyumbangkan sampah di perairan Indonesia. Itu artinya memperbesar kerusakan lingkungan dan memperbesar risiko penyebaran mikroplastik dari konsumsi makanan laut ke tubuh manusia. (*)


Sumber :

https://nasional.tempo.co/read/1723618/mikroplastik-dibalik-kemasan-botol-dan-gelas-plastik

Tuesday, August 15, 2023

Mikroplastik turut mencemari udara Jakarta

Riset terbaru: selain perairan, mikroplastik turut mencemari udara Jakarta

Diterbitkan: Maret 9, 2022 12.45pm WIB

Lecturer on Marine Science Department, Universitas Sriwijaya

Pengungkapan

Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan support fasilitas dan pendanaan dari lembaga riset nasional, yaitu LIPI. Pada jurnal yang telah diterbitkan, peneliti LIPI yang terkait (M.Reza Cordova) merupakan salah satu penulis jurnal tersebut

Jakarta merupakan kota yang dikepung polusi udara. Sebagian besar polusi tersebut berasal dari sektor transportasi, disusul oleh industri dan pembangkit listrik.

Material-material pengotor seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), ataupun partikel debu berukuran 2,5 mikron (PM 2,5) menjadi biang keladi pencemaran di atmosfer Jakarta.

Namun, sumber pencemaran udara di Ibu Kota bukan hanya itu. Riset kami menemukan plastik berukuran sangat kecil (mikroplastik) yang terombang-ambing di udara sekitar Ancol, kawasan pesisir Jakarta. Ini merupakan penelitian pertama di Indonesia tentang mikroplastik di atmosfer (mikroplastik atmosferik) pada ketinggian 28 meter di atas permukaan tanah.

Temuan ini semestinya menjadi informasi untuk meningkatkan kesadaran dan menjaga kelestarian lingkungan. Pasalnya, bukan hanya di perairan, udara yang kita hirup pun tak lepas dari risiko pencemaran mikroplastik.


Cara mendeteksi mikroplastik di udara

Plastik merupakan bahan sintetis yang selalu dapat terpecah ke dalam bentuk yang lebih kecil, bahkan hingga mencapai ukuran mikrometer atau yang biasa dikenal dengan mikroplastik. Ukurannya bisa lebih kecil dari rambut manusia.

Ukuran yang kecil mengakibatkan “monster mikro” ini dapat terbawa ke seluruh bagian suatu badan air dan bahkan terakumulasi pada mahluk hidup.

Sedangkan, mikroplastik atmosferik merupakan mikroplastik yang berterbangan di udara sekitar kita, bersama dengan debu atau partikel kecil lainnya. Ukurannya yang kecil mengakibatkan mikroplastik dengan mudah terhirup dan berisiko mengakibatkan infeksi saluran pernapasan dan gangguan paru-paru.

Kami meneliti keberadaan mikroplastik atmosferik dengan pengambilan sampel selama setahun. Sampel diambil menggunakan alat penampung air hujan yang steril dan berbahan kaca. Alat ini dilengkapi dengan corong dan juga diisi dengan 10 ml air yang telah disuling (aquades).

Alat penampung kemudian diletakkan pada atap gedung Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Ancol, Jakarta Utara, yang bebas dari gangguan pohon maupun gedung lainnya.

Setiap bulan, alat penampung dipasang selama 96 jam. Sampel mikroplastik yang diperoleh kemudian dihitung dan diamati menggunakan mikroskop. Kami melakukan identifikasi bahan-bahan yang terkandung pada mikroplastik menggunakan spektroskopi inframerah (FT-IR).

Hasilnya, terdapat rata-rata 15 partikel mikroplastik yang jatuh setiap hari pada areal seluas 1 meter persegi (m²). Mayoritas di antaranya (80%) berukuran sekitar 0.3-0.5 milimeter (mm), sisanya berada pada rentang 0.5-1 mm.

Kami juga mencatat jumlah mikroplastik meningkat drastis pada musim hujan (November-April). Kami menduga mikroplastik ini terbawa oleh tetesan air hujan. Semakin tinggi curah hujan, semakin banyak mikroplastik yang terjatuh.

Sebagian besar mikroplastik yang kami peroleh setiap bulannya berbentuk fiber (serat penyusun pakaian). Sebagian kecil lainnya berbentuk potongan-potongan kecil dan foam (gabus).

Adapun mayoritas (82%) mikroplastik atmosferik yang kami temukan di Ancol merupakan plastik jenis poliester (PET). Ini merupakan material produk garmen.

Sedangkan, sisanya berbahan polistirena (PS) - jamak dipakai sebagai material kemasan styrofoam. Ada juga polibutadiena (PB) atau karet sintetis, dan polietilena (PE) yang dipakai sebagai bahan kantung plastik sekali pakai.

Menilik dari dominasi bentuk, ukuran, dan jenisnya, mikroplastik yang diperoleh ini merupakan emisi dari kegiatan rumah tangga. Bentuk fiber dan polimer PET umumnya diperoleh dari aktifitas di daerah perkotaan, seperti garmen dan penatu (laundry).


Berbahayakah mikroplastik di udara Jakarta?

Jumlah temuan mikroplastik atmosferik di Ancol sebenarnya masih lebih sedikit dibandingkan kawasan metropolitan lainnya di dunia. Misalnya, di Dongguan, Cina, mikroplastik yang ditemukan mencapai 36 partikel setiap hari pada luas areal 1 m². Sedangkan di Paris, Perancis, mencapai 110 partikel.

Mikroplastik juga ditemukan di udara sekitar Hamburg, Jerman, sebanyak 275 partikel, dan London, Inggris, mencapai 771 partikel.

Studi yang dilakukan di jalan utama di kota Surabaya di ketinggian 1,2 meter pada 2019 silam juga menemukan konsentrasi mikroplastik sebesar 247 partikel.

Meski demikian, patut diingat bahwa Ancol sebagai lokasi pengambilan sampel dalam penelitian kami merupakan kawasan yang tidak dihuni banyak penduduk. Aktivitas lalu lintas juga tidak terlalu padat, dan dekat dengan Teluk Jakarta.

Selain itu, sampel yang kami dapatkan di Ancol adalah mikroplastik yang jatuh pada ketinggian 28 m. Semakin tinggi lokasi pengambilan sampel, mikroplastik yang diperoleh juga akan semakin sedikit.

Temuan ini akan berbeda apabila pengamatan kami lakukan di ketinggian yang lebih rendah dengan aktivitas penduduk yang lebih padat. Misalnya, jika pengambilan contoh mikroplastik kami lakukan di pusat kota Jakarta dengan ketinggian yang dekat dengan hidung kita (sekitar 1,5-2 meter), tidak menutup kemungkinan mikroplastik yang didapat akan lebih banyak.

Walaupun risiko ini sudah diketahui, sejauh ini belum ada pemantauan mikroplastik di udara Jakarta, ataupun baku mutu mikroplastik di udara yang dibolehkan. Karena itu, kami menyarankan kandungan mikroplastik atmosferik menjadi salah satu unsur kualitas udara yang harus diukur secara berkala oleh pemerintah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di Jakarta.


Sumber :

https://theconversation.com/riset-terbaru-selain-perairan-mikroplastik-turut-mencemari-udara-jakarta-177924

Tuesday, August 1, 2023

Pakar Temukan Mikroplastik di Paru-paru, Masuk via Pernafasan

Jumat, 08 Apr 2022 09:47 WIB

Peneliti menemukan mikroplastik di paru-paru manusia setelah sebelumnya menemukan material tersebut di aliran darah. Para ahli menduga partikel ini masuk melalui saluran nafas.

Istilah mikroplastik pertama kali muncul pada 18 tahun lalu. Kini material tersebut sepertinya ada di mana-mana, termasuk tubuh manusia. Temuan sebelumnya, para ahli menemukan mikroplastik di dalam darah.

Manusia rata-rata mengkonsumsi sekitar 74 ribu partikel plastik per tahun yang sejauh ini belum diketahui efeknya terhadap kesehatan.

Pada Maret lalu, ilmuwan mengumumkan penemuan mikroplastik berada pada aliran darah manusia. Baru-baru ini, mikroplastik ditemukan di bagian manusia yang lebih dalam lagi, yakni di paru-paru.

Studi sebelumnya pada sampel jenazah pengidap kanker paru-paru telah menemukan serat kecil dan serpihan plastik, tetapi tidak ada yang menganalisis susunan polimer sintetis dari temuan tersebut.

Pada studi terbaru ini, beberapa jenis mikroplastik muncul cukup sering, termasuk polietilen, yang ditemukan dalam kantong plastik dan kemasan; resin dari cat, jalan, dan ban; serta nilon dari pakaian.

Meski ditemukan dalam jumlah kecil, mikroplastik tersebar di seluruh paru-paru; semakin bawah lapisan paru-parunya, semakin banyak kontaminasinya.

Tak diduga, partikel-partikel plastik yang ditemukan di dalam paru-paru tersebut berukuran besar.

"Ini mengejutkan karena saluran udara lebih kecil di bagian bawah paru-paru, dan kami mengira partikel dengan ukuran ini akan disaring atau terperangkap sebelum masuk ke dalam paru-paru," jelas spesialis pernapasan Laura Sadofsky dari Sekolah Medis Hull York di Inggris.

Selama beberapa dekade, para ahli memperkirakan hanya partikel dengan diameter di bawah 3 mikrometer yang dapat memasuki daerah alveolus, yang merupakan pusat pertukaran gas di paru-paru.

Saat ini, bukti ilmiah menunjukkan saluran tersebut memiliki diameter sekitar 540 mikrometer dan panjang 1.410 mikrometer.

Namun, penelitian terbaru menemukan partikel plastik dengan panjang hingga 2.475 mikrometer dan lebar hingga 88 mikrometer, yang menurut mereka "terlalu besar untuk ada, namun nyatanya ada."

Studi tersebut menunjukkan bernafas adalah rute reguler paparan mikroplastik bagi manusia, dan kita mungkin menghirup partikel yang lebih besar daripada yang diperkirakan para ahli.

Selain teori tersebut, tak banyak yang diketahui terkait paparan mikroplastik di dalam tubuh. Misalnya, apa sebenarnya pengaruh mikroplastik di paru-paru kita terhadap kesehatan.

"Data ini memberikan kemajuan penting di bidang polusi udara, mikroplastik, dan kesehatan manusia," kata Sadofsky.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220407152811-199-781693/pakar-temukan-mikroplastik-di-paru-paru-masuk-via-pernafasan.

Potensi Mikroplastik pada Ikan Indonesia Kian Tinggi

Selasa 18 Februari 2020

Sampah plastik yang kemungkinan dimakan ikan. Kasubdit Restorasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sapta Putra Ginting menyampaikan bahwa pencemaran laut berdampak pada kandungan mikroplastik dalam ikan-ikan di Indonesia. 

"Semakin hari semakin tinggi, terutama di ruang laut kota-kota besar di Indonesia yang banyak memproduksi sampah plastik dan membuangnya ke laut," kata Sapta, di Kuta, Kabupaten Badung, Selasa (18/2). 

Walau secara keseluruhan, imbuhnya, kondisi ini masih di bawah ambang batas normal, yang artinya ikan masih aman untuk dikonsumsi, tapi tak bisa dibiarkan. Pasalnya bila dibiarkan dan tidak ada gerakan masif untuk mengatasinya, maka ikan yang mengandung mikroplastik akan semakin banyak di wilayah perairan Indonesia. 

Padahal mengonsumsi ikan yang mengandung mikroplastik secara terus menerus berpotensi menimbulkan kanker. Sampai saat ini memang baru beberapa daerah yang lautnya telah dilakukan pemetaan, antara lain daerah Makasar, Jakarta, Pulau Maratua Kalimantan, dan Selat Sumatera. 

Adapun tujuan pemetaan adalah untuk mengetahui seberapa besar ikan-ikan di laut telah mengandung mikroplastik. "Dari 66 ikan yang diteliti di empat titik, ada 20 ikan yang sudah mengandung mikroplastik. 

Ini artinya baru sepertiga. Jumlahnya masih kecil, tapi kalau dibiarkan bisa berbahaya," ujarnya. Dengan kata lain, imbuh Sapta, kandungan mikroplastik pada ikan lebih banyak terjadi di perairan dekat kota besar di Indonesia. 

Oleh karena itu, diperlukan penelitian baru dilakukan di perairan kota-kota besar lainnya, misalnya Surabaya dan Denpasar. Wilayah ini disinyalir memproduksi sampah plastik yang bisa saja dibuang baik sengaja atau tidak sengaja ke laut dan akhirnya disantap ikan. 

Namun, dia optimistis masih ada banyak wilayah laut di Indonesia yang bersih. Sebut saja seperti di wilayah perairan NTT, Maluku, Papua, dan beberapa wilayah timur Indonesia. Kondisi tersebut bisa dipahami sebab saat ini Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah laut terbesar nomor dua di dunia, yakni sebanyak 1,3 juta ton sampah plastik di laut. 

Namun, pemerintah tak tinggal diam, sebab pemerintah bertekad untuk  mengurangi sampah plastik 30% tahun 2025. "Beberapa upaya yang kita lakukan mulai dari edukasi atau penyadaran masyarakat, pembangunan dan pengolahan sampah di darat. 

Selain itu, penegakan hukum terutama bagi yang masih membuang sampah sembarangan," jelasnya. Upaya selanjutnya, kata Sapta, terkait keuangan. "Pemerintah harus membuat aturan cukai plastik. Namun, jangan sampai uangnya dipakai untuk membayar gaji. Gunakan untuk mengolah sampah plastik di daerah," tandasnya.


Sumber: 
https://mediaindonesia.com/nusantara/290901/potensi-mikroplastik-pada-ikan-indonesia-kian-tinggi

Monday, July 31, 2023

Bahaya PFAS Pada Wajan Antilengket

Mengenal Bahaya Kimia PFAS yang Bisa Ditemukan Pada Wajan Antilengket

- Minggu, 2 Mei 2021 | 09:35 WIB

  

Wajan atau panci antilengket merupakan salah satu alat masak yang cukup sering digunakan untuk memasak atau menggoreng makanan yang mudah menempel. Alat masak antilengket digunakan banyak orang karena lebih mudah dibersihkan sehingga menghemat waktu dan tenaga.

Namun, beberapa jenis alat masak antilengket memiliki bahan kimia sintetis bernama Perfluorinated Alkylated Substances (PFAS) atau asam perfluorooktanoik yang bisa berbahaya bagi tubuh. Karena itu, dalam memilih alat masak antilengket, sebaiknya menggunakan alat masak yang tidak memiliki kandungan PFAS tinggi.

Dalam webinar bersama Royalstar, Praktisi Hai Fei Qing mengutip sebuah penelitian yang dilakukan Badan Perlindungan Lingkungan federal Amerika Serikat mempertimbangkan studi tentang bagaimana insinerator limbah kota menangani senyawa kimia tertentu yang terkait dengan kanker.

Studi ini melihat bagaimana insinerator limbah kota menangani PFAS, atau zat alkilasi perfluorinasi. PFAS dapat ditemukan dalam wajan antilengket, busa pemadam kebakaran, lilin, dan cat.

Menurut EPA, terdapat bukti bahwa paparan PFAS dapat menyebabkan hasil kesehatan yang merugikan pada manusia, seperti cacat reproduksi dan perkembangan, kerusakan hati dan ginjal, dan efek imunologi pada hewan laboratorium seperti dilaporkan My Central Jersey. Temuan yang paling konsisten dari penelitian manusia adalah peningkatan kadar kolesterol di antara populasi yang terpapar, serta kanker, efek pada berat badan lahir bayi, efek buruk pada sistem kekebalan dan efek hormon tiroid.

"Selektif lakukan pilihan produk alat masak antilengket yang lebih aman dan tidak memiliki bahan kimia berbahaya yang bisa mengontaminasikan racun pada makanan," katanya secara daring baru-baru ini.

Misalnya, kata dia, alat masak yang terbuat dari batu mineral maifan akan menyerap kuat ion logam berat dan racun di dalam air, serta mengurangi konsentrasi dan menghambat kecepatan reproduksi bakteri. Jadi, selain bebas dari bahan kimia PFAS yang berbahaya, batu maifan justru juga meningkatkan efek pada kesehatan.

"Dengan begitu, seseorang akan semakin bersemangat memasak sehingga memasak menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan," katanya.


Sumber :

https://www.jawapos.com/kesehatan/01323496/mengenal-bahaya-kimia-pfas-yang-bisa-ditemukan-pada-wajan-antilengket

What you need to know about PFAS and PFAS analysis

What are PFAS?

More than 4730 compounds(1) belong to the group of PFAS (which stands for per- and polyfluoroalkyl substances) that have been produced since the 1940s. Since these compounds do not originate from nature, the global pollution is the result of human activity. All PFAS are of anthropogenic origin. PFAS are "forever chemicals", chemicals that are very persistent in the environment and in the human body.


Where are PFAS used?

They are commonly used because of their non-sticky and tensid-like properties for various purposes:

  • Textiles, textile coating, e.g., seat covers, carpets, outdoor clothing
  • Fire extinguisher foams
  • Food packaging, e.g., pizza cartons, paper cups
  • Paper finishing
  • Fibre coating
  • Cookware
  • Building material, e.g., water resistant lacquer
  • Further consumer products, such as: furniture, polishing and cleaning agents and creams


Regulatory directives and restrictions

Tested and validated methods for PFAS analysis

EPA Method 533: “Determination of Per- and Polyfluoroalkyl Substances in Drinking Water by Isotope Dilution Anion Exchange Solid Phase Extraction and Liquid Chromatography/Tandem Mass Spectrometry”. U.S. Environmental Protection Agency (EPA), Office of Research and Development, National Center for Environmental Assessment, Washington, DC, 2019.

EPA Method 537.1: "Determination of Selected Per- and Polyflourinated Alkyl Substances in Drinking Water by Solid Phase Extraction and Liquid Chromatography/Tandem Mass Spectrometry (LC/MS/MS)". U.S. Environmental Protection Agency, Washington, DC, 2018/2020

DIN 38407-42: German standard methods for the examination of water, waste water and sludge - Jointly determinable substances (group F) Part 42: Determination of selected polyfluorinated compounds (PFC) in water - Method using high performance liquid chromatography and mass spectrometric detection (HPLC/MS-MS) after solid-liquid extraction (F 42), 2011–03.

FDA Method C-010.02: Determination of 16 Per and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) in Processed Food using Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS), 2021 

 

PFAS in water

This application note shows the reliable and successful determination of per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) from drinking water with an optimized SPE method. By using CHROMABOND PFAS it is possible to achieve high recovery rates for PFAS from drinking water with good reproducibility. By the combination of different SPE sorbents in a multi-layer column it is possible to use various interaction types like ionic, hydrophobic, hydrogen bonds and dipole-dipole for the enrichment of a broad spectrum of PFAS. In this way, a SPE method could be developed with the strength of several directives EPA 537.1, EPA 533 and DIN 38407‑42.


PFAS from textiles

This application note describes the determination of per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) from contaminated clothing. It demonstrates the extraction of PFAS from clothing samples using CHROMABOND PFAS column, a special SPE combination phase. The eluates are finally analyzed by HPLC-MS/MS.


PFAS in contaminated soil, sediments

This application note describes the determination of per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) from contaminated soils. It demonstrates the extraction of PFAS from soil samples using CHROMABOND PFAS column, a special SPE combination phase, for the methodology described in DIN 38407‑42. The eluates are finally analyzed by HPLC-MS/MS.


Major global regions that have implemented PFAS monitoring regulations. Other regions are expected to establish their own regulations, too.

Per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) have been manufactured for more than 80 years, but health effects were neglected for a long time. In September 2020, the European Food Safety Authority (EFSA) published a new health risk assessment related to the presence of PFAS in food(3). This is the first EFSA expert opinion in which, in addition to PFOA and PFOS, other PFAS were also included in the exposure assessment and health risk assessment.

PFAS are emitted into the environment by different pathways. For example, exhaust air from industrial sources can contain PFAS and thus are dispersed into nearby ground and water bodies. Rain and snow, for example, can eventually carry them from the air into the soil and surface waters. Particle accumulation can even cause them to travel long distances through the air. PFAS are therefore also found far from industrial production sites and human living areas, such as in sediments from the Bering Sea to the Arctic(4/5). Through volatilization from products (evaporation from carpets or home textiles treated with soil-repellent agents) or from waterproofing sprays, indoor air can also be contaminated.

Soils can also be directly contaminated, for example by firefighting foams. With the uptake of PFAS from contaminated soils and waters in vegetation and their accumulation in fish, these substances enter the human food chain. Consequently, humans absorb PFASs from the environment through food, water or air.

These "forever chemicals" also find their way into wastewater treatment facilities from household sources. They then enter surface waters via treated wastewater or remain in sewage sludge. The sewage sludge, in turn, can be used as fertilizer in agriculture, and then over time these chemicals eventually leach into the groundwater. Once there, some of the precursor compounds are transformed into the persistent PFAS.


Sumber :

https://www.mn-net.com/pfas