Pages

Showing posts with label Environmental. Show all posts
Showing posts with label Environmental. Show all posts

Sunday, March 30, 2025

Gerakan Menanam Pohon

Upaya Sederhana dengan Dampak Besar

Menanam pohon bukan sekadar aktivitas berkebun, tetapi merupakan bagian dari gerakan global untuk menjaga lingkungan dan memperbaiki kualitas hidup. Dengan semakin meningkatnya ancaman perubahan iklim, deforestasi, dan polusi udara, gerakan menanam pohon menjadi solusi nyata yang dapat dilakukan oleh individu, komunitas, hingga pemerintah.

Mengapa Menanam Pohon Itu Penting?

Pohon memiliki banyak manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang membuatnya sangat penting bagi kehidupan di Bumi. Berikut beberapa alasan utama mengapa menanam pohon sangat diperlukan:

  1. Menyerap Karbon Dioksida dan Mengurangi Polusi Udara
    Pohon berperan sebagai penyerap karbon alami. Mereka menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya, membantu mengurangi efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Selain itu, pohon juga menyaring polutan udara seperti debu, asap kendaraan, dan partikel berbahaya lainnya, sehingga meningkatkan kualitas udara yang kita hirup.

  2. Mencegah Erosi dan Meningkatkan Kesuburan Tanah
    Akar pohon membantu mengikat tanah, mencegah terjadinya erosi akibat air hujan. Hal ini sangat penting di daerah yang rentan terhadap longsor dan banjir. Selain itu, daun yang gugur dari pohon akan terurai menjadi humus, memperkaya tanah dengan nutrisi alami.

  3. Menyediakan Habitat bagi Satwa Liar
    Hutan dan pepohonan adalah rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan. Dengan menanam lebih banyak pohon, kita membantu menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem yang bergantung pada keberadaan hutan.

  4. Mengurangi Suhu dan Memberikan Keteduhan
    Pohon dapat mengurangi efek panas perkotaan dengan memberikan keteduhan dan menurunkan suhu lingkungan sekitar. Di daerah perkotaan yang penuh dengan beton dan aspal, keberadaan pohon dapat membantu menurunkan suhu hingga beberapa derajat, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sejuk.

  5. Meningkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan
    Studi menunjukkan bahwa keberadaan pohon dan ruang hijau dapat meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Udara yang lebih bersih dan lingkungan yang hijau juga berkontribusi pada kesehatan fisik yang lebih baik.

Bagaimana Cara Berpartisipasi dalam Gerakan Menanam Pohon?

Siapa pun bisa berkontribusi dalam gerakan ini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Menanam Pohon di Halaman Rumah atau Lingkungan Sekitar
    Jika memiliki lahan kosong, manfaatkan dengan menanam pohon yang sesuai dengan iklim dan kondisi tanah setempat.

  • Bergabung dengan Komunitas atau Organisasi Lingkungan
    Banyak organisasi yang mengadakan program penghijauan dan reforestasi. Bergabung dalam kegiatan ini akan membuat dampak yang lebih besar.

  • Mendukung Program Penghijauan Pemerintah
    Banyak pemerintah daerah memiliki program reboisasi atau penghijauan kota. Dukung dan manfaatkan program ini untuk menanam lebih banyak pohon.

  • Menyebarkan Kesadaran tentang Pentingnya Menanam Pohon
    Edukasi dan kampanye di media sosial atau di lingkungan sekitar bisa membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gerakan ini.

Kesimpulan

Gerakan menanam pohon bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan alam dan masa depan generasi mendatang. Dengan setiap pohon yang kita tanam, kita berkontribusi dalam melawan perubahan iklim, memperbaiki kualitas udara, serta menjaga ekosistem yang sehat. Mulailah dari sekarang, karena waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun lalu, dan waktu terbaik berikutnya adalah hari ini. 🌱🌍

Wednesday, March 26, 2025

Limbah Jeruk yang Menghidupkan Kembali Hutan di Area Konservasi Guanacaste, Kosta Rika

Limbah sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai dan merusak lingkungan. Namun, sebuah eksperimen unik di Area Konservasi Guanacaste, Kosta Rika, membuktikan bahwa limbah dapat menjadi penyelamat ekosistem. Kisah ini bermula ketika ribuan ton kulit dan ampas jeruk yang dibuang ke hutan justru membantu mengembalikan kesuburan tanah dan menghidupkan kembali ekosistem yang sebelumnya tandus.


1. Awal Mula Eksperimen Limbah Jeruk

Pada tahun 1997, dua peneliti dari Universitas Princeton, Daniel Janzen dan Winnie Hallwachs, bermitra dengan sebuah perusahaan jus jeruk, Del Oro, yang berbasis di Kosta Rika. Mereka memiliki ide sederhana tetapi revolusioner: menggunakan limbah jeruk untuk merehabilitasi hutan yang terdegradasi.

Sebagai bagian dari kesepakatan, pemerintah Kosta Rika mengizinkan Del Oro membuang lebih dari 12.000 ton limbah jeruk—termasuk kulit dan ampas—ke lahan yang sudah mengalami deforestasi di Area Konservasi Guanacaste. Sebagai imbalannya, perusahaan diberikan izin untuk mengembangkan pabrik pengolahan jus di dekat kawasan tersebut.


2. Tantangan dan Hambatan

Eksperimen ini sempat dihentikan pada tahun 1998 setelah satu perusahaan pesaing, TicoFruit, mengajukan gugatan dengan alasan bahwa pembuangan limbah di kawasan konservasi merupakan pencemaran lingkungan. Akibatnya, program ini terhenti, dan area pembuangan limbah jeruk pun terlupakan selama bertahun-tahun.

Namun, dua dekade kemudian, tim peneliti dari Universitas Princeton kembali ke lokasi tersebut untuk melihat dampaknya. Hasilnya sangat mengejutkan.


3. Keajaiban Alam: Limbah Jeruk Menghidupkan Kembali Hutan

Ketika tim peneliti mengunjungi kembali area bekas pembuangan limbah jeruk pada tahun 2013, mereka menemukan perubahan yang luar biasa:

Lahan yang tadinya tandus berubah menjadi hutan yang rimbun.
Tanaman dan pohon baru tumbuh lebih tinggi dan lebih lebat dibandingkan area yang tidak menerima limbah jeruk.
Keanekaragaman hayati meningkat, dengan lebih banyak spesies serangga, burung, dan mamalia kembali ke habitat tersebut.
Kesuburan tanah meningkat drastis karena nutrisi dari limbah jeruk memperkaya ekosistem.

Menurut peneliti, tanah di area yang ditutupi oleh limbah jeruk mengandung hingga lima kali lebih banyak karbon dan nutrisi dibandingkan dengan lahan di sekitarnya yang tidak menerima perlakuan serupa.


4. Bagaimana Limbah Jeruk Bisa Memulihkan Hutan?

Eksperimen ini menjadi bukti nyata bahwa limbah organik dapat membantu restorasi lingkungan. Berikut adalah beberapa faktor yang membuatnya berhasil:

🔸 Meningkatkan Kesuburan Tanah – Kulit jeruk membusuk secara alami dan melepaskan karbon, nitrogen, dan fosfor, yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

🔸 Menghambat Pertumbuhan Gulma – Lapisan tebal kulit jeruk mencegah tumbuhnya gulma invasif yang sebelumnya mendominasi area tersebut, memberi kesempatan bagi pohon asli untuk berkembang.

🔸 Menjaga Kelembapan Tanah – Limbah jeruk menciptakan lapisan organik yang menahan air di tanah, membantu tanaman bertahan selama musim kemarau.

🔸 Menyediakan Habitat untuk Mikroorganisme dan Serangga – Proses dekomposisi kulit jeruk menarik mikroorganisme dan serangga yang mempercepat siklus nutrisi dan memperkaya ekosistem tanah.


5. Dampak dan Implikasi Global

Eksperimen di Guanacaste ini membuktikan bahwa limbah organik dapat digunakan sebagai alat restorasi ekosistem yang efektif dan berbiaya rendah. Keberhasilan ini menginspirasi para ilmuwan dan konservasionis di seluruh dunia untuk mempertimbangkan penggunaan limbah pertanian dalam upaya rehabilitasi lingkungan.

Di berbagai negara, konsep ini dapat diterapkan dengan cara:
Menggunakan limbah pertanian untuk menyuburkan kembali lahan kritis di daerah yang mengalami deforestasi.
Mendorong industri makanan dan minuman untuk berpartisipasi dalam proyek restorasi ekologi dengan memanfaatkan limbah organik mereka.
Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya daur ulang limbah organik sebagai solusi keberlanjutan.


6. Kesimpulan

Kisah tentang limbah jeruk yang menyelamatkan hutan di Kosta Rika adalah contoh luar biasa bagaimana alam dapat memulihkan dirinya sendiri dengan sedikit bantuan manusia. Alih-alih menjadi sampah yang mencemari lingkungan, limbah organik dapat digunakan untuk memulihkan lahan yang rusak dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Eksperimen ini memberikan harapan bahwa solusi berbasis alam dapat menjadi bagian penting dalam upaya global melawan perubahan iklim dan deforestasi. Jika diterapkan di lebih banyak tempat, konsep sederhana ini bisa membantu meregenerasi hutan di seluruh dunia dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang. 🌱🌎



Melawan Perubahan Iklim dengan Menanam Pohon: Solusi Sederhana yang Berdampak Besar

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Peningkatan suhu global, cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah dampak nyata yang sudah dirasakan di berbagai belahan dunia. Salah satu cara paling efektif dan alami untuk melawan perubahan iklim adalah menanam pohon. Meskipun terdengar sederhana, aksi ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia.


1. Bagaimana Pohon Membantu Mengatasi Perubahan Iklim?

Pohon bukan hanya sekadar tanaman hijau yang memberikan keteduhan. Mereka berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui beberapa cara berikut:

🌱 Menyerap dan Menyimpan Karbon Dioksida (CO₂)

Pohon bertindak sebagai "penyerap karbon alami". Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap CO₂ dari atmosfer dan menyimpannya dalam batang, cabang, akar, dan tanah. Ini membantu mengurangi jumlah gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Sebuah pohon dewasa rata-rata dapat menyerap sekitar 22 kg CO₂ per tahun, dan satu hektar hutan dapat menyerap hingga 10 ton CO₂ per tahun. Jika ditanam dalam jumlah besar, pohon dapat secara signifikan membantu mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer.

🌳 Menghasilkan Oksigen yang Kita Butuhkan

Selain menyerap karbon, pohon juga melepaskan oksigen (O₂) yang kita hirup setiap hari. Hutan yang lebat berfungsi sebagai paru-paru bumi, menjaga keseimbangan gas di atmosfer dan mendukung kehidupan makhluk hidup.

💧 Menjaga Siklus Air dan Mengurangi Risiko Kekeringan

Pohon membantu mengatur siklus air dengan menyerap air hujan dan melepaskannya secara perlahan melalui proses evapotranspirasi. Ini membantu meningkatkan kelembapan udara, mengurangi suhu, dan mengurangi risiko kekeringan yang sering terjadi akibat perubahan iklim.

🌍 Mengurangi Suhu Global dengan Efek Pendinginan

Pohon memberikan keteduhan dan mendinginkan udara di sekitarnya. Daun mereka menyerap panas matahari dan mengurangi efek urban heat island—di mana kota-kota menjadi lebih panas dibandingkan daerah pedesaan karena kurangnya vegetasi dan tingginya jumlah permukaan beton serta aspal.

🌾 Mencegah Erosi Tanah dan Bencana Alam

Akar pohon berfungsi seperti penahan alami yang mencegah tanah terbawa air saat hujan deras. Dengan demikian, pohon dapat mengurangi risiko tanah longsor, banjir, dan erosi yang semakin parah akibat perubahan iklim.


2. Mengapa Kita Harus Menanam Lebih Banyak Pohon?

Dalam beberapa dekade terakhir, laju deforestasi terjadi sangat cepat akibat perluasan lahan pertanian, perkebunan, pembangunan infrastruktur, dan penebangan liar. Menurut laporan Global Forest Watch, dunia kehilangan sekitar 4,1 juta hektar hutan tropis primer pada tahun 2022.

Jika kita tidak segera mengambil tindakan untuk menanam kembali pohon yang hilang, dampak perubahan iklim akan semakin parah. Berikut adalah alasan mengapa kita harus menanam lebih banyak pohon:

Mengimbangi Deforestasi – Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan pohon baru agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Melindungi Keanekaragaman Hayati – Hutan adalah rumah bagi sekitar 80% spesies darat di bumi. Dengan menanam pohon, kita membantu melindungi habitat satwa liar yang terancam punah.

Meningkatkan Kualitas Udara – Pohon menyerap polutan udara seperti nitrogen oksida, amonia, sulfur dioksida, dan partikel debu, yang dapat mengurangi polusi udara di perkotaan.

Mendukung Mata Pencaharian – Reboisasi dan penghijauan dapat menciptakan peluang ekonomi, seperti ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan industri berbasis hutan yang ramah lingkungan.

Meningkatkan Kesehatan Mental dan Fisik – Lingkungan yang hijau dapat menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan mendorong gaya hidup sehat melalui aktivitas luar ruangan.


3. Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita semua bisa berkontribusi dalam upaya menanam lebih banyak pohon dan menjaga lingkungan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

🌱 Menanam Pohon di Halaman Rumah atau Lingkungan Sekitar

Mulailah dari lingkungan sendiri. Jika setiap orang menanam setidaknya satu pohon dalam hidupnya, miliaran pohon baru dapat tumbuh dalam waktu singkat.

🌳 Berpartisipasi dalam Program Reboisasi dan Penghijauan

Banyak organisasi dan komunitas yang mengadakan kegiatan penanaman pohon massal. Bergabunglah dalam gerakan ini untuk memberikan dampak lebih besar.

🛒 Mendukung Produk Ramah Lingkungan

Belilah produk yang berasal dari hutan lestari atau yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan, seperti FSC (Forest Stewardship Council).

📢 Mengedukasi dan Meningkatkan Kesadaran

Sebarkan informasi tentang pentingnya menanam pohon kepada keluarga, teman, dan masyarakat luas melalui media sosial atau kegiatan edukasi lingkungan.

🌍 Mengurangi Konsumsi Kertas dan Kayu Berlebihan

Gunakan kertas secara bijak, daur ulang, dan pilih alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi eksploitasi hutan secara berlebihan.


4. Kesimpulan

Menanam pohon adalah solusi sederhana namun sangat efektif dalam melawan perubahan iklim. Dengan menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan air, dan melindungi ekosistem, pohon memberikan banyak manfaat bagi bumi dan manusia.

Namun, aksi ini tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Kita semua harus ikut berperan dalam menanam dan merawat pohon demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Seperti pepatah mengatakan:

"Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, waktu terbaik berikutnya adalah hari ini." 🌳💚

Saturday, March 22, 2025

Earth Hour: Gerakan Global untuk Menyelamatkan Bumi

Earth Hour adalah sebuah gerakan global yang mengajak individu, komunitas, dan organisasi di seluruh dunia untuk mematikan lampu selama satu jam sebagai bentuk kepedulian terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Gerakan ini pertama kali dimulai pada tahun 2007 oleh World Wide Fund for Nature (WWF) di Sydney, Australia, dan sejak itu berkembang menjadi salah satu kampanye lingkungan terbesar di dunia.


1. Apa Itu Earth Hour?

Earth Hour adalah sebuah aksi simbolis di mana masyarakat dunia diminta untuk mematikan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan selama satu jam pada hari Sabtu terakhir bulan Maret, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat. Meskipun terlihat sederhana, aksi ini memiliki dampak besar dalam meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya penghematan energi dan perlindungan lingkungan.

Earth Hour bukan sekadar tentang menghemat listrik selama satu jam, tetapi lebih kepada menginspirasi tindakan nyata untuk keberlanjutan lingkungan di tingkat individu maupun kolektif.


2. Sejarah dan Perkembangan Earth Hour

Earth Hour pertama kali diadakan pada 31 Maret 2007 di Sydney, Australia, dengan partisipasi lebih dari 2,2 juta penduduk dan 2.000 bisnis. Melihat kesuksesan besar dari acara ini, WWF kemudian memperluas gerakan ini ke berbagai negara di seluruh dunia.

Pada tahun 2008, lebih dari 50 juta orang di 35 negara ikut serta dalam Earth Hour. Ikon-ikon dunia seperti Menara Eiffel, Colosseum, Jembatan Golden Gate, dan Burj Khalifa turut serta memadamkan lampunya sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan.

Seiring waktu, gerakan ini semakin berkembang dan kini diikuti oleh lebih dari 190 negara dengan jutaan peserta setiap tahunnya. Earth Hour telah menjadi salah satu kampanye lingkungan hidup terbesar dan paling berpengaruh di dunia.


3. Mengapa Earth Hour Penting?

a. Menghemat Energi dan Mengurangi Emisi Karbon

Listrik yang kita gunakan sebagian besar masih berasal dari bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak bumi, yang menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer. Dengan mematikan lampu selama satu jam, kita bisa mengurangi konsumsi listrik dan menekan emisi karbon, meskipun dalam skala kecil.

b. Meningkatkan Kesadaran Akan Perubahan Iklim

Earth Hour bertujuan untuk mengingatkan masyarakat bahwa perubahan iklim adalah masalah yang nyata dan mendesak. Dengan berpartisipasi, kita menyadari bahwa langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menciptakan perubahan besar.

c. Menginspirasi Tindakan Lingkungan Jangka Panjang

Earth Hour bukan hanya tentang satu jam mematikan lampu, tetapi juga tentang mengubah pola pikir dan kebiasaan dalam jangka panjang. Setelah Earth Hour, diharapkan lebih banyak orang akan mengambil langkah nyata seperti menggunakan energi terbarukan, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, dan mengurangi jejak karbon pribadi.


4. Bagaimana Cara Berpartisipasi dalam Earth Hour?

Setiap orang dapat ikut serta dalam Earth Hour dengan cara yang sangat mudah:

Matikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak diperlukan selama satu jam pada hari yang telah ditentukan.
Sebarkan kesadaran tentang Earth Hour di media sosial dengan menggunakan tagar seperti #EarthHour atau #Connect2Earth.
Lakukan aktivitas ramah lingkungan, seperti menyalakan lilin, berbincang dengan keluarga tanpa perangkat elektronik, atau menikmati malam tanpa cahaya buatan.
Dukung gerakan keberlanjutan dengan mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, seperti mengurangi sampah plastik, hemat energi, dan menanam pohon.


5. Dampak Positif Earth Hour

Earth Hour telah membawa berbagai dampak positif, baik dalam skala kecil maupun besar. Beberapa contoh keberhasilan dari Earth Hour di berbagai negara antara lain:

🌿 Di Rusia, kampanye Earth Hour berhasil mengumpulkan lebih dari 120.000 tanda tangan untuk perlindungan Lautan Arktik.
🌿 Di Argentina, Earth Hour membantu dalam upaya pelestarian 1,4 juta hektar hutan di Provinsi Misiones.
🌿 Di India, Earth Hour menginspirasi ribuan orang untuk beralih ke energi terbarukan dan mengurangi penggunaan listrik secara berlebihan.
🌿 Di Indonesia, berbagai ikon nasional seperti Monas, Candi Borobudur, dan Gedung DPR/MPR ikut mematikan lampunya selama Earth Hour sebagai bentuk dukungan.


6. Langkah Selanjutnya: Beyond the Hour

Earth Hour tidak hanya sekadar mematikan lampu selama satu jam, tetapi juga mengajak kita untuk melanjutkan aksi peduli lingkungan sepanjang tahun. Beberapa cara yang bisa dilakukan setelah Earth Hour adalah:

💡 Menggunakan energi terbarukan – Seperti beralih ke listrik dari tenaga surya atau angin.
💡 Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai – Beralih ke kantong belanja kain, botol minum isi ulang, dan sedotan stainless steel.
💡 Menghemat air dan energi – Mematikan lampu saat tidak digunakan, menggunakan kendaraan ramah lingkungan, dan mengurangi pemborosan air.
💡 Menanam pohon – Sebagai salah satu cara terbaik untuk menyerap karbon dioksida dan membantu keseimbangan ekosistem.
💡 Dukungan terhadap kebijakan lingkungan – Mendorong kebijakan ramah lingkungan di tingkat pemerintah dan industri.


Kesimpulan

Earth Hour adalah gerakan global yang mengajak seluruh masyarakat dunia untuk bersama-sama menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan cara sederhana: mematikan lampu selama satu jam. Namun, esensi dari Earth Hour lebih dari sekadar simbolik; ini adalah panggilan untuk bertindak nyata dalam upaya mengurangi perubahan iklim dan menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Dengan berpartisipasi dalam Earth Hour, kita tidak hanya berkontribusi dalam menghemat energi, tetapi juga mengirimkan pesan kuat bahwa kita peduli terhadap lingkungan. Mari kita jadikan Earth Hour sebagai awal dari gaya hidup berkelanjutan yang bisa kita lakukan setiap hari! 🌎💡💚

Wednesday, March 19, 2025

Waktu yang Tepat untuk Menanam Pohon adalah 20 Tahun Lalu, Waktu Terbaik Berikutnya adalah Hari Ini

Mengapa Pohon Itu Begitu Keren? 🌳✨

Pohon adalah salah satu elemen paling luar biasa di bumi yang memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Tidak hanya memperindah lanskap alam, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi bumi dari berbagai dampak negatif perubahan iklim. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pohon begitu keren dan penting bagi kehidupan kita!


1. Menyerap dan Menyimpan Karbon Dioksida (CO₂)

Pohon memainkan peran utama dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya dalam batang, cabang, dan akar mereka. Proses ini membantu mengurangi jumlah gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global. Tanpa pohon, kadar CO₂ di atmosfer akan lebih tinggi, menyebabkan suhu bumi semakin meningkat dan memperburuk dampak perubahan iklim.


2. Menyerap dan Menahan Air Hujan 🌧️

Pohon juga membantu mengelola air hujan dengan cara menyerap dan menahan air dalam akar serta dedaunannya. Hal ini mengurangi risiko banjir dan erosi tanah dengan memperlambat aliran air hujan ke permukaan tanah. Daun dan cabang pohon mampu mengintersepsi air hujan, sehingga tidak langsung jatuh ke tanah dalam jumlah besar. Akar pohon juga berfungsi sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kualitas air tanah.


3. Menciptakan Bayangan untuk Bangunan 🏡🌿

Pohon dapat membantu mengurangi suhu di lingkungan perkotaan dengan menciptakan bayangan bagi bangunan dan jalanan. Hal ini sangat penting di daerah yang mengalami efek "pulau panas perkotaan", di mana suhu lingkungan menjadi jauh lebih tinggi karena banyaknya permukaan beton dan aspal yang menyerap panas matahari. Dengan adanya pohon, suhu dapat turun secara signifikan, sehingga mengurangi penggunaan pendingin ruangan dan konsumsi energi listrik.


4. Membantu Membersihkan Udara dari Polutan 🍃

Udara yang kita hirup sering kali mengandung polutan berbahaya seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), dan partikel debu. Pohon membantu membersihkan udara dengan menyerap polutan ini melalui daun dan batangnya, sehingga kualitas udara menjadi lebih sehat. Tanpa pohon, udara di kota-kota besar akan jauh lebih tercemar dan berbahaya bagi kesehatan manusia.


5. Proses Evapotranspirasi: Sistem Pendingin Alami 🌿💦

Salah satu cara pohon membantu mendinginkan lingkungan adalah melalui proses yang disebut evapotranspirasi. Ini adalah proses di mana air yang diserap oleh akar pohon menguap melalui daun ke atmosfer, menciptakan efek pendinginan alami. Evapotranspirasi tidak hanya membantu menurunkan suhu udara, tetapi juga meningkatkan kelembaban, yang sangat bermanfaat terutama di daerah yang mengalami cuaca panas dan kering.


Kesimpulan

Pohon adalah pahlawan lingkungan yang sering kali tidak kita sadari. Mereka menyerap karbon dioksida, mengurangi banjir, memberikan bayangan, membersihkan udara, dan bahkan bertindak sebagai sistem pendingin alami melalui evapotranspirasi. Tanpa pohon, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih panas, lebih tercemar, dan lebih rentan terhadap bencana alam. Oleh karena itu, kita harus terus menanam dan menjaga pohon untuk memastikan planet ini tetap hijau dan sehat bagi generasi mendatang. 🌏💚🌲


-


Pernahkah Anda mendengar pepatah bijak yang mengatakan, “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik berikutnya adalah hari ini”? Pepatah ini mengajarkan kita tentang pentingnya bertindak sekarang, terutama dalam hal yang membawa manfaat jangka panjang, seperti menanam pohon.

Banyak orang menyesali kesempatan yang telah terlewat, tetapi penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Yang dapat kita lakukan adalah mengambil tindakan hari ini untuk memastikan masa depan yang lebih baik.


1. Menanam Pohon: Investasi Jangka Panjang untuk Bumi 🌱🌍

Jika seseorang menanam pohon 20 tahun yang lalu, hari ini pohon itu sudah tumbuh besar, memberikan oksigen, menyerap karbon dioksida, memberi keteduhan, dan menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup. Namun, jika tidak ada yang menanam pohon saat itu, maka kita tidak bisa menikmati manfaatnya sekarang.

Inilah mengapa pepatah ini begitu relevan: jika kita ingin lingkungan yang lebih hijau, udara yang lebih bersih, dan suhu yang lebih sejuk, kita harus mulai menanam pohon sekarang, agar 20 tahun dari sekarang, kita dan generasi mendatang dapat merasakan manfaatnya.


2. Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai 🕰️🌿

Banyak hal dalam hidup mengikuti prinsip yang sama seperti menanam pohon. Mungkin kita menyesali bahwa kita tidak mulai menabung lebih awal, tidak belajar keterampilan baru lebih cepat, atau tidak memulai kebiasaan sehat sejak lama. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Jika kita terus berpikir bahwa sudah terlambat untuk bertindak, maka kita akan kehilangan kesempatan yang ada saat ini. Apa pun yang kita tunda di masa lalu, kita masih bisa memulainya hari ini dan menciptakan perubahan di masa depan.


3. Manfaat Besar dari Menanam Pohon 🌳💚

Menanam pohon bukan hanya sekadar tindakan sederhana, tetapi juga investasi besar untuk lingkungan dan kehidupan kita. Beberapa manfaat utama dari menanam pohon meliputi:

Menghasilkan Oksigen – Satu pohon dewasa dapat menghasilkan oksigen yang cukup untuk dua orang setiap tahunnya.
Menyerap Karbon Dioksida – Pohon membantu mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyerap CO₂ dari udara.
Mengurangi Risiko Banjir – Akar pohon menyerap air hujan dan mencegah erosi tanah.
Menurunkan Suhu Lingkungan – Pohon memberikan keteduhan dan membantu mengurangi efek pemanasan global.
Menjadi Habitat Satwa Liar – Pohon menjadi rumah bagi berbagai spesies burung, serangga, dan hewan lainnya.

Semakin banyak pohon yang kita tanam hari ini, semakin besar manfaat yang akan kita rasakan di masa depan.


4. Mari Bertindak Sekarang! 🌱✨

Jika kita belum mulai menanam pohon, hari ini adalah waktu terbaik untuk memulainya. Tidak perlu menunggu waktu yang "sempurna" atau kondisi yang ideal. Setiap pohon yang kita tanam hari ini akan memberikan manfaat besar bagi generasi mendatang.

Tidak hanya dalam konteks lingkungan, prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Mulailah hari ini apa pun yang penting bagi masa depan kita—entah itu menabung, belajar keterampilan baru, atau menerapkan kebiasaan sehat.


Kesimpulan 🌏🌳

Waktu terbaik untuk menanam pohon memang 20 tahun lalu, tetapi itu bukan alasan untuk tidak bertindak sekarang. Lebih baik memulai hari ini daripada menunda lebih lama lagi. Apa pun yang ingin kita capai di masa depan, langkah pertama harus diambil sekarang.

Jadi, mari kita tanam pohon—baik secara harfiah maupun dalam bentuk keputusan dan tindakan positif yang akan membawa manfaat bagi kita dan generasi mendatang. 🌱✨

Tuesday, January 23, 2024

Nikel atau Besi? (LFP Lithium Iron Phosphate Battery)

Nikel berperan penting dalam industri kendaraan listrik, karena nikel merupakan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini juga mendukung transisi energi dari energi tenaga fosil ke energi hijau.

Hal ini bertujuan selain harga bahan fosil yang kian mahal, juga agar lebih ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan. Sebab, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan mengurangi polusi udara.

Nikel dipadukan bersama kobalt dan mangan untuk memproduksi baterai lithium-ion, jenis baterai paling umum digunakan dalam motor maupun mobil listrik. Selain tahan karat, komposisi ini juga unggul dari sisi kepadatan serta harga yang lebih murah dari bahan baku lainnya.

Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai bukanlah hal baru. Produk baterai dari nikel antara lain baterai ponsel, kamera digital, laptop dan alat-alat kelistrikan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi baterai, kini nikel banyak diburu untuk membuat baterai kendaraan berbasis listrik.

Penggunaan nikel ke depan diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Meski saat ini pangsa pasar kendaraan listrik masih kecil, ke depan tren kendaraan listrik diprediksi bakal tumbuh pesat.

Saat ini lebih dari dua pertiga pemanfaatan nikel sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat alias stainless steel. Kandungan nikel dalam pembuatan stainless steel mencapai 75 persen. Stainless steel yang terbuat dari nikel juga mudah dibentuk sehingga penggunaan stainless steel pun sangat luas.

Pemanfaatan nikel saat ini adalah:.

  • 69 persen stainless steel.
  • 11 persen baterai.
  • 7 persen paduan nonbesi.
  • 6 persen pelapis.
  • 3 persen paduan baja.
  • 2 persen pengecoran.
  • 2 persen lainnya.


Harga nikel global di seluruh dunia sudah turun kurang lebih 30 persen dalam 12 bulan terakhir, dan diprediksi tahun depan ada surplus stok nikel di dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Jadi dengan begitu gencarnya pembangunan smelter di indonesia, kita membanjiri dunia dengan nikel, harga jatuh terjadi kondisi oversupply.

Namun ada opsi lain, formulasi bahan baterai yang tidak menggunakan nikel. Salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, kini katanya sudah tidak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai lithium yang digunakan, tapi LFP. Khususnya, di pabrik yang basis produksinya di China

LFP (“lithium ferrophosphate”) atau Lithium Iron Phosphate Battery (LiFePO4), adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang digunakan sebagai bahan katodanya. 

Baterai LFP memiliki kepadatan energi yang agak rendah daripada oksida kobalt lithium (LiCoO2) yang lebih umum ditemukan di elektronik konsumen. Namun, Baterai LFP menawarkan masa pakai yang lebih lama, kepadatan tenaga yang lebih baik (tingkat energi yang dapat ditarik darinya), harganya yang lebih rendah, lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih aman karena tidak beracun. 

LFP memiliki banyak peranan dalam penggunaan kendaraan dan daya cadangan.

Bahan katoda dalam baterai LFP tidak berbahaya, dan karenanya tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau bahaya lingkungan yang negatif. Karena oksigen terikat erat ke molekul, tidak ada bahaya baterai meletus menjadi api seperti yang ada pada Lithium-Ion.


Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan penggunaan LFP untuk mobil listrik memang hanya 27% pada 2022. Namun, cakupan penggunaan ini naik signifikan dari 7% pada 2018.

Sedangkan penggunaan nikel untuk komponen baterai mobil listrik pada 2022 masih sebesar 66%. Namun, cakupan baterai berkandungan nikel tinggi turun dari 78% pada 2022. Ini menunjukkan pangsa pasar LFP terus meningkat sementara baterai nikel tinggi tergerus.

IEA mencatat sekitar 95% LFP diproduksi Cina. Pabrikan mobil listrik asal negara yang sama, BYD, mendominasi penggunaan LFP hingga 50% dari total permintaan baterai tersebut. Sementara, Tesla berkontribusi sebesar 15% dari total permintaan.

Meski Tesla masih menggunakan nikel, penggunaan LFP Tesla meningkat dari 20% dari total mobil yang diproduksi pada 2021 menjadi 30% pada 2022.


Baterai mobil listrik lithium ferro phosphate atau LFP berbahan baku besi dan litium yang tak lagi menggunakan nikel sebagai komponen utama. Pabrikan mobil listrik bahkan yang telah beredar di Indonesia seperti Wuling Air Ev dan Binguo EV, termasuk tiga modeal BYD Atto, Seal maupun Dolphin menggunakan teknologi baterai tersebut.

Mobil listrik milik Wuling seperti Air EV dan Binguo EV memilih penggunaan Lithium Ferro-Phosphate (LFP) untuk pasar Indonesia. Jenis ini disebut memiliki keunggulan dari jangka pakai panjang, hingga daya tahan terhadap suhu tinggi.

Wuling Binguo EV varian long range yang memiliki jarak tempuh 333 km memiliki kapasitas baterai 31,9 kWh, sedangkan versi premium range atau 410 km berkapasitas 37,9 kWh.

Sementara untuk Air EV standard range dan lite dengan jarak tempuh 200 km memiliki kapasitas baterai 17,3 kWh, sedangkan long range berkapasitas 26,7 kWh yang mampu melaju sampai 300 km.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230712132850-85-972548/industri-baterai-kendaraan-listrik-dipacu-nikel-diburu.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1679815-pernyataan-lengkap-thomas-lembong-soal-lfp-yang-buat-gibran-tanya-apakah-cak-imin-anti-nikel?page=3

https://ciptakaryaenergi.co.id/product/battery-lithium-lifepo4/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/21/cek-data-mana-baterai-mobil-listrik-lebih-populer-baterai-nikel-atau-lfp-yang-disinggung-gibran

https://m.bisnis.com/amp/read/20240122/46/1734230/baterai-lfp-tanpa-nikel-digunakan-wuling-byd-dan-tesla

Monday, June 19, 2023

Pencinta Mangrove di NTT

Mengenal Steven Mesah pencinta mangrove di selatan Negeri

Selasa, 20 Juni 2023 12:31 WIB

Steven Mesah warga desa Daiama sedang memonitoring anakan magrove yang sudah ditanam dan bertumbuh. Steven Mesah sedang meyeruput kopinya. Sesekali dia berbincang-bincang seru dengan kawan-kawannya di salah satu rumah di Desa Daiama, Kecamatan Landu Tii, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah. Entah apa yang dibicarakan, namun terlihat sangat seru dan sesekali dia dan beberapa temannya tertawa.

Pria kelahiran 1976 di Desa Daiama itu dikenal sebagai orang yang bisa memotivasi, bahkan menggerakkan 300 kepala keluarga di desa itu untuk menjaga wilayah pesisir dengan cara menanam mangrove di Pantai Daiama.

“Terakhir, pada tahun lalu, kami tanam 13.000 anak pohon mangrove di pesisir pantai, salah satunya untuk menjaga pantai kami tidak abrasi,” katanya, saat memulai ceritanya, kepada ANTARA.

Dari 13.000 anak mangrove yang ditanam itu, hanya sekitar 25 persen yang bisa bertahan hingga saat ini. Usai ditanam, datang cuaca musim timur, sehingga gelombang menerjang pesisir wilayah tersebut dan tanaman itu terseret gelombang. Padahal, tanaman itu sudah diikat di kayu, namun akarnya belum kuat.

Steven yang juga ketua kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) wilayah pesisir Desa Daiama tersebut berupaya menjaga dan merawat sejumlah anakan mangrove itu agar tetap hidup dan bertahan. Setiap hari dia dan masyarakat di desa bergantian memonitor perkembangan mangrove yang sudah ditanam.

Tujuannya, agar sejumlah mangrove itu tetap bertahan hidup, apalagi di saat musim atau cuaca yang stabil seperti saat ini.

Sebagai ketua pokmaswas di desa tersebut, dia kini memiliki 12 anggota, sisanya adalah mereka yang turun membantu dan menilai bahwa keberadaan mangrove tersebut penting dan dapat memberikan banyak manfaat.


Manfaat mangrove 

Mangrove merupakan fitur alami yang mampu secara signifikan meredam dan menurunkan abrasi laut dan juga magnitude bencana gelombang tsunami, sehingga eskalasi bencana dan potensi kerugian, serta korban dapat direduksi.

Mangrove juga berperan besar dalam pengendalian perubahan iklim melalui kemampuannya dalam menyimpan dan menyerap karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan.

Semua keunggulan ekosistem mangrove tersebut menjadi pertimbangan penting yang menyatu dengan upaya menjaga kestabilan tata kelola bentang alam dan perbaikan mutu lingkungan.

Tak hanya itu, perbaikan ekosistem mangrove secara paralel akan memperkuat kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mendorong pembangunan hijau melalui ekonomi hijau.

Ekosistem mangrove memiliki multimanfaat, seperti menjadi lahan budi daya ikan, kepiting, atau udang, melalui pola silvofishery, pengolahan produk mangrove non-kayu, serta wisata alam juga memperkuat pengembangan kawasan industri yang hijau.

Oleh karena itu bagi sebagian nelayan, apalagi yang tinggal di pesisir pantai, Steven merasa bahwa keberadaan pohon magrove tidak hanya untuk mencegah abrasi suatu wilayah.

Ada manfaat lain juga yang dapat mendukung ekonomi masyarakat pesisir, yakni sebagai lokasi berkembang biaknya ikan dan juga buah dari pohon itu bisa diolah menjadi bahan yang dicampur untuk kopi.

Dia dan teman-teman juga baru paham setelah ada pelatihan dari Pemerintah pusat tentang bagaimana menjaga dan merawat lingkungan laut, seperti mangrove dan juga terumbu karang sebagai lokasi ikan bertumbuh kembang.

Pria yang tak lulus sekolah dasar (SD) tersebut, pada awalnya bersama sejumlah warga di kawasan pesisir tersebut tidak memahami betul manfaat dari pohon mangrove yang tumbuh di pesisir pantai.

Terkadang pohonnya ditebang dan bahkan tak menganggap bahwa pohon tersebut ada dan telah membantu menjaga kawasan pesisir tersebut.

Sampai akhirnya pada Agustus tahun 2022 ada sosialisasi dari Pemerintah pusat terkait manfaat dari tanaman yang tumbuh di pesisir pantai tersebut.

Tak hanya tanaman mangrove, sosialisasi juga terkait bagaimana menjaga biota langka, terumbu karang, yang menjadi lokasi bersembunyinya plankton-plankton.

Steven yang sudah melaut kurang lebih 40 tahun secara turun temurun tersebut juga mengaku cukup sulit untuk merawat dan menjaga mangrove yang sudah ditanam.

Apalagi di saat cuaca buruk atau cuaca ekstrem wilayah pesisir selalu dihantam oleh gelombang dan hal itu dapat merusak pesisir pantai tersebut jika tidak ditanami mangrove.

Baginya tak masalah jika saat ini dia dan orang tua lainnya di desa itu yang menanam, namun kelak akan dirasakan dan dinikmati oleh anak cucu mereka di tahun-tahun yang akan datang.

Dia tahu bahwa yang menanam tidak akan merasakan manfaat langsung, tetapi setidaknya jika sudah tumbuh akan dirasakan oleh anak cucu mereka, dan manfaatnya akan sangat baik.

Apalagi setelah masuknya Program The Arafura and Timor Seas Ecosystem Action Phase II (ATSEA-2) yang didanai Global Environment Facility (GEF) dan diimplementasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga memberikan pencerahan kepada warga di desa tersebut terkait manfaat dari buah mangrove tersebut.

Program fase dua yang sudah berjalan sejak tahun 2019 mencakup empat negara; Australia, Indonesia, Papua New Guinea, dan Timor-Leste. Di Indonesia, ATSEA-2 berfokus di tiga wilayah kerja, yaitu Kepulauan Aru di Maluku, Merauke di Papua Selatan, dan Rote Ndao di NTT. Di Rote Ndao sendiri, ATSEA-2 berfokus pada pelatihan kepada masyarakat pesisir untuk mengelola hasil laut sebagai pendorong peningkatan ekonomi, sehingga masyarakat pesisir tidak hanya fokus pada tangkapan ikan, tetapi bisa memanfaatkan potensi lain yang ada di pesisir pantai sebagai salah sumber penghidupan.


Perda

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT, merasa penting bahwa diperlukan peraturan daerah (perda) untuk mendukung perlindungan wilayah pesisir di daerah itu.

Perda tersebut saat ini masih dalam pembahasan dan menunggu sidang ke-3 dengan DPRD Kabupaten Rote Ndao. Pada dasarnya isi dari perda tersebut sudah digodok oleh Kanwil Kemenkumham NTT di Kupang.

Diharapkan pada Agustus nanti perda ini bisa segera disahkan sehingga perlindungan terhadap wilayah pesisir sudah ada dasar hukumnya.

Perda yang nantinya segera diberlakukan itu tidak hanya berisi tentang larangan atau perintah untuk tidak boleh melakukan sesuatu, tetapi juga mengatur tentang bagaimana agar hasil laut yang ada di kawasan pesisir bisa dikelola oleh masyarakat sekitar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Selain itu, perda tersebut berisi tentang masalah sampah di wilayah pesisir yang sering menjadi pembicaraan wisatawan karena dapat merusak lingkungan, khususnya ekosistem dalam laut.

Sampah itu bukan hanya plastik, tetapi juga sampah yang dihasilkan dari limbah-limbah kapal, seperti minyak yang digunakan oleh para nelayan juga diharapkan tidak dibuang di sembarang tempat di laut. Salah satu solusinya digali lubang di darat lalu limbahnya dimasukkan, sehingga tidak merusak wilayah pesisir.


Sumber :

https://www.antaranews.com/berita/3597078/mengenal-steven-mesah-pencinta-mangrove-di-selatan-negeri

Thursday, June 15, 2023

Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Kamis, 15 Juni 2023

Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) yang tergabung dalam kelompok StrawBite berhasil membuat sedotan berbahan dasar tepung beras dan tepung tapioka. Sedotan itu dipamerkan dalam pagelaran Ubaya Innovaction Festival (UNNO FEST) Vol. 02 pada 13-15 Juni 2023, di Plaza Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya.

Alat itu dibuat oleh Alfian Dwi Wahyudi, Clarence Rex Maximilian H., Natasya Octavia, dan Yemima Destaliza Samantha. Alfian Dwi Wahyudi Ketua Tim StrawBite mengatakan, inisiatif membuat sedotan eco friendly itu dilatarbelakangi fenomena masih banyaknya kafe yang menggunakan sedotan plastik.

“Hal ini tentu menjadi permasalahan bagi lingkungan karena plastik tidak bisa diuraikan kembali,” ucapnya pada Kamis (15/6/2023).

Mahasiswa Ubaya yang tergabung dalam kelompok StrawBite saat menunjukkan sedotan berbahan dasar tepung hasil inovasi kelompoknya. Alfian melanjutkan, selain ramah lingkungan, keunggulan dari sedotan StrawBite itu bisa dimakan karena berbahan dasar tepung beras, tepung tapioka, dan air.

“Ketika sudah selesai pakai, sedotan juga bisa dihancurkan dan remahannya bisa ditaburkan ke tanah untuk diserap tanaman. Jadi, sedotan ini benar-benar punya banyak manfaat,” terangnya.

Dia menambahkan, proses pembuatan sedotan yang memiliki panjang 23 cm dan diameter 1,5 mm itu hanya membutuhkan waktu 25-30 menit, dan menghasilkan sepuluh sedotan.

“Sedotan yang sudah jadi, bisa bertahan di ruang terbuka selama 40 hari. Kalau sudah dipakai pada minuman, sedotan dapat bertahan 3 sampai 5 jam,” jelasnya.

Selanjutnya, dia dan tim berencana mengembangkan sedotan StrawBite yang bisa digunakan untuk minuman panas, ditambahkan perasa, serta memperbanyak warna. Sementara itu, Sujoko Efferin Direktur Ubaya InnovAction Hub (UIH) Ubaya mengatakan, produk-produk buatan mahasiswa yang dipamerkan itu, bisa dikembangkan lagi dengan riset dan mendapat pendampingan dari praktisi bisnis.

“Ubaya berharap melalui acara ini dapat mencetak pengusaha sebanyak-banyaknya. Semoga peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya.

Sekadar diketahui, pameran yang diadakan Ubaya InnovAction Hub itu merupakan ajang memperkenalkan produk karya asli dan inovasi mahasiswa mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi, berupa barang dan jasa kepada masyarakat umum.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/mahasiswa-ubaya-ciptakan-sedotan-eco-friendly-berbahan-tepung/

Monday, June 5, 2023

Ubah Kotoran Jadi Penyelamat Ekosistem Sungai

Terobosan DLHK Sidoarjo, Ubah Kotoran Jadi Penyelamat Ekosistem Sungai

5 June 2023 18:04 PM

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo terus membuat terobosan agar ekosistem sungai jadi lebih baik. Melalui bulatan-bulatan tanah liat yang dibuat dari campuran kotoran hewan seperti sapi dan kambing serta dicampuri cairan eco lindi, DLHK perkenalkan cara baru dalam merawat dan menjaga lingkungan sungai.

Kepala DLHK Sidoarjo M Bahrul Amig mengatakan, upaya terobosan eco sungai ini sengaja diproyeksikan terlebih dahulu di sungai yang ada di Desa Siwalanpanji, Buduran. Sebelum nantinya terobosan ini akan disebar ke seluruh sungai yang ada di Kota Delta.

“Untuk meyakinkan masyarakat dan terus bisa dievaluasi, nantinya hasil proyeksi akan kita uji lab. Dengan pembuktian tersebut sehingga pertanggungjawaban kualitas lingkungan dan metode yang terukur dapat dilihat langsung,” papar Amig.

Amig juga menyadari, selama ini tingkat pencemaran lingkungan khususnya di sungai masih cukup tinggi. Oleh karenanya, eco sungai yang diperkenalkan saat hari lingkungan hidup ini, salah satu fungsinya adalah untuk merestorasikan air sungai di Sidoarjo.

Selain itu, kata Amig, tujuan dari eco sungai ini juga untuk memperbaiki kualitas air sungai. Dan mendorong kesadaran masyarakat untuk mencintai sungai agar tidak dibuangi dengan sampah.

“Momentumnya sungai menjadi berkah, bukan lagi sungai yang hanya sekadar sungai yang kemudian dikriminalisasi dengan pembuangan sampah seenaknya sendiri,” terangnya.

Dalam pengaplikasiannya, tambah Amig, efek daripada eco sungai tersebut dapat dilihat secara signifikan setelah tujuh hari. Salah satu perubahannya adalah dinamika biota air seperti ikan dan hewan lainnya dapat berkembang biak karena ekosistem sungai kembali berjalan dengan baik. 


Sumber :

https://radarsidoarjo.jawapos.com/kota-delta/05/06/2023/terobosan-dlhk-sidoarjo-ubah-kotoran-jadi-penyelamat-ekosistem-sungai/

Friday, May 26, 2023

Rumah dari Beton Campuran Popok Bayi

Pertama di Dunia! Rumah dari Beton Campuran Popok Bayi Hasil Riset Ilmuwan RI

Jumat, 26 Mei 2023 14:30 WIB

Permasalahan penggunaan bahan bangunan dan permasalahan limbah yang dapat menyebabkan permasalahan iklim kerap menjadi perbincangan. Masalah ini membuat salah satu insinyur sipil di Universitas Kitakyushu asal Indonesia memulai proyek membuat rumah dari beton yang menggunakan campuran popok bayi saat mengajar di Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB).

Dituliskan dalam jurnal Nature berjudul 'Application of Non-Degradable Waste As Building Material For Low-Cost Housing' yang disusun Siswanti Zuraida, Bart Dewancker dan Romi Bramantyo Margono yang dipublikasikan 18 Mei 2023, di sebagian negara berkembang akses terhadap perumahan yang sesuai dan terjangkau kerap menjadi permasalahan. 

Perumahan dengan harga terjangkau artinya perumahan yang lokasi dan kualitasnya sesuai, tetapi dengan biaya yang tidak membebani penghuni dan tidak mengganggunya untuk memenuhi biaya hidup lainnya. Sayangnya, dua aspek terpenting dalam bangunan, yaitu tanah dan bahan bangunan dipatok dengan harga yang tinggi sehingga menjadi tidak terjangkau bagi masyarakat miskin perkotaan.

Pada Indonesia sendiri penyediaan perumahan dengan harga terjangkau telah menjadi perhatian tiga dekade terakhir. Hal itu disebabkan karena terdapat pertumbuhan populasi perkotaan sebesar 4,1% per tahun. Selain itu, pertumbuhan populasi juga menyebabkan peningkatan kapasitas limbah dalam hal pengelolaan limbah. Data statistik menyebutkan total limbah pada tahun 2019 ialah 29,21 juta ton dan meningkat menjadi 32,76 ton pada tahun 2020.

Pertumbuhan populasi juga meningkatkan popularitas dari popok sekali pakai karena kenyamanannya dan harga yang terjangkau untuk digunakan. Permasalahan tersebut membawa para ilmuwan terhadap penemuan penggunaan popok yang dihancurkan untuk menggantikan 9 hingga 40% pasir yang digunakan dalam pembuatan beton tanpa mengurangi kekuatannya.

Masih dari laman Nature, popok sekali pakai merupakan sumber limbah non-daur ulang yang semakin meningkat. Selain itu, produksi semen juga berperan atas 7% emisi gas rumah kaca global dan mengonsumsi sekitar 50 miliar ton pasir setiap tahun.


Beton Campuran Popok Bayi Jadi Bahan Dasar Bangunan

Penelitian ini dipimpin oleh Siswanti Zuraida, dimana ia menggunakan beton yang bercampur popok untuk membangun sebuah rumah kecil di Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa limbah dapat dimanfaatkan kembali untuk membangun rumah yang terjangkau bagi komunitas dengan pendapatan rendah. Zuraida mengungkapkan pemanfaatan limbah sebagai bahan bangunan ini berkaitan besar dengan sumber daya yang tersedia.

"Dengan pertumbuhan populasi, limbah popok juga akan bertambah. Ini merupakan tantangan, jadi kami berpikir bahwa ini akan menjadi bagian dari kontribusi kami untuk mendaur ulang limbah ini," jelasnya.

Popok sekali pakai terbuat dari bubur kayu, kapas, dan polimer superabsorben. Sejumlah kecil dari bahan-bahan ini terbukti bisa meningkatkan sifat mekanik beton. Prosesnya yakni popok akan dicuci, dikeringkan, dan dihancurkan. Bahan yang dihasilkan dari popok yang dihancurkan akan dicampurkan dengan semen, pasir, kerikil, dan air.

Melalui pengujian yang dilakukan oleh tim peneliti, mereka menemukan bahwa semakin banyak penggunaan limbah maka semakin rendah kekuatan tekannya. Hal tersebut menyebabkan komponen struktural seperti kolom dan balok memerlukan proporsi limbah popok yang lebih kecil dibandingkan elemen arsitektur, seperti dinding dan blok beton.

Pada rumah prototipe satu lantai, para peneliti menghitung bahwa 27% pasir dapat digantikan oleh limbah popok. Namun, jika rumah akan dibangun sampai tiga lantai, maka proporsinya harus turun menjadi 10%.

Menariknya, pada komponen arsitektur, hingga 40% pasir dapat digantikan oleh limbah popok dengan proporsi tertinggi digunakan pada panel dinding beton. Sementara, lantai dan paving memerlukan struktur yang lebih kuat dibanding dinding untuk memenuhi standar bangunan. Hal itu menyebabkan hanya 9% pasir yang dapat digantikan oleh popok bekas pakai.


Penggunaan Popok Sesuai Standar Bangunan Indonesia

Rumah percobaan menggunakan beton dengan campuran popok bekas pakai dengan mengikuti standar bangunan di Indonesia, dengan luas lantai 36 meter persegi atau setara dengan sekitar 2,5 tempat parkir mobil. Para peneliti kemudian menggunakan beton popok sebagai komponen arsitektur dan balok logam untuk komponen struktural dengan tujuan untuk mempercepat proses pembangunan. Secara keseluruhan, rumah percobaan ini memanfaatkan sekitar 1,7 meter kubik limbah popok atau setara dengan sekitar 8% dari volume total material komposit.

"Sebagai cara untuk mendapatkan nilai dari limbah yang tidak terurai, ini adalah langkah yang bagus dan sangat berharga dalam proses bertahap," ungkap Christof Schröfl, kimiawan yang meneliti bahan bangunan berkelanjutan di Universitas Teknologi Dresden, Jerman.

Kendati demikian, ia juga memperingatkan bahwa mengangkut limbah popok ke pabrik pengolahan atau lokasi konstruksi dapat menghasilkan jalur transportasi yang cukup panjang.

Oleh sebab itu, para peneliti lebih disarankan untuk menggunakan dinding yang terbuat dari bahan komposit berbasis kayu daripada beton untuk meningkatkan rumah yang ramah lingkungan tetapi dengan biaya rendah.

Zuraida mengungkapkan bahwa memisahkan popok dari aliran limbah menjadi bagian yang paling menantang dalam mengaplikasikan karyanya ke dunia nyata.

"Tidak ada sistem dukungan dalam pengelolaan limbah sampah kota untuk memisahkan popok," ungkap Zuraida.

"Botol plastik sudah dipisahkan sekarang karena didaur ulang dengan cukup mudah, tetapi popok biasanya masuk ke proses pembakaran," tutur Zuraida.


Sumber :

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6740192/pertama-di-dunia-rumah-dari-beton-campuran-popok-bayi-hasil-riset-ilmuwan-ri.

Saturday, May 20, 2023

Penguatan Kemitraan Kehutanan & Penanganan Perubahan Iklim

Jokowi Dorong Penguatan Kemitraan Kehutanan Indonesia-Brasil

Sabtu, 20 Mei 2023

Joko Widodo Presiden Republik Indonesia (RI) mendorong penguatan kemitraan bidang kehutanan antara Indonesia dan Brasil saat pertemuan bilateral dengan Luiz Inacio Lula da Silva Presiden Brasil di sela-sela KTT G7 di Hotel Rihga Royal, Hiroshima, Jepang, Sabtu (20/5/2023).

Isu kehutanan menjadi topik utama kedua pemimpin dari negera tersebut, mengingat Indonesia dan Brasil merupakan dua negara yang memiliki luas hutan tropis terbesar di dunia. Oleh karena itu, Jokowi menekankan pentingnya soliditas di antara negara-negara pemilik hutan, termasuk misalnya Republik Demokratik Kongo.

“Lebih dari 30 persen hutan tropis (dunia) dimiliki Indonesia-Brasil dan Republik Demokratik Kongo,” ucap Jokowi dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, saat dilansir dari Antara.

Jokowi dan Lula juga sempat membahas kerja sama penanganan perubahan iklim, di mana kedua pemimpin menyampaikan komitmen negara masing-masing dalam isu tersebut. Keduanya sepakat untuk mendorong negara-negara maju merealisasikan komitmen penyediaan dana perubahan iklim.

Dalam kesempatan itu, kedua kepala negara tersebut juga menyatakan keyakinan bahwa hubungan Indonesia-Brasil akan semakin meningkat di masa mendatang.

Selain itu, keduanya juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama dalam pengembangan peternakan serta pengadaan daging untuk Indonesia.

Sementara itu, Lula secara tidak langsung juga menyampaikan undangan kepada Jokowi agar berkenan melakukan kunjungan kenegaraan ke Brasil.

“Saya sangat mengharapkan kedatangan Presiden Widodo ke Brasil dan kita akan dapat membahas lebih banyak lagi kerja sama antara dua negara berkembang yang besar seperti Indonesia dan Brasil,” ujar Lula.

Turut mendampingi Presiden RI dalam pertemuan bilateral Indonesia-Brasil adalah Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Luhut Binsar Pandjaitan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, serta Retno Marsudi Menteri Luar Negeri.

Hadir pula dalam kesempatan itu, Erick Thohir Menteri BUMN , Pramono Anung Sekretaris Kabinet, dan Santo Darmosumarto Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri RI.(ant/ris/faz)


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/jokowi-dorong-penguatan-kemitraan-kehutanan-indonesia-brasil/

Monday, May 8, 2023

Desain Biophilic yang Ramah Lingkungan

Yuk, Mengenal Desain Biophilic Yang Ramah Lingkungan

14 Okt 2017

Hunian yang baik ialah hunian yang dapat menciptakan kebahagiaan dan kenyamanan bagi penghuninya. Salah satu faktor pendukung untuk mewujudkan hal tersebut ialah dengan menyematkan unsur alam pada hunian.

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk berhubungan dengan alam yang dikenal dengan hipotesa biophilia (cinta alam). Dalam dunia arsitektur, hunian dengan sentuhan natural atau alam dikenal dengan istilah biophilic design atau desain biophilic.

Istilah ini mungkin terasa asing untuk Anda. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai desain biophilic, yuk, simak tulisan berikut yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi hunian Anda.


Apa itu Desain Biophilic?

Istilah biophilia (cinta alam) muncul sekitar tahun 1980 ketika urbanisasi meningkat yang mengakibatkan terputusnya hubungan manusia dengan alam. Tingkat migrasi ke perkotaan di negara maju dan berkembang sangat tinggi saat itu.

Manusia semakin dekat dengan modernitas dan mulai melupakan alam.Ranah arsitektur kemudian menggunakan gagasan biophilia untuk mengembalikan kedekatan manusia dengan alam.

Akhirnya terciptalah desain arsitektur biophilic yang dibuat guna menguatkan hubungan antara alam dan lingkungan buatan manusia. Tak heran jika unsur alam merupakan aspek utama pada desain ini.


Relevansi Desain Biophilic

Badan Kesehatan Dunia (WHO) meramalkan bahwa penyakit sejenis stres, seperti gangguan kesehatan mental dan kardiovaskular akan menjadi penyumbang penyakit terbesar di tahun 2020.

Berkurangnya koneksi manusia dengan alam, meningkatnya tekanan, dan kehadiran teknologi akan membuat kesempatan untuk memulihkan kesehatan mental dan fisik lebih sedikit.

Memasukkan unsur alam, baik langsung atau tak langsung, pada lingkungan terdekat akan sangat berpengaruh mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat detak jantung. Selain itu, dapat meningkatkan produktivitas dan kenyamanan diri.

Karena itulah kini mulai banyak instansi seperti Google, Apple, dan Amazon menerapkan penggunaan desain biophilic untuk tempat kerja mereka.  Selain mampu mengurangi tingkat stres, desain biophilic dapat meningkatkan produktivitas bekerja karyawan.


Keuntungan Menerapkan Desain Biophilic

Dengan menerapkan desain biophilic pada hunian atau tempat kerja, ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan.

Desain kantor: Produktivitas meningkat 8%, tingkat kesejahteraan meningkat 13%, kreativitas meningkat, dan absensi ketidakhadiran karyawan akan menurun

Desain perhotelan: Tamu bersedia membayar 23% lebih mahal untuk kamar dengan pemandangan elemen biophilic

Ruang pendidikan: Tingkat pembelajaran meningkat 20-25%, hasil tes lebih baik, tingkat konsentrasi dan kehadiran meningkat, dampak ADHD berkurang.

Ruang perawatan kesehatan: Tingkat pemulihan pasca operasi meningkat sebesar 8,5%, mengurangi pengobatan nyeri sebesar 22%

Ritel: Konsumen bersedia membayar 8-12% lebih untuk barang dan jasa yang ditawarkan.

Hunian/rumah: Suasana menjadi lebih tenang, menurunkan angka kriminalitas 7-8%, meningkatkan harga properti 4-5%.


Tips Menerapkan Desain Biophilic

Membuat taman hijau atau pekarangan di halaman depan atau belakang hunian.

Memperbanyak bukaan pada hunian untuk sirkulasi udara alami.

Menambah tanaman hijau dalam ruang.

Penggunaan unsur alam lebih banyak, seperti furnitur kayu, rotan, ornament, dan sebagainya

Penerapan cahaya alami lebih banyak.


Sumber :

https://www.rumah.com/berita-properti/2017/10/162397/yuk-mengenal-desain-biophilic-yang-ramah-lingkungan

Monday, March 20, 2023

Manfaat Hutan dan Bencana Hidrometeorologi

Manfaat Hutan dan Kaitannya dengan Bencana Hidrometeorologi

Selasa, 21 Maret 2023 | 04:40 WIB

Hutan merupakan aspek penting bagi keberlangsungan manusia di muka bumi. Di Indonesia sendiri, kehadiran hutan menjadi sangat penting bagi kehidupan dan bagi keberlanjutan pembangunan nasional, sehingga harus dilestarikan dan tutupannya harus cukup.

Dalam memperingati Hari Hutan Internasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (21/3/2023) Agus Setyarso, Deputy Director, Pusat Sains Kelapa Sawit Instiper Yogyakarta, bersama Chay Asdak, Guru Besar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Universitas Padjadjaran memaparkan hasil kajian terkait kehutanan dan bencana hidrometeorologi.


Hutan Mangrove Jadi Andalan Wisata Desa Budo

Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, sehingga pemanfaatan dan pengelolaannya harus tetap mempertimbangkan beragam aspek demi keseimbangan dan pelestarian ekosistem.

“Jika pertumbuhan hutan mampu terus menerus menyediakan manfaat ekonomi, ekologi, dan sosial, maka berkelanjutan didefinisikan tentang manfaat yang diambil mampu untuk menyelenggarakan dan membiayai pembangunan pada periode berikutnya,” ungkap Agus Setyarso, Deputy Director, Pusat Sains Kelapa Sawit Instiper Yogyakarta di Jakarta Senin (20/3/2023) kemarin.

Dijelaskan lebih lanjut, keberlanjutan dan kelestarian hutan hanya dapat terwujud melalui pemenuhan dua syarat yaitu tatakelola (governance), dan pengelolaan (management) yang baik.

"Manajemen hutan yang baik memerlukan kecukupan kinerja tatakelola kehutanan yang baik,” sambung Agus.

Langkah mengawali capaian tujuan pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari beberapa langkah tatakelola kehutanan yaitu tata-kebijakan, tata-instrumentasi pelaksanaan kebijakan, tata-pengaturan sumberdaya yang berkenaan dengan kepentingan publik dan barang publik, tata-peran para pihak, maupun tata-distribusi manfaat privat, yang diperankan oleh pemerintah, pemerintah daerah, pihak swasta, dan masyarakat dalam arti luas termasuk masyarakat internasional.

Kelestarian dan keberlanjutan kehutanan terwujud ketika tatakelola dan manajemen terhantar (delivered) ke tingkat tapak. Namun, melihat bencana hidrometeorologi adalah fokus berikutnya. Bencana ini disebabkan oleh ragam parameter meteorologi, diantaranya suhu, tekanan, curah hujan, angin, kelembapan, dan lain-lain. Kejadian bencana hidrometeorologi antara lain banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan badai, dan tanah longsor.

“Kecenderungan naiknya tinggi muka air laut seperti banjir rob di Indonesia yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat dimitigasi dengan mempertahankan serta membangun hutan bakau, juga dengan melalui intervensi mitigatif infrastruktur fisik yang struktural seperti melalui drainase dan reklamasi,” ungkap Chay Asdak, Guru Besar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Universitas Padjadjaran.


Indonesia, Brasil, dan DR Kongo Jalin Kerja Sama Hutan Tropis

Selanjutnya, terkait rekomendasi pendekatan ekosistem bisa dilakukan melalui infrastruktur alami yang diwujudkan melalui yang pertama mekanisme insentif dan disinsentif. Mekanisme insentif atau bantuan teknis kepada pemilik tanah untuk mengelola secara ramah lingkungan. Berikutnya, mekanisme imbal jasa lingkungan. Mekanisme insentif dan imbal jasa lingkungan menjadi efficient tools dan pendekatan efektif untuk mengamankan infrastruktur alam.


Sumber :

https://www.beritasatu.com/nasional/1033740/manfaat-hutan-dan-kaitannya-dengan-bencana-hidrometeorologi

Thursday, March 16, 2023

Green Wave Environmental Care Project For Schools

Kemangi Antarkan Mahasiswa UM Juarai Green Wave Environmental Care Project For Schools

Last updated: 2023/03/15 at 9:51 PM

Tidak hanya mengganggu, lalat juga dapat menjadi sarang penyakit. Tak jarang lalat yang hinggap di sembarang tempat membawa bakteri dan parasit di tubuhnya, sehingga dapat merugikan manusia.

Menurut World Health Organization (WHO), lalat rumah menjadi pembawa bakteri dan parasit penyebab diare dan infeksi mata. Permasalahan ini menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Sehingga berhasil ciptakan pembasmi lalat yang juga berfungsi sebagai pestisida sekaligus disinfektan alami dari daun kemangi.

ESSIL, begitu nama produknya. Adalah insektisida alami dari bahan dasar kemangi dengan tambahan kulit jeruk nipis dan daun cengkeh yang baik untuk lingkungan.

Viska Rinata, mahasiswa S1 Biologi UM selaku co-researcher menjelaskan, alasan inovasi tersebut dapat tercipta. Lantaran tingginya peledakan populasi lalat yang disebabkan peternakan ayam di Trenggalek, Jawa Timur.

Tingginya jumlah peternakan ayam yang beroperasi aktif di Trenggalek mencapai 3.272.238. Sehingga memicu ledakan populasi lalat secara drastis dan mengganggu masyarakat.

”Siapa sih yang nggak terganggu sama lalat. Karena lalat itu annoying banget. Selain annoying, resiko penyakit dari bakteri yang dibawa lalat itu lebih tinggi daripada serangga lain. Seperti kecoa dan sebagainya,” ujar gadis asal Trenggalek tersebut.

Melihat hal itu, Viska dan tim tidak diam saja. Mereka mencari solusi yang mudah dijangkau dan ekonomis agar bisa diterima serta digunakan secara maksimal oleh warga sekitar.

Viska mencoba mengamati lingkungan sekitar dan menemukan, bahwa banyak sekali petani kemangi di Trenggalek. Sayangnya, daun kemangi lumrah dimanfaatkan hanya sebagai lalapan atau makanan pendamping sambal dan nasi yang tentu memiliki harga jual rendah.

”Sebenarnya di daerah itu (Trenggalek) sudah ada masalah dan solusi yang tepat. Namun belum terintegrasi dengan baik. Nah, dari situ muncul ide untuk membuat inovasi ini,” tutur Viska.

ESSIL terbuat dari daun kemangi, daun cengkeh, dan kulit jeruk nipis yang memiliki nilai jual sangat rendah. Bahkan seringkali menjadi limbah.

Bahan dasar produk ini adalah daun kemangi serta memiliki bahan aktif methyl clavicle dan cineol yang tidak disukai oleh lalat. Ditambah dengan daun cengkeh dan kulit jeruk nipis yang memiliki fungsi antimikroba yang membuat produk ini memiliki nilai keterbaruan yang tinggi.

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, ESSIL memiliki persentase efektifitas yang cukup tinggi dalam mengusir lalat. Yaitu lebih dari 90%.

Tak hanya itu, berdasarkan uji organoleptik yang telah dilakukan, semua penguji menyatakan menyukai aroma dan tekstur dari ESSIL. Menggunakan teknologi nano fogging gun, penyemprotan produk dapat dilakukan lebih cepat, rata, dan tepat sasaran.

Inovasi hebat dari Viska dan tim sudah bisa digunakan di rumah yang terdampak ledakan populasi lalat.

”Jadi selain sebagai repellent lalat, ESSIL juga berfungsi sebagai disinfektan untuk membersihkan sisa-sisa bakteri yang ditinggalkan lalat sehingga dapat meminimalisir resiko diare, penyebaran polio, disentri dan lain sebagainya.”

“Ini produk sustainable yang ramah lingkungan dan minim resikonya bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” tambah gadis berusia 21 tahun tersebut.

Harapannya, ESSIL dapat dikembangkan sehingga bisa digunakan secara komersil di bidang peternakan.

”Untuk saat ini produksi masih dilakukan dalam skala kecil karena keterbatasan biaya dan sumber daya, namun produk ini memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat dikomersilkan di bidang peternakan,” ucapnya.

Inovasi tersebut berhasil menarik perhatian juri di ajang Green Wave Environmental Care Project For Schools 2022 yang diadakan oleh Sembcorp Marine di Singapura. Memiliki nilai jual dan keterbaruan yang tinggi, ESSIL berhasil meraih juara dua di ajang tersebut.

Pemakaian daun kemangi di bidang industri yang masih asing di masyarakat luas juga menarik perhatian para juri. Membawa nama baik UM di ajang internasional, Viska dan tim diundang menghadiri acara penghargaan di Parkroyal Collection Marina Bay, Singapura pada pertengahan Februari 2023.

Selaku penggagas ide, Viska berharap produk ini bisa menjadi produk yang dapat digunakan oleh banyak orang di masa depan.

”Fokus riset aku itu kan di green industry, jadi aku berharap produk ini bisa aku kembangin dan jadi core dari green industry yang ingin aku bangun di masa depan,” ujar Viska menyampaikan mimpi besarnya.


Sumber :

https://infomalangraya.com/kemangi-antarkan-mahasiswa-um-juarai-green-wave-environmental-care-project-for-schools/

Wednesday, December 21, 2022

80 Persen Polusi Plastik Kotori Lautan

Sampah Plastik Jejali 1000 Sungai, 80 Persen Polusi Plastik Kotori Lautan 

Written by Marinus L Toruan


Boyan Slat pendiri dan chief executive The Ocean Cleanup (kiri) dan limbah atau sampah plastik yang mencemari sungai-sungai dan selanjutnya meneruskannya ke lautan.

Jangan biarkan sampah plastik jejali 1000 sungai agar laut tak penuhi sampah. The Ocean Cleanup malaporkan, sampah plastik mencemari sungai-sungai di Filipina, Indonesia, Malaysia, Dominika, dan Amerika Tengah. China dan India penghasil sampah plastik terbesar di dunia. 

Mari kita bantu upaya The Ocean Cleanup yang membersihkan sampah plastik dari sungai dan lautan di seluruh dunia. Dari markas utamanya di Rotterdam, Belanda, The Ocean Cleanup mengirimkan rilis ke media ini belum lama ini. 

The Ocean Cleanup menyimpulkan, sungai dan lautan tercemar sampah plastik. Lembaga dengan aktivitas lingkungan tanpa mencari keuntungan atau sebuah organisasi nirlaba, sukses mengembangkan dan menggunakan teknologi terbaik untuk membersihkan sampah plastik yang mengotori sungai dan laut di belahan dunia. 

Melalui rilisnya,  The Ocean Cleanup yang didirikan (tahun 2013) oleh seorang anak muda, Boyan Slat kelahiran tahun 1994, mempresentasikan hasil berupa model pencemaran sungai di berbagai negara di dunia termasuk sungai-sungai di Indonesia.  

Presentasi The Ocean Cleanup merupakan bagian jurnal atau laporan yang telah diperbarui—hasil kerja sama bersama mitranya Science Advances.  Jurnal yang disampaikan oleh The Ocean Cleanup itu mengaktualkan dominasi sampah plastik yang dialirkan melalui sungai-sungai menuju laut lepas.  

Dengan bantuan pengukuran dan bentuk pemodelan baru, hasil studi The Ocean Cleanup menunjukkan sekitar 1000 sungai melepaskan hampir 80 persen emisi plastik.  Jumlah itu mencapai 100 kali lebih banyak dari 10 sungai yang sebelumnya dianggap pemicu atas sebagian besar pencemaran limbah sampah plastik.  

The Ocean Cleanup bekerja sama dengan para peneliti di Universitas Wageningen, Universitas Teknologi Delft, Universitas Utrecht, dan Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz yang melakukan studi yang dalam.  

Tim peneliti menyebutkan bahwa sungai-sungai merupakan sumber utama sampah plastik yang mencemari lautan. Hasil temuan itu memperkuat kenyataan bahwa polusi sampah plastik di lautan berasal dari banyak sungai kecil dan menengah. 

Hal itu merupakan serangkaian faktor geografis yang menentukan kontribusi tertinggi dari sungai atas sampah plastik masuk ke lautan di berbagai belahan dunia.  Secara global, 1000 sungai menghasilkan hampir 80 pesen polusi yang disebabkan limbah atau sampah plastic.

Pemahaman atau kesimpulan ini berbeda dengan perkiraan sebelumnya—bahwa  sejumlah kecil sungai besar merupakan kontributor utama. Secara global, 1000 sungai menghasilkan hampir 80 pesen polusi yang disebabkan limbah atau sampah plastik.  

Dari satu pandangan, penemuan itu mewakili 1 persen dari semua sungai yang ada di dunia. Sedangkan dari sisi lain, diperkirakan sekitar 100 kali lebih banyak sungai dianggap mewakili mayoritas penghasil emisi—ini berdasarkan hasil studi yang dilaporkan pada tahun 2017.  

“Meskipun skala masalah plastik mungkin tampak menakutkan, pemahaman terbaru tentang di mana plastik menjadi sampah plastik di laut memungkinkan intervensi yang lebih terarah. Seperti yang kita lihat, perbedaan besar dalam tingkat polusi di seluruh dunia,” ungkap Boyan Slat, pendiri dan CEO The Ocean Cleanup. 

“Hasil temuan ini justru membantu meningkatkan kecepatan pemecahan masalah dengan cepat. Kami akan menggunakan data baru ini sebagai panduan untuk kegiatan pembersihan sungai dan lautan. Kami berharap orang-orang lain juga melakukan seperti yang kamu lakukan,” ujar Boyan Slat yang didukung oleh 100 orang insinyur.   

Ironisnya, sampah plastik yang mengalir ke lautan tidak hanya ditentukan oleh jumlah limbah plastik yang dihasilkan di suatu wilayah dekat sungai. Hal itu terjadi terutama didorong oleh kombinasi konsentrasi penduduk, perkembangan ekonomi, dan kualitas pengelolaan sampah – juga probabilitas sampah plastik. 

Sampah plastic dimobilisasi, dan diangkut melalui sungai menuju laut.  Pendorong utama kemungkinan sampah plastik mencapai laut adalah, presipitasi dan angin (untuk memobilisasi sampah), penggunaan lahan dan kemiringan medan atau resistensi untuk sampah plastik yang akan diangkut. Jarak ke sungai terdekat dan ke laut merupakan salah satu faktor penumpukan samplah plastik. 

Semakin jauh jarak tempuh sampah plastik, semakin rendah probabilitas mencapai sungai atau laut.  Dengan mempertimbangkan probabilitas ini secara mendetail, tim peneliti membuat gambaran global tentang di mana dan berapa banyak sampah plastik mencapai lautan.  

Hasil studi tersebut memperhitungkan faktor-faktor tambahan  dan menunjukkan pergeseran pemahaman sungai tertentu yang menghasilkan lebih banyak sampah plastik.  Sementara hasil studi sebelumnya memberi peringkat sungai terbesar di dunia sebagai kontributor utama masalah. 

Pusat gravitasi telah bergeser ke sungai kecil yang mengalir melalui kota-kota pesisir di negara-negara berkembang.  Sebagai contoh, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pulau-pulau tropis adalah wilayah dengan probabilitas yang relatif tinggi dengan curah hujan yang melimpah.  

Jarak yang pendek dari sumber-sumber darat ke sungai—cenderung banyak terdapat di pulau-pulau ini—dan  jarak yang jauh lebih pendek ke lautan daripada sungai di benua besar.  Faktor-faktor baru ini menyebabkan konsentrasi pencemaran sampah plastik sungai di banyak negara, termasuk Filipina, Indonesia, Malaysia, Republik Dominika, dan seluruh Amerika Tengah.  

Sementara negara-negara kontinental besar seperti China dan India masih menempati urutan teratas sebagai penghasil sampah plastik.  Sebaliknya, wilayah dengan probabilitas yang relatif rendah untuk menjadi wilayah bermasalah adalah wilayah negara terkurung daratan, wilayah kering dengan sedikit angin atau wilayah di belakang hutan lebat.  

Probabilitas rendah disebabkan oleh jarak tempuh yang jauh lebih jauh yang dibutuhkan plastik, dengan meningkatnya kemungkinan sampah—entah bagaimana terperangkap, dikombinasikan dengan kekuatan pendorong yang terbatas melalui aliran sungai yang lebih lambat.  

Contoh daerah dengan angka polusi rendah adalah Afrika Tengah dan China Barat. The Ocean Cleanup mengembangkan teknologi canggih untuk membersihkan lautan dari plastik di dunia.  Organisasi ini bertujuan untuk mencapai hasil dengan mengambil pendekatan dua arah yakni: membendung aliran masuk melalui sungai dan membersihkan apa yang telah terakumulasi di laut.  

Selanjutnya, The Ocean Cleanup tengah mengembangkan sistem skala besar untuk berkonsentrasi lebih efisien Pada tahun 2020, seperti negara lain di dunia, aktivitas The Ocean Cleanup merasakan hasilnya. Terlepas dari situasinya, tim The Ocean Cleanup menunjukkan ketahanan saat mereka beradaptasi untuk bekerja dari rumah dan menemukan cara baru untuk menggunakan papan gambar (virtual).  

Melalui tekad inilah tim The Ocean Cleanup menyebarkan Interceptor 004 di Republik Dominika, meluncurkan produk pertama The Ocean Cleanup berupa kacamata hitam yang terbuat dari plastik bersertifikat dari Great Pacific Garbage Patch. 

Ini mengonfirmasi kemitraan The Ocean Cleanup dengan Konecranes untuk memproduksi seri Interceptors. Tonggak yang bersejarah ini membuktikan bahwa misi The Ocean Cleanup sama pentingnya dan relevan seperti sebelumnya.


Sumber :

https://www.mmindustri.co.id/sampah-plastik/