Pages

Showing posts with label Green Economy. Show all posts
Showing posts with label Green Economy. Show all posts

Sunday, March 30, 2025

Gerakan Menanam Pohon

Upaya Sederhana dengan Dampak Besar

Menanam pohon bukan sekadar aktivitas berkebun, tetapi merupakan bagian dari gerakan global untuk menjaga lingkungan dan memperbaiki kualitas hidup. Dengan semakin meningkatnya ancaman perubahan iklim, deforestasi, dan polusi udara, gerakan menanam pohon menjadi solusi nyata yang dapat dilakukan oleh individu, komunitas, hingga pemerintah.

Mengapa Menanam Pohon Itu Penting?

Pohon memiliki banyak manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang membuatnya sangat penting bagi kehidupan di Bumi. Berikut beberapa alasan utama mengapa menanam pohon sangat diperlukan:

  1. Menyerap Karbon Dioksida dan Mengurangi Polusi Udara
    Pohon berperan sebagai penyerap karbon alami. Mereka menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya, membantu mengurangi efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Selain itu, pohon juga menyaring polutan udara seperti debu, asap kendaraan, dan partikel berbahaya lainnya, sehingga meningkatkan kualitas udara yang kita hirup.

  2. Mencegah Erosi dan Meningkatkan Kesuburan Tanah
    Akar pohon membantu mengikat tanah, mencegah terjadinya erosi akibat air hujan. Hal ini sangat penting di daerah yang rentan terhadap longsor dan banjir. Selain itu, daun yang gugur dari pohon akan terurai menjadi humus, memperkaya tanah dengan nutrisi alami.

  3. Menyediakan Habitat bagi Satwa Liar
    Hutan dan pepohonan adalah rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan. Dengan menanam lebih banyak pohon, kita membantu menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem yang bergantung pada keberadaan hutan.

  4. Mengurangi Suhu dan Memberikan Keteduhan
    Pohon dapat mengurangi efek panas perkotaan dengan memberikan keteduhan dan menurunkan suhu lingkungan sekitar. Di daerah perkotaan yang penuh dengan beton dan aspal, keberadaan pohon dapat membantu menurunkan suhu hingga beberapa derajat, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sejuk.

  5. Meningkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan
    Studi menunjukkan bahwa keberadaan pohon dan ruang hijau dapat meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Udara yang lebih bersih dan lingkungan yang hijau juga berkontribusi pada kesehatan fisik yang lebih baik.

Bagaimana Cara Berpartisipasi dalam Gerakan Menanam Pohon?

Siapa pun bisa berkontribusi dalam gerakan ini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Menanam Pohon di Halaman Rumah atau Lingkungan Sekitar
    Jika memiliki lahan kosong, manfaatkan dengan menanam pohon yang sesuai dengan iklim dan kondisi tanah setempat.

  • Bergabung dengan Komunitas atau Organisasi Lingkungan
    Banyak organisasi yang mengadakan program penghijauan dan reforestasi. Bergabung dalam kegiatan ini akan membuat dampak yang lebih besar.

  • Mendukung Program Penghijauan Pemerintah
    Banyak pemerintah daerah memiliki program reboisasi atau penghijauan kota. Dukung dan manfaatkan program ini untuk menanam lebih banyak pohon.

  • Menyebarkan Kesadaran tentang Pentingnya Menanam Pohon
    Edukasi dan kampanye di media sosial atau di lingkungan sekitar bisa membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gerakan ini.

Kesimpulan

Gerakan menanam pohon bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan alam dan masa depan generasi mendatang. Dengan setiap pohon yang kita tanam, kita berkontribusi dalam melawan perubahan iklim, memperbaiki kualitas udara, serta menjaga ekosistem yang sehat. Mulailah dari sekarang, karena waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun lalu, dan waktu terbaik berikutnya adalah hari ini. 🌱🌍

Wednesday, March 26, 2025

Limbah Jeruk yang Menghidupkan Kembali Hutan di Area Konservasi Guanacaste, Kosta Rika

Limbah sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai dan merusak lingkungan. Namun, sebuah eksperimen unik di Area Konservasi Guanacaste, Kosta Rika, membuktikan bahwa limbah dapat menjadi penyelamat ekosistem. Kisah ini bermula ketika ribuan ton kulit dan ampas jeruk yang dibuang ke hutan justru membantu mengembalikan kesuburan tanah dan menghidupkan kembali ekosistem yang sebelumnya tandus.


1. Awal Mula Eksperimen Limbah Jeruk

Pada tahun 1997, dua peneliti dari Universitas Princeton, Daniel Janzen dan Winnie Hallwachs, bermitra dengan sebuah perusahaan jus jeruk, Del Oro, yang berbasis di Kosta Rika. Mereka memiliki ide sederhana tetapi revolusioner: menggunakan limbah jeruk untuk merehabilitasi hutan yang terdegradasi.

Sebagai bagian dari kesepakatan, pemerintah Kosta Rika mengizinkan Del Oro membuang lebih dari 12.000 ton limbah jeruk—termasuk kulit dan ampas—ke lahan yang sudah mengalami deforestasi di Area Konservasi Guanacaste. Sebagai imbalannya, perusahaan diberikan izin untuk mengembangkan pabrik pengolahan jus di dekat kawasan tersebut.


2. Tantangan dan Hambatan

Eksperimen ini sempat dihentikan pada tahun 1998 setelah satu perusahaan pesaing, TicoFruit, mengajukan gugatan dengan alasan bahwa pembuangan limbah di kawasan konservasi merupakan pencemaran lingkungan. Akibatnya, program ini terhenti, dan area pembuangan limbah jeruk pun terlupakan selama bertahun-tahun.

Namun, dua dekade kemudian, tim peneliti dari Universitas Princeton kembali ke lokasi tersebut untuk melihat dampaknya. Hasilnya sangat mengejutkan.


3. Keajaiban Alam: Limbah Jeruk Menghidupkan Kembali Hutan

Ketika tim peneliti mengunjungi kembali area bekas pembuangan limbah jeruk pada tahun 2013, mereka menemukan perubahan yang luar biasa:

Lahan yang tadinya tandus berubah menjadi hutan yang rimbun.
Tanaman dan pohon baru tumbuh lebih tinggi dan lebih lebat dibandingkan area yang tidak menerima limbah jeruk.
Keanekaragaman hayati meningkat, dengan lebih banyak spesies serangga, burung, dan mamalia kembali ke habitat tersebut.
Kesuburan tanah meningkat drastis karena nutrisi dari limbah jeruk memperkaya ekosistem.

Menurut peneliti, tanah di area yang ditutupi oleh limbah jeruk mengandung hingga lima kali lebih banyak karbon dan nutrisi dibandingkan dengan lahan di sekitarnya yang tidak menerima perlakuan serupa.


4. Bagaimana Limbah Jeruk Bisa Memulihkan Hutan?

Eksperimen ini menjadi bukti nyata bahwa limbah organik dapat membantu restorasi lingkungan. Berikut adalah beberapa faktor yang membuatnya berhasil:

🔸 Meningkatkan Kesuburan Tanah – Kulit jeruk membusuk secara alami dan melepaskan karbon, nitrogen, dan fosfor, yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

🔸 Menghambat Pertumbuhan Gulma – Lapisan tebal kulit jeruk mencegah tumbuhnya gulma invasif yang sebelumnya mendominasi area tersebut, memberi kesempatan bagi pohon asli untuk berkembang.

🔸 Menjaga Kelembapan Tanah – Limbah jeruk menciptakan lapisan organik yang menahan air di tanah, membantu tanaman bertahan selama musim kemarau.

🔸 Menyediakan Habitat untuk Mikroorganisme dan Serangga – Proses dekomposisi kulit jeruk menarik mikroorganisme dan serangga yang mempercepat siklus nutrisi dan memperkaya ekosistem tanah.


5. Dampak dan Implikasi Global

Eksperimen di Guanacaste ini membuktikan bahwa limbah organik dapat digunakan sebagai alat restorasi ekosistem yang efektif dan berbiaya rendah. Keberhasilan ini menginspirasi para ilmuwan dan konservasionis di seluruh dunia untuk mempertimbangkan penggunaan limbah pertanian dalam upaya rehabilitasi lingkungan.

Di berbagai negara, konsep ini dapat diterapkan dengan cara:
Menggunakan limbah pertanian untuk menyuburkan kembali lahan kritis di daerah yang mengalami deforestasi.
Mendorong industri makanan dan minuman untuk berpartisipasi dalam proyek restorasi ekologi dengan memanfaatkan limbah organik mereka.
Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya daur ulang limbah organik sebagai solusi keberlanjutan.


6. Kesimpulan

Kisah tentang limbah jeruk yang menyelamatkan hutan di Kosta Rika adalah contoh luar biasa bagaimana alam dapat memulihkan dirinya sendiri dengan sedikit bantuan manusia. Alih-alih menjadi sampah yang mencemari lingkungan, limbah organik dapat digunakan untuk memulihkan lahan yang rusak dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Eksperimen ini memberikan harapan bahwa solusi berbasis alam dapat menjadi bagian penting dalam upaya global melawan perubahan iklim dan deforestasi. Jika diterapkan di lebih banyak tempat, konsep sederhana ini bisa membantu meregenerasi hutan di seluruh dunia dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang. 🌱🌎



Melawan Perubahan Iklim dengan Menanam Pohon: Solusi Sederhana yang Berdampak Besar

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Peningkatan suhu global, cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah dampak nyata yang sudah dirasakan di berbagai belahan dunia. Salah satu cara paling efektif dan alami untuk melawan perubahan iklim adalah menanam pohon. Meskipun terdengar sederhana, aksi ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia.


1. Bagaimana Pohon Membantu Mengatasi Perubahan Iklim?

Pohon bukan hanya sekadar tanaman hijau yang memberikan keteduhan. Mereka berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui beberapa cara berikut:

🌱 Menyerap dan Menyimpan Karbon Dioksida (CO₂)

Pohon bertindak sebagai "penyerap karbon alami". Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap CO₂ dari atmosfer dan menyimpannya dalam batang, cabang, akar, dan tanah. Ini membantu mengurangi jumlah gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Sebuah pohon dewasa rata-rata dapat menyerap sekitar 22 kg CO₂ per tahun, dan satu hektar hutan dapat menyerap hingga 10 ton CO₂ per tahun. Jika ditanam dalam jumlah besar, pohon dapat secara signifikan membantu mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer.

🌳 Menghasilkan Oksigen yang Kita Butuhkan

Selain menyerap karbon, pohon juga melepaskan oksigen (O₂) yang kita hirup setiap hari. Hutan yang lebat berfungsi sebagai paru-paru bumi, menjaga keseimbangan gas di atmosfer dan mendukung kehidupan makhluk hidup.

💧 Menjaga Siklus Air dan Mengurangi Risiko Kekeringan

Pohon membantu mengatur siklus air dengan menyerap air hujan dan melepaskannya secara perlahan melalui proses evapotranspirasi. Ini membantu meningkatkan kelembapan udara, mengurangi suhu, dan mengurangi risiko kekeringan yang sering terjadi akibat perubahan iklim.

🌍 Mengurangi Suhu Global dengan Efek Pendinginan

Pohon memberikan keteduhan dan mendinginkan udara di sekitarnya. Daun mereka menyerap panas matahari dan mengurangi efek urban heat island—di mana kota-kota menjadi lebih panas dibandingkan daerah pedesaan karena kurangnya vegetasi dan tingginya jumlah permukaan beton serta aspal.

🌾 Mencegah Erosi Tanah dan Bencana Alam

Akar pohon berfungsi seperti penahan alami yang mencegah tanah terbawa air saat hujan deras. Dengan demikian, pohon dapat mengurangi risiko tanah longsor, banjir, dan erosi yang semakin parah akibat perubahan iklim.


2. Mengapa Kita Harus Menanam Lebih Banyak Pohon?

Dalam beberapa dekade terakhir, laju deforestasi terjadi sangat cepat akibat perluasan lahan pertanian, perkebunan, pembangunan infrastruktur, dan penebangan liar. Menurut laporan Global Forest Watch, dunia kehilangan sekitar 4,1 juta hektar hutan tropis primer pada tahun 2022.

Jika kita tidak segera mengambil tindakan untuk menanam kembali pohon yang hilang, dampak perubahan iklim akan semakin parah. Berikut adalah alasan mengapa kita harus menanam lebih banyak pohon:

Mengimbangi Deforestasi – Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan pohon baru agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Melindungi Keanekaragaman Hayati – Hutan adalah rumah bagi sekitar 80% spesies darat di bumi. Dengan menanam pohon, kita membantu melindungi habitat satwa liar yang terancam punah.

Meningkatkan Kualitas Udara – Pohon menyerap polutan udara seperti nitrogen oksida, amonia, sulfur dioksida, dan partikel debu, yang dapat mengurangi polusi udara di perkotaan.

Mendukung Mata Pencaharian – Reboisasi dan penghijauan dapat menciptakan peluang ekonomi, seperti ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan industri berbasis hutan yang ramah lingkungan.

Meningkatkan Kesehatan Mental dan Fisik – Lingkungan yang hijau dapat menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan mendorong gaya hidup sehat melalui aktivitas luar ruangan.


3. Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita semua bisa berkontribusi dalam upaya menanam lebih banyak pohon dan menjaga lingkungan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

🌱 Menanam Pohon di Halaman Rumah atau Lingkungan Sekitar

Mulailah dari lingkungan sendiri. Jika setiap orang menanam setidaknya satu pohon dalam hidupnya, miliaran pohon baru dapat tumbuh dalam waktu singkat.

🌳 Berpartisipasi dalam Program Reboisasi dan Penghijauan

Banyak organisasi dan komunitas yang mengadakan kegiatan penanaman pohon massal. Bergabunglah dalam gerakan ini untuk memberikan dampak lebih besar.

🛒 Mendukung Produk Ramah Lingkungan

Belilah produk yang berasal dari hutan lestari atau yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan, seperti FSC (Forest Stewardship Council).

📢 Mengedukasi dan Meningkatkan Kesadaran

Sebarkan informasi tentang pentingnya menanam pohon kepada keluarga, teman, dan masyarakat luas melalui media sosial atau kegiatan edukasi lingkungan.

🌍 Mengurangi Konsumsi Kertas dan Kayu Berlebihan

Gunakan kertas secara bijak, daur ulang, dan pilih alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi eksploitasi hutan secara berlebihan.


4. Kesimpulan

Menanam pohon adalah solusi sederhana namun sangat efektif dalam melawan perubahan iklim. Dengan menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan air, dan melindungi ekosistem, pohon memberikan banyak manfaat bagi bumi dan manusia.

Namun, aksi ini tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Kita semua harus ikut berperan dalam menanam dan merawat pohon demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Seperti pepatah mengatakan:

"Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, waktu terbaik berikutnya adalah hari ini." 🌳💚

Monday, February 12, 2024

Perbedaan Antara Blue Economy dan Green Economy

Menyelami Blue Economy dan Green Economy: Perspektif yang Berbeda Menuju Keberlanjutan

Dalam upaya menjaga keberlanjutan planet kita, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy telah muncul sebagai pandangan yang menjanjikan untuk mengarahkan ekonomi menuju jalan yang lebih berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang lebih bijaksana, mereka memiliki pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan ini.

Pada era ketidakpastian lingkungan dan ketegangan sumber daya alam global saat ini, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy muncul sebagai alternatif yang menarik untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Kedua konsep ini memiliki fokus yang serupa, yaitu menjaga keberlanjutan lingkungan, namun, mereka beroperasi di bidang yang berbeda dan mempromosikan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka.


Apa Itu Blue Economy?.

Blue economy merujuk pada pemanfaatan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Konsep ini mendorong pengembangan ekonomi yang memperhatikan lingkungan, termasuk pengembangan pariwisata laut, energi terbarukan seperti energi angin laut dan energi ombak, akvakultur yang berkelanjutan, serta penelitian dan inovasi dalam ilmu kelautan dan perikanan. Pendekatan blue economy mempertimbangkan potensi ekonomi sumber daya laut sambil memperhatikan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.

Blue Economy: Memanfaatkan Kekayaan Laut.

Blue economy menyoroti pentingnya pengelolaan yang bijaksana terhadap sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam konteks blue economy, lautan dan pesisir dipandang sebagai sumber daya yang kaya akan potensi ekonomi, seperti pariwisata laut yang berkelanjutan, energi terbarukan dari ombak dan angin laut, serta pengembangan akvakultur yang ramah lingkungan. Pendekatan blue economy menekankan pentingnya memperhatikan keberlanjutan lingkungan dalam mengembangkan ekonomi laut, menjadikannya sebagai pendorong utama dalam mengelola lautan dan pesisir secara efisien.


Apa Itu Green Economy?.

Di sisi lain, green economy menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy berfokus pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon, ramah lingkungan, dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup berbagai sektor, seperti energi terbarukan (seperti tenaga surya dan angin), pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Tujuan utama green economy adalah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sambil meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Green Economy: Merangkul Keseluruhan Sumber Daya Alam.

Di sisi lain, green economy merangkul konsep keberlanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy menempatkan fokusnya pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup pengembangan energi terbarukan, pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Dalam visi green economy, semua sektor ekonomi harus beroperasi dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perbedaan Utama Antara Blue Economy dan Green Economy.

Perbedaan utama antara blue economy dan green economy terletak pada pendekatan dan fokus mereka. Blue economy lebih khusus dalam mengeksplorasi potensi ekonomi sumber daya laut, sementara green economy mencakup semua aspek ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan melindungi lingkungan, blue economy lebih menekankan pada sumber daya laut sebagai pendorong utama, sementara green economy melihat seluruh spektrum sumber daya alam.

Bidang Fokus: Blue economy menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir, sementara green economy lebih luas, mencakup semua sektor ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan.

Sumber Daya yang Dimanfaatkan: Blue economy secara khusus mengeksplorasi potensi sumber daya laut, seperti energi laut, pariwisata, dan akvakultur, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara keseluruhan, termasuk energi, pertanian, dan transportasi.

Pendekatan Terhadap Ekonomi: Blue economy lebih bersifat spesifik terhadap sumber daya laut dan mencoba menggabungkan kebutuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan di sektor ini. Sementara itu, green economy mencoba untuk mengubah seluruh ekonomi secara keseluruhan untuk menjadi lebih ramah lingkungan.

Pengaruh Terhadap Kesejahteraan Manusia: Keduanya memiliki tujuan yang serupa dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi blue economy lebih fokus pada potensi ekonomi sumber daya laut dalam meningkatkan kesejahteraan, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara lebih luas untuk mencapai tujuan yang sama.

Melihat Masa Depan Keberlanjutan.

Meskipun blue economy dan green economy memiliki perbedaan dalam pendekatan dan fokusnya, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan kita menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dalam menghadapi tantangan lingkungan global saat ini, baik blue economy maupun green economy menawarkan pandangan yang optimis dan konstruktif untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan ekonomi kita, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, sementara blue economy dan green economy berbagi tujuan utama untuk mempromosikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia, mereka berbeda dalam fokusnya dan cara mereka berupaya mencapai tujuan tersebut. Meskipun terdapat perbedaan, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan masyarakat menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.



Saturday, February 10, 2024

Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Blue economy dan green economy adalah dua konsep yang berbeda tetapi saling terkait dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Berikut adalah perbedaan antara keduanya:


Blue Economy:

Blue economy berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan secara berkelanjutan.

Fokus utamanya adalah pada ekonomi yang berkembang di sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan (seperti energi pasang surut dan energi gelombang), transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut.

Pendekatan blue economy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi laut dan memanfaatkan sumber daya laut secara bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut dan kelautan.


Green Economy:

Green economy lebih umum dan melibatkan transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.

Fokusnya lebih luas daripada blue economy dan mencakup semua sektor ekonomi, termasuk pertanian, industri, energi, transportasi, dan lainnya.

Green economy bertujuan untuk mengurangi jejak karbon, membatasi polusi, meningkatkan efisiensi sumber daya, mempromosikan penggunaan energi terbarukan, dan menghasilkan produk dan layanan dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Meskipun berbeda dalam fokusnya, blue economy dan green economy sebenarnya saling melengkapi. Blue economy merupakan bagian dari konsep green economy yang lebih luas, karena upaya untuk memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan merupakan salah satu aspek dari upaya umum untuk mencapai pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.


Mengungkap Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Dalam upaya untuk mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia, muncul dua konsep yang semakin mendapatkan perhatian: blue economy dan green economy. Kedua konsep ini menawarkan pandangan yang berbeda namun komplementer terhadap bagaimana manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Mari kita telusuri lebih dalam apa itu blue economy dan green economy, serta bagaimana keduanya dapat menjadi solusi bagi tantangan lingkungan dan ekonomi global.


Blue Economy: Mengoptimalkan Sumber Daya Laut dan Kelautan

Blue economy adalah konsep yang muncul sebagai respons terhadap perlunya pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Mengingat bahwa lebih dari 70% permukaan Bumi terdiri dari lautan, potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya sangat besar. Blue economy fokus pada pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem laut dan dampak sosialnya. Sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan, transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut menjadi fokus utama dalam konsep ini.


Salah satu aspek kunci dari blue economy adalah penekanan pada pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap sumber daya laut. Ini termasuk praktek-praktek seperti penangkapan ikan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi hijau dalam industri kelautan, pengembangan taman laut dan kawasan konservasi, serta penelitian untuk memahami dan memelihara keanekaragaman hayati laut. Blue economy menawarkan peluang ekonomi yang besar bagi negara-negara yang memiliki akses ke perairan laut, sementara juga mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang dari sumber daya tersebut.


Green Economy: Meningkatkan Efisiensi Sumber Daya secara Luas

Green economy, di sisi lain, adalah konsep yang lebih luas yang mencakup transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan. Fokus utamanya adalah pada pengurangan emisi karbon, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penggunaan teknologi yang lebih bersahabat lingkungan di semua sektor ekonomi. Ini mencakup industri, pertanian, transportasi, energi, dan banyak lagi.

Dalam green economy, upaya ditekankan pada pengembangan dan penerapan teknologi terbarukan, seperti energi surya, angin, dan hidro, serta penggunaan bahan baku yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan. Selain itu, prinsip-prinsip green economy juga mencakup pengurangan limbah, promosi pertanian organik, transportasi publik yang lebih efisien, dan desain produk yang lebih ramah lingkungan.


Kesimpulan: Menuju Keseimbangan Antara Ekonomi dan Lingkungan

Blue economy dan green economy, meskipun berbeda dalam fokus dan aplikasi praktisnya, sebenarnya saling melengkapi dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Blue economy menawarkan pendekatan khusus terhadap pemanfaatan sumber daya laut, sementara green economy menyediakan kerangka kerja yang lebih luas untuk mengoptimalkan efisiensi sumber daya secara keseluruhan.

Bagaimanapun, tantangan yang dihadapi kedua konsep ini tidak bisa diabaikan. Diperlukan kerjasama global, regulasi yang efektif, investasi dalam teknologi hijau, dan perubahan perilaku konsumen untuk mewujudkan potensi penuh dari blue economy dan green economy. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan dunia di mana pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertentangan dengan kesejahteraan lingkungan, tetapi sebaliknya, mendukungnya untuk generasi-generasi yang akan datang.

Tuesday, January 23, 2024

Nikel atau Besi? (LFP Lithium Iron Phosphate Battery)

Nikel berperan penting dalam industri kendaraan listrik, karena nikel merupakan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini juga mendukung transisi energi dari energi tenaga fosil ke energi hijau.

Hal ini bertujuan selain harga bahan fosil yang kian mahal, juga agar lebih ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan. Sebab, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan mengurangi polusi udara.

Nikel dipadukan bersama kobalt dan mangan untuk memproduksi baterai lithium-ion, jenis baterai paling umum digunakan dalam motor maupun mobil listrik. Selain tahan karat, komposisi ini juga unggul dari sisi kepadatan serta harga yang lebih murah dari bahan baku lainnya.

Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai bukanlah hal baru. Produk baterai dari nikel antara lain baterai ponsel, kamera digital, laptop dan alat-alat kelistrikan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi baterai, kini nikel banyak diburu untuk membuat baterai kendaraan berbasis listrik.

Penggunaan nikel ke depan diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Meski saat ini pangsa pasar kendaraan listrik masih kecil, ke depan tren kendaraan listrik diprediksi bakal tumbuh pesat.

Saat ini lebih dari dua pertiga pemanfaatan nikel sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat alias stainless steel. Kandungan nikel dalam pembuatan stainless steel mencapai 75 persen. Stainless steel yang terbuat dari nikel juga mudah dibentuk sehingga penggunaan stainless steel pun sangat luas.

Pemanfaatan nikel saat ini adalah:.

  • 69 persen stainless steel.
  • 11 persen baterai.
  • 7 persen paduan nonbesi.
  • 6 persen pelapis.
  • 3 persen paduan baja.
  • 2 persen pengecoran.
  • 2 persen lainnya.


Harga nikel global di seluruh dunia sudah turun kurang lebih 30 persen dalam 12 bulan terakhir, dan diprediksi tahun depan ada surplus stok nikel di dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Jadi dengan begitu gencarnya pembangunan smelter di indonesia, kita membanjiri dunia dengan nikel, harga jatuh terjadi kondisi oversupply.

Namun ada opsi lain, formulasi bahan baterai yang tidak menggunakan nikel. Salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, kini katanya sudah tidak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai lithium yang digunakan, tapi LFP. Khususnya, di pabrik yang basis produksinya di China

LFP (“lithium ferrophosphate”) atau Lithium Iron Phosphate Battery (LiFePO4), adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang digunakan sebagai bahan katodanya. 

Baterai LFP memiliki kepadatan energi yang agak rendah daripada oksida kobalt lithium (LiCoO2) yang lebih umum ditemukan di elektronik konsumen. Namun, Baterai LFP menawarkan masa pakai yang lebih lama, kepadatan tenaga yang lebih baik (tingkat energi yang dapat ditarik darinya), harganya yang lebih rendah, lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih aman karena tidak beracun. 

LFP memiliki banyak peranan dalam penggunaan kendaraan dan daya cadangan.

Bahan katoda dalam baterai LFP tidak berbahaya, dan karenanya tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau bahaya lingkungan yang negatif. Karena oksigen terikat erat ke molekul, tidak ada bahaya baterai meletus menjadi api seperti yang ada pada Lithium-Ion.


Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan penggunaan LFP untuk mobil listrik memang hanya 27% pada 2022. Namun, cakupan penggunaan ini naik signifikan dari 7% pada 2018.

Sedangkan penggunaan nikel untuk komponen baterai mobil listrik pada 2022 masih sebesar 66%. Namun, cakupan baterai berkandungan nikel tinggi turun dari 78% pada 2022. Ini menunjukkan pangsa pasar LFP terus meningkat sementara baterai nikel tinggi tergerus.

IEA mencatat sekitar 95% LFP diproduksi Cina. Pabrikan mobil listrik asal negara yang sama, BYD, mendominasi penggunaan LFP hingga 50% dari total permintaan baterai tersebut. Sementara, Tesla berkontribusi sebesar 15% dari total permintaan.

Meski Tesla masih menggunakan nikel, penggunaan LFP Tesla meningkat dari 20% dari total mobil yang diproduksi pada 2021 menjadi 30% pada 2022.


Baterai mobil listrik lithium ferro phosphate atau LFP berbahan baku besi dan litium yang tak lagi menggunakan nikel sebagai komponen utama. Pabrikan mobil listrik bahkan yang telah beredar di Indonesia seperti Wuling Air Ev dan Binguo EV, termasuk tiga modeal BYD Atto, Seal maupun Dolphin menggunakan teknologi baterai tersebut.

Mobil listrik milik Wuling seperti Air EV dan Binguo EV memilih penggunaan Lithium Ferro-Phosphate (LFP) untuk pasar Indonesia. Jenis ini disebut memiliki keunggulan dari jangka pakai panjang, hingga daya tahan terhadap suhu tinggi.

Wuling Binguo EV varian long range yang memiliki jarak tempuh 333 km memiliki kapasitas baterai 31,9 kWh, sedangkan versi premium range atau 410 km berkapasitas 37,9 kWh.

Sementara untuk Air EV standard range dan lite dengan jarak tempuh 200 km memiliki kapasitas baterai 17,3 kWh, sedangkan long range berkapasitas 26,7 kWh yang mampu melaju sampai 300 km.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230712132850-85-972548/industri-baterai-kendaraan-listrik-dipacu-nikel-diburu.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1679815-pernyataan-lengkap-thomas-lembong-soal-lfp-yang-buat-gibran-tanya-apakah-cak-imin-anti-nikel?page=3

https://ciptakaryaenergi.co.id/product/battery-lithium-lifepo4/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/21/cek-data-mana-baterai-mobil-listrik-lebih-populer-baterai-nikel-atau-lfp-yang-disinggung-gibran

https://m.bisnis.com/amp/read/20240122/46/1734230/baterai-lfp-tanpa-nikel-digunakan-wuling-byd-dan-tesla

Sunday, January 21, 2024

Greenflation

Greenflation atau inflasi hijau adalah jika harga komoditas naik karena transisi menuju ekonomi hijau. Dikutip dari situs resmi Bank Sentral Eropa (ECB), saat ini banyak perusahaan yang mengadaptasi proses produksinya dalam upaya mengurangi emisi karbon. 

Berdasarkan Blog Kamus Cambridge, greenflation diartikan sebagai "kenaikan harga akibat peralihan ke ekonomi hijau".

Sebagian besar teknologi ramah lingkungan memerlukan sejumlah besar logam dan mineral, seperti tembaga, litium, dan kobalt, terutama selama masa transisi. Misalnya saja kendaraan listrik yang menggunakan mineral enam kali lebih banyak dibandingkan kendaraan konvensional. Begitu juga pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai membutuhkan jumlah tembaga tujuh kali lipat dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas.

Lalu bagaimana cara mengatasi greenflation?.

Greenflation merujuk pada kenaikan harga dan krisis tenaga kerja yang terjadi seiring dengan transisi ramah lingkungan. Kenaikan harga terjadi lantaran perusahaan mengeluarkan anggaran lebih untuk melakukan transisi energi mengingat biaya penggunaan energi hijau dianggap masih lebih mahal dibandingkan fosil.

Di Eropa, Greenflation memakan korban seperti yang terjadi pada gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) di Prancis. Gerakan rompi kuning mulai mencuat di Prancis pada Oktober 2018 sebelum akhirnya pecah menjadi aksi unjuk rasa pada 17 November 2018. Sejak itu, banyak yang melanjutkan aksi blokade massa yang menyebabkan kemacetan dan kelangkaan bahan bakar menjelang musim libur. Peserta terus menggelar aksi protes setiap Sabtu hingga kini.


Gerakan Rompi Kuning di Prancis sebenarnya fokus ke berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelas pekerja. Pada 2018, Presiden Prancis Emmanuel Macron akhirnya berjanji untuk menaikkan upah dan meringankan pajak setelah demo Rompi Kuning.

Menurut euroactiv, pajak yang dimaksud adalah pajak karbon yang menaikkan harga BBM, sehingga memicu protes.


Dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah (terutama yang berada di daerah pedesaan dan periurban), para pengunjuk rasa menyerukan akhir dari perubahan tersebut dan pengunduran diri Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Gerakan ini telah banyak terlihat di kota-kota Prancis, tetapi daerah-daerah pedesaan telah mengalami mobilisasi luar biasa dalam unjuk rasa tersebut. Rompi kuning dipilih sebagai simbol karena semua pengendara mobil telah diwajibkan oleh hukum—sejak tahun 2008—untuk memiliki rompi bervisibilitas tinggi dalam kendaraan mereka ketika mengemudi. Akibatnya, rompi reflektif telah menjadi tersedia secara luas, murah, dan simbolik.


Sumber :

https://katadata.co.id/tiakomalasari/ekonomi-hijau/65ad2dfeaa68d/apa-itu-greenflation-yang-disebut-gibran-di-debat-cawapres

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240121201943-532-1052499/apa-itu-greenflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud.

https://www.liputan6.com/global/read/5510483/gibran-kaitkan-inflasi-hijau-dengan-gerakan-rompi-kuning-apa-hubungannya?page=2

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240121233627-134-1052596/apa-itu-demo-rompi-kuning-yang-disinggung-gibran-saat-respons-mahfud.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_rompi_kuning

Tuesday, May 2, 2023

RI Fokus Dukung Transisi Energi

KTT Asean 2023, Bos Pertamina: RI Fokus Dukung Transisi Energi Menjelang KTT Asean 2023, Pertamina memastikan penguatan ketahanan energi untuk mendukung transisi energi. 

03 Mei 2023

PT Pertamina (Persero) menyatakan dukungannya terhadap capaian salah satu pilar utama dalam keketuaan Konferensi Tingkat Tinggi Asean 2023 yang akan digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada 9-11 Mei 2023. 

Direktur Utama Pertamina, Nikce Widyawati, menjelaskan sebagai pemegang keketuaan KTT Asean 2023, Indonesia fokus pada citra Asean sebagai kawasan strategis yang memiliki peran penting bagi ekonomi dunia. 

Untuk itu, Pertamina akan berkontribusi aktif dalam mencapai tujuan dan prioritas Asean 2023. Adapun, Pertamina berupaya memastikan penguatan ketahanan energi untuk mendukung transisi energi fosil ke energi bersih dan terbarukan. 

Selain itu, Nicke menegaskan bahwa Pertamina agresif mendukung percepatan transisi energi yang inklusif dan berkeadilan menuju net zero emission dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola secara berkelanjutan.  

"Pertamina sebagai salah satu BUMN dan perusaahan energi Indonesia turut mendukung dan berkontribusi dalam mencapai tujuan Asean khususnya dalam pilar recover, rebuilding, dan sustainibility menjadikan Asean sebagai pusat pertumbuhan ekonomi untuk kawasan dan dunia," kata Nicke dalam video yang diunggah dalam media sosial Pertamina, Rabu (3/5/2023). 

Indonesia memastikan akan mengawal capaian-capaian tiga pilar utama dalam keketuaannya di Asean 2023 yakni Asean Matters, Epicentrum of Growth, dan AOIP. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menekankan sejumlah isu yang harus terus didorong dalam pembahasan, yaitu negosiasi teks Code of Conduct (COC), pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), penguatan institusionalisasi dialog HAM di Asean, penyusunan Peta Jalan keanggotaan Timor Leste dan penandatanganan Protokol Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ). 

Pada pilar kedua, Epicentrum of Growth, telah dibahas pula sejumlah prioritas seperti penguatan arsitektur kesehatan melalui one health initiative, penguatan ketahanan pangan dan penguatan ketahanan energi, termasuk melalui pembangunan ekosistem kendaraan listrik. 

Komitmen penggunaan mata uang negara Asean dalam transaksi perdagangan dan konektivitas mekanisme pembayaran di kawasan juga telah disepakati untuk memperkuat stabilitas keuangan kawasan. 

Sementara pada pilar ketiga, yakni implementasi AOIP, Menteri Luar Negeri pun menekankan penguatan kerja sama konkret AOIP berdasarkan prinsip inklusivitas, kerja sama ekonomi, dan ekonomi pembangunan. Untuk itu, Indonesia akan menyelenggarakan flagship event yaitu Asean-Indo-Pacific Forum.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20230503/44/1652262/ktt-asean-2023-bos-pertamina-ri-fokus-dukung-transisi-energi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

Thursday, March 16, 2023

Green Wave Environmental Care Project For Schools

Kemangi Antarkan Mahasiswa UM Juarai Green Wave Environmental Care Project For Schools

Last updated: 2023/03/15 at 9:51 PM

Tidak hanya mengganggu, lalat juga dapat menjadi sarang penyakit. Tak jarang lalat yang hinggap di sembarang tempat membawa bakteri dan parasit di tubuhnya, sehingga dapat merugikan manusia.

Menurut World Health Organization (WHO), lalat rumah menjadi pembawa bakteri dan parasit penyebab diare dan infeksi mata. Permasalahan ini menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Sehingga berhasil ciptakan pembasmi lalat yang juga berfungsi sebagai pestisida sekaligus disinfektan alami dari daun kemangi.

ESSIL, begitu nama produknya. Adalah insektisida alami dari bahan dasar kemangi dengan tambahan kulit jeruk nipis dan daun cengkeh yang baik untuk lingkungan.

Viska Rinata, mahasiswa S1 Biologi UM selaku co-researcher menjelaskan, alasan inovasi tersebut dapat tercipta. Lantaran tingginya peledakan populasi lalat yang disebabkan peternakan ayam di Trenggalek, Jawa Timur.

Tingginya jumlah peternakan ayam yang beroperasi aktif di Trenggalek mencapai 3.272.238. Sehingga memicu ledakan populasi lalat secara drastis dan mengganggu masyarakat.

”Siapa sih yang nggak terganggu sama lalat. Karena lalat itu annoying banget. Selain annoying, resiko penyakit dari bakteri yang dibawa lalat itu lebih tinggi daripada serangga lain. Seperti kecoa dan sebagainya,” ujar gadis asal Trenggalek tersebut.

Melihat hal itu, Viska dan tim tidak diam saja. Mereka mencari solusi yang mudah dijangkau dan ekonomis agar bisa diterima serta digunakan secara maksimal oleh warga sekitar.

Viska mencoba mengamati lingkungan sekitar dan menemukan, bahwa banyak sekali petani kemangi di Trenggalek. Sayangnya, daun kemangi lumrah dimanfaatkan hanya sebagai lalapan atau makanan pendamping sambal dan nasi yang tentu memiliki harga jual rendah.

”Sebenarnya di daerah itu (Trenggalek) sudah ada masalah dan solusi yang tepat. Namun belum terintegrasi dengan baik. Nah, dari situ muncul ide untuk membuat inovasi ini,” tutur Viska.

ESSIL terbuat dari daun kemangi, daun cengkeh, dan kulit jeruk nipis yang memiliki nilai jual sangat rendah. Bahkan seringkali menjadi limbah.

Bahan dasar produk ini adalah daun kemangi serta memiliki bahan aktif methyl clavicle dan cineol yang tidak disukai oleh lalat. Ditambah dengan daun cengkeh dan kulit jeruk nipis yang memiliki fungsi antimikroba yang membuat produk ini memiliki nilai keterbaruan yang tinggi.

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, ESSIL memiliki persentase efektifitas yang cukup tinggi dalam mengusir lalat. Yaitu lebih dari 90%.

Tak hanya itu, berdasarkan uji organoleptik yang telah dilakukan, semua penguji menyatakan menyukai aroma dan tekstur dari ESSIL. Menggunakan teknologi nano fogging gun, penyemprotan produk dapat dilakukan lebih cepat, rata, dan tepat sasaran.

Inovasi hebat dari Viska dan tim sudah bisa digunakan di rumah yang terdampak ledakan populasi lalat.

”Jadi selain sebagai repellent lalat, ESSIL juga berfungsi sebagai disinfektan untuk membersihkan sisa-sisa bakteri yang ditinggalkan lalat sehingga dapat meminimalisir resiko diare, penyebaran polio, disentri dan lain sebagainya.”

“Ini produk sustainable yang ramah lingkungan dan minim resikonya bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” tambah gadis berusia 21 tahun tersebut.

Harapannya, ESSIL dapat dikembangkan sehingga bisa digunakan secara komersil di bidang peternakan.

”Untuk saat ini produksi masih dilakukan dalam skala kecil karena keterbatasan biaya dan sumber daya, namun produk ini memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat dikomersilkan di bidang peternakan,” ucapnya.

Inovasi tersebut berhasil menarik perhatian juri di ajang Green Wave Environmental Care Project For Schools 2022 yang diadakan oleh Sembcorp Marine di Singapura. Memiliki nilai jual dan keterbaruan yang tinggi, ESSIL berhasil meraih juara dua di ajang tersebut.

Pemakaian daun kemangi di bidang industri yang masih asing di masyarakat luas juga menarik perhatian para juri. Membawa nama baik UM di ajang internasional, Viska dan tim diundang menghadiri acara penghargaan di Parkroyal Collection Marina Bay, Singapura pada pertengahan Februari 2023.

Selaku penggagas ide, Viska berharap produk ini bisa menjadi produk yang dapat digunakan oleh banyak orang di masa depan.

”Fokus riset aku itu kan di green industry, jadi aku berharap produk ini bisa aku kembangin dan jadi core dari green industry yang ingin aku bangun di masa depan,” ujar Viska menyampaikan mimpi besarnya.


Sumber :

https://infomalangraya.com/kemangi-antarkan-mahasiswa-um-juarai-green-wave-environmental-care-project-for-schools/

Monday, February 13, 2023

Mayora Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik

Mayora Group Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Berteknologi "Food Grade" di Jombang

08/02/2023


Mayora Group bangun pabrik PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ), sebagai pabrik daur ulang plastik Polyethylene terephthalate (PET) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pabrik tersebut diklaim sebagai pabrik daur ulang PET Lokal Indonesia pertama berteknologi food grade atau memenuhi standar keamanan pangan. 

Pabrik itu diresmikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (8/2/2023). Komisaris Utama PT Bumi Indus Padma Jaya, Ronald Atmadja mengatakan, pabrik daur ulang BIPJ memiliki kapasitas produksi 22.000 ton per tahun Recycled PET Plastic (RPET) BIPJ dibangun untuk meningkatkan penyediaan sumber bahan baku Recycled PET (R-PET) dalam negeri, serta sekaligus sebagai komitmen Mayora Group dan Le Minerale dalam mengaplikasikan peta jalan sampah perusahaan. 

"Karena itu didirikanlah PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ), pabrik daur ulang plastik khusus PET yang memenuhi standar keamanan pangan (foodgrade)," kata Ronald, Rabu.  

Ekonomi sirkular PIBJ dibangun juga untuk melengkapi Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale (GESN Le Minerale) yang telah digaungkan sejak 2021 yang lalu. Pabrik yang menyerap 150 tenaga kerja lokal itu menggunakan teknologi pengolahan PET paling modern dan berfokus pada higenitas. 

Ada dua proses utama dalam pengolahan botol plastik PET menjadi food grade recycled plastik resin. Pertama dimulai dengan proses pembersihan dan pembukaan tutup. Lalu botol PET bekas tersebut diseleksi secara otomatis untuk kebersihan warna. 

Setelah itu proses pencacahan menjadi serpihan untuk kemudian pencucian dan pengeringan. Yang kedua yakni proses extrusi, perubahan plastik dari bentuk padat menjadi cair. Lalu, proses dekontaminasi kontaminan dengan proses solid state polycondensation (SSP) dan yang terakhir proses pencetakan pellet plastik. 

"Pellet plastik inilah yang dapat diolah kembali untuk menghasilkan produk plastik baru," ujar Ronald. 

PET sendiri memiliki tingkat daur ulang tertinggi, sehingga bila bekas kemasan plastik PET dapat terkelola dan didaurulang, maka tidak menjadi timbulan sampah di ekosistem. Sedangkan dari sisi ekonomi, tentunya adanya penyerapan tenaga kerja akan berkontribusi terhadap perekonomian wilayah setempat pada khususnya. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi didirikannya BIPJ sebagai industri daur ulang karena sesuai dengan misi Kemenperin dalam menciptakan transformasi industri yang berkelanjutan. 

Dia yakin, BIPJ dapat memperkuat ekosistem daur ulang dan ekonomi sirkular. "Pabrik ini juga dapat meningkatkan tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia, dan berdampak dalam mengurangi sampah plastik dan secara langsung berkonrtribusi dalam peningkatan sosial ekonomi serta devisa negara," ucapnya.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2023/02/08/212013426/mayora-group-bangun-pabrik-daur-ulang-plastik-berteknologi-food-grade-di?page=all#page2.

Wednesday, February 8, 2023

Veolia, Pabrik Daur Ulang Plastik

Veolia Indonesia Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Rp 600 Miliar

Kamis, 21 Maret 2019 13:58 WIB

PT Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) menginvestasikan dana sekitar Rp 600 miliar untuk membangun pabrik daur ulang botol plastik atau Polyethylene terephthalate (PET) di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik yang didirikan di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi ini bakal beroperasi mulai awal 2020.

Presiden Director Veolia Indonesia, Sven Beraud-Sudreau, mengatakan dengan pabrik yang dibangun, pemilahan sampah plastik akan lebih efisien. Jika sudah beroperasi, pabrik tersebut mampu mendaur ulang botol plastik sebanyak 25 ribu ton per tahun. 

“Kami bekerja sama dengan para pemasok dari berbagai kota. Salah satu tujuan kami ialah mengurangi volume sampah plastik di Sungai yang berakhir di lautan,” kata Sven dalam peletakan batu pertama di kawasan industri Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kamis, 21 Maret 2019.

Sven berujar pembangunan pabrik tersebut akan membuat proses daur ulang menjadi lebih efisien dengan skala yang lebih besar untuk mengumpulkan, menyeleksi dan mengelola proses plastik. Didukung Danone-AQUA, kata dia, fasilitas yang ada merupakan upaya untuk memperkuat ekosistem daur ulang serta ekonomi sirkular.

Presiden Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, menuturkan daur ulang botol plastik bekas menjadi kemasan air mineral baru seperti yang dilakukan Veolia Indonesia telah diuji tingkat kesehatannya. Pengujian kesehatan, kata dia, disesuaikan dengan standar keamanan pangan dunia.

“Selain itu Danone-AQUA juga membantu mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi jejak karbon. Apalagi sejak 2017 kami telah meluncurkan program bijak berplastik,” ucap Corine Tap.

Adapun Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Ratnadewi Indriani mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan iklim investasi, khususnya kebijakan pengolahan sampah yang telah menjadi agenda mendesak pemerintah.

Farah meminta partisipasi dunia usaha untuk member masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang baik. “Kolaborasi Veolia Indonesia dengan Danone-AQUA diharapkan dapat memperkuat ekosistem daur ulang dan ekonomi sirkular,” ujar dia.


Sumber :

https://bisnis.tempo.co/read/1187709/veolia-indonesia-bangun-pabrik-daur-ulang-plastik-rp-600-miliar

Sunday, November 20, 2022

Inisiatif Bisnis Hijau Dukung Pengurangan Emisi

Pertamina Kembangkan Sejumlah Inisiatif Bisnis Hijau Dukung Pengurangan Emisi

08 Nov 2022, 18:07 WIB

PT Pertamina mengembangkan dan berinvestasi pada sejumlah inisiatif bisnis hijau untuk mendukung Indonesia mencapai emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada 2060, antara lain terkait bahan bakar nabati, energi terbarukan, penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon, baterai dan kendaraan listrik, hidrogen, serta bisnis karbon.

"Pertamina berkomitmen mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Oleh karena itu, strategi bisnis kami terdiri dari dua pilar, yakni dekarbonisasi bisnis inti dan pembangunan bisnis hijau," kata CEO Pertamina Power Indonesia Dannif Danusaputro dalam Indonesia Pavilion COP 27 yang diikuti dalam jaringan di Jakarta, Minggu.

Dannif mengatakan Pertamina telah berkomitmen mengalokasikan 14 persen dari proyeksi belanja modal 2022-2060 70-80 miliar dolar AS untuk pengembangan energi bersih, baru, dan terbarukan. Komitmen tersebut sejalan dengan upaya untuk menggunakan sumber daya domestik untuk memasok energi domestik menuju pembangunan hijau dan dekarbonisasi.

Pertamina membangun rantai pasokan minyak gas yang terintegrasi untuk memasok kebutuhan domestik dan secara aktif membangun portofolio energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menggunakan sumber daya dalam negeri.

Pertamina akan mengembangkan bauran energi yang lebih hijau dengan mengurangi pangsa produk olahan dan LPG dari 81 persen menjadi 61 persen, meningkatkan pangsa gas dari tiga persen menjadi 19 persen, dan meningkatkan porsi EBT dari satu persen menjadi 17 persen.

Dannif mengatakan pengembangan bisnis hijau dan teknologi bersih untuk mendukung transisi energi membutuhkan investasi yang besar, sehingga Pertamina menggandeng mitra nasional dan global untuk menjajaki kemitraan dalam program dekarbonisasi, bisnis hijau dan mempercepat pertumbuhan EBT untuk mencapai emisi nol bersih. Pihak perbankan juga dapat berinvestasi pada inisiatif bisnis hijau tersebut.

"Keterjangkauan transisi energi bersih akan tergantung pada pengurangan biaya dan peningkatan ketersediaan modal," ujarnya.

Untuk mendukung transisi energi di Indonesia, Pertamina juga melakukan optimalisasi potensi dan peningkatan kapasitas terpasang energi baru terbarukan di mana Pertamina telah mempelopori pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia dengan produksi green dan blue hydrogen sebanyak 3 juta ton per tahun pada 2060 sekaligus total kapasitas terpasang EBT sebanyak 60 GW pada 2060.

Pertamina juga akan melakukan komersialisasi hidrogen hijau dan biru dan mengambil peran strategis dalam ekosistem terintegrasi baterai dan penyimpanan energi Indonesia melalui pengembangan industri kendaraan listrik bertenaga baterai dengan bekerja sama dengan beberapa perusahaan milik negara.

Selain itu, Pertamina melakukan upaya peningkatan kapasitas kilang untuk menghasilkan bahan bakar hijau. Melalui beberapa proses di kilang hijau, Pertamina menghasilkan bahan bakar yang berkualitas tinggi dan lebih ramah lingkungan yang berasal dari minyak sawit, yaitu biodiesel, green diesel, green avtur dan green gasoline yang sedang dikembangkan.

Saat ini Pertamina juga berhasil meraih score ESG di level medium risk dengan nilai 22.1. Hal ini menunjukkan komitmen Pertamina dalam implementasi bisnis yang ramah lingkungan dan taat pada tata kelola perusahaan yang baik.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/5119949/pertamina-kembangkan-sejumlah-inisiatif-bisnis-hijau-dukung-pengurangan-emisi?

Thursday, May 12, 2022

Kijang Innova Listrik

Alasan Toyota Indonesia Kembangkan Kijang Innova Listrik

Sabtu, 2 April 2022 15:07 WIB

Toyota Indonesia membuat kejutan dengan meluncurkan prototipe Kijang Innova listrik pada pembukaan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 31 Maret 2022. EV di belakang nama Kijang Innova menandakan bahwa model tersebut sepenuhnya bertenaga listrik.

Mobil MPV itu tidak hanya dipajang di booth Toyota di dalam pameran IIMS 2022, tetapi sudah dapat dikendarai mengeliling area parkir JIExpo. Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto termasuk salah satu yang pertama kali menjajal Kijang Innova EV.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan bahwa pemilihan Kijang Innova sebagai kendaraan listrik karena sejarah pada model tersebut yang lekat dengan Indonesia. "Dilihat dari sejarahnya, Kijang ini dikembangkan dan lahir di Indonesia, dipasarkan sejak 1977," kata Bob di Ancol, Jakarta Utara, Jumat malam, 1 April 2022.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mninjau pameran Indonesia International Motor Show di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Kehadiran Toyota Kijang Innova listrik ini semakin mendekatkan target pemerintah. Berdasarkan beleid yang sama, pemerintah menargetkan produksi mobil listrik pada 2025 sebanyak 400.000, kemudian pada 2030 bertambah menjadi 600.000 unit, dan pada 2035 sebesar 1 juta unit. Tempo/Tony Hartawan

Selain itu, lanjut dia, prototipe Kijang Innova listrik yang dipamerkan masih dari basis Kijang Innova Reborn tipe Venturer. Mudahnya, dia menambahkan, Kijang Innova konvesional diubah menjadi 100 persen tenaga baterai.

Memanfaatkan model yang sudah ada ini menurut Bob dapat lebih efisien dibanding membuat model yang benar-benar baru. Pada dasarnya, model yang sudah diproduksi secara lokal ini memiliki jaminan supply chain yang sudah mapan. Sudah terstruktur, memiliki kandungan lokal yang banyak (Kijang Innova saat ini memiliki kandungan lokal di atas 80 persen). "Yang sudah berjalan tidak terdisrupsi, tinggal ditambahkan teknologi baru saja," tutur dia.

Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Detail spesifikasi Toyota Kijang Innova EV Concept masih dirahasiakan oleh pihak PT TMMIN maupun PT TAM Tempo/Tony Hartawan

"Kami melakukan adjusment terhadap Kijang Innova yang sudah diproduksi selama ini, kami kembangkan dengan versi listrik. Jadinya Kijang Innova listrik ini sebagai study car yang kami akan terus kembangkan dan pelajari."

Bob menyampaikan bahwa setidaknya terdapat 30 persen ubahan pada Kijang Innova Venturer hingga menjadi versi listrik. Ubahan itu berupa penggantian mesin konvensional dengan motor listrik dan instalasi modul baterai yang diletakkan di bawah lantai mobil. "Baterainya 60 kWh, tetapi masih impor," kata Bob yang enggan menyebutkan secara detail baterai buatan pabrikan mana yang digunakan.

Menurut Bob, Toyota Indonesia menghadirkan prototipe Kijang Innova listrik karena ingin menyediakan full range technology pada seluruh modenya. Mulai dari bermesin konvensional (ICE), hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, hingga baterai (mobil listrik). "Prinsipnya semua model disiapkan teknologinya," tutur dia.

Saat ini TMMIN memproduksi lima unit prototipe Toyota Kijang Innova listrik. Tiga unit berada di Indonesia dengan dua unit dipamerkan di IIMS 2022. Sedangkan dua unit lagi dikirim ke Thailand untuk pengembangan dan penelitian.


Sumber :

https://otomotif.tempo.co/read/1577700/alasan-toyota-indonesia-kembangkan-kijang-innova-listrik/full&view=ok

Monday, February 21, 2022

Kebijakan Ekonomi dan Perubahan Iklim

Kebijakan Ekonomi Mesti Selaras dengan Mitigasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya  

Selasa 22 Februari 2022, 13:27 WIB 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melepasliarkan burung saat mengikuti 'social program' dalam rangkaian FMCBG G20, Jumat (18/2).   

KESELARASAN kebijakan mendorong pertumbuhan ekonomi dan memitigasi dampak perubahan iklim dinilai menjadi agenda menantang. Pasalnya, aktivitas ekonomi identik dengan peningkatan emisi karbon yang cukup besar. 

Berdasarkan data United Nations Environtment Programme (UNEP), pemulihan ekonomi global dari pandemi mendorong peningkatan emisi karbon. Pada periode Januari-Mei 2021, emisi karbon yang dihasilkan telah melampaui level prapandemi. 

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam webinar Green Economy Outlook 2022 bertajuk Arah Kebijakan Indonesia dan Tantangan dalam Mewujudkan Green Economy, Selasa (22/2). 

"Pada saat dunia sudah mulai mengalami pemulihan ekonomi, kita melihat tingkat emisi global dari terutama sektor energi, industri, dan residensi kembali melonjak pada level yang bahkan lebih tinggi dari periode sebelum pandemi covid," jelasnya. 

Sri Mulyani mengatakan, hal itu menjadi tantangan, tidak saja bagi Indonesia, melainkan bagi seluruh negara di dunia. Pasalnya, sejumlah negara juga telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon untuk menekan kenaikan suhu bumi akibat perubahan iklim. 

Namun di saat yang sama, aktivitas ekonomi harus dijalankan agar mampu bangkit akibat keterpurukan di masa pandemi. Untuk itu, desain kebijakan yang selaras antara pemulihan ekonomi dan menjaga iklim dunia menjadi hal yang krusial. 

"Ini merupakan topik yang luar biasa penting, bagaimana dunia bisa berikhtiar untuk menghindari dunia ini mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius yang akan menjadi tresshold bagi konsekuensi climate change yang sangat besar," tutur Sri Mulyani. 

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyampaikan, Indonesia sebetulnya telah meletakkan komitmen penuh untuk melawan perubahan iklim. 

Dalam Paris Agreement misalnya, Indonesia berkomitmen berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% di 2030 dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional. Lalu dalam pertemuan Glasgow COP26 di 2021 lalu, Indonesia turut berkomitmen dan mendukung upaya nol emisi pada 2060 untuk menghindari kenaikan suhu bumi.  

"Artinya, kegiatan ekonomi dan masyarakat harus dibarengi dengan upaya agar jumlah emisi CO2 harus bisa diimbangi atau dikurangi, sehingga secara neto menjadi nol. Tidak ada tambahan jumlah CO2 di dunia ini pada 2060. Ini adalah suatu target yang sangat kompleks untuk bisa dicapai," urainya. 

Sri Mulyani yang karib disapa Ani itu menambahkan, sedianya pandemi covid telah membuat iklim bumi sedikit membaik. Pada 2020 misalnya, akibat terhentinya aktivitas ekonomi, terjadi penurunan emisi CO2 global hingga 6,4%, setara 2,3 miliar ton CO2. (A-2)


Sumber: 

https://mediaindonesia.com/ekonomi/473170/kebijakan-ekonomi-mesti-selaras-dengan-mitigasi-perubahan-iklim-ini-alasannya

Thursday, January 20, 2022

Reverse Vending Machine

Bekas botol plastik kini bisa ditukar Gopay hingga Shopeepay

AQUA bekerjasama dengan Alfamart dan PlasticPay menyediakan AQUA Reverse Vending Machine (RVM) atau Mesin Penukaran Botol plastik pasca-konsumsi guna mempermudah pengelolaan sampah botol plastik.

Tahap pertama, mesin akan ditempatkan di lima toko Alfamart yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang.

"Bagi Danone-AQUA, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kami yang diwujudkan melalui gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan sejak 2018. Gerakan ini selain bertujuan mempertegas posisi perusahaan sebagai pelopor pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik pasca-konsumsi, juga untuk mendukung ambisi pemerintah mengurangi sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70 persen di 2025," kata kata VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto dalam siaran pers pada Kamis.

Kemasan botol plastik bekas minuman yang ditukarkan di dalam mesin akan mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan sejumlah uang di berbagai dompet digital.

Untuk kemasan botol plastik PET pasca-konsumsi dengan merk Danone-AQUA diberikan reward 100 poin per botol, sementara untuk botol PET bekas merk lain mendapat reward 50 poin per botolnya.

Poin-poin yang diperoleh dari setiap pengumpulan sampah botol plastik dapat ditukarkan dengan Gopay, Dana, LinkAja, OVO, Shopeepay, dan juga sedang diproses untuk bisa ditukarkan dengan Alfagift Points.

Untuk mendapatkan poin, pertama, pengguna harus mengunduh aplikasi PlasticPay pada smartphone dan melakukan registrasi. Kemudian membawa kemasan botol plastik PET paska konsumsi ke lokasi AQUA RVM terdekat. Memindai barcode pada botol plastik PET pasca-konsumsi, sebelum memasukkannya ke dalam mesin RVM. Terakhir, konsumen cukup memindai QRCODE yang muncul pada mesin menggunakan aplikasi PlasticPay, diakhiri dengan mengklik “AmbilPoin” pada aplikasi PlasticPay.

Dengan mekanisme ini, AQUA RVM diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong masyarakat untuk mengumpulkan kemasan botol plastik pasca-konsumsi mereka, sehingga mengurangi sampah plastik yang tidak terkumpul dan terkelola dengan benar.

Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin mengapresiasi kerjasama dengan Danone AQUA untuk karena ikut berkontribusi memberikan solusi bagi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Komitmen Alfamart Sahabat Bumi ditunjukkan dengan kerjasama untuk menginisiasi alternatif baru bagi masyarakat untuk ikut bijak mengelola kemasan botol plastik pasca-konsumsi.

"Kami melihat jaringan kami yang berjumlah lebih dari 16.000 gerai dan tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekuatan luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memberi kemudahan bagi mereka untuk dapat berperan aktif mendukung pengelolaan sampah plastik yang menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini," katanya.

Komitmen Alfamart sebagai sahabat bumi untuk lingkungan, tambahnya, sudah ditunjukkan dengan mengurangi konsumsi plastik belanja sejak tahun 2016. Selain itu, kegiatan untuk menjaga lingkungan hidup juga intens dilakukan dengan melakukan penanaman pohon secara massal di seluruh wilayah Indonesia.

Suhendra Setiadi, CEO PlasticPay mengatakan melalui kerjasama dengan Danone-AQUAdan Alfamart, perusahaan yang memiliki komitmen daur ulang kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang kuat dan jaringan toko yang luas, PlasticPay optimistis dapat menjangkau masyarakat Indonesia yang lebih luas sehingga menjadikan reverse vending machine yang merupakan seratus persen karya anak bangsa ini dapat berkontribusi secara maksimal dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia secara berkelanjutan.

"Prosesnya, seluruh kemasan botol plastik paska konsumsi yang terkumpul dalam AQUA RVM akan diambil oleh mitra pengumpul sampah plastik Danone-AQUA dan langsung di bawa ke RBU (Recycle Business Unit) binaan Danone-AQUA yang berada di 6 lokasi, termasuk di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang terkumpul kemudian akan diolah menjadi plastik PET daur ulang yang digunakan kembali sebagai bahan baku di seluruh kemasan botol AQUA,” tambahnya

Mengacu pada hasil riset yang dilakukan oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI) daur ulang sampah plastik di Indonesia masih tergolong kecil yaitu di bawah angka 10 persen, untuk itu diperlukan upaya inovatif untuk meningkatkan laju pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik bekas.


Sumber :

https://id.berita.yahoo.com/bekas-botol-plastik-kini-bisa-062820525.html

Thursday, November 4, 2021

Green Economy

A green economy is defined as low carbon, resource efficient and socially inclusive. In a green economy, growth in employment and income are driven by public and private investment into such economic activities, infrastructure and assets that allow reduced carbon emissions and pollution, enhanced energy and resource efficiency, and prevention of the loss of biodiversity and ecosystem services.

These green investments need to be enabled and supported through targeted public expenditure, policy reforms and changes in taxation and regulation. UN Environment promotes a development path that understands natural capital as a critical economic asset and a source of public benefits, especially for poor people whose livelihoods depend on natural resources. The notion of green economy does not replace sustainable development, but creates a new focus on the economy, investment, capital and infrastructure, employment and skills and positive social and environmental outcomes across Asia and the Pacific.

Green Economy

The role of Green Economy, Sustainable Consumption and Production and Resource Efficiency for Sustainable Development: Sustainable Consumption and Production aims to improve production processes and consumption practices to reduce resource consumption, waste generation and emissions across the full life cycle of processes and products – while Resource Efficiency refers to the ways in which resources are used to deliver value to society and aims to reduce the amount of resources needed, and emissions and waste generated, per unit of product or service. The Green Economy provides a macro-economic approach to sustainable economic growth with a central focus on investments, employment and skills.


The three main areas for the current work on Green Economy are:

1) Advocacy of macro-economic approach to sustainable economic growth through regional, sub-regional and national fora

2) Demonstration of Green Economy approaches with a central focus on access to green finance, technology and investments

3) Support to countries in terms of development and mainstreaming of macro-economic policies to support the transition to a Green Economy


The UN Environment is supporting Mongolia in the implementation of the National Green Development Policy, integration of green economy into local level development plans, Sustainable Development Goals indicators and greening of key sectors


Partnerships

Multi-stakeholder partnerships for the promotion of a Green Economy are supported to accelerate and consolidate sustainable changes in both consumption and production patterns. In addition to Governments and not-for-profit organizations, UN Environment has increased its engagement with the private sector – which is a very important actor in promoting resource efficiency and green economy.


Sumber :

https://www.unep.org/regions/asia-and-pacific/regional-initiatives/supporting-resource-efficiency/green-economy

Wednesday, November 3, 2021

Ekonomi Hijau

Ekonomi Hijau adalah sebuah rezim ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Ekonomi Hijau juga berarti perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. 

Sedangkan ekonomi hijau ekologis merupakan sebuah model pembangunan ekonomi yang berlandaskan pembangunan berkelanjutan dan pengetahuan ekonomi ekologis.

Ciri ekonomi hijau yang paling membedakan dari rezim ekonomi lainnya adalah penilaian langsung kepada modal alami dan jasa ekologis sebagai nilai ekonomi dan akuntansi biaya di mana biaya yang diwujudkan ke masyarakat dapat ditelusuri kembali dan dihitung sebagai kewajiban, kesatuan yang tidak membahayakan atau mengabaikan aset. 

Untuk tinjauan umum tentang kebijakan pembangunan lingkungan internasional yang menuju ke laporan Ekonomi Hijau Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), lihat Runnals (2011).


Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Hijau

Sunday, October 31, 2021

Perubahan Model Ekonomi

Perubahan Model Ekonomi dalam Tiga Disrupsi Besar Dunia

25 Aug 2021 


Jakarta, Humas LIPI. Pada kuliah ilmiah yang berjudul ’Biodiversitas dan Inovasi Bioekonomi untuk Masa Depan Bangsa’, Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria menyampaikan tentang tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, Revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19. Kuliah ilmiah tersebut disampaikan Arif pada Sarwono Memorial Lecture XXI yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai puncak peringatan Hari Ulang Tahun LIPI ke-54.

Dalam paparannya, Arif menyampaikan bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen. “Hal ini tentu saja menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Pada bidang kesehatan pun, disrupsi perubahan iklim ini menyumbangkan penambahan angka malnutrisi, stunting, dan jumlah penyakit,” jelasnya. 

Disrupsi revolusi industri 4.0 diakselerasi dengan kecepatan teknologi kepintaran buatan, robotik, big data, hingga Internet of Things menurutnya, ternyata telah merombak tatanan kehidupan. Arif mengungkapkan bahwa revolusi biologi juga sedang dirasakan atas dampak dari disrupsi teknologi ini, di mana aspek biologi saat ini bersinergi dengan aspek teknologi komputer. "Dalam dunia bisnis, disrupsi ini menyebabkan munculnya pekerjaan baru, dan hilangnya sejumlah pekerjaan. Hari ini kita merasakan pentingnya kompetensi-kompetensi baru yang mengedepankan future skill (keahlian masa depan) yang didapat melalui reskilling, upskilling, dan new skilling," ujar Arif.

Tak ketinggalan, Arif menuturkan, disrupsi ketiga berupa pandemi covid-19 juga mengubah banyak pola di kehidupan sehari-hari. Beberapa yang paling dapat dirasakan saat ini menurutnya adalah perlambatan ekonomi, peningkatan angka kemiskinan, dan penurunan kesehatan. Namun di sisi lain juga meningkatkan fleksibilitas kegiatan bekerja dan belajar-mengajar.

Berdasarkan data yang dianalisisnya, ketiga disrupsi besar ternyata tidak memengaruhi pertumbuhan biodiversitas, yang menurut data Produk Domestik Bruto (PDB/Lapangan Kerja) 2020-2021, sektor yang berbasis pada biodiversitas tetap tumbuh positif. "Ini artinya, sektor biodiversitas adalah sektor yang tahan banting. Ini lah mengapa sektor ini harus terus dikembangkan dan mendapatkan prioritas dalam pembangunan nasional,"terang  Arif.

 

Tiga Disrupsi dan Perubahan Model Ekonomi

Arif menegaskan, ketiga disrupsi besar tersebut mengubah model ekonomi masa depan. Ia berpendapat, perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy, revolusi industri 4.0 memaksa terjadinya sharing economy, dan pandemi Covid-19 memaksa terjadinya new normal bioeconomy. Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang.

Green Economy Initiative (GEI) mendeskripsikan green and blue economy sebagai ekonomi yang meningkatkakan kualitas kehidupan manusia dan ekuitas sosial, dengan secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dan kelangkaan ekologi. "Green and Blue Economy merupakan jawaban atas perubahan iklim. Di mana di dalamnya mementingkan pertumbuhan karbon rendah, efisiensi sumber daya, dan melibatkan masyarakat," jelas Arif. ”Keberlanjutan saja tidak cukup. Langkah menjaga sumber daya alam tidak berhenti pada menjaga keberlanjutannya, namun juga regenerasi. Dalam istilah mudahnya, ada perbedaan antara membiarkan pohon tidak disentuh, dan menanam lebih banyak pohon,” tandasnya.

Lebih jauh ilmuwan berkacamata tersebut mengatakan, bentuk perubahan model ekonomi dari dampak revolusi industri 4.0 berupa sharing economy. Model ekonomi ini menurut Arif, memiliki ciri menciptakan nilai, dapat diakses online, berbasis komunitas, bisa dikonsumsi dan dimanfaatkan bersama, serta berbagi aset yang kurang termanfaatkan. ”Model ekonomi ini mengurangi kebutuhan kepemilikan, dan meningkatkan konsumsi kolaboratif,” ungkapnya yakin.

Ia menambahkan, ”… untuk perubahan model ekonomi New Normal Bioeconomy memiliki tiga ciri khas, yaitu sirkular, berbagi, dan regeneratif. Ciri regeneratif ini muncul dari masa new normal, yang memaksa upaya-upaya menumbuhkan keanekaragaman hayati, karena meningkatnya kepedulian masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan-makanan sehat dan berbasis biodiversitas," rinci Arif.

Sebagai model bioekonomi baru, dirinya menguraikan, biodiversitas memiliki fungsi penyediaan, pengaturan, kebudayaan, dan pendukung. Ia menjelaskan juga bahwa biodiversitas menyediakan pangan, obat, dan biomaterial, serta fungsi mengatur iklim, penyakit, dan regulasi. Terlebih lagi, menurutnya, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas, dengan sekitar 90% flora dunia dapat ditemui di Indonesia, dan 940 jenis berkhasiat sebagai obat. ”Nilai total keanekaragaman hayati di Indonesia mencapai lebih dari tiga ribu triliun rupiah. Oleh karena itu, model ekonomi new normal bioekonomi seharusnya menjadi hal yang sangat mungkin dan sangat menguntungkan di Indonesia, sehingga perlu untuk diprioritaskan,” imbuhnya. 

Arif pun yakin bahwa ekonomi berbasis biodiversitas ini dapat menjadi pondasi sumber ekonomi bangsa masa depan. "Dasar dari ekonomi masa depan ini tentang bagaimana kita mampu membangun ekosistem yang tangguh yang melibatkan modal SDM, modal produsen, dan SDA," ujar Arif. Bioekonomi juga memiliki banyak potensi inovasi.

Karakteristik inovasi bioekonomi ini berorientasi pada masa depan, memperkuat kedaulatan ekonomi, memberikan solusi, dan dapat dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Sektor dari inovasi ini pun beragam mulai dari pangan dan obat, biomaterial, hingga smart farming. Arif pun menekankan bahwa inovasi-inovasi dari model ekonomi new normal bioeconomy ini tak lepas dari pentingnya hilirisasi inovasi serta tata kelola yang benar.

 

Tentang Arif Satria

Arif Satria terpilih sebagai pemberi kuliah ilmiah LIPI Sarwono Memorial Lecture XXI karena dianggap secara terus-menerus dan disertai dedikasi yang tinggi melakukan kegiatan penelitian di bidangnya. Arif memulai karirnya sebagai sekretaris rektor IPB pada 1996 dan terus meningkatkan karirnya hingga posisi yang ia duduki sekarang sebagai rektor IPB.

Selama karirnya, ia berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya: Second Winner of Academic Leader Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi 2019, H-Index Tertinggi Kedua Bidang Sosial (DPIS IPB, 2019), Tribute to Innovators Rektor IPB 2015, Kagoshima University Ambassador 2011, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Menteri Pendidikan Nasional RI 2009, The First Winner of the JIFRS Yamamoto Prize on Yamamoto Award International Institute for Fisheries Economics and Trade 2008, dan Dosen Berprestasi III IPB 2007. Selama kiprahnya, ia telah menerbitkan 45 jurnal internasional dan prosiding, serta menjadi pembicara di konferensi bergengsi internasional sebanyak 30 kali.

Ia lahir di Pekalongan pada 17 September 1971. Arif menyelesaikan gelar sarjananya di Ilmu Ekonomi Pertanian, IPB pada 1995, yang kemudian ia lanjutkan di universitas yang sama pada bidang Sosiologi Pedesaan, di mana ia mendapat gelar masternya pada 1999. Arif kemudian meraih gelar doktoralnya di Kagoshima University, Jepang, Department of Marine Social Science pada 2006. (sr/ ed: drs)


Sumber :

http://lipi.go.id/berita/Perubahan-Model-Ekonomi-dalam-Tiga-Disrupsi-Besar-Dunia/22485

Monday, October 11, 2021

Energi Terbarukan di Indonesia

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

29 SEPTEMBER 2021

    


Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Potensi ini tentunya memberi masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian energi Indonesia yang saat ini masih disokong oleh energi fosil.

Menurut The Conversation, pemerintah Indonesia telah mencanangkan bauran EBT yang mencapai 23 persen pada 2025 dan naik menjadi 31 persen pada 2050. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia menuju transisi energi. Disebutkan pada laman KESDM, total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.

Sebagai suatu negara kepulauan dengan iklim tropis, Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang EBT. Berikut empat di antaranya.


1. Energi panas bumi (geothermal)

Energi geothermal adalah energi panas yang terkandung dalam fluida air (bisa dalam uap, cair, atau campuran keduanya) yang berada pada kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah permukaan bumi. Fluida panas ini memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi yang menjadikannya sebagai penyedia energi yang masif.

Jumlah potensi energi geothermal Indonesia ialah sekitar 11.073 Megawatt listrik (MWe) dan cadangannya sekitar 17.506 MWe. Sayangnya, sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia, kita masih belum maksimal dalam segi pemanfaatannya.

Sumber energi ini tersebar hampir merata di lebih dari 300 titik dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut menjadikan pemanfaatan energi geothermal dapat membantu mengatasi krisis listrik di masa kini dan masa depan.

Dalam Road Map Pengembangan Geothermal yang disusun oleh Kementerian ESDM, Indonesia menargetkan pengembangan energi geothermal sekitar 7000 MW pada 2025. Program ambisius ini membutuhkan investasi yang besar, penyiapan teknologi yang mumpuni, manajemen penyediaan sumber daya manusia yang kompeten, dan dukungan iklim investasi yang menarik bagi investor.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia saat ini ialah sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan kita sebagai negara produsen energi geothermal terbesar kedua setelah Amerika Serikat (3.591 MW).


2. Energi Surya

Sebagai negara tropis dengan sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Energi alternatif terbarukan ini cukup menjanjikan untuk menopang kebutuhan energi masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat desa.

Menurut catatan Kementerian ESDM, elektrifikasi di Indonesia masih 55-60%, dan mayoritas wilayah yang belum teraliri listrik adalah wilayah pedesaan. Oleh karena itu, energi surya dapat menjadi salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di desa. Hal ini memungkinkan karena sifat panel surya yang dapat dibangun dimana saja.

Potensi energi surya di Indonesia dinilai sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Telah memiliki basis kebijakan yang kuat, pemerintah kini tetap harus fokus dalam produksi photovoltaic (PV) yang akan menjadi komponen utama dalam sistem PLTS.


3. Energi Biomassa/biogas

Energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik seperti kotoran ternak, atau limbah dapur seperti sayuran yang sudah digunakan. Limbah-limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara.

Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

Biogas sendiri dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk memasak dan bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik. Selain itu, biogas dinilai lebih aman untuk bumi karena pembakaran biogas mampu mengurangi emisi gas kaca. Biogas juga dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran tradisional.

Menurut Kementerian (ESDM) pengembangan biogas di Indonesia merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tercatat, biogas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 47.505 unit di seluruh wilayah Indonesia dengan menghasilkan biogas sebanyak 75.044,2 m3/hari atau sekitar 26,72 juta m3/tahun.

Kementerian ESDM akan terus mengejar target Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) mencapai 5.5 GW pada tahun 2025. Harapannya biogas akan menjadi salah satu energi alternatif utama bagi masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga bumi dari pemanasan global.


4. Energi Laut

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar, yaitu sekitar dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi Indonesia dari segi besarnya potensi energi laut.

Energi laut yang dihasilkan dari gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut (samudera) merupakan sumber energi di perairan laut yang berupa energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut, dan energi perbedaan suhu lapisan laut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.

Potensi termal lautan Indonesia ialah sebesar 2,5 x 1.023 Joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen, menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW/m di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang dinilai sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikan lainnya baru pada tahap penelitian. Harapannya, di masa depan energi gelombang dapat menjadi salah satu energi terbarukan yang menjanjikan.

Dilansir dari Kompas, Indonesia masih memanfaatkan sebagian kecil energi terbarukan, yaitu hanya sekitar 2,3 persen dari potensi yang ada. Padahal, potensi energi terbarukan yang dimiliki negara kita ialah sekitar 442 gigawatt (GW), atau sekitar tujuh kali lipat dari kapasitas listrik yang telah terpasang di tanah air.

Kini, kebutuhan penggunaan energi kian bertambah tiap waktunya, khususnya dengan adanya digitalisasi dan pertambahan penduduk. Agar tidak terjadi defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi suatu keharusan.*


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/29/menuju-transisi-mandiri-energi-berikut-4-potensi-energi-terbarukan-di-indonesia