Pages

Showing posts with label Economy. Show all posts
Showing posts with label Economy. Show all posts

Sunday, January 21, 2024

Greenflation

Greenflation atau inflasi hijau adalah jika harga komoditas naik karena transisi menuju ekonomi hijau. Dikutip dari situs resmi Bank Sentral Eropa (ECB), saat ini banyak perusahaan yang mengadaptasi proses produksinya dalam upaya mengurangi emisi karbon. 

Berdasarkan Blog Kamus Cambridge, greenflation diartikan sebagai "kenaikan harga akibat peralihan ke ekonomi hijau".

Sebagian besar teknologi ramah lingkungan memerlukan sejumlah besar logam dan mineral, seperti tembaga, litium, dan kobalt, terutama selama masa transisi. Misalnya saja kendaraan listrik yang menggunakan mineral enam kali lebih banyak dibandingkan kendaraan konvensional. Begitu juga pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai membutuhkan jumlah tembaga tujuh kali lipat dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas.

Lalu bagaimana cara mengatasi greenflation?.

Greenflation merujuk pada kenaikan harga dan krisis tenaga kerja yang terjadi seiring dengan transisi ramah lingkungan. Kenaikan harga terjadi lantaran perusahaan mengeluarkan anggaran lebih untuk melakukan transisi energi mengingat biaya penggunaan energi hijau dianggap masih lebih mahal dibandingkan fosil.

Di Eropa, Greenflation memakan korban seperti yang terjadi pada gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) di Prancis. Gerakan rompi kuning mulai mencuat di Prancis pada Oktober 2018 sebelum akhirnya pecah menjadi aksi unjuk rasa pada 17 November 2018. Sejak itu, banyak yang melanjutkan aksi blokade massa yang menyebabkan kemacetan dan kelangkaan bahan bakar menjelang musim libur. Peserta terus menggelar aksi protes setiap Sabtu hingga kini.


Gerakan Rompi Kuning di Prancis sebenarnya fokus ke berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelas pekerja. Pada 2018, Presiden Prancis Emmanuel Macron akhirnya berjanji untuk menaikkan upah dan meringankan pajak setelah demo Rompi Kuning.

Menurut euroactiv, pajak yang dimaksud adalah pajak karbon yang menaikkan harga BBM, sehingga memicu protes.


Dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah (terutama yang berada di daerah pedesaan dan periurban), para pengunjuk rasa menyerukan akhir dari perubahan tersebut dan pengunduran diri Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Gerakan ini telah banyak terlihat di kota-kota Prancis, tetapi daerah-daerah pedesaan telah mengalami mobilisasi luar biasa dalam unjuk rasa tersebut. Rompi kuning dipilih sebagai simbol karena semua pengendara mobil telah diwajibkan oleh hukum—sejak tahun 2008—untuk memiliki rompi bervisibilitas tinggi dalam kendaraan mereka ketika mengemudi. Akibatnya, rompi reflektif telah menjadi tersedia secara luas, murah, dan simbolik.


Sumber :

https://katadata.co.id/tiakomalasari/ekonomi-hijau/65ad2dfeaa68d/apa-itu-greenflation-yang-disebut-gibran-di-debat-cawapres

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240121201943-532-1052499/apa-itu-greenflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud.

https://www.liputan6.com/global/read/5510483/gibran-kaitkan-inflasi-hijau-dengan-gerakan-rompi-kuning-apa-hubungannya?page=2

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240121233627-134-1052596/apa-itu-demo-rompi-kuning-yang-disinggung-gibran-saat-respons-mahfud.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_rompi_kuning

Monday, May 8, 2023

Desain Biophilic yang Ramah Lingkungan

Yuk, Mengenal Desain Biophilic Yang Ramah Lingkungan

14 Okt 2017

Hunian yang baik ialah hunian yang dapat menciptakan kebahagiaan dan kenyamanan bagi penghuninya. Salah satu faktor pendukung untuk mewujudkan hal tersebut ialah dengan menyematkan unsur alam pada hunian.

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk berhubungan dengan alam yang dikenal dengan hipotesa biophilia (cinta alam). Dalam dunia arsitektur, hunian dengan sentuhan natural atau alam dikenal dengan istilah biophilic design atau desain biophilic.

Istilah ini mungkin terasa asing untuk Anda. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai desain biophilic, yuk, simak tulisan berikut yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi hunian Anda.


Apa itu Desain Biophilic?

Istilah biophilia (cinta alam) muncul sekitar tahun 1980 ketika urbanisasi meningkat yang mengakibatkan terputusnya hubungan manusia dengan alam. Tingkat migrasi ke perkotaan di negara maju dan berkembang sangat tinggi saat itu.

Manusia semakin dekat dengan modernitas dan mulai melupakan alam.Ranah arsitektur kemudian menggunakan gagasan biophilia untuk mengembalikan kedekatan manusia dengan alam.

Akhirnya terciptalah desain arsitektur biophilic yang dibuat guna menguatkan hubungan antara alam dan lingkungan buatan manusia. Tak heran jika unsur alam merupakan aspek utama pada desain ini.


Relevansi Desain Biophilic

Badan Kesehatan Dunia (WHO) meramalkan bahwa penyakit sejenis stres, seperti gangguan kesehatan mental dan kardiovaskular akan menjadi penyumbang penyakit terbesar di tahun 2020.

Berkurangnya koneksi manusia dengan alam, meningkatnya tekanan, dan kehadiran teknologi akan membuat kesempatan untuk memulihkan kesehatan mental dan fisik lebih sedikit.

Memasukkan unsur alam, baik langsung atau tak langsung, pada lingkungan terdekat akan sangat berpengaruh mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat detak jantung. Selain itu, dapat meningkatkan produktivitas dan kenyamanan diri.

Karena itulah kini mulai banyak instansi seperti Google, Apple, dan Amazon menerapkan penggunaan desain biophilic untuk tempat kerja mereka.  Selain mampu mengurangi tingkat stres, desain biophilic dapat meningkatkan produktivitas bekerja karyawan.


Keuntungan Menerapkan Desain Biophilic

Dengan menerapkan desain biophilic pada hunian atau tempat kerja, ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan.

Desain kantor: Produktivitas meningkat 8%, tingkat kesejahteraan meningkat 13%, kreativitas meningkat, dan absensi ketidakhadiran karyawan akan menurun

Desain perhotelan: Tamu bersedia membayar 23% lebih mahal untuk kamar dengan pemandangan elemen biophilic

Ruang pendidikan: Tingkat pembelajaran meningkat 20-25%, hasil tes lebih baik, tingkat konsentrasi dan kehadiran meningkat, dampak ADHD berkurang.

Ruang perawatan kesehatan: Tingkat pemulihan pasca operasi meningkat sebesar 8,5%, mengurangi pengobatan nyeri sebesar 22%

Ritel: Konsumen bersedia membayar 8-12% lebih untuk barang dan jasa yang ditawarkan.

Hunian/rumah: Suasana menjadi lebih tenang, menurunkan angka kriminalitas 7-8%, meningkatkan harga properti 4-5%.


Tips Menerapkan Desain Biophilic

Membuat taman hijau atau pekarangan di halaman depan atau belakang hunian.

Memperbanyak bukaan pada hunian untuk sirkulasi udara alami.

Menambah tanaman hijau dalam ruang.

Penggunaan unsur alam lebih banyak, seperti furnitur kayu, rotan, ornament, dan sebagainya

Penerapan cahaya alami lebih banyak.


Sumber :

https://www.rumah.com/berita-properti/2017/10/162397/yuk-mengenal-desain-biophilic-yang-ramah-lingkungan

Tuesday, February 1, 2022

Penetral Bau Sampah

Temukan Penetral Bau Sampah, Mahasiswi Sidoarjo Ini Raih Trash Control Heroes

Selasa, 01 Feb 2022 11:20 WIB

Seorang mahasiswi asal Sidoarjo berhasil menemukan eco lindi cairan penetral bau sampah. Atas temuannya ini, mahasiswa itu diganjar penghargaan Trash Control Heroes dari Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.

Mahasiswi tersebut yakni Rania Nura Andindhita warga Desa Prasung, Kecamatan Buduran. Perempuan 20 tahun ini adalah mahasiswi Fakultas Biologi UGM. Rania menuturkan temuannya ini berawal dari hasil diskusi dengan ayahnya Bahrul Amig. Kebetulan ayahnya ini adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo.

Ia kemudian menjelaskan air eco lindi yang ditemukannya berasal dari endapan tumpukan sampah mempunyai sifat mendukung keragaman mikroba.

"Setelah air lindi ini dicampur dengan molase atau sisa air tebu, katalis penghasil enzim serta asam sulfat, bisa menghilangkan bau dan mampu melepaskan amoniak dan metana yang ada di tumpukan sampah," jelas Rania, Selasa (1/2/2022).

Pembuatan Eco Lindi, lanjut Rania, terbilang cepat dan ekonomis. Satu galon katalis bisa menghasilkan 10 ribu liter eco lindi. Sedangkan satu kali pembuatan eco lindi bisa dibuat 42 kali 10 ribu liter. Pembuatan Eco Lindi cepat dan murah. Satu galon katalis bisa menghasilkan 10 ribu liter eco lindi. Satu kali pembuatan eco lindi bisa dibuat 42 kali 10 ribu liter tersebut.

Untuk proses penggunaanya, Rania mengatakan cukup cairan disemprotkan ke tumpuka sampah. Adapun reaksinya hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

"Untuk pengembangannya, nantinya eco lindi tidak hanya bisa menetralkan bau sampah saja. Namun bisa juga difungsikan sebagai pupuk atau penyubur tanaman," imbuhnya.

Menanggapi temuan anaknya ini, Bahrul Amig menyebut sebagai temuan yang penting untuk dunia lingkungan. Khususnya sampah yang mengeluarkan bau tak sedap seperti di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Bau di TPA dan tempat pengolahan sampah, saat ini telah bisa diatasi dengan eco lindi ini. Dengan disemprot eco lindi, bau sampah yang datang di TPA bisa netral," kata Amiq.

Menurut Amiq, Eco Lindi telah diuji coba untuk mengatasi problem bau di sekitar peternakan. Hasilnya, eco lindi ini dinyatakan aman untuk ternak. Tak hanya itu, pihaknya eco lindi juga telah mencoba di lingkungan pasar.

"Selain itu kami sudah uji cobakan di lingkungan pasar karena mikrobaya sangat reaktif. Temuan Eco Lindi ini bisa diaplikasikan di semua aktivitas limbah yang menghasilkan bau," tandas Amiq.


Sumber :

https://www.detik.com/jatim/jatim-moncer/d-5923442/temukan-penetral-bau-sampah-mahasiswi-sidoarjo-ini-raih-trash-control-heroes.

Thursday, January 20, 2022

Reverse Vending Machine

Bekas botol plastik kini bisa ditukar Gopay hingga Shopeepay

AQUA bekerjasama dengan Alfamart dan PlasticPay menyediakan AQUA Reverse Vending Machine (RVM) atau Mesin Penukaran Botol plastik pasca-konsumsi guna mempermudah pengelolaan sampah botol plastik.

Tahap pertama, mesin akan ditempatkan di lima toko Alfamart yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang.

"Bagi Danone-AQUA, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kami yang diwujudkan melalui gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan sejak 2018. Gerakan ini selain bertujuan mempertegas posisi perusahaan sebagai pelopor pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik pasca-konsumsi, juga untuk mendukung ambisi pemerintah mengurangi sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70 persen di 2025," kata kata VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto dalam siaran pers pada Kamis.

Kemasan botol plastik bekas minuman yang ditukarkan di dalam mesin akan mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan sejumlah uang di berbagai dompet digital.

Untuk kemasan botol plastik PET pasca-konsumsi dengan merk Danone-AQUA diberikan reward 100 poin per botol, sementara untuk botol PET bekas merk lain mendapat reward 50 poin per botolnya.

Poin-poin yang diperoleh dari setiap pengumpulan sampah botol plastik dapat ditukarkan dengan Gopay, Dana, LinkAja, OVO, Shopeepay, dan juga sedang diproses untuk bisa ditukarkan dengan Alfagift Points.

Untuk mendapatkan poin, pertama, pengguna harus mengunduh aplikasi PlasticPay pada smartphone dan melakukan registrasi. Kemudian membawa kemasan botol plastik PET paska konsumsi ke lokasi AQUA RVM terdekat. Memindai barcode pada botol plastik PET pasca-konsumsi, sebelum memasukkannya ke dalam mesin RVM. Terakhir, konsumen cukup memindai QRCODE yang muncul pada mesin menggunakan aplikasi PlasticPay, diakhiri dengan mengklik “AmbilPoin” pada aplikasi PlasticPay.

Dengan mekanisme ini, AQUA RVM diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong masyarakat untuk mengumpulkan kemasan botol plastik pasca-konsumsi mereka, sehingga mengurangi sampah plastik yang tidak terkumpul dan terkelola dengan benar.

Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin mengapresiasi kerjasama dengan Danone AQUA untuk karena ikut berkontribusi memberikan solusi bagi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Komitmen Alfamart Sahabat Bumi ditunjukkan dengan kerjasama untuk menginisiasi alternatif baru bagi masyarakat untuk ikut bijak mengelola kemasan botol plastik pasca-konsumsi.

"Kami melihat jaringan kami yang berjumlah lebih dari 16.000 gerai dan tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekuatan luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memberi kemudahan bagi mereka untuk dapat berperan aktif mendukung pengelolaan sampah plastik yang menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini," katanya.

Komitmen Alfamart sebagai sahabat bumi untuk lingkungan, tambahnya, sudah ditunjukkan dengan mengurangi konsumsi plastik belanja sejak tahun 2016. Selain itu, kegiatan untuk menjaga lingkungan hidup juga intens dilakukan dengan melakukan penanaman pohon secara massal di seluruh wilayah Indonesia.

Suhendra Setiadi, CEO PlasticPay mengatakan melalui kerjasama dengan Danone-AQUAdan Alfamart, perusahaan yang memiliki komitmen daur ulang kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang kuat dan jaringan toko yang luas, PlasticPay optimistis dapat menjangkau masyarakat Indonesia yang lebih luas sehingga menjadikan reverse vending machine yang merupakan seratus persen karya anak bangsa ini dapat berkontribusi secara maksimal dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia secara berkelanjutan.

"Prosesnya, seluruh kemasan botol plastik paska konsumsi yang terkumpul dalam AQUA RVM akan diambil oleh mitra pengumpul sampah plastik Danone-AQUA dan langsung di bawa ke RBU (Recycle Business Unit) binaan Danone-AQUA yang berada di 6 lokasi, termasuk di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang terkumpul kemudian akan diolah menjadi plastik PET daur ulang yang digunakan kembali sebagai bahan baku di seluruh kemasan botol AQUA,” tambahnya

Mengacu pada hasil riset yang dilakukan oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI) daur ulang sampah plastik di Indonesia masih tergolong kecil yaitu di bawah angka 10 persen, untuk itu diperlukan upaya inovatif untuk meningkatkan laju pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik bekas.


Sumber :

https://id.berita.yahoo.com/bekas-botol-plastik-kini-bisa-062820525.html

Wednesday, January 12, 2022

Sustainability Is the Supply Chain Issue Nobody’s Talking About

Detrimental practices have become the norm despite stated brand values
By Kate Watts
|December 22, 2021


Brands that are early and committed adopters of a green supply chain will have an upperhand.

Editor’s note: This piece is part of our Columnist Network series, which explores the tactical thoughts and actions from Adweek’s community of high-level experts. Today, Long Dash’s Kate Watts reviews the environmental impact of shipping and delivery services. Below, in her own words, she says a brand’s expression of values must extend to its supply chain.

As supply chain challenges dominate global headlines, it strikes me that the absolute impact a brand’s supply chain has on the consumer experience has been radically underestimated, underreported and under-scrutinized. The bulk of today’s news focuses on low supply, shipping delays, rising costs, worker shortages and the case for automation. Little attention is paid to how a brand’s supply chain, the invisible backbone of a consumer goods business, truly manifests a brand’s core purpose. 

Given how much attention we pay to the growing power a brand’s values play in consumer decision-making and loyalty, it is surprising that marketers and executives rarely move topics of customer engagement beyond the well-worn topics du jour: “omnichannel strategy,” “end-to-end customer service” or “enterprise-wide ESG.” All of these initiatives rely on the seemingly banal yet critical supply chain process—arguably the most profound articulation of a brand’s mission.


Dispel the myth that speed is everything
Many brands speak to corporate values in broad terms but fall short delivering on them tactically. Companies that choose fast delivery and low-cost materials over a more sustainable supply chain are betting on the false narrative that consumers prioritize convenience and price above all.

Amazon has certainly upped the instant gratification ante, but this is a precarious growth model. Consumers may seem focused on on-demand delivery and abundant supply, especially during the competitive holiday season, but grave environmental implications will outweigh convenience. An EY study earlier this year found that 84% of consumers feel sustainability is important when making purchase decisions, and 61% want more information to help make more sustainable choices.

Emissions from road-based travel and transport are an alarming 70% higher than they were at the beginning of the millennium. This is primarily due to the proliferation of fuel-hungry vehicles like SUVs and increased shipping through vendors like Amazon. In fact, the Amazon last-mile delivery model can result in up to 35 times more greenhouse gas emissions than a fully loaded delivery truck. Amazon’s own sustainability report demonstrated a 19% rise in carbon emissions in 2020, in fact.

As the effects of climate change become even more conspicuous, this transport model will become deeply scrutinized, likely losing favor with consumers. The brands that have not aligned their supply chain practices with environmental values may struggle as a result. Conversely, brands that are early and committed adopters of a green supply chain will have an upperhand.

Pursue unwavering supply chain transparency 
Brands’ supply chains are responsible for 90% of their ecological footprint. Therefore, any brand that publicly states or markets a commitment to the environment must address its supply chain. This encompasses supply procurement, packing and shipping, and last-mile delivery—all services that are usually sourced through third-party service suppliers.

Yet, these blind spots are common. A McKinsey report released last month showed fewer than 50% of companies surveyed had visibility into their Tier 1 suppliers and only 2% had visibility beyond their second tier suppliers. 

Industrial-level culture change begins when brands actively and publicly seek partners with an ecological commitment that matches their own. Companies may do a good job of reducing in-house emissions, but if their suppliers and partners do not mirror these same efforts and values, their own in-house efforts could appear performative or superficial. 

In contrast, Starbucks has claimed 99% of its coffee is ethically sourced since 2015. To get there, Starbucks built a supply chain with suppliers that met specific and high sustainability standards. This required employing third-party auditors to uphold CAFÉ Practices or Fair Trade standards for agriculture practices, emission levels, labor policies and more. Starbucks committed to long-term partnerships with its suppliers, understanding that continuing to buy from these suppliers made it fiscally possible for it to pursue higher sustainability standards. 

Create a branded supply chain
When a business truly understands and owns a values-driven supply chain, a powerful story unfolds. Brands are able to not only communicate but also demonstrate how they prioritize sustainability. They can humanize and contextualize the challenge in a manner that reinforces how brands’ and consumers’ values align.

Plant-based Impossible is able to track the minimal ecological footprint of its products compared to real meat and shares this data with consumers through an impact calculator. Clothing retailers like Ecologyst can create constant touch points with consumers with their offer to mend any wear and tear as a means of reducing waste. Athleisure challenger brand Girlfriend Collective says its high-performance clothing made from recycled water bottles take longer to arrive because they purposefully choose shipping methods that reduce carbon emissions. 

It is through a brand’s supply chain that its values are tested, its priorities are laid bare and its environmental impact is exposed. Brands must choose to invest in building a supply chain that inspires loyalty now or lose time—and face—playing catch-up later. 


Sumber :
https://www-adweek-com.cdn.ampproject.org/c/s/www.adweek.com/brand-marketing/sustainability-is-the-supply-chain-issue-nobodys-talking-about/amp/

Wednesday, January 5, 2022

Ekonomi Sirkular Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru

Ekonomi Sirkular Bakal Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru bagi Perempuan

06 Jan 2022, 12:30 WIB

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Medrilzam, coba memaparkan peluang investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular. Salah satunya terkait penciptaan lapangan kerja baru.

Medrilzam memproyeksikan, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular bakal menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030 mendatang, dimana 75 persen atau 3,3 juta diantaranya jadi porsi kaum hawa.


Pemerintah Target Seluruh Warga Bisa Akses Air Minum Perpipaan di 2030

"Ada penciptaan 4,4 juta lapangan kerja baru kalau misalnya ini bisa kita laksanakan dengan baik, 75 persen dari total pekerjaan merupakan tenaga kerja perempuan," paparnya dalam sesi webinar, Kamis (6/1/2022).

Selain penciptaan lapangan kerja, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular juga dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) pada kisaran Rp 593-638 triliun di 2030.

"Dari hasil kajian yang sudah kami buat, ternyata sirkular ekonomi bila diterapkan kontribusi PDB-nya sangat-sangat besar, hampir Rp 600 triliun rata-rata," jelas Medrilzam.

Ekonomi sirkular pun tentunya bakal mengurangi timbulan limbah sebesar 18-52 persen dibandingkan business as usual pada 2030. Sehingga berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 126 juta ton karbon dioksida.

"Juga tentunya karena dia sirkular ini bisa mengurangi timbulan limbah cukup-cukup besar bila dibandingkan dengan business as usual. Secara otomatis emisi pun bisa kita turunkan," tutur dia.


Sudah Ada Hasil

Menurut Medrilzam, seluruh proyeksi tersebut bukan hanya mimpi belaka. Sebab, sudah ada beberapa negara maju yang menerapkan pola ekonomi sirkular, dan telah mendapatkan hasilnya.

"Ini kesannya memang seperti mimpi, tapi di luar negeri ini sudah mulai mengarah ke sana. Bahkan sudah ada beberapa negara mulai men-declare bahwa hampir sebagian besar produk-produknya dihasilkan dari proses sirkular ekonomi," tandasnya.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4852662/ekonomi-sirkular-bakal-ciptakan-33-juta-lapangan-kerja-baru-bagi-perempuan

Wednesday, October 6, 2021

Kedai Kopi Bayar Dengan Sampah Plastik

Kedai Kopi Masa Kini! Bayarnya Dengan Sampah Plastik

14 SEP 2021

Berbagai cara dilakukan agar masyarakat semakin peduli dengan bahayanya sampah plastik bagi ekosistem, seperti yang dilakukan oleh sebuah kedai kopi unik yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Konsumen dari kedai kopi bisa ngopi tanpa membayar dengan uang. Pelanggan hanya membayar sampah untuk secangkir kopi hangat. Untuk secangkir kopi, warga hanya tinggal menyetor sampah seberat 250 gram atau seperempat kilogram saja. Lokasinya di tengah hutan kota, di samping depo sampah kota Banyuwangi.

Ini merupakan terobosan baru dari Bank Sampah Banyuwangi (BSB). Mereka menggelar ngopi dengan menukar sampah plastik di Kantor BSB di Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. BSB menggandeng barista kopi asli Banyuwangi, sehingga bisa dipastikan kopi yang disediakan pun bukan sembarangan. Menurut Koordinator BSB Agus Supriyadi, program ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat agar mau menabung sampah. Ini merupakan inovasi program Bank Sampah Giat Keliling (Bagiak) dengan menggandeng UMKM.

"Kami menggandeng Mobile Cafe (MoCa) UMKM Banyuwangi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah juga berharga. Bisa digabung dan menghasilkan uang," ujar Agus kepada detikcom, Rabu (8/9/2021).

Acara ngopi tukar sampah ini digelar setiap hari mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB. ​​​​​​

Ketika ditanya mengenai adanya kemungkinan bau tidak sedap di kedai kopi ini, langsung dibantah olehnya. ”Di sini ada lokasi padat penduduk tapi banyak pohon besar disini. Dan dekat dengan depo sampah. Tapi kita jamin tidak akan bau," tambahnya.

Agus mengatakan, nantinya tak hanya ngopi bayar sampah yang digelar. Bekerja sama dengan UMKM di Banyuwangi, ada rencana baru yang tidak kalah revolusioner.

"Sampah yang dibawa akan dikonversi dengan rupiah dan bisa dibelikan sembako, makanan ringan, beras, ataupun sayuran," pungkasnya.

Seorang barista yang juga sekaligus penggiat sampah di Banyuwangi bernama Novian Darma Putra mengatakan, dirinya memang sering memberikan pelayanan pembayaran kopi dengan sampah sejak tahun 2019 lalu. Menurutnya, biasanya sekitar 75 cup kopi terjual per harinya, dengan menukar dengan sampah. Sampah-sampah ini kemudian ditukar di bank sampah, untuk ditukarkan menjadi hasil dirinya menjual kopi.

Novian menjelaskan, tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sampah, khususnya sampah plastik, bukan hanya menjadi kotoran, namun juga bisa bermanfaat dan memberikan nilai ketika dikelola dengan benar. Upaya seperti ini harus selalu kita dukung. Yuk ikuti jejak mereka sebagai masyarakat yang peduli akan kelangsungan ekosistem, dengan menjadi bagian dari #AntiPlastikPlastikKlub agar semakin banyak lagi upaya seperti ini.


Sumber :

https://www.trans7.co.id/seven-updates/kedai-kopi-masa-kini-bayarnya-dengan-sampah-plastik

Sunday, September 19, 2021

Lulusan Hukum Jadi Pemulung Organik

Kisah Marina, Lulusan Hukum UGM yang Pilih Jadi Pemulung Organik

Senin, 20 Sep 2021 09:30 WIB

Bagi orang pada umumnya, sampah merupakan sesuatu yang cenderung dihindari. Namun, salah seorang lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Marina Tri Muliawati, justru memilih berkelindan dengannya.

Pada salah satu video akun TikTok @pemulungorganik miliknya, ia menyebutkan, "Kalau semua orang kerja kantoran, siapa yang mau ngurusin persampahan yang bau busuk?". Dalam video viral tersebut, ia memperlihatkan bagaimana ketika dirinya bersama suami sedang mengolah sampah-sampah organik.

Marina merupakan jebolan Hukum UGM yang lulus tahun 2020 kemarin. Dirinya mengaku tak tertarik untuk bekerja di bidang yang sejalan dengan studinya.

"Memang tidak tertarik. Jujur (menurut) saya karena lulusan Hukum di UGM ini kan, sudah banyak sekali ya. Saya pikir biarlah mereka. Saya sedikit tidak tertarik. Iya, memang tidak tertarik," tegasnya ketika dihubungi oleh detikEdu pada Jumat (17/09/2021).

Marina memilih menjadi pemulung sampah organik untuk kemudian dikembangkan menjadi bisnis maggot black soldier fly (bsf). Sebagai informasi, mengutip dari laman Kementerian Sosial RI, maggot bsf adalah larva dari jenis lalat besar hitam yang penampakannya seperti tawon.

Rupanya, pemikiran untuk mengolah sampah tersebut datang sejak Marina masih dini. Ia bercerita bahwa rumahnya berlokasi sekitar 100 meter dari pasar.

Ketika hujan, banyak dari sampah-sampah itu yang kemudian tidak terolah dengan baik sehingga membawa bau tidak sedap hingga ke rumahnya. "Rumah saya itu kan, dekat dengan pasar. Ketika hujan, sampahnya sampai penuh banget. Jarak pasar sama rumah saya itu sekitar 100 meter, tapi tercium (baunya) sampai mengganggu banget. Saya dari kecil itu berpikir, piye sih, carane ngilongi (bagaimana sih, caranya mengurangi), piye sih, iki carane ben berkurang (bagaimana sih, caranya agar berkurang). Dari kecil itu saya sudah ada pikiran, bagaimana sih, kok tidak ada yang diurusin. Apa sampah-sampah ini benar-benar tidak bisa diapa-apakan," paparnya.

Selain didasari keresahannya pada pengelolaan sampah, pertemuannya dengan bisnis maggot juga didukung dengan usahanya dalam mencari kesibukan.

Pada awalnya, Marina seorang diri menjalankan bisnis ini. Kini, ia bersama suami, Bagas Ahimsa, bekerja sama melakukan usaha tersebut.

Terkait dengan profesi yang sengaja ia pilih, Marina menyampaikan bahwa tentu saja banyak sekali yang kontra terhadap keputusannya. "Piye to, lulusan hukum kok, malah koyo ngene (bagaimana sih, lulusan hukum kok, malah seperti ini. Tapi ya sudah, biarkan saja karena kita yang menjalani," ujar Marina.

"Mereka tidak tahu saja, kalau itu (maggot) mahal," imbuhnya. Di area Jawa Tengah, harga jual maggot adalah kisaran Rp 8.000 ribu hingga RP 10.000 ribu, bergantung ukuran.

Semakin kecil, maka harga jual juga semakin mahal. Di samping itu, maggot kering per kilogram mencapai harga jual hingga Rp 100 ribu.

Bagas juga menceritakan bahwa pada awalnya orang terdekat mempertanyakan, mengapa tidak beternak hewan lain seperti kambing misalnya. Namun, pada akhirnya keluarga mendukung setelah keduanya menjelaskan potensi bisnis maggot.

Menurut keduanya, bisnis ini memiliki peluang ekspor yang masih sangat besar. Modal yang sangat minim dan tingkat kerugian yang nyaris tidak ada, turut menjadi sebagian faktor keduanya menekuni usaha tersebut.

Bisnis maggot ini, menurut Marina juga mendukung usaha ternak karena menghemat pengeluaran untuk pakan hingga 60 persen.

Hingga kini, lulusan UGM tersebut mengatakan bahwa hambatan yang ditemui adalah justru karena kurangnya pasokan sampah sebagai dampak PPKM serta maggot yang ogah bertelur saat musim hujan.


Sumber :

https://www.detik.com/edu/edutainment/d-5731207/kisah-marina-lulusan-hukum-ugm-yang-pilih-jadi-pemulung-organik

Monday, August 30, 2021

Tiga Strategi Besar Ekonomi Indonesia

Jokowi Beberkan Tiga Strategi Besar Ekonomi ke Ekonom

Kamis 26 Aug 2021 14:47 WIB


Pemerintah akan melakukan hilirisasi, energi hijau, dan digitalisasi UMKM.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan tiga strategi besar ekonomi Indonesia di hadapan para ekonom saat memberikan sambutan dalam acara peresmian pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (26/2). Tiga strategi besar tersebut yakni hilirisasi industri, digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta ekonomi hijau.

Terkait hilirisasi industri, Jokowi menjelaskan hilirisasi sudah dimulai dengan menghentikan ekspor bahan mentah sejumlah komoditas. Menurutnya, ke depan ekspor bahan mentah lain seperti nikel, bauksit, emas, tembaga, kelapa sawit, hingga turunannya dapat berubah menjadi ekspor barang setengah jadi atau lebih baik lagi apabila bisa menjadi barang jadi.

“Saya kira ekspor kita, ekspor besi baja kita dalam setengah tahun ini saja sudah berada di angka kurang lebih 10,5 miliar dolar AS,” ucap Jokowi.

Strategi besar kedua yakni digitalisasi UMKM. Hingga saat ini sebanyak 15,5 juta UMKM telah masuk ke dalam platform digital dan lokapasar. Jokowi mengatakan, transformasi ini akan terus didorong agar makin banyak UMKM masuk ke dalam platform digital.

“Kita memiliki kurang lebih 60-an juta UMKM yang semuanya akan kita dorong agar masuk ke platform-platform digital, baik yang berada di daerah, nasional, maupun agar bisa juga masuk ke platform-platform global,” lanjutnya.

Jokowi menyebut strategi besar lainnya yaitu berkaitan dengan ekonomi hijau. Pemerintah berencana membangun Green Industrial Park dengan produk keluaran produk hijau dengan pemakaian energi menggunakan energi baru terbarukan, energi hijau.

Ia berharap ke depan produk hijau yang dihasilkan dari ekonomi hijau akan menjadi sebuah kekuatan besar Indonesia.

“Kita tahu semuanya bahwa masa depan produk-produk hijau itu sangat-sangat menjanjikan dan kita memiliki kesempatan yang besar dalam hal ini,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, Presiden juga menyinggung mengenai reformasi struktural yaitu adanya Undang-Undang Cipta Kerja yang bertujuan untuk membangun sebuah kecepatan. Pemerintah telah membuat sistem perizinan elektronik Online Single Submission (OSS) guna memberikan kemudahan dan kecepatan dalam hal perizinan bagi UMKM. Menurut dia, melalui OSS ini UMKM bisa membuat Nomor Induk Berusaha (NIB) di mana saja dengan waktu yang lebih cepat.

“Sehingga usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro kita semuanya bisa menjadi sebuah usaha yang memiliki NIB dan itu akan memudahkan mereka untuk mengakses ke perbankan,” tambahnya.

Selain itu, Jokowi juga menyampaikan mengenai Program Meekar yang merupakan pinjaman bagi usaha mikro dan telah ada sejak tahun 2016. Saat ini, nasabah dari Program Meekar mencapai 10,8 juta nasabah melebihi nasabah Grameen Bank sekitar 6 juta nasabah.

“Ini sebuah lompatan yang sangat cepat sekali yang kita harapkan ini akan memberikan dampak kenaikan tingkat pada usaha-usaha mikro di Tanah Air,” ujarnya.


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/qyfsb7370/jokowi-beberkan-tiga-strategi-besar-ekonomi-ke-ekonom

Tuesday, August 24, 2021

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Utama Investasi

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Utama Investasi, Bahlil Beberkan Alasannya

Selasa, 24 Agustus 2021 - 12:18 WIB


Gagasan green economy (ekonomi hijau) terus digaungkan pemerintah seiring reformasi regulasi di bidang investasi dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Sebuah gagasan yang diklaim mampu meningkatkan kesejahteraan dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia meyakini Indonesia mampu berkontribusi kepada dunia di sektor energi hijau. Hilirisasi green energi, kata dia, menjadi prioritas utama Kementerian Investasi yang dinilai sejalan dengan arah kebijakan negara saat ini.

"Karena itu, arah kebijakan negara di Kementerian Investasi di sektor apa saja yang menjadi prioritas sekarang adalah sektor hilirisasi, di mana, terjadi industri-industri yang berbasis pada energi hijau," ujar Bahlil dalam gelaran Indonesia Investment 2021, Selasa (24/8/2021).

Alasan Indonesia menjadikan green energi sebagai fokus utama dalam arah kebijakan investasinya karena sumber daya alam (SDA) di sektor energi yang melimpah, di mana ketersediaan atau cadangan nikel dunia terbesar berada di Indonesia dengan persentase sebanyak 24-25 persen, kemudian kobalt, mangan (nanganese), dan lithium.

Bahlil mencatat, sumber energi tersebut akan dimanfaatkan negara dalam produksi kendaraan mobil listrik berbasis baterai atau Electric Vehicle (EV). Untuk pabrik baterai sel (battery cell) kendaraan listrik mulai dibangun sejak akhir Juli kemarin dan akan mulai beroperasi dan berproduksi pada 2023 mendatang.

Pabrik battery cell tersebut merupakan proyek investasi antara konsorsium asal Korea Selatan LG dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), di mana pada tahap pertama, kapasitas produksinya akan mencapai 10 giga watt per hour.

"Saya yakinkan bahwa ketika industri baterai dibangun di Indonesia, maka keyakinan saya bahwa akan memberikan nilai tambah dan melahirkan biaya produksi yang sangat efisien," tuturnya.

Alasan lain adalah Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan (EBT) yang besar. Tercatat, ada 12,000 MW yang berada di Kayan, Kalimantan Utara. Kemudian, 23,000 MW untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

"Dan sekarang Indonesia lagi membanbung kawasan industri hijau di kawasan Kalimantan Utara dan membangun kawasan Industri yang dekat dengan lokasinya di Jawa Tengah yaitu Batang," paparnya.


Sumber :

https://ekbis.sindonews.com/read/520156/33/ekonomi-hijau-jadi-fokus-utama-investasi-bahlil-beberkan-alasannya-1629778095

Thursday, August 12, 2021

Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan

Demi Lingkungan, Seniman Sukoharjo Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan Menakjubkan

Kamis, 12 Agustus 2021 19:00

Dialah Sigit Purnomo Adi, yang memanfaatkan sampah plastik sebagai media menciptakan karya seninya. Disulapnya sampah plastik kemasan menjadi lukisan abstrak dengan komposisi warna yang menawan. Bukan tinta ataupun cat warna, melainkan sampah kemasan makanan ringan, kertas bungkus nasi, bungkus mie instan hingga korek api. Imajinasi Sigit yang begitu tinggi berhasil membingkai onggokan sampah yang dibenci menjadi seni yang diminati.

Sampah plastik selalu menjadi momok masyarakat, pengelolaan sampah yang buruk akan berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Mengingat, butuh waktu 500 hingga 1.000 tahun agar sampah plastik terurai secara alami. Beberapa karya Sigit juga memadukan limbah kain perca dan potongan kertas bekas.

Siapa sangka, lukisan yang tak wajar ini beberapa kali dipamerkan secara virtual. Beberapa negara asing seperti Jepang, Malaysia, Thailand hingga Eropa Timur bahkan suka dengan hasil karyanya. Hasil karyanya dipamerkan di galerinya sendiri bernama Galeri Makmur Art Project. Sigit yang seorang dosen beberapa kali juga turut ditunjuk sebagai kurator yang membawakan pameran seni rupa berskala Internasional.

Kegemarannya akan seni lukis abstrak selalu mengasah otaknya untuk menciptakan ide sekreatif mungkin. Ia juga pernah menggeluti lukisan mosaik dari limbah kertas dan kain. Dituangkannya sampah tersebut pada tubuh gitar listrik yang laku di Bali hingga Amerika.

Pada dasarnya, limbah sampah akan ditempelkan pada bidang media lukis. Sigit menggunakan lem panas agar seluruh permukaan plastik tertempel dengan sempurna. Terkadang sampah plastiklah yang dijadikan media lukisnya. Plastik kemasan mi instan dan makanan ringan disusun menjadi lembaran lebar. Hingga tinta dituangkan ke permukaan plasik. Warna kemasan yang khas berpadu dengan gurat tinta yang ia lukiskan.

Metode kedua ialah menggunakan sampah plastik benar-benar sebagai material penyusun warnanya. Cara ini memang lebih sulit karena sama sekali tidak menggunakan tinta sebagai teknik permainan warna. Keaslian warna kemasan plastik dipertahankan, dipadukan dengan warna plastik lainnya hingga menjadi sebuah tema lukisan.

Media lukisnya juga beragam, mulai dari bingkai, papan kayu, tempayan, hingga tungku arang. Tiap material sampah memiliki perbedaan perlakuan untuk dijadikan sebagai lukisan. Pasalnya, sang seniman harus memilih dan memilah baik itu warna, hingga bentuk sampah yang beragam. Sekali lagi, imajinasi menjadi pendongkrak jiwa kreatifnya.

Pemanfaatan barang bekas sebagai media melukis sudah digeluti Sigit sejak tahun 2011. Berangkat dari keprihatinannya akan pengelolaan sampah yang jauh dari kata sempurna. Daur ulang sampah amatlah penting demi keberlangsungan lingkungan. Sebagai seorang seniman, Sigit merepresentasikan secara langsung pada karyanya. Dengan memperhatikan sampah secara teliti agar keberadaanya tak mengotori lingkungan.

Tak butuh waktu yang lama untuk menciptakan satu buah karya seni lukis dari sampah plastik. Saat ini gaya lukisannya menjadi daya tarik tersendiri. Lebih lanjut Sigit mengemasnya ke dalam bingkaian elegan, yang akan membuat karya dari sampahnya dapat diminati di pasaran.

Galery lukisnya kerap kali dikunjungi sebagai referensi para pecinta seni lukis di Solo Raya. Mulai dari warga, pelajar, dan mahasiswa. Tentu saja dengan harapan agar mengedukasi tentang pengelolaan sampah yang lebih sehat terhadap keberlangsungan kebersihan lingkungan.


Sumber:

https://www.merdeka.com/jateng/demi-lingkungan-seniman-sukoharjo-sulap-sampah-plastik-jadi-lukisan-menakjubkan.html

Tuesday, April 20, 2021

Konsep Circular Economy

Apa itu konsep circular economy?

Penerapan konsep circular economy dinilai berpotensi dalam mendorong substitusi impor di sektor industri. Langkah strategis ini diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan dan daya saing manufaktur nasional.

Konsep circular economy adalah sebuah konsep yang tidak lagi sekedar mendesain model industri dengan prinsip zero waste, tetapi juga fokus terhadap faktor sosial dan penyediaan sumber daya maupun energi yang berkelanjutan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Eko S.A. Cahyanto.

 

Menggunakan pendekatan 5 R

Konsep circular economy dalam sektor industri dapat diaplikasikan dengan menggunakan pendekatan 5 R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, dan Repair). Konsep rekondisi dan remanufacturing pada barang modal, serta reuse pada bahan baku dan penolong ini diharapkan dapat mengurangi impor industri pengolahan.

Konsep circular economy erat kaitannya dengan salah satu kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah, yaitu industri hijau. Implementasi industri hijau adalah mengupayakan efisiensi dan efektivitas terhadap penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Pengembangan circular economy sendiri nantinya membawa peluang bagi sejumlah sektor manufaktur, antara lain industri elektronika, kemasan, kertas, tekstil, logam, peralatan rumah tangga, otomotif dan alat angkut lainnya, ban/karet, serta furnitur.

Dirjen KPAII mengungkapkan, potensi circular economy di sektor industri elektronika, misalnya timbulan e-waste global pada tahun 2016 sebesar 44,7 juta ton dan akan mencapai sebanyak 52,2 juta ton pada 2021. “Pada sampah elektronika, setidaknya terdapat 60 material berharga atas sampah barang elektronik kompleks, yang masih dapat didaur ulang dan digunakan kembali (memiliki nilai ekonomi),” paparnya.

Sementara itu, di industri tekstil, potongan kain dan sisa benang dapat didaur ulang menjadi serat tekstil yang dapat dipintal untuk perajutan atau menjadi benang open end, benang ukuran besar, dan mop yarn. Sedangkan, potensi circular economy di industri logam, yakni aluminium yang merupakan logam secara tidak terbatas dapat diproduksi dalam siklus daur ulang yang berulang. Saat ini, permintaan scrap aluminium di Indonesia sebesar 18.000 ton per bulan.


Berdampak positif pada industri daur ulang

Konsep circular economy juga berguna pada industri daur ulang, di antaranya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi sektor manufaktur dan menekan impor bahan baku. Potensi industri daur ulang plastik misalnya, memiliki kapasitas 1 juta ton per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 20.000 orang.

Selain itu, terdapat juga potensi di industri daur ulang kertas dari 48 perusahaan, dengan total kapasitas produksi mencapai 8,2 juta ton dan menyerap tenaga kerja sebanyak 125 ribu orang. Total kebutuhan kertas daur ulang sebesar 6,4 juta ton, di mana 50 persennya dipenuhi dari dalam negeri.

Kemudian, untuk industri daur ulang tekstil, saat ini terdapat sembilan perusahaan dengan kapasitas sebesar 113 ribu ton per tahun yang menggunakan bahan baku daur ulang sebanyak 76,7 ribu ton, dengan 36 persennya berasal dari impor. Saat ini utilisisasi produksinya mencapai 70 persen dan total jumlah tenaga kerja sebanyak 3.529 orang.

Sementara untuk potensi industri daur ulang besi baja, saat ini ada 60 perusahaan yang menggunakan bahan baku sebagian besar impor (70-90%) daur ulang (skrap) dengan kapasitas 9 juta ton per tahun. Utilitas produksi saat ini hanya 40 persen sehingga membutuhkan bahan baku daur ulang sebanyak 4 juta ton per tahun.


Sumber :

http://shiftindonesia.com/apa-itu-konsep-circular-economy/

Thursday, December 24, 2020

Bioeconomy in the Circular Economy

Bukan Messi, Ronaldo, Neymar! Mathieu Flamini Pesepakbola Terkaya di Bumi

Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Neymar da Silva Santos Junior boleh saja menjadi pesepakbola dengan bayaran terbesar di dunia. Tapi, mereka bukanlah yang terkaya. Predikat itu justru menjadi milik Mathieu Flamini. Kok bisa?

Flamini baru saja pensiun sebagai pemain pada 2019 setelah membela Getafe sepanjang musim 2018/2019. Getafe menjadi klub kelima gelandang berkebangsaan Prancis tersebut sepanjang karier profesional.

Tapi, selama ini orang lebih mengenal Flamini sebagai salah satu legenda Arsenal. Flamini bergabung dengan Arsenal pada 23 Juli 2004. The Gunners membayar Olympique Marseille 480.000 euro dan segera setelahnya menjalani debut pada 15 Agustus 2004 melawan Everton.

Selama bermain untuk The Gunners, Flamini dikenal sebagai tandem sehati Cesc Fabregas di lini tengah. Dia adalah orang yang membuat Gilberto Silva terlempar dari starting line-up. Flamini juga membantu Arsenal menjuarai Piala FA (2004/2005, 2013/2014, 2014/2015), Community Shield (2014), serta runner-up Liga Champions (2005/2006).

"Arsenal ada di hati saya dan mereka (fans) akan ada di hati saya selamanya. Saya akan selalu menjadi penggemar Arsenal dan pergi itu tidak mudah," kata Flamini, dilansir Sky Sports, saat meninggalkan Arsenal menuju AC Milan pada musim panas 2008.

Lima tahun di Milan, Flamini juga menjadi pemain penting di lini tengah. Dia bermain ketika I Rossoneri diperkuat David Beckham dan Filippo Inzaghi. Hasilnya, Flamini membantu Milan mendapatkan Scudetto 2010/2011.

Meski hanya mendapatkan 1 piala, keputusan bermain di Milan mengubah peruntungan Flamini seumur hidup. Di Italia, dia bertemu Pasquale Granata. Bekerjasama dengan University of Pisa, Granata dan Flamini mendirikan GF Biochemicals pada 2008. Nama perusahaan itu diambil dari "Granata" dan "Flamini".

"Saat itu, dia (Pasquale Granata) sudah tertarik dengan masalah perubahan iklim dan kami sangat ingin melakukan sesuatu. Jadi, setelah bertemu dengan seorang ilmuwan, kami bersama-sama mengembangkan bioteknologi ini," kata Flamini ketika berbicara dengan BBC pada 2016.

Apa GF Biochemicals? Itu adalah perusahaan biokimia. Mereka adalah organisasi pertama di dunia yang mampu memproduksi Asam Levulinat secara massal. Asam Levulinat atau yang dikenal sebagai 4-oxopentanoic adalah senyawa organik dengan rumus kimia CH3C(O)CH2CH2CO2H.

Asam Levulinat diklasifikasikan sebagai asam keto. Padatan kristal putih ini larut dalam air dan pelarut organik polar. Ini berasal dari degradasi selulosa dan merupakan prekursor potensial untuk biofuel, seperti etil levulinat. Senyawa ini pertama kali dibuat oleh ahli kimia Belanda, Gerardus Johannes Mulder, dengan memanaskan fruktosa dan asam klorida. Tapi,  Asam Levulinat belum mencapai penggunaan komersial dalam volume yang signifikan.

Produksi komersial pertama Asam Levulinat dimulai oleh A.E. Statey pada 1940-an. Lalu, pada 1953, Quaker Oats mengembangkan proses berkelanjutan untuk produksi Asam Levulinat. Selanjutnya, pada 1956 diidentifikasi sebagai bahan kimia platform dengan potensi tinggi. Kemudian, pada 2004 Departemen Energi AS (US DoE) mengidentifikasi Asam Levulinat sebagai salah satu dari 12 bahan kimia platform potensial dalam konsep biorefinery.

Banyak konsep untuk produksi Asam Levulinat secara komersial didasarkan pada teknologi asam kuat. Proses dilakukan secara terus menerus pada tekanan dan suhu tinggi.

Lignoselulosa adalah bahan awal yang murah. Asam levulinat dipisahkan dari katalis asam mineral dengan ekstraksi. Asam levulinat dimurnikan dengan destilasi. GF Biochemicals memulai produksi komersial Asam Levulinat pada 2015 dengan skala produksi 2.000 MT/a di Caserta, Italia.

Asam Levulinat digunakan sebagai prekursor untuk obat-obatan, plasticizer, dan berbagai zat aditif lainnya. Asam Levulinat juga digunakan di industri kosmetik dan parfum. Senyawa ini juga mulai banyak digunakan di industri rokok untuk mengurangi kadang nikotin dalam tembakau.

Dengan Asam Levulinat, industri akan semakin ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Sehingga, pada 2017, GF Biochemicals mengumumkan membangun penyulingan bioteknologi selulosa di AS, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi lokal, American Process.

"Ini akan membantu mengurangi pencemaran udara. Asam ini memiliki potensi kuat karena bereaksi persis seperti minyak bumi, yang berarti dapat menggantikan bahan bakar minyak," ucap Flamini.

Flamini juga merupakan bagian dari tim yang menciptakan BIOCIRCE (Bioeconomy in the Circular economy). Itu gelar master pertama di Eropa yang didedikasikan untuk mempromosikan pendidikan bioekonomi. Ini diluncurkan bekerja sama dengan salah satu bank di Italia, Intesa Sanpaolo, Novamont (produsen bioplastik), dan University of Napoli

Selain itu, Flamini juga ikut mendirikan The BioJournal. Itu adalah majalah digital pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya untuk dunia bioteknologi dan kelestarian lingkungan, yang dikelola oleh jurnalis lingkungan Italia, Mario Bonaccorso.

"Saya sangat beruntung. Untuk operasi sehari-hari kami memiliki tim yang sangat kuat di lapangan yang berasal dari perusahaan kimia yang sangat besar. Kami punya 80 pegawai yang langsung bekerja untuk kami dan 400 lainnya terkait dengan perusahaan kami. Saya lebih fokus pada strategi perusahaan," ungkap Flamini.

Lalu, berapa keuntungan Flamini dan perusahaannya? Analis menyebut angka 20 miliar pounds! Bahkan, ada yang menyatakan Flamini dan partnernya seperti Mark Zuckerberg, Jack Ma, atau Bill Gates di dunia bioteknologi.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Mathieu Flamini adalah USD 14 miliar atau sekitar Rp 198,7 triliun. Wow.

"Saya ingin memperjelas kepada anda bahwa prioritas saya adalah sepakbola. Saya ingin dikenal sebagai pesepakbola karena itu cita-cita saya sejak kecil. Tapi, seperti yang bisa anda bayangkan, seorang pemain sepakbola boleh memiliki minat lain di luar lapangan bukan? Dan, minat saya adalah bioekonomi," pungkas pria kelahiran Marseille, 7 Maret 1984, itu.


Sumber :

https://www.libero.id/detail/3364/bukan-messi-ronaldo-neymar-mathieu-flamini-pesepakbola-terkaya-di-bumi.html

https://www.bioeconomy.fi/bioeconomy-more-than-circular-economy/

Tuesday, November 24, 2020

Pemimpin Dunia Dorong Penerapan Circular Economy

Pemimpin Dunia Harus Dorong Penerapan Circular Economy

27 Agu 2019, 10:46 WIB

Siam Cement Group (SCG) menggelar forum Sustainable Development (SD) Symposium yang ke 10 kali pada pekan ini. Mengangkat tema “Circular Economy, Collaboration for Action", pertemuan ini bertujuan mendorong kolaborasi dan jejaring antara sektor bisnis, publik, dan pemerintah untuk mendukung pembangunan keberlanjutan yang lebih baik bagi dunia.

Perwakilan dari Indonesia bersama dengan jajaran otoritas global, para pemimpin bisnis dan eksekutif dari berbagai negara, diundang untuk bertukar pikiran dan pengalaman seputar Circular Economy.

“Kami berusaha membangun kesadaran para pemimpin dunia untuk melihat dampak model industri ekstraktif take-make-waste. Ekonomi sirkular bertujuan untuk mendefinisikan kembali pertumbuhan, dan fokus pada manfaat positif yang lebih luas. Banyak perusahaan, telah mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk produk mereka," kata Presiden dan CEO SCG Roongrote Rangsiyopash di Bangkok, seperti ditulis Selasa (26/8/2019).


Baru 2 Kota di Indonesia yang Terapkan Circular Economy

Ia pun mencontohkan, Timberland telah bermitra dengan Omni United, produsen ban, untuk memproduksi sepatu menggunakan ban daur ulang. Sepatu merupakan salah satu pengguna bahan baku karet terbesar.

Roongrote mengatakan, tahun ini pihaknya berfokus mendorong sektor bisnis menerapkan konsep Circular Economy. “berharap para pemimpin akan mendapatkan perspektif baru dan terinspirasi untuk mengadopsi konsep ini,” ujarnya

Indonesia ambil bagian dalam sesi diskusi panel yang menyoroti kerjasama untuk ekonomi sirkular dalam SD Symposium 10 Years. Indonesia seperti halnya Thailand sebagai bagian dari ASEAN, memiliki karakteristik yang mirip dan menantang.

“SCG memandang ekonomi sirkular kunci untuk mencapai tujuan perkembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengundang para pemimpin pemimpin, termasuk dari Indonesia, untuk sama-sama angkat bicara dalam forum SD Symposium. Kami percaya penerapan konsep ekonomi sirkular mampu meningkatkan daya saing,” ungkap Roongrote.

Jika penghematan sumber daya, lanjut Roongrote, bisa dipraktikkan sesuai konsep ekonomi sirkular, maka secara efektif dapat membantu mengurangi biaya operasi perusahaan. “Lebih luas lagi, Circular Economy juga dapat membantu mengurangi emisi karbon, yang mengarah pada peningkatan dan membuat kehidupan yang lebih baik,” ia menandaskan.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4047826/pemimpin-dunia-harus-dorong-penerapan-circular-economy

Tuesday, November 17, 2020

Prinsip Pangan Berkelanjutan

5 Cara Terapkan Prinsip 'Pangan Berkelanjutan'

23/04/2018

Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/cyano66)

Semarang, CNN Indonesia -- Sistem 'Pangan Berkelanjutan' merupakan gerakan global yang berupaya untuk menjamin kelangsungan makanan yang menyehatkan tapi tetap melestarikan lingkungan. Konsep ini dinilai penting demi menjaga keberlangsungan pangan. Setiap orang diharapkan dapat menerapkan sistem ketahanan pangan dalam konsumsi makanan sehari-hari.

"Peran konsumen yaitu setiap orang sangat dibutuhkan untuk perubahan dalam menerapkan sistem ini. Pendukung utama dari kegiatan ini adalah konsumen," kata pakar gizi dan ketahanan pangan Profesor Ahmad Sulaeman dalam rangkaian acara Jelajah Gizi Nutricia di Semarang, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu. 

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini membagikan beberapa cara mudah yang bisa diterapkan masyarakat untuk ikut serta menjalankan sistem pangan berkelanjutan.


1. Tidak menyisakan makanan

Masyarakat modern ternyata banyak menyisakan makanan. Sisa makanan ini menimbulkan kerugian besar. Laporan WHO menyebut setiap tahunnya terdapat pembuangan makanan senilai US$750 miliar di seluruh dunia.

Agar makanan tak terbuang Ahmad menyarankan agar masyarakat membeli makanan dan mengambil porsi makanan secukupnya.


2. Membeli produk organik

Produk organik diproduksi dengan memperhatikan kelestarian lingkungan mulai dari penggemburan tanah, menanam, panen, pengemasan, hingga pemasaran. Produk organik ini juga membatasi penggunaan bahan kimia.

Ahmad menyarankan agar masyarakat mengutamakan untuk membeli bahan makanan organik dari petani lokal. Bahan makanan ini juga dapat diketahui dari logo sertifikat organik atau fairtrade di kemasan bahan makanan.

"Utamakan dari petani lokal. Dengan begitu, kita ikut mendukung ekonomi mereka. Pangan berkelanjutan juga memiliki tujuan ekonomi untuk petani lokal," tutur Ahmad.


3. Memilih ikan dan daging yang tepat

Untuk produk hewani, masyarakat mesti jeli memilih bahan makanan yang diproduksi tanpa bahan kimia atau merusak lingkungan. Untuk hasil laut seperti ikan, Ahmad meminta masyarakat untuk memilih dan membeli ikan yang ditangkap dengan cara yang baik seperti tidak dibom. Begitupun dengan produk daging, sebaiknya memilih daging yang diternak tanpa menggunakan suntik hormon karena tak baik untuk kesehatan.


4. Makan dengan nutrisi lengkap

Konsep pangan berkelanjutan juga memperhatikan kesehatan. Oleh karena itu, makanan yang bernutrisi lengkap mulai dari karbohidrat, protein, lemak, serat, dan vitamin penting bagi tubuh. Ahmad juga menyarankan agar masyarakat dapat mengonsumsi nutrsi yang seimbang dan mengurangi konsumsi makanan olahan cepat saji dan daging.

"Daging penting, tapi jangan berlebihan karena terkait penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan jantung," ujar Ahmad.


5. Membiasakan diri membaca label

Label makanan olahan penting untuk mengetahui informasi nilai gizi yang terkandung dalam produk tersebut. Label ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah kalori dan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Nilai gizi ini penting bagi kesehatan. Oleh karena itu, setiap orang diminta untuk mengetahui kebutuhan kalori dan memenuhinya tanpa kelebihan atau kekurangan yang berlebih. 


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180423155508-262-292888/5-cara-terapkan-prinsip-pangan-berkelanjutan

Thursday, November 12, 2020

Circular Economy Pengolahan Limbah Elektronik

Pengolahan Limbah Elektronik Perlu Didorong Untuk Circular Economy

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Berdasarkan data organisasi StEP Initiative, diperkirakan perangkat elektronik yang beredar di pasar Indonesia pada 2012 diperkirakan mencapai 1.361.000 ton. Dalam kurun dua tahun, tercatat bahwa perangkat yang masih digunakan berkisar 616.000 ton.

Sisa 745 kilo ton atau 54,73% perangkat elektronik berubah menjadi limbah elektronik. Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia Gufron Mahmud menjelaskan bahwa limbah perangkat elektronik dapat berbahaya apabila tidak diolah dengan benar.

Menurut Gufron, pengelolaan limbah yang buruk dapat membahayakan manusia dan berdampak pada lingkungan. Selain itu, dampaknya pun bisa berlangsung lama dan memengaruhi generasi-generasi selanjutnya.

"Data pada 2015 menunjukkan limbah TV sekitar 106.000 ton dan yang terolah baru sekitar 74.000 ton, limbah PC [komputer] 24 ribu ton yang terolah sekitar 17.000 ton, [jumlah yang diolah] harus ditingkatkan. Berdasarkan data ITU jumlah limbah elektronik global pun meningkat," ujar Gufron pada Kamis (21/02/2019).

Gufron merujuk pada data International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations University (UNU), di mana terjadi peningkatan limbah elektronik sebanyak 3,3 juta metrik ton dalam dua tahun. Pada 2014 jumlahnya sebesar 41,4 juta metrik ton dan meningkat menjadi 44,7 juta metrik ton pada 2016.

Peningkatan jumlah limbah elektronik menurut Gufron perlu diatasi dengan peningkatan serapan dan pengolahan limbah tersebut. Selain pemahaman masyarakat dalam memperlakukan sampah dan limbah elektronik, peran pemerintah dalam mengembangkan industri pengolahan limbah pun dinilai penitng.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menuturkan pihaknya terus mendorong investasi di sektor industri pengolahan limbah.

Menurutnya, kebutuhan investasi sektor limbah industri merupakan salah satu dari agenda prioritas yang dipilih untuk mengimplementasikan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Pengolahan limbah tersebut kemudian tidak hanya mencakup sektor prioritas pengembangan industri 4.0, tetapi mencakup seluruh industri.

"Salah satu langkah strategis di dalam 10 agenda prioritas roadmap tersebut, yakni mengakomodasi standar-standar keberlanjutan," ujar Ngakan.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/257/891881/pengolahan-limbah-elektronik-perlu-didorong-untuk-circular-economy

Sumber foto :

https://www.britannica.com/explore/savingearth/electronic-waste

Tuesday, September 29, 2020

Archisen a Future High-tech Farming

High tech farming means high collaboration—here's why

Published on 3 Jul 2020

In resource-scarce cities like Singapore, it has become increasingly salient to find new ways to grow food within an urban landscape. A new breed of urban farms like Archisen are envisioning a future built on high-tech farming, which will enable farmers to grow food indoors – in office buildings, for instance.

“Real estate is very much at a premium here, and we don't have the luxury of land to conduct agriculture like other cities,” explains founder Sven Yeo. “So Singapore has to look into urban farming to maintain food security.”

By using technology such as climate control and data analytics, Archisen can grow lettuce, basil and other crops indoors using vertical systems. Various aspects of the plants’ growth and environment are carefully monitored and controlled, for fresher and more nutritious produce. “The result is improved productivity, higher crop quality and a reduction of labour,” adds Mr Yeo. Fresh produce grown at Archisen’s urban farm are currently sold online, under the brand Just Produce, in a variety of salad boxes which include crops such as lettuce, kale, sorrel and more.

Archisen’s vision is in line with plans for a new Agri-Food Innovation Park (AFIP) in Sungei Kadut, which will be rejuvenated into an eco-district that encourages the growth of budding industries such as agri-tech. At AFIP, agri-tech companies can gather to share resources, and collaborate on research and development to innovate new ways to produce food.

Sharing of services between these companies could be a gamechanger, especially in areas where it “doesn’t make sense for individual farms to invest in”, says Mr Yeo. “For instance, many farms here don’t have their own seed supply and have to purchase these from overseas suppliers. The process can be expensive because you need to buy a certificate to show that shipments are free from harmful pests and plant diseases. By pooling together funds and buying in bulk, firms could lower such costs.”

Additionally, he sees the potential for more collaboration between urban farms in Singapore. To date, collaboration has been minimal as the systems and processes used by various farms are not necessarily compatible.

But by being part of a larger ecosystem such as Sungei Kadut, farms could more easily share resources and services, such as diagnostic capabilities. At present, Mr Yeo notes that many farms are unequipped with the expertise to diagnose crop infestation problems or look into the nutritional profile of their produce. Diagnostic lab services to investigate such issues may also be too expensive for a single farm. However, such services are financially sustainable if shared by various farms.

Another possible synergy is coordinating key activities such as transportation to save costs. “For example, one farmer is growing microgreens and the other leafy greens, they share a common customer and are not direct competitors. Therefore, they could aggregate their produce and simplify logistics.”

Archisen itself has much to bring to the table when the eco-district comes to fruition. Aside from farming, the firm offers solutions in the fields of engineering and science.

For instance, the team employs skilled mechanical, electrical and automation engineers. These engineers look at factors like structure, ergonomics, ventilation and ways to maximise energy usage, to ensure that farms operate efficiently.

Archisen has also established numerous partnerships with local and overseas partners to further research & development (R&D).

One such partnership was a recent data science study with A*STAR that explored yield predictions of indoor farms. The team also engages biologists to study the physiology of the plants themselves.

“Food science is important to us too − we look at ways to increase the shelf life of our products and reduce food contamination,” adds Mr Yeo. “Our goal is to maintain the freshness of food for as long as possible, because it eventually goes to the food supply chain.”

Archisen is also exploring the idea of growing fruit crops in addition to its salad varieties. The project is currently in its research phase, and Mr Yeo admits that there are numerous technical challenges to consider.

As plants take months to produce fruit, longer experimentation periods are needed to determine if a particular climate setting is viable for crop growth. “Once the R&D improves and we’re confident that growth is viable, we will be able to launch the product,” he says.

All these efforts point back to Archisen’s main mission. “Beyond demonstrating that a farm is profitable, we’re demonstrating that it can be investable,” says Mr Yeo. He stresses that Archisen isn't merely investing in technology and research for academic purposes, but aims to create a commercially viable farming business in the long run.

“We’re striving to establish the largest network of urban farms in Asia, and we need to have an attractive value proposition to prospective partners and investors to work with us,” he says. “Then we’ll be able to build more farms to address Singapore's food security concerns.”


Sumber :

https://estates.jtc.gov.sg/sked/stories/high-tech-farming-means-high-collaboration-heres-why

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/695146784430522/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODYyODQyNDA5MzU/

Thursday, September 17, 2020

Op Shops are So Much More Than Second-Hand Clothing

15 BEST OP SHOPS IN MELBOURNE FOR UNIQUE FINDS

 


We all like a bargain, but op shops are so much more than second-hand clothing at reduced prices. They are popular opportunity stores where you can find donated goods, vintage pre-loved fashion, homeware, or charming pieces of bric-a-brac. Visiting these establishments is sort of like opening a treasure chest, and you never know what you’ll find. From rare period garments and unusual accessories to quirky or chic second-hand items, all at a great value. The concept is also appealing because you can feel good about your purchases, knowing you are contributing to a charitable cause or encouraging a more green approach to fashion. Melbourne is famous for these stores, and we’ve found some of the best.


1. Vintage Sole

Vintage Sole believes that you don’t have to spend a lot of money to look good, and fashion can be both affordable and sustainable. The company first opened in 2005 and has since expanded into three Melbourne stores located in Fitzroy, Melbourne CBD, and Windsor. Shopping is even more convenient thanks to the addition of the online site. Customers can browse a wide variety of garments and brands and will likely come across a vintage find. They also follow contemporary trends and stock prestigious pre-owned brands like Tommy Hilfiger and Calvin Klein.


2. RetroStar Vintage Clothing

Band T-shirts, boots, and great jackets — like the Champion 1996 USA Olympics Spray Jacket — are some of the things you can expect to find during a visit to RetroStar Vintage Clothing. Located in the heritage Nicholas Building in Swanston Street Melbourne, RetroStar is a favorite for garments and accessories from the past. It has become the largest vintage store in Australia and has been in operation for almost two decades. The shop specializes in items from the 1940s to the 1990s and has a fantastic eclectic selection.


3. Camberwell Market

The Camberwell Sunday Market provides an excellent opportunity to pick up or sell second-hand goods and unusual finds. Held every Sunday morning, the market attracts people who want to purchase something different, but also want the thrill of being able to search the stores until they find that one, rare piece. All this, while being entertained by the buskers, who think of the location as their stage. Records, vintage clothes, and buttons are all found here, but the real appeal of Camberwell Sunday Market is that you could uncover a treasure. An interesting example is a story about what happened in 2002. A shopper purchased dolls from the Pacific islands, only to find out that they were rare items that would later fetch an impressive sum.


4. Shag

If you think of your clothes as bits of treasure, then you’ll fit in well with the people over at Shag. The founders of the store view themselves as being hunters and dealers of fine, wearable treasure. Shag was established in 1996 and remains in business today. There are two locations; Windsor and Collingwood, and the op shop source its items both locally and internationally. They bring consumers unique and colorful pieces, and sequinned jackets and bold beaded accessories are just some of the things you may discover.


5. Chapel Street Bazaar

Chapel Street Bazaar is located on Chapel Street, and it is a one-stop-shop for lovers of vintage, retro, and rare goods. It has over 80 stallholders, each passionate about selling their unique products. Visitors will find a wide variety of products, from the standard second-hand clothing and furniture; to records, movie posters, autographs, and advertising memorabilia. You never really know what you will find on a visit to the bazaar because they also stock taxidermy, photographic equipment, and toys.


6. Hunter Gatherer

The Hunter Gatherer stores have established themselves in the second-hand market, and are known and trusted by their consumers. HG, as the company is often referred to, operates under the Brotherhood of St Laurence, an organization that works to alleviate poverty across Australia. The shops are a fantastic source of interesting items, whether that be clothing and accessories or records and books. All items have been hand-picked, and there is a wide variety of things to choose from, making HG the perfect place to spend a morning searching for vintage pieces.


7. Storehouse Thrift

Storehouse Thrift works with Teen Challenge International Victoria, a charity that aims to give hope to those struggling with addiction. In operation since 2006, the establishment has continued to grow steadily with several locations in the city. Perhaps one of the most appealing things about this op shop is that 100 percent of the proceeds go towards supporting Teen Challenge International Victoria. Consumers can find seasonal trends and unusual pieces, and their purchase is also helping a good cause.


8. Secondo

Located in South Yarra, Secondo is considered one of Melbourne’s top second-hand boutiques for second-hand garments and accessories. The store stocks many designer brands, including Balmain, Chanel, Versace, and Zimmerman, and provides the opportunity for fashion lovers to find pre-loved items at bargain prices. Need another reason to love Secondo? They support the Prahran Mission and Siwali Community School for disadvantaged children in West Jakarta, Indonesia. Shoppers will also be pleased to know that the boutique is open every day and has a variety of high-quality items.


9. Sacred Heart Mission

The Sacred Heart Mission has 12 op shops, each of which are dedicated to working with local businesses and residents. Their business concept is quite simple; they want to raise funds and awareness for their work, but also promote a more green approach to shopping. Their stores in Melbourne contribute to 30 percent of their funds and are integral in aiding the homeless by providing care and support. You can find clothing, trinkets, and a wide variety of unusual accessories. You can also do your part by donating saleable goods or volunteering.


10. Red Cross Op Shops

When cleaning out your closet, you may come across high-quality items that you don’t wear anymore. Instead of binning them, consider donating to the Red Cross. These items will find their way to one of the many Red Cross op shop locations in the city, which are run by dedicated volunteers. At one of these stores, you can find anything from second-hand garments and vintage pieces to quirky homewares. Not only does shopping here encourage sustainable practices, but the profits made from the op shops aid their causes, and furthers their ultimate vision of human dignity, safety, and wellbeing for all.


11. Salvos Stores

Salvos Stores are the retail arm of the Salvation Army and are located at hundreds of places across Australia. No two locations will stock the same pieces, so depending on where you visit, you can find a wide range of items. Finds include furniture and homeware, but also second-hand clothing and bric-a-brac. It’s easy to find a Salvos near you with their store locator, but some favorites establishments include the Abbotsford and Fitzroy spots. When purchasing from one of these retail shops, 100 percent of the profits help fund the charity’s various programs. The stores also have an environmental mindset, encouraging efforts to help minimize waste and greenhouse gas emissions.


12. Vinnies Centres

The Vinnies Centres pride themselves on being a place where customers can purchase pre-owned goods at reasonable prices. Part of the St Vincent de Paul Society’s, there are 650 locations across Australia, and 100 in Victoria, making it easy to find one in your area. As for what you can discover during a visit to a local Vinnies, expect bric-a-brac, pre-loved clothing, and accessories, and even furniture. Purchases and donations to the stores will further their causes and help those in need. Vinnies relies on the generosity of individuals who donate items, and customers can also do their part by shopping here.


13. Family Life Opportunity Shops

You could be searching for just about anything and are likely to find it in an op shop. Family Life stocks books, clothing, furniture, and other homewares, and there’s no shortage of treasures to find. Visitors can discover, among other things, superb outfits and designer labels at a massively reduced cost, or snap up a bargain on leisurewear. There are five ‘social enterprise opportunity shops’ that can be found across the Bayside area of Melbourne. The stores have close ties with the community which it serves. The purchase of these products goes towards a good cause, as Family Life helps families in need. They also have a work program in place which trains individuals, allowing them to gain the skills and experience they need to secure jobs.


14. Shappere

Shappere is a must-visit op shop for fashion enthusiasts! The store describes itself as being filled with wearable vintage and is open from Monday to Friday. It’s the perfect place for style-lovers or those who want to add something different and fun to their wardrobe. Items are sourced from multiple locations across the globe, and their highlights include an impressive range of boots. Visitors will also find clothing for both men and women, an excellent selection of bags, leather belts, and shirts that are bold and bright!


15. Vintage Garage

Smith Street in Collingwood is home to Vintage Garage, and it’s a real gem! Perhaps a marketplace would be a more accurate description because this unique establishment has more than 40 specialist dealers, each of whom is passionate and knowledgable about what they’re selling. Vintage Garage has something for everyone and to suit every taste. If you want edgy streetwear, or something funky to wear to a festival, they’ve got it. If records and memorabilia, or unique homewares and signages for your house are more to your liking, this is still the place to go.


Sumber :

https://www.thetrendspotter.net/op-shops-in-melbourne/

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/292394208693037/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODY0NDc1NzQyNTI/

Tuesday, September 15, 2020

BENEFITS OF A CLOSED LOOP SUPPLY CHAIN

WHAT ARE THE BENEFITS OF A CLOSED LOOP SUPPLY CHAIN?

Supply Chain Sustainability/Circular Economy

One of the benefits of a closed loop supply chain is money saved through reuse
Sustainability and environmentalism have transformed from topics at the fringes of society to mainstream concerns that affect consumers’ daily lives and purchasing decisions. Recyclable packaging and environmentally friendly certifications are found on many products. More and more customers look for these marks when shopping for food and packaged goods. However, there’s a clear consensus that just using recyclable materials in packaging is not enough. Increasingly, closed loop supply chains, which reuse all of their materials as-is, recycle them into new products, and otherwise find ways to prevent waste are being held up as the logistics model of the future.

The most important benefit of a closed loop supply chain is the reduction of waste. However, the upfront design work to create reusable or completely recyclable packaging, the work of tracking it for reuse, and incentivizing its return can involve a significant cost. As a result, companies are looking for direct financial benefits to justify the cost and effort of making the switch to a closed loop supply chain.


The Financial Benefits of Closed Loop Supply Chains

Recycling plastic to keep it in the supply chainIn truth, the benefits of a closed loop supply chain are indirect. Transitioning to a closed loop supply chain only translates into direct financial benefits to a company over the long term. Complicating matters further is the fact that closing the loop can’t be done quickly. It takes years of research to develop a circular business model, and further years of dedicated effort to fully close the loop and create a zero-waste supply chain. In fact, most companies haven’t yet reached the official zero waste mark at which 90 percent of materials are diverted from landfills. Nevertheless, a closed loop supply chain is worth pursuing due to the following benefits:

Reduced Waste: Efficiencies save money on every operation. Redesigning packaging to reduce the amount of packaging material used for each product can save money, and, if the overall weight is reduced, can also help save on fuel costs. If the redesign makes packaging easier to recycle, some material costs can be recouped as well.

Perception: The wider public is concerned about the environment and becoming increasingly so every day. Consumers are willing to pay more for environmentally friendly products. In fact, the public’s perception of the effort to go green is one of the most immediate benefits of working towards a closed loop supply chain and can boost sales, helping to offset many of the costs of initiating recycling and reusability initiatives.

Customer Loyalty: Sincere ongoing efforts to improve recyclability and material reusability can result in loyalty to a brand. This can be reinforced by refill initiatives in which consumers refill reusable packaging instead of discarding it after a single use. A truly closed loop supply chain for consumer package products resembles a product-as-a-service (PaaS) model, similar to digital marketplaces, in which customers are tied to a certain operating system and its ecosystem of applications.

Shaping Regulation: Companies that work towards a closed loop supply chain ahead of any regulatory mandate that they do so pioneer the methodologies that will be used in the future. This gives them an advantage in that they can work with regulators to help shape future regulations and can provide their services to help other companies with compliance when regulations are enacted.
Being “ahead” of other businesses can bolster a company’s reputation, enhancing customer perceptions and building brand loyalty.

Perhaps the biggest of these advantages is the opportunity to be ahead of regulations and to be able to provide the model that shapes those regulations. Being “ahead” of other businesses this way can, in turn, bolster a company’s reputation, enhancing customer perceptions and building brand loyalty. Being ahead of the crowd is not an easy option though. It requires advanced planning and a degree of trial and error.


Building a Closed Loop Supply Chain

Reusing packaging helps create a closed loop supply chainConsumer durables such as appliances and electronics are more often recycled than other goods because the metals and rare earths that go into these devices retain much of their value. This provides some incentive for waste management companies and recyclers to pull these out of the waste stream and tear them down for recycling. However, even with these incentives, only a small percentage of electronics and appliances are recycled. In the consumer packaged goods market, where the monetary value of individual packaging is minimal and the incentive for recycling it is nonexistent, creating a closed loop supply chain is much more difficult.


Building a closed loop supply chain involves incentivizing the recycling of packaging.

Supply chain management within the circular economy is still primarily concerned with reducing, reusing, or recycling consumer packaging, and most consumer packaging is already recyclable to some degree. Part of the issue is that very few consumers make the effort to put it into the recycling stream and it instead ends up in a landfill. At a minimum, building a closed loop supply chain involves incentivizing the recycling of packaging. However, redesigning packaging to be biodegradable or easier to recycle is likely to be more effective and less costly over the long term.

Another option being tested by some of the world’s largest consumer brands is the PaaS model. Instead of purchasing a product, consuming it, and discarding the packaging, consumers instead participate in a refilling service. They receive a container that is meant to be saved and either take it to a retailer to have it refilled or use a service that drops off new, full containers while reclaiming empty ones for washing, sanitization, and refilling. This is a fundamental change in the way that consumer packaged goods do business. However, it does secure a more consistent market share over the long term as the consumer is a part of a product ecosystem that functions similarly to an online product library.

Plastic pallet pooling is one example of a closed loop supply chainAll of these methods for developing a closed loop system take time. However, companies can begin to reap the benefits of a closed loop supply chain model by choosing a pallet pooling service. Pallet pooling companies use a closed loop system to rent pallets to their clients. While pooled wood pallets will eventually wear out and end up in a landfill, plastic pallet pooling programs that use recyclable HDPE plastic pallets are true closed loops. In this cradle-to-cradle model, every plastic pallet can be recycled directly into another plastic pallet after it reaches the end of its long lifespan.


Sumber :
https://igps.net/blog/2019/09/06/what-are-the-benefits-of-a-closed-loop-supply-chain/

Sunday, September 13, 2020

Circular Economy and Effective Waste Management

The Role of Chemical Recycling in a Circular Economy and Effective Waste Management

November 18, 2019 | Jim Lane

By Zoltan Kish, Ph.D., Lee Enterprises Consulting, Inc.


The increasing amount of waste is one of the most challenging problems facing the World, which creates enormous environmental problems. According to the World Bank, Canada produces the most waste per capita in the world. Additionally, Canada recycles just 9 percent of its plastics. Banning foreign waste import by China and other countries has not helped the waste recycling business in Canada. In addition, shifting the recycling program to the producer responsibility by the Ontario Government, will reduce further plastic waste recycling and will increase the plastic pollution. A ban of certain single-use plastic products (e.g., straws, bags) may not solve the spread of plastic litter and environmental problems. Without more effective and sustainable ways to manage produced waste, more and more waste will end up in landfills polluting our land, water, and air.

At the same time, we have a tremendous business opportunity to convert waste into usable sustainable products. According to a market study report prepared by Market Insights Reports, the smart waste management market was valued at $1.41 billion (USD) in 2018 and is expected to reach $5.19 billion by 2024, registering a compound annual growth rate (CAGR) of 25.68%, during the forecast period of 2019-2024.

Contaminated and mixed waste products (e.g., plastic, paper, industrial waste, medical waste, MSW) are challenging to recycle by mechanical/physical processing. Especially, traditional plastic waste recycling has difficulties and limitations. Mechanical sorting is not effective for mixed plastic waste. Thousands of different types of plastic are manufactured by combinations of different resin types, dyes, and additives. In addition, the plastic material quality is very susceptible to contamination. Even carefully selected plastic materials can only be recycled limited times in similar products since it degrades every time after reheating. Therefore, most plastic products are downcycled into items of reduced value, such as textiles, toys or fibres, and eventually, end up in landfills and water resources creating tremendous environmental problems. Replacing plastics with alternative materials, such as glass and metals would cost more to manufacture due to the higher energy and other resource consumption. The problem is the way of the current waste management operating.


On the other hand, waste plastic can be recycled into high-value products using advanced and cost-effective waste conversion technologies. The circular economy is not only based on simple reusing waste products. The purpose the recycling is to redesign and convert waste into forms retaining as high value as possible in a circular economy. We need sustainable and effective waste management to protect our environment and develop a working circular economy. In a circular economy, chemical recycling can play a pivotal role in waste conversion into usable materials and clean energy.


Chemical recycling as waste recycling using effective waste conversion technology is essential for a working circular economy. Illinois and Ohio have become the most recent states to pass laws making it easier to build chemical recycling facilities, regulating them as recycling operations rather than waste processing plants. Canadian Government could also consider that as a tool to develop a new approach – “Chemical Recycling” in waste management. Regrettably, Canada and other G7 countries are planning to use waste-to-energy incineration as part of a plastic pollution solution. However, incineration is a very costly and inefficient way for waste conversion into energy and generating highly toxic and carcinogenic pollutants.

The environmental impact of waste can be minimized by proper waste management applying advanced waste conversion technologies. The government should address the demand to solve the incredible waste accumulation problem by developing appropriate tools for waste management challenges and supporting the development of effective waste conversion technologies. We should focus more on waste diversion from landfills and water resources, and the conversion of waste into high-value products. Garbage can be converted into high-value clean energy and sustainable products using advanced and cost-effective waste conversion technologies, such as anaerobic digestion, pyrolysis, gasification, plasma-enhanced gasification, and steam gasification. Therefore, the circular economy should include the use of effective waste conversion technologies to produce high-value usable products. Perspectives of different waste conversion technologies are provided in the article – “Perspectives on Waste-to-Energy Technologies”.

Chemical Recycling should be based on reliable and cost-effective waste conversion technologies. Therefore, it is very important to do technical due diligence before investing and applying new technology to prevent wasting time and money. Regrettably, investors often do not take the time to evaluate the proposed technology and, therefore, the underlying scientific/technological basis of the business is often neglected in the CleanTech sectors. As a result of this, enormous and overpriced facilities were built producing not profitable products. In addition to financial data and management of the company, the underlying scientific/technology base of the applied technology should be considered. Science is supposed to be an essential pillar of a successful and sustainable business. Consequently, it is very important to properly establish the underlying scientific/technology base for applied technologies to build a successful waste conversion plant. The success of waste conversion technology applications depends on the following main factors:

The underlying scientific/technological basis of the process
Implementation of effective scrubbing systems to remove contaminants
Process modelling
Mass & Energy balance
Proper engineering design
Financial data based on mass & energy balance
Waste feedstock evaluation, preparation and availability
Waste energy conversion efficiency
Quantity and quality of the produced products
Applications of the products
Cost-effectiveness of the project

As a result of many years of development, a unique and cost-effective waste convection technology has been developed and tested at the pre-commercial waste conversion facility.  The developed technology is based on a steam gasification process in combination with a reliable scrubbing/cleaning system. The steam gasification technology represents a potential alternative to the traditional treatments of waste feedstocks (e.g. plastic, biomass, MSW, sewage sludge, industrial by-products) to produce high-quality syngas, which contains no noxious oxides and higher hydrogen concentration than products produced by traditional gasification. The chemistry is different due to the high concentration of steam as a reactant and the total exclusion of air and, therefore, oxygen from the steam reformation process. The proposed technology using an indirectly heated kiln in combination with a reliable and effective scrubbing/cleaning system without a feedstock sorting requirement. The technology uses “off the shelf” commercially proven equipment, which significantly lowers the capital and operating costs compared to other waste conversion technologies.

In a working circular economy, a solution for waste disposal and clean energy and sustainable product regeneration is an effective waste conversion technology application based on thermo-chemical and bio-chemical processes. The produced product type depends on the types of feedstock and reactants, and the applied processing conditions as applied physico-chemical interaction conditions in the system. The applied waste conversion technology type depends on the waste feedstock composition and the market requirement on the produced products from waste. The suitable waste conversion technology can divert waste from landfills and convert waste into usable products and prevent contamination of our environment. The waste steam gasification technology as a cost-effective process is most suitable for contaminated and mixed waste (including plastic waste) conversion into various forms of high-value sustainable products, such as electricity, hydrogen, liquid synthetic fuels, and chemicals. At the current stage, based on market demand, hydrogen production from mixed waste (including contaminated plastic waste) is the most cost-effective solution. Using the steam gasification technology for waste conversion into hydrogen is an opportunity for a profitable business, which can solve the world’s biggest problem – the enormous waste accumulation.

There is a requirement for a new and innovative approach in the development of a solution for waste management challenges, waste recycling, plastic waste pollution reduction and a working circular economy. The used waste conversion technologies should be efficient and combined with a reliable scrubbing/cleaning system to remove contaminants in order to generate clean/ renewable energy and other sustainable products and prevent pollution of the surrounding environment. The application of advanced and effective waste conversion technologies can offer an innovative solution to the waste accumulation problem and making a positive impact on the protection of our environment.

Chemical recycling based on cost-effective waste conversion technologies can provide a fundamental shift in the way of produced waste handling in a circular economy. In the working circular economy, the use of cost-effective waste conversion technologies is an innovative waste management strategy to divert waste from landfills, produce clean energy and sustainable products, reduce depletion of natural resources, protect our environment, save time and money. Chemical recycling is a comprehensive and innovative solution to the complex problem of waste management and moving towards a circular economy.


Sumber :
https://www.biofuelsdigest.com/bdigest/2019/11/18/the-role-of-chemical-recycling-in-a-circular-economy-and-effective-waste-management/