Pages

Monday, February 26, 2024

Fenomena Hujan Es dan Angin Kencang di Sidoarjo

Setelah terjadi fenomena tornado pertama atau puting beliung muncul di Rancekek yaitu di perbatasan Bandung-Sumedang, Jawa Barat, pada hari Rabu tanggal 21 Februari 2024 yang lalu, kali ini bencana hidrometeorologi melanda kota Sidoarjo, Jawa Timur.

Pada hari Senin tanggal 26 Februari 2024, hujan es dan angin kencang terjadi di beberapa daerah di Sidoarjo tepatnya di daerah Sarirogo, Kahuripan, Taman Pinang Sidoarjo dan Sidokare.

Hujan es, angin kencang dan genangan air banjir, mengakibatkan banyak tiang listrik dan tiang lampu serta pohon tumbang di sejumlah lokasi, sehingga mengakibatkan kemacetan yang bermuara di bundaran Stadion Gelora Delta Sidoarjo dan Taman Pinang sehingga berimbas di Jalan Pahlawan, Jalan Jati Raya depan Lippo Plaza tepatnya di bawah jembatan, Jalan Cemengkalang dan lalu lintas di dalam tol.

Data kerusakan sementara ada total 39 rumah, 3 rumah kos dan 1 fasilitas umum rusak ringan. Rumah rusak ringan tersebut, antara lain terjadi di Desa Suko, Desa Kebonagung, Kelurahan Magersari, desa Cemengbakalan, Desa Sidokepung, dan Desa Sarirogo.

Sedangkan pohon tumbang terjadi di depan Kantor BPKAD, Kecamatan Sidoarjo, Jalan Wisma Sarinadi, Di Jalan Raya Ponti, Desa Cemengbakalan, Perum Sidokare, Di Jalan Raya Sumput, Di Dusun Luwung, Pagerwojo, Di Jalan Raya Taman Pinang, dan di Jalan Raya Jati.


Istilah dalam ilmu meteorologi menyebut hujan es adalah hail. Hujan es adalah hujan yang menghasilkan bola-bola atau butiran es. Hujan es bisa terjadi di berbagai daerah, termasuk subtropis dan tropis.

Fenomena hujan es umumnya terjadi saat pancaroba atau peralihan antara musim hujan dan kemarau yaitu ketika suatu wilayah sedang mengalami peralihan musim atau pancaroba dan ada awan Cumulonimbus. 

Pada saat kejadian hujan es mencapai lebih dari 8 kilometer. Faktor penyebab hujan es adalah adanya awan Cumulo Nimbus. Awan ini memiliki bentuk berlapis-lapis yang menyerupai kembang kol. Terbentuknya awan Cumulo Nimbus rata-rata terjadi di bawah 20.000 kaki dan relatif dekat dengan daratan. Awan penyebab hujan es ini dapat dikenali dari warna dan bentuknya. Belapis-lapis menyerupai kembang kol, ukurannya besar, berwarna kelabu, dan menjulang tinggi. Awan CB yang menjulang tinggi ini memungkinkan terbentuknya kristal-kristal es di puncak awan, yang dapat turun menjadi hujan es.

Fenomena hujan es adalah cuaca alamiah yang sudah biasa terjadi. Meski alami dan biasa terjadi, namun fenomena hujan es merupakan salah satu fenomena cuaca ekstrem yang terjadi dalam skala lokal dan ditandai dengan adanya jatuhan butiran es yang jatuh dari awan. Hujan es dapat terjadi dalam periode beberapa menit.

Proses terjadinya hujan es tak jauh berbeda dengan hujan air biasa, yang membedakan adalah pada proses kondensasi atau penguapan. Proses kondensasi adalah saat uap air berubah menjadi partikel-partikel es yang dipengaruhi oleh suhu udara rendah di ketinggian. 

Saat udara hangat dan lembab terjadi di permukaan bumi, maka radiasi matahari yang intens dan menyebabkan pemanasan bumi, akan mengangkat massa udara tersebut ke atmosfer. Setelah massa udara sampai di atmosfer, selanjutnya ini akan mengalami pendinginan. Kondensasi ini kemudian membentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb). Dalam proses terjadinya hujan es ini,sebagai akibat dari kuatnya energi dorongan ke atas, maka saat terjadi proses konveksi, puncak awan akan semakin tinggi hingga mencapai freezing level atau tingkat pembekuan.

Perlu diketahui penyebab hujan es yang paling utama adalah pembekuan pada proses kondensasi ini. Tepatnya saat ada pengembunan mendadak akibat pergerakan massa udara naik dan turun sangat kuat di dalam awan Cumulo Nimbus. Hingga massa udara yang sangat kuat membentuk partikel es yang besar.


Ketika terjadi hujan es biasa disertai dengan hujan intensitas lebat dalam durasi singkat. Durasi berlangsungnya hujan es adalah singkat, paling lama 10 menit. Hujan es juga terjadi bersamaan dengan kilat atau petir dan angin kencang. Hujan es biasanya akan diiringi dengan angin puting beliung. Sifat dari hujan es adalah lokal dan tidak merata. Luasan terjadinya hujan es adalah berkisar 5-10 km saja.

Biasanya akan lebih sering terjadi antara siang dan sore hari. Istimewanya, hujan es hanya memiliki kemungkinan kecil terjadi di tempat yang sama dalam waktu singkat.


Apakah benar bahwa Pemanasan Global dan Perubahan Iklim akan Menyebabkan Hujan Es Lebih Besar dan Lebih Sering?.

Saat puncak musim panas di Leicestershire Inggris, tanggal 21 Juli 2021, hujan es seukuran bola golf tiba-tiba turun dari langit, memecahkan kaca jendela dan menimpa mobil. Kebun yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi orang-orang yang berjemur di bawah sinar matahari sore, kini rusak parah akibat hujan es.

Sebelumnya, badai es juga pernah yang melanda Calgary di Kanada, pada Juni 2020, hujan es seukuran bola tenis yang terjadi saat itu menyebabkan kerusakan pada setidaknya 70.000 rumah dan kendaraan, menghancurkan tanaman dan membuat daerah itu mengalami kerugian C$1,2 miliar, atau sekitar Rp13,4 triliun. Badai es yang terjadi selama 20 menit itu adalah salah satu peristiwa cuaca paling merugikan di negara tersebut

Dan perubahan iklim mengubah pola hujan es. Di Texas, Colorado, dan Alabama, rekor hujan es terbesar telah dipecahkan dalam tiga tahun terakhir, mencapai ukuran diameter hingga 16 cm.

Pada tahun 2020, Tripoli, ibu kota Libya, dilanda hujan es dengan diameter hampir 18 cm.

Sementara hujan es raksasa - diklasifikasikan sebagai yang berdiameter lebih dari 10 cm - sangat jarang, kerusakan akibat hujan es di AS sekarang rata -rata lebih dari US$10 miliar, atau setara Rp143 triliun, per tahun.

Tetapi mengapa pemanasan global dapat menyebabkan peningkatan jumlah es yang jatuh dari langit?. 

Dan adakah batas seberapa besar batu es itu akan terjadi?.

Badai destruktif yang menghasilkan hujan es dengan diameter lebih dari 25 mm membutuhkan serangkaian kondisi tertentu. Hujan es dengan ukuran tersebut, membutuhkan kelembaban yang cukup, aliran udara ke atas yang kuat, dan faktor pemicu, biasanya cuaca.

Badai es yang serius biasanya terbatas pada wilayah tertentu. Biasanya daerah yang memiliki udara sejuk dan kering di atmosfer di atas udara permukaan yang hangat dan lembab. Situasi yang tidak stabil ini menyebabkan aliran ke atas yang kuat dan pembentukan badai petir. Lokasi-lokasi seperti itu sangat rentan terhadap jenis badai petir yang dikenal sebagai supercells, yang dapat menghasilkan hujan es yang sangat besar karena adanya putaran ke atas yang kuat yang mereka ciptakan.

Tetapi karena perubahan iklim mengubah suhu atmosfer bumi, demikian juga jumlah uap air di udara. Udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air sementara suhu yang lebih tinggi juga berarti lebih banyak air yang diuapkan dari permukaan bumi. Hal ini diperkirakan akan menyebabkan curah hujan yang lebih deras dan badai yang lebih ekstrem di beberapa bagian dunia.


Para ahli juga menekankan bahwa dampak perubahan iklim pada kondisi cuaca ekstrem ini dapat menyebabkan fenomena hujan es menjadi lebih sering terjadi. Udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air, sementara suhu yang lebih tinggi juga berarti menyebabkan lebih banyak air yang diuapkan dari permukaan bumi. 

Diperkirakan kondisi tersebut akan menyebabkan curah hujan lebih deras dan badai yang lebih ekstrem di beberapa bagian dunia. 

Saat planet terus menghangat, area di mana badai hujan es kemungkinan terjadi cenderung bergeser. Area yang sekarang memiliki kelembaban yang cukup menjadi faktor pembatas dapat menjadi lebih lembab dan akibatnya, frekuensi hujan es dapat meningkat.

Jadi, perubahan iklim sebabkan hujan es lebih sering terjadi.


Sumber :

https://tentangsidoarjo.blogspot.com/2024/02/hujan-es-dan-badai-di-sidoarjo.html

https://www.liputan6.com/hot/read/5306960/penyebab-dan-proses-terjadinya-hujan-es-ditandai-munculnya-awan-cumulonimbus?page=4

https://www.kompas.com/sains/read/2023/03/03/100000723/apa-itu-fenomena-hujan-es-yang-sering-terjadi-saat-cuaca-ekstrem.

https://news.detik.com/berita/d-6467838/fenomena-hujan-es-penyebab-proses-terjadi-dan-indikasinya.

https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-60384143

https://www.kompas.com/sains/read/2022/03/29/100200223/hujan-es-akan-lebih-sering-terjadi-dan-berukuran-makin-besar-ini?page=all.

Sunday, February 25, 2024

Bumi dalam Bahaya

Bumi dalam Bahaya: Kenapa Kita Harus Bertindak Sekarang untuk Mengatasi Pemanasan Global

Pemanasan global telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia di era modern ini. Dengan suhu global yang terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa kita berada di ambang krisis, dan tindakan mendesak diperlukan untuk mencegah situasi ini semakin memburuk. Inilah mengapa penting bagi kita untuk bertindak sekarang untuk mengatasi pemanasan global.


1. Dampak yang Merusak Lingkungan

Pemanasan global telah menyebabkan perubahan dramatis dalam lingkungan kita. Pencairan es di kutub, kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, dan pola musim yang tidak terduga adalah beberapa contoh dampaknya. Ini bukan hanya masalah bagi satwa liar dan ekosistem, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup manusia, terutama bagi komunitas yang paling rentan.


2. Ancaman Terhadap Kesehatan Manusia

Pemanasan global tidak hanya mempengaruhi lingkungan fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia. Gelombang panas yang lebih sering dan intens dapat menyebabkan peningkatan kasus penyakit yang terkait dengan panas, seperti dehidrasi dan penyakit pernapasan. Selain itu, perubahan iklim juga dapat memperluas jangkauan penyakit menular seperti malaria dan demam dengue.


3. Kerugian Ekonomi yang Besar

Dampak ekonomi dari pemanasan global juga sangat signifikan. Bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim, seperti badai tropis yang lebih kuat dan banjir yang lebih parah, dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara-negara dan komunitas yang terkena dampaknya. Selain itu, sektor-sektor ekonomi yang bergantung pada sumber daya alam, seperti pertanian dan perikanan, juga rentan terhadap perubahan iklim.


4. Keadilan Sosial dan Kesejahteraan

Pemanasan global tidak hanya memperburuk kesenjangan ekonomi, tetapi juga menciptakan ketidaksetaraan sosial yang lebih besar. Komunitas yang sudah rentan, termasuk penduduk asli dan orang-orang miskin di negara-negara berkembang, sering kali menjadi korban terbesar dari dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi pemanasan global juga merupakan bagian integral dari upaya untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bagi semua.


5. Peluang untuk Perubahan Positif

Meskipun tantangan yang dihadapi akibat pemanasan global sangat besar, masih ada harapan. Dengan bertindak sekarang, kita memiliki kesempatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan efisiensi energi, dan beralih ke sumber energi terbarukan. Langkah-langkah ini tidak hanya akan membantu melindungi lingkungan kita, tetapi juga menciptakan peluang untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.


Dalam kesimpulan, pemanasan global adalah ancaman yang nyata dan mendesak yang membutuhkan tindakan kolektif dari seluruh masyarakat global. Dengan menyadari konsekuensi yang merugikan dari tidak bertindak, kita harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, melindungi lingkungan, dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang. Saatnya bertindak adalah sekarang, karena bumi kita dan semua yang hidup di atasnya berada dalam bahaya.

Saturday, February 24, 2024

Fenomena Tornado Pertama di Indonesia

Fenomena puting beliung yang muncul di Rancekek atau perbatasan Bandung-Sumedang, Jawa Barat, pada hari Rabu tanggal 21 Februari 2024 memperlihatkan atap pabrik hingga rumah-rumah warga luluh lantak.

Langit gelap dengan situasi yang mencekam. Di udara, angin berputar kencang, membesar, dan menerbangkan apa saja ke atas. Di jalan raya mobil sampai ada yang terguling dan pohon-pohon tumbang.

Tercatat sebanyak 735 keluarga dan 116 bangunan dilaporkan terdampak puting beliung. Sedikitnya 32 orang menjadi korban luka-luka. Pada siang hari cuaca cenderung panas dan normal. Sementara pada sore tiba-tiba hujan besar. Dan pola cuaca semacam ini sudah sering terjadi beberapa pekan belakangan.

Wilayah Rancaekek pada tanggal 21 Februari 2024 rusak karena terjangan pusaran angin kencang. Peneliti BRIN menyatakan fenomena di perbatasan Bandung-Sumedang tersebut bukan puting beliung, melainkan tornado pertama di Indonesia. 

Angin yang merusak Rancaekek sangat mirip dengan tornado. Angin tornado berbeda dengan puting beliung. Tornado memiliki skala kekuatan angin yang lebih kuat dengan radius dampak yang lebih luas. Puting beliung juga tidak berdurasi lama. Biasanya, puting beliung di Indonesia hanya terjadi sekitar 5-10 menit. 

Angin tornado minimal kecepatan angin mencapai 70 km/jam. Sedangkan angin puting beliung terkuat: 56 km/jam.


Ukuran diameter tornado, puting beliung dan water spout sama-sama berkisar pada ratusan meter, sedangkan ukuran diameter siklon dapat mencapai ratusan kilometer. Khusus tornado diameternya bisa mencapai ratusan meter dengan durasi 3 menit hingga lebih dari satu jam.

Puting beliung merupakan sebutan lokal untuk tornado skala kecil yang terjadi di Indonesia, dan water spout merupakan tornado yang terjadi di atas perairan, (dapat berupa danau maupun laut).


Angin puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam dan bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Angin puting beliung juga dikenal dengan istilah angin Leysus.

Angin puting beliung biasanya terjadi pada siang hari atau sore hari saat musim pancaroba. Puting beliung juga bisa disebabkan oleh curah hujan tinggi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sedangkan tornado adalah kolom udara yang berputar kencang dan menyentuh tanah, biasanya menempel pada dasar badai petir. Kecepatan angin tornado bisa mencapai 300 mil per jam dan alur kerusakan bisa melebihi lebar satu mil dan panjang 50 mil.


Kebanyakan tornado terjadi di tanah kurang dari 15 menit. Tornado disebut badai alam paling dahsyat yang dapat menyebabkan korban jiwa dan menghancurkan lingkungan dalam hitungan detik.

Pusaran atmosfer yang berputar ini dapat menghasilkan angin terkuat yang pernah ada di bumi. Saat tornado menghantam wilayah berpenduduk, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan besar dan banyak korban jiwa, terutama cedera akibat puing-puing yang beterbangan dan bangunan yang runtuh.


Ciri-ciri Puting Beliung dan Tornado

Puting beliung dan tornado memiliki gejala peristiwa yang berbeda meskipun keduanya merupakan pusaran atmosfer. Berikut perbedaan ciri-ciri puting beliung dan tornado.


Ciri-ciri puting beliung:

  • Udara terasa panas dan gerah;
  • Di langit tampak ada awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis);
  • Diantara awan Cumulus, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi (secara visual seperti bunga kol);
  • Awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat (awan Cumulonimbus);
  • Ranting pohon dan daun bergoyang ce;pat karena tertiup angin disertai angin kencang;
  • Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam.

Ciri-ciri tornado:

  • Terjadi perubahan pada langit yang mulanya cerah menjadi mendung dan menghitam;
  • Awan sekitar dengan cepat mengelilingi suatu wilayah;
  • Sebelum tornado melanda, angin mungkin akan mereda dan udara menjadi sangat tenang;
  • Sebelum terjadi, akan terjadi hujan es;
  • Awan puing dapat menandai lokasi terjadinya angin puting beliung meskipun corongnya tidak terlihat;
  • Tornado umumnya terjadi di dekat tepian badai petir;
  • Seringkali muncul langit cerah dan diterangi matahari di balik tornado;
  • Umumnya bergerak dari barat ke timur laut atau arah timur, tenggara, utara, dan barat laut;
  • Setelah badai tornado berlalu, suasana akan menjadi gelap dan menghitam, tetapi akan lebih tenang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan fenomena puting beliung yang terjadi di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terbentuk bukan karena perubahan iklim melainkan faktor-faktor yang bersifat lokal.


Banyak orang yang menduga bahwa tornado di Rancaekek terjadi lantaran perubahan iklim global. Benarkah kemunculan tornado di Rancaekek kemarin adalah imbas dari perubahan iklim?. 

Kecurigaan tornado Rancaekek disebabkan oleh perubahan iklim karena perubahan iklim memang dapat memengaruhi cuaca secara global, termasuk peningkatan suhu, perubahan hujan, dan variabilitas angin. Ketiga faktor itu dapat memengaruhi terbentuknya fenomena cuaca ekstrem seperti tornado.

Perubahan iklim dan aktivitas karbon manusia bertanggung jawab atas kemunculan fenomena ekstrem ini. Setiap tahun pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas, melepaskan sejumlah karbon dioksida (CO2) yang besar ke atmosfer. Hal ini berdampak pada peningkatan suhu global yang dikenal sebagai pemanasan global. Pemanasan global hanyalah satu gejala dari masalah yang lebih besar, yaitu perubahan iklim. 


Para peneliti bekerja untuk lebih memahami bagaimana blok bangunan untuk tornado, ketidakstabilan atmosfer dan geser angin, merespons pemanasan global. Sangat mungkin bahwa dunia yang lebih hangat dan lebih lembab memungkinkan ketidakstabilan yang lebih sering, sementara itu juga mungkin bahwa dunia yang lebih hangat mengurangi geser angin. 

Beberapa penelitian menemukan bahwa kondisi yang menghasilkan badai petir paling parah dari mana tornado dapat terbentuk lebih mungkin terjadi ketika dunia menghangat. Perubahan iklim juga dapat menyebabkan pergeseran musiman badai petir yang parah dan daerah yang paling mungkin terkena. 

Ketika para ilmuwan meningkatkan pemahaman fisik mereka tentang proses yang menyebabkan tornado, dan ketika model iklim dijalankan pada resolusi spasial yang lebih tinggi, pemahaman tentang pengaruh perubahan iklim pada tornado akan meningkat. Demikian juga, karena catatan pengamatan meningkat dari waktu ke waktu, tren kemungkinan akan menjadi lebih jelas.


BRIN untuk meluruskan dugaan awal publik terkait pemicu puting beliung yang kini marak beredar di berbagai platform media sosial. Fenomena itu hanya local effect, bukan global effect. Terbentuknya puting beliung akibat perubahan tata guna lahan di Rancaekek.

Dahulu kawasan itu adalah perkebunan jati yang hijau yang membuat lingkungan relatif sejuk dan bersih. Sekarang daerah itu telah berubah menjadi kawasan industri dan pemukiman padat.

Industri banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mengurung panas matahari. Kondisi itu membuat Rancaekek menjadi kawasan bertekanan rendah yang mengisap uap air dari daerah sekeliling dan membentuk awan-awan besar cumulonimbus.

Pertemuan dua massa uap air dari arah timur dan barat, kemudian diperkuat dari arah selatan Samudera Hindia. Ketiga massa uap air tersebut berkumpul di Rancaekek dan menciptakan puting beliung.

Perubahan iklim adalah frekuensi kejadian ekstrem meningkat, misalnya di Rancaekek yang dahulu setahun ada tiga kali bencana menjadi enam kali bencana. Sifat perubahan iklim tidak lokal, tetapi global dengan cakupan wilayah yang sangat luas.



Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240222075338-37-516597/fenomena-rancaekek-tornado-pertama-di-ri-ini-penjelasan-brin#:~:text=Ia%20menjelaskan%20tornado%20berbeda%20dengan,terjadi%20sekitar%205%2D10%20menit

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20240222043556-641-1065732/pakar-brin-sebut-angin-kencang-rancaekek-tornado-pertama-di-indonesia?utm_source=twitter&utm_medium=oa&utm_content=cnnindonesia&utm_campaign=cmssocmed.

https://news.detik.com/berita/d-7205871/perbedaan-puting-beliung-dan-tornado-pengertian-hingga-ciri-cirinya.

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2024/brin-puting-beliung-di-bandung-bukan-akibat-perubahan-iklim/

https://tirto.id/benarkah-tornado-di-indonesia-disebabkan-oleh-perubahan-iklim-gWbz#google_vignette

https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-017744207/kemunculan-tornado-di-indonesia-disebabkan-oleh-perubahan-iklim-begini-penjelasannya?page=all

https://www.mongabay.co.id/2024/02/24/perubahan-iklim-lokal-pemicu-angin-puting-beliung-dan-tornado-di-rancaekek/

Monday, February 12, 2024

Perbedaan Antara Blue Economy dan Green Economy

Menyelami Blue Economy dan Green Economy: Perspektif yang Berbeda Menuju Keberlanjutan

Dalam upaya menjaga keberlanjutan planet kita, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy telah muncul sebagai pandangan yang menjanjikan untuk mengarahkan ekonomi menuju jalan yang lebih berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang lebih bijaksana, mereka memiliki pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan ini.

Pada era ketidakpastian lingkungan dan ketegangan sumber daya alam global saat ini, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy muncul sebagai alternatif yang menarik untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Kedua konsep ini memiliki fokus yang serupa, yaitu menjaga keberlanjutan lingkungan, namun, mereka beroperasi di bidang yang berbeda dan mempromosikan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka.


Apa Itu Blue Economy?.

Blue economy merujuk pada pemanfaatan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Konsep ini mendorong pengembangan ekonomi yang memperhatikan lingkungan, termasuk pengembangan pariwisata laut, energi terbarukan seperti energi angin laut dan energi ombak, akvakultur yang berkelanjutan, serta penelitian dan inovasi dalam ilmu kelautan dan perikanan. Pendekatan blue economy mempertimbangkan potensi ekonomi sumber daya laut sambil memperhatikan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.

Blue Economy: Memanfaatkan Kekayaan Laut.

Blue economy menyoroti pentingnya pengelolaan yang bijaksana terhadap sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam konteks blue economy, lautan dan pesisir dipandang sebagai sumber daya yang kaya akan potensi ekonomi, seperti pariwisata laut yang berkelanjutan, energi terbarukan dari ombak dan angin laut, serta pengembangan akvakultur yang ramah lingkungan. Pendekatan blue economy menekankan pentingnya memperhatikan keberlanjutan lingkungan dalam mengembangkan ekonomi laut, menjadikannya sebagai pendorong utama dalam mengelola lautan dan pesisir secara efisien.


Apa Itu Green Economy?.

Di sisi lain, green economy menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy berfokus pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon, ramah lingkungan, dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup berbagai sektor, seperti energi terbarukan (seperti tenaga surya dan angin), pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Tujuan utama green economy adalah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sambil meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Green Economy: Merangkul Keseluruhan Sumber Daya Alam.

Di sisi lain, green economy merangkul konsep keberlanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy menempatkan fokusnya pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup pengembangan energi terbarukan, pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Dalam visi green economy, semua sektor ekonomi harus beroperasi dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perbedaan Utama Antara Blue Economy dan Green Economy.

Perbedaan utama antara blue economy dan green economy terletak pada pendekatan dan fokus mereka. Blue economy lebih khusus dalam mengeksplorasi potensi ekonomi sumber daya laut, sementara green economy mencakup semua aspek ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan melindungi lingkungan, blue economy lebih menekankan pada sumber daya laut sebagai pendorong utama, sementara green economy melihat seluruh spektrum sumber daya alam.

Bidang Fokus: Blue economy menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir, sementara green economy lebih luas, mencakup semua sektor ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan.

Sumber Daya yang Dimanfaatkan: Blue economy secara khusus mengeksplorasi potensi sumber daya laut, seperti energi laut, pariwisata, dan akvakultur, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara keseluruhan, termasuk energi, pertanian, dan transportasi.

Pendekatan Terhadap Ekonomi: Blue economy lebih bersifat spesifik terhadap sumber daya laut dan mencoba menggabungkan kebutuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan di sektor ini. Sementara itu, green economy mencoba untuk mengubah seluruh ekonomi secara keseluruhan untuk menjadi lebih ramah lingkungan.

Pengaruh Terhadap Kesejahteraan Manusia: Keduanya memiliki tujuan yang serupa dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi blue economy lebih fokus pada potensi ekonomi sumber daya laut dalam meningkatkan kesejahteraan, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara lebih luas untuk mencapai tujuan yang sama.

Melihat Masa Depan Keberlanjutan.

Meskipun blue economy dan green economy memiliki perbedaan dalam pendekatan dan fokusnya, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan kita menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dalam menghadapi tantangan lingkungan global saat ini, baik blue economy maupun green economy menawarkan pandangan yang optimis dan konstruktif untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan ekonomi kita, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, sementara blue economy dan green economy berbagi tujuan utama untuk mempromosikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia, mereka berbeda dalam fokusnya dan cara mereka berupaya mencapai tujuan tersebut. Meskipun terdapat perbedaan, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan masyarakat menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.



Saturday, February 10, 2024

Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Blue economy dan green economy adalah dua konsep yang berbeda tetapi saling terkait dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Berikut adalah perbedaan antara keduanya:


Blue Economy:

Blue economy berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan secara berkelanjutan.

Fokus utamanya adalah pada ekonomi yang berkembang di sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan (seperti energi pasang surut dan energi gelombang), transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut.

Pendekatan blue economy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi laut dan memanfaatkan sumber daya laut secara bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut dan kelautan.


Green Economy:

Green economy lebih umum dan melibatkan transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.

Fokusnya lebih luas daripada blue economy dan mencakup semua sektor ekonomi, termasuk pertanian, industri, energi, transportasi, dan lainnya.

Green economy bertujuan untuk mengurangi jejak karbon, membatasi polusi, meningkatkan efisiensi sumber daya, mempromosikan penggunaan energi terbarukan, dan menghasilkan produk dan layanan dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Meskipun berbeda dalam fokusnya, blue economy dan green economy sebenarnya saling melengkapi. Blue economy merupakan bagian dari konsep green economy yang lebih luas, karena upaya untuk memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan merupakan salah satu aspek dari upaya umum untuk mencapai pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.


Mengungkap Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Dalam upaya untuk mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia, muncul dua konsep yang semakin mendapatkan perhatian: blue economy dan green economy. Kedua konsep ini menawarkan pandangan yang berbeda namun komplementer terhadap bagaimana manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Mari kita telusuri lebih dalam apa itu blue economy dan green economy, serta bagaimana keduanya dapat menjadi solusi bagi tantangan lingkungan dan ekonomi global.


Blue Economy: Mengoptimalkan Sumber Daya Laut dan Kelautan

Blue economy adalah konsep yang muncul sebagai respons terhadap perlunya pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Mengingat bahwa lebih dari 70% permukaan Bumi terdiri dari lautan, potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya sangat besar. Blue economy fokus pada pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem laut dan dampak sosialnya. Sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan, transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut menjadi fokus utama dalam konsep ini.


Salah satu aspek kunci dari blue economy adalah penekanan pada pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap sumber daya laut. Ini termasuk praktek-praktek seperti penangkapan ikan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi hijau dalam industri kelautan, pengembangan taman laut dan kawasan konservasi, serta penelitian untuk memahami dan memelihara keanekaragaman hayati laut. Blue economy menawarkan peluang ekonomi yang besar bagi negara-negara yang memiliki akses ke perairan laut, sementara juga mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang dari sumber daya tersebut.


Green Economy: Meningkatkan Efisiensi Sumber Daya secara Luas

Green economy, di sisi lain, adalah konsep yang lebih luas yang mencakup transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan. Fokus utamanya adalah pada pengurangan emisi karbon, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penggunaan teknologi yang lebih bersahabat lingkungan di semua sektor ekonomi. Ini mencakup industri, pertanian, transportasi, energi, dan banyak lagi.

Dalam green economy, upaya ditekankan pada pengembangan dan penerapan teknologi terbarukan, seperti energi surya, angin, dan hidro, serta penggunaan bahan baku yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan. Selain itu, prinsip-prinsip green economy juga mencakup pengurangan limbah, promosi pertanian organik, transportasi publik yang lebih efisien, dan desain produk yang lebih ramah lingkungan.


Kesimpulan: Menuju Keseimbangan Antara Ekonomi dan Lingkungan

Blue economy dan green economy, meskipun berbeda dalam fokus dan aplikasi praktisnya, sebenarnya saling melengkapi dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Blue economy menawarkan pendekatan khusus terhadap pemanfaatan sumber daya laut, sementara green economy menyediakan kerangka kerja yang lebih luas untuk mengoptimalkan efisiensi sumber daya secara keseluruhan.

Bagaimanapun, tantangan yang dihadapi kedua konsep ini tidak bisa diabaikan. Diperlukan kerjasama global, regulasi yang efektif, investasi dalam teknologi hijau, dan perubahan perilaku konsumen untuk mewujudkan potensi penuh dari blue economy dan green economy. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan dunia di mana pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertentangan dengan kesejahteraan lingkungan, tetapi sebaliknya, mendukungnya untuk generasi-generasi yang akan datang.

Solusi Blue Economy untuk Menanggapi Tantangan Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21 ini. Dampaknya yang merusak lingkungan, seperti kenaikan suhu global, naiknya permukaan air laut, dan cuaca ekstrem, semakin menjadi-jadi. 

Dalam menghadapi tantangan ini, Blue Economy atau Ekonomi Biru muncul sebagai salah satu solusi yang menjanjikan untuk memperbaiki kondisi lingkungan laut dan menanggapi perubahan iklim secara efektif.

Apa Itu Blue Economy?

Blue Economy merujuk pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan keberlanjutan. Konsep ini menekankan pentingnya melindungi dan memelihara kekayaan ekosistem laut dan pesisir, sambil memanfaatkannya secara bijaksana untuk kesejahteraan manusia. 

Blue Economy berusaha untuk memperkuat keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan memprioritaskan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.


Peran Blue Economy dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Pengembangan Energi Terbarukan: 

Salah satu cara utama Blue Economy menanggapi perubahan iklim adalah dengan mengembangkan energi terbarukan di laut, seperti energi ombak, energi angin laut, dan energi pasang surut. 

Dengan memanfaatkan sumber daya energi yang tak terbatas dari laut, Blue Economy membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi gas rumah kaca.


Pengelolaan Perikanan yang Berkelanjutan: 

Blue Economy mendorong praktik perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang membantu dalam mempertahankan ekosistem laut yang sehat. Dengan mengurangi tekanan penangkapan ikan berlebihan, Blue Economy membantu menjaga populasi ikan tetap stabil dan mengurangi risiko kerusakan pada rantai makanan laut.


Pengembangan Infrastruktur Hijau di Pesisir: 

Blue Economy juga berfokus pada pembangunan infrastruktur hijau di wilayah pesisir, seperti mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. Infrastruktur ini tidak hanya berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies laut, tetapi juga sebagai penyerap karbon yang efektif, membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan meredam dampak perubahan iklim, seperti banjir dan erosi pantai.


Pariwisata Ramah Lingkungan: 

Sebagai bagian dari Blue Economy, pariwisata laut juga dikelola dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Dengan mendorong pariwisata ramah lingkungan yang menghargai keanekaragaman hayati laut dan mendukung konservasi, Blue Economy membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut yang rentan terhadap perubahan iklim.


Tantangan dan Proyeksi ke Depan

Meskipun Blue Economy menawarkan solusi yang menjanjikan dalam mengatasi tantangan perubahan iklim, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Perubahan iklim yang sudah terjadi dapat mempengaruhi keberlanjutan dan efektivitas implementasi strategi Blue Economy. 

Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor dan lintas negara untuk mengimplementasikan solusi Blue Economy secara holistik. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa Blue Economy memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak dalam menanggapi perubahan iklim. 

Dengan terus mengembangkan inovasi teknologi, kebijakan yang mendukung, dan kesadaran masyarakat yang meningkat, Blue Economy memiliki kesempatan untuk memainkan peran penting dalam merestorasi keseimbangan lingkungan laut dan melindungi planet kita dari dampak perubahan iklim yang semakin parah.


Kesimpulan

Blue Economy bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, serta pemeliharaan ekosistem laut yang penting bagi kehidupan di Bumi. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Blue Economy menawarkan solusi yang berkelanjutan dan efektif dengan memanfaatkan potensi besar sumber daya laut untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan. 

Dengan kolaborasi dan komitmen yang kuat, Blue Economy dapat menjadi pendorong utama dalam menjaga keberlanjutan planet kita untuk generasi yang akan datang.

Friday, February 9, 2024

Memerangi Sampah Plastik dengan Strategi Blue Economy

Tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, Revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19. Perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen. 

Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang. Hal ini menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy. 

Blue economy tidak sama persis dengan green economy atau ekonomi hijau. Bila green economy fokus pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan diiringi dengan penurunan risiko kerusakan lingkungan, sedangkan blue economy lebih difokuskan pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di sektor kelautan.

Blue economy didefinisikan sebagai suatu konsep yang mendorong penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan tetap menjaga kualitas ekonomi dan ekosistem laut.

Blue economy atau ekonomi biru atau merupakan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menekankan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pantai yang dilakukan secara bijaksana, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Lautan menutupi tiga perempat dunia. Sekitar 80 persen dari semua kehidupan di bumi ini terpengaruh oleh laut. Ekonomi kelautan menyediakan mata pencaharian bagi lebih dari 10 persen populasi dunia, dengan nilai lebih dari USD1,5 triliun dengan perkiraan menjadi dua kali lipat pada 2030.

Melihat potensi tersebut, pemerintah Indonesia terus mengembangkan blue economy, mengelola ekosistem laut dan pesisir dengan baik, mencapai pemerataan ekonomi, dan meningkatkan penghidupan. Indonesia sedang melakukan itu dengan memasang tujuan ambisius untuk meminimalkan sampah di laut. 

Pengelolaan pencemaran laut merupakan permasalahan yang sangat kompleks, sehingga sinergi dalam pengawasan, penegakan hukum, dan penanganan dampaknya sangat diperlukan. Kebocoran sampah plastik laut mengancam kesehatan lingkungan dan berdampak negatif pada pembangunan blue economy. 

Sampah plastik berdampak luas dan sulit dicarikan solusinya. Semua pihak harus bertekad memerangi sampah plastik, utamanya di pantai. Dengan begitu, tekad pemerintah untuk mencapai blue economy dapat terealisasi.

Blue economy ikut menurunkan emisi karbon di dunia. Pengembangan blue economy berupa pemanfaatan sumber daya laut harus dilakukan secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat sekaligus untuk mencegah perubahan iklim.

Untuk mengembangkan blue economy penting untuk memiliki tata kelola ruang laut yang kuat dan berintegritas.

Tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan Indonesia dalam mendorong blue economy adalah pencemaran laut dengan limbah, mulai dari limbah industri, rumah tangga, hingga plastik. Indonesia bahkan dikenal sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, setelah China.


Selain menurunkan sampah plastik untuk menurunkan emisi karbon, kontribusi positif lainnya adalah meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Misalnya dengan penanaman mangrove di bibir pantai, pengurangan deforestasi, peningkatan penggunaan energi terbarukan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. 

Langkah (restorasi hutan mangrove di bibir pantai) sangat efektif untuk mencegah tenggelamnya pulau akibat perubahan iklim. Hal itu karena mangrove memiliki akar yang kuat dan mampu menahan abrasi air laut.

Kebijakan blue economy bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam laut dan pesisir secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kebijakan ekonomi biru terdiri dari lima pilar, yaitu penambahan luas kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budi daya di laut, pesisir, dan darat yang berkelanjutan, pengawasan dan pengendalian wilayah pesisir dan pulau kecil, serta pengelolaan sampah plastik di laut.

Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan naiknya permukaan laut, tetapi juga penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah telah terjadi secara signifikan, yang mengancam tenggelamnya pulau-pulau.


Sumber :

https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/search/label/Blue%20Economy?updated-max=2020-04-05T23:28:00-07:00&max-results=20&start=20&by-date=false

https://maritim.go.id/detail/dukung-blue-economy-deputi-nani-kolaborasi-multi-stakeholder-sebagai-kunci-mengatasi-pencemaran-laut

https://nusantaramaritimenews.id/analisis/blue-economy-salah-satu-upaya-mewujudkan-ekonomi-berkelanjutan/

https://metrobali.com/sampah-plastik-kendala-indonesia-terapkan-blue-economy/

https://forestinsights.id/indonesia-kembangkan-blue-economy-berkelanjutan-cegah-perubahan-iklim/

https://money.kompas.com/read/2021/08/16/121100426/indonesia-perlu-blue-economy-apa-itu-?page=all.

Thursday, February 8, 2024

Hubungan Sampah Plastik dan Efek Rumah Kaca

Sampah plastik yang tidak dibutuhkan sering dibuang di sembarang tempat, yang kemudian sebagian terakumulasi ke laut. Sampah plastik ini dapat mencemari ekosistem di laut. Selain mencemari laut, sampah plastik juga dapat mengakibatkan perubahan iklim, yaitu disebabkan oleh tingginya jumlah emisi gas CO2.


Polusi plastik laut dan perubahan iklim sangat berkaitan. Hal ini terbukti dengan tiga cara. 

Pertama, produksi plastik sangat bergantung pada ekstraksi bahan bakar fosil dan konsumsi sumber daya yang terbatas. 

Kedua, peristiwa iklim, seperti banjir, peningkatan cuaca ekstrim, mempengaruhi distribusi polusi plastik dan akan menyebar lebih jauh.

Ketiga, pemanasan global sendiri memiliki konsekuensi bencana yang dapat dibuktikan pada lingkungan laut, sementara dampak polusi plastik juga membuktikan sangat berbahaya bagi spesies dan ekosistem. Banyak satwa laut mati karena makan sampah plastik. Paling sering tersiar, hewan langka penyu.


Dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer.

Kantong plastik adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim. Karena, sejak proses produksi hingga tahap pembuangan dan pengelolaan, sampah plastik menimbulkan emisi banyak gas rumah kaca ke atmosfer.

Plastik terbuat dari minyak bumi dengan proses mengubah komponen minyak bumi menjadi molekul kecil yang disebut monomer. Kegiatan memproduksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel bahan baku minyak. 

Untuk mengubah minyak bumi menjadi monomer digunakan cara pembakaran. Dari metode inilah banyak gas rumah kaca menghasilkan emisi ke atmosfer.

Plastik terbuat dari minyak bumi yang diambil dari perut bumi lalu diolah menjadi turunan minyak dan gas bumi serta nafta yang merupakan bahan baku plastik. Nafta diolah menjadi pelet atau resin plastik. 

Proses ini membutuhkan energi yang besar sehingga menghasilkan emisi karbon yang sangat besar yaitu 1.781 juta metric ton CO2.

Kemudian pelet diolah dan dicetak menjadi produk plastik seperti botol plastik. Proses ini membutuhkan suhu tinggi dari pembakaran batu bara yang kira dapat menghasilkan emisi karbon sebesar 535 juta metric ton CO2.


Diperkirakan 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat.

Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Sebuah waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, tanggul, sehingga mengakibatkan banjir.


Polusi plastik adalah masalah global. Sebuah penelitian memprediksi 710 juta ton plastik akan mencemari lingkungan pada 2040. Plastik ditemukan di seluruh lautan, danau, sungai, tanah, sedimen, atmosfer, hingga biomassa hewan imbas pertumbuhan industri dan ekonomi yang mengabaikan limbah.

Diperkirakan sekitar 8 juta ton makroplastik dan 1,5 ton mikroplastik primer mencemari lautan setiap tahun. Sehingga, jika produksi plastik dan timbunan limbah terus tumbuh dengan angka tersebut, maka diproyeksikan polusi meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat pada 2050.

Tindakan global yang terkoordinasi diperlukan untuk menghindari tumpukan plastik yang lebih besar dari perkiraan 710 juta metrik ton pada tahun 2040.


Sumber :
http://www.taufanyanuar.com/2021/10/plastik-dapat-mempengaruhi-perubahan.html
http://www.taufanyanuar.com/2008/02/selamatkan-bumi-dari-plastik.html
https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/2022/06/plastik-dan-perubahan-iklim.html
https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/2023/07/tahun-2040-sampah-plastik-akan-menumpuk.html
https://www.mongabay.co.id/2023/06/02/sampah-plastik-dan-perubahan-iklim-seperti-apa/
https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/bagaimana-plastik-berpengaruh-pada-perubahan-iklim/

Wednesday, February 7, 2024

Nanoplastik yang Lebih Berbahaya daripada Mikroplastik

Penelitian terakhir menunjukkan nanoplastik telah ada di lingkungan. Nanoplastik ini lebih buruk dan berbahaya daripada mikroplastik. Jika mikroplastik berukuran dalam skala mikrometer, sedangkan nanoplastik hanya berukuran nanometer. Jika mikroplastik masih terlihat oleh mata atau mikroskop, sedangkan nanoplastik nyaris tidak terlihat. 

Nanoplastik terbentuk ketika potongan-potongan plastik yang lebih besar terurai karena sinar UV, gelombang, enzim alami, atau faktor lingkungan lainnya. 

Pencemaran ini terjadi seiring dengan lamanya waktu sampah plastik akan mengalami degradasi akibat adanya tekanan mekanis atau radiasi ultraviolet matahari menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

Masuknya polutan partikel ini juga bisa melalui sistem pernapasan karena partikel nanoplastik tersebar di udara. Nanoplastik dapat terurai dan terlepas ke udara, misalnya ketika seseorang memperbaiki pipa saluran pembuangan. Setelah mengudara, nanoplastik dapat melayang sejauh ribuan kilometer, hingga kutub bumi. 

Metode terbaik mendeteksi nanoplastik bergantung pada jumlah pengambilan sampel di air laut dan proses filterisasi. Jika manusia mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi partikel nanoplastik dapat terakumulasi di dalam tubuh sehingga menurunkan kesehatan.

Diperkirakan nanoplastik sudah ada lebih dari 100 tahun sejak penemuan plastik. 

Karena ukurannya yang jauh lebih kecil, nanoplastik dapat masuk ke tempat-tempat yang tidak dapat dimasuki oleh mikroplastik. Misalnya, jika mikroplastik bisa masuk ke dalam organ tubuh hewan, nanoplastik bisa masuk ke dalam sel mereka. 


Mikroplastik dan nano plastik saat ini sudah menjadi bahaya laten bagi kesehatan manusia semakin nyata. Hasil penelitian menunjukkan, setiap tahunnya rata rata orang memakan sekitar 50.000 partikel mikroplastik dan juga dalam jumlah yang sama kita menghirupnya melalui udara yang tercemar.

Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka dalam waktu dekat mikroplastik dan nano plastik  akan menjadi masalah kesehatan yang sangat serius bagi Indonesia.

Sampah plastik telah terbukti mempengaruhi lebih dari 660 spesies laut di seluruh dunia. Plastik yang dikenal ringan, kuat, tahan lama, dan murah, dan karakteristik ini membuatnya cocok untuk pembuatan berbagai produk. Namun, plastik juga dapat membahayakan lingkungan hidup. Ancaman plastik yang paling menonjol bagi kehidupan akuatik terjadi dari proses konsumsi rantai makanan.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa kontaminasi mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini karena akan berdampak buruk tidak saja pada lingkungan namun juga pada kesehatan masyarakat tanpa disadari banyak orang. 

Nanoplastik membawa segala macam bahan aditif kimia yang bisa menyebabkan sel-sel stres, kerusakan DNA dan perubahan metabolisme atau fungsi-fungsi sel.


Sekitar 90 persen dari partikel plastik yang ditemukan di air mineral adalah nanoplastik yang tidak terdeteksi di penelitian sebelumnya. Sebuah studi mengevaluasi air kemasan plastik dapat mengandung partikel plastik 100 kali lebih banyak atau 240.000 pecahan plastik yang dapat membawa masalah kesehatan. 

Sumber lain sebuah penelitian baru, menunjukkan bahwa sebuah botol air berkapasitas satu liter (33 ons) rata-rata mengandung sekitar 240.000 fragmen plastik. 

Dan dari sumber yang lain, mengungkap temuan 250.000 potongan partikel nanoplastik yang sangat kecil dan tidak terlihat ada di dalam botol kemasan. Temuan terkini itu terdeteksi dan dikategorikan untuk pertama kalinya oleh mikroskop menggunakan laser ganda.

Meskipun polusi plastik ada di mana-mana di bumi, air kemasan menjadi perhatian khusus para ilmuwan karena potensinya memasukkan partikel plastik ke dalam tubuh manusia. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2022 menemukan bahwa konsentrasi mikroplastik dalam air kemasan lebih tinggi dibandingkan air keran.

Sebuah laporan dari tahun 2021 memperingatkan bahwa membuka dan menutup tutup botol plastik berisi air dapat melepaskan serpihan plastik kecil ke dalam cairan. Mereka juga berencana untuk menyelidiki nanoplastik dalam sampel air keran dan salju yang dikumpulkan dari Antartika bagian barat.


Dunia saat ini sedang tenggelam di timbunan polusi plastik, dengan lebih dari 430 juta ton plastik diproduksi tiap tahunnya dan mikroplastik ditemukan di lautan dunia, makanan dan air minum, di mana sumber-sumbernya banyak yang berasal dari pakaian dan filter rokok.

Hampir seluruh peneliti menyatakan untuk mengurangi konsumsi AMDK, air minum dalam kemasan. Para peneliti telah mulai mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan setidaknya separuhnya, lalu mulai lebih mengandalkan air yang disaring di rumah.


Penelitian modern mengenai dampak nanoplastik terhadap lingkungan laut. Diantaranya adalah sebagai berikut.

Nanoplastik berdampak negatif terhadap ukuran, kesuburan dan perkembangan embrio Daphnia, krustasea kecil yang ukuran tubuhnya tidak melebihi 6 mm bahkan di usia dewasa. Sedangkan untuk mikroalga, nanoplastik mempengaruhi ukuran dan jumlah sel di coenobia, kelompok sel independen yang hidup bersama. 

Daphnia dan ganggang hijau Scenedesmus, yang hidup di air tawar, ditambahkan emulsi nanopartikel polistiren dengan konsentrasi tertentu. Percobaan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi polistiren menyebabkan penurunan ukuran tubuh dan kesuburan Daphnia. 

Dalam kasus mikroalga, dampak nanoplastik terlihat pada perubahan jumlah dan proporsi sel hidup dalam suatu populasi, serta ukuran sel dan jumlahnya di coenobium. 


Sumber :

https://www.republika.id/posts/48696/nanoplastik-lebih-bahaya-daripada-makroplastik

https://ppid.ipb.ac.id/prof-ronny-rachman-noor-ungkap-semakin-nyatanya-bahaya-laten-mikroplastik-dan-nanoplastik-bagi-kesehatan/

https://unair.ac.id/rumput-laut-dan-respon-imun-tubuh-yang-terpapar-nanoplastik/

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240115120549-37-505684/ada-240-ribu-serpih-plastik-di-1-liter-air-mineral-botol-ini-risetnya

https://www.kompasiana.com/rimantho/5fd99aca8ede4839bb020da2/apa-itu-nano-plastik-apa-bahayanya-bagi-lingkungan?page=all

https://www.antaranews.com/berita/3906852/kandungan-nanoplastik-dalam-air-kemasan-dapat-bahayakan-kesehatan

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240114191612-33-505507/astaga-ahli-temukan-250000-nanoplastik-di-botol-kemasan

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/26164/peneliti-air-botol-kemasan-mengandung-ratusan-nanoplastik

https://agroindonesia.co.id/awas-ilmuwan-temukan-partikel-nanoplastik-di-amdk/

https://www.kalbarnews.co.id/2024/01/menurut-penelitian-nanoplastik.html#google_vignette

Saturday, February 3, 2024

Hujan Plastik akibat Sampah Mikroplastik

Musim hujan sekarang ini kita perlu waspada. Bukan hanya dari derasnya hujan, atau karena kita bisa terserang penyakit karena kedinginan, namun juga kita harus waspada terhadap kandungan air hujan. Karena air hujan diduga mengandung partikel plastik.

Sebuah studi mengatakan bahwa dalam air hujan terdapat kandungan plastik berukuran mikroskopis yang pada akhirnya akan menyebabkan hujan plastik. Mikroplastik adalah partikel yang berukuran kurang dari 5mm yang dapat mengontaminasi air yang kita konsumsi dan minum.

Hal ini dikarenakan mikroplastik sangat melimpah yang menjadi sumber polusi yang dapat kita temui baik di daratan maupun di lautan. Sampah plastik terurai menjadi potongan-potongan kecil seiring berjalannya waktu dan menyebar ke atmosfer, tubuh manusia, dan spesies.

Partikel mikroplastik dapat menimbulkan penyakit dan kondisi termasuk kanker, infertilitas, dan gangguan hormon. Bahkan, tidak menyerang manusia saja, mikroplastik juga mempengaruhi pembentukan awan dan potensi dampaknya terhadap krisis iklim.

Jika polusi udara plastik tidak segera ditangani dengan serius, maka kombinasi dengan perubahan iklim akan menjadi risiko ekologi yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

Hujan plastik, dimulai dari siklus alamiah dari siklus air, dimana air yang ada di bumi menguap karena terpapar sinar matahari. Kemudian, terbentuk sekumpulan awan hingga akhirnya turun hujan. Yang menjadi masalah adalah kondisi air sekarang dipenuhi oleh sampah plastik. Sampah plastik menutupi permukaan lautan, sungai dan got. 

Plastik sebagai benda yang sulit terurai, plastik akan terus berada di air. Namun, tidak selamanya berada dalam kondisi utuh. Ada yang terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Pecahan-pecahan tersebut kemudian disebut mikroplastik yang tidak terlihat secara kasat mata, tetapi berada di air. Masalah makin besar ketika mikroplastik itu berubah menjadi partikel kecil bernama nanoplastik. Saat terjadi siklus air tersebutlah, plastik-plastik tersebut ikut serta ke langit dan turun sebagai hujan di berbagai tempat.


AMDK atau air minum dalam kemasan dalam bentuk gelas maupun botol plastik yang paling banyak menyumbangkan sampah di perairan Indonesia, yang memperbesar kerusakan lingkungan dan memperbesar risiko penyebaran mikroplastik dari konsumsi makanan laut ke tubuh manusia.

Selain berasal dari sampah plastik besar yang terpecah menjadi potongan lebih kecil, mikroplastik juga bisa berasal dari plastik polietilen yang sengaja diproduksi dan ditambahkan ke produk-produk tertentu. Misalnya, produk kecantikan, bahan pembersih, cat, dan sebagainya. Dengan ukuran sangat kecil dan ringan, mikroplastik dapat menyebar mudah ke seluruh pelosok Bumi


Menurut penelitian, paus biru secara tidak sengaja mengkonsumsi hingga 10 juta keping mikroplastik setiap hari. Itu setara dengan satu truk sampah plastik yang dibuang ke laut setiap menit. Pada manusia, potongan plastik mikroskopis telah terdeteksi dalam darah, ASI, dan plasenta.

Bahkan sebuah studi menunjukkan fenomena hujan mikroplastik terjadi di beberapa puncak gunung tertinggi di dunia. Misalnya di Pegunungan Rocky, Amerika Serikat. Studi lainnya, juga ditemukan mikroplastik dalam jumlah banyak di puncak Pyreness, pegunungan yang terletak di antara Prancis dan Spanyol. 

Hal ini tentunya sangat mengejutkan karena partikel mikroplastik yang dilihat di pegunungan tentunya telah terangkut dari jarak jauh. Serat plastik mikroskopis beraneka warna kemudian ditemukan pada lebih dari 90% sampel. Warna yang paling sering muncul adalah biru, merah, perah, ungu, hijau, dan kuning. 


Sumber :

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7150018/waspada-hujan-plastik-indonesia-tak-luput.

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240117102551-33-506505/fenomena-hujan-plastik-menghantui-bumi-begini-gambarannya

https://www.mongabay.co.id/2022/09/11/fenomena-hujan-plastik-mungkinkah-terjadi/

https://nationalgeographic.grid.id/read/131824515/hujan-plastik-terjadi-di-salah-satu-pegunungan-tertinggi-di-amerika

https://www.dream.co.id/stories/aneh-tapi-nyata-hujan-plastik-terjadi-di-paris-kok-bisa-230530h.html

https://nasional.tempo.co/read/1723618/mikroplastik-dibalik-kemasan-botol-dan-gelas-plastik