Pages

Sunday, October 31, 2021

Bioekonomi Perikanan

Sabtu, 17 Mei 2008

Perkembangan keilmuan bioekonomi pada saat ini semakin pesat. Bioekonomi diterapkan dalam kajian pengelolaan sumberdaya hayati dengan memasukkan filosofi dan konsep ekonomi untuk optimalisasi benefit. Bidang perikanan termasuk bidang yang paling banyak menggunakan ilmu bioekonomi. Kompleksitas sumberdaya perikanan menyebabkan perlunya pengembangan model yang diperlukan sebagai pendekatan dalam pembuatan kebijakan, termasuk dengan menggunakan pendekatan bioekonomi.

Bioekonomi perikanan berasal dari tiga kata, yaitu biologi, ekonomi dan perikanan. Biologi atau biology berasal dari kata “bio” yang berarti kehidupan, dan kata “logos” yang dapat diartikan sebagai ilmu. Oleh karena itu, biologi secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu mengenai kehidupan mahkluk hayati, termasuk sumberdaya ikan. Sedangkan ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang langka dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya.

Istilah bioekonomi pada awalnya diperkenalkan oleh TI Baranoff, seorang teoretikus biologi laut asal Rusia, yang menamakan karya ilmiahnya dengan istilah bionomics atau bioeconomics meskipun dalam karya tersebut tidak banyak disinggung tentang faktor-faktor ekonomi. Selanjutnya Scott Gordon merupakan pionir dalam pengembangan bioekonomi. Scott Gordon adalah seorang ahli ekonomi dari Kanada. Gordon yang pertama kali menggunakan pendekatan ekonomi untuk menganalisis pengelolaan sumberdaya ikan yang optimal. Gordon menggunakan basis biologi yang diperkenalkan oleh Schaefer, yaitu konsep maximum sustainable yield atau MSY. Selanjutnya, istilah bioekonomi secara intensif dipergunakan oleh Collin Clark dan Gordon Munro.

Bioekonomi perikanan merupakan ilmu yang bersifat multi disiplin ilmu. Dalam bioekonomi, model dasarnya menggunakan teori dan konsep biologi yang selanjutnya dipadukan dengan konsep ekonomi. Pemakaian konsep ekonomi dimaksudkan untuk optimalisasi pemanfaatan sumberdaya hayati berdasarkan tinjauan ekonomi. Sedangkan bioekonomi perikanan merupakan aplikasi konsep bioekonomi pada bidang perikanan.

Konsep bioekonomi perikanan dikembangkan karena adanya kekhawatiran terjadinya the tragedy of the common atau tragedi kebersamaan pada sumberdaya perikanan. Apabila suatu sumberdaya menjadi ”milik bersama” atau tidak jelas kepemilikannya, dimana setiap pihak secara bebas dapat mengaksesnya, maka eksploitasi terhadap sumberdaya tersebut dikhawatirkan akan terlalu berlebihan.

Sumberdaya perikanan memang dikenal sebagai sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources). Namun, harus diingat bahwa daya pemulihan sumberdaya perikanan memiliki keterbatasan. Apabila pemanfaatan sumberdaya perikanan melebihi kemampuan daya pulih sumberdaya (regenerasi stok), maka stok sumberdaya ikan akan mengalami penurunan menuju kepunahan sumberdaya. Oleh karena itu, dikembangkan pendekatan maximum sustainable yield (MSY) atau tingkat tangkapan yang lestari. Pada level MSY, maka pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak mengganggu kelestarian sumberdaya, dimana jumlah ikan yang dipanen atau ditangkap pada batasan surplus produksi.

Kritik terhadap pendekatan MSY diantaranya karena belum memperhitungkan nilai ekonomi. Meskipun pendekatan MSY menghasilkan hasil tangkapan yang optimal dan lestari, namun oleh para ekonom dinilai masih belum optimal secara ekonomi. Oleh karena itu, pada perkembangannya ilmuwan dari biologi dan ekonomi banyak mengembangkan konsep bioekonomi dengan tujuan untuk mengupayakan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang optimal secara ekonomi dengan tetap memperhitungkan faktor kelestarian sumberdaya perikanan.


Sumber :

http://bioeconomic.blogspot.com/2008/05/bioekonomi-perikanan.html

Bioekonomi

August 29, 2015

Di tengah rupiah yang kian tak berdaya dibantai Yuan dan Dolar saat ini, kesalahan semua ditumpukan pada impor kita. Semua-semua diimpor. iPhone terbaru diimpor. Mesin-mesin untuk PLTU Batang yang baru diresmikan diimpor. Bahan baku untuk pabrik obat diimpor. Itu barangkali masih dimaklumi. Namun rupanya daging sapi, beras, cabe, susu, kedelai, terasi, hingga garam pun ikutan diimpor. Tak masuk akal memang, negara dengan laut begitu luas dan memiliki garis pantai salah satu yang terpanjang di dunia kok bisa-bisanya garamnya impor.


Tak Berdaulat

Terus terang, gara-gara sedang mengerjakan riset dan menulis buku mengenai life science dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, saya menjadi sensitif dengan persoalan ini. Bukunya berjudul “Life Science for Life” yang rencananya diluncurkan minggu depan di Bandung bersamaan dengan peringatan ulang tahun Bio Farma ke 125 tahun. Gara-gara buku ini saya mendalami potensi keanekaragaman hayati dan kekayaan plasma nutfah Indonesia yang luar biasa. Potensi ini seharusnya menjadi hartu karun yang bakal mengantarkan bangsa ini menjadi negara besar nan mandiri.

Kalau kita konfiden, nggak usah noleh kemana-mana, fokus menekuni apa yang kita punya tersebut, maka seharusnya kita tak akan risau rupiah babak-belur dibantai dolar seperti sekarang. Sedih memang, di tengah melimpahnya sumber daya hayati kita justru abai. Kita mengesampingkannya dan cenderung menoleh ke Barat dengan mengembangkan industri otomotif, elektronik, kimia, pesawat terbang, bahkan teknologi nuklir. Sesungguhnya kita malu menjadi bangsa petani; kita malu menjadi bangsa nelayan; kita malu menjadi bangsa peternak. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah-ruah, seharusnya industri yang kita kembangkan adalah industri yang berbasis hayati (bioindustry) seperti pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, pengobatan, atau energi terbarukan.

Sebagai negara yang telah terjajah begitu lama, kita silau dengan negara-negara Barat. Kita ikut-ikutan mengembangkan teknologi dan industri yang mereka kembangkan. Kita menjadi pengekor, karena kita berpikir dengan cara begitulah kita akan bisa menjadi semaju mereka. Apakah benar demikian? Menurut konsep keunggulan komparatif negara (comparative advantage of nation) setiap negara seharusnya mengambil bidang-bidang industri dan produk yang menjadi spesialisasinya. Dan melalui mekanisme perdagangan internasional (international trade) mempertukarkannya dengan negara lain.

Jadi, sebenarnya tidak masalah kita mengimpor mobil, mesin-mesin, gadget elektronik, atau pesawat terbang dari negara maju. Asalkan mereka juga mengimpor beras, daging sapi, ikan, cabe, atau susu dari kita. Sekarang yang terjadi mengenaskan, semua-semua kita impor. Kita menjadi negara yang tak mandiri, tak berdaulat. Rupiah tak berdaulat di negerinya sendiri karena kini di Mangga Dua pedagang elektronik lebih pede menggunakan dolar ketimbang rupiah yang terus terjun bebas.


Bioeconomy

Menangisi bangsanya yang kian tak berdaulat, nggak tahu kenapa akhirnya saya sampai kepada sebuah dokumen yang saya googling di internet. Dokumen itu bernama National Bioeconomy Blueprint yang dikeluarkan pemerintahan Obama pada tahun 2012. Dokumen tersebut tak lain berisi strategi Amerika Serikat untuk mengembangkan ekonomi yang berbasis pada life science dan bioteknologi. 

Dalam dokumen tersebut menjadi jelas bahwa masa depan ekonomi AS bukan ditopang oleh mesin, kimia, atau IT, tapi oleh life science dan bioteknologi. Mereka menyebutnya bioekonomi (bioeconomy), ekonomi yang pertumbuhannya didorong oleh pemanfaatan riset dan pengembangan life science dan bioteknologi.

Pemerintah Obama memilihnya karena dua alasan strategis. Pertama, industri dan produk hayati menjanjikan potensi luar biasa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi karena industrinya sedang emerging. Dan kedua, relatif tidak merusak lingkungan sehingga menghasilkan pertumbuhan berkesinambungan (sustainable growth). Beberapa sektor unggulan dipilih sebagai spesialisasi seperti: kesehatan, pertanian/pangan, energi terbarukan, dan lingkungan.

Yang saya kaget, rupanya AS tak sendiri. Cina yang selama ini kita kenal sebagai “pabriknya dunia” dan paling boros mengonsumsi minyak dan batubara yang mencemari pun mulai gandrung dengan industri hayati. Hal ini dilakukan setelah sektor manufaktur mulai dirasakan menimbulkan dampak pencemaran lingkungan yang mengkhawatirkan. Kini Cina agresif mengembangkan bidang-bidang hayati seperti makanan dan pertanian, kesehatan dan kedokteran, dan energi terbarukan untuk menopang pertumbuhan ekonominya.


Adem Ayem

Yang saya sedih, kenapa yang kepikiran mengembangkan industri dan produk berbasis hayati kok justru mereka bukan kita. Kita yang begitu kaya sumber daya genetik (SDG), spesies dan plasma nutfah baik flora maupun fauna, dan beragam ekosistem justru adem-ayem. Kapal besar ekonomi Indonesia haruslah diputar haluannya untuk fokus memanfaatkan kekuatan kita, yaitu industri dan produk biologi/hayati. Sebagai bangsa besar kita harus bangga menjadi petani kopi. Kita harus konfiden menjadi peternak sapi. Kita harus pede menjadi penambak udang. Kalau kopi, daging sapi, atau udang kita memiliki kualitas kelas dunia so pasti produk tersebut tak kalah dari Android, iPhone, atau sedan Toyota. Starbuck jualan kopi tapi tak kalah keren dibanding Apple. Nilai tambah yang dihasilkan juga tak kalah tinggi dibanding Toyota atau Boeing.

Pemerintah melalui BAPPENAS bersama Kementrian Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi dan terkait seperti Kementerian Pertanian, Kemenko Maritim, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah waktunya duduk bersama untuk merancang konsep pembangunan berbasis ilmu hayati, sejenis dengan National Bioeconomy Blueprint-nya Pemerintah Obama. Di dalam konsep tersebut kita harus menetapkan arah dan kebijakan pembangunan bioekonomi Indonesia.

Itu kalau kita tak mau rupiah terus terjun bebas hingga ke titik 30.000. Itu kalau kita tak mau rupiah tak berdaulat di negerinya sendiri karena kita terlalu bergantung pada impor. Ingat, kemandirian dan kedaulatan menjadi sesuatu yang kian mahal di negeri ini.


Sumber :

https://www.yuswohady.com/2015/08/29/bioekonomi/

Perubahan Model Ekonomi

Perubahan Model Ekonomi dalam Tiga Disrupsi Besar Dunia

25 Aug 2021 


Jakarta, Humas LIPI. Pada kuliah ilmiah yang berjudul ’Biodiversitas dan Inovasi Bioekonomi untuk Masa Depan Bangsa’, Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria menyampaikan tentang tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, Revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19. Kuliah ilmiah tersebut disampaikan Arif pada Sarwono Memorial Lecture XXI yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai puncak peringatan Hari Ulang Tahun LIPI ke-54.

Dalam paparannya, Arif menyampaikan bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen. “Hal ini tentu saja menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Pada bidang kesehatan pun, disrupsi perubahan iklim ini menyumbangkan penambahan angka malnutrisi, stunting, dan jumlah penyakit,” jelasnya. 

Disrupsi revolusi industri 4.0 diakselerasi dengan kecepatan teknologi kepintaran buatan, robotik, big data, hingga Internet of Things menurutnya, ternyata telah merombak tatanan kehidupan. Arif mengungkapkan bahwa revolusi biologi juga sedang dirasakan atas dampak dari disrupsi teknologi ini, di mana aspek biologi saat ini bersinergi dengan aspek teknologi komputer. "Dalam dunia bisnis, disrupsi ini menyebabkan munculnya pekerjaan baru, dan hilangnya sejumlah pekerjaan. Hari ini kita merasakan pentingnya kompetensi-kompetensi baru yang mengedepankan future skill (keahlian masa depan) yang didapat melalui reskilling, upskilling, dan new skilling," ujar Arif.

Tak ketinggalan, Arif menuturkan, disrupsi ketiga berupa pandemi covid-19 juga mengubah banyak pola di kehidupan sehari-hari. Beberapa yang paling dapat dirasakan saat ini menurutnya adalah perlambatan ekonomi, peningkatan angka kemiskinan, dan penurunan kesehatan. Namun di sisi lain juga meningkatkan fleksibilitas kegiatan bekerja dan belajar-mengajar.

Berdasarkan data yang dianalisisnya, ketiga disrupsi besar ternyata tidak memengaruhi pertumbuhan biodiversitas, yang menurut data Produk Domestik Bruto (PDB/Lapangan Kerja) 2020-2021, sektor yang berbasis pada biodiversitas tetap tumbuh positif. "Ini artinya, sektor biodiversitas adalah sektor yang tahan banting. Ini lah mengapa sektor ini harus terus dikembangkan dan mendapatkan prioritas dalam pembangunan nasional,"terang  Arif.

 

Tiga Disrupsi dan Perubahan Model Ekonomi

Arif menegaskan, ketiga disrupsi besar tersebut mengubah model ekonomi masa depan. Ia berpendapat, perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy, revolusi industri 4.0 memaksa terjadinya sharing economy, dan pandemi Covid-19 memaksa terjadinya new normal bioeconomy. Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang.

Green Economy Initiative (GEI) mendeskripsikan green and blue economy sebagai ekonomi yang meningkatkakan kualitas kehidupan manusia dan ekuitas sosial, dengan secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dan kelangkaan ekologi. "Green and Blue Economy merupakan jawaban atas perubahan iklim. Di mana di dalamnya mementingkan pertumbuhan karbon rendah, efisiensi sumber daya, dan melibatkan masyarakat," jelas Arif. ”Keberlanjutan saja tidak cukup. Langkah menjaga sumber daya alam tidak berhenti pada menjaga keberlanjutannya, namun juga regenerasi. Dalam istilah mudahnya, ada perbedaan antara membiarkan pohon tidak disentuh, dan menanam lebih banyak pohon,” tandasnya.

Lebih jauh ilmuwan berkacamata tersebut mengatakan, bentuk perubahan model ekonomi dari dampak revolusi industri 4.0 berupa sharing economy. Model ekonomi ini menurut Arif, memiliki ciri menciptakan nilai, dapat diakses online, berbasis komunitas, bisa dikonsumsi dan dimanfaatkan bersama, serta berbagi aset yang kurang termanfaatkan. ”Model ekonomi ini mengurangi kebutuhan kepemilikan, dan meningkatkan konsumsi kolaboratif,” ungkapnya yakin.

Ia menambahkan, ”… untuk perubahan model ekonomi New Normal Bioeconomy memiliki tiga ciri khas, yaitu sirkular, berbagi, dan regeneratif. Ciri regeneratif ini muncul dari masa new normal, yang memaksa upaya-upaya menumbuhkan keanekaragaman hayati, karena meningkatnya kepedulian masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan-makanan sehat dan berbasis biodiversitas," rinci Arif.

Sebagai model bioekonomi baru, dirinya menguraikan, biodiversitas memiliki fungsi penyediaan, pengaturan, kebudayaan, dan pendukung. Ia menjelaskan juga bahwa biodiversitas menyediakan pangan, obat, dan biomaterial, serta fungsi mengatur iklim, penyakit, dan regulasi. Terlebih lagi, menurutnya, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas, dengan sekitar 90% flora dunia dapat ditemui di Indonesia, dan 940 jenis berkhasiat sebagai obat. ”Nilai total keanekaragaman hayati di Indonesia mencapai lebih dari tiga ribu triliun rupiah. Oleh karena itu, model ekonomi new normal bioekonomi seharusnya menjadi hal yang sangat mungkin dan sangat menguntungkan di Indonesia, sehingga perlu untuk diprioritaskan,” imbuhnya. 

Arif pun yakin bahwa ekonomi berbasis biodiversitas ini dapat menjadi pondasi sumber ekonomi bangsa masa depan. "Dasar dari ekonomi masa depan ini tentang bagaimana kita mampu membangun ekosistem yang tangguh yang melibatkan modal SDM, modal produsen, dan SDA," ujar Arif. Bioekonomi juga memiliki banyak potensi inovasi.

Karakteristik inovasi bioekonomi ini berorientasi pada masa depan, memperkuat kedaulatan ekonomi, memberikan solusi, dan dapat dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Sektor dari inovasi ini pun beragam mulai dari pangan dan obat, biomaterial, hingga smart farming. Arif pun menekankan bahwa inovasi-inovasi dari model ekonomi new normal bioeconomy ini tak lepas dari pentingnya hilirisasi inovasi serta tata kelola yang benar.

 

Tentang Arif Satria

Arif Satria terpilih sebagai pemberi kuliah ilmiah LIPI Sarwono Memorial Lecture XXI karena dianggap secara terus-menerus dan disertai dedikasi yang tinggi melakukan kegiatan penelitian di bidangnya. Arif memulai karirnya sebagai sekretaris rektor IPB pada 1996 dan terus meningkatkan karirnya hingga posisi yang ia duduki sekarang sebagai rektor IPB.

Selama karirnya, ia berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya: Second Winner of Academic Leader Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi 2019, H-Index Tertinggi Kedua Bidang Sosial (DPIS IPB, 2019), Tribute to Innovators Rektor IPB 2015, Kagoshima University Ambassador 2011, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Menteri Pendidikan Nasional RI 2009, The First Winner of the JIFRS Yamamoto Prize on Yamamoto Award International Institute for Fisheries Economics and Trade 2008, dan Dosen Berprestasi III IPB 2007. Selama kiprahnya, ia telah menerbitkan 45 jurnal internasional dan prosiding, serta menjadi pembicara di konferensi bergengsi internasional sebanyak 30 kali.

Ia lahir di Pekalongan pada 17 September 1971. Arif menyelesaikan gelar sarjananya di Ilmu Ekonomi Pertanian, IPB pada 1995, yang kemudian ia lanjutkan di universitas yang sama pada bidang Sosiologi Pedesaan, di mana ia mendapat gelar masternya pada 1999. Arif kemudian meraih gelar doktoralnya di Kagoshima University, Jepang, Department of Marine Social Science pada 2006. (sr/ ed: drs)


Sumber :

http://lipi.go.id/berita/Perubahan-Model-Ekonomi-dalam-Tiga-Disrupsi-Besar-Dunia/22485

Thursday, October 28, 2021

Alasan Banyak Orang Beralih ke Produk Alami

Bukan Tren, Ini Alasan Banyak Orang Beralih ke Produk Alami

06 Okt 2021, 07:17 WIB

Jika diperhatikan, saat ini produk alami atau organik banyak bermunculan berbagai halaman media sosial. Dengan klaim terbuat dari bahan alami, produk-produk tersebut pun kian diminati. 

Alhasil permintaan terhadap natural product atau produk alami pun meningkat. Namun di balik keputusan banyak orang memilih produk alami, sebenarnya bukan dilatarbelakangi karena tren atau banyaknya influencer yang menggunakan produk tersebut.  

Laman TimesofIndia menjelaskan bahwa saat ini konsumen lebih berhati-hati untuk memilih berbagai produk yang akan digunakan. Ya, ada sejumlah alasan yang menegaskan terkait pemilihan produk alami, yaitu sebagai berikut:


Ramah Lingkungan

Meski pencemaran lingkungan masih menjadi isu yang nggak pernah habis dibahas, namun makin ke sini banyak orang mulai peduli terhadap lingkungan.

Nah, menggunakan produk berbahan alami dipilih untuk menjalani gaya hidup yang lebih menghargai bumi. Dengan membeli dan menggunakan produk tersebut, ada 'kepuasan moral' karena ikut ambil bagian menjaga lingkungan. 


Bebas Bahan Kimia

Kimia memang banyak digunakan sebagai bahan pelengkap untuk setiap produk yang digunakan sehari-hari, seperti detergen, obat-obatan, pewarna tekstil, pupuk, termasuk bahan makanan. 

Bahkan hampir 80% makanan kemasan mengandung berbagai bahan kimia yang di antaranya berbahaya bagi kesehatan. Pengawet misalnya. 

Selain merugikan kesehatan karena berisiko menimbulkan berbagai penyakit, oleh karena itu, banyak orang mulai beralih ke produk alami, seperti makanan organik. Bahan makanan organik diminati karena nggak mengandung pestisida, bahan kimia atau zat aditif lain yang berpotensi memperlambat sistem tubuh. 


Handmade

Produk buatan tangan sendiri alias handmade makin diburu para pembeli. Itu karena produk-produk tersebut menawarkan kualitas yang lebih tinggi, dibandingkan produk yang diproduksi massal. 

Makanya nggak heran, jika sekarang makin banyak orang yang berburu produk handmade. Selain produk yang ditawarkan nggak mengecewakan, sekaligus membantu para pengusaha lokal meningkatkan pendapatannya.  


Berkelanjutan

Dengan membeli dan menggunakan produk alami, artinya kamu ikut menjaga ekosistem planet ini agar pulih kembali. Bahkan sekarang, dunia lebih menghargai produk alami dan berkelanjutan. 

Itu karena produk-produk tersebut mengurangi dampak terhadap lingkungan. Misalnya produk menggunakan kemasan yang mudah didaur ulang dan yang paling umum, produk tersebut dibuat dari bahan-bahan alami. 

Nah, ngomong-ngomong tentang berkelanjutan, salah satu industri yang maju dan mengusung konsep tersebut adalah industri kecantikan. Buat kamu yang mau melakukan peralihan ke gaya hidup berkelanjutan, mulai sekarang gunakan produk kecantikan atau skincare berbahan alami. 

Pilihlah skincare natural yang berkomitmen untuk memilih kebaikan alam alias menghadirkan produk yang terbuat dari 100% essential oil alami (bukan sintetik). Pilih jugalah rangkaian produk skincare natural yang diproduksi sesuai standar GMP, ISO, dan telah menerima sertifikat organik dari USDA. 


Sumber :

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4676648/bukan-tren-ini-alasan-banyak-orang-beralih-ke-produk-alami

Monday, October 25, 2021

Tarif Pajak Karbon

RI Siap Terapkan Pajak Karbon, Segini Tarifnya

Jumat, 01 Okt 2021 12:11 WIB

Pemerintah dan Komisi XI DPR RI menyepakati tarif pajak karbon sebesar Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Hal itu tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (RUU HPP).

"Dalam hal tarif harga karbon di pasar karbon lebih rendah dari Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e) atau satuan yang setara, tarif pajak karbon ditetapkan sebesar paling rendah Rp 30 per kilogram dioksida ekuivalen (CO2e) atau satuan yang setara," bunyi draf tersebut dalam Bab VI Pasal 13 ayat (9), Jumat (1/10/2021).

Tarif yang ditetapkan pemerintah tersebut lebih rendah dari usulan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya yang sebesar Rp 75 per kg CO2e.

Dalam RUU HPP pasal 13 dijelaskan bahwa pajak karbon dikenakan atas emisi karbon yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan hidup. Pengenaan pajak karbon dilakukan dengan memperhatikan peta jalan pajak karbon dan/atau peta jalan pasar karbon.


Pajak Karbon Diterapkan Tahun Depan, Korporasi Mesti Siap-siap

Peta jalan pajak karbon yang dimaksud yakni memuat strategi penurunan emisi karbon, sasaran sektor prioritas, keselarasan dengan pembangunan energi baru dan terbarukan, dan/atau keselarasan antar berbagai kebijakan lainnya.

Sedangkan kebijakan peta jalan pajak karbon adalah yang ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan DPR RI.

Subjek pajak karbon yaitu orang pribadi atau badan yang membeli barang yang mengandung karbon dan/atau melakukan aktivitas yang menghasilkan emisi karbon.

"Pajak karbon terutang atas pembelian barang yang mengandung karbon atau aktivitas yang menghasilkan emisi karbon dalam jumlah tertentu pada periode tertentu," bunyi pasal 13 ayat (6).

Kategori terutang pajak karbon yakni pada saat pembelian barang yang mengandung karbon, pada akhir periode tahun kalender dari aktivitas menghasilkan emisi karbon dalam jumlah tertentu, atau saat lain yang diatur lebih lanjut berdasarkan peraturan pemerintah.

"Penerimaan pajak karbon dapat dialokasikan untuk pengendalian perubahan iklim," bunyi Pasal 13 ayat (11).


Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5748202/ri-siap-terapkan-pajak-karbon-segini-tarifnya.

Wednesday, October 20, 2021

Siap-siap Bumi akan Jadi Asing untuk Manusia
28 September 2021


Ada banyak laporan berdasarkan penelitian ilmiah yang berbicara tentang dampak jangka panjang dari perubahan iklim pada 2100. Perjanjian Paris misalnya, yang mengharuskan negara membatasi pemanasan di bawah 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menilai penelitian yang ada menunjukkan di mana kita berada dan apa yang harus kita lakukan sebelum 2100 untuk mencapai tujuan serta apa yang bisa terjadi jika kita tidak melakukannya.

Sebuah proyeksi model iklim global berdasarkan Representative Concentration Pathways (RCP), merupakan proyeksi yang bergantung pada waktu dari konsentrasi gas rumah kaca (GRK) atmosfer.

Proyeksi ini memodelkan skenario mitigasi rendah (RCP6.0), sedang (RCP4.5) dan tinggi (RCP2.6), yang sesuai dengan tujuan Perjanjian Paris, yakni di bawah 2 derajat Celcius hingga 2500.

Peneliti juga memodelkan distribusi vegetasi, tekanan panas, dan kondisi pertumbuhan untuk tanaman utama mereka, memahami jenis tantangan lingkungan yang dihadapi anak-anak saat ini dan keturunan mereka sejak abad ke-22 dan seterusnya.

Dalam model mereka menemukan bahwa suhu rata-rata global terus meningkat melampaui 2100 di bawah RCP4.5 dan 6.0. Di bawah skenario tersebut, vegetasi dan area penanaman tanaman terbaik bergerak ke arah kutub, dan area yang cocok untuk beberapa tanaman berkurang.

Tempat-tempat dengan sejarah kekayaan budaya dan ekosistem, seperti Lembah Amazon bisa menjadi tandus, melansir dari laman Science Alert, Selasa, 28 September 2021.

Peneliti juga menemukan tekanan panas dapat mencapai tingkat yang fatal bagi manusia di daerah tropis yang saat ini berpenduduk padat. Daerah seperti itu mungkin menjadi tidak layak huni. Bahkan di bawah skenario mitigasi tinggi, permukaan laut terus naik karena mengembang dan bercampurnya air di lautan yang memanas.

Untuk benar-benar menggambarkan seperti apa dunia dengan mitigasi rendah, peneliti menggunakan proyeksi dan keahlian penelitian yang beragam untuk menginformasikan serangkaian sembilan lukisan yang mencakup seribu tahun (1500, 2020, dan 2500) di tiga lanskap regional utama.

Ketiga yaitu Amazon, Amerika Serikat, Barat, Tengah, dan anak benua India. Dari 1500 hingga sekarang, kita sudah menyaksikan penjajahan dan revolusi industri, kelahiran negara-negara modern, identitas dan institusi, pembakaran massal bahan bakar fosil dan kenaikan suhu global yang terkait.

Jika kita gagal menghentikan pemanasan iklim, maka 500 tahun ke depan dan seterusnya akan mengubah Bumi dengan cara yang menantang kemampuan kita untuk mempertahankan banyak hal penting untuk bertahan hidup.

Bumi akan menjadi asing bagi manusia. Pilihan yang kita hadapi adalah segera mengurangi emisi, sambil terus beradaptasi dengan pemanasan yang tidak dapat kita hindari akibat emisi saat ini atau mulai menganggap kehidupan di Bumi sangat berbeda dengan yang sekarang.


Sumber :
https://www.viva.co.id/digital/digilife/1408788-siap-siap-bumi-akan-jadi-asing-untuk-manusia

Monday, October 11, 2021

Energi Terbarukan di Indonesia

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

29 SEPTEMBER 2021

    


Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Potensi ini tentunya memberi masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian energi Indonesia yang saat ini masih disokong oleh energi fosil.

Menurut The Conversation, pemerintah Indonesia telah mencanangkan bauran EBT yang mencapai 23 persen pada 2025 dan naik menjadi 31 persen pada 2050. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia menuju transisi energi. Disebutkan pada laman KESDM, total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.

Sebagai suatu negara kepulauan dengan iklim tropis, Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang EBT. Berikut empat di antaranya.


1. Energi panas bumi (geothermal)

Energi geothermal adalah energi panas yang terkandung dalam fluida air (bisa dalam uap, cair, atau campuran keduanya) yang berada pada kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah permukaan bumi. Fluida panas ini memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi yang menjadikannya sebagai penyedia energi yang masif.

Jumlah potensi energi geothermal Indonesia ialah sekitar 11.073 Megawatt listrik (MWe) dan cadangannya sekitar 17.506 MWe. Sayangnya, sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia, kita masih belum maksimal dalam segi pemanfaatannya.

Sumber energi ini tersebar hampir merata di lebih dari 300 titik dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut menjadikan pemanfaatan energi geothermal dapat membantu mengatasi krisis listrik di masa kini dan masa depan.

Dalam Road Map Pengembangan Geothermal yang disusun oleh Kementerian ESDM, Indonesia menargetkan pengembangan energi geothermal sekitar 7000 MW pada 2025. Program ambisius ini membutuhkan investasi yang besar, penyiapan teknologi yang mumpuni, manajemen penyediaan sumber daya manusia yang kompeten, dan dukungan iklim investasi yang menarik bagi investor.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia saat ini ialah sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan kita sebagai negara produsen energi geothermal terbesar kedua setelah Amerika Serikat (3.591 MW).


2. Energi Surya

Sebagai negara tropis dengan sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Energi alternatif terbarukan ini cukup menjanjikan untuk menopang kebutuhan energi masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat desa.

Menurut catatan Kementerian ESDM, elektrifikasi di Indonesia masih 55-60%, dan mayoritas wilayah yang belum teraliri listrik adalah wilayah pedesaan. Oleh karena itu, energi surya dapat menjadi salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di desa. Hal ini memungkinkan karena sifat panel surya yang dapat dibangun dimana saja.

Potensi energi surya di Indonesia dinilai sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Telah memiliki basis kebijakan yang kuat, pemerintah kini tetap harus fokus dalam produksi photovoltaic (PV) yang akan menjadi komponen utama dalam sistem PLTS.


3. Energi Biomassa/biogas

Energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik seperti kotoran ternak, atau limbah dapur seperti sayuran yang sudah digunakan. Limbah-limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara.

Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

Biogas sendiri dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk memasak dan bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik. Selain itu, biogas dinilai lebih aman untuk bumi karena pembakaran biogas mampu mengurangi emisi gas kaca. Biogas juga dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran tradisional.

Menurut Kementerian (ESDM) pengembangan biogas di Indonesia merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tercatat, biogas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 47.505 unit di seluruh wilayah Indonesia dengan menghasilkan biogas sebanyak 75.044,2 m3/hari atau sekitar 26,72 juta m3/tahun.

Kementerian ESDM akan terus mengejar target Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) mencapai 5.5 GW pada tahun 2025. Harapannya biogas akan menjadi salah satu energi alternatif utama bagi masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga bumi dari pemanasan global.


4. Energi Laut

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar, yaitu sekitar dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi Indonesia dari segi besarnya potensi energi laut.

Energi laut yang dihasilkan dari gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut (samudera) merupakan sumber energi di perairan laut yang berupa energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut, dan energi perbedaan suhu lapisan laut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.

Potensi termal lautan Indonesia ialah sebesar 2,5 x 1.023 Joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen, menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW/m di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang dinilai sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikan lainnya baru pada tahap penelitian. Harapannya, di masa depan energi gelombang dapat menjadi salah satu energi terbarukan yang menjanjikan.

Dilansir dari Kompas, Indonesia masih memanfaatkan sebagian kecil energi terbarukan, yaitu hanya sekitar 2,3 persen dari potensi yang ada. Padahal, potensi energi terbarukan yang dimiliki negara kita ialah sekitar 442 gigawatt (GW), atau sekitar tujuh kali lipat dari kapasitas listrik yang telah terpasang di tanah air.

Kini, kebutuhan penggunaan energi kian bertambah tiap waktunya, khususnya dengan adanya digitalisasi dan pertambahan penduduk. Agar tidak terjadi defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi suatu keharusan.*


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/29/menuju-transisi-mandiri-energi-berikut-4-potensi-energi-terbarukan-di-indonesia

Wednesday, October 6, 2021

Kedai Kopi Bayar Dengan Sampah Plastik

Kedai Kopi Masa Kini! Bayarnya Dengan Sampah Plastik

14 SEP 2021

Berbagai cara dilakukan agar masyarakat semakin peduli dengan bahayanya sampah plastik bagi ekosistem, seperti yang dilakukan oleh sebuah kedai kopi unik yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Konsumen dari kedai kopi bisa ngopi tanpa membayar dengan uang. Pelanggan hanya membayar sampah untuk secangkir kopi hangat. Untuk secangkir kopi, warga hanya tinggal menyetor sampah seberat 250 gram atau seperempat kilogram saja. Lokasinya di tengah hutan kota, di samping depo sampah kota Banyuwangi.

Ini merupakan terobosan baru dari Bank Sampah Banyuwangi (BSB). Mereka menggelar ngopi dengan menukar sampah plastik di Kantor BSB di Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. BSB menggandeng barista kopi asli Banyuwangi, sehingga bisa dipastikan kopi yang disediakan pun bukan sembarangan. Menurut Koordinator BSB Agus Supriyadi, program ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat agar mau menabung sampah. Ini merupakan inovasi program Bank Sampah Giat Keliling (Bagiak) dengan menggandeng UMKM.

"Kami menggandeng Mobile Cafe (MoCa) UMKM Banyuwangi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah juga berharga. Bisa digabung dan menghasilkan uang," ujar Agus kepada detikcom, Rabu (8/9/2021).

Acara ngopi tukar sampah ini digelar setiap hari mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB. ​​​​​​

Ketika ditanya mengenai adanya kemungkinan bau tidak sedap di kedai kopi ini, langsung dibantah olehnya. ”Di sini ada lokasi padat penduduk tapi banyak pohon besar disini. Dan dekat dengan depo sampah. Tapi kita jamin tidak akan bau," tambahnya.

Agus mengatakan, nantinya tak hanya ngopi bayar sampah yang digelar. Bekerja sama dengan UMKM di Banyuwangi, ada rencana baru yang tidak kalah revolusioner.

"Sampah yang dibawa akan dikonversi dengan rupiah dan bisa dibelikan sembako, makanan ringan, beras, ataupun sayuran," pungkasnya.

Seorang barista yang juga sekaligus penggiat sampah di Banyuwangi bernama Novian Darma Putra mengatakan, dirinya memang sering memberikan pelayanan pembayaran kopi dengan sampah sejak tahun 2019 lalu. Menurutnya, biasanya sekitar 75 cup kopi terjual per harinya, dengan menukar dengan sampah. Sampah-sampah ini kemudian ditukar di bank sampah, untuk ditukarkan menjadi hasil dirinya menjual kopi.

Novian menjelaskan, tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sampah, khususnya sampah plastik, bukan hanya menjadi kotoran, namun juga bisa bermanfaat dan memberikan nilai ketika dikelola dengan benar. Upaya seperti ini harus selalu kita dukung. Yuk ikuti jejak mereka sebagai masyarakat yang peduli akan kelangsungan ekosistem, dengan menjadi bagian dari #AntiPlastikPlastikKlub agar semakin banyak lagi upaya seperti ini.


Sumber :

https://www.trans7.co.id/seven-updates/kedai-kopi-masa-kini-bayarnya-dengan-sampah-plastik

Tuesday, October 5, 2021

Nobel Fisika 2021 Pemodelan Iklim

Nobel Fisika 2021 untuk Tiga Ilmuwan Pemodelan Iklim dan Fenomena yang Kompleks

Rabu, 6 Oktober 2021 01:54 WIB

Efek Rumah Kaca diyakini oleh para ahli sebagai salah satu sebab berakhirnya kehidupan di Bumi. Efek Rumah Kaca disebabkan naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2), nitrogen monoksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), klorofluorokarbon (CFC), dan gas-gas lainnya di atmosfer. 

Sejak Revolusi Industri, manusia telah disalahkan sebagai penyebab terganggunya keseimbangan atmosfer sehingga terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi, suhu air laut dan permukaan bumi naik. Para ilmuwan memperingatkan bahwa efek rumah kaca akan menyebabkan suhu melambung beberapa ratus derajat Celsius, membuat laut mendidih dan kehidupan di Bumi akan berakhir. rightnow.org.au

Akademi Sains Kerajaan Swedia memutuskan memberikan Hadiah Nobel Fisika 2021 untuk sejumlah kontribusi besar terhadap pemahaman kita tentang sistem fisik yang kompleks. Akademi merujuk kepada fisika dari iklim dan fenomena kompleks lainnya.

“Sebanyak tiga ilmuwan berbagi Hadiah Nobel Fisika tahun ini untuk sejumlah studi yang mereka lakukan tentang fenomena-fenomena chaos dan kelihatannya acak,” bunyi pengumuman di website NOBEL PRIZE yang dirilis, Selasa 5 Oktober 2021, waktu setempat.

Ketiga ilmuwan itu adalah Syukuro Manabe dari Princeton University, Amerika Serikat, dan Klaus Hasselmann dari Max Planck Insitute for Meteorology, Hamburg, Jerman. Keduanya disebut telah meletakkan dasar untuk pemahaman kita terhadap iklim di Bumi dan bagaimana manusia bisa mempengaruhinya.

Keduanya akan berbagi separuh pertama dari Hadiah Nobel senilai 10 juta Kronor atau setara Rp 16,2 miliar. Sedang separuh yang kedua diberikan kepada Giorgio Parisi dari Sapienza University of Rome, Italia. Parisi dianggap berhak atas hadiah tersebut untuk kontribusi revolusionernya untuk teori tak beraturan dan proses acak.

Akademi Sains Kerajaan Swedia memuji peran studi dan temuan dari dua ilmuwan yang pertama, “Untuk pemodelan fisik iklim Bumi, meng-kuantifikasi variabilitas dan memprediksi pemanasan global dengan cara yang bisa diandalkan.” Sedang terhadap Parisi, panitia yang sama mengatakan jasanya, “Untuk penemuan interaksi dari fluktuasi dan ketidakberaturan dalam sistem-sistem fisik, mulai dari skala atom sampai planet.”

Sistem yang kompleks dicirikan oleh tingkat acak dan ketidak-beraturan dan sulit dipahami. Hadiah Nobel Fisika tahun ini memberi pengakuan metode-metode baru untuk melukiskan sistem tersebut dan memprediksi perilakunya dalam jangka Panjang.

Satu sistem kompleks yang sangat vital untuk umat manusia adalah iklim Bumi. Manabe, kini berusia 90 tahun, dinilai telah mendemonstrasikan bagaimana kadar karbondioksida yang meningkat di atmosfer membimbing kepada meningkatnya suhu di permukaan Bumi.

Pada 1960-an, dia memimpin pengembangan model-model fisika dari iklim Bumi dan orang pertama yang mengeksplorasi interaksi antara keseimbangan radiasi dan transportasi vertikal massa udara. Risetnya itu meletakkan landasan untuk pengembangan pemodelan-pemodelan iklim saat ini.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, Hasselmann menciptakan sebuah model yang saling menghubungkan antara cuaca dan iklim. Dia menjawab pertanyaan kenapa model-model iklim bisa dipercaya meski cuaca memiliki pola yang berubah-ubah dan chaos. Pria yang juga akan genap berusia 90 tahun pada 25 Oktober nanti tersebut mengembangkan motode yang saat ini digunakan untuk membuktikan bahwa meningkatnya suhu di atmosfer adalah karena emisi karbondioksida oleh manusia.

Pada sekitar 1980, Parisi menemukan pola tersembunyi dalam material kompleks tak beraturan. Penemuan dari ilmuwan yang sekarang berusia 73 tahun ini adalah termasuk di antara kontribusi paling penting terhadap teori sistem kompleks.

Teori ini memungkinkan kita memahami dan melukiskan banyak fenomena dan material yang berbeda dan kelihatannya sepenuhnya acak. Tidak hanya dalam fisika tapi juga di bidang lain yang sangat berbeda, seperti matematika, biologi, ilmu saraf dan machine learning.

“Peraih Nobel Fisika tahun ini seluruhnya telah berkontribusi untuk kita bisa lebih dalam memahami sifat dan evolusi dari sistem fisik yang kompleks,” kata Thors Hans Hansson, Ketua Komite Nobel Fisika.


Sumber :

https://tekno.tempo.co/read/1514166/nobel-fisika-2021-untuk-tiga-ilmuwan-pemodelan-iklim-dan-fenomena-yang-kompleks/full&view=ok

Sunday, October 3, 2021

Hijrah ke Mobil Listrik

Akio Toyoda, Bos Toyota yang Tak Setuju Hijrah ke Mobil Listrik

25 September 2021

Melakukan perpindahan ke mobil listrik demi mengurangi emisi dan menuju netralitas karbon bukanlah sebuah solusi yang tepat, terutama untuk Jepang. Demikian yang dikatakan oleh Presiden Direktur Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda.

Pemerintahan Jepang berencana mengurangi emisi gas pembuangan Jepang pada tahun 2030 dan mampu mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dengan melakukan perpindahan sepenuhnya ke mobil listrik (BEV).

Namun, Bos Toyota itu merasa road map tersebut harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan industri di Jepang. Karena jika tidak, ini akan memiliki dampak yang sangat besar terutama pada kesejahteraan masyarakat, seperti pengangguran.


Memiliki dampak yang lebih luas

Akio mengatakan, Jepang merupakan negara yang bergantung pada ekspor, dengan melakukan perpindahan ke mobil listrik dan menghentikan penggunaan mesin pembakaran internal justru akan berdampak pada hal yang lebih luas.

Ia mencatat Jepang memproduksi sekitar 10 juta unit kendaraan per tahunnya, yang mana 5 juta unitnya di ekspor ke berbagai negara.

Jika mesin pembakaran internal dilihat sebagai “musuh” ini berarti pabrikan tak bisa memproduksi kebanyakan mobil saat ini. Bahkan, mobil ramah lingkungan pun tak akan bisa mencapai produksi 2 juta unit pada tahun 2030. Sehingga produksi 8 juta unit kendaraan hilang begitu saja.

“Jika ini terjadi, meskipun industri otomotif berhasil menambah 120 ribu pekerjaan di masa pandemi, sekitar 5,5 juta pekerja akan kehilangan pekerjaannya,” pungkasnya.

Akio merasa bahwa industri otomotif bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat Jepang. Ini sudah menjadi kewajiban untuk meneruskan kesejahteraan masyarakat Jepang. Maka dari itu harus ada solusi lain untuk menghindari hal tersebut.


Solusi melawan karbon

Jepang merupakan negara yang sangat berbeda, tidak bisa disamakan negara-negara di Eropa yang mampu mengaplikasikan rencana karbon netralitas yang pada tahun 2050 semua mobil sudah menjadi listrik penuh.

“Dalam mengejar netralitas karbon, karbon adalah musuh besar kita, bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi karbon, saya rasa harus ada solusi yang praktis dan berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi setiap negara,” ujar Akio Toyoda.

Akio menegaskan apabila ingin mengejar netralitas karbon, memperbanyak mobil listrik bukanlah sebuah solusi yang ampuh. Penggunaan mobil hybrid bisa menjadi salah satu upaya yang bisa dipertimbangkan, mengingat teknologinya semakin baik dan harganya masih terjangkau.

“Apa yang harus kita lakukan beberapa tahun kedepan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah kita kembangkan dan mengambil langkah untuk mengurangi karbon dioksida menggunakan kendaraan ramah lingkungan yang kita miliki saat ini,” tutur Akio Toyoda.

Presiden Direktur Yamaha Motor Company, Yoshihiro Hidaka mengatakan solusi lain dari mobil listrik yakni bahan bakar alternatif, seperti hidrogen dan bahan bakar sintetis yang masih bisa dimanfaatkan untuk mencapai netralitas karbon.

Selama 20 tahun ini, industri otomotif Jepang justru berhasil memangkas emisi karbon sebesar 23 persen. Angka tersebut bisa dibilang sangat tinggi dalam standar internasional.


Sumber :

https://kumparan.com/kumparanoto/akio-toyoda-bos-toyota-yang-tak-setuju-hijrah-ke-mobil-listrik-1warmB2F8BT/full?