Pages

Showing posts with label Innovation. Show all posts
Showing posts with label Innovation. Show all posts

Thursday, June 15, 2023

Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Kamis, 15 Juni 2023

Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) yang tergabung dalam kelompok StrawBite berhasil membuat sedotan berbahan dasar tepung beras dan tepung tapioka. Sedotan itu dipamerkan dalam pagelaran Ubaya Innovaction Festival (UNNO FEST) Vol. 02 pada 13-15 Juni 2023, di Plaza Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya.

Alat itu dibuat oleh Alfian Dwi Wahyudi, Clarence Rex Maximilian H., Natasya Octavia, dan Yemima Destaliza Samantha. Alfian Dwi Wahyudi Ketua Tim StrawBite mengatakan, inisiatif membuat sedotan eco friendly itu dilatarbelakangi fenomena masih banyaknya kafe yang menggunakan sedotan plastik.

“Hal ini tentu menjadi permasalahan bagi lingkungan karena plastik tidak bisa diuraikan kembali,” ucapnya pada Kamis (15/6/2023).

Mahasiswa Ubaya yang tergabung dalam kelompok StrawBite saat menunjukkan sedotan berbahan dasar tepung hasil inovasi kelompoknya. Alfian melanjutkan, selain ramah lingkungan, keunggulan dari sedotan StrawBite itu bisa dimakan karena berbahan dasar tepung beras, tepung tapioka, dan air.

“Ketika sudah selesai pakai, sedotan juga bisa dihancurkan dan remahannya bisa ditaburkan ke tanah untuk diserap tanaman. Jadi, sedotan ini benar-benar punya banyak manfaat,” terangnya.

Dia menambahkan, proses pembuatan sedotan yang memiliki panjang 23 cm dan diameter 1,5 mm itu hanya membutuhkan waktu 25-30 menit, dan menghasilkan sepuluh sedotan.

“Sedotan yang sudah jadi, bisa bertahan di ruang terbuka selama 40 hari. Kalau sudah dipakai pada minuman, sedotan dapat bertahan 3 sampai 5 jam,” jelasnya.

Selanjutnya, dia dan tim berencana mengembangkan sedotan StrawBite yang bisa digunakan untuk minuman panas, ditambahkan perasa, serta memperbanyak warna. Sementara itu, Sujoko Efferin Direktur Ubaya InnovAction Hub (UIH) Ubaya mengatakan, produk-produk buatan mahasiswa yang dipamerkan itu, bisa dikembangkan lagi dengan riset dan mendapat pendampingan dari praktisi bisnis.

“Ubaya berharap melalui acara ini dapat mencetak pengusaha sebanyak-banyaknya. Semoga peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya.

Sekadar diketahui, pameran yang diadakan Ubaya InnovAction Hub itu merupakan ajang memperkenalkan produk karya asli dan inovasi mahasiswa mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi, berupa barang dan jasa kepada masyarakat umum.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/mahasiswa-ubaya-ciptakan-sedotan-eco-friendly-berbahan-tepung/

Friday, May 26, 2023

Rumah dari Beton Campuran Popok Bayi

Pertama di Dunia! Rumah dari Beton Campuran Popok Bayi Hasil Riset Ilmuwan RI

Jumat, 26 Mei 2023 14:30 WIB

Permasalahan penggunaan bahan bangunan dan permasalahan limbah yang dapat menyebabkan permasalahan iklim kerap menjadi perbincangan. Masalah ini membuat salah satu insinyur sipil di Universitas Kitakyushu asal Indonesia memulai proyek membuat rumah dari beton yang menggunakan campuran popok bayi saat mengajar di Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB).

Dituliskan dalam jurnal Nature berjudul 'Application of Non-Degradable Waste As Building Material For Low-Cost Housing' yang disusun Siswanti Zuraida, Bart Dewancker dan Romi Bramantyo Margono yang dipublikasikan 18 Mei 2023, di sebagian negara berkembang akses terhadap perumahan yang sesuai dan terjangkau kerap menjadi permasalahan. 

Perumahan dengan harga terjangkau artinya perumahan yang lokasi dan kualitasnya sesuai, tetapi dengan biaya yang tidak membebani penghuni dan tidak mengganggunya untuk memenuhi biaya hidup lainnya. Sayangnya, dua aspek terpenting dalam bangunan, yaitu tanah dan bahan bangunan dipatok dengan harga yang tinggi sehingga menjadi tidak terjangkau bagi masyarakat miskin perkotaan.

Pada Indonesia sendiri penyediaan perumahan dengan harga terjangkau telah menjadi perhatian tiga dekade terakhir. Hal itu disebabkan karena terdapat pertumbuhan populasi perkotaan sebesar 4,1% per tahun. Selain itu, pertumbuhan populasi juga menyebabkan peningkatan kapasitas limbah dalam hal pengelolaan limbah. Data statistik menyebutkan total limbah pada tahun 2019 ialah 29,21 juta ton dan meningkat menjadi 32,76 ton pada tahun 2020.

Pertumbuhan populasi juga meningkatkan popularitas dari popok sekali pakai karena kenyamanannya dan harga yang terjangkau untuk digunakan. Permasalahan tersebut membawa para ilmuwan terhadap penemuan penggunaan popok yang dihancurkan untuk menggantikan 9 hingga 40% pasir yang digunakan dalam pembuatan beton tanpa mengurangi kekuatannya.

Masih dari laman Nature, popok sekali pakai merupakan sumber limbah non-daur ulang yang semakin meningkat. Selain itu, produksi semen juga berperan atas 7% emisi gas rumah kaca global dan mengonsumsi sekitar 50 miliar ton pasir setiap tahun.


Beton Campuran Popok Bayi Jadi Bahan Dasar Bangunan

Penelitian ini dipimpin oleh Siswanti Zuraida, dimana ia menggunakan beton yang bercampur popok untuk membangun sebuah rumah kecil di Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa limbah dapat dimanfaatkan kembali untuk membangun rumah yang terjangkau bagi komunitas dengan pendapatan rendah. Zuraida mengungkapkan pemanfaatan limbah sebagai bahan bangunan ini berkaitan besar dengan sumber daya yang tersedia.

"Dengan pertumbuhan populasi, limbah popok juga akan bertambah. Ini merupakan tantangan, jadi kami berpikir bahwa ini akan menjadi bagian dari kontribusi kami untuk mendaur ulang limbah ini," jelasnya.

Popok sekali pakai terbuat dari bubur kayu, kapas, dan polimer superabsorben. Sejumlah kecil dari bahan-bahan ini terbukti bisa meningkatkan sifat mekanik beton. Prosesnya yakni popok akan dicuci, dikeringkan, dan dihancurkan. Bahan yang dihasilkan dari popok yang dihancurkan akan dicampurkan dengan semen, pasir, kerikil, dan air.

Melalui pengujian yang dilakukan oleh tim peneliti, mereka menemukan bahwa semakin banyak penggunaan limbah maka semakin rendah kekuatan tekannya. Hal tersebut menyebabkan komponen struktural seperti kolom dan balok memerlukan proporsi limbah popok yang lebih kecil dibandingkan elemen arsitektur, seperti dinding dan blok beton.

Pada rumah prototipe satu lantai, para peneliti menghitung bahwa 27% pasir dapat digantikan oleh limbah popok. Namun, jika rumah akan dibangun sampai tiga lantai, maka proporsinya harus turun menjadi 10%.

Menariknya, pada komponen arsitektur, hingga 40% pasir dapat digantikan oleh limbah popok dengan proporsi tertinggi digunakan pada panel dinding beton. Sementara, lantai dan paving memerlukan struktur yang lebih kuat dibanding dinding untuk memenuhi standar bangunan. Hal itu menyebabkan hanya 9% pasir yang dapat digantikan oleh popok bekas pakai.


Penggunaan Popok Sesuai Standar Bangunan Indonesia

Rumah percobaan menggunakan beton dengan campuran popok bekas pakai dengan mengikuti standar bangunan di Indonesia, dengan luas lantai 36 meter persegi atau setara dengan sekitar 2,5 tempat parkir mobil. Para peneliti kemudian menggunakan beton popok sebagai komponen arsitektur dan balok logam untuk komponen struktural dengan tujuan untuk mempercepat proses pembangunan. Secara keseluruhan, rumah percobaan ini memanfaatkan sekitar 1,7 meter kubik limbah popok atau setara dengan sekitar 8% dari volume total material komposit.

"Sebagai cara untuk mendapatkan nilai dari limbah yang tidak terurai, ini adalah langkah yang bagus dan sangat berharga dalam proses bertahap," ungkap Christof Schröfl, kimiawan yang meneliti bahan bangunan berkelanjutan di Universitas Teknologi Dresden, Jerman.

Kendati demikian, ia juga memperingatkan bahwa mengangkut limbah popok ke pabrik pengolahan atau lokasi konstruksi dapat menghasilkan jalur transportasi yang cukup panjang.

Oleh sebab itu, para peneliti lebih disarankan untuk menggunakan dinding yang terbuat dari bahan komposit berbasis kayu daripada beton untuk meningkatkan rumah yang ramah lingkungan tetapi dengan biaya rendah.

Zuraida mengungkapkan bahwa memisahkan popok dari aliran limbah menjadi bagian yang paling menantang dalam mengaplikasikan karyanya ke dunia nyata.

"Tidak ada sistem dukungan dalam pengelolaan limbah sampah kota untuk memisahkan popok," ungkap Zuraida.

"Botol plastik sudah dipisahkan sekarang karena didaur ulang dengan cukup mudah, tetapi popok biasanya masuk ke proses pembakaran," tutur Zuraida.


Sumber :

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6740192/pertama-di-dunia-rumah-dari-beton-campuran-popok-bayi-hasil-riset-ilmuwan-ri.

Thursday, March 16, 2023

Green Wave Environmental Care Project For Schools

Kemangi Antarkan Mahasiswa UM Juarai Green Wave Environmental Care Project For Schools

Last updated: 2023/03/15 at 9:51 PM

Tidak hanya mengganggu, lalat juga dapat menjadi sarang penyakit. Tak jarang lalat yang hinggap di sembarang tempat membawa bakteri dan parasit di tubuhnya, sehingga dapat merugikan manusia.

Menurut World Health Organization (WHO), lalat rumah menjadi pembawa bakteri dan parasit penyebab diare dan infeksi mata. Permasalahan ini menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Sehingga berhasil ciptakan pembasmi lalat yang juga berfungsi sebagai pestisida sekaligus disinfektan alami dari daun kemangi.

ESSIL, begitu nama produknya. Adalah insektisida alami dari bahan dasar kemangi dengan tambahan kulit jeruk nipis dan daun cengkeh yang baik untuk lingkungan.

Viska Rinata, mahasiswa S1 Biologi UM selaku co-researcher menjelaskan, alasan inovasi tersebut dapat tercipta. Lantaran tingginya peledakan populasi lalat yang disebabkan peternakan ayam di Trenggalek, Jawa Timur.

Tingginya jumlah peternakan ayam yang beroperasi aktif di Trenggalek mencapai 3.272.238. Sehingga memicu ledakan populasi lalat secara drastis dan mengganggu masyarakat.

”Siapa sih yang nggak terganggu sama lalat. Karena lalat itu annoying banget. Selain annoying, resiko penyakit dari bakteri yang dibawa lalat itu lebih tinggi daripada serangga lain. Seperti kecoa dan sebagainya,” ujar gadis asal Trenggalek tersebut.

Melihat hal itu, Viska dan tim tidak diam saja. Mereka mencari solusi yang mudah dijangkau dan ekonomis agar bisa diterima serta digunakan secara maksimal oleh warga sekitar.

Viska mencoba mengamati lingkungan sekitar dan menemukan, bahwa banyak sekali petani kemangi di Trenggalek. Sayangnya, daun kemangi lumrah dimanfaatkan hanya sebagai lalapan atau makanan pendamping sambal dan nasi yang tentu memiliki harga jual rendah.

”Sebenarnya di daerah itu (Trenggalek) sudah ada masalah dan solusi yang tepat. Namun belum terintegrasi dengan baik. Nah, dari situ muncul ide untuk membuat inovasi ini,” tutur Viska.

ESSIL terbuat dari daun kemangi, daun cengkeh, dan kulit jeruk nipis yang memiliki nilai jual sangat rendah. Bahkan seringkali menjadi limbah.

Bahan dasar produk ini adalah daun kemangi serta memiliki bahan aktif methyl clavicle dan cineol yang tidak disukai oleh lalat. Ditambah dengan daun cengkeh dan kulit jeruk nipis yang memiliki fungsi antimikroba yang membuat produk ini memiliki nilai keterbaruan yang tinggi.

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, ESSIL memiliki persentase efektifitas yang cukup tinggi dalam mengusir lalat. Yaitu lebih dari 90%.

Tak hanya itu, berdasarkan uji organoleptik yang telah dilakukan, semua penguji menyatakan menyukai aroma dan tekstur dari ESSIL. Menggunakan teknologi nano fogging gun, penyemprotan produk dapat dilakukan lebih cepat, rata, dan tepat sasaran.

Inovasi hebat dari Viska dan tim sudah bisa digunakan di rumah yang terdampak ledakan populasi lalat.

”Jadi selain sebagai repellent lalat, ESSIL juga berfungsi sebagai disinfektan untuk membersihkan sisa-sisa bakteri yang ditinggalkan lalat sehingga dapat meminimalisir resiko diare, penyebaran polio, disentri dan lain sebagainya.”

“Ini produk sustainable yang ramah lingkungan dan minim resikonya bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” tambah gadis berusia 21 tahun tersebut.

Harapannya, ESSIL dapat dikembangkan sehingga bisa digunakan secara komersil di bidang peternakan.

”Untuk saat ini produksi masih dilakukan dalam skala kecil karena keterbatasan biaya dan sumber daya, namun produk ini memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat dikomersilkan di bidang peternakan,” ucapnya.

Inovasi tersebut berhasil menarik perhatian juri di ajang Green Wave Environmental Care Project For Schools 2022 yang diadakan oleh Sembcorp Marine di Singapura. Memiliki nilai jual dan keterbaruan yang tinggi, ESSIL berhasil meraih juara dua di ajang tersebut.

Pemakaian daun kemangi di bidang industri yang masih asing di masyarakat luas juga menarik perhatian para juri. Membawa nama baik UM di ajang internasional, Viska dan tim diundang menghadiri acara penghargaan di Parkroyal Collection Marina Bay, Singapura pada pertengahan Februari 2023.

Selaku penggagas ide, Viska berharap produk ini bisa menjadi produk yang dapat digunakan oleh banyak orang di masa depan.

”Fokus riset aku itu kan di green industry, jadi aku berharap produk ini bisa aku kembangin dan jadi core dari green industry yang ingin aku bangun di masa depan,” ujar Viska menyampaikan mimpi besarnya.


Sumber :

https://infomalangraya.com/kemangi-antarkan-mahasiswa-um-juarai-green-wave-environmental-care-project-for-schools/

Wednesday, February 8, 2023

Veolia, Pabrik Daur Ulang Plastik

Veolia Indonesia Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Rp 600 Miliar

Kamis, 21 Maret 2019 13:58 WIB

PT Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) menginvestasikan dana sekitar Rp 600 miliar untuk membangun pabrik daur ulang botol plastik atau Polyethylene terephthalate (PET) di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik yang didirikan di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi ini bakal beroperasi mulai awal 2020.

Presiden Director Veolia Indonesia, Sven Beraud-Sudreau, mengatakan dengan pabrik yang dibangun, pemilahan sampah plastik akan lebih efisien. Jika sudah beroperasi, pabrik tersebut mampu mendaur ulang botol plastik sebanyak 25 ribu ton per tahun. 

“Kami bekerja sama dengan para pemasok dari berbagai kota. Salah satu tujuan kami ialah mengurangi volume sampah plastik di Sungai yang berakhir di lautan,” kata Sven dalam peletakan batu pertama di kawasan industri Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kamis, 21 Maret 2019.

Sven berujar pembangunan pabrik tersebut akan membuat proses daur ulang menjadi lebih efisien dengan skala yang lebih besar untuk mengumpulkan, menyeleksi dan mengelola proses plastik. Didukung Danone-AQUA, kata dia, fasilitas yang ada merupakan upaya untuk memperkuat ekosistem daur ulang serta ekonomi sirkular.

Presiden Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, menuturkan daur ulang botol plastik bekas menjadi kemasan air mineral baru seperti yang dilakukan Veolia Indonesia telah diuji tingkat kesehatannya. Pengujian kesehatan, kata dia, disesuaikan dengan standar keamanan pangan dunia.

“Selain itu Danone-AQUA juga membantu mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi jejak karbon. Apalagi sejak 2017 kami telah meluncurkan program bijak berplastik,” ucap Corine Tap.

Adapun Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Ratnadewi Indriani mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan iklim investasi, khususnya kebijakan pengolahan sampah yang telah menjadi agenda mendesak pemerintah.

Farah meminta partisipasi dunia usaha untuk member masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang baik. “Kolaborasi Veolia Indonesia dengan Danone-AQUA diharapkan dapat memperkuat ekosistem daur ulang dan ekonomi sirkular,” ujar dia.


Sumber :

https://bisnis.tempo.co/read/1187709/veolia-indonesia-bangun-pabrik-daur-ulang-plastik-rp-600-miliar

Thursday, May 12, 2022

Kijang Innova Listrik

Alasan Toyota Indonesia Kembangkan Kijang Innova Listrik

Sabtu, 2 April 2022 15:07 WIB

Toyota Indonesia membuat kejutan dengan meluncurkan prototipe Kijang Innova listrik pada pembukaan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 31 Maret 2022. EV di belakang nama Kijang Innova menandakan bahwa model tersebut sepenuhnya bertenaga listrik.

Mobil MPV itu tidak hanya dipajang di booth Toyota di dalam pameran IIMS 2022, tetapi sudah dapat dikendarai mengeliling area parkir JIExpo. Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto termasuk salah satu yang pertama kali menjajal Kijang Innova EV.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan bahwa pemilihan Kijang Innova sebagai kendaraan listrik karena sejarah pada model tersebut yang lekat dengan Indonesia. "Dilihat dari sejarahnya, Kijang ini dikembangkan dan lahir di Indonesia, dipasarkan sejak 1977," kata Bob di Ancol, Jakarta Utara, Jumat malam, 1 April 2022.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mninjau pameran Indonesia International Motor Show di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Kehadiran Toyota Kijang Innova listrik ini semakin mendekatkan target pemerintah. Berdasarkan beleid yang sama, pemerintah menargetkan produksi mobil listrik pada 2025 sebanyak 400.000, kemudian pada 2030 bertambah menjadi 600.000 unit, dan pada 2035 sebesar 1 juta unit. Tempo/Tony Hartawan

Selain itu, lanjut dia, prototipe Kijang Innova listrik yang dipamerkan masih dari basis Kijang Innova Reborn tipe Venturer. Mudahnya, dia menambahkan, Kijang Innova konvesional diubah menjadi 100 persen tenaga baterai.

Memanfaatkan model yang sudah ada ini menurut Bob dapat lebih efisien dibanding membuat model yang benar-benar baru. Pada dasarnya, model yang sudah diproduksi secara lokal ini memiliki jaminan supply chain yang sudah mapan. Sudah terstruktur, memiliki kandungan lokal yang banyak (Kijang Innova saat ini memiliki kandungan lokal di atas 80 persen). "Yang sudah berjalan tidak terdisrupsi, tinggal ditambahkan teknologi baru saja," tutur dia.

Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Detail spesifikasi Toyota Kijang Innova EV Concept masih dirahasiakan oleh pihak PT TMMIN maupun PT TAM Tempo/Tony Hartawan

"Kami melakukan adjusment terhadap Kijang Innova yang sudah diproduksi selama ini, kami kembangkan dengan versi listrik. Jadinya Kijang Innova listrik ini sebagai study car yang kami akan terus kembangkan dan pelajari."

Bob menyampaikan bahwa setidaknya terdapat 30 persen ubahan pada Kijang Innova Venturer hingga menjadi versi listrik. Ubahan itu berupa penggantian mesin konvensional dengan motor listrik dan instalasi modul baterai yang diletakkan di bawah lantai mobil. "Baterainya 60 kWh, tetapi masih impor," kata Bob yang enggan menyebutkan secara detail baterai buatan pabrikan mana yang digunakan.

Menurut Bob, Toyota Indonesia menghadirkan prototipe Kijang Innova listrik karena ingin menyediakan full range technology pada seluruh modenya. Mulai dari bermesin konvensional (ICE), hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, hingga baterai (mobil listrik). "Prinsipnya semua model disiapkan teknologinya," tutur dia.

Saat ini TMMIN memproduksi lima unit prototipe Toyota Kijang Innova listrik. Tiga unit berada di Indonesia dengan dua unit dipamerkan di IIMS 2022. Sedangkan dua unit lagi dikirim ke Thailand untuk pengembangan dan penelitian.


Sumber :

https://otomotif.tempo.co/read/1577700/alasan-toyota-indonesia-kembangkan-kijang-innova-listrik/full&view=ok

Sunday, March 27, 2022

Penggunaan Hidrogen Sebagai Bahan Bakar

Eksperimen Sukses Penggunaan Hidrogen Sebagai Pengganti Bahan Bakar Konvensional

Harga bahan bakar meningkat drastis di seluruh dunia. Kawasan Desa Bosbüll di Jerman utara ingin prioritaskan hidrogen dan tunjukkan bahan bakar ini punya masa depan hijau.

Di sebuah desa di bagian paling utara Jerman terdapat proyek model pertama, di mana sebuah kawasan bertekad untuk bertahan tanpa bahan bakar fosil, dan sepenuhnya menggunakan hidrogen. 

Sejak beberapa pekan belakangan, dua bus berbahanbakar hidrogen digunakan untuk mengangkut penumpang. Untuk proyek itu, dibangun khusus beberapa tempat pengisian bahan bakar hidrogen.  

Bagi Sven Hänsel yang berprofesi sebagai pengemudi bus, jenis bus berbahanbakar hidrogen bagus karena tidak ribut. "Orang hanya mendengar motor listrik dan putaran gigi persneling." Ia menambahkan, mesinnya tidak bising. 


Hidrogen sebagai Sumber Energi Berkelanjutan?

Sampai-sampai jika penumpang di bus mengobrol, dia bisa mendengar percakapan mereka. "Kadang kurang enak. Tapi lama-kelamaan saya tidak mendengar lagi obrolan penumpang, dan hanya memperhatikan situasi lalu lintas”, ujar pengemudi bus berbahan bakar hidrogen ini.


Kendala pompa pengisian bahan bakar

Daniel Marx, pimpinan perusahaan DB Regio Bus Nord mengungkapkan, saat ini masalah aktualnya adalah sulitnya mengisi bahan bakar. "Tepatnya, antara bus dan instalasi tidak ada koneksitas," begitu dikatakan Daniel Marx. Ini masalah piranti lunak, tapi bisa diselesaikan dengan beberapa aktualisasi.

Inti proyek hidrogen adalah instalasi elektrolisis. André Steinau, yang menggagas proyek model bernama eFarm itu, punya perusahaan instalasi elektrolisis dengan biaya pembuatan senilai beberapa juta Euro. Di perusahaan itu, hidrogen diekstrasi dari air di dalam wadah raksasa. Untuk itu dibutuhkan banyak energi listrik.

André Steinau menjelaskan, mereka tidak ingin menyia-nyiakan listrik. Ide mereka adalah, menyimpan listrik untuk dipakai nanti, kalau energi terbarukan tidak bisa diakses. "Selain itu kami juga akan mencari penggunaan di mana energi tidak hanya dikembalikan ke jaringan listrik, melainkan ke sektor-sektor lain seperti mobilitas dan penghangat ruangan," demikian dijelaskan André Steinau. 

Metode yang digunakan saat ini: dengan bantuan listrik dari tenaga angin, hidrogen dipisahkan dari air yang sudah dibersihkan. Ini kemudian diangkut ke tempat pengisian bahan bakar hidrogen. 

Dalam proses untuk mendapatkan hidrogen, terbentuk suhu tinggi. Panas kemudian dialirkan ke jaringan lokal untuk disalurkan. Dengan cara itu, rumah-rumah penduduk dapat dihangatkan saat musim dingin, tanpa melepas emisi CO2.   


Suhu tinggi jadi produk awal

Tepatnya rumah-rumah di desa Bosbüll, yang berlokasi tak jauh dari sana. Max Böhm yang berprofesi sebagai pengrajin di desa itu sudah merasakan keuntungannya. 

Suhu hangat itu jadi hasil awal proyek. Untuk bus-bus, ini juga baru awalnya, kata Max Böhm, sambil menambahkan, tentu lebih baik lagi, jika di sini ada satu atau dua mobil pribadi berbahanbakar hidrogen. 

"Saat ini, dari segi harga belum memungkinkan bagi setiap orang, atau bagi kami untuk membeli mobil hidrogen seperti itu," kata Max Böhm. Tapi ia bisa membayangkan, di masa depan itulah yang akan terjadi. 


140 km/jam

Melintasi kawasan Cuxhaven, Bremerhaven, Bremervoerde, dan Buxtehude, kota-kota yang terletak di bagian utara Jerman, kereta api bertenaga hidrogen pertama di dunia ini beroperasi melayani rute sepanjang 100 km. Dengan kapasitas penumpang sebanyak 150 orang, kereta ini mampu melaju dengan kecepatan 140 km/jam.

Sebuah mobil berbahanbakar hidrogen harganya dua kali lipat dari mobil jenis atau model serupa yang berbahanbakar diesel. Oleh sebab itu baru 30 unit yang ada di kawasan itu.  

Bahanbakarnya juga relatif lebih mahal. Untuk perjalanan 500 km, orang harus membeli bahan bakar seharga 50 Euro. Sedangkan kalau mobil diesel, hanya 47 Euro, dan pada mobil listrik bahkan hanya 25 Euro. 


Perlindungan iklim perlu dana besar

André Steinau mengatakan, “Kita juga harus sadar, perekonomian yang berorientasi pada perlindungan iklim harganya mahal, dibanding yang berbahanbakar fosil." Itulah perlindungan iklim. Sekarang semua orang ingin menyelamatkan bumi, dan sekarang kita berada di awal teknologi yang sudah lama ada, tapi belum diproduksi massal. "Sudah ada penggunaannya, tapi jika massal akan lebih murah,” demikian dijelaskan André Steinau.

Diprediski dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan energi yang ramah iklim sudah akan lebih ekonomis, seperti halnya energi biasa. Banyak orang di  kawasan utara Jerman ini percaya kemungkinan itu. Karena sudah bisa dilihat, tekniknya dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (ml/inovator) 

 

Sumber :

https://www.dw.com/id/bahan-bakar-konvensional-hidrogen/a-61101377?

Tuesday, February 1, 2022

Penetral Bau Sampah

Temukan Penetral Bau Sampah, Mahasiswi Sidoarjo Ini Raih Trash Control Heroes

Selasa, 01 Feb 2022 11:20 WIB

Seorang mahasiswi asal Sidoarjo berhasil menemukan eco lindi cairan penetral bau sampah. Atas temuannya ini, mahasiswa itu diganjar penghargaan Trash Control Heroes dari Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.

Mahasiswi tersebut yakni Rania Nura Andindhita warga Desa Prasung, Kecamatan Buduran. Perempuan 20 tahun ini adalah mahasiswi Fakultas Biologi UGM. Rania menuturkan temuannya ini berawal dari hasil diskusi dengan ayahnya Bahrul Amig. Kebetulan ayahnya ini adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo.

Ia kemudian menjelaskan air eco lindi yang ditemukannya berasal dari endapan tumpukan sampah mempunyai sifat mendukung keragaman mikroba.

"Setelah air lindi ini dicampur dengan molase atau sisa air tebu, katalis penghasil enzim serta asam sulfat, bisa menghilangkan bau dan mampu melepaskan amoniak dan metana yang ada di tumpukan sampah," jelas Rania, Selasa (1/2/2022).

Pembuatan Eco Lindi, lanjut Rania, terbilang cepat dan ekonomis. Satu galon katalis bisa menghasilkan 10 ribu liter eco lindi. Sedangkan satu kali pembuatan eco lindi bisa dibuat 42 kali 10 ribu liter. Pembuatan Eco Lindi cepat dan murah. Satu galon katalis bisa menghasilkan 10 ribu liter eco lindi. Satu kali pembuatan eco lindi bisa dibuat 42 kali 10 ribu liter tersebut.

Untuk proses penggunaanya, Rania mengatakan cukup cairan disemprotkan ke tumpuka sampah. Adapun reaksinya hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

"Untuk pengembangannya, nantinya eco lindi tidak hanya bisa menetralkan bau sampah saja. Namun bisa juga difungsikan sebagai pupuk atau penyubur tanaman," imbuhnya.

Menanggapi temuan anaknya ini, Bahrul Amig menyebut sebagai temuan yang penting untuk dunia lingkungan. Khususnya sampah yang mengeluarkan bau tak sedap seperti di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Bau di TPA dan tempat pengolahan sampah, saat ini telah bisa diatasi dengan eco lindi ini. Dengan disemprot eco lindi, bau sampah yang datang di TPA bisa netral," kata Amiq.

Menurut Amiq, Eco Lindi telah diuji coba untuk mengatasi problem bau di sekitar peternakan. Hasilnya, eco lindi ini dinyatakan aman untuk ternak. Tak hanya itu, pihaknya eco lindi juga telah mencoba di lingkungan pasar.

"Selain itu kami sudah uji cobakan di lingkungan pasar karena mikrobaya sangat reaktif. Temuan Eco Lindi ini bisa diaplikasikan di semua aktivitas limbah yang menghasilkan bau," tandas Amiq.


Sumber :

https://www.detik.com/jatim/jatim-moncer/d-5923442/temukan-penetral-bau-sampah-mahasiswi-sidoarjo-ini-raih-trash-control-heroes.

Thursday, January 20, 2022

Reverse Vending Machine

Bekas botol plastik kini bisa ditukar Gopay hingga Shopeepay

AQUA bekerjasama dengan Alfamart dan PlasticPay menyediakan AQUA Reverse Vending Machine (RVM) atau Mesin Penukaran Botol plastik pasca-konsumsi guna mempermudah pengelolaan sampah botol plastik.

Tahap pertama, mesin akan ditempatkan di lima toko Alfamart yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang.

"Bagi Danone-AQUA, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kami yang diwujudkan melalui gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan sejak 2018. Gerakan ini selain bertujuan mempertegas posisi perusahaan sebagai pelopor pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik pasca-konsumsi, juga untuk mendukung ambisi pemerintah mengurangi sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70 persen di 2025," kata kata VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto dalam siaran pers pada Kamis.

Kemasan botol plastik bekas minuman yang ditukarkan di dalam mesin akan mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan sejumlah uang di berbagai dompet digital.

Untuk kemasan botol plastik PET pasca-konsumsi dengan merk Danone-AQUA diberikan reward 100 poin per botol, sementara untuk botol PET bekas merk lain mendapat reward 50 poin per botolnya.

Poin-poin yang diperoleh dari setiap pengumpulan sampah botol plastik dapat ditukarkan dengan Gopay, Dana, LinkAja, OVO, Shopeepay, dan juga sedang diproses untuk bisa ditukarkan dengan Alfagift Points.

Untuk mendapatkan poin, pertama, pengguna harus mengunduh aplikasi PlasticPay pada smartphone dan melakukan registrasi. Kemudian membawa kemasan botol plastik PET paska konsumsi ke lokasi AQUA RVM terdekat. Memindai barcode pada botol plastik PET pasca-konsumsi, sebelum memasukkannya ke dalam mesin RVM. Terakhir, konsumen cukup memindai QRCODE yang muncul pada mesin menggunakan aplikasi PlasticPay, diakhiri dengan mengklik “AmbilPoin” pada aplikasi PlasticPay.

Dengan mekanisme ini, AQUA RVM diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong masyarakat untuk mengumpulkan kemasan botol plastik pasca-konsumsi mereka, sehingga mengurangi sampah plastik yang tidak terkumpul dan terkelola dengan benar.

Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin mengapresiasi kerjasama dengan Danone AQUA untuk karena ikut berkontribusi memberikan solusi bagi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Komitmen Alfamart Sahabat Bumi ditunjukkan dengan kerjasama untuk menginisiasi alternatif baru bagi masyarakat untuk ikut bijak mengelola kemasan botol plastik pasca-konsumsi.

"Kami melihat jaringan kami yang berjumlah lebih dari 16.000 gerai dan tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekuatan luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memberi kemudahan bagi mereka untuk dapat berperan aktif mendukung pengelolaan sampah plastik yang menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini," katanya.

Komitmen Alfamart sebagai sahabat bumi untuk lingkungan, tambahnya, sudah ditunjukkan dengan mengurangi konsumsi plastik belanja sejak tahun 2016. Selain itu, kegiatan untuk menjaga lingkungan hidup juga intens dilakukan dengan melakukan penanaman pohon secara massal di seluruh wilayah Indonesia.

Suhendra Setiadi, CEO PlasticPay mengatakan melalui kerjasama dengan Danone-AQUAdan Alfamart, perusahaan yang memiliki komitmen daur ulang kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang kuat dan jaringan toko yang luas, PlasticPay optimistis dapat menjangkau masyarakat Indonesia yang lebih luas sehingga menjadikan reverse vending machine yang merupakan seratus persen karya anak bangsa ini dapat berkontribusi secara maksimal dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia secara berkelanjutan.

"Prosesnya, seluruh kemasan botol plastik paska konsumsi yang terkumpul dalam AQUA RVM akan diambil oleh mitra pengumpul sampah plastik Danone-AQUA dan langsung di bawa ke RBU (Recycle Business Unit) binaan Danone-AQUA yang berada di 6 lokasi, termasuk di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang terkumpul kemudian akan diolah menjadi plastik PET daur ulang yang digunakan kembali sebagai bahan baku di seluruh kemasan botol AQUA,” tambahnya

Mengacu pada hasil riset yang dilakukan oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI) daur ulang sampah plastik di Indonesia masih tergolong kecil yaitu di bawah angka 10 persen, untuk itu diperlukan upaya inovatif untuk meningkatkan laju pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik bekas.


Sumber :

https://id.berita.yahoo.com/bekas-botol-plastik-kini-bisa-062820525.html

Wednesday, January 5, 2022

Ekonomi Sirkular Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru

Ekonomi Sirkular Bakal Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru bagi Perempuan

06 Jan 2022, 12:30 WIB

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Medrilzam, coba memaparkan peluang investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular. Salah satunya terkait penciptaan lapangan kerja baru.

Medrilzam memproyeksikan, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular bakal menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030 mendatang, dimana 75 persen atau 3,3 juta diantaranya jadi porsi kaum hawa.


Pemerintah Target Seluruh Warga Bisa Akses Air Minum Perpipaan di 2030

"Ada penciptaan 4,4 juta lapangan kerja baru kalau misalnya ini bisa kita laksanakan dengan baik, 75 persen dari total pekerjaan merupakan tenaga kerja perempuan," paparnya dalam sesi webinar, Kamis (6/1/2022).

Selain penciptaan lapangan kerja, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular juga dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) pada kisaran Rp 593-638 triliun di 2030.

"Dari hasil kajian yang sudah kami buat, ternyata sirkular ekonomi bila diterapkan kontribusi PDB-nya sangat-sangat besar, hampir Rp 600 triliun rata-rata," jelas Medrilzam.

Ekonomi sirkular pun tentunya bakal mengurangi timbulan limbah sebesar 18-52 persen dibandingkan business as usual pada 2030. Sehingga berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 126 juta ton karbon dioksida.

"Juga tentunya karena dia sirkular ini bisa mengurangi timbulan limbah cukup-cukup besar bila dibandingkan dengan business as usual. Secara otomatis emisi pun bisa kita turunkan," tutur dia.


Sudah Ada Hasil

Menurut Medrilzam, seluruh proyeksi tersebut bukan hanya mimpi belaka. Sebab, sudah ada beberapa negara maju yang menerapkan pola ekonomi sirkular, dan telah mendapatkan hasilnya.

"Ini kesannya memang seperti mimpi, tapi di luar negeri ini sudah mulai mengarah ke sana. Bahkan sudah ada beberapa negara mulai men-declare bahwa hampir sebagian besar produk-produknya dihasilkan dari proses sirkular ekonomi," tandasnya.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4852662/ekonomi-sirkular-bakal-ciptakan-33-juta-lapangan-kerja-baru-bagi-perempuan

Wednesday, October 6, 2021

Kedai Kopi Bayar Dengan Sampah Plastik

Kedai Kopi Masa Kini! Bayarnya Dengan Sampah Plastik

14 SEP 2021

Berbagai cara dilakukan agar masyarakat semakin peduli dengan bahayanya sampah plastik bagi ekosistem, seperti yang dilakukan oleh sebuah kedai kopi unik yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Konsumen dari kedai kopi bisa ngopi tanpa membayar dengan uang. Pelanggan hanya membayar sampah untuk secangkir kopi hangat. Untuk secangkir kopi, warga hanya tinggal menyetor sampah seberat 250 gram atau seperempat kilogram saja. Lokasinya di tengah hutan kota, di samping depo sampah kota Banyuwangi.

Ini merupakan terobosan baru dari Bank Sampah Banyuwangi (BSB). Mereka menggelar ngopi dengan menukar sampah plastik di Kantor BSB di Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. BSB menggandeng barista kopi asli Banyuwangi, sehingga bisa dipastikan kopi yang disediakan pun bukan sembarangan. Menurut Koordinator BSB Agus Supriyadi, program ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat agar mau menabung sampah. Ini merupakan inovasi program Bank Sampah Giat Keliling (Bagiak) dengan menggandeng UMKM.

"Kami menggandeng Mobile Cafe (MoCa) UMKM Banyuwangi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah juga berharga. Bisa digabung dan menghasilkan uang," ujar Agus kepada detikcom, Rabu (8/9/2021).

Acara ngopi tukar sampah ini digelar setiap hari mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB. ​​​​​​

Ketika ditanya mengenai adanya kemungkinan bau tidak sedap di kedai kopi ini, langsung dibantah olehnya. ”Di sini ada lokasi padat penduduk tapi banyak pohon besar disini. Dan dekat dengan depo sampah. Tapi kita jamin tidak akan bau," tambahnya.

Agus mengatakan, nantinya tak hanya ngopi bayar sampah yang digelar. Bekerja sama dengan UMKM di Banyuwangi, ada rencana baru yang tidak kalah revolusioner.

"Sampah yang dibawa akan dikonversi dengan rupiah dan bisa dibelikan sembako, makanan ringan, beras, ataupun sayuran," pungkasnya.

Seorang barista yang juga sekaligus penggiat sampah di Banyuwangi bernama Novian Darma Putra mengatakan, dirinya memang sering memberikan pelayanan pembayaran kopi dengan sampah sejak tahun 2019 lalu. Menurutnya, biasanya sekitar 75 cup kopi terjual per harinya, dengan menukar dengan sampah. Sampah-sampah ini kemudian ditukar di bank sampah, untuk ditukarkan menjadi hasil dirinya menjual kopi.

Novian menjelaskan, tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sampah, khususnya sampah plastik, bukan hanya menjadi kotoran, namun juga bisa bermanfaat dan memberikan nilai ketika dikelola dengan benar. Upaya seperti ini harus selalu kita dukung. Yuk ikuti jejak mereka sebagai masyarakat yang peduli akan kelangsungan ekosistem, dengan menjadi bagian dari #AntiPlastikPlastikKlub agar semakin banyak lagi upaya seperti ini.


Sumber :

https://www.trans7.co.id/seven-updates/kedai-kopi-masa-kini-bayarnya-dengan-sampah-plastik

Sunday, October 3, 2021

Hijrah ke Mobil Listrik

Akio Toyoda, Bos Toyota yang Tak Setuju Hijrah ke Mobil Listrik

25 September 2021

Melakukan perpindahan ke mobil listrik demi mengurangi emisi dan menuju netralitas karbon bukanlah sebuah solusi yang tepat, terutama untuk Jepang. Demikian yang dikatakan oleh Presiden Direktur Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda.

Pemerintahan Jepang berencana mengurangi emisi gas pembuangan Jepang pada tahun 2030 dan mampu mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dengan melakukan perpindahan sepenuhnya ke mobil listrik (BEV).

Namun, Bos Toyota itu merasa road map tersebut harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan industri di Jepang. Karena jika tidak, ini akan memiliki dampak yang sangat besar terutama pada kesejahteraan masyarakat, seperti pengangguran.


Memiliki dampak yang lebih luas

Akio mengatakan, Jepang merupakan negara yang bergantung pada ekspor, dengan melakukan perpindahan ke mobil listrik dan menghentikan penggunaan mesin pembakaran internal justru akan berdampak pada hal yang lebih luas.

Ia mencatat Jepang memproduksi sekitar 10 juta unit kendaraan per tahunnya, yang mana 5 juta unitnya di ekspor ke berbagai negara.

Jika mesin pembakaran internal dilihat sebagai “musuh” ini berarti pabrikan tak bisa memproduksi kebanyakan mobil saat ini. Bahkan, mobil ramah lingkungan pun tak akan bisa mencapai produksi 2 juta unit pada tahun 2030. Sehingga produksi 8 juta unit kendaraan hilang begitu saja.

“Jika ini terjadi, meskipun industri otomotif berhasil menambah 120 ribu pekerjaan di masa pandemi, sekitar 5,5 juta pekerja akan kehilangan pekerjaannya,” pungkasnya.

Akio merasa bahwa industri otomotif bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat Jepang. Ini sudah menjadi kewajiban untuk meneruskan kesejahteraan masyarakat Jepang. Maka dari itu harus ada solusi lain untuk menghindari hal tersebut.


Solusi melawan karbon

Jepang merupakan negara yang sangat berbeda, tidak bisa disamakan negara-negara di Eropa yang mampu mengaplikasikan rencana karbon netralitas yang pada tahun 2050 semua mobil sudah menjadi listrik penuh.

“Dalam mengejar netralitas karbon, karbon adalah musuh besar kita, bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi karbon, saya rasa harus ada solusi yang praktis dan berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi setiap negara,” ujar Akio Toyoda.

Akio menegaskan apabila ingin mengejar netralitas karbon, memperbanyak mobil listrik bukanlah sebuah solusi yang ampuh. Penggunaan mobil hybrid bisa menjadi salah satu upaya yang bisa dipertimbangkan, mengingat teknologinya semakin baik dan harganya masih terjangkau.

“Apa yang harus kita lakukan beberapa tahun kedepan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah kita kembangkan dan mengambil langkah untuk mengurangi karbon dioksida menggunakan kendaraan ramah lingkungan yang kita miliki saat ini,” tutur Akio Toyoda.

Presiden Direktur Yamaha Motor Company, Yoshihiro Hidaka mengatakan solusi lain dari mobil listrik yakni bahan bakar alternatif, seperti hidrogen dan bahan bakar sintetis yang masih bisa dimanfaatkan untuk mencapai netralitas karbon.

Selama 20 tahun ini, industri otomotif Jepang justru berhasil memangkas emisi karbon sebesar 23 persen. Angka tersebut bisa dibilang sangat tinggi dalam standar internasional.


Sumber :

https://kumparan.com/kumparanoto/akio-toyoda-bos-toyota-yang-tak-setuju-hijrah-ke-mobil-listrik-1warmB2F8BT/full?

Sunday, September 19, 2021

PLTS Terbesar di Dunia

Ini PLTS Terbesar di Dunia, Lebih Luas daripada Jakarta Pusat 

20/09/2021, 10:00 WIB

Bhadla Solar Park dikukuhkan sebagai situs PLTS terbesar di dunia pada 2021 dengan kapasitas terpasang sebesar 2,25 gigawatt.

Situs pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di dunia terdapat di India dengan nama Bhadla Solar Park. Bhadla Solar Park dikukuhkan sebagai situs PLTS terbesar di dunia pada 2021 dengan kapasitas terpasang sebesar 2,25 gigawatt. 

Melansir NS Energy, PLTS Bhadla Solar Park terletak di desa Bhadla, distrik Jodhpur Rajasthan, India. Baca juga: Inspirasi Energi: PLTP Terbesar di Dunia Ada di AS, Mampu Terangi 900.000 Rumah Wilayah ini terkenal dengan suhu yang tinggi dan disinari cukup lama oleh matahari. 

Panel-panel surya di PLTS terbesar di dunia ini terpasang di lahan seluah sekitar 5.783 hektare atau sekitar 57,8 kilometer persegi. 

Jika dikomparasikan, luas PLTS Bhadla Solar Park lebih besar dibandingkan Jakarta Pusat dengan luas 47,9 kilometer persegi. Proyek ini dikembangkan oleh beberapa entitas seperti Rajasthan Solar Park Development Company Limited, Saurya Urja Company, dan Adani Renewable Energy Park Rajasthan. 

NS Energy melaporkan, PLTS terbesar di dunia tersebut dibangun dalam empat fase. Rajasthan Solar Park Development Company Limited mengembangkan Bhadla Solar Park pada fase pertama dan kedua. Sedangkan Saurya Urja Company of Rajasthan bertanggung jawab untuk membangun Bhadla Solar Park fase ketiga. 

Terakhir Adani Renewable Energy Park Rajasthan mengembangkan PLTS terbesar di dunia tersebut pada fase empat. Investasi yang ditanam pada proyek Bhadla Solar Park ditaksir sekitar 1,5 miliar dollar AS atau setara Rp 19,9 triliun. 

Pembangunan Bhadla Solar Park dimulai pada Juli 2015. Sistem transmisi daya listrik yang dihasilkan Bhadla Solar Park dikembangkan oleh Powergrid Corporation of India (PGCIL) dan perusahaan transmisi milik negara TRANSCO. 

Listrik yang dihasilkan PLTS terbesar di dunia ini lantas disalurkan ke jaringan otoritas listrik negara bagian. Pembangunan jalur transmisi baru dari Bhadla Solar Park ke jaringan nasional dibiayai di bawah Program Investasi Transmisi Energi Terbarukan Rajasthan (RRETIP). 

Pembiayaan tersebut dikoordinasikan oleh Pemerintah India, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Dana Teknologi Bersih.


Sumber :

https://www.kompas.com/global/read/2021/09/20/100000970/ini-plts-terbesar-di-dunia-lebih-luas-daripada-jakarta-pusat?page=all#page2.

Wednesday, September 1, 2021

Sendok Garpu dari Limbah Jagung

Sendok Garpu dari Limbah Jagung Inovasi Mahasiswa Unsoed Ini Bisa Dimakan 

01/09/2021

Beberapa mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan inovasi menarik. Yakni menamfaatkan limbah tongkol jagung menjadi sendok dan garpu. Tak berhenti disitu, sendok dan garpu tersebut ternyata juga bisa dimakan atau aman untuk dikonsumsi. 

Hal ini dilakukan untuk mengurangi limbah sampah plastik sendok dan garpu. Melansir laman resmi Unsoed, Rabu (1/9/2021), ide tersebut berawal dari adanya daerah Kabupaten Banyumas yang memiliki produksi komoditas jagung tertinggi ketiga dibandingkan dengan komoditas sumber karbohidrat lain. 

Ketersediaan limbah tongkol jagung berlimpah tanpa adanya alternatif pemanfaatan oleh masyarakat sekitar, mendorong mahasiswi dari Fakultas Pertanian Unsoed untuk menciptakan solusi. Tentu solusi yang dapat meningkatkan nilai tambah limbah tongkol jagung serta meminimalisir pembuangan limbah secara percuma. 

Adapun tim beranggotakan Fitri Nur Haerunnisa (Agroteknologi 2019), Isna Aulia Syahdiar (TEP 2019), Toibah (TEP 2019), Annisa Islamiati (Agroteknologi 2019), dan Salma Alif Nabilah (TEP 2020). 

Produk ini diciptakan tidak lepas dari keterkaitan tingkat pencemaran lingkungan terutama sampah plastik. Semakin bertambahnya penggunaan sendok garpu sekali pakai, menambah jumlah sampah plastik di daerah Banyumas. 

Hal ini didukung oleh kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan konsumen tidak menggunakan peralatan makan secara berulang. Menurut Fitri Nur Haerunnisa selaku ketua Tim PKM, produk ini memiliki tingkat kreativitas yang cukup tinggi karena sendok dan garpu ini berbeda dari yang lain. 

Produk ini diracik dengan memadukan berbagai formulasi-formulasi yang sudah pernah tim lakukan observasi. 

Adapun produk ini dibuat dari limbah tongkol jagung yang digiling menjadi tepung, kemudian disangrai untuk menghilangkan bakteri. "Selanjutnya bahan tersebut dicampurkan dengan bahan-bahan lain yang 100 persen aman dikonsumsi," ujarnya. 

Fitri menjelaskan, limbah tongkol jagung diubah menjadi sendok garpu biodegradable yang diberi nama Sepunsoed (Sendok Garpu Biodegradable dari Unsoed). Keunggulan produk dibandingkan dengan produk ramah lingkungan lainnya adalah dapat langsung dimakan, tidak perlu dicuci, mudah, dan praktis. 

Produksi Sepunsoed didukung dari pendanaan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristek) 2021 bidang kewirausahaan. Tentu, kegiatan ini tak lepas dari dukungan dan bimbingan dari dosen pendamping, Dian Novitasari, S.TP., M.Si. 

Untuk saat ini, Sepunsoed telah dipasarkan secara masif melalui berbagai macam e-commerce dan dipasarkan juga melalui sosial media seperti Instagram dan WhatsApp. Sepunsoed diharapkan dapat mengurangi banyaknya sampah plastik, khususnya sampah dari sendok dan garpu sekali pakai, meningkatkan nilai tambah limbah tongkol jagung, dan membuka peluang usaha baru. 

Ternyata, bahwa produk ini mendapatkan respon positif dari para konsumen. Tercatat sudah lebih dari 300 pcs sendok garpu terjual sejak peluncuran pertama awal Agustus. Terlebih, menurut survei yang dilakukan oleh tim bahwa potensi pasar dari produk ini sangat besar. 

Oleh karena itu, sebagai upaya keberlanjutan usaha, mereka berencana mendaftarkan produk untuk mendapatkan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) agar produk dapat bersaing dengan produk pabrikan, keamanan, dan mutu produk terjamin. "Kami berupaya untuk bekerja sama dengan pemilik usaha makanan agar memperluas jangkauan," harap Fitri.


Sumber :

https://www.kompas.com/edu/read/2021/09/01/135641571/sendok-garpu-dari-limbah-jagung-inovasi-mahasiswa-unsoed-ini-bisa-dimakan?page=all#page2.

Thursday, August 12, 2021

Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan

Demi Lingkungan, Seniman Sukoharjo Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan Menakjubkan

Kamis, 12 Agustus 2021 19:00

Dialah Sigit Purnomo Adi, yang memanfaatkan sampah plastik sebagai media menciptakan karya seninya. Disulapnya sampah plastik kemasan menjadi lukisan abstrak dengan komposisi warna yang menawan. Bukan tinta ataupun cat warna, melainkan sampah kemasan makanan ringan, kertas bungkus nasi, bungkus mie instan hingga korek api. Imajinasi Sigit yang begitu tinggi berhasil membingkai onggokan sampah yang dibenci menjadi seni yang diminati.

Sampah plastik selalu menjadi momok masyarakat, pengelolaan sampah yang buruk akan berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Mengingat, butuh waktu 500 hingga 1.000 tahun agar sampah plastik terurai secara alami. Beberapa karya Sigit juga memadukan limbah kain perca dan potongan kertas bekas.

Siapa sangka, lukisan yang tak wajar ini beberapa kali dipamerkan secara virtual. Beberapa negara asing seperti Jepang, Malaysia, Thailand hingga Eropa Timur bahkan suka dengan hasil karyanya. Hasil karyanya dipamerkan di galerinya sendiri bernama Galeri Makmur Art Project. Sigit yang seorang dosen beberapa kali juga turut ditunjuk sebagai kurator yang membawakan pameran seni rupa berskala Internasional.

Kegemarannya akan seni lukis abstrak selalu mengasah otaknya untuk menciptakan ide sekreatif mungkin. Ia juga pernah menggeluti lukisan mosaik dari limbah kertas dan kain. Dituangkannya sampah tersebut pada tubuh gitar listrik yang laku di Bali hingga Amerika.

Pada dasarnya, limbah sampah akan ditempelkan pada bidang media lukis. Sigit menggunakan lem panas agar seluruh permukaan plastik tertempel dengan sempurna. Terkadang sampah plastiklah yang dijadikan media lukisnya. Plastik kemasan mi instan dan makanan ringan disusun menjadi lembaran lebar. Hingga tinta dituangkan ke permukaan plasik. Warna kemasan yang khas berpadu dengan gurat tinta yang ia lukiskan.

Metode kedua ialah menggunakan sampah plastik benar-benar sebagai material penyusun warnanya. Cara ini memang lebih sulit karena sama sekali tidak menggunakan tinta sebagai teknik permainan warna. Keaslian warna kemasan plastik dipertahankan, dipadukan dengan warna plastik lainnya hingga menjadi sebuah tema lukisan.

Media lukisnya juga beragam, mulai dari bingkai, papan kayu, tempayan, hingga tungku arang. Tiap material sampah memiliki perbedaan perlakuan untuk dijadikan sebagai lukisan. Pasalnya, sang seniman harus memilih dan memilah baik itu warna, hingga bentuk sampah yang beragam. Sekali lagi, imajinasi menjadi pendongkrak jiwa kreatifnya.

Pemanfaatan barang bekas sebagai media melukis sudah digeluti Sigit sejak tahun 2011. Berangkat dari keprihatinannya akan pengelolaan sampah yang jauh dari kata sempurna. Daur ulang sampah amatlah penting demi keberlangsungan lingkungan. Sebagai seorang seniman, Sigit merepresentasikan secara langsung pada karyanya. Dengan memperhatikan sampah secara teliti agar keberadaanya tak mengotori lingkungan.

Tak butuh waktu yang lama untuk menciptakan satu buah karya seni lukis dari sampah plastik. Saat ini gaya lukisannya menjadi daya tarik tersendiri. Lebih lanjut Sigit mengemasnya ke dalam bingkaian elegan, yang akan membuat karya dari sampahnya dapat diminati di pasaran.

Galery lukisnya kerap kali dikunjungi sebagai referensi para pecinta seni lukis di Solo Raya. Mulai dari warga, pelajar, dan mahasiswa. Tentu saja dengan harapan agar mengedukasi tentang pengelolaan sampah yang lebih sehat terhadap keberlangsungan kebersihan lingkungan.


Sumber:

https://www.merdeka.com/jateng/demi-lingkungan-seniman-sukoharjo-sulap-sampah-plastik-jadi-lukisan-menakjubkan.html

Sunday, July 11, 2021

RVM Sampah Plastik

Punya Sampah Plastik? Bisa Ditukar Jadi Merchandise di Mesin ini 

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk bekerjasama dengan Plasticpay meluncurkan program dukungan ekonomi hijau di Indonesia, Small Movement for Green Economy. Program yang ditujukan untuk meningkatkan kepedulian publik terhadap lingkungan itu diusung dalam rangka memperingati Hari Tanpa Kantong Plastik Internasional yang jatuh pada 3 Juli 2021. 

Wakil Direktur Utama 1 BSI Ngatari mengatakan, pada tahap awal, bank syariah terbesar itu dan Plasticpay Indonesia akan menempatkan mesin penukaran sampah plastik atau reverse vending machine (RPM) di area publik. 

Mesin daur ulang sampah plastik tersebut pada tahap pertama ditempatkan di Gedung BSI Wisma Mandiri 1 Jakarta dan selanjutnya mesin tersebut juga akan ditempatkan di area umum di Jabodetabek dengan menggandeng Plasticpay untuk mengedukasi daur ulang sampah plastik. 

"Lewat program ini, pencapaian dampak lingkungan akan terukur secara bersamaan dengan pendapatan finansial yang akan diinvestasikan kembali untuk program berkelanjutan," kata Ngatari dalam konferensi pers virtual, Jumat (9/7/2021). 

Ngatari menjelaskan, masyarakat yang ingin ikut serta mengurangi plastik dapat dengan mudah menukar plastik tersebut ke mesin RVM. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Proses yang dilakukan cukup dengan menukar plastik, scan barcode, kemudian poin yang diterima dapat ditukarkan dengan merchandise dari BSI dan Plasticpay Indonesia. 

Ngatari menjelaskan, 1 poin sama dengan Rp 1, untuk 1 botol ukuran 600 ml setara dengan 56 poin atau Rp 56, sementara untuk sampah plastik seberat 1 kg setara 2.968 poin atau senilai Rp3.000. 

"Selain itu, BSI juga akan memberikan privilege bagi masyarakat yang membuka rekening senilai Rp 1 juta pada periode 5-30 Juli 2021 di BSI area Jakarta. Nasabah juga akan mendapat merchandise totebag hasil dari daur ulang 15 botol plastik," tutur Ngatari. 

Sementara itu, CEO Plasticpay Indonesia Suhendra Setiadi menyebutkan, program tersebut diharapkan mampu mengedukasi masyarakat untuk mengolah sampah plastik secara berbeda. "Kami berharap dapat menciptakan snowball effect untuk bersama-sama mengubah perilaku yang meluas dan mendalam, juga meningkatkan partnership dengan UMKM untuk menghasilkan produk yang mendukung green economy," ucap dia.


Sumber :

https://money.kompas.com/read/2021/07/09/123712426/punya-sampah-plastik-bisa-ditukar-jadi-merchandise-di-mesin-ini?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook.

Wednesday, January 6, 2021

Kantong Plastik dari Kentang

Mahasiswa ITS Ciptakan Kantong Plastik dari Kentang 

02/01/2021

Masa pandemi Covid-19 mengubah pola hidup masyarakat,  akhirnya menyebabkan adanya peningkatan konsumsi sejumlah produk yang menggunakan kantong plastik sintetis. Guna mengatasi permasalahan ini, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) menciptakan plastik dari bahan kentang yang dapat dijadikan pakan ternak dan pupuk, serta mudah terurai oleh tanah. 

Mahasiswa yang menciptakan itu bernama Hamdan Kafi Magfuri. Dia adalah mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. "Lama kelamaan sampah kantong plastik ini akan berdampak buruk pada lingkungan," kata Hamdan, melansir laman ITS, Sabtu (2/1/2020). 

Dia mengaku, lewat inovasi ini akan mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak buruk dari kantong plastik yang selama ini beredar di masyarakat. Sebab, plastik merupakan material yang sangat sulit terurai oleh tanah, bahkan plastik baru bisa diurai kembali dalam ratusan hingga ribuan tahun. 

"Dengan demikian, ide utama yang harus diangkat adalah plastik yang mudah terurai dan memiliki manfaat lain selain menjadi sampah," ucap pria asal Lumajang ini. Hamdan memilih kentang, karena bahan dasar tersebut sangat melimpah di Indonesia. Pemilihan ini, dia berharap bisa meningkatkan pendapatan petani kentang. 

"Saat ini pendapatan petani kentang di Indonesia terbilang rendah, karena ada perbedaan harga yang berbeda, antara harga jual petani dengan harga yang dijual di pasar," ucap Hamdan. Pembuatan plastik cukup mudah Adapun cara plastik dari bahan kentang ini terbilang mudah. 

Hal pertama, kentang yang tidak lolos dijual di pasar, maka akan digiling dan diperas sari patinya. Kemudian, sari pati ini diendapkan selama beberapa hari hingga menghasilkan endapan tepung. Endapan ini kemudian dicampur dengan platicizer dan kitosan. 

"Campuran ini kemudian diendapkan, dicetak pada cetakan lembaran, serta dipanaskan pada suhu 120 derajat celcius selama 30-90 menit," tutur dia. Plasticizer didapat dari glisoerol dan asam asetat, berfungsi untuk mendapatkan sifat plastik, yaitu untuk memadatkan adonan. 

"Sedangkan kitosan didapat dari tepung kulit udang dan cangkang kepiting, berfungsi untuk menaikkan sifat mekanik plastik agar memiliki daya menahan beban," sebutnya. Plastik berbahan dasar kentang ini, sambung Hamdan, memiliki karakteristik yang baik. 

Dari segi kekuatan tarik saja, plastik ini berkekuatan 28 MPa, di atas standar SNI yang sebesar 27 MPa. Sedangkan dari kemampuan tahan air, plastik ini memiliki kemampuan yang sama dengan plastik pada umumnya. 

"Plastik ini tidak mengeluarkan zat karbon seperti plastik pada umumnya, sehingga aman untuk makanan," ucapnya. Paling terpenting, dia menegaskan, sampah plastik kenting ini bisa terurai dalam waktu 28 hari di dalam tanah. Baca juga: Menkes Budi Gunadi Terpilih Jadi Anggota MWA ITS "Harapannya manfaat plastik ramah lingkungan ini dapat dirasakan banyak pihak," harap Hamdan.


Sumber :

https://www.kompas.com/edu/read/2021/01/02/150026471/mahasiswa-its-ciptakan-kantong-plastik-dari-kentang?page=all.

Friday, November 13, 2020

Sejak 1979 Jadav Payeng Membuat Hutan di Pulau Majuli

Jadav Payeng, Pria yang Berhasil Sulap Pulau Tandus Menjadi Rumah Harimau dan Gajah

Rabu, Agustus 15, 2018 19.00

Pada era di mana hutan dan bukit banyak yang rusak, ternyata masih ada orang yang mendedikasikan hidupnya untuk alam. Jadav Payeng rela kerja keras dan mengorbankan waktu untuk mewujudkan mimpinya. Bermula di tahun 1979, Jadav Payeng yang berdomisili di Pulau Majuli, India, mulai menaman pohon pertamanya. Saat ini, jerih payahnya pada sebuah pulau tandus di India berbuah manis.


Disebabkan Karena Banjir dan Kekeringan

Keputusan Jadav Payeng untuk menanam pohon bermula setelah serangan banjir dan kekeringan ekstrim yang melanda Pulau Majuli pada tahun 1979. Demi mencegah erosi lebih lanjut ke tempat tinggalnya, ia yang masih berusia 16 tahun memutuskan menanam pohon di tanah tandus setiap hari. Sikap terpuji ini Jadav lakukan dengan tangannya sendiri.


Lebih Besar dari Central Park New York

Setelah 39 tahun, saat ini hutannya mencakup 1.360 hektar. Sedangkan luas Central Park New York hanya 34,1 hektar. Kini hutan tersebut juga menjadi habitat bagi harimau Bengal, badak, burung nasar, dan 115 gajah. Sebelumnya, pulau ini memiliki kontur tanah yang tandus dan mengalami erosi yang cukup parah. Tidak banyak tumbuhan yang ditemukan di Pulau Majuli tersebut.


Terungkap Karena Ketidaksengajaan

Upaya penyelamatan alam oleh ayah tiga anak tersebut baru terungkap pada tahun 2007. Hal ini terjadi ketika jurnalis foto bertemu dengan Jadav Payeng saat sedang menanam salah satu pohonnya. Saat itu Jitu Kalita sedang mengambil gambar burung endemik di kawasan Sungai Brahmaputra. Cerita ini juga dikemas dalam sebuah video dokumenter berdurasi 16 menit berjudul “Forest Man”.


Jurnalis yang Dikira Pemburu Hewan Liar

Ketika Jadav melihat Kalita di sekitar kawasan hutan, ia mengira bahwa jurnalis ini seorang pemburu badak atau harimau. Namun pria tiga anak tersebut tak menyangka bahwa pengunjungnya sebenarnya adalah seorang jurnalis. Melihat dedikasinya, Kalita melanjutkan untuk menerbitkan sebuah artikel di koran nasional dan Jadav Payeng mendapat julukan Forest Man of India.


Mendapat Penghargaan Pemerintah

Karena perhatiannya terhadap lingkungan, pria berusia 55 tahun dikenal secara luas pada tahun 2015. Bahkan Jadav juga mendapatkan penghargaan Padma Shri dari pemerintah India karena dedikasinya. Meskipun telah berhasil mencegah terjadinya erosi di Pulau Majuli, Jadav tenyata memiliki mimpi lain, yaitu ingin mengembangkan hutan ini menjadi 5.000 hektar.

Jangan hanya mengkonsumsi hasil alam dan mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya, namun teman traveler juga harus menjaga kelangsungan hidup di dalamnya ya. Kisah Jadav ini bisa menjadi contoh kita semua. Setuju, kan?


Sumber :

https://travelingyuk.com/jadav-payeng/119075

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/622948295288088/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODYwNjA5MDc2MjQ/

Friday, October 2, 2020

Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi

Forum Energizing Indonesia: Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi soal EBT

Mar 5, 2020

Bambang Brodjonegoro, Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional

Keberlanjutan (sustainability) merupakan salah satu kunci dari ketahanan energi nasional. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Forum Energizing Indonesia (FEI) mengambil tema "Sustainable Energy for Indonesia" untuk seminar nasional ke-9 yang dihelat di Hotel Grand Sahid, pada 4 Maret 2020. Acara tersebut terselenggara atas kerja sama antara FEI dan PGD UI 2020.

FEI sendiri merupakan wadah diskusi tentang isu energi dan hasil diskusi kerap kali dijadikan masukan bagi pemerintah. Forum ini dibentuk oleh Ikatan Alumni Departemen Teknik Gas Petro Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI DTGPK FT UI).  

Diskusi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa peranan energi baru dan terbarukan (EBT) sangat penting untuk ketahanan energi Indonesia di masa depan. Hanya saja, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan di mana renewable energy belum berbanding lurus dengan affordable energy.

"Tantangannya bukan hanya mencari sumber energi, tetapi setelah sumber ketemu, pertanyaan selanjutnya adalah bisakah yang renewable tadi menjadi affordable. Jadi kita bicara efisiensi dari pemakaian energi itu sendiri," terang Bambang saat menjadi pembicara di Seminar FEI, 4 Maret 2020 di Jakarta.

Di tengah tren produksi minyak dan gas bumi yang semakin menurun, Indonesia sebetulnya masih memiliki potensi yang besar pada energi baru dan terbarukan. Sebagai contoh, Bambang menyebut bahwa potensi energi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Ia pun menyarankan agar riset EBT di Indonesia difokuskan pada panas bumi dan bio energi.

"Bio energi ini sesuatu yang agak dilupakan padahal potensinya luar biasa," ungkapnya.

Dalam sesi diskusi panel I, para panelis yang hadir menekankan bahwa Indonesia telah berupaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan memaksimalkan EBT. Ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia yang menargetkan penggunaan EBT sebesar 23% dari total energi yang dibutuhkan pada 2025 dan 31% di tahun 2030.

Salah satu upaya tersebut adalah penggunaan bahan bakar biodiesel atau biofuel. Bentuk konkretnya di Indonesia adalah implementasi B20 dan B30. Kedua bahan bakar ini dibuat dengan mencampurkan minyak nabati yang berasal dari minyak sawit (CPO) yang sudah ditambah katalisator dengan bahan bakar solar.

Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), pemakaian biodiesel selain dapat mempertahankan ketahanan energi, juga bahan bakunya masih potensial di Indonesia.

"Sampai dengan tahun 2030, saya tidak khawatir dengan bahan baku (feedstock) dari kelapa sawit," ungkapnya.

Pemanfaatan CPO menjadi biodiesel juga memiliki multiplier efect yakni meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan menciptakan lapangan kerja.

Energi fosil memang masih berperan penting dalam ketahanan energi indonesia di masa datang. Riset dan inovasi tentang EBT bukan semata-mata untuk menggantikan penggunaan fosil. Akan tetapi, setidaknya Indonesia akan siap jika sewaktu-waktu energi tak terbaharukan tersebut semakin sulit ditemukan.


Sumber :

https://upperline.id/post/forum-energizing-indonesia-ketahanan-energi-indonesia-butuh-riset-dan-inovasi-soal-ebt

Tuesday, September 29, 2020

Archisen a Future High-tech Farming

High tech farming means high collaboration—here's why

Published on 3 Jul 2020

In resource-scarce cities like Singapore, it has become increasingly salient to find new ways to grow food within an urban landscape. A new breed of urban farms like Archisen are envisioning a future built on high-tech farming, which will enable farmers to grow food indoors – in office buildings, for instance.

“Real estate is very much at a premium here, and we don't have the luxury of land to conduct agriculture like other cities,” explains founder Sven Yeo. “So Singapore has to look into urban farming to maintain food security.”

By using technology such as climate control and data analytics, Archisen can grow lettuce, basil and other crops indoors using vertical systems. Various aspects of the plants’ growth and environment are carefully monitored and controlled, for fresher and more nutritious produce. “The result is improved productivity, higher crop quality and a reduction of labour,” adds Mr Yeo. Fresh produce grown at Archisen’s urban farm are currently sold online, under the brand Just Produce, in a variety of salad boxes which include crops such as lettuce, kale, sorrel and more.

Archisen’s vision is in line with plans for a new Agri-Food Innovation Park (AFIP) in Sungei Kadut, which will be rejuvenated into an eco-district that encourages the growth of budding industries such as agri-tech. At AFIP, agri-tech companies can gather to share resources, and collaborate on research and development to innovate new ways to produce food.

Sharing of services between these companies could be a gamechanger, especially in areas where it “doesn’t make sense for individual farms to invest in”, says Mr Yeo. “For instance, many farms here don’t have their own seed supply and have to purchase these from overseas suppliers. The process can be expensive because you need to buy a certificate to show that shipments are free from harmful pests and plant diseases. By pooling together funds and buying in bulk, firms could lower such costs.”

Additionally, he sees the potential for more collaboration between urban farms in Singapore. To date, collaboration has been minimal as the systems and processes used by various farms are not necessarily compatible.

But by being part of a larger ecosystem such as Sungei Kadut, farms could more easily share resources and services, such as diagnostic capabilities. At present, Mr Yeo notes that many farms are unequipped with the expertise to diagnose crop infestation problems or look into the nutritional profile of their produce. Diagnostic lab services to investigate such issues may also be too expensive for a single farm. However, such services are financially sustainable if shared by various farms.

Another possible synergy is coordinating key activities such as transportation to save costs. “For example, one farmer is growing microgreens and the other leafy greens, they share a common customer and are not direct competitors. Therefore, they could aggregate their produce and simplify logistics.”

Archisen itself has much to bring to the table when the eco-district comes to fruition. Aside from farming, the firm offers solutions in the fields of engineering and science.

For instance, the team employs skilled mechanical, electrical and automation engineers. These engineers look at factors like structure, ergonomics, ventilation and ways to maximise energy usage, to ensure that farms operate efficiently.

Archisen has also established numerous partnerships with local and overseas partners to further research & development (R&D).

One such partnership was a recent data science study with A*STAR that explored yield predictions of indoor farms. The team also engages biologists to study the physiology of the plants themselves.

“Food science is important to us too − we look at ways to increase the shelf life of our products and reduce food contamination,” adds Mr Yeo. “Our goal is to maintain the freshness of food for as long as possible, because it eventually goes to the food supply chain.”

Archisen is also exploring the idea of growing fruit crops in addition to its salad varieties. The project is currently in its research phase, and Mr Yeo admits that there are numerous technical challenges to consider.

As plants take months to produce fruit, longer experimentation periods are needed to determine if a particular climate setting is viable for crop growth. “Once the R&D improves and we’re confident that growth is viable, we will be able to launch the product,” he says.

All these efforts point back to Archisen’s main mission. “Beyond demonstrating that a farm is profitable, we’re demonstrating that it can be investable,” says Mr Yeo. He stresses that Archisen isn't merely investing in technology and research for academic purposes, but aims to create a commercially viable farming business in the long run.

“We’re striving to establish the largest network of urban farms in Asia, and we need to have an attractive value proposition to prospective partners and investors to work with us,” he says. “Then we’ll be able to build more farms to address Singapore's food security concerns.”


Sumber :

https://estates.jtc.gov.sg/sked/stories/high-tech-farming-means-high-collaboration-heres-why

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/695146784430522/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODYyODQyNDA5MzU/

Friday, September 25, 2020

Plastic That Biodegrades in Water

A Woman Invented a New Kind of Plastic That Biodegrades in Water, and It’s a Step Oceans Are Crying For

The problem of plastic pollution has been piling up for decades, and finding ways to solve it has become an issue of top priority. Millions of tons of plastic are produced around the globe every year, and half of these are single-use items that are only used once, but stay in nature for hundreds of years. Sharon Barak, a chemical engineer from Israel, found a way to reduce the period of plastic decay from centuries to minutes.

Here at Bright Side we were happy to learn that the planet now has a groundbreaking way to fight plastic pollution, and here’s how it works.


Sharon Barak quit a plastic manufacturing company where she used to work to help the world fight pollution.

We all use plastic items in our everyday life, and now it’s probably impossible to imagine life without them. But conventional plastic is not eco-friendly and when thrown away it can stay in nature for decades and even centuries posing a threat for both animals and people.

According to experts, the average time to biodegrade is 50 years for plastic cups, 200 years for straws, and 450 years for plastic bottles. Chemical engineer Sharon Barak set a goal to make a product that would feel, look, and function like plastic, and dissolve in water doing no harm to nature at the same time. And she did it!

The plastic substitute Sharon invented functions as plastic, but dissolves in water in minutes.

Sharon and her team spent a lot of time mixing a lot of different components, until they finally found the right formula. The “fake” plastic Sharon invented consists of 100% eco-friendly materials that easily dissolve in water and become part of nature.

The product is so safe and natural, that you can even drink its water solution. If a bag made of this product accidentally gets into the ocean, it will become part of it in just a few minutes, posing no threat to sea animals, unlike an ordinary plastic bag.

Additionally, this new invention doesn’t need an elaborate process for recycling. When you’ve used an item, and you don’t need it anymore, you can simply throw it down the drain. As the team’s website says, the manufacturing process is not that complicated either — regular plastic bag making machinery can be adjusted to manufacture this innovative ocean-saving product.

Now Sharon and her team are developing their start-up for a cleaner and safer future for all of us.

Sharon sees a huge potential in this biodegradable plastic substitute that she has developed. It can be used for food wrapping, bottle manufacturing, and any other purposes that regular plastic is used for. Sharon and her team are working hard to introduce their invention to the world, and they believe that mass production of the eco-friendly “fake” plastic will make the world a better place to live.

What do you think of Sharon’s ambitious project? Do you think we’ll ever manage to substitute all of the world’s plastic for an eco-friendly solution like this?


Sumber :

https://brightside.me/wonder-curiosities/a-woman-invented-a-new-kind-of-plastic-that-biodegrades-in-water-and-its-a-step-oceans-are-crying-for-724110/

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/994436321072327/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODA1OTc1NzQ4Mzc/