Pages

Tuesday, November 24, 2020

Pemimpin Dunia Dorong Penerapan Circular Economy

Pemimpin Dunia Harus Dorong Penerapan Circular Economy

27 Agu 2019, 10:46 WIB

Siam Cement Group (SCG) menggelar forum Sustainable Development (SD) Symposium yang ke 10 kali pada pekan ini. Mengangkat tema “Circular Economy, Collaboration for Action", pertemuan ini bertujuan mendorong kolaborasi dan jejaring antara sektor bisnis, publik, dan pemerintah untuk mendukung pembangunan keberlanjutan yang lebih baik bagi dunia.

Perwakilan dari Indonesia bersama dengan jajaran otoritas global, para pemimpin bisnis dan eksekutif dari berbagai negara, diundang untuk bertukar pikiran dan pengalaman seputar Circular Economy.

“Kami berusaha membangun kesadaran para pemimpin dunia untuk melihat dampak model industri ekstraktif take-make-waste. Ekonomi sirkular bertujuan untuk mendefinisikan kembali pertumbuhan, dan fokus pada manfaat positif yang lebih luas. Banyak perusahaan, telah mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk produk mereka," kata Presiden dan CEO SCG Roongrote Rangsiyopash di Bangkok, seperti ditulis Selasa (26/8/2019).


Baru 2 Kota di Indonesia yang Terapkan Circular Economy

Ia pun mencontohkan, Timberland telah bermitra dengan Omni United, produsen ban, untuk memproduksi sepatu menggunakan ban daur ulang. Sepatu merupakan salah satu pengguna bahan baku karet terbesar.

Roongrote mengatakan, tahun ini pihaknya berfokus mendorong sektor bisnis menerapkan konsep Circular Economy. “berharap para pemimpin akan mendapatkan perspektif baru dan terinspirasi untuk mengadopsi konsep ini,” ujarnya

Indonesia ambil bagian dalam sesi diskusi panel yang menyoroti kerjasama untuk ekonomi sirkular dalam SD Symposium 10 Years. Indonesia seperti halnya Thailand sebagai bagian dari ASEAN, memiliki karakteristik yang mirip dan menantang.

“SCG memandang ekonomi sirkular kunci untuk mencapai tujuan perkembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengundang para pemimpin pemimpin, termasuk dari Indonesia, untuk sama-sama angkat bicara dalam forum SD Symposium. Kami percaya penerapan konsep ekonomi sirkular mampu meningkatkan daya saing,” ungkap Roongrote.

Jika penghematan sumber daya, lanjut Roongrote, bisa dipraktikkan sesuai konsep ekonomi sirkular, maka secara efektif dapat membantu mengurangi biaya operasi perusahaan. “Lebih luas lagi, Circular Economy juga dapat membantu mengurangi emisi karbon, yang mengarah pada peningkatan dan membuat kehidupan yang lebih baik,” ia menandaskan.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4047826/pemimpin-dunia-harus-dorong-penerapan-circular-economy

Tuesday, November 17, 2020

Prinsip Pangan Berkelanjutan

5 Cara Terapkan Prinsip 'Pangan Berkelanjutan'

23/04/2018

Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/cyano66)

Semarang, CNN Indonesia -- Sistem 'Pangan Berkelanjutan' merupakan gerakan global yang berupaya untuk menjamin kelangsungan makanan yang menyehatkan tapi tetap melestarikan lingkungan. Konsep ini dinilai penting demi menjaga keberlangsungan pangan. Setiap orang diharapkan dapat menerapkan sistem ketahanan pangan dalam konsumsi makanan sehari-hari.

"Peran konsumen yaitu setiap orang sangat dibutuhkan untuk perubahan dalam menerapkan sistem ini. Pendukung utama dari kegiatan ini adalah konsumen," kata pakar gizi dan ketahanan pangan Profesor Ahmad Sulaeman dalam rangkaian acara Jelajah Gizi Nutricia di Semarang, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu. 

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini membagikan beberapa cara mudah yang bisa diterapkan masyarakat untuk ikut serta menjalankan sistem pangan berkelanjutan.


1. Tidak menyisakan makanan

Masyarakat modern ternyata banyak menyisakan makanan. Sisa makanan ini menimbulkan kerugian besar. Laporan WHO menyebut setiap tahunnya terdapat pembuangan makanan senilai US$750 miliar di seluruh dunia.

Agar makanan tak terbuang Ahmad menyarankan agar masyarakat membeli makanan dan mengambil porsi makanan secukupnya.


2. Membeli produk organik

Produk organik diproduksi dengan memperhatikan kelestarian lingkungan mulai dari penggemburan tanah, menanam, panen, pengemasan, hingga pemasaran. Produk organik ini juga membatasi penggunaan bahan kimia.

Ahmad menyarankan agar masyarakat mengutamakan untuk membeli bahan makanan organik dari petani lokal. Bahan makanan ini juga dapat diketahui dari logo sertifikat organik atau fairtrade di kemasan bahan makanan.

"Utamakan dari petani lokal. Dengan begitu, kita ikut mendukung ekonomi mereka. Pangan berkelanjutan juga memiliki tujuan ekonomi untuk petani lokal," tutur Ahmad.


3. Memilih ikan dan daging yang tepat

Untuk produk hewani, masyarakat mesti jeli memilih bahan makanan yang diproduksi tanpa bahan kimia atau merusak lingkungan. Untuk hasil laut seperti ikan, Ahmad meminta masyarakat untuk memilih dan membeli ikan yang ditangkap dengan cara yang baik seperti tidak dibom. Begitupun dengan produk daging, sebaiknya memilih daging yang diternak tanpa menggunakan suntik hormon karena tak baik untuk kesehatan.


4. Makan dengan nutrisi lengkap

Konsep pangan berkelanjutan juga memperhatikan kesehatan. Oleh karena itu, makanan yang bernutrisi lengkap mulai dari karbohidrat, protein, lemak, serat, dan vitamin penting bagi tubuh. Ahmad juga menyarankan agar masyarakat dapat mengonsumsi nutrsi yang seimbang dan mengurangi konsumsi makanan olahan cepat saji dan daging.

"Daging penting, tapi jangan berlebihan karena terkait penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan jantung," ujar Ahmad.


5. Membiasakan diri membaca label

Label makanan olahan penting untuk mengetahui informasi nilai gizi yang terkandung dalam produk tersebut. Label ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah kalori dan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Nilai gizi ini penting bagi kesehatan. Oleh karena itu, setiap orang diminta untuk mengetahui kebutuhan kalori dan memenuhinya tanpa kelebihan atau kekurangan yang berlebih. 


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180423155508-262-292888/5-cara-terapkan-prinsip-pangan-berkelanjutan

Sustainable Lifestyle

Cara Mudah Praktikkan Gaya Hidup Berkelanjutan

12 Nov 2019

Gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) belakangan marak dikampanyekan di Indonesia. Dengan berkembangnya media sosial serta banyaknya informasi mengenai lingkungan, masyarakat pun mulai mengenal dan peduli dengan gaya hidup tersebut.

Gaya hidup berkelanjutan artinya melakukan aktivitas dengan tetap melindungi bumi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan masak yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik, serta meminimalisir sisa makanan.

Gaya hidup berkelanjutan sangat penting dilakukan demi terjaganya bumi ini. Bumi memiliki sumber daya alam yang dapat diperbarui dan ada pula yang tidak dapat diperbarui. Dalam hal ini, menurut Denia Isetianti selaku pendiri Cleanomic, sustainable lifestyle adalah cara-cara mengonsumsi dan menggunakan sumber daya alam dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.

"Kita semua punya kebutuhan, tetapi kita harus ingat bahwa anak cucu kita juga memiliki kebutuhan di masa mendatang. Kita harus mencari cara agar sumber daya alam itu bisa kita kelola dengan baik, supaya generasi mendatang bisa menikmatinya,” jelasnya, ketika mengisi Inspiration Talk, dalam acara Healthy Food Festival, yang diadakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad.

Masyarakat Indonesia berada di lingkungan yang kurang mendukung dalam penerapan Sustainable lifestyle. Namun, dalam  acara yang diadakan oleh lima badan PBB, yaitu FAO, WFP, WHO, UNICEF, dan UNFPA, bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Pemerintah DKI Jakarta tersebut, Rachel Olsen, seorang ahli gizi, memberikan tip untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

Menurut Rachel, sustainable lifestyle bisa dimulai dengan mengonsumsi makanan yang tidak banyak menghasilkan sampah. Membiasakan membawa bekal berupa makanan buatan sendiri dari rumah, menurutnya, merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan.

Rachel tidak setiap membawa bekal, namun ketika jajan, ia berusaha agar tidak menggunakan banyak plastik. Andaikan belanja beberapa jenis makanan, ia memasukkannya di satu plastik.

"Nggak usah minta sendok atau garpu, pinjam yang ada di kantor," kata Rachel seraya merekomendasikan untuk membawa tas sendiri ketika belanja.

Lebih lanjut, Denia mengingatkan bahwa Indonesia menghasilkan 178 juta ton sampah setiap tahunnya. Sebanyak 60 persen sampah yang tertumpuk di tempat pembuangan akhir adalah sampah organik.

Menurut Denia, sampah organik ini bisa menambah masalah karena jumlahnya terlalu banyak di TPA dan menyebabkan gas rumah kaca. Efek dari hal tersebut adalah meningkatnya suhu panas di bumi.

Sampah anorganik, seperti plastik, sebenarnya memiliki potensi untuk didaur ulang. Namun, jika bercampur dengan sampah organik, sampah anorganik berisiko tidak dapat didaur ulang.

Denia pun mengajak masyarakat memilah sampah agar sisa makanan atau sampah organik lainnya tak bercampur dengan sampah anorganik. Ia menjelaskan, sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos.

"Gampang banget, cuma butuh ember kecil dan sekam bakar," ujarnya.

Untuk membuat kompos, menurut Denia, sampah makanan cukup diletakkan di dalam ember lalu masukkan sekam bakar di atasnya. Setelah itu, letakkan daun-daun kering atau tanah.

"Tutup embernya, tetapi jangan terlalu lama," kata Denia.

Seminggu sekali bahan kompos perlu diaduk. Setelah itu, masukan lagi sekam bakarnya.

"Itu dalam waktu dua pekan sudah jadi pupuk organik yang bisa kalian kasih ke orang yang suka bercocok tanam,” jelasnya.


Sumber :

https://republika.co.id/berita/q0urfs414/cara-mudah-praktikkan-gaya-hidup-berkelanjutan

Friday, November 13, 2020

Sejak 1979 Jadav Payeng Membuat Hutan di Pulau Majuli

Jadav Payeng, Pria yang Berhasil Sulap Pulau Tandus Menjadi Rumah Harimau dan Gajah

Rabu, Agustus 15, 2018 19.00

Pada era di mana hutan dan bukit banyak yang rusak, ternyata masih ada orang yang mendedikasikan hidupnya untuk alam. Jadav Payeng rela kerja keras dan mengorbankan waktu untuk mewujudkan mimpinya. Bermula di tahun 1979, Jadav Payeng yang berdomisili di Pulau Majuli, India, mulai menaman pohon pertamanya. Saat ini, jerih payahnya pada sebuah pulau tandus di India berbuah manis.


Disebabkan Karena Banjir dan Kekeringan

Keputusan Jadav Payeng untuk menanam pohon bermula setelah serangan banjir dan kekeringan ekstrim yang melanda Pulau Majuli pada tahun 1979. Demi mencegah erosi lebih lanjut ke tempat tinggalnya, ia yang masih berusia 16 tahun memutuskan menanam pohon di tanah tandus setiap hari. Sikap terpuji ini Jadav lakukan dengan tangannya sendiri.


Lebih Besar dari Central Park New York

Setelah 39 tahun, saat ini hutannya mencakup 1.360 hektar. Sedangkan luas Central Park New York hanya 34,1 hektar. Kini hutan tersebut juga menjadi habitat bagi harimau Bengal, badak, burung nasar, dan 115 gajah. Sebelumnya, pulau ini memiliki kontur tanah yang tandus dan mengalami erosi yang cukup parah. Tidak banyak tumbuhan yang ditemukan di Pulau Majuli tersebut.


Terungkap Karena Ketidaksengajaan

Upaya penyelamatan alam oleh ayah tiga anak tersebut baru terungkap pada tahun 2007. Hal ini terjadi ketika jurnalis foto bertemu dengan Jadav Payeng saat sedang menanam salah satu pohonnya. Saat itu Jitu Kalita sedang mengambil gambar burung endemik di kawasan Sungai Brahmaputra. Cerita ini juga dikemas dalam sebuah video dokumenter berdurasi 16 menit berjudul “Forest Man”.


Jurnalis yang Dikira Pemburu Hewan Liar

Ketika Jadav melihat Kalita di sekitar kawasan hutan, ia mengira bahwa jurnalis ini seorang pemburu badak atau harimau. Namun pria tiga anak tersebut tak menyangka bahwa pengunjungnya sebenarnya adalah seorang jurnalis. Melihat dedikasinya, Kalita melanjutkan untuk menerbitkan sebuah artikel di koran nasional dan Jadav Payeng mendapat julukan Forest Man of India.


Mendapat Penghargaan Pemerintah

Karena perhatiannya terhadap lingkungan, pria berusia 55 tahun dikenal secara luas pada tahun 2015. Bahkan Jadav juga mendapatkan penghargaan Padma Shri dari pemerintah India karena dedikasinya. Meskipun telah berhasil mencegah terjadinya erosi di Pulau Majuli, Jadav tenyata memiliki mimpi lain, yaitu ingin mengembangkan hutan ini menjadi 5.000 hektar.

Jangan hanya mengkonsumsi hasil alam dan mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya, namun teman traveler juga harus menjaga kelangsungan hidup di dalamnya ya. Kisah Jadav ini bisa menjadi contoh kita semua. Setuju, kan?


Sumber :

https://travelingyuk.com/jadav-payeng/119075

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/622948295288088/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODYwNjA5MDc2MjQ/

Thursday, November 12, 2020

Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah

Pemerintah Perkuat Pengelolaan Sampah Guna Dukung Circular Economy

12 Nov 2020, 17:30 WIB

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan regulasi yang mendukung pengelolaan sampah di Tanah Air. Hal ini tentunya membuktikan keseriusan pemerintah dalam pengelolaan sampah untuk mendukung Circular Economy.

Pada 2019, sampah rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 62 persen dengan sampah makanan di dalamnya sebesar 44 persen, sedangkan sampah plastik memberikan kontribusi sebesar 15 persen. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melakukan pendekatan dalam pengelolaan sampah melalui 3 program, yakni program minim sampah (less waste), circular economy dan pelayanan dan teknologi.

“Persoalan persampahan dapat diselesaikan dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh dengan baik,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis (12/11/2020). Artinya, sampah bisa dimanfaatkan kembali menjadi uang dan energi.

Sebagai negara berkembang, konsep Circular Economy adalah pemikiran yang paling ideal, karena Indonesia masih sangat membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebagai negara yang sedang menuju negara maju. Dijelaskan dalam Circular Economy, bahwa di dalamnya terdapat ekosistem, diantaranya end user, recycling industry, bank sampah, TPS 3R, PKPS (Primer Koperasi Pengelolaan Sampah), recycling center, sektor informal, social enterpreneur dan social movement.

Menurut Alue Dohong, untuk menjalankan Circular Economy, diperlukan kondisi yang mendukung, diantaranya adalah insentif fiskal, kebijakan import scrap, kebijakan EPR (extended producer responsibility) dan standarisasi produk daur ulang, sertua diikuti dengan kebijakan mendorong penggunaan recycling content.

Di Indonesia, industri plastik hilir nasional terdiri dari sekitar 1.580 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Terdapat 892 perusahaan yang memproduksi kemasan, dengan total kebutuhan mencapai 5,635 juta ton. Potensi konsumsi plastik di Indonesia cukup besar, didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman yang cukup tinggi yaitu sebesaar 10 persen per tahun.

Pengembangan industri plastik masih terkendala dengan pemenuhan bahan baku. Ketergantungan bahan baku plastik impor masih tinggi karena produsen dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi produk.


Perubahan Budaya

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menilai, telah terjadi perubahan budaya, dari kearifan lokal menjadi modern, yang menempatkan plastik menjadi kebutuhan pokok. Sayangnya, pembuangan sampah plastik tidak dilakukan dengan baik, sehingga berakhir di sungai dan di gurun.

Di Indonesia belum ada standarisasi pengelolaan sampah, demikian pula dengan kebijakan insentif. Dana bagi hasil desa, menurut Dedi, bisa diambil sebagai salah satu kebijakan untuk pengelolaan sampah. Dedi juga memuji peran para pemulung yang dinilai berjasa bagi pengelolaan sampah, namun masih dianggap sebagai masyarakat marginal. Dedi menyarankan agar para pemulung diberi status formal sebagai tenaga harian lepas oleh pemerintah daerah.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4406886/pemerintah-perkuat-pengelolaan-sampah-guna-dukung-circular-economy

Circular Economy Pengolahan Limbah Elektronik

Pengolahan Limbah Elektronik Perlu Didorong Untuk Circular Economy

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Berdasarkan data organisasi StEP Initiative, diperkirakan perangkat elektronik yang beredar di pasar Indonesia pada 2012 diperkirakan mencapai 1.361.000 ton. Dalam kurun dua tahun, tercatat bahwa perangkat yang masih digunakan berkisar 616.000 ton.

Sisa 745 kilo ton atau 54,73% perangkat elektronik berubah menjadi limbah elektronik. Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia Gufron Mahmud menjelaskan bahwa limbah perangkat elektronik dapat berbahaya apabila tidak diolah dengan benar.

Menurut Gufron, pengelolaan limbah yang buruk dapat membahayakan manusia dan berdampak pada lingkungan. Selain itu, dampaknya pun bisa berlangsung lama dan memengaruhi generasi-generasi selanjutnya.

"Data pada 2015 menunjukkan limbah TV sekitar 106.000 ton dan yang terolah baru sekitar 74.000 ton, limbah PC [komputer] 24 ribu ton yang terolah sekitar 17.000 ton, [jumlah yang diolah] harus ditingkatkan. Berdasarkan data ITU jumlah limbah elektronik global pun meningkat," ujar Gufron pada Kamis (21/02/2019).

Gufron merujuk pada data International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations University (UNU), di mana terjadi peningkatan limbah elektronik sebanyak 3,3 juta metrik ton dalam dua tahun. Pada 2014 jumlahnya sebesar 41,4 juta metrik ton dan meningkat menjadi 44,7 juta metrik ton pada 2016.

Peningkatan jumlah limbah elektronik menurut Gufron perlu diatasi dengan peningkatan serapan dan pengolahan limbah tersebut. Selain pemahaman masyarakat dalam memperlakukan sampah dan limbah elektronik, peran pemerintah dalam mengembangkan industri pengolahan limbah pun dinilai penitng.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menuturkan pihaknya terus mendorong investasi di sektor industri pengolahan limbah.

Menurutnya, kebutuhan investasi sektor limbah industri merupakan salah satu dari agenda prioritas yang dipilih untuk mengimplementasikan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Pengolahan limbah tersebut kemudian tidak hanya mencakup sektor prioritas pengembangan industri 4.0, tetapi mencakup seluruh industri.

"Salah satu langkah strategis di dalam 10 agenda prioritas roadmap tersebut, yakni mengakomodasi standar-standar keberlanjutan," ujar Ngakan.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/257/891881/pengolahan-limbah-elektronik-perlu-didorong-untuk-circular-economy

Sumber foto :

https://www.britannica.com/explore/savingearth/electronic-waste