Pages

Showing posts with label Food Security. Show all posts
Showing posts with label Food Security. Show all posts

Thursday, March 24, 2022

Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

24 MARET 2022

    

Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, dua pemuda yang belakangan mendapat banyak sorotan karena keberhasilan mereka dengan masuk ke dalam daftar 30 under 30 Forbes Indonesia.

Bukan tanpa alasan keduanya bisa masuk ke dalam daftar prestisius tersebut. Di usia yang masih terbilang muda, Ashab dan Tubagus pasalnya telah berhasil menghadirkan sebuah inovasi di bidang teknologi untuk mempermudah kehidupan banyak orang, atau lebih tepatnya mereka yang berprofesi sebagai peternak ayam.

Keduanya mendirikan sebuah startup bernama Chickin Indonesia, perusahaan penyedia platform yang dapat memudahkan para peternak ayam di tanah air, dalam melakukan operasional peternakan secara efisien namun di saat bersamaan juga memperoleh peningkatan produktivitas ternak.

Menambah jajaran nama anak muda yang berhasil menghadirkan inovasi membanggakan, seperti apa jalan yang mereka tempuh hingga bisa memberikan dampak besar bagi para peternak ayam di Indonesia?


Kerja 18 jam per hari saat kuliah

Sedikit membahas mengenai latar belakang dua pemuda yang dimaksud, baik Ashab dan Tubagus rupanya berasal dari almamater kampus yang sama yakni Universitas Brawijaya (UB). Ashab yang saat ini diketahui masih berusia 22 tahun merupakan alumnus program studi (prodi) Agroekoteknologi, sedangkan Tubagus yang saat ini berusia 23 tahun merupakan lulusan dari prodi Hubungan Internasional.

Sama-sama menyelesaikan pendidikan kuliah di tahun 2020, keduanya bertemu saat masih berada di tingkat semester satu. Selama itu pula, mereka telah malang-melintang mencoba berbagai bidang usaha.

Yang membuat kagum, selama serius membangun usaha ternak yang menjadi cikal bakal berdirinya startup Chickin, mereka tetap mengimbangi dengan tanggung jawab menjalani perkuliahan sebagai seorang mahasiswa. Bahkan Tubagus diketahui berhasil menyelesaikan masa pendidikan kuliahnya lebih cepat yakni selama 3,5 tahun.

"Terlihat sangat ambisius di usia kami saat itu, karena kami harus bekerja 18 jam per hari untuk menyeimbangkan kehidupan kuliah dan bisnis saat itu," ujar Tubagus, mengutip Detikcom

Pendirian Chickin pun kabarnya bisa berjalan setelah mereka memperoleh modal dari hasil usaha kecil-kecilan, dan memenangkan berbagai ajang kompetisi bisnis. Akhirnya di semester kedua masa kuliah, mereka bertekad mendirikan startup tersebut.

Tidak hanya membutuhkan modal dari segi materi, mereka juga tahu secara pasti permasalahan apa yang biasanya dihadapi oleh para peternak di lapangan, karena keduanya pernah menjadi peternak di daerah Klaten, Jawa Tengah.

“Kita telah melihat banyak sekali kendala dalam membudidayakan ayam dan industri perunggasan yang memiliki potensi besar untuk berkembang," tambah Tubagus.


Teknologi peternakan ayam berbasis IoT

Secara garis besar, startup yang Ashab dan Tubagus dirikan berperan dalam membuat peternak agar tidak perlu melakukan pengontrolan iklim kandang secara manual. peternak hanya perlu memantau kondisi kandang dari jarak jauh dengan performa yang lebih bisa terukur secara nyata.

“Awal kami riset dan development di daerah Klaten Jawa Tengah. Di sana kita jadi peternak, lalu membangun kandang dan mulai usaha ternak ayam sampai akhirnya ketemu banyak permasalahan yang dihadapi peternak lokal. Dari situ kita mencoba solve problem dengan menggunakan teknologi,” ujar Ashab, mengutip laman resmi UB.

Lebih jauh dengan diterapkan teknologi IoT, platform yang mereka kelola juga mampu membantu berbagai kebutuhan seperti mengelola data kandang, mengatur berbagai aktivitas harian mulai dari pengontrolan suhu, memantau kondisi serta umur ayam, hingga memantau data penjualan.

Istimewanya melalui teknologi yang digunakan, produktivitas ayam yang dihasilkan oleh para peternak diketahui juga bisa meningkat hingga 25 persen lebih tinggi. Hal tersebut diakui oleh salah satu peternak bernama Yudi, yang sudah menggunakan platform Chickin dan menurutnya sangat membantu dalam pengelolaan serta manajemen pemeliharaan.

“Apabila dilakukan dengan SOP yang ketat, sistem pemeliharaan akan efisien untuk pakan, mortalitas bisa ditekan dengan cara pencegahan dan pengobatan yang presisi,” ujar Yudi.

Selain menghadirkan platform pengelolaan ternak, Ashab dan Tubagus juga mengelola sistem pengelolaan dan distribusi ayam dari hulu ke hilir, yang membuat ayam hasil produksi dari para peternak dapat terdistribusi dengan baik secara langsung ke sejumlah produsen, atau rumah makan yang ada di Indonesia.

Hingga saat ini diketahui ada sebanyak 14 rumah potong ayam yang mereka kelola, di mana dalam pelaksanaannya juga menjalin mitra dengan sekitar 100 industri makanan sebagai penyuplai daging ayam.

Catatan besarnya lagi, perusahaan rintisan yang telah mereka bangun di usia muda tersebut diketahui sudah berhasil memperoleh pendanaan sekitar Rp35 miliar dari 3 investor global, lewat pendanaan sesi seed round dalam waktu 10 bulan terakhir.

Hingga saat ini, Chickin tercatat sudah digunakan oleh sebanyak seribu peternak se-Indonesia, dengan target 10 juta ayam yang dipelihara tiap bulannya.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/03/24/ashab-dan-tubagus-dua-pemuda-yang-garap-startup-ketahanan-pangan-untuk-peternak-ayam

Monday, September 20, 2021

What to Know about the Planet this Week

EU funding boost, 216 million migrants and human rights risks: What to know about the planet this week

17 Sep 2021

Joe Myers

The one essential element needed to accelerate action on climate change


This weekly round-up brings you some of the key environment stories from the past seven days, to help keep you up to date.

Top stories: EU pledges increased climate funds for poorer nations; Climate change could trigger internal migration of 216 million people; Warning on human rights risk posed by climate change.

1. Environment stories from around the world

A new report found that most plans for new coal power plants have been scrapped since the Paris Agreement in 2015. US President Joe Biden said on Tuesday that extreme weather will cost the United States 'well over $100 billion' this year.

Green lawmakers in the European Parliament have urged EU leaders to toughen proposals to fight climate change. The United Nations High Commissioner for Human Rights has warned that the 'triple planetary crises' of climate change, pollution and nature loss represent the biggest threat to human rights globally.

A BBC analysis has found that the number of extremely hot days - when the temperature reaches 50 degrees Celsius - has doubled since the 1980s. New US solar installations are on track for a record year, despite supply chain challenges, a new report published on Tuesday has shown.

A new study has found that meat accounts for 57% of all food production emissions, with beef alone accounting for a quarter of emissions produced by raising and growing food. Four-in-10 young people around the world are hesitant to have children as a result of the climate crisis, a new survey has found.

Drought and heat have hurt wheat harvests in Canada, causing a surge in durum wheat prices - a key ingredient in pasta making - with prices set to increase. A new United in Science report has warned that COVID-19 has only caused a temporary reduction in carbon emissions and the world is not on track to meet Paris Agreement targets.

Taking the lead on climate action could be worth trillions to India, according to a Deloitte analysis.


2. EU pledges increased climate funds for poorer nations

The European Union has pledged to increase funding to help poorer countries fight climate change and adapt and mitigate against its impacts. The bloc also called on the United States and other countries to increase their support.

"We will now propose an additional 4 billion euros for climate finance until 2027," European Commission President Ursula von der Leyen said in a policy speech at the European Parliament in Strasbourg.

"But we expect the United States and our partners to step up too. This is vital, because closing the climate finance gap together, the US and the European Union, would be such a strong signal for global climate leadership."

The additional money covers the period form 2021-2027 and is on top of $25 billion the bloc already contributes every year in climate funding, von der Leyen said.


3. Climate change could trigger internal migration of 216 million people - World Bank

Without immediate action to combat climate change, its effects - from rising sea levels to declining crop productivity - could force 216 million people to migrate within their own countries by 2050.

That's the finding of a new World Bank report, Groundswell 2.0, published on Monday that modelled the impact of climate change on six regions.

Climate migration 'hotspots' will emerge as soon as 2030, and worsen by 2050, it found. These hotspots are likely to hit the poorest parts of the world hardest.

Sub-Saharan Africa alone would account for 86 million of the internal migrants, with 19 million more in North Africa, the report showed, while 40 million migrants were expected in South Asia and 49 million in East Asia and the Pacific.

The report's authors have called for urgent action.

"We're already locked into a certain amount of warming, so climate migration is a reality," said Kanta Kumari Rigaud, the bank's lead environment specialist and one of the report's co-authors. "We have to reduce or cut our greenhouse gases to meet the Paris target, because those climate impacts are going to escalate and increase the scale of climate migration."


Sumber :

https://www.weforum.org/agenda/2021/09/climate-environment-news-roundup-17-sept

Sunday, September 19, 2021

Sukses Kembangkan Tanaman Pangan Liar

Kisah Wanita dari Sidoarjo yang Sukses Kembangkan Tanaman Pangan Liar di Indonesia

MINGGU, 19 SEPTEMBER 2021 | 17:00 WIB

Berawal dari keinginannya meneliti sesuatu yang berbeda saat skripsi, Hayu Dyah kini sudah sukses mengembangkan tanaman pangan liar di Indonesia. Bersama para ibu di Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua, wanita yang akrab disapa Hayu ini telah mengembalikan peran tumbuhan pangan liar yang sempat ditinggalkan oleh masyarakat setempat. 

Di sisi lain, Hayu sangat prihatin dengan banyaknya kasus malnutrisi yang dialami anak-anak Indonesia, termasuk tingginya angka stunting di dalam negeri. 

"Menurut saya ironis, di satu sisi kita dibilang sangat kaya. Tapi di sisi lain, bagaimana bisa orang kelaparan di negara yang kaya ini kan enggak nyambung. Jadi, saya kemudian mulai menggali terus keragaman hayati terutama tumbuhan pangan liarnya," kata dia kepada Sariagri, beberapa waktu lalu.

Berikut petikan wawancara jurnalis Sariagri, Istihanah bersama Hayu Diah Patria beberapa waktu lalu. 


Darimana ide mengembangkan tanaman pangan liar?

Mulai itu sekitar 2002-an, awalnya skripsi S1 saya kan teknologi pangan. Jadi waktu itu saya emang pengen yang lain daripada yang lain. Soalnya kebanyakan teman-teman di Teknik Pangan itu kebanyakan penelitiannya produk industri makanan, seperti nugget atau snack. 


Kepikiran mengembangkan tanaman pangan liar sendiri darimana? 

Saat sedang cari-cari, saya ketemu sebuah buku. Kemudian di situ dijelaskan kalau beberapa masyarakat adat di Papua, khususnya yang tinggal di pesisir memanfaatkan mangrove sebagai salah satu makanan utama, selain sagu atau umbi-umbian. Kemudian salah satu jenis mangrove itu banyak di dekat rumah saya. 


Kapan mulai serius mengembangkan tanaman liar?

Ya udah, dari situ setelah lulus saya mikir itu masih satu jenis tumbuhan ya, padahal Indonesia kan negara  dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Jadi saya kemudian mikir pasti masih ada ribuan tumbuhan lain yang dimanfaatkan masyarakat tapi orang-orang enggak pernah mendengar. 


Kenapa tumbuhan pangan bukan obat?

Karena sebenarnya kesehatan itu berasal dari apa yang kita makan. Kalau apa yang kita makan itu sehat, sebenarnya tubuh tetap terjaga dan obat-obatan bisa dihindari. Dari situ sih kemudian saya makin banyak berkegiatan dengan komunitas-komunitas lokal dan masyarakat adat terutama kaum perempuan. 


Sekarang udah berapa tanaman liar pangan?

Enggak menghitung ya. Karena semua masih data kasar aja, tapi kayanya ada ratusan jenis tapi itu tersebar di banyak masyarakat enggak hanya di satu tempat aja. 

Jadi di setiap komunitas pasti ada sesuatu yang unik atau sama, tapi cara penyebutan dan pengolahannya berbeda. 


Bagaimana sambutan komunitas soal ide ini?

Sebenarnya kalau ditilik dari sejarahnya, komunitas itu sudah memanfaatkan banyak sekali tumbuhan pangan liar. Apalagi, orang zaman dulu sangat dekat dengan alam dan juga tergantung dengan alam serta mereka memanfaatkan apa yang ada di alam itu. 

Jadi, mereka pasti mengkonsumsi tumbuhan pangan liar, cuma seiring waktu karena globalisasi pangan dan perubahan gaya hidup dan kemudian mempengaruhi pola makan mereka jadi seiting waktu jadi kurang. 


Kenapa sih masyarakat adat meninggalkan tanaman pangan liar? 

Jadi sekarang kalau saya datang ke suatu desa atau komunitas, selalu disuguhi mi instan karena mereka menganggap orang kota tidak doyan makanan lokal. Mereka mikir tumbuhan pangan liar itu makanan untuk orang miskin dan itu saya temui dimana-mana dari Jawa sampai Papua. Kebanyakan mindset mereka sudah berubah, budaya pangan mereka yang asli itu untuk orang miskin dan itu yang paling menyedihkan sih. 


Apa saja kegiatan yang dilakukan oleh para ibu-ibu ini?

Pada intinya sih saya memperkenalkan kembali budaya pangan lokal mereka, tumbuhan pangan lokal mereka. Nantinya, mereka akan mulai mengembangkan kembali resep masakan atau mengembangkan tumbuhan tersebut membangun kebun tanaman pangan liar, khususnya masyarakat yang ada di dekat hutan. 


Kenapa mereka membangun kebun sendiri?

Karena masyarakat dilarang masuk ke dalam hutan konservasi atau hutan lindung, tapi kalau cuma ambil sampel untuk dikembangkan tidak apa-apa. 


Bagaimana sambutan mereka?

Awalnya mereka merasa malu untuk mengaku kalau masih konsumsi tanaman pangan liar, tetapi setelah saya jelaskan soal gizi dan manfaatnya mereka kemudian tertarik. 


Apasih tantangan terbesar melakukan kegiatan ini?

Mindset-nya sih, apalagi setelah revolusi hijau, monokultur itu kan besar-besaran dan ada banyak propaganda terutama tentang kalau tidak makan beras itu bukan orang Indonesia asli atau jadi warga negara kelas dua. 

Jadi masyarakat yang makanan awalnya bukan padi, tapi sejak tahun 70-an mereka mulai beralih ke beras karena tidak ingin menjadi warga negara kelas dua. 

Kemudian sistem patriarki. Jadi suami-suami banyak yang tidak rela kalau istrinya aktif atau mendapatkan edukasi. Jadi kalau kami ada jadwal berkebun, ada beberapa yang dilarang suami untuk pergi, alasannya nanti enggak ada yang melayani para suami. Sistem patriarki ini cukup menghambat kegiatan para ibu-ibu di komunitas. 


Harapannya apa sih?

Saya harap sih jangan sampai ada kasus kelaparan atau malnutrisi, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak. Karena keragaman hayati kita itu luar biasa. Kalau dari studi paling terakhir FAO terlahir ada lebih dari 7.000 jenis tumbuhan yang bisa dimakan dan Indonesia itu negara biodiversity, jadi seharusnya kita punya ratusan bahkan ribuan jenis makanan yang bisa dimakan. Jadi, mari kita gali kembali pengetahuan tradisional leluhur kita. 


Sumber :

https://pangan.sariagri.id/79020/kisah-wanita-dari-sidoarjo-yang-sukses-kembangkan-tanaman-pangan-liar-di-indonesia?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Wednesday, September 1, 2021

Sendok Garpu dari Limbah Jagung

Sendok Garpu dari Limbah Jagung Inovasi Mahasiswa Unsoed Ini Bisa Dimakan 

01/09/2021

Beberapa mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan inovasi menarik. Yakni menamfaatkan limbah tongkol jagung menjadi sendok dan garpu. Tak berhenti disitu, sendok dan garpu tersebut ternyata juga bisa dimakan atau aman untuk dikonsumsi. 

Hal ini dilakukan untuk mengurangi limbah sampah plastik sendok dan garpu. Melansir laman resmi Unsoed, Rabu (1/9/2021), ide tersebut berawal dari adanya daerah Kabupaten Banyumas yang memiliki produksi komoditas jagung tertinggi ketiga dibandingkan dengan komoditas sumber karbohidrat lain. 

Ketersediaan limbah tongkol jagung berlimpah tanpa adanya alternatif pemanfaatan oleh masyarakat sekitar, mendorong mahasiswi dari Fakultas Pertanian Unsoed untuk menciptakan solusi. Tentu solusi yang dapat meningkatkan nilai tambah limbah tongkol jagung serta meminimalisir pembuangan limbah secara percuma. 

Adapun tim beranggotakan Fitri Nur Haerunnisa (Agroteknologi 2019), Isna Aulia Syahdiar (TEP 2019), Toibah (TEP 2019), Annisa Islamiati (Agroteknologi 2019), dan Salma Alif Nabilah (TEP 2020). 

Produk ini diciptakan tidak lepas dari keterkaitan tingkat pencemaran lingkungan terutama sampah plastik. Semakin bertambahnya penggunaan sendok garpu sekali pakai, menambah jumlah sampah plastik di daerah Banyumas. 

Hal ini didukung oleh kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan konsumen tidak menggunakan peralatan makan secara berulang. Menurut Fitri Nur Haerunnisa selaku ketua Tim PKM, produk ini memiliki tingkat kreativitas yang cukup tinggi karena sendok dan garpu ini berbeda dari yang lain. 

Produk ini diracik dengan memadukan berbagai formulasi-formulasi yang sudah pernah tim lakukan observasi. 

Adapun produk ini dibuat dari limbah tongkol jagung yang digiling menjadi tepung, kemudian disangrai untuk menghilangkan bakteri. "Selanjutnya bahan tersebut dicampurkan dengan bahan-bahan lain yang 100 persen aman dikonsumsi," ujarnya. 

Fitri menjelaskan, limbah tongkol jagung diubah menjadi sendok garpu biodegradable yang diberi nama Sepunsoed (Sendok Garpu Biodegradable dari Unsoed). Keunggulan produk dibandingkan dengan produk ramah lingkungan lainnya adalah dapat langsung dimakan, tidak perlu dicuci, mudah, dan praktis. 

Produksi Sepunsoed didukung dari pendanaan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristek) 2021 bidang kewirausahaan. Tentu, kegiatan ini tak lepas dari dukungan dan bimbingan dari dosen pendamping, Dian Novitasari, S.TP., M.Si. 

Untuk saat ini, Sepunsoed telah dipasarkan secara masif melalui berbagai macam e-commerce dan dipasarkan juga melalui sosial media seperti Instagram dan WhatsApp. Sepunsoed diharapkan dapat mengurangi banyaknya sampah plastik, khususnya sampah dari sendok dan garpu sekali pakai, meningkatkan nilai tambah limbah tongkol jagung, dan membuka peluang usaha baru. 

Ternyata, bahwa produk ini mendapatkan respon positif dari para konsumen. Tercatat sudah lebih dari 300 pcs sendok garpu terjual sejak peluncuran pertama awal Agustus. Terlebih, menurut survei yang dilakukan oleh tim bahwa potensi pasar dari produk ini sangat besar. 

Oleh karena itu, sebagai upaya keberlanjutan usaha, mereka berencana mendaftarkan produk untuk mendapatkan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) agar produk dapat bersaing dengan produk pabrikan, keamanan, dan mutu produk terjamin. "Kami berupaya untuk bekerja sama dengan pemilik usaha makanan agar memperluas jangkauan," harap Fitri.


Sumber :

https://www.kompas.com/edu/read/2021/09/01/135641571/sendok-garpu-dari-limbah-jagung-inovasi-mahasiswa-unsoed-ini-bisa-dimakan?page=all#page2.

Wednesday, August 25, 2021

Warga Madagaskar & Bencana Kelaparan

Warga Madagaskar yang Kelaparan Bertahan Hidup Makan Serangga dan Daun Kaktus


Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan Madagaskar menjadi negara pertama di dunia yang berada di ambang wabah kelaparan karena perubahan iklim.

Menurut laporan PBB, puluhan ribu orang sudah menderita pada level "bencana besar" dari kelaparan dan ketahanan pangan karena selama empat tahun negara itu tak pernah hujan.

Kekeringan - yang terburuk selama empat dekade - telah menghancurkan komunitas pertanian yang terisolasi di bagian selatan negara itu, membuat warganya harus mengais-ngais serangga untuk bertahan hidup.

"Ini adalah kondisi seperti-kelaparan, dan itu terjadi karena perubahan iklim, bukan konflik," kata Shelley Thakral dari Program Pangan Dunia PBB, World Food Programme (WFP).

PBB memperkirakan bahwa 30.000 orang saat ini mengalami tingkat kegentingan pangan tertinggi yang diakui secara internasional - level lima - dan ada kekhawatrian jumlah yang terkena dampak akan meningkat tajam seperti saat Madagaskar memasuki "musim paceklik" tradisional sebelum panen.

"Hal ini tak terduga. Orang-orang ini tak melakukan hal-hal yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Mereka tidak membakar bahan bakar fosil... namun mereka menanggung beban perubahan iklim," kata Thakral.

Di desa terpencil, Fandiova, distrik Amboasary, warga menunjukkan belalang-belalang sebagai makanan sehari-hari mereka kepada tim WFP yang berkunjung.

"Saya membersihkan serangga ini sebisa mungkin, tapi sudah hampir tidak ada air," kata Tamaria, ibu empat anak.

"Anak-anak dan saya memakan ini setiap hari sekarang, selama delapan bulan, karena kami sudah tak punya apa-apa lagi untuk dimakan, dan tak ada hujan yang memungkinkan kami memanen dari apa yang telah kami tanam," tambahnya.

"Hari ini kami sudah tak punya apa-apa lagi untuk dimakan, kecuali daun kaktus," kata Bole, ibu tiga anak yang duduk di tanah yang kering.

Dia mengatakan, suaminya baru-baru ini meninggal karena kelaparan. Kondisi yang sama dialami tetangganya, yang meninggalkan dan menyerahkan dua anak untuk diberi makan.

"Saya mau bilang apa lagi? Hidup kami saat ini bergantung dari pencarian daun kaktus, lagi dan lagi, untuk bertahan hidup,” terangnya.


Meningkatkan pengelolaan air

Meskipun Madagaskar memiliki pengalaman kekeringan yang berkepanjangan, dan sering kali dikarenakan perubahan pola cuaca seperti El Niño. Para ahli meyakini perubahan iklim bisa terkait langsung dalam krisis yang saat ini terjadi.

"Dengan laporan IPCC terbaru, kami melihat bahwa kekeringan di Madagaskar telah meningkat. Dan itu diperkirakan akan terus meningkat jika perubahan iklim berlanjut,” terang para ahli.

"Dalam banyak cara, hal ini bisa dilihat sebagai alasan yang sangat kuat bagi orang-orang untuk mengubah cara hidupnya," kata Rondro Barimalala, ilmuan Madagaskar yang bekerja di Universitas Cape Town di Afrika Selatan.

Melihat data mengenai atmosfer yang sama di Universitas Santa Barbara di California, direktur Climate Hazards Center, Chris Funk mengkonfirmasi kaitan dengan "pemanasan di atsmosfer", dan mengatakan pihak berwenang Madagaskar perlu bekerja untuk meningkatkan pengelolaan air.

"Kami pikir ada banyak yang bisa dilakukan dalam jangka pendek. Kami sering memperkirakan kapan akan terjadi hujan di atas normal, dan para petani bisa menggunakan informasi ini untuk meningkatkan produksi pertanian mereka. Kita bukan tanpa daya dalam menghadapi perubahan iklim," tambahnya.

Dampak masa paceklik yang saat ini terjadi juga dirasakan di kota-kota lain di selatan Madagaskar, banyak anak-anak terpaksa mengemis di jalanan untuk mendapatkan makanan.

"Harga barang di pasar meningkat - tiga hingga empat kali lipat. Orang-orang menjual lahan mereka untuk mendapatkan uang, dan membeli makanan," tambah Tshina Endor yang bekerja untuk badan amal Seed di Tolanaro.

Rekannya, Lomba Hasoavana, mengatakan ia dan yang lainnya tidur di ladang singkong untuk berusaha melindungi tanaman dari orang-orang yang membutuhkan makanan, tapi hal ini terlalu berbahaya.

"Kami bisa mempertaruhkan hidup. Saya merasa sangat, sangat sulit karena setiap hari saya harus berpikir untuk makan buat diri sendiri dan keluarga saya," ujarnya.

"Segalanya bisa sangat tak terduga mengenai cuaca hari ini. Ini adalah pertanyaan besar yang harus digaris bawahi - apa yang akan terjadi besok?,” tambahnya.


Sumber :

https://news.okezone.com/read/2021/08/26/18/2461308/warga-madagaskar-yang-kelaparan-bertahan-hidup-makan-serangga-dan-daun-kaktus

Thursday, December 24, 2020

Bioeconomy Model untuk Indonesia

Ketika Eropa mentargetkan bioeconomy-nya bisa menggerakkan ekonomi sebesar € 2 trilyun (34.000 trilyun rupiah atau 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja dan lebih khususnya Belanda yang luasnya kurang lebih seukuran Jawa Timur mentargetkan € 2,6-3 milyar (sekitar 50 trilyun rupiah) dengan bioeconomy-nya, Indonesia sebagai negara tropis, tanah yang luas dan subur seharusnya bisa mendongkrak ekonominya juga dengan bioeconomy. 

Pendekatan dan model bioeconomy yang dikembangkan Indonesia bisa saja berbeda dengan yang dilakukan di Eropa dan di Belanda, karena potensi alamnya dan karakteristik penduduknya juga tidak sama. 

Dengan penduduk mayoritas muslim sudah seharusnya Indonesia mengembangkan banyak model-model bioeconomy yang sejalan dengan nilai Islam. Hal ini karena bioeconomy juga akan terkait terkait masalah pangan dan sandang yang dalam Islam sangat jelas terkait dengan masalah halal haram. Bukan hanya itu tentu model tersebut juga dioptimasi sehingga bisa semaksimal mungkin membawa kemakmuran umat dan memberi solusi pada sejumlah masalah besar yang dihadapi. 

Ekonomi Islam yang belum menjadi mainstream di negeri mayoritas Islam adalah salah satu masalah besar tersebut. Dengan banyak melakukan syirkah dan wakaf sejumlah peluang-peluang besar dalam era bioeconomy bisa dengan mudah ditangkap dan dioptimalkan.

Dengan iklim tropis, tanah luas, subur dan curah hujan tinggi, pengembangan kebun energi untuk produksi wood pellet, peternakan domba, peternakan lebah madu dan produksi arang dengan pyrolysis adalah salah satu model bioeconomy yang bisa dikembangkan. 

Pyrolysis selain menghasilkan arang juga menghasilkan syngas yang bisa dikonversi menjadi listrik. Listrik berguna untuk menjalankan unit pyrolysis tersebut dan juga produksi wood pelletnya. Limbah pabrik sawit seperti tandan kosong kelapa sawit maupun limbah perkebunan kelapa sawit yakni pelepah bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. 

Sampah kota juga bisa dijadikan bahan baku untuk pirolisis tersebut. Jika tidak maka sejumlah atau sebagian kayu dari panen kebun energi bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Produk lainnya dari pyrolysis yakni arang, biooil dan pyroligneous acid (liquid smoke). 

Semua produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bisa diupgrade untuk menjadi sejumlah produk turunan. Seberapa panjang mata rantai industri juga tergantung dari keekonomian industri tersebut. Semakin panjang rantai industri semestinya akan memberi nilai tambah semakin besar dan kontribusi yang besar juga pada bioeconomy. 

Bagaimana bisa merealisasikan bioeconomy model di atas? Tentu pekerjaan besar untuk merealisasikan bioeconmy model tersebut karena mengintegrasikan beberapa unit sehingga menjadi siklus tertutup. Entry point bisa dimulai dari salah satu unit bisnis yang lebih mudah dilakukan. 

Penggembalaan domba atau Penggembalaan domba dan sapi (mixed grazing) bisa jadi entry point termudah, karena bagi umat Islam juga mendukung untuk penegakan syar'i at Islam, yakni syar'i at qurban setiap 10 Dzulhijah. 

Selain itu juga berarti akan meningkatkan produksi daging dalam negeri. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah pola penggembalaan yang efektif dan efisien, apalagi dibandingkan pola penggembalaan tradisional, yakni penggembalaan kontinyu (continous grazing).  

Setelah penggembalaan tersebut, selanjutnya diikuti dengan produksi wood pellet dari kebun energi, yang limbah daun-daunnya yang juga kaya kandungan protein juga akan sebagai pakan tambahan bagi hewan-hewan ternak tersebut. Kotoran ternak dari kandangnya bisa digunakan untuk pupuk di kebun energi, sedangkan padang penggembalaan sendiri telah mendapatkan pupuk sewaktu penggembalaan dilakukan di area tersebut. 

Terakhir yakni mengintegrasikan unit pyrolysis yang tujuan utamanya untuk produksi listrik untuk mencukupi operasinal pabrik wood pellet. Mata rantai industri bisa dikembangkan lebih panjang dengan menggunakan bahan baku (feedstock) dari hasil samping proses pyrolysis tersebut. 

Ketika model ini bisa dibuat dan terbukti memberi keuntungan dan manfaat yang besar, maka selanjutnya model tersebut tinggal diperbanyak dan diperbesar. Ketika hand phone layar sentuh pertama kali dikenalkan maka banyak pihak yang skeptis dan mencemooh konsep tersebut untuk bisa digunakan secara masal, tetapi hari ini sebagian besar hand phone dan gadget menggunakan layar sentuh untuk mengoperasikannya. 

Orang-orang baru tertarik dan berbondong-bondong menjadi follower ketika telah melihat bukti. Tetapi siapa yang mau menjadi pioneer dan memberi bukti kepada orang-orang itu? Tentu bukan orang sembarangan dan hanya sangat sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Steve Jobs, menunjukkan bahwa handphone layar sentuh Apple bisa handal digunakan dan memberi bukti bagi orang-orang. Ungkapan Steve Jobs yang terkenal yakni

“ People do not know what they want until you show it to them – masyarakat tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda tunjukkan kepada mereka !”.

Contoh di dunia perkebunan akan lebih dekat dengan bioeconomy model. Ketika Belanda membawa empat biji sawit lalu tumbuh menjadi pohon sawit lalu dibuatlah perkebunan kecil, lalu semakin luas karena banyak ditiru dan dikembangkan ke banyak tempat. Kondisi tersebut terjadi karena usaha tersebut bisa membuktikan memberi keuntungan menarik. 

Demikian juga dengan pengembangan bioeconomy. Semakin terbukti memberi keuntungan dan manfaat lebih baik, tentu semakin menarik untuk diterapkan dan dikembangkan ke banyak lokasi, bahkan tidak hanya di Indonesia saja tetapi bisa juga di Malaysia dan khususnya negara-negara muslim lainnya. 


Sumber :

http://inovasibiomasa.blogspot.com/2018/04/bioeconomy-model-untuk-indonesia.html

Tuesday, November 17, 2020

Prinsip Pangan Berkelanjutan

5 Cara Terapkan Prinsip 'Pangan Berkelanjutan'

23/04/2018

Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. Membeli produk organik dan tak menyisakan makanan adalah dua dari lima upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan prinsip 'pangan berkelanjutan'. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/cyano66)

Semarang, CNN Indonesia -- Sistem 'Pangan Berkelanjutan' merupakan gerakan global yang berupaya untuk menjamin kelangsungan makanan yang menyehatkan tapi tetap melestarikan lingkungan. Konsep ini dinilai penting demi menjaga keberlangsungan pangan. Setiap orang diharapkan dapat menerapkan sistem ketahanan pangan dalam konsumsi makanan sehari-hari.

"Peran konsumen yaitu setiap orang sangat dibutuhkan untuk perubahan dalam menerapkan sistem ini. Pendukung utama dari kegiatan ini adalah konsumen," kata pakar gizi dan ketahanan pangan Profesor Ahmad Sulaeman dalam rangkaian acara Jelajah Gizi Nutricia di Semarang, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu. 

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini membagikan beberapa cara mudah yang bisa diterapkan masyarakat untuk ikut serta menjalankan sistem pangan berkelanjutan.


1. Tidak menyisakan makanan

Masyarakat modern ternyata banyak menyisakan makanan. Sisa makanan ini menimbulkan kerugian besar. Laporan WHO menyebut setiap tahunnya terdapat pembuangan makanan senilai US$750 miliar di seluruh dunia.

Agar makanan tak terbuang Ahmad menyarankan agar masyarakat membeli makanan dan mengambil porsi makanan secukupnya.


2. Membeli produk organik

Produk organik diproduksi dengan memperhatikan kelestarian lingkungan mulai dari penggemburan tanah, menanam, panen, pengemasan, hingga pemasaran. Produk organik ini juga membatasi penggunaan bahan kimia.

Ahmad menyarankan agar masyarakat mengutamakan untuk membeli bahan makanan organik dari petani lokal. Bahan makanan ini juga dapat diketahui dari logo sertifikat organik atau fairtrade di kemasan bahan makanan.

"Utamakan dari petani lokal. Dengan begitu, kita ikut mendukung ekonomi mereka. Pangan berkelanjutan juga memiliki tujuan ekonomi untuk petani lokal," tutur Ahmad.


3. Memilih ikan dan daging yang tepat

Untuk produk hewani, masyarakat mesti jeli memilih bahan makanan yang diproduksi tanpa bahan kimia atau merusak lingkungan. Untuk hasil laut seperti ikan, Ahmad meminta masyarakat untuk memilih dan membeli ikan yang ditangkap dengan cara yang baik seperti tidak dibom. Begitupun dengan produk daging, sebaiknya memilih daging yang diternak tanpa menggunakan suntik hormon karena tak baik untuk kesehatan.


4. Makan dengan nutrisi lengkap

Konsep pangan berkelanjutan juga memperhatikan kesehatan. Oleh karena itu, makanan yang bernutrisi lengkap mulai dari karbohidrat, protein, lemak, serat, dan vitamin penting bagi tubuh. Ahmad juga menyarankan agar masyarakat dapat mengonsumsi nutrsi yang seimbang dan mengurangi konsumsi makanan olahan cepat saji dan daging.

"Daging penting, tapi jangan berlebihan karena terkait penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan jantung," ujar Ahmad.


5. Membiasakan diri membaca label

Label makanan olahan penting untuk mengetahui informasi nilai gizi yang terkandung dalam produk tersebut. Label ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah kalori dan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Nilai gizi ini penting bagi kesehatan. Oleh karena itu, setiap orang diminta untuk mengetahui kebutuhan kalori dan memenuhinya tanpa kelebihan atau kekurangan yang berlebih. 


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180423155508-262-292888/5-cara-terapkan-prinsip-pangan-berkelanjutan