Pages

Showing posts with label Projects. Show all posts
Showing posts with label Projects. Show all posts

Thursday, March 16, 2023

Green Wave Environmental Care Project For Schools

Kemangi Antarkan Mahasiswa UM Juarai Green Wave Environmental Care Project For Schools

Last updated: 2023/03/15 at 9:51 PM

Tidak hanya mengganggu, lalat juga dapat menjadi sarang penyakit. Tak jarang lalat yang hinggap di sembarang tempat membawa bakteri dan parasit di tubuhnya, sehingga dapat merugikan manusia.

Menurut World Health Organization (WHO), lalat rumah menjadi pembawa bakteri dan parasit penyebab diare dan infeksi mata. Permasalahan ini menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Sehingga berhasil ciptakan pembasmi lalat yang juga berfungsi sebagai pestisida sekaligus disinfektan alami dari daun kemangi.

ESSIL, begitu nama produknya. Adalah insektisida alami dari bahan dasar kemangi dengan tambahan kulit jeruk nipis dan daun cengkeh yang baik untuk lingkungan.

Viska Rinata, mahasiswa S1 Biologi UM selaku co-researcher menjelaskan, alasan inovasi tersebut dapat tercipta. Lantaran tingginya peledakan populasi lalat yang disebabkan peternakan ayam di Trenggalek, Jawa Timur.

Tingginya jumlah peternakan ayam yang beroperasi aktif di Trenggalek mencapai 3.272.238. Sehingga memicu ledakan populasi lalat secara drastis dan mengganggu masyarakat.

”Siapa sih yang nggak terganggu sama lalat. Karena lalat itu annoying banget. Selain annoying, resiko penyakit dari bakteri yang dibawa lalat itu lebih tinggi daripada serangga lain. Seperti kecoa dan sebagainya,” ujar gadis asal Trenggalek tersebut.

Melihat hal itu, Viska dan tim tidak diam saja. Mereka mencari solusi yang mudah dijangkau dan ekonomis agar bisa diterima serta digunakan secara maksimal oleh warga sekitar.

Viska mencoba mengamati lingkungan sekitar dan menemukan, bahwa banyak sekali petani kemangi di Trenggalek. Sayangnya, daun kemangi lumrah dimanfaatkan hanya sebagai lalapan atau makanan pendamping sambal dan nasi yang tentu memiliki harga jual rendah.

”Sebenarnya di daerah itu (Trenggalek) sudah ada masalah dan solusi yang tepat. Namun belum terintegrasi dengan baik. Nah, dari situ muncul ide untuk membuat inovasi ini,” tutur Viska.

ESSIL terbuat dari daun kemangi, daun cengkeh, dan kulit jeruk nipis yang memiliki nilai jual sangat rendah. Bahkan seringkali menjadi limbah.

Bahan dasar produk ini adalah daun kemangi serta memiliki bahan aktif methyl clavicle dan cineol yang tidak disukai oleh lalat. Ditambah dengan daun cengkeh dan kulit jeruk nipis yang memiliki fungsi antimikroba yang membuat produk ini memiliki nilai keterbaruan yang tinggi.

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, ESSIL memiliki persentase efektifitas yang cukup tinggi dalam mengusir lalat. Yaitu lebih dari 90%.

Tak hanya itu, berdasarkan uji organoleptik yang telah dilakukan, semua penguji menyatakan menyukai aroma dan tekstur dari ESSIL. Menggunakan teknologi nano fogging gun, penyemprotan produk dapat dilakukan lebih cepat, rata, dan tepat sasaran.

Inovasi hebat dari Viska dan tim sudah bisa digunakan di rumah yang terdampak ledakan populasi lalat.

”Jadi selain sebagai repellent lalat, ESSIL juga berfungsi sebagai disinfektan untuk membersihkan sisa-sisa bakteri yang ditinggalkan lalat sehingga dapat meminimalisir resiko diare, penyebaran polio, disentri dan lain sebagainya.”

“Ini produk sustainable yang ramah lingkungan dan minim resikonya bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” tambah gadis berusia 21 tahun tersebut.

Harapannya, ESSIL dapat dikembangkan sehingga bisa digunakan secara komersil di bidang peternakan.

”Untuk saat ini produksi masih dilakukan dalam skala kecil karena keterbatasan biaya dan sumber daya, namun produk ini memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat dikomersilkan di bidang peternakan,” ucapnya.

Inovasi tersebut berhasil menarik perhatian juri di ajang Green Wave Environmental Care Project For Schools 2022 yang diadakan oleh Sembcorp Marine di Singapura. Memiliki nilai jual dan keterbaruan yang tinggi, ESSIL berhasil meraih juara dua di ajang tersebut.

Pemakaian daun kemangi di bidang industri yang masih asing di masyarakat luas juga menarik perhatian para juri. Membawa nama baik UM di ajang internasional, Viska dan tim diundang menghadiri acara penghargaan di Parkroyal Collection Marina Bay, Singapura pada pertengahan Februari 2023.

Selaku penggagas ide, Viska berharap produk ini bisa menjadi produk yang dapat digunakan oleh banyak orang di masa depan.

”Fokus riset aku itu kan di green industry, jadi aku berharap produk ini bisa aku kembangin dan jadi core dari green industry yang ingin aku bangun di masa depan,” ujar Viska menyampaikan mimpi besarnya.


Sumber :

https://infomalangraya.com/kemangi-antarkan-mahasiswa-um-juarai-green-wave-environmental-care-project-for-schools/

Thursday, May 12, 2022

Kijang Innova Listrik

Alasan Toyota Indonesia Kembangkan Kijang Innova Listrik

Sabtu, 2 April 2022 15:07 WIB

Toyota Indonesia membuat kejutan dengan meluncurkan prototipe Kijang Innova listrik pada pembukaan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 31 Maret 2022. EV di belakang nama Kijang Innova menandakan bahwa model tersebut sepenuhnya bertenaga listrik.

Mobil MPV itu tidak hanya dipajang di booth Toyota di dalam pameran IIMS 2022, tetapi sudah dapat dikendarai mengeliling area parkir JIExpo. Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto termasuk salah satu yang pertama kali menjajal Kijang Innova EV.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan bahwa pemilihan Kijang Innova sebagai kendaraan listrik karena sejarah pada model tersebut yang lekat dengan Indonesia. "Dilihat dari sejarahnya, Kijang ini dikembangkan dan lahir di Indonesia, dipasarkan sejak 1977," kata Bob di Ancol, Jakarta Utara, Jumat malam, 1 April 2022.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mninjau pameran Indonesia International Motor Show di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Kehadiran Toyota Kijang Innova listrik ini semakin mendekatkan target pemerintah. Berdasarkan beleid yang sama, pemerintah menargetkan produksi mobil listrik pada 2025 sebanyak 400.000, kemudian pada 2030 bertambah menjadi 600.000 unit, dan pada 2035 sebesar 1 juta unit. Tempo/Tony Hartawan

Selain itu, lanjut dia, prototipe Kijang Innova listrik yang dipamerkan masih dari basis Kijang Innova Reborn tipe Venturer. Mudahnya, dia menambahkan, Kijang Innova konvesional diubah menjadi 100 persen tenaga baterai.

Memanfaatkan model yang sudah ada ini menurut Bob dapat lebih efisien dibanding membuat model yang benar-benar baru. Pada dasarnya, model yang sudah diproduksi secara lokal ini memiliki jaminan supply chain yang sudah mapan. Sudah terstruktur, memiliki kandungan lokal yang banyak (Kijang Innova saat ini memiliki kandungan lokal di atas 80 persen). "Yang sudah berjalan tidak terdisrupsi, tinggal ditambahkan teknologi baru saja," tutur dia.

Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Detail spesifikasi Toyota Kijang Innova EV Concept masih dirahasiakan oleh pihak PT TMMIN maupun PT TAM Tempo/Tony Hartawan

"Kami melakukan adjusment terhadap Kijang Innova yang sudah diproduksi selama ini, kami kembangkan dengan versi listrik. Jadinya Kijang Innova listrik ini sebagai study car yang kami akan terus kembangkan dan pelajari."

Bob menyampaikan bahwa setidaknya terdapat 30 persen ubahan pada Kijang Innova Venturer hingga menjadi versi listrik. Ubahan itu berupa penggantian mesin konvensional dengan motor listrik dan instalasi modul baterai yang diletakkan di bawah lantai mobil. "Baterainya 60 kWh, tetapi masih impor," kata Bob yang enggan menyebutkan secara detail baterai buatan pabrikan mana yang digunakan.

Menurut Bob, Toyota Indonesia menghadirkan prototipe Kijang Innova listrik karena ingin menyediakan full range technology pada seluruh modenya. Mulai dari bermesin konvensional (ICE), hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, hingga baterai (mobil listrik). "Prinsipnya semua model disiapkan teknologinya," tutur dia.

Saat ini TMMIN memproduksi lima unit prototipe Toyota Kijang Innova listrik. Tiga unit berada di Indonesia dengan dua unit dipamerkan di IIMS 2022. Sedangkan dua unit lagi dikirim ke Thailand untuk pengembangan dan penelitian.


Sumber :

https://otomotif.tempo.co/read/1577700/alasan-toyota-indonesia-kembangkan-kijang-innova-listrik/full&view=ok

Sunday, March 27, 2022

Penggunaan Hidrogen Sebagai Bahan Bakar

Eksperimen Sukses Penggunaan Hidrogen Sebagai Pengganti Bahan Bakar Konvensional

Harga bahan bakar meningkat drastis di seluruh dunia. Kawasan Desa Bosbüll di Jerman utara ingin prioritaskan hidrogen dan tunjukkan bahan bakar ini punya masa depan hijau.

Di sebuah desa di bagian paling utara Jerman terdapat proyek model pertama, di mana sebuah kawasan bertekad untuk bertahan tanpa bahan bakar fosil, dan sepenuhnya menggunakan hidrogen. 

Sejak beberapa pekan belakangan, dua bus berbahanbakar hidrogen digunakan untuk mengangkut penumpang. Untuk proyek itu, dibangun khusus beberapa tempat pengisian bahan bakar hidrogen.  

Bagi Sven Hänsel yang berprofesi sebagai pengemudi bus, jenis bus berbahanbakar hidrogen bagus karena tidak ribut. "Orang hanya mendengar motor listrik dan putaran gigi persneling." Ia menambahkan, mesinnya tidak bising. 


Hidrogen sebagai Sumber Energi Berkelanjutan?

Sampai-sampai jika penumpang di bus mengobrol, dia bisa mendengar percakapan mereka. "Kadang kurang enak. Tapi lama-kelamaan saya tidak mendengar lagi obrolan penumpang, dan hanya memperhatikan situasi lalu lintas”, ujar pengemudi bus berbahan bakar hidrogen ini.


Kendala pompa pengisian bahan bakar

Daniel Marx, pimpinan perusahaan DB Regio Bus Nord mengungkapkan, saat ini masalah aktualnya adalah sulitnya mengisi bahan bakar. "Tepatnya, antara bus dan instalasi tidak ada koneksitas," begitu dikatakan Daniel Marx. Ini masalah piranti lunak, tapi bisa diselesaikan dengan beberapa aktualisasi.

Inti proyek hidrogen adalah instalasi elektrolisis. André Steinau, yang menggagas proyek model bernama eFarm itu, punya perusahaan instalasi elektrolisis dengan biaya pembuatan senilai beberapa juta Euro. Di perusahaan itu, hidrogen diekstrasi dari air di dalam wadah raksasa. Untuk itu dibutuhkan banyak energi listrik.

André Steinau menjelaskan, mereka tidak ingin menyia-nyiakan listrik. Ide mereka adalah, menyimpan listrik untuk dipakai nanti, kalau energi terbarukan tidak bisa diakses. "Selain itu kami juga akan mencari penggunaan di mana energi tidak hanya dikembalikan ke jaringan listrik, melainkan ke sektor-sektor lain seperti mobilitas dan penghangat ruangan," demikian dijelaskan André Steinau. 

Metode yang digunakan saat ini: dengan bantuan listrik dari tenaga angin, hidrogen dipisahkan dari air yang sudah dibersihkan. Ini kemudian diangkut ke tempat pengisian bahan bakar hidrogen. 

Dalam proses untuk mendapatkan hidrogen, terbentuk suhu tinggi. Panas kemudian dialirkan ke jaringan lokal untuk disalurkan. Dengan cara itu, rumah-rumah penduduk dapat dihangatkan saat musim dingin, tanpa melepas emisi CO2.   


Suhu tinggi jadi produk awal

Tepatnya rumah-rumah di desa Bosbüll, yang berlokasi tak jauh dari sana. Max Böhm yang berprofesi sebagai pengrajin di desa itu sudah merasakan keuntungannya. 

Suhu hangat itu jadi hasil awal proyek. Untuk bus-bus, ini juga baru awalnya, kata Max Böhm, sambil menambahkan, tentu lebih baik lagi, jika di sini ada satu atau dua mobil pribadi berbahanbakar hidrogen. 

"Saat ini, dari segi harga belum memungkinkan bagi setiap orang, atau bagi kami untuk membeli mobil hidrogen seperti itu," kata Max Böhm. Tapi ia bisa membayangkan, di masa depan itulah yang akan terjadi. 


140 km/jam

Melintasi kawasan Cuxhaven, Bremerhaven, Bremervoerde, dan Buxtehude, kota-kota yang terletak di bagian utara Jerman, kereta api bertenaga hidrogen pertama di dunia ini beroperasi melayani rute sepanjang 100 km. Dengan kapasitas penumpang sebanyak 150 orang, kereta ini mampu melaju dengan kecepatan 140 km/jam.

Sebuah mobil berbahanbakar hidrogen harganya dua kali lipat dari mobil jenis atau model serupa yang berbahanbakar diesel. Oleh sebab itu baru 30 unit yang ada di kawasan itu.  

Bahanbakarnya juga relatif lebih mahal. Untuk perjalanan 500 km, orang harus membeli bahan bakar seharga 50 Euro. Sedangkan kalau mobil diesel, hanya 47 Euro, dan pada mobil listrik bahkan hanya 25 Euro. 


Perlindungan iklim perlu dana besar

André Steinau mengatakan, “Kita juga harus sadar, perekonomian yang berorientasi pada perlindungan iklim harganya mahal, dibanding yang berbahanbakar fosil." Itulah perlindungan iklim. Sekarang semua orang ingin menyelamatkan bumi, dan sekarang kita berada di awal teknologi yang sudah lama ada, tapi belum diproduksi massal. "Sudah ada penggunaannya, tapi jika massal akan lebih murah,” demikian dijelaskan André Steinau.

Diprediski dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan energi yang ramah iklim sudah akan lebih ekonomis, seperti halnya energi biasa. Banyak orang di  kawasan utara Jerman ini percaya kemungkinan itu. Karena sudah bisa dilihat, tekniknya dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (ml/inovator) 

 

Sumber :

https://www.dw.com/id/bahan-bakar-konvensional-hidrogen/a-61101377?

Thursday, January 20, 2022

Reverse Vending Machine

Bekas botol plastik kini bisa ditukar Gopay hingga Shopeepay

AQUA bekerjasama dengan Alfamart dan PlasticPay menyediakan AQUA Reverse Vending Machine (RVM) atau Mesin Penukaran Botol plastik pasca-konsumsi guna mempermudah pengelolaan sampah botol plastik.

Tahap pertama, mesin akan ditempatkan di lima toko Alfamart yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang.

"Bagi Danone-AQUA, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kami yang diwujudkan melalui gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan sejak 2018. Gerakan ini selain bertujuan mempertegas posisi perusahaan sebagai pelopor pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik pasca-konsumsi, juga untuk mendukung ambisi pemerintah mengurangi sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70 persen di 2025," kata kata VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto dalam siaran pers pada Kamis.

Kemasan botol plastik bekas minuman yang ditukarkan di dalam mesin akan mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan sejumlah uang di berbagai dompet digital.

Untuk kemasan botol plastik PET pasca-konsumsi dengan merk Danone-AQUA diberikan reward 100 poin per botol, sementara untuk botol PET bekas merk lain mendapat reward 50 poin per botolnya.

Poin-poin yang diperoleh dari setiap pengumpulan sampah botol plastik dapat ditukarkan dengan Gopay, Dana, LinkAja, OVO, Shopeepay, dan juga sedang diproses untuk bisa ditukarkan dengan Alfagift Points.

Untuk mendapatkan poin, pertama, pengguna harus mengunduh aplikasi PlasticPay pada smartphone dan melakukan registrasi. Kemudian membawa kemasan botol plastik PET paska konsumsi ke lokasi AQUA RVM terdekat. Memindai barcode pada botol plastik PET pasca-konsumsi, sebelum memasukkannya ke dalam mesin RVM. Terakhir, konsumen cukup memindai QRCODE yang muncul pada mesin menggunakan aplikasi PlasticPay, diakhiri dengan mengklik “AmbilPoin” pada aplikasi PlasticPay.

Dengan mekanisme ini, AQUA RVM diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong masyarakat untuk mengumpulkan kemasan botol plastik pasca-konsumsi mereka, sehingga mengurangi sampah plastik yang tidak terkumpul dan terkelola dengan benar.

Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin mengapresiasi kerjasama dengan Danone AQUA untuk karena ikut berkontribusi memberikan solusi bagi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Komitmen Alfamart Sahabat Bumi ditunjukkan dengan kerjasama untuk menginisiasi alternatif baru bagi masyarakat untuk ikut bijak mengelola kemasan botol plastik pasca-konsumsi.

"Kami melihat jaringan kami yang berjumlah lebih dari 16.000 gerai dan tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekuatan luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memberi kemudahan bagi mereka untuk dapat berperan aktif mendukung pengelolaan sampah plastik yang menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini," katanya.

Komitmen Alfamart sebagai sahabat bumi untuk lingkungan, tambahnya, sudah ditunjukkan dengan mengurangi konsumsi plastik belanja sejak tahun 2016. Selain itu, kegiatan untuk menjaga lingkungan hidup juga intens dilakukan dengan melakukan penanaman pohon secara massal di seluruh wilayah Indonesia.

Suhendra Setiadi, CEO PlasticPay mengatakan melalui kerjasama dengan Danone-AQUAdan Alfamart, perusahaan yang memiliki komitmen daur ulang kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang kuat dan jaringan toko yang luas, PlasticPay optimistis dapat menjangkau masyarakat Indonesia yang lebih luas sehingga menjadikan reverse vending machine yang merupakan seratus persen karya anak bangsa ini dapat berkontribusi secara maksimal dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia secara berkelanjutan.

"Prosesnya, seluruh kemasan botol plastik paska konsumsi yang terkumpul dalam AQUA RVM akan diambil oleh mitra pengumpul sampah plastik Danone-AQUA dan langsung di bawa ke RBU (Recycle Business Unit) binaan Danone-AQUA yang berada di 6 lokasi, termasuk di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kemasan botol plastik pasca-konsumsi yang terkumpul kemudian akan diolah menjadi plastik PET daur ulang yang digunakan kembali sebagai bahan baku di seluruh kemasan botol AQUA,” tambahnya

Mengacu pada hasil riset yang dilakukan oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI) daur ulang sampah plastik di Indonesia masih tergolong kecil yaitu di bawah angka 10 persen, untuk itu diperlukan upaya inovatif untuk meningkatkan laju pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik bekas.


Sumber :

https://id.berita.yahoo.com/bekas-botol-plastik-kini-bisa-062820525.html

Wednesday, January 5, 2022

Ekonomi Sirkular Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru

Ekonomi Sirkular Bakal Ciptakan 3,3 Juta Lapangan Kerja Baru bagi Perempuan

06 Jan 2022, 12:30 WIB

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Medrilzam, coba memaparkan peluang investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular. Salah satunya terkait penciptaan lapangan kerja baru.

Medrilzam memproyeksikan, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular bakal menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030 mendatang, dimana 75 persen atau 3,3 juta diantaranya jadi porsi kaum hawa.


Pemerintah Target Seluruh Warga Bisa Akses Air Minum Perpipaan di 2030

"Ada penciptaan 4,4 juta lapangan kerja baru kalau misalnya ini bisa kita laksanakan dengan baik, 75 persen dari total pekerjaan merupakan tenaga kerja perempuan," paparnya dalam sesi webinar, Kamis (6/1/2022).

Selain penciptaan lapangan kerja, investasi bisnis hijau pada ekonomi sirkular juga dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) pada kisaran Rp 593-638 triliun di 2030.

"Dari hasil kajian yang sudah kami buat, ternyata sirkular ekonomi bila diterapkan kontribusi PDB-nya sangat-sangat besar, hampir Rp 600 triliun rata-rata," jelas Medrilzam.

Ekonomi sirkular pun tentunya bakal mengurangi timbulan limbah sebesar 18-52 persen dibandingkan business as usual pada 2030. Sehingga berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 126 juta ton karbon dioksida.

"Juga tentunya karena dia sirkular ini bisa mengurangi timbulan limbah cukup-cukup besar bila dibandingkan dengan business as usual. Secara otomatis emisi pun bisa kita turunkan," tutur dia.


Sudah Ada Hasil

Menurut Medrilzam, seluruh proyeksi tersebut bukan hanya mimpi belaka. Sebab, sudah ada beberapa negara maju yang menerapkan pola ekonomi sirkular, dan telah mendapatkan hasilnya.

"Ini kesannya memang seperti mimpi, tapi di luar negeri ini sudah mulai mengarah ke sana. Bahkan sudah ada beberapa negara mulai men-declare bahwa hampir sebagian besar produk-produknya dihasilkan dari proses sirkular ekonomi," tandasnya.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4852662/ekonomi-sirkular-bakal-ciptakan-33-juta-lapangan-kerja-baru-bagi-perempuan

Monday, October 11, 2021

Energi Terbarukan di Indonesia

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

29 SEPTEMBER 2021

    


Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Potensi ini tentunya memberi masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian energi Indonesia yang saat ini masih disokong oleh energi fosil.

Menurut The Conversation, pemerintah Indonesia telah mencanangkan bauran EBT yang mencapai 23 persen pada 2025 dan naik menjadi 31 persen pada 2050. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia menuju transisi energi. Disebutkan pada laman KESDM, total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.

Sebagai suatu negara kepulauan dengan iklim tropis, Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang EBT. Berikut empat di antaranya.


1. Energi panas bumi (geothermal)

Energi geothermal adalah energi panas yang terkandung dalam fluida air (bisa dalam uap, cair, atau campuran keduanya) yang berada pada kedalaman lebih dari 1 kilometer di bawah permukaan bumi. Fluida panas ini memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi yang menjadikannya sebagai penyedia energi yang masif.

Jumlah potensi energi geothermal Indonesia ialah sekitar 11.073 Megawatt listrik (MWe) dan cadangannya sekitar 17.506 MWe. Sayangnya, sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia, kita masih belum maksimal dalam segi pemanfaatannya.

Sumber energi ini tersebar hampir merata di lebih dari 300 titik dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut menjadikan pemanfaatan energi geothermal dapat membantu mengatasi krisis listrik di masa kini dan masa depan.

Dalam Road Map Pengembangan Geothermal yang disusun oleh Kementerian ESDM, Indonesia menargetkan pengembangan energi geothermal sekitar 7000 MW pada 2025. Program ambisius ini membutuhkan investasi yang besar, penyiapan teknologi yang mumpuni, manajemen penyediaan sumber daya manusia yang kompeten, dan dukungan iklim investasi yang menarik bagi investor.

Total kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Indonesia saat ini ialah sebesar 1.948 MW. Jumlah ini menjadikan kita sebagai negara produsen energi geothermal terbesar kedua setelah Amerika Serikat (3.591 MW).


2. Energi Surya

Sebagai negara tropis dengan sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Energi alternatif terbarukan ini cukup menjanjikan untuk menopang kebutuhan energi masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat desa.

Menurut catatan Kementerian ESDM, elektrifikasi di Indonesia masih 55-60%, dan mayoritas wilayah yang belum teraliri listrik adalah wilayah pedesaan. Oleh karena itu, energi surya dapat menjadi salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di desa. Hal ini memungkinkan karena sifat panel surya yang dapat dibangun dimana saja.

Potensi energi surya di Indonesia dinilai sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Telah memiliki basis kebijakan yang kuat, pemerintah kini tetap harus fokus dalam produksi photovoltaic (PV) yang akan menjadi komponen utama dalam sistem PLTS.


3. Energi Biomassa/biogas

Energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik seperti kotoran ternak, atau limbah dapur seperti sayuran yang sudah digunakan. Limbah-limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara.

Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

Biogas sendiri dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk memasak dan bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik. Selain itu, biogas dinilai lebih aman untuk bumi karena pembakaran biogas mampu mengurangi emisi gas kaca. Biogas juga dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran tradisional.

Menurut Kementerian (ESDM) pengembangan biogas di Indonesia merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tercatat, biogas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 47.505 unit di seluruh wilayah Indonesia dengan menghasilkan biogas sebanyak 75.044,2 m3/hari atau sekitar 26,72 juta m3/tahun.

Kementerian ESDM akan terus mengejar target Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) mencapai 5.5 GW pada tahun 2025. Harapannya biogas akan menjadi salah satu energi alternatif utama bagi masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga bumi dari pemanasan global.


4. Energi Laut

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar, yaitu sekitar dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi Indonesia dari segi besarnya potensi energi laut.

Energi laut yang dihasilkan dari gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut (samudera) merupakan sumber energi di perairan laut yang berupa energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut, dan energi perbedaan suhu lapisan laut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.

Potensi termal lautan Indonesia ialah sebesar 2,5 x 1.023 Joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen, menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW/m di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang dinilai sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikan lainnya baru pada tahap penelitian. Harapannya, di masa depan energi gelombang dapat menjadi salah satu energi terbarukan yang menjanjikan.

Dilansir dari Kompas, Indonesia masih memanfaatkan sebagian kecil energi terbarukan, yaitu hanya sekitar 2,3 persen dari potensi yang ada. Padahal, potensi energi terbarukan yang dimiliki negara kita ialah sekitar 442 gigawatt (GW), atau sekitar tujuh kali lipat dari kapasitas listrik yang telah terpasang di tanah air.

Kini, kebutuhan penggunaan energi kian bertambah tiap waktunya, khususnya dengan adanya digitalisasi dan pertambahan penduduk. Agar tidak terjadi defisit energi di masa depan, pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi suatu keharusan.*


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/29/menuju-transisi-mandiri-energi-berikut-4-potensi-energi-terbarukan-di-indonesia

Thursday, September 23, 2021

PepsiCo to Reduce Plastic Use

PepsiCo to reduce plastic use, launch plant-based snacks in green push

Sep 15, 2021 | 5:23 PM

By Siddharth Cavale

(Reuters) -PepsiCo will cut back on the use of virgin plastic and expand its SodaStream carbonated-water business to more markets amid growing calls to combat climate change, although some environmental groups want the company to do more.

As part of a new initiative called “pep+”, the food and beverage giant said on Wednesday it was aiming to reduce virgin plastic use per serving by half across all brands by 2030 and use 50% recycled content in all its plastic packaging.

It also plans to focus on healthier food by introducing plant-based protein snacks in partnership with Beyond Meat Inc. PepsiCo is targeting early 2022 for its first Beyond Meat products, Chief Executive Ramon Laguarta told CNBC in an interview.

The moves come as PepsiCo and rival Coca-Cola have become new targets for global activism, given the amount of single-use plastic waste they generate. The companies have also featured on NGO Break Free From Plastic’s list of the “top global polluters” for the last three years.

According to Greenpeace, PepsiCo uses 2.3 million metric tonnes of plastic every year, while Coca-Cola is responsible for over 100 billion bottles of single-use plastic. PepsiCo has set targets to make 100% of its packaging recyclable, compostable or degradable by 2025.

“(There is) still too much emphasis on recycling for a company that is consistently ranked among one of the world’s worst plastic polluters,” said Graham Forbes, global project leader at Greenpeace USA.

“The company needs to set ambitious reuse/refill targets for all products and brands.”

PepsiCo was not immediately available to comment on Greenpeace’s statement.

PepsiCo’s ambitious plastics plan also includes scaling its SodaStream business globally, Laguarta told Reuters in an interview. SodaStream, acquired by PepsiCo in 2018, makes machines and refillable cylinders that let users make their own soda or carbonated water drinks at home.

The brand, currently in 40 countries, will bring new flavors into 23 more markets and introduce its new SodaStream Professional platform aimed at businesses in 10 additional markets by 2022, the company said in a statement.

(Reporting by Siddharth Cavale in Bengaluru and additional reporting by Uday Sampath; Editing by Devika Syamnath and Anil D’Silva)


Sumber :

https://whtc.com/2021/09/15/pepsico-to-reduce-plastic-use-launch-plant-based-snacks-in-green-push/

Sunday, September 19, 2021

PLTS Terbesar di Dunia

Ini PLTS Terbesar di Dunia, Lebih Luas daripada Jakarta Pusat 

20/09/2021, 10:00 WIB

Bhadla Solar Park dikukuhkan sebagai situs PLTS terbesar di dunia pada 2021 dengan kapasitas terpasang sebesar 2,25 gigawatt.

Situs pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di dunia terdapat di India dengan nama Bhadla Solar Park. Bhadla Solar Park dikukuhkan sebagai situs PLTS terbesar di dunia pada 2021 dengan kapasitas terpasang sebesar 2,25 gigawatt. 

Melansir NS Energy, PLTS Bhadla Solar Park terletak di desa Bhadla, distrik Jodhpur Rajasthan, India. Baca juga: Inspirasi Energi: PLTP Terbesar di Dunia Ada di AS, Mampu Terangi 900.000 Rumah Wilayah ini terkenal dengan suhu yang tinggi dan disinari cukup lama oleh matahari. 

Panel-panel surya di PLTS terbesar di dunia ini terpasang di lahan seluah sekitar 5.783 hektare atau sekitar 57,8 kilometer persegi. 

Jika dikomparasikan, luas PLTS Bhadla Solar Park lebih besar dibandingkan Jakarta Pusat dengan luas 47,9 kilometer persegi. Proyek ini dikembangkan oleh beberapa entitas seperti Rajasthan Solar Park Development Company Limited, Saurya Urja Company, dan Adani Renewable Energy Park Rajasthan. 

NS Energy melaporkan, PLTS terbesar di dunia tersebut dibangun dalam empat fase. Rajasthan Solar Park Development Company Limited mengembangkan Bhadla Solar Park pada fase pertama dan kedua. Sedangkan Saurya Urja Company of Rajasthan bertanggung jawab untuk membangun Bhadla Solar Park fase ketiga. 

Terakhir Adani Renewable Energy Park Rajasthan mengembangkan PLTS terbesar di dunia tersebut pada fase empat. Investasi yang ditanam pada proyek Bhadla Solar Park ditaksir sekitar 1,5 miliar dollar AS atau setara Rp 19,9 triliun. 

Pembangunan Bhadla Solar Park dimulai pada Juli 2015. Sistem transmisi daya listrik yang dihasilkan Bhadla Solar Park dikembangkan oleh Powergrid Corporation of India (PGCIL) dan perusahaan transmisi milik negara TRANSCO. 

Listrik yang dihasilkan PLTS terbesar di dunia ini lantas disalurkan ke jaringan otoritas listrik negara bagian. Pembangunan jalur transmisi baru dari Bhadla Solar Park ke jaringan nasional dibiayai di bawah Program Investasi Transmisi Energi Terbarukan Rajasthan (RRETIP). 

Pembiayaan tersebut dikoordinasikan oleh Pemerintah India, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Dana Teknologi Bersih.


Sumber :

https://www.kompas.com/global/read/2021/09/20/100000970/ini-plts-terbesar-di-dunia-lebih-luas-daripada-jakarta-pusat?page=all#page2.

Sekolah Dibangun dari Bata Sampah Plastik

SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik

17 SEPTEMBER 2021 13.00 WIB

    

Sudah bukan lagi menjadi hal asing, keberadaan sampah terutama yang terdiri dari bahan plastik sejak dulu hingga kini dapat dikatakan sebagai permasalahan umum di berbagai negara, termasuk Indonesia sendiri.

Masih memiliki tugas besar dalam menghadapi persoalan sampah di negeri ini. Di saat yang bersamaan, GNFI sendiri bukan baru sekali dua kali membahas mengenai berbagai persoalan sampah yang dihadapi semua pihak dari waktu ke waktu.

Tapi tentunya, di balik kondisi tersebut tetap ada secercah pemberitaan positif yang dapat menjadi harapan akan pengelolaan sampah di Indonesia, yaitu tentang bagaimana ragam upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam menangani limpahan ton sampah plastik yang tak terhingga keberadaannya, menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai tersendiri.

Bukan angan-angan belaka, pelaksanaan hal tersebut nyatanya sudah kerap beberapa kali terbukti secara nyata, salah satunya lewat upaya yang berjalan dalam pembangunan Sekolah Dasar (SD) di salah satu wilayah Indonesia, yaitu di Lombok Barat (NTB).


Sekolah berkonsep zero-waste

Kabar mengenai pemanfaatan sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat datang dari wilayah Dusun Medas Bentaur, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

Di wilayah spesifik tersebut, ada sebuah sekolah yang mendapat keistimewaan pembangunan kembali setelah tragedi gempa berkekuatan 6,4 skala richter pada tahun 2018, yang mengguncang sekaligus meluluhlantakkan sejumlah bangunan, salah satunya SDN 04 Medas.

Semakin istimewa, karena setelah tiga tahun berselang dari tragedi kelam yang terjadi, pembangunan hampir seluruh bagian dari SDN 04 Medas seperti yang telah disebutkan sebelumnya menggunakan bahan bangunan yang tak biasa, yaitu berupa susunan bata yang dibuat dari pengolahan sampah plastik (ecobrick).

Melansir Radar Lombok, pembangunan SD yang ecobrick ini sejatinya diprakarsai oleh Classroom of Hope, organisasi non-provit asal Australia yang kerap melakukan gerakan pendirian sarana pendidikan di berbagai negara.


Bekerja sama dengan Pelita Foundation Lombok dan Pemprov NTB, pihak Classroom of Hope 

akhirnya menunjuk Block Solutions, perusahaan konstruksi bangunan rumah berbasis ramah lingkungan yang berasal dari Finlandia, untuk menggarap pembangunan SDN 04 Medas menggunakan bahan daur ulang sampah plastik tersebut.

Di Finlandia, bata ecobrick sudah lazim digunakan sebagai pondasi utama pada rumah atau hunian tempat tinggal.

Penggunaan bata ecobrick pada SDN 04 Medas menjadikan sekolah ini sebagai sebuah proyek percontohan sekaligus menjadi sekolah pertama di Indonesia yang dibangun dengan menerapkan sistem ramah lingkungan dan berkonsep zero-waste.


Kualitas bangunan yang dibangun dari bata ecobrick

Menyoal ketahanan bata ecobrick, pada dasarnya material ini memiliki bentuk dan cara pemasangan layaknya balok lego, dengan bagian tengah yang memiliki lubang sebagai tempat untuk penempatan besi pengait.

Sebelum disusun, pada bagian dasar akan dipasang pelat besi untuk penjepit bata sekaligus sebagai elemen dasar penguat bangunan.

Sementara dari segi keunggulan, bata ecobrick memiliki bobot lebih ringan, harga yang terjangkau, serta material yang diklaim dapat bertahan hingga 100 tahun, sebagaimana usia plastik untuk dapat terurai.

Dari segi keamanan, dapat dipastikan bahwa bangunan yang dibuat dengan bata ecobrick ini tahan akan guncangan gempa.

"Jikalau nanti terjadi bencana alam seperti gempa, jadi dia (bangunan) akan tetap bergoyang tetapi elastis. Jadi anak-anak kalau berada di dalam ruangan mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri," jelas Maksun, Kepala Sekolah SDN 04 Medas, seperti yang diwartakan Kompas.com.

Secara lebih detail dalam pengelolaan bahan baku sampah plastik yang dimaksud, disebutkan bahwa butuh sebanyak dua hingga tiga ton sampah yang diolah menjadi bata untuk membangun tiap satu ruang kelas berukuran 6x10 meter yang ada di SDN 04 Medas.

Soal proses pembangunan, pendirian sekolah ini juga terbilang memangkas waktu yang cukup signifikan karena material ecobricks hanya perlu dirakit menggunakan tangan layaknya lego.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah, saat meninjau pembangunan SDN 04 Medas di bulan Juni 2021 lalu.

“Alhamdulillah, kita dapat memanfaatkan sampah dan menjadi sumber daya untuk kita semua, penggunaan bata ecobrick ini sangat ringan, murah, aman saat gempa dan sangat cepat membuatnya. Sekolah ini saja merakit bloknya seperti lego hanya butuh waktu 5 jam, paling lama mebutuhkan waktu 1 minggu 10 hari,” jelas Rohmi dalam laman resmi Pemprov NTB.

Perihal keberadaan bata yang masih didatangkan dari Finlandia, Pemprov NTB nyatanya menindaklanjuti hal tersebut melalui rencana dan kemungkinan kerja sama dengan pihak Block Solutions di waktu yang akan datang, untuk membangun pabrik bata ecobrick di wilayah setempat.

“Insya Allah, rencana kita ke depannya akan dibangun pabrik untuk menghasilkan blok plastik, untuk mengakomodir pengelolaan sampah plastik di NTB,” pungkasnya.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/09/17/sd-di-lombok-barat-jadi-sekolah-pertama-yang-dibangun-dari-bata-sampah-plastik

Saturday, September 11, 2021

Biomass Cofiring Solusi Alternatif Transisi Energi

Pakar: Biomass Cofiring Solusi Alternatif Transisi Energi

Kamis, 09/09/2021 19:26 WIB

Di tengah upaya pemerintah mendorong bauran energi baru dan terbarukan (EBT) demi mencapai emisi netral, cofiring biomassa dinilai dapat menjadi solusi.

Cofiring biomassa tidak hanya dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, tetapi juga dapat menjadi solusi permasalahan sampah sekaligus menggerakkan ekonomi.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menyebutkan penggunaan biomass cofiring menjadi salah satu usaha untuk mengurangi ketergantungan energi fosil.

Saat ini, lanjutnya, sejumlah PLTU di beberapa daerah sudah melakukan uji coba biomass cofiring dan berhasil.Skema itu adalah mencampur biomassa dengan batu bara, sehingga penggunaan batu bara sebagai bahan baku pembangkit listrik dapat dikurangi secara berkelanjutan.

Seiring waktu, penggunaan bahan baku fossil dapat terus ditekan hingga ke level terendah.

"PLN mencoba dan sudah berhasil di beberapa pembangkit mereka untuk mengurangi penggunaan batubara melalui cofiring biomassa dan hasilnya cukup bagus. Ini penting juga dilakukan karena dapat mendorong bauran EBT, dan secara otomatis akan membantu mengurangi sampah juga meningkatkan keekonomian," ujar Mamit, Kamis (9/9).

Iwa Garniwa, Guru Besar Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa biomass cofiring merupakan salah satu alternatif yang dapat didorong untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebanyak 23 persen pada 2025, alih-alih hanya fokus ke pengembangan PLTS Atap yang hingga kini masih menuai perdebatan dalam hal peraturannya.

Menurut Iwa, biomass cofiring termasuk realistis karena sebanyak 60 persen pembangkit listrik di Indonesia yang sudah beroperasi hingga saat ini menggunakan batu bara.

Dengan cofiring, ujarnya, penggunaan batu bara pada pembangkit dikurangi. Dalam skala besar dan lebih panjang, langkah ini akan dapat mengatasi masalah Indonesia yang sedang mendorong energi bersih.

"Batu baranya sebagian kita ganti. Ada bahasanya cofiring. Jadi [misalnya] 90 persen batu bara, 10 persen biomass. Biomass, sampah, kan renewable energy. Sampah, biomass, itu dikonversi menjadi batu bara. Dicampurlah. Ini berarti penggunaan batu bara sudah berkurang 10 persen," terangnya.

Dia menyebutkan bahwa kebutuhan batu bara di Indonesia mencapai sekitar 120 juta ton. Dengan biomass cofiring sebayak 90 persen batu bara dan 10 persen biomass, maka kebutuhan batu bara turun menjadi sekitar 108 juta ton karena sebanyak 12 juta ton sudah digantika oleh biomass.

"Itu berarti kontribusi renewable energy masuk di pembangkit batu bara. Batu baranya turun. Itu mix, yang salah satu bisa dikerjakan pemerintah untuk mendorong bauran energi terbarukan," katanya.


Pasokan Bahan Baku

Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Sahid Junaidi menyebutkan tantangan terbesar dalam implementasi cofiring biomassa adalah usaha untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian.

Dalam keterangan resminya, menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku dinilai menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga harga listrik yang dihasilkan tetap terjangkau dan tidak melebihi biaya pokok penyediaan (BPP) yang ditetapkan.

Namun, dia menegaskan bahwa penggunaan biomassa sebagai substitusi bahan bakar PLTU sejalan dengan upaya Indonesia menuju emisi netral di masa mendatang. Lebih lanjut, dia juga menyebutkan bahwa implementasi cofiring PLTU dapat meningkatkan skala ekonomi biomassa.

Pasalnya, selain ikut mendorong kontribusi energi terbarukan pada bauran energi nasional,co-firing juga dinilai berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan karena dapat membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa, khususnya yang berbasis sampah dan limbah.

Biomassa untuk co-firing dapat diambil dari limbah pertanian, limbah industri pengolahan kayu, hingga limbah rumah tangga.

Selain itu, biomassa untuk cofiring juga dapat diambil dari tanaman energi yang ditanam pada lahan kering atau dibudidayakan pada kawasan hutan tanaman energi seperti pohon kaliandra, gamal, dan lamtoro.

"Kami mendukung upaya PLN untuk terus mencari peluang pemanfaatan biomassa, melakukan komitmen dengan pemasok biomassa besar, serta mendorong berkembangnya pasar biomassa skala menengah dan kecil," katanya.

"Kami berharap upaya-upaya ini terus dilanjutkan di setiap titik lokasi PLTU di Indonesia sehingga nantinya akan tercipta pasaryang semakin besar dan keekonomian serta economics of scale yang semakin baik, " papar Sahid.

PLN telah menetapkan komitmen untuk mencapai karbon netral pada 2060 sebagai respons terhadap isu perubahan iklim.

Satu-satunya perusahaan pengelola energi listrik dalam negeri itu pun menyiapkan skema transisi menuju EBT dan pergeseran dari energi berbasis impor menuju energi berbasis domestik.

Pihaknya pun mengaku telah menyiapkan peta jalan untuk melakukan pensiun bertahap bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dimiliki.

"Kami menyiapkan peta jala retirement [pensiun] PLTU batu bara untuk mencapai karbon netral pada 2060," ujar Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam situs resmi perseroan.

Dalam petajalan yang telah disiapkan, PLN menyatakan akan melakukan tahapan monetisasi PLTU batu bara sebesar 50,1 GW hingga 2056 dan menggantinya secara bertahap dengan EBT.

PLN saat ini memiliki program Green Booster melalui biomass cofiring atau pencampuran biomassa dengan batu bara. Dalam praktiknya, penggunaan sebagian batubara disubstitusi dengan biomassa dari tanaman energi maupun pellet sampah. Inovasi ini akan dilakukan di 53 PLTU eksisting PLN.

Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, sampai dengan Juni 2021, PLN telah mengimplementasikan co-firing pada 17 PLTU. Sekitar 12 PLTU tersebar di Jawa dan 5 lokasi di luar Jawa.

Pembangkit-pembangkit itu dikelola oleh dua anak usaha PLN yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali.

Indonesia Power mengelola cofiring PLTU Suralaya 1-7, PLTU Sanggau, PLTU Jeranjang, PLTU Labuan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Barru dan PLTU Adipala. Sementara itu, PJB diPLTU Paiton Unit 1-2, PLTU Pacitan, PLTU Ketapang, PLTU Anggrek, PLTU Rembang, PLTU Paiton 9, PLTU Tanjung Awar-Awar dan PLTU Indramayu.

Dari proyek cofiring tersebut, PLN mampu menghasilkan energi hijau dari ekuivalen kapasitas pembangkit 189 Mega Watt (MW).


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210909191334-90-692233/pakar-biomass-cofiring-solusi-alternatif-transisi-energi?

Monday, August 30, 2021

Tiga Strategi Besar Ekonomi Indonesia

Jokowi Beberkan Tiga Strategi Besar Ekonomi ke Ekonom

Kamis 26 Aug 2021 14:47 WIB


Pemerintah akan melakukan hilirisasi, energi hijau, dan digitalisasi UMKM.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan tiga strategi besar ekonomi Indonesia di hadapan para ekonom saat memberikan sambutan dalam acara peresmian pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (26/2). Tiga strategi besar tersebut yakni hilirisasi industri, digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta ekonomi hijau.

Terkait hilirisasi industri, Jokowi menjelaskan hilirisasi sudah dimulai dengan menghentikan ekspor bahan mentah sejumlah komoditas. Menurutnya, ke depan ekspor bahan mentah lain seperti nikel, bauksit, emas, tembaga, kelapa sawit, hingga turunannya dapat berubah menjadi ekspor barang setengah jadi atau lebih baik lagi apabila bisa menjadi barang jadi.

“Saya kira ekspor kita, ekspor besi baja kita dalam setengah tahun ini saja sudah berada di angka kurang lebih 10,5 miliar dolar AS,” ucap Jokowi.

Strategi besar kedua yakni digitalisasi UMKM. Hingga saat ini sebanyak 15,5 juta UMKM telah masuk ke dalam platform digital dan lokapasar. Jokowi mengatakan, transformasi ini akan terus didorong agar makin banyak UMKM masuk ke dalam platform digital.

“Kita memiliki kurang lebih 60-an juta UMKM yang semuanya akan kita dorong agar masuk ke platform-platform digital, baik yang berada di daerah, nasional, maupun agar bisa juga masuk ke platform-platform global,” lanjutnya.

Jokowi menyebut strategi besar lainnya yaitu berkaitan dengan ekonomi hijau. Pemerintah berencana membangun Green Industrial Park dengan produk keluaran produk hijau dengan pemakaian energi menggunakan energi baru terbarukan, energi hijau.

Ia berharap ke depan produk hijau yang dihasilkan dari ekonomi hijau akan menjadi sebuah kekuatan besar Indonesia.

“Kita tahu semuanya bahwa masa depan produk-produk hijau itu sangat-sangat menjanjikan dan kita memiliki kesempatan yang besar dalam hal ini,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, Presiden juga menyinggung mengenai reformasi struktural yaitu adanya Undang-Undang Cipta Kerja yang bertujuan untuk membangun sebuah kecepatan. Pemerintah telah membuat sistem perizinan elektronik Online Single Submission (OSS) guna memberikan kemudahan dan kecepatan dalam hal perizinan bagi UMKM. Menurut dia, melalui OSS ini UMKM bisa membuat Nomor Induk Berusaha (NIB) di mana saja dengan waktu yang lebih cepat.

“Sehingga usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro kita semuanya bisa menjadi sebuah usaha yang memiliki NIB dan itu akan memudahkan mereka untuk mengakses ke perbankan,” tambahnya.

Selain itu, Jokowi juga menyampaikan mengenai Program Meekar yang merupakan pinjaman bagi usaha mikro dan telah ada sejak tahun 2016. Saat ini, nasabah dari Program Meekar mencapai 10,8 juta nasabah melebihi nasabah Grameen Bank sekitar 6 juta nasabah.

“Ini sebuah lompatan yang sangat cepat sekali yang kita harapkan ini akan memberikan dampak kenaikan tingkat pada usaha-usaha mikro di Tanah Air,” ujarnya.


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/qyfsb7370/jokowi-beberkan-tiga-strategi-besar-ekonomi-ke-ekonom

Thursday, August 12, 2021

Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan

Demi Lingkungan, Seniman Sukoharjo Sulap Sampah Plastik Jadi Lukisan Menakjubkan

Kamis, 12 Agustus 2021 19:00

Dialah Sigit Purnomo Adi, yang memanfaatkan sampah plastik sebagai media menciptakan karya seninya. Disulapnya sampah plastik kemasan menjadi lukisan abstrak dengan komposisi warna yang menawan. Bukan tinta ataupun cat warna, melainkan sampah kemasan makanan ringan, kertas bungkus nasi, bungkus mie instan hingga korek api. Imajinasi Sigit yang begitu tinggi berhasil membingkai onggokan sampah yang dibenci menjadi seni yang diminati.

Sampah plastik selalu menjadi momok masyarakat, pengelolaan sampah yang buruk akan berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Mengingat, butuh waktu 500 hingga 1.000 tahun agar sampah plastik terurai secara alami. Beberapa karya Sigit juga memadukan limbah kain perca dan potongan kertas bekas.

Siapa sangka, lukisan yang tak wajar ini beberapa kali dipamerkan secara virtual. Beberapa negara asing seperti Jepang, Malaysia, Thailand hingga Eropa Timur bahkan suka dengan hasil karyanya. Hasil karyanya dipamerkan di galerinya sendiri bernama Galeri Makmur Art Project. Sigit yang seorang dosen beberapa kali juga turut ditunjuk sebagai kurator yang membawakan pameran seni rupa berskala Internasional.

Kegemarannya akan seni lukis abstrak selalu mengasah otaknya untuk menciptakan ide sekreatif mungkin. Ia juga pernah menggeluti lukisan mosaik dari limbah kertas dan kain. Dituangkannya sampah tersebut pada tubuh gitar listrik yang laku di Bali hingga Amerika.

Pada dasarnya, limbah sampah akan ditempelkan pada bidang media lukis. Sigit menggunakan lem panas agar seluruh permukaan plastik tertempel dengan sempurna. Terkadang sampah plastiklah yang dijadikan media lukisnya. Plastik kemasan mi instan dan makanan ringan disusun menjadi lembaran lebar. Hingga tinta dituangkan ke permukaan plasik. Warna kemasan yang khas berpadu dengan gurat tinta yang ia lukiskan.

Metode kedua ialah menggunakan sampah plastik benar-benar sebagai material penyusun warnanya. Cara ini memang lebih sulit karena sama sekali tidak menggunakan tinta sebagai teknik permainan warna. Keaslian warna kemasan plastik dipertahankan, dipadukan dengan warna plastik lainnya hingga menjadi sebuah tema lukisan.

Media lukisnya juga beragam, mulai dari bingkai, papan kayu, tempayan, hingga tungku arang. Tiap material sampah memiliki perbedaan perlakuan untuk dijadikan sebagai lukisan. Pasalnya, sang seniman harus memilih dan memilah baik itu warna, hingga bentuk sampah yang beragam. Sekali lagi, imajinasi menjadi pendongkrak jiwa kreatifnya.

Pemanfaatan barang bekas sebagai media melukis sudah digeluti Sigit sejak tahun 2011. Berangkat dari keprihatinannya akan pengelolaan sampah yang jauh dari kata sempurna. Daur ulang sampah amatlah penting demi keberlangsungan lingkungan. Sebagai seorang seniman, Sigit merepresentasikan secara langsung pada karyanya. Dengan memperhatikan sampah secara teliti agar keberadaanya tak mengotori lingkungan.

Tak butuh waktu yang lama untuk menciptakan satu buah karya seni lukis dari sampah plastik. Saat ini gaya lukisannya menjadi daya tarik tersendiri. Lebih lanjut Sigit mengemasnya ke dalam bingkaian elegan, yang akan membuat karya dari sampahnya dapat diminati di pasaran.

Galery lukisnya kerap kali dikunjungi sebagai referensi para pecinta seni lukis di Solo Raya. Mulai dari warga, pelajar, dan mahasiswa. Tentu saja dengan harapan agar mengedukasi tentang pengelolaan sampah yang lebih sehat terhadap keberlangsungan kebersihan lingkungan.


Sumber:

https://www.merdeka.com/jateng/demi-lingkungan-seniman-sukoharjo-sulap-sampah-plastik-jadi-lukisan-menakjubkan.html

Thursday, January 14, 2021

Banyuwangi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Banyuwangi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin 50 MW

Kamis, 14 Jan 2021 19:46 WIB

Tak lama lagi, Indonesia akan resmi mengoperasikan pemanfaatan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Seperti apa penampakannya?

Banyuwangi - Kabupaten Banyuwangi akan memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) alias tenaga angin. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui salah satu anak usahanya, yaitu PT Indonesia power, memilih pembangunan PLTB di Banyuwangi karena menilai potensi angin memenuhi syarat untuk pengembangan PLTB.

Pihak Pemkab Banyuwangi dan PT Indonesia Power telah bertemu untuk mematangkan rencana tersebut secara virtual pada Kamis (14/1/2021). Pertemuan ini merupakan kelanjutan dan rencana PLN mengembangkan PLTB di Banyuwangi yang telah disampaikan sejak 2020, sebelum pandemi datang. Hadir dalam pertemuan tersebut Vice President Project Development 3 PT Indonesia Power Henry Asdayoka Putra dan Manager Business Development 1 Adi Hirlan Effendi, Bupati Abdullah Azwar Anas dan jajarannya.

Henry Asdayoka Putra mengatakan, PLTB yang akan dibangun di Banyuwangi tersebut merupakan bagian dari pengembangan proyek energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

"PLTB ini diharapkann bisa semakin mengurangi penggunaan energi fossil dan emisi karbon monoksida. Ini merupakan program pemerintah untuk mencapai bauran energi listrik yang ramah lingkungan sebesar 23 persen di 2025," ujar Henry.

Henry melanjutkan, pembangunan PLTB akan dimulai pada 2021. PLTB tersebut berkapasitas 50 MW.

"Pengembangan PLTB berskala besar di Banyuwangi ini insyaallah yang pertama di Pulau Jawa. Untuk itu kami meminta dukungan dari Pemkab Banyuwangi agar kami bisa segera memberikan kontribusi bagi Indonesia dan khususnya bagi Banyuwangi," ujar Henry.

"Selain sebagai proyek energi, PLTB ini nantinya juga akan menjadi ikon baru bagi daerah yang bakal mendukung sektor pariwisata," imbuhnya.


Satgas Banyuwangi Susun Kebijakan Baru Cegah Penularan COVID-19

Manager Business Development 1 Adi Hirlan Effendi mengatakan, Banyuwangi dipilih karena memiliki angin yang sangat potensial, khususnya di wilayah Kecamatan Wongsorejo yang memiliki kecepatan angin 6,7 meter/detik.

"Sebelum menentukan lokasi, kami melakukan studi potensi angin di Indonesia. Setelah kami bandingkan hasil dari beberapa daerah, ternyata di Wongsorejo paling potensial kecepatan anginnya," terang Adi.

"Bahkan kecepatan angin rata-rata sementara dari pemasangan alat kami yaitu metmast tower setinggi 120 meter di Wongsorejo menunjukkan angka 8,3 meter/detik. Sangat bagus. Kami melakukan estimasi, apabila satu turbin menghasilkan 4,2 MW, maka dalam setahun PLTB bisa memproduksi listik sebesar 170,3 GWh " imbuhnya.

Sementara itu Bupati Anas menyambut baik rencana pembangunan PLTB tersebut di daerah. "Tadi kami koordinasikan, bahwa selain PLTB, itu nantinya menjadi menjadi pusat edukasi tentang energi baru terbarukan bagi generasi muda, sehingga kesadaran menggunakan energi baru terbarukan semakin tinggi," ujar Anas.

Anas juga menekankan agar PLTB tersebut dikembangkan dengan tidak meninggalkan unsur kearifan lokal yang menjadi identitas daerah.

"Seperti yang telah dilakukan Banyuwangi selama 10 tahu terakhir, setiap pembangunan harus menyertakan unsur kearifan lokal, termasuk dalam arsitekturnya. Ini adalah upaya kami menitipkan peradaban daerah, khususnya budaya lokal, ke dalam perkembangan ekonomi," jelas Anas.


Sumber :

https://finance.detik.com/energi/d-5334428/banyuwangi-bangun-pembangkit-listrik-tenaga-angin-50-mw

Thursday, December 24, 2020

Bioeconomy in the Circular Economy

Bukan Messi, Ronaldo, Neymar! Mathieu Flamini Pesepakbola Terkaya di Bumi

Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Neymar da Silva Santos Junior boleh saja menjadi pesepakbola dengan bayaran terbesar di dunia. Tapi, mereka bukanlah yang terkaya. Predikat itu justru menjadi milik Mathieu Flamini. Kok bisa?

Flamini baru saja pensiun sebagai pemain pada 2019 setelah membela Getafe sepanjang musim 2018/2019. Getafe menjadi klub kelima gelandang berkebangsaan Prancis tersebut sepanjang karier profesional.

Tapi, selama ini orang lebih mengenal Flamini sebagai salah satu legenda Arsenal. Flamini bergabung dengan Arsenal pada 23 Juli 2004. The Gunners membayar Olympique Marseille 480.000 euro dan segera setelahnya menjalani debut pada 15 Agustus 2004 melawan Everton.

Selama bermain untuk The Gunners, Flamini dikenal sebagai tandem sehati Cesc Fabregas di lini tengah. Dia adalah orang yang membuat Gilberto Silva terlempar dari starting line-up. Flamini juga membantu Arsenal menjuarai Piala FA (2004/2005, 2013/2014, 2014/2015), Community Shield (2014), serta runner-up Liga Champions (2005/2006).

"Arsenal ada di hati saya dan mereka (fans) akan ada di hati saya selamanya. Saya akan selalu menjadi penggemar Arsenal dan pergi itu tidak mudah," kata Flamini, dilansir Sky Sports, saat meninggalkan Arsenal menuju AC Milan pada musim panas 2008.

Lima tahun di Milan, Flamini juga menjadi pemain penting di lini tengah. Dia bermain ketika I Rossoneri diperkuat David Beckham dan Filippo Inzaghi. Hasilnya, Flamini membantu Milan mendapatkan Scudetto 2010/2011.

Meski hanya mendapatkan 1 piala, keputusan bermain di Milan mengubah peruntungan Flamini seumur hidup. Di Italia, dia bertemu Pasquale Granata. Bekerjasama dengan University of Pisa, Granata dan Flamini mendirikan GF Biochemicals pada 2008. Nama perusahaan itu diambil dari "Granata" dan "Flamini".

"Saat itu, dia (Pasquale Granata) sudah tertarik dengan masalah perubahan iklim dan kami sangat ingin melakukan sesuatu. Jadi, setelah bertemu dengan seorang ilmuwan, kami bersama-sama mengembangkan bioteknologi ini," kata Flamini ketika berbicara dengan BBC pada 2016.

Apa GF Biochemicals? Itu adalah perusahaan biokimia. Mereka adalah organisasi pertama di dunia yang mampu memproduksi Asam Levulinat secara massal. Asam Levulinat atau yang dikenal sebagai 4-oxopentanoic adalah senyawa organik dengan rumus kimia CH3C(O)CH2CH2CO2H.

Asam Levulinat diklasifikasikan sebagai asam keto. Padatan kristal putih ini larut dalam air dan pelarut organik polar. Ini berasal dari degradasi selulosa dan merupakan prekursor potensial untuk biofuel, seperti etil levulinat. Senyawa ini pertama kali dibuat oleh ahli kimia Belanda, Gerardus Johannes Mulder, dengan memanaskan fruktosa dan asam klorida. Tapi,  Asam Levulinat belum mencapai penggunaan komersial dalam volume yang signifikan.

Produksi komersial pertama Asam Levulinat dimulai oleh A.E. Statey pada 1940-an. Lalu, pada 1953, Quaker Oats mengembangkan proses berkelanjutan untuk produksi Asam Levulinat. Selanjutnya, pada 1956 diidentifikasi sebagai bahan kimia platform dengan potensi tinggi. Kemudian, pada 2004 Departemen Energi AS (US DoE) mengidentifikasi Asam Levulinat sebagai salah satu dari 12 bahan kimia platform potensial dalam konsep biorefinery.

Banyak konsep untuk produksi Asam Levulinat secara komersial didasarkan pada teknologi asam kuat. Proses dilakukan secara terus menerus pada tekanan dan suhu tinggi.

Lignoselulosa adalah bahan awal yang murah. Asam levulinat dipisahkan dari katalis asam mineral dengan ekstraksi. Asam levulinat dimurnikan dengan destilasi. GF Biochemicals memulai produksi komersial Asam Levulinat pada 2015 dengan skala produksi 2.000 MT/a di Caserta, Italia.

Asam Levulinat digunakan sebagai prekursor untuk obat-obatan, plasticizer, dan berbagai zat aditif lainnya. Asam Levulinat juga digunakan di industri kosmetik dan parfum. Senyawa ini juga mulai banyak digunakan di industri rokok untuk mengurangi kadang nikotin dalam tembakau.

Dengan Asam Levulinat, industri akan semakin ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Sehingga, pada 2017, GF Biochemicals mengumumkan membangun penyulingan bioteknologi selulosa di AS, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi lokal, American Process.

"Ini akan membantu mengurangi pencemaran udara. Asam ini memiliki potensi kuat karena bereaksi persis seperti minyak bumi, yang berarti dapat menggantikan bahan bakar minyak," ucap Flamini.

Flamini juga merupakan bagian dari tim yang menciptakan BIOCIRCE (Bioeconomy in the Circular economy). Itu gelar master pertama di Eropa yang didedikasikan untuk mempromosikan pendidikan bioekonomi. Ini diluncurkan bekerja sama dengan salah satu bank di Italia, Intesa Sanpaolo, Novamont (produsen bioplastik), dan University of Napoli

Selain itu, Flamini juga ikut mendirikan The BioJournal. Itu adalah majalah digital pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya untuk dunia bioteknologi dan kelestarian lingkungan, yang dikelola oleh jurnalis lingkungan Italia, Mario Bonaccorso.

"Saya sangat beruntung. Untuk operasi sehari-hari kami memiliki tim yang sangat kuat di lapangan yang berasal dari perusahaan kimia yang sangat besar. Kami punya 80 pegawai yang langsung bekerja untuk kami dan 400 lainnya terkait dengan perusahaan kami. Saya lebih fokus pada strategi perusahaan," ungkap Flamini.

Lalu, berapa keuntungan Flamini dan perusahaannya? Analis menyebut angka 20 miliar pounds! Bahkan, ada yang menyatakan Flamini dan partnernya seperti Mark Zuckerberg, Jack Ma, atau Bill Gates di dunia bioteknologi.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Mathieu Flamini adalah USD 14 miliar atau sekitar Rp 198,7 triliun. Wow.

"Saya ingin memperjelas kepada anda bahwa prioritas saya adalah sepakbola. Saya ingin dikenal sebagai pesepakbola karena itu cita-cita saya sejak kecil. Tapi, seperti yang bisa anda bayangkan, seorang pemain sepakbola boleh memiliki minat lain di luar lapangan bukan? Dan, minat saya adalah bioekonomi," pungkas pria kelahiran Marseille, 7 Maret 1984, itu.


Sumber :

https://www.libero.id/detail/3364/bukan-messi-ronaldo-neymar-mathieu-flamini-pesepakbola-terkaya-di-bumi.html

https://www.bioeconomy.fi/bioeconomy-more-than-circular-economy/

Tuesday, November 17, 2020

Sustainable Lifestyle

Cara Mudah Praktikkan Gaya Hidup Berkelanjutan

12 Nov 2019

Gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) belakangan marak dikampanyekan di Indonesia. Dengan berkembangnya media sosial serta banyaknya informasi mengenai lingkungan, masyarakat pun mulai mengenal dan peduli dengan gaya hidup tersebut.

Gaya hidup berkelanjutan artinya melakukan aktivitas dengan tetap melindungi bumi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan masak yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik, serta meminimalisir sisa makanan.

Gaya hidup berkelanjutan sangat penting dilakukan demi terjaganya bumi ini. Bumi memiliki sumber daya alam yang dapat diperbarui dan ada pula yang tidak dapat diperbarui. Dalam hal ini, menurut Denia Isetianti selaku pendiri Cleanomic, sustainable lifestyle adalah cara-cara mengonsumsi dan menggunakan sumber daya alam dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.

"Kita semua punya kebutuhan, tetapi kita harus ingat bahwa anak cucu kita juga memiliki kebutuhan di masa mendatang. Kita harus mencari cara agar sumber daya alam itu bisa kita kelola dengan baik, supaya generasi mendatang bisa menikmatinya,” jelasnya, ketika mengisi Inspiration Talk, dalam acara Healthy Food Festival, yang diadakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad.

Masyarakat Indonesia berada di lingkungan yang kurang mendukung dalam penerapan Sustainable lifestyle. Namun, dalam  acara yang diadakan oleh lima badan PBB, yaitu FAO, WFP, WHO, UNICEF, dan UNFPA, bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Pemerintah DKI Jakarta tersebut, Rachel Olsen, seorang ahli gizi, memberikan tip untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

Menurut Rachel, sustainable lifestyle bisa dimulai dengan mengonsumsi makanan yang tidak banyak menghasilkan sampah. Membiasakan membawa bekal berupa makanan buatan sendiri dari rumah, menurutnya, merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan.

Rachel tidak setiap membawa bekal, namun ketika jajan, ia berusaha agar tidak menggunakan banyak plastik. Andaikan belanja beberapa jenis makanan, ia memasukkannya di satu plastik.

"Nggak usah minta sendok atau garpu, pinjam yang ada di kantor," kata Rachel seraya merekomendasikan untuk membawa tas sendiri ketika belanja.

Lebih lanjut, Denia mengingatkan bahwa Indonesia menghasilkan 178 juta ton sampah setiap tahunnya. Sebanyak 60 persen sampah yang tertumpuk di tempat pembuangan akhir adalah sampah organik.

Menurut Denia, sampah organik ini bisa menambah masalah karena jumlahnya terlalu banyak di TPA dan menyebabkan gas rumah kaca. Efek dari hal tersebut adalah meningkatnya suhu panas di bumi.

Sampah anorganik, seperti plastik, sebenarnya memiliki potensi untuk didaur ulang. Namun, jika bercampur dengan sampah organik, sampah anorganik berisiko tidak dapat didaur ulang.

Denia pun mengajak masyarakat memilah sampah agar sisa makanan atau sampah organik lainnya tak bercampur dengan sampah anorganik. Ia menjelaskan, sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos.

"Gampang banget, cuma butuh ember kecil dan sekam bakar," ujarnya.

Untuk membuat kompos, menurut Denia, sampah makanan cukup diletakkan di dalam ember lalu masukkan sekam bakar di atasnya. Setelah itu, letakkan daun-daun kering atau tanah.

"Tutup embernya, tetapi jangan terlalu lama," kata Denia.

Seminggu sekali bahan kompos perlu diaduk. Setelah itu, masukan lagi sekam bakarnya.

"Itu dalam waktu dua pekan sudah jadi pupuk organik yang bisa kalian kasih ke orang yang suka bercocok tanam,” jelasnya.


Sumber :

https://republika.co.id/berita/q0urfs414/cara-mudah-praktikkan-gaya-hidup-berkelanjutan

Thursday, November 12, 2020

Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah

Pemerintah Perkuat Pengelolaan Sampah Guna Dukung Circular Economy

12 Nov 2020, 17:30 WIB

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan regulasi yang mendukung pengelolaan sampah di Tanah Air. Hal ini tentunya membuktikan keseriusan pemerintah dalam pengelolaan sampah untuk mendukung Circular Economy.

Pada 2019, sampah rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 62 persen dengan sampah makanan di dalamnya sebesar 44 persen, sedangkan sampah plastik memberikan kontribusi sebesar 15 persen. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melakukan pendekatan dalam pengelolaan sampah melalui 3 program, yakni program minim sampah (less waste), circular economy dan pelayanan dan teknologi.

“Persoalan persampahan dapat diselesaikan dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh dengan baik,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis (12/11/2020). Artinya, sampah bisa dimanfaatkan kembali menjadi uang dan energi.

Sebagai negara berkembang, konsep Circular Economy adalah pemikiran yang paling ideal, karena Indonesia masih sangat membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebagai negara yang sedang menuju negara maju. Dijelaskan dalam Circular Economy, bahwa di dalamnya terdapat ekosistem, diantaranya end user, recycling industry, bank sampah, TPS 3R, PKPS (Primer Koperasi Pengelolaan Sampah), recycling center, sektor informal, social enterpreneur dan social movement.

Menurut Alue Dohong, untuk menjalankan Circular Economy, diperlukan kondisi yang mendukung, diantaranya adalah insentif fiskal, kebijakan import scrap, kebijakan EPR (extended producer responsibility) dan standarisasi produk daur ulang, sertua diikuti dengan kebijakan mendorong penggunaan recycling content.

Di Indonesia, industri plastik hilir nasional terdiri dari sekitar 1.580 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Terdapat 892 perusahaan yang memproduksi kemasan, dengan total kebutuhan mencapai 5,635 juta ton. Potensi konsumsi plastik di Indonesia cukup besar, didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman yang cukup tinggi yaitu sebesaar 10 persen per tahun.

Pengembangan industri plastik masih terkendala dengan pemenuhan bahan baku. Ketergantungan bahan baku plastik impor masih tinggi karena produsen dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi produk.


Perubahan Budaya

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menilai, telah terjadi perubahan budaya, dari kearifan lokal menjadi modern, yang menempatkan plastik menjadi kebutuhan pokok. Sayangnya, pembuangan sampah plastik tidak dilakukan dengan baik, sehingga berakhir di sungai dan di gurun.

Di Indonesia belum ada standarisasi pengelolaan sampah, demikian pula dengan kebijakan insentif. Dana bagi hasil desa, menurut Dedi, bisa diambil sebagai salah satu kebijakan untuk pengelolaan sampah. Dedi juga memuji peran para pemulung yang dinilai berjasa bagi pengelolaan sampah, namun masih dianggap sebagai masyarakat marginal. Dedi menyarankan agar para pemulung diberi status formal sebagai tenaga harian lepas oleh pemerintah daerah.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4406886/pemerintah-perkuat-pengelolaan-sampah-guna-dukung-circular-economy

Circular Economy Pengolahan Limbah Elektronik

Pengolahan Limbah Elektronik Perlu Didorong Untuk Circular Economy

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Pengolahan limbah elektronik dinilai perlu dikembangkan untuk mendorong industri elektronik yang menjadi salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pengolahan limbah pun sejalan dengan langkah pengembangan circular economy.

Berdasarkan data organisasi StEP Initiative, diperkirakan perangkat elektronik yang beredar di pasar Indonesia pada 2012 diperkirakan mencapai 1.361.000 ton. Dalam kurun dua tahun, tercatat bahwa perangkat yang masih digunakan berkisar 616.000 ton.

Sisa 745 kilo ton atau 54,73% perangkat elektronik berubah menjadi limbah elektronik. Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia Gufron Mahmud menjelaskan bahwa limbah perangkat elektronik dapat berbahaya apabila tidak diolah dengan benar.

Menurut Gufron, pengelolaan limbah yang buruk dapat membahayakan manusia dan berdampak pada lingkungan. Selain itu, dampaknya pun bisa berlangsung lama dan memengaruhi generasi-generasi selanjutnya.

"Data pada 2015 menunjukkan limbah TV sekitar 106.000 ton dan yang terolah baru sekitar 74.000 ton, limbah PC [komputer] 24 ribu ton yang terolah sekitar 17.000 ton, [jumlah yang diolah] harus ditingkatkan. Berdasarkan data ITU jumlah limbah elektronik global pun meningkat," ujar Gufron pada Kamis (21/02/2019).

Gufron merujuk pada data International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations University (UNU), di mana terjadi peningkatan limbah elektronik sebanyak 3,3 juta metrik ton dalam dua tahun. Pada 2014 jumlahnya sebesar 41,4 juta metrik ton dan meningkat menjadi 44,7 juta metrik ton pada 2016.

Peningkatan jumlah limbah elektronik menurut Gufron perlu diatasi dengan peningkatan serapan dan pengolahan limbah tersebut. Selain pemahaman masyarakat dalam memperlakukan sampah dan limbah elektronik, peran pemerintah dalam mengembangkan industri pengolahan limbah pun dinilai penitng.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menuturkan pihaknya terus mendorong investasi di sektor industri pengolahan limbah.

Menurutnya, kebutuhan investasi sektor limbah industri merupakan salah satu dari agenda prioritas yang dipilih untuk mengimplementasikan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Pengolahan limbah tersebut kemudian tidak hanya mencakup sektor prioritas pengembangan industri 4.0, tetapi mencakup seluruh industri.

"Salah satu langkah strategis di dalam 10 agenda prioritas roadmap tersebut, yakni mengakomodasi standar-standar keberlanjutan," ujar Ngakan.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/257/891881/pengolahan-limbah-elektronik-perlu-didorong-untuk-circular-economy

Sumber foto :

https://www.britannica.com/explore/savingearth/electronic-waste

Friday, October 2, 2020

Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi

Forum Energizing Indonesia: Ketahanan Energi Indonesia Butuh Riset dan Inovasi soal EBT

Mar 5, 2020

Bambang Brodjonegoro, Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional

Keberlanjutan (sustainability) merupakan salah satu kunci dari ketahanan energi nasional. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Forum Energizing Indonesia (FEI) mengambil tema "Sustainable Energy for Indonesia" untuk seminar nasional ke-9 yang dihelat di Hotel Grand Sahid, pada 4 Maret 2020. Acara tersebut terselenggara atas kerja sama antara FEI dan PGD UI 2020.

FEI sendiri merupakan wadah diskusi tentang isu energi dan hasil diskusi kerap kali dijadikan masukan bagi pemerintah. Forum ini dibentuk oleh Ikatan Alumni Departemen Teknik Gas Petro Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI DTGPK FT UI).  

Diskusi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa peranan energi baru dan terbarukan (EBT) sangat penting untuk ketahanan energi Indonesia di masa depan. Hanya saja, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan di mana renewable energy belum berbanding lurus dengan affordable energy.

"Tantangannya bukan hanya mencari sumber energi, tetapi setelah sumber ketemu, pertanyaan selanjutnya adalah bisakah yang renewable tadi menjadi affordable. Jadi kita bicara efisiensi dari pemakaian energi itu sendiri," terang Bambang saat menjadi pembicara di Seminar FEI, 4 Maret 2020 di Jakarta.

Di tengah tren produksi minyak dan gas bumi yang semakin menurun, Indonesia sebetulnya masih memiliki potensi yang besar pada energi baru dan terbarukan. Sebagai contoh, Bambang menyebut bahwa potensi energi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Ia pun menyarankan agar riset EBT di Indonesia difokuskan pada panas bumi dan bio energi.

"Bio energi ini sesuatu yang agak dilupakan padahal potensinya luar biasa," ungkapnya.

Dalam sesi diskusi panel I, para panelis yang hadir menekankan bahwa Indonesia telah berupaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan memaksimalkan EBT. Ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia yang menargetkan penggunaan EBT sebesar 23% dari total energi yang dibutuhkan pada 2025 dan 31% di tahun 2030.

Salah satu upaya tersebut adalah penggunaan bahan bakar biodiesel atau biofuel. Bentuk konkretnya di Indonesia adalah implementasi B20 dan B30. Kedua bahan bakar ini dibuat dengan mencampurkan minyak nabati yang berasal dari minyak sawit (CPO) yang sudah ditambah katalisator dengan bahan bakar solar.

Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), pemakaian biodiesel selain dapat mempertahankan ketahanan energi, juga bahan bakunya masih potensial di Indonesia.

"Sampai dengan tahun 2030, saya tidak khawatir dengan bahan baku (feedstock) dari kelapa sawit," ungkapnya.

Pemanfaatan CPO menjadi biodiesel juga memiliki multiplier efect yakni meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan menciptakan lapangan kerja.

Energi fosil memang masih berperan penting dalam ketahanan energi indonesia di masa datang. Riset dan inovasi tentang EBT bukan semata-mata untuk menggantikan penggunaan fosil. Akan tetapi, setidaknya Indonesia akan siap jika sewaktu-waktu energi tak terbaharukan tersebut semakin sulit ditemukan.


Sumber :

https://upperline.id/post/forum-energizing-indonesia-ketahanan-energi-indonesia-butuh-riset-dan-inovasi-soal-ebt

Tuesday, September 29, 2020

Archisen a Future High-tech Farming

High tech farming means high collaboration—here's why

Published on 3 Jul 2020

In resource-scarce cities like Singapore, it has become increasingly salient to find new ways to grow food within an urban landscape. A new breed of urban farms like Archisen are envisioning a future built on high-tech farming, which will enable farmers to grow food indoors – in office buildings, for instance.

“Real estate is very much at a premium here, and we don't have the luxury of land to conduct agriculture like other cities,” explains founder Sven Yeo. “So Singapore has to look into urban farming to maintain food security.”

By using technology such as climate control and data analytics, Archisen can grow lettuce, basil and other crops indoors using vertical systems. Various aspects of the plants’ growth and environment are carefully monitored and controlled, for fresher and more nutritious produce. “The result is improved productivity, higher crop quality and a reduction of labour,” adds Mr Yeo. Fresh produce grown at Archisen’s urban farm are currently sold online, under the brand Just Produce, in a variety of salad boxes which include crops such as lettuce, kale, sorrel and more.

Archisen’s vision is in line with plans for a new Agri-Food Innovation Park (AFIP) in Sungei Kadut, which will be rejuvenated into an eco-district that encourages the growth of budding industries such as agri-tech. At AFIP, agri-tech companies can gather to share resources, and collaborate on research and development to innovate new ways to produce food.

Sharing of services between these companies could be a gamechanger, especially in areas where it “doesn’t make sense for individual farms to invest in”, says Mr Yeo. “For instance, many farms here don’t have their own seed supply and have to purchase these from overseas suppliers. The process can be expensive because you need to buy a certificate to show that shipments are free from harmful pests and plant diseases. By pooling together funds and buying in bulk, firms could lower such costs.”

Additionally, he sees the potential for more collaboration between urban farms in Singapore. To date, collaboration has been minimal as the systems and processes used by various farms are not necessarily compatible.

But by being part of a larger ecosystem such as Sungei Kadut, farms could more easily share resources and services, such as diagnostic capabilities. At present, Mr Yeo notes that many farms are unequipped with the expertise to diagnose crop infestation problems or look into the nutritional profile of their produce. Diagnostic lab services to investigate such issues may also be too expensive for a single farm. However, such services are financially sustainable if shared by various farms.

Another possible synergy is coordinating key activities such as transportation to save costs. “For example, one farmer is growing microgreens and the other leafy greens, they share a common customer and are not direct competitors. Therefore, they could aggregate their produce and simplify logistics.”

Archisen itself has much to bring to the table when the eco-district comes to fruition. Aside from farming, the firm offers solutions in the fields of engineering and science.

For instance, the team employs skilled mechanical, electrical and automation engineers. These engineers look at factors like structure, ergonomics, ventilation and ways to maximise energy usage, to ensure that farms operate efficiently.

Archisen has also established numerous partnerships with local and overseas partners to further research & development (R&D).

One such partnership was a recent data science study with A*STAR that explored yield predictions of indoor farms. The team also engages biologists to study the physiology of the plants themselves.

“Food science is important to us too − we look at ways to increase the shelf life of our products and reduce food contamination,” adds Mr Yeo. “Our goal is to maintain the freshness of food for as long as possible, because it eventually goes to the food supply chain.”

Archisen is also exploring the idea of growing fruit crops in addition to its salad varieties. The project is currently in its research phase, and Mr Yeo admits that there are numerous technical challenges to consider.

As plants take months to produce fruit, longer experimentation periods are needed to determine if a particular climate setting is viable for crop growth. “Once the R&D improves and we’re confident that growth is viable, we will be able to launch the product,” he says.

All these efforts point back to Archisen’s main mission. “Beyond demonstrating that a farm is profitable, we’re demonstrating that it can be investable,” says Mr Yeo. He stresses that Archisen isn't merely investing in technology and research for academic purposes, but aims to create a commercially viable farming business in the long run.

“We’re striving to establish the largest network of urban farms in Asia, and we need to have an attractive value proposition to prospective partners and investors to work with us,” he says. “Then we’ll be able to build more farms to address Singapore's food security concerns.”


Sumber :

https://estates.jtc.gov.sg/sked/stories/high-tech-farming-means-high-collaboration-heres-why

Sumber video :

https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/695146784430522/UzpfSTExNDI4MDY1MDM2MTQ5OToxNzU0ODYyODQyNDA5MzU/

Monday, September 28, 2020

Kurangi Sampah Plastik

Kebijakan Pemerintah Kurangi Sampah Plastik Dapat Dukungan dari Perusahaan Manufaktur 

Penumpukan sampah plastik masih menjadi isu yang susah dipecahkan di Indonesia. Bila tidak segera diselesaikan, masalah tersebut dapat mengancam kelestarian lingkungan. Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. 

Dari angka tersebut, sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Masalah ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.75 Tahun 2019 mengenai Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen pun diterbitkan sebagai salah satu upaya pengurangan sampah plastik. 

Melansir Kontan.co.id, Rabu (1/7/2020), Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati berharap peraturan tersebut dapat mendorong upaya pengurangan sampah oleh produsen. 

Beleid tersebut mengatur kemasan produk yang dikeluarkan produsen. Kemasan yang dimaksud nantinya harus memenuhi standar dapat didaur ulang atau dikomposkan. Setelah itu, perusahaan diharapkan dapat membentuk sistem penarikan kembali kemasan untuk didaur ulang sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular. 

Kata Rosa, aturan tersebut bukan hanya untuk kantong plastik, melainkan seluruh kemasan plastik sekali pakai lainnya. “Ada tiga jenis produsen yang diwajibkan mengubah kemasan produk dalam peraturan ini, yaitu manufaktur, ritel, serta jasa makanan dan minuman,” jelas Rosa. 

Langkah nyata kurangi sampah plastik Pada dasarnya, segala upaya pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tak akan menemui jalan keluar jika dikerjakan sendiri. Sesuai dengan Permen LHK tadi, pihak swasta perlu ikut berkontribusi, terutama dalam kemasan maupun hal lain terkait produk. 

Kini, salah satu pihak swasta yang sudah berinisiatif mengurangi penggunaan plastik dalam produknya adalah PT Bridgestone Tire Indonesia (Bridgestone Indonesia). 

Sebagai dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam mengurangi sampah pada 2025 seperti yang diatur pada Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, produsen ban asal Negeri Sakura itu mengambil langkah nyata. 

Pada awal September 2020, Bridgestone memperkenalkan label ban baru dengan tampilan yang lebih ringkas dan menarik. Ukuran label tersebut dibuat 40 persen lebih kecil dibandingkan label sebelumnya. Hal ini membuat penggunaan plastik berkurang. 

“Mengingat penggunaan label ban masih diharuskan di pasar Indonesia, kami memaksimalkannya dengan membuat desain yang lebih ringkas dan menarik,” ujar Presiden Direktur Bridgestone Indonesia Mukiat Sutikno dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (9/9/2020). 

Mukiat menjelaskan, ukuran label baru itu merupakan dukungan perusahaan yang menaunginya terhadap program pemerintah mengurangi jumlah sampah plastik. 

Meski ukurannya lebih kecil, Mukiat menambahkan, label yang terdapat pada setiap ban memuat informasi terkait produk ban, informasi produsen, pemenuhan standar dan sertifikasi yang diperlukan, serta petunjuk penggunaan. Selain ukuran, Bridgestone juga memberi sentuhan terhadap label barunya dengan menambahkan QR code untuk mengakses fitur produk dan informasi produk penting lainnya. 

Menurut Mukiat, jika dihitung berdasarkan angka penjualan rata-rata tahunan ban Bridgestone di Indonesia, pengurangan ukuran label ban ini diperkirakan dapat membantu mengurangi sampah plastik sebesar 7 ton setiap tahunnya. 

“Inisiatif ini tentunya sejalan dengan misi CSR Global Bridgestone yaitu ‘Our Way to Serve’,” ujar Mukiat. Baca juga: INFOGRAFIK: Selain Dibakar, 4 Cara Kelola Sampah Plastik Misi itu, sambung Mukiat, merupakan refleksi dari fisolofi perusahaan yang ingin berkontribusi besar bagi masyarakat dengan memperhatikan dampak jangka panjang. 

Mereka mengistilahkannya dengan "Serving Society with Superior Quality". Dengan komitmen itu, Bridgestone tak hanya memastikan dapat menyediakan produk terbaik, tapi juga memastikan lingkungan yang sehat bagi generasi kini dan mendatang.


Sumber :

https://money.kompas.com/read/2020/09/18/111900226/kebijakan-pemerintah-kurangi-sampah-plastik-dapat-dukungan-dari-perusahaan?utm_source=nativeinarticle&utm_medium=desktop.