Pages

Showing posts with label Blue Economy. Show all posts
Showing posts with label Blue Economy. Show all posts

Monday, February 12, 2024

Perbedaan Antara Blue Economy dan Green Economy

Menyelami Blue Economy dan Green Economy: Perspektif yang Berbeda Menuju Keberlanjutan

Dalam upaya menjaga keberlanjutan planet kita, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy telah muncul sebagai pandangan yang menjanjikan untuk mengarahkan ekonomi menuju jalan yang lebih berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang lebih bijaksana, mereka memiliki pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan ini.

Pada era ketidakpastian lingkungan dan ketegangan sumber daya alam global saat ini, konsep-konsep seperti blue economy dan green economy muncul sebagai alternatif yang menarik untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Kedua konsep ini memiliki fokus yang serupa, yaitu menjaga keberlanjutan lingkungan, namun, mereka beroperasi di bidang yang berbeda dan mempromosikan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka.


Apa Itu Blue Economy?.

Blue economy merujuk pada pemanfaatan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Konsep ini mendorong pengembangan ekonomi yang memperhatikan lingkungan, termasuk pengembangan pariwisata laut, energi terbarukan seperti energi angin laut dan energi ombak, akvakultur yang berkelanjutan, serta penelitian dan inovasi dalam ilmu kelautan dan perikanan. Pendekatan blue economy mempertimbangkan potensi ekonomi sumber daya laut sambil memperhatikan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.

Blue Economy: Memanfaatkan Kekayaan Laut.

Blue economy menyoroti pentingnya pengelolaan yang bijaksana terhadap sumber daya laut dan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam konteks blue economy, lautan dan pesisir dipandang sebagai sumber daya yang kaya akan potensi ekonomi, seperti pariwisata laut yang berkelanjutan, energi terbarukan dari ombak dan angin laut, serta pengembangan akvakultur yang ramah lingkungan. Pendekatan blue economy menekankan pentingnya memperhatikan keberlanjutan lingkungan dalam mengembangkan ekonomi laut, menjadikannya sebagai pendorong utama dalam mengelola lautan dan pesisir secara efisien.


Apa Itu Green Economy?.

Di sisi lain, green economy menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy berfokus pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon, ramah lingkungan, dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup berbagai sektor, seperti energi terbarukan (seperti tenaga surya dan angin), pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Tujuan utama green economy adalah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sambil meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Green Economy: Merangkul Keseluruhan Sumber Daya Alam.

Di sisi lain, green economy merangkul konsep keberlanjutan di seluruh sektor ekonomi, bukan hanya terbatas pada sumber daya laut. Green economy menempatkan fokusnya pada transisi menuju ekonomi yang rendah karbon dan berkelanjutan secara ekologis. Ini mencakup pengembangan energi terbarukan, pertanian organik, transportasi yang ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah dan daur ulang. Dalam visi green economy, semua sektor ekonomi harus beroperasi dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perbedaan Utama Antara Blue Economy dan Green Economy.

Perbedaan utama antara blue economy dan green economy terletak pada pendekatan dan fokus mereka. Blue economy lebih khusus dalam mengeksplorasi potensi ekonomi sumber daya laut, sementara green economy mencakup semua aspek ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan. Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan melindungi lingkungan, blue economy lebih menekankan pada sumber daya laut sebagai pendorong utama, sementara green economy melihat seluruh spektrum sumber daya alam.

Bidang Fokus: Blue economy menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir, sementara green economy lebih luas, mencakup semua sektor ekonomi yang berpotensi untuk beroperasi secara berkelanjutan.

Sumber Daya yang Dimanfaatkan: Blue economy secara khusus mengeksplorasi potensi sumber daya laut, seperti energi laut, pariwisata, dan akvakultur, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara keseluruhan, termasuk energi, pertanian, dan transportasi.

Pendekatan Terhadap Ekonomi: Blue economy lebih bersifat spesifik terhadap sumber daya laut dan mencoba menggabungkan kebutuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan di sektor ini. Sementara itu, green economy mencoba untuk mengubah seluruh ekonomi secara keseluruhan untuk menjadi lebih ramah lingkungan.

Pengaruh Terhadap Kesejahteraan Manusia: Keduanya memiliki tujuan yang serupa dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi blue economy lebih fokus pada potensi ekonomi sumber daya laut dalam meningkatkan kesejahteraan, sementara green economy mencakup sumber daya alam secara lebih luas untuk mencapai tujuan yang sama.

Melihat Masa Depan Keberlanjutan.

Meskipun blue economy dan green economy memiliki perbedaan dalam pendekatan dan fokusnya, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan kita menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dalam menghadapi tantangan lingkungan global saat ini, baik blue economy maupun green economy menawarkan pandangan yang optimis dan konstruktif untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan ekonomi kita, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, sementara blue economy dan green economy berbagi tujuan utama untuk mempromosikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia, mereka berbeda dalam fokusnya dan cara mereka berupaya mencapai tujuan tersebut. Meskipun terdapat perbedaan, keduanya memiliki peran yang penting dalam mengarahkan masyarakat menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.



Saturday, February 10, 2024

Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Blue economy dan green economy adalah dua konsep yang berbeda tetapi saling terkait dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Berikut adalah perbedaan antara keduanya:


Blue Economy:

Blue economy berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan secara berkelanjutan.

Fokus utamanya adalah pada ekonomi yang berkembang di sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan (seperti energi pasang surut dan energi gelombang), transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut.

Pendekatan blue economy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi laut dan memanfaatkan sumber daya laut secara bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut dan kelautan.


Green Economy:

Green economy lebih umum dan melibatkan transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.

Fokusnya lebih luas daripada blue economy dan mencakup semua sektor ekonomi, termasuk pertanian, industri, energi, transportasi, dan lainnya.

Green economy bertujuan untuk mengurangi jejak karbon, membatasi polusi, meningkatkan efisiensi sumber daya, mempromosikan penggunaan energi terbarukan, dan menghasilkan produk dan layanan dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Meskipun berbeda dalam fokusnya, blue economy dan green economy sebenarnya saling melengkapi. Blue economy merupakan bagian dari konsep green economy yang lebih luas, karena upaya untuk memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan merupakan salah satu aspek dari upaya umum untuk mencapai pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan.


Mengungkap Potensi dan Tantangan Menuju Blue Economy dan Green Economy

Dalam upaya untuk mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia, muncul dua konsep yang semakin mendapatkan perhatian: blue economy dan green economy. Kedua konsep ini menawarkan pandangan yang berbeda namun komplementer terhadap bagaimana manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Mari kita telusuri lebih dalam apa itu blue economy dan green economy, serta bagaimana keduanya dapat menjadi solusi bagi tantangan lingkungan dan ekonomi global.


Blue Economy: Mengoptimalkan Sumber Daya Laut dan Kelautan

Blue economy adalah konsep yang muncul sebagai respons terhadap perlunya pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Mengingat bahwa lebih dari 70% permukaan Bumi terdiri dari lautan, potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya sangat besar. Blue economy fokus pada pemanfaatan sumber daya laut dan kelautan dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem laut dan dampak sosialnya. Sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata laut, energi terbarukan, transportasi laut, pengelolaan pesisir, dan industri bioteknologi laut menjadi fokus utama dalam konsep ini.


Salah satu aspek kunci dari blue economy adalah penekanan pada pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap sumber daya laut. Ini termasuk praktek-praktek seperti penangkapan ikan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi hijau dalam industri kelautan, pengembangan taman laut dan kawasan konservasi, serta penelitian untuk memahami dan memelihara keanekaragaman hayati laut. Blue economy menawarkan peluang ekonomi yang besar bagi negara-negara yang memiliki akses ke perairan laut, sementara juga mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang dari sumber daya tersebut.


Green Economy: Meningkatkan Efisiensi Sumber Daya secara Luas

Green economy, di sisi lain, adalah konsep yang lebih luas yang mencakup transisi ke model ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara keseluruhan. Fokus utamanya adalah pada pengurangan emisi karbon, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penggunaan teknologi yang lebih bersahabat lingkungan di semua sektor ekonomi. Ini mencakup industri, pertanian, transportasi, energi, dan banyak lagi.

Dalam green economy, upaya ditekankan pada pengembangan dan penerapan teknologi terbarukan, seperti energi surya, angin, dan hidro, serta penggunaan bahan baku yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan. Selain itu, prinsip-prinsip green economy juga mencakup pengurangan limbah, promosi pertanian organik, transportasi publik yang lebih efisien, dan desain produk yang lebih ramah lingkungan.


Kesimpulan: Menuju Keseimbangan Antara Ekonomi dan Lingkungan

Blue economy dan green economy, meskipun berbeda dalam fokus dan aplikasi praktisnya, sebenarnya saling melengkapi dalam upaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Blue economy menawarkan pendekatan khusus terhadap pemanfaatan sumber daya laut, sementara green economy menyediakan kerangka kerja yang lebih luas untuk mengoptimalkan efisiensi sumber daya secara keseluruhan.

Bagaimanapun, tantangan yang dihadapi kedua konsep ini tidak bisa diabaikan. Diperlukan kerjasama global, regulasi yang efektif, investasi dalam teknologi hijau, dan perubahan perilaku konsumen untuk mewujudkan potensi penuh dari blue economy dan green economy. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan dunia di mana pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertentangan dengan kesejahteraan lingkungan, tetapi sebaliknya, mendukungnya untuk generasi-generasi yang akan datang.

Solusi Blue Economy untuk Menanggapi Tantangan Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21 ini. Dampaknya yang merusak lingkungan, seperti kenaikan suhu global, naiknya permukaan air laut, dan cuaca ekstrem, semakin menjadi-jadi. 

Dalam menghadapi tantangan ini, Blue Economy atau Ekonomi Biru muncul sebagai salah satu solusi yang menjanjikan untuk memperbaiki kondisi lingkungan laut dan menanggapi perubahan iklim secara efektif.

Apa Itu Blue Economy?

Blue Economy merujuk pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan keberlanjutan. Konsep ini menekankan pentingnya melindungi dan memelihara kekayaan ekosistem laut dan pesisir, sambil memanfaatkannya secara bijaksana untuk kesejahteraan manusia. 

Blue Economy berusaha untuk memperkuat keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan memprioritaskan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.


Peran Blue Economy dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Pengembangan Energi Terbarukan: 

Salah satu cara utama Blue Economy menanggapi perubahan iklim adalah dengan mengembangkan energi terbarukan di laut, seperti energi ombak, energi angin laut, dan energi pasang surut. 

Dengan memanfaatkan sumber daya energi yang tak terbatas dari laut, Blue Economy membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi gas rumah kaca.


Pengelolaan Perikanan yang Berkelanjutan: 

Blue Economy mendorong praktik perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang membantu dalam mempertahankan ekosistem laut yang sehat. Dengan mengurangi tekanan penangkapan ikan berlebihan, Blue Economy membantu menjaga populasi ikan tetap stabil dan mengurangi risiko kerusakan pada rantai makanan laut.


Pengembangan Infrastruktur Hijau di Pesisir: 

Blue Economy juga berfokus pada pembangunan infrastruktur hijau di wilayah pesisir, seperti mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. Infrastruktur ini tidak hanya berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies laut, tetapi juga sebagai penyerap karbon yang efektif, membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan meredam dampak perubahan iklim, seperti banjir dan erosi pantai.


Pariwisata Ramah Lingkungan: 

Sebagai bagian dari Blue Economy, pariwisata laut juga dikelola dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Dengan mendorong pariwisata ramah lingkungan yang menghargai keanekaragaman hayati laut dan mendukung konservasi, Blue Economy membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut yang rentan terhadap perubahan iklim.


Tantangan dan Proyeksi ke Depan

Meskipun Blue Economy menawarkan solusi yang menjanjikan dalam mengatasi tantangan perubahan iklim, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Perubahan iklim yang sudah terjadi dapat mempengaruhi keberlanjutan dan efektivitas implementasi strategi Blue Economy. 

Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor dan lintas negara untuk mengimplementasikan solusi Blue Economy secara holistik. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa Blue Economy memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak dalam menanggapi perubahan iklim. 

Dengan terus mengembangkan inovasi teknologi, kebijakan yang mendukung, dan kesadaran masyarakat yang meningkat, Blue Economy memiliki kesempatan untuk memainkan peran penting dalam merestorasi keseimbangan lingkungan laut dan melindungi planet kita dari dampak perubahan iklim yang semakin parah.


Kesimpulan

Blue Economy bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif, serta pemeliharaan ekosistem laut yang penting bagi kehidupan di Bumi. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Blue Economy menawarkan solusi yang berkelanjutan dan efektif dengan memanfaatkan potensi besar sumber daya laut untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan. 

Dengan kolaborasi dan komitmen yang kuat, Blue Economy dapat menjadi pendorong utama dalam menjaga keberlanjutan planet kita untuk generasi yang akan datang.

Friday, February 9, 2024

Memerangi Sampah Plastik dengan Strategi Blue Economy

Tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, Revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19. Perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen. 

Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang. Hal ini menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy. 

Blue economy tidak sama persis dengan green economy atau ekonomi hijau. Bila green economy fokus pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan diiringi dengan penurunan risiko kerusakan lingkungan, sedangkan blue economy lebih difokuskan pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di sektor kelautan.

Blue economy didefinisikan sebagai suatu konsep yang mendorong penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan tetap menjaga kualitas ekonomi dan ekosistem laut.

Blue economy atau ekonomi biru atau merupakan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menekankan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pantai yang dilakukan secara bijaksana, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Lautan menutupi tiga perempat dunia. Sekitar 80 persen dari semua kehidupan di bumi ini terpengaruh oleh laut. Ekonomi kelautan menyediakan mata pencaharian bagi lebih dari 10 persen populasi dunia, dengan nilai lebih dari USD1,5 triliun dengan perkiraan menjadi dua kali lipat pada 2030.

Melihat potensi tersebut, pemerintah Indonesia terus mengembangkan blue economy, mengelola ekosistem laut dan pesisir dengan baik, mencapai pemerataan ekonomi, dan meningkatkan penghidupan. Indonesia sedang melakukan itu dengan memasang tujuan ambisius untuk meminimalkan sampah di laut. 

Pengelolaan pencemaran laut merupakan permasalahan yang sangat kompleks, sehingga sinergi dalam pengawasan, penegakan hukum, dan penanganan dampaknya sangat diperlukan. Kebocoran sampah plastik laut mengancam kesehatan lingkungan dan berdampak negatif pada pembangunan blue economy. 

Sampah plastik berdampak luas dan sulit dicarikan solusinya. Semua pihak harus bertekad memerangi sampah plastik, utamanya di pantai. Dengan begitu, tekad pemerintah untuk mencapai blue economy dapat terealisasi.

Blue economy ikut menurunkan emisi karbon di dunia. Pengembangan blue economy berupa pemanfaatan sumber daya laut harus dilakukan secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat sekaligus untuk mencegah perubahan iklim.

Untuk mengembangkan blue economy penting untuk memiliki tata kelola ruang laut yang kuat dan berintegritas.

Tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan Indonesia dalam mendorong blue economy adalah pencemaran laut dengan limbah, mulai dari limbah industri, rumah tangga, hingga plastik. Indonesia bahkan dikenal sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, setelah China.


Selain menurunkan sampah plastik untuk menurunkan emisi karbon, kontribusi positif lainnya adalah meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Misalnya dengan penanaman mangrove di bibir pantai, pengurangan deforestasi, peningkatan penggunaan energi terbarukan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. 

Langkah (restorasi hutan mangrove di bibir pantai) sangat efektif untuk mencegah tenggelamnya pulau akibat perubahan iklim. Hal itu karena mangrove memiliki akar yang kuat dan mampu menahan abrasi air laut.

Kebijakan blue economy bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam laut dan pesisir secara berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kebijakan ekonomi biru terdiri dari lima pilar, yaitu penambahan luas kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budi daya di laut, pesisir, dan darat yang berkelanjutan, pengawasan dan pengendalian wilayah pesisir dan pulau kecil, serta pengelolaan sampah plastik di laut.

Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan naiknya permukaan laut, tetapi juga penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah telah terjadi secara signifikan, yang mengancam tenggelamnya pulau-pulau.


Sumber :

https://circularsustainableeconomy.blogspot.com/search/label/Blue%20Economy?updated-max=2020-04-05T23:28:00-07:00&max-results=20&start=20&by-date=false

https://maritim.go.id/detail/dukung-blue-economy-deputi-nani-kolaborasi-multi-stakeholder-sebagai-kunci-mengatasi-pencemaran-laut

https://nusantaramaritimenews.id/analisis/blue-economy-salah-satu-upaya-mewujudkan-ekonomi-berkelanjutan/

https://metrobali.com/sampah-plastik-kendala-indonesia-terapkan-blue-economy/

https://forestinsights.id/indonesia-kembangkan-blue-economy-berkelanjutan-cegah-perubahan-iklim/

https://money.kompas.com/read/2021/08/16/121100426/indonesia-perlu-blue-economy-apa-itu-?page=all.

Tuesday, January 23, 2024

Nikel atau Besi? (LFP Lithium Iron Phosphate Battery)

Nikel berperan penting dalam industri kendaraan listrik, karena nikel merupakan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini juga mendukung transisi energi dari energi tenaga fosil ke energi hijau.

Hal ini bertujuan selain harga bahan fosil yang kian mahal, juga agar lebih ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan. Sebab, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan mengurangi polusi udara.

Nikel dipadukan bersama kobalt dan mangan untuk memproduksi baterai lithium-ion, jenis baterai paling umum digunakan dalam motor maupun mobil listrik. Selain tahan karat, komposisi ini juga unggul dari sisi kepadatan serta harga yang lebih murah dari bahan baku lainnya.

Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai bukanlah hal baru. Produk baterai dari nikel antara lain baterai ponsel, kamera digital, laptop dan alat-alat kelistrikan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi baterai, kini nikel banyak diburu untuk membuat baterai kendaraan berbasis listrik.

Penggunaan nikel ke depan diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Meski saat ini pangsa pasar kendaraan listrik masih kecil, ke depan tren kendaraan listrik diprediksi bakal tumbuh pesat.

Saat ini lebih dari dua pertiga pemanfaatan nikel sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat alias stainless steel. Kandungan nikel dalam pembuatan stainless steel mencapai 75 persen. Stainless steel yang terbuat dari nikel juga mudah dibentuk sehingga penggunaan stainless steel pun sangat luas.

Pemanfaatan nikel saat ini adalah:.

  • 69 persen stainless steel.
  • 11 persen baterai.
  • 7 persen paduan nonbesi.
  • 6 persen pelapis.
  • 3 persen paduan baja.
  • 2 persen pengecoran.
  • 2 persen lainnya.


Harga nikel global di seluruh dunia sudah turun kurang lebih 30 persen dalam 12 bulan terakhir, dan diprediksi tahun depan ada surplus stok nikel di dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Jadi dengan begitu gencarnya pembangunan smelter di indonesia, kita membanjiri dunia dengan nikel, harga jatuh terjadi kondisi oversupply.

Namun ada opsi lain, formulasi bahan baterai yang tidak menggunakan nikel. Salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, kini katanya sudah tidak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai lithium yang digunakan, tapi LFP. Khususnya, di pabrik yang basis produksinya di China

LFP (“lithium ferrophosphate”) atau Lithium Iron Phosphate Battery (LiFePO4), adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang digunakan sebagai bahan katodanya. 

Baterai LFP memiliki kepadatan energi yang agak rendah daripada oksida kobalt lithium (LiCoO2) yang lebih umum ditemukan di elektronik konsumen. Namun, Baterai LFP menawarkan masa pakai yang lebih lama, kepadatan tenaga yang lebih baik (tingkat energi yang dapat ditarik darinya), harganya yang lebih rendah, lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih aman karena tidak beracun. 

LFP memiliki banyak peranan dalam penggunaan kendaraan dan daya cadangan.

Bahan katoda dalam baterai LFP tidak berbahaya, dan karenanya tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau bahaya lingkungan yang negatif. Karena oksigen terikat erat ke molekul, tidak ada bahaya baterai meletus menjadi api seperti yang ada pada Lithium-Ion.


Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan penggunaan LFP untuk mobil listrik memang hanya 27% pada 2022. Namun, cakupan penggunaan ini naik signifikan dari 7% pada 2018.

Sedangkan penggunaan nikel untuk komponen baterai mobil listrik pada 2022 masih sebesar 66%. Namun, cakupan baterai berkandungan nikel tinggi turun dari 78% pada 2022. Ini menunjukkan pangsa pasar LFP terus meningkat sementara baterai nikel tinggi tergerus.

IEA mencatat sekitar 95% LFP diproduksi Cina. Pabrikan mobil listrik asal negara yang sama, BYD, mendominasi penggunaan LFP hingga 50% dari total permintaan baterai tersebut. Sementara, Tesla berkontribusi sebesar 15% dari total permintaan.

Meski Tesla masih menggunakan nikel, penggunaan LFP Tesla meningkat dari 20% dari total mobil yang diproduksi pada 2021 menjadi 30% pada 2022.


Baterai mobil listrik lithium ferro phosphate atau LFP berbahan baku besi dan litium yang tak lagi menggunakan nikel sebagai komponen utama. Pabrikan mobil listrik bahkan yang telah beredar di Indonesia seperti Wuling Air Ev dan Binguo EV, termasuk tiga modeal BYD Atto, Seal maupun Dolphin menggunakan teknologi baterai tersebut.

Mobil listrik milik Wuling seperti Air EV dan Binguo EV memilih penggunaan Lithium Ferro-Phosphate (LFP) untuk pasar Indonesia. Jenis ini disebut memiliki keunggulan dari jangka pakai panjang, hingga daya tahan terhadap suhu tinggi.

Wuling Binguo EV varian long range yang memiliki jarak tempuh 333 km memiliki kapasitas baterai 31,9 kWh, sedangkan versi premium range atau 410 km berkapasitas 37,9 kWh.

Sementara untuk Air EV standard range dan lite dengan jarak tempuh 200 km memiliki kapasitas baterai 17,3 kWh, sedangkan long range berkapasitas 26,7 kWh yang mampu melaju sampai 300 km.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230712132850-85-972548/industri-baterai-kendaraan-listrik-dipacu-nikel-diburu.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1679815-pernyataan-lengkap-thomas-lembong-soal-lfp-yang-buat-gibran-tanya-apakah-cak-imin-anti-nikel?page=3

https://ciptakaryaenergi.co.id/product/battery-lithium-lifepo4/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/21/cek-data-mana-baterai-mobil-listrik-lebih-populer-baterai-nikel-atau-lfp-yang-disinggung-gibran

https://m.bisnis.com/amp/read/20240122/46/1734230/baterai-lfp-tanpa-nikel-digunakan-wuling-byd-dan-tesla

Monday, June 19, 2023

Pencinta Mangrove di NTT

Mengenal Steven Mesah pencinta mangrove di selatan Negeri

Selasa, 20 Juni 2023 12:31 WIB

Steven Mesah warga desa Daiama sedang memonitoring anakan magrove yang sudah ditanam dan bertumbuh. Steven Mesah sedang meyeruput kopinya. Sesekali dia berbincang-bincang seru dengan kawan-kawannya di salah satu rumah di Desa Daiama, Kecamatan Landu Tii, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah. Entah apa yang dibicarakan, namun terlihat sangat seru dan sesekali dia dan beberapa temannya tertawa.

Pria kelahiran 1976 di Desa Daiama itu dikenal sebagai orang yang bisa memotivasi, bahkan menggerakkan 300 kepala keluarga di desa itu untuk menjaga wilayah pesisir dengan cara menanam mangrove di Pantai Daiama.

“Terakhir, pada tahun lalu, kami tanam 13.000 anak pohon mangrove di pesisir pantai, salah satunya untuk menjaga pantai kami tidak abrasi,” katanya, saat memulai ceritanya, kepada ANTARA.

Dari 13.000 anak mangrove yang ditanam itu, hanya sekitar 25 persen yang bisa bertahan hingga saat ini. Usai ditanam, datang cuaca musim timur, sehingga gelombang menerjang pesisir wilayah tersebut dan tanaman itu terseret gelombang. Padahal, tanaman itu sudah diikat di kayu, namun akarnya belum kuat.

Steven yang juga ketua kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) wilayah pesisir Desa Daiama tersebut berupaya menjaga dan merawat sejumlah anakan mangrove itu agar tetap hidup dan bertahan. Setiap hari dia dan masyarakat di desa bergantian memonitor perkembangan mangrove yang sudah ditanam.

Tujuannya, agar sejumlah mangrove itu tetap bertahan hidup, apalagi di saat musim atau cuaca yang stabil seperti saat ini.

Sebagai ketua pokmaswas di desa tersebut, dia kini memiliki 12 anggota, sisanya adalah mereka yang turun membantu dan menilai bahwa keberadaan mangrove tersebut penting dan dapat memberikan banyak manfaat.


Manfaat mangrove 

Mangrove merupakan fitur alami yang mampu secara signifikan meredam dan menurunkan abrasi laut dan juga magnitude bencana gelombang tsunami, sehingga eskalasi bencana dan potensi kerugian, serta korban dapat direduksi.

Mangrove juga berperan besar dalam pengendalian perubahan iklim melalui kemampuannya dalam menyimpan dan menyerap karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan.

Semua keunggulan ekosistem mangrove tersebut menjadi pertimbangan penting yang menyatu dengan upaya menjaga kestabilan tata kelola bentang alam dan perbaikan mutu lingkungan.

Tak hanya itu, perbaikan ekosistem mangrove secara paralel akan memperkuat kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mendorong pembangunan hijau melalui ekonomi hijau.

Ekosistem mangrove memiliki multimanfaat, seperti menjadi lahan budi daya ikan, kepiting, atau udang, melalui pola silvofishery, pengolahan produk mangrove non-kayu, serta wisata alam juga memperkuat pengembangan kawasan industri yang hijau.

Oleh karena itu bagi sebagian nelayan, apalagi yang tinggal di pesisir pantai, Steven merasa bahwa keberadaan pohon magrove tidak hanya untuk mencegah abrasi suatu wilayah.

Ada manfaat lain juga yang dapat mendukung ekonomi masyarakat pesisir, yakni sebagai lokasi berkembang biaknya ikan dan juga buah dari pohon itu bisa diolah menjadi bahan yang dicampur untuk kopi.

Dia dan teman-teman juga baru paham setelah ada pelatihan dari Pemerintah pusat tentang bagaimana menjaga dan merawat lingkungan laut, seperti mangrove dan juga terumbu karang sebagai lokasi ikan bertumbuh kembang.

Pria yang tak lulus sekolah dasar (SD) tersebut, pada awalnya bersama sejumlah warga di kawasan pesisir tersebut tidak memahami betul manfaat dari pohon mangrove yang tumbuh di pesisir pantai.

Terkadang pohonnya ditebang dan bahkan tak menganggap bahwa pohon tersebut ada dan telah membantu menjaga kawasan pesisir tersebut.

Sampai akhirnya pada Agustus tahun 2022 ada sosialisasi dari Pemerintah pusat terkait manfaat dari tanaman yang tumbuh di pesisir pantai tersebut.

Tak hanya tanaman mangrove, sosialisasi juga terkait bagaimana menjaga biota langka, terumbu karang, yang menjadi lokasi bersembunyinya plankton-plankton.

Steven yang sudah melaut kurang lebih 40 tahun secara turun temurun tersebut juga mengaku cukup sulit untuk merawat dan menjaga mangrove yang sudah ditanam.

Apalagi di saat cuaca buruk atau cuaca ekstrem wilayah pesisir selalu dihantam oleh gelombang dan hal itu dapat merusak pesisir pantai tersebut jika tidak ditanami mangrove.

Baginya tak masalah jika saat ini dia dan orang tua lainnya di desa itu yang menanam, namun kelak akan dirasakan dan dinikmati oleh anak cucu mereka di tahun-tahun yang akan datang.

Dia tahu bahwa yang menanam tidak akan merasakan manfaat langsung, tetapi setidaknya jika sudah tumbuh akan dirasakan oleh anak cucu mereka, dan manfaatnya akan sangat baik.

Apalagi setelah masuknya Program The Arafura and Timor Seas Ecosystem Action Phase II (ATSEA-2) yang didanai Global Environment Facility (GEF) dan diimplementasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga memberikan pencerahan kepada warga di desa tersebut terkait manfaat dari buah mangrove tersebut.

Program fase dua yang sudah berjalan sejak tahun 2019 mencakup empat negara; Australia, Indonesia, Papua New Guinea, dan Timor-Leste. Di Indonesia, ATSEA-2 berfokus di tiga wilayah kerja, yaitu Kepulauan Aru di Maluku, Merauke di Papua Selatan, dan Rote Ndao di NTT. Di Rote Ndao sendiri, ATSEA-2 berfokus pada pelatihan kepada masyarakat pesisir untuk mengelola hasil laut sebagai pendorong peningkatan ekonomi, sehingga masyarakat pesisir tidak hanya fokus pada tangkapan ikan, tetapi bisa memanfaatkan potensi lain yang ada di pesisir pantai sebagai salah sumber penghidupan.


Perda

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT, merasa penting bahwa diperlukan peraturan daerah (perda) untuk mendukung perlindungan wilayah pesisir di daerah itu.

Perda tersebut saat ini masih dalam pembahasan dan menunggu sidang ke-3 dengan DPRD Kabupaten Rote Ndao. Pada dasarnya isi dari perda tersebut sudah digodok oleh Kanwil Kemenkumham NTT di Kupang.

Diharapkan pada Agustus nanti perda ini bisa segera disahkan sehingga perlindungan terhadap wilayah pesisir sudah ada dasar hukumnya.

Perda yang nantinya segera diberlakukan itu tidak hanya berisi tentang larangan atau perintah untuk tidak boleh melakukan sesuatu, tetapi juga mengatur tentang bagaimana agar hasil laut yang ada di kawasan pesisir bisa dikelola oleh masyarakat sekitar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Selain itu, perda tersebut berisi tentang masalah sampah di wilayah pesisir yang sering menjadi pembicaraan wisatawan karena dapat merusak lingkungan, khususnya ekosistem dalam laut.

Sampah itu bukan hanya plastik, tetapi juga sampah yang dihasilkan dari limbah-limbah kapal, seperti minyak yang digunakan oleh para nelayan juga diharapkan tidak dibuang di sembarang tempat di laut. Salah satu solusinya digali lubang di darat lalu limbahnya dimasukkan, sehingga tidak merusak wilayah pesisir.


Sumber :

https://www.antaranews.com/berita/3597078/mengenal-steven-mesah-pencinta-mangrove-di-selatan-negeri

Tuesday, May 2, 2023

RI Fokus Dukung Transisi Energi

KTT Asean 2023, Bos Pertamina: RI Fokus Dukung Transisi Energi Menjelang KTT Asean 2023, Pertamina memastikan penguatan ketahanan energi untuk mendukung transisi energi. 

03 Mei 2023

PT Pertamina (Persero) menyatakan dukungannya terhadap capaian salah satu pilar utama dalam keketuaan Konferensi Tingkat Tinggi Asean 2023 yang akan digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada 9-11 Mei 2023. 

Direktur Utama Pertamina, Nikce Widyawati, menjelaskan sebagai pemegang keketuaan KTT Asean 2023, Indonesia fokus pada citra Asean sebagai kawasan strategis yang memiliki peran penting bagi ekonomi dunia. 

Untuk itu, Pertamina akan berkontribusi aktif dalam mencapai tujuan dan prioritas Asean 2023. Adapun, Pertamina berupaya memastikan penguatan ketahanan energi untuk mendukung transisi energi fosil ke energi bersih dan terbarukan. 

Selain itu, Nicke menegaskan bahwa Pertamina agresif mendukung percepatan transisi energi yang inklusif dan berkeadilan menuju net zero emission dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola secara berkelanjutan.  

"Pertamina sebagai salah satu BUMN dan perusaahan energi Indonesia turut mendukung dan berkontribusi dalam mencapai tujuan Asean khususnya dalam pilar recover, rebuilding, dan sustainibility menjadikan Asean sebagai pusat pertumbuhan ekonomi untuk kawasan dan dunia," kata Nicke dalam video yang diunggah dalam media sosial Pertamina, Rabu (3/5/2023). 

Indonesia memastikan akan mengawal capaian-capaian tiga pilar utama dalam keketuaannya di Asean 2023 yakni Asean Matters, Epicentrum of Growth, dan AOIP. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menekankan sejumlah isu yang harus terus didorong dalam pembahasan, yaitu negosiasi teks Code of Conduct (COC), pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), penguatan institusionalisasi dialog HAM di Asean, penyusunan Peta Jalan keanggotaan Timor Leste dan penandatanganan Protokol Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ). 

Pada pilar kedua, Epicentrum of Growth, telah dibahas pula sejumlah prioritas seperti penguatan arsitektur kesehatan melalui one health initiative, penguatan ketahanan pangan dan penguatan ketahanan energi, termasuk melalui pembangunan ekosistem kendaraan listrik. 

Komitmen penggunaan mata uang negara Asean dalam transaksi perdagangan dan konektivitas mekanisme pembayaran di kawasan juga telah disepakati untuk memperkuat stabilitas keuangan kawasan. 

Sementara pada pilar ketiga, yakni implementasi AOIP, Menteri Luar Negeri pun menekankan penguatan kerja sama konkret AOIP berdasarkan prinsip inklusivitas, kerja sama ekonomi, dan ekonomi pembangunan. Untuk itu, Indonesia akan menyelenggarakan flagship event yaitu Asean-Indo-Pacific Forum.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20230503/44/1652262/ktt-asean-2023-bos-pertamina-ri-fokus-dukung-transisi-energi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

Wednesday, April 5, 2023

Blue Economy

SERING TERDENGAR, APAKAH ARTI DARI BLUE ECONOMY?

Ekonomi biru atau blue economy merupakan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menekankan pada pemanfaatan sumber daya laut dan pantai yang dilakukan secara bijaksana, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Titik utama pada konsep ini adalah keselarasan hubungan antara ekosistem laut, manusia, dan kegiatan ekonomi.

Adapun sumber daya laut dan pantai yang dimaksud mencakup berbagai jenis ikan, udang, kerang, rumput laut, dan karang. Selain itu, konsep blue economy juga melibatkan sumber daya terbarukan seperti tenaga angin, pasang surut, dan tenaga gelombang.

Konsep ini berawal dari gagasan bahwa sumber daya laut dan pantai dapat digunakan secara berkelanjutan untuk menghasilkan nilai ekonomi yang besar, serta menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan pantai.

Beberapa aspek penting dari blue economy adalah peningkatan nilai tambah produk dan jasa dari sektor kelautan dan perikanan, pengembangan teknologi dan inovasi, peningkatan keamanan pangan, pengelolaan risiko bencana alam dan perubahan iklim, serta pemberdayaan masyarakat pesisir dan nelayan.

Selain itu, terdapat berbagai manfaat dalam implementasi blue economy. Di antaranya adalah meningkatkan perekonomian lokal, peningkatan produksi perikanan, mendorong pengembangan teknologi dan inovasi, peningkatan kualitas lingkungan, serta peningkatan kerja sama internasional.

Sunday, October 31, 2021

Perubahan Model Ekonomi

Perubahan Model Ekonomi dalam Tiga Disrupsi Besar Dunia

25 Aug 2021 


Jakarta, Humas LIPI. Pada kuliah ilmiah yang berjudul ’Biodiversitas dan Inovasi Bioekonomi untuk Masa Depan Bangsa’, Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria menyampaikan tentang tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, Revolusi industri 4.0, dan pandemi covid-19. Kuliah ilmiah tersebut disampaikan Arif pada Sarwono Memorial Lecture XXI yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai puncak peringatan Hari Ulang Tahun LIPI ke-54.

Dalam paparannya, Arif menyampaikan bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen. “Hal ini tentu saja menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Pada bidang kesehatan pun, disrupsi perubahan iklim ini menyumbangkan penambahan angka malnutrisi, stunting, dan jumlah penyakit,” jelasnya. 

Disrupsi revolusi industri 4.0 diakselerasi dengan kecepatan teknologi kepintaran buatan, robotik, big data, hingga Internet of Things menurutnya, ternyata telah merombak tatanan kehidupan. Arif mengungkapkan bahwa revolusi biologi juga sedang dirasakan atas dampak dari disrupsi teknologi ini, di mana aspek biologi saat ini bersinergi dengan aspek teknologi komputer. "Dalam dunia bisnis, disrupsi ini menyebabkan munculnya pekerjaan baru, dan hilangnya sejumlah pekerjaan. Hari ini kita merasakan pentingnya kompetensi-kompetensi baru yang mengedepankan future skill (keahlian masa depan) yang didapat melalui reskilling, upskilling, dan new skilling," ujar Arif.

Tak ketinggalan, Arif menuturkan, disrupsi ketiga berupa pandemi covid-19 juga mengubah banyak pola di kehidupan sehari-hari. Beberapa yang paling dapat dirasakan saat ini menurutnya adalah perlambatan ekonomi, peningkatan angka kemiskinan, dan penurunan kesehatan. Namun di sisi lain juga meningkatkan fleksibilitas kegiatan bekerja dan belajar-mengajar.

Berdasarkan data yang dianalisisnya, ketiga disrupsi besar ternyata tidak memengaruhi pertumbuhan biodiversitas, yang menurut data Produk Domestik Bruto (PDB/Lapangan Kerja) 2020-2021, sektor yang berbasis pada biodiversitas tetap tumbuh positif. "Ini artinya, sektor biodiversitas adalah sektor yang tahan banting. Ini lah mengapa sektor ini harus terus dikembangkan dan mendapatkan prioritas dalam pembangunan nasional,"terang  Arif.

 

Tiga Disrupsi dan Perubahan Model Ekonomi

Arif menegaskan, ketiga disrupsi besar tersebut mengubah model ekonomi masa depan. Ia berpendapat, perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy, revolusi industri 4.0 memaksa terjadinya sharing economy, dan pandemi Covid-19 memaksa terjadinya new normal bioeconomy. Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang.

Green Economy Initiative (GEI) mendeskripsikan green and blue economy sebagai ekonomi yang meningkatkakan kualitas kehidupan manusia dan ekuitas sosial, dengan secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dan kelangkaan ekologi. "Green and Blue Economy merupakan jawaban atas perubahan iklim. Di mana di dalamnya mementingkan pertumbuhan karbon rendah, efisiensi sumber daya, dan melibatkan masyarakat," jelas Arif. ”Keberlanjutan saja tidak cukup. Langkah menjaga sumber daya alam tidak berhenti pada menjaga keberlanjutannya, namun juga regenerasi. Dalam istilah mudahnya, ada perbedaan antara membiarkan pohon tidak disentuh, dan menanam lebih banyak pohon,” tandasnya.

Lebih jauh ilmuwan berkacamata tersebut mengatakan, bentuk perubahan model ekonomi dari dampak revolusi industri 4.0 berupa sharing economy. Model ekonomi ini menurut Arif, memiliki ciri menciptakan nilai, dapat diakses online, berbasis komunitas, bisa dikonsumsi dan dimanfaatkan bersama, serta berbagi aset yang kurang termanfaatkan. ”Model ekonomi ini mengurangi kebutuhan kepemilikan, dan meningkatkan konsumsi kolaboratif,” ungkapnya yakin.

Ia menambahkan, ”… untuk perubahan model ekonomi New Normal Bioeconomy memiliki tiga ciri khas, yaitu sirkular, berbagi, dan regeneratif. Ciri regeneratif ini muncul dari masa new normal, yang memaksa upaya-upaya menumbuhkan keanekaragaman hayati, karena meningkatnya kepedulian masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan-makanan sehat dan berbasis biodiversitas," rinci Arif.

Sebagai model bioekonomi baru, dirinya menguraikan, biodiversitas memiliki fungsi penyediaan, pengaturan, kebudayaan, dan pendukung. Ia menjelaskan juga bahwa biodiversitas menyediakan pangan, obat, dan biomaterial, serta fungsi mengatur iklim, penyakit, dan regulasi. Terlebih lagi, menurutnya, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas, dengan sekitar 90% flora dunia dapat ditemui di Indonesia, dan 940 jenis berkhasiat sebagai obat. ”Nilai total keanekaragaman hayati di Indonesia mencapai lebih dari tiga ribu triliun rupiah. Oleh karena itu, model ekonomi new normal bioekonomi seharusnya menjadi hal yang sangat mungkin dan sangat menguntungkan di Indonesia, sehingga perlu untuk diprioritaskan,” imbuhnya. 

Arif pun yakin bahwa ekonomi berbasis biodiversitas ini dapat menjadi pondasi sumber ekonomi bangsa masa depan. "Dasar dari ekonomi masa depan ini tentang bagaimana kita mampu membangun ekosistem yang tangguh yang melibatkan modal SDM, modal produsen, dan SDA," ujar Arif. Bioekonomi juga memiliki banyak potensi inovasi.

Karakteristik inovasi bioekonomi ini berorientasi pada masa depan, memperkuat kedaulatan ekonomi, memberikan solusi, dan dapat dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Sektor dari inovasi ini pun beragam mulai dari pangan dan obat, biomaterial, hingga smart farming. Arif pun menekankan bahwa inovasi-inovasi dari model ekonomi new normal bioeconomy ini tak lepas dari pentingnya hilirisasi inovasi serta tata kelola yang benar.

 

Tentang Arif Satria

Arif Satria terpilih sebagai pemberi kuliah ilmiah LIPI Sarwono Memorial Lecture XXI karena dianggap secara terus-menerus dan disertai dedikasi yang tinggi melakukan kegiatan penelitian di bidangnya. Arif memulai karirnya sebagai sekretaris rektor IPB pada 1996 dan terus meningkatkan karirnya hingga posisi yang ia duduki sekarang sebagai rektor IPB.

Selama karirnya, ia berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya: Second Winner of Academic Leader Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi 2019, H-Index Tertinggi Kedua Bidang Sosial (DPIS IPB, 2019), Tribute to Innovators Rektor IPB 2015, Kagoshima University Ambassador 2011, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Menteri Pendidikan Nasional RI 2009, The First Winner of the JIFRS Yamamoto Prize on Yamamoto Award International Institute for Fisheries Economics and Trade 2008, dan Dosen Berprestasi III IPB 2007. Selama kiprahnya, ia telah menerbitkan 45 jurnal internasional dan prosiding, serta menjadi pembicara di konferensi bergengsi internasional sebanyak 30 kali.

Ia lahir di Pekalongan pada 17 September 1971. Arif menyelesaikan gelar sarjananya di Ilmu Ekonomi Pertanian, IPB pada 1995, yang kemudian ia lanjutkan di universitas yang sama pada bidang Sosiologi Pedesaan, di mana ia mendapat gelar masternya pada 1999. Arif kemudian meraih gelar doktoralnya di Kagoshima University, Jepang, Department of Marine Social Science pada 2006. (sr/ ed: drs)


Sumber :

http://lipi.go.id/berita/Perubahan-Model-Ekonomi-dalam-Tiga-Disrupsi-Besar-Dunia/22485

Monday, August 17, 2020

5 Ways the Print Industry can Apply Circular Economy Principles


Five ways the print industry can apply circular economy principles

By Louella Fernandes on January 15, 2020
Articles, Trends

Quocirca’s releases new Executive Briefing report Sustainability: How the print industry is applying circular economy principles

Sustainability is not a new initiative for the print industry. From concern about paper consumption, to reducing energy use and developing recycling programmes, the print sector has frequently embraced environmental issues. That said, sustainability considerations have never attained the profile and urgency that we see today. The transition from a more peripheral issue to a primary concern is clearly demonstrated in our Global Print 2025 Second Edition market insight study, where more than half of IT decision makers stated that reducing the environmental impact is the top challenge associated with the managing the print infrastructure.

Those IT decision makers expect that print manufacturers and suppliers will play a role in helping them gain environmental performance improvements – 57% believe that suppliers should be taking a leading position around sustainability by 2025. At the same time, pressure is being exerted from consumers and investors for print companies to earn their status as good corporate citizens, making a sustainable approach an important part of maintaining corporate reputations. Finally, the commercial benefits of pivoting business models towards a circular economy approach are becoming clear and compelling. Both HP and Xerox last year included in annual reports revenues they attribute directly to sustainability programmes.

This combination of factors is driving the industry towards embracing circular economy principles. It is widely recognised that natural resource scarcity and impacts during use mean the traditional “take, make, waste” production model is not sustainable and must be rejected in favour of a circular, regenerative approach that strives to maintain products at the highest value and utility for as long as possible. This axiom can be – and indeed in many cases is already being – applied by the print industry in several ways:


1. Incorporate reused materials and circularity potential at the design phase

The incorporation of non-virgin materials into new products is gathering pace. An example is HP’s Elite DragonFly notebook, which uses 50% post-consumer recycled plastic, including 5% made from ocean-bound plastic, and Xerox, whose products contain up to 5% post-consumer recycled plastic content.

Manufacturers are focusing on designing products on a modular basis, with fewer parts overall and consideration given to end-of-life disassembly and reuse. In this way the value of raw materials is retained post-consumption.


2. Design to minimise energy use, emissions, consumables and product failure

Designing products that last longer and fail less often is another essential part of the rejection of “throwaway” philosophy. This ranges from improving durability in existing products to a complete rethink of technology approaches that employ long-life materials, such as Kyocera’s 1992 introduction of ceramic print drums designed to last the lifetime of the product.

Continuously improving energy efficiency and reducing emissions is another way to minimise the impact of products in use. The almost ubiquitous Energy Star and Blue Angel ratings act as a baseline on which manufacturers should strive to improve, while the provision of “eco” modes allows consumers to reduce resource consumption still further during the use phase.


3. Use big data to develop service innovations

A key opportunity for driving circular advantage is applying intelligence to the wealth of data generated by smart connected devices, in this case MFPs. IoT sensors can deliver up to the minute reporting on the status of assets, and enable real-time optimisation. Notably, such data can deliver new insights into key performance indicators (KPIs), by-products and wastage. This can help suppliers to develop support and maintenance programmes that minimise unnecessary interventions and ensure that products last longer and are functioning at their most efficient.

IoT devices can also integrate into platforms such as smart buildings, delivering and receiving data that contributes to the more sustainable operation of the entire environment.


4. Further enhance subscription-based services and help clients embrace cloud print management

The shift from the purchase to the subscription model is already advanced in the print sector. However, our recent MPS survey found that many businesses are still failing to achieve the desired efficiencies in cost, performance and sustainability. By improving fleet management, monitoring and maintenance, suppliers can increase customer satisfaction and help them meet environmental goals at the same time.

Some manufacturers are directly seizing the sustainable consulting opportunity, such as Ricoh, which has launched sustainability management services that include carbon balanced printing, energy efficient products and management software.

Cloud print management has yet to see widespread adoption, although momentum is growing. By helping clients move to the cloud, MPS providers can deliver a more flexible print environment that supports greater resource efficiency and the potential of big data analysis to drive performance improvements still further.


5. Maximise ease of recycling and recycled value of components

End-of-life takeback, recycling and reuse schemes are already a common feature of manufacturers’ circular economy approach. Starting with toner cartridges in the 1990s and spurred on by the implementation of the WEEE Directive, which became EU law in 2003, the industry has had plenty of encouragement to develop intelligent waste management programmes. These have progressed over the years from add-on initiatives to become foundational elements of sustainability programmes.

However, there is always more to do, and opportunities for not just environmental, but also commercial advantage. The reuse and recycling economy itself is growing – it is estimated that circular activities such as repair, reuse or recycling generated almost €147 billion in Europe over the three years to 2019. As recovery and re-use technology continues to develop, manufacturers will need to build these advances into their recycling programmes to further embrace circular economy principles and benefit from the commercial benefits.

Quocirca’s latest Executive Briefing explores in depth how the print industry is applying circular economy principles and contains recommendations of what buyers should be looking for when selecting suppliers.


Sumber :
https://quocirca.com/content/5-ways-the-print-industry-can-apply-circular-economy-principles/

Sunday, April 5, 2020

What is a circular economy?

Looking beyond the current take-make-waste extractive industrial model, a circular economy aims to redefine growth, focusing on positive society-wide benefits. It entails gradually decoupling economic activity from the consumption of finite resources, and designing waste out of the system. Underpinned by a transition to renewable energy sources, the circular model builds economic, natural, and social capital. It is based on three principles:

Design out waste and pollution
Keep products and materials in use
Regenerate natural systems


Re-thinking Progress: The Circular Economy
There's a world of opportunity to rethink and redesign the way we make stuff. 'Re-Thinking Progress' explores how through a change in perspective we can re-design the way our economy works - designing products that can be 'made to be made again' and powering the system with renewable energy. It questions whether with creativity and innovation we can build a restorative economy.

The concept of a circular economy
In a circular economy, economic activity builds and rebuilds overall system health. The concept recognises the importance of the economy needing to work effectively at all scales – for large and small businesses, for organisations and individuals, globally and locally.

Transitioning to a circular economy does not only amount to adjustments aimed at reducing the negative impacts of the linear economy. Rather, it represents a systemic shift that builds long-term resilience, generates business and economic opportunities, and provides environmental and societal benefits.


Technical and biological cycles

The model distinguishes between technical and biological cycles. Consumption happens only in biological cycles, where food and biologically-based materials (such as cotton or wood) are designed to feed back into the system through processes like composting and anaerobic digestion. These cycles regenerate living systems, such as soil, which provide renewable resources for the economy. Technical cycles recover and restore products, components, and materials through strategies like reuse, repair, remanufacture or (in the last resort) recycling.


Origins of the circular economy concept

The notion of circularity has deep historical and philosophical origins. The idea of feedback, of cycles in real-world systems, is ancient and has echoes in various schools of philosophy. It enjoyed a revival in industrialised countries after World War II when the advent of computer-based studies of non-linear systems unambiguously revealed the complex, interrelated, and therefore unpredictable nature of the world we live in – more akin to a metabolism than a machine. With current advances, digital technology has the power to support the transition to a circular economy by radically increasing virtualisation, de-materialisation, transparency, and feedback-driven intelligence.


Circular economy schools of thought

The circular economy model synthesises several major schools of thought. They include the functional service economy (performance economy) of Walter Stahel; the Cradle to Cradle design philosophy of William McDonough and Michael Braungart; biomimicry as articulated by Janine Benyus; the industrial ecology of Reid Lifset and Thomas Graedel; natural capitalism by Amory and Hunter Lovins and Paul Hawken; and the blue economy systems approach described by Gunter Pauli.


Sumber :
https://www.ellenmacarthurfoundation.org/circular-economy/concept