Thursday, February 8, 2024
Hubungan Sampah Plastik dan Efek Rumah Kaca
Wednesday, February 7, 2024
Nanoplastik yang Lebih Berbahaya daripada Mikroplastik
Penelitian terakhir menunjukkan nanoplastik telah ada di lingkungan. Nanoplastik ini lebih buruk dan berbahaya daripada mikroplastik. Jika mikroplastik berukuran dalam skala mikrometer, sedangkan nanoplastik hanya berukuran nanometer. Jika mikroplastik masih terlihat oleh mata atau mikroskop, sedangkan nanoplastik nyaris tidak terlihat.
Nanoplastik terbentuk ketika potongan-potongan plastik yang lebih besar terurai karena sinar UV, gelombang, enzim alami, atau faktor lingkungan lainnya.
Pencemaran ini terjadi seiring dengan lamanya waktu sampah plastik akan mengalami degradasi akibat adanya tekanan mekanis atau radiasi ultraviolet matahari menjadi mikroplastik dan nanoplastik.
Masuknya polutan partikel ini juga bisa melalui sistem pernapasan karena partikel nanoplastik tersebar di udara. Nanoplastik dapat terurai dan terlepas ke udara, misalnya ketika seseorang memperbaiki pipa saluran pembuangan. Setelah mengudara, nanoplastik dapat melayang sejauh ribuan kilometer, hingga kutub bumi.
Metode terbaik mendeteksi nanoplastik bergantung pada jumlah pengambilan sampel di air laut dan proses filterisasi. Jika manusia mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi partikel nanoplastik dapat terakumulasi di dalam tubuh sehingga menurunkan kesehatan.
Diperkirakan nanoplastik sudah ada lebih dari 100 tahun sejak penemuan plastik.
Karena ukurannya yang jauh lebih kecil, nanoplastik dapat masuk ke tempat-tempat yang tidak dapat dimasuki oleh mikroplastik. Misalnya, jika mikroplastik bisa masuk ke dalam organ tubuh hewan, nanoplastik bisa masuk ke dalam sel mereka.
Mikroplastik dan nano plastik saat ini sudah menjadi bahaya laten bagi kesehatan manusia semakin nyata. Hasil penelitian menunjukkan, setiap tahunnya rata rata orang memakan sekitar 50.000 partikel mikroplastik dan juga dalam jumlah yang sama kita menghirupnya melalui udara yang tercemar.
Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka dalam waktu dekat mikroplastik dan nano plastik akan menjadi masalah kesehatan yang sangat serius bagi Indonesia.
Sampah plastik telah terbukti mempengaruhi lebih dari 660 spesies laut di seluruh dunia. Plastik yang dikenal ringan, kuat, tahan lama, dan murah, dan karakteristik ini membuatnya cocok untuk pembuatan berbagai produk. Namun, plastik juga dapat membahayakan lingkungan hidup. Ancaman plastik yang paling menonjol bagi kehidupan akuatik terjadi dari proses konsumsi rantai makanan.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa kontaminasi mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini karena akan berdampak buruk tidak saja pada lingkungan namun juga pada kesehatan masyarakat tanpa disadari banyak orang.
Nanoplastik membawa segala macam bahan aditif kimia yang bisa menyebabkan sel-sel stres, kerusakan DNA dan perubahan metabolisme atau fungsi-fungsi sel.
Sekitar 90 persen dari partikel plastik yang ditemukan di air mineral adalah nanoplastik yang tidak terdeteksi di penelitian sebelumnya. Sebuah studi mengevaluasi air kemasan plastik dapat mengandung partikel plastik 100 kali lebih banyak atau 240.000 pecahan plastik yang dapat membawa masalah kesehatan.
Sumber lain sebuah penelitian baru, menunjukkan bahwa sebuah botol air berkapasitas satu liter (33 ons) rata-rata mengandung sekitar 240.000 fragmen plastik.
Dan dari sumber yang lain, mengungkap temuan 250.000 potongan partikel nanoplastik yang sangat kecil dan tidak terlihat ada di dalam botol kemasan. Temuan terkini itu terdeteksi dan dikategorikan untuk pertama kalinya oleh mikroskop menggunakan laser ganda.
Meskipun polusi plastik ada di mana-mana di bumi, air kemasan menjadi perhatian khusus para ilmuwan karena potensinya memasukkan partikel plastik ke dalam tubuh manusia. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2022 menemukan bahwa konsentrasi mikroplastik dalam air kemasan lebih tinggi dibandingkan air keran.
Sebuah laporan dari tahun 2021 memperingatkan bahwa membuka dan menutup tutup botol plastik berisi air dapat melepaskan serpihan plastik kecil ke dalam cairan. Mereka juga berencana untuk menyelidiki nanoplastik dalam sampel air keran dan salju yang dikumpulkan dari Antartika bagian barat.
Dunia saat ini sedang tenggelam di timbunan polusi plastik, dengan lebih dari 430 juta ton plastik diproduksi tiap tahunnya dan mikroplastik ditemukan di lautan dunia, makanan dan air minum, di mana sumber-sumbernya banyak yang berasal dari pakaian dan filter rokok.
Hampir seluruh peneliti menyatakan untuk mengurangi konsumsi AMDK, air minum dalam kemasan. Para peneliti telah mulai mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan setidaknya separuhnya, lalu mulai lebih mengandalkan air yang disaring di rumah.
Penelitian modern mengenai dampak nanoplastik terhadap lingkungan laut. Diantaranya adalah sebagai berikut.
Nanoplastik berdampak negatif terhadap ukuran, kesuburan dan perkembangan embrio Daphnia, krustasea kecil yang ukuran tubuhnya tidak melebihi 6 mm bahkan di usia dewasa. Sedangkan untuk mikroalga, nanoplastik mempengaruhi ukuran dan jumlah sel di coenobia, kelompok sel independen yang hidup bersama.
Daphnia dan ganggang hijau Scenedesmus, yang hidup di air tawar, ditambahkan emulsi nanopartikel polistiren dengan konsentrasi tertentu. Percobaan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi polistiren menyebabkan penurunan ukuran tubuh dan kesuburan Daphnia.
Dalam kasus mikroalga, dampak nanoplastik terlihat pada perubahan jumlah dan proporsi sel hidup dalam suatu populasi, serta ukuran sel dan jumlahnya di coenobium.
Sumber :
https://www.republika.id/posts/48696/nanoplastik-lebih-bahaya-daripada-makroplastik
https://ppid.ipb.ac.id/prof-ronny-rachman-noor-ungkap-semakin-nyatanya-bahaya-laten-mikroplastik-dan-nanoplastik-bagi-kesehatan/
https://unair.ac.id/rumput-laut-dan-respon-imun-tubuh-yang-terpapar-nanoplastik/
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240115120549-37-505684/ada-240-ribu-serpih-plastik-di-1-liter-air-mineral-botol-ini-risetnya
https://www.kompasiana.com/rimantho/5fd99aca8ede4839bb020da2/apa-itu-nano-plastik-apa-bahayanya-bagi-lingkungan?page=all
https://www.antaranews.com/berita/3906852/kandungan-nanoplastik-dalam-air-kemasan-dapat-bahayakan-kesehatan
https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240114191612-33-505507/astaga-ahli-temukan-250000-nanoplastik-di-botol-kemasan
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/26164/peneliti-air-botol-kemasan-mengandung-ratusan-nanoplastik
https://agroindonesia.co.id/awas-ilmuwan-temukan-partikel-nanoplastik-di-amdk/
https://www.kalbarnews.co.id/2024/01/menurut-penelitian-nanoplastik.html#google_vignette
Saturday, February 3, 2024
Hujan Plastik akibat Sampah Mikroplastik
Musim hujan sekarang ini kita perlu waspada. Bukan hanya dari derasnya hujan, atau karena kita bisa terserang penyakit karena kedinginan, namun juga kita harus waspada terhadap kandungan air hujan. Karena air hujan diduga mengandung partikel plastik.
Sebuah studi mengatakan bahwa dalam air hujan terdapat kandungan plastik berukuran mikroskopis yang pada akhirnya akan menyebabkan hujan plastik. Mikroplastik adalah partikel yang berukuran kurang dari 5mm yang dapat mengontaminasi air yang kita konsumsi dan minum.
Hal ini dikarenakan mikroplastik sangat melimpah yang menjadi sumber polusi yang dapat kita temui baik di daratan maupun di lautan. Sampah plastik terurai menjadi potongan-potongan kecil seiring berjalannya waktu dan menyebar ke atmosfer, tubuh manusia, dan spesies.
Partikel mikroplastik dapat menimbulkan penyakit dan kondisi termasuk kanker, infertilitas, dan gangguan hormon. Bahkan, tidak menyerang manusia saja, mikroplastik juga mempengaruhi pembentukan awan dan potensi dampaknya terhadap krisis iklim.
Jika polusi udara plastik tidak segera ditangani dengan serius, maka kombinasi dengan perubahan iklim akan menjadi risiko ekologi yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.
Hujan plastik, dimulai dari siklus alamiah dari siklus air, dimana air yang ada di bumi menguap karena terpapar sinar matahari. Kemudian, terbentuk sekumpulan awan hingga akhirnya turun hujan. Yang menjadi masalah adalah kondisi air sekarang dipenuhi oleh sampah plastik. Sampah plastik menutupi permukaan lautan, sungai dan got.
Plastik sebagai benda yang sulit terurai, plastik akan terus berada di air. Namun, tidak selamanya berada dalam kondisi utuh. Ada yang terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Pecahan-pecahan tersebut kemudian disebut mikroplastik yang tidak terlihat secara kasat mata, tetapi berada di air. Masalah makin besar ketika mikroplastik itu berubah menjadi partikel kecil bernama nanoplastik. Saat terjadi siklus air tersebutlah, plastik-plastik tersebut ikut serta ke langit dan turun sebagai hujan di berbagai tempat.
AMDK atau air minum dalam kemasan dalam bentuk gelas maupun botol plastik yang paling banyak menyumbangkan sampah di perairan Indonesia, yang memperbesar kerusakan lingkungan dan memperbesar risiko penyebaran mikroplastik dari konsumsi makanan laut ke tubuh manusia.
Selain berasal dari sampah plastik besar yang terpecah menjadi potongan lebih kecil, mikroplastik juga bisa berasal dari plastik polietilen yang sengaja diproduksi dan ditambahkan ke produk-produk tertentu. Misalnya, produk kecantikan, bahan pembersih, cat, dan sebagainya. Dengan ukuran sangat kecil dan ringan, mikroplastik dapat menyebar mudah ke seluruh pelosok Bumi
Menurut penelitian, paus biru secara tidak sengaja mengkonsumsi hingga 10 juta keping mikroplastik setiap hari. Itu setara dengan satu truk sampah plastik yang dibuang ke laut setiap menit. Pada manusia, potongan plastik mikroskopis telah terdeteksi dalam darah, ASI, dan plasenta.
Bahkan sebuah studi menunjukkan fenomena hujan mikroplastik terjadi di beberapa puncak gunung tertinggi di dunia. Misalnya di Pegunungan Rocky, Amerika Serikat. Studi lainnya, juga ditemukan mikroplastik dalam jumlah banyak di puncak Pyreness, pegunungan yang terletak di antara Prancis dan Spanyol.
Hal ini tentunya sangat mengejutkan karena partikel mikroplastik yang dilihat di pegunungan tentunya telah terangkut dari jarak jauh. Serat plastik mikroskopis beraneka warna kemudian ditemukan pada lebih dari 90% sampel. Warna yang paling sering muncul adalah biru, merah, perah, ungu, hijau, dan kuning.
Sumber :
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7150018/waspada-hujan-plastik-indonesia-tak-luput.
https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20240117102551-33-506505/fenomena-hujan-plastik-menghantui-bumi-begini-gambarannya
https://www.mongabay.co.id/2022/09/11/fenomena-hujan-plastik-mungkinkah-terjadi/
https://nationalgeographic.grid.id/read/131824515/hujan-plastik-terjadi-di-salah-satu-pegunungan-tertinggi-di-amerika
https://www.dream.co.id/stories/aneh-tapi-nyata-hujan-plastik-terjadi-di-paris-kok-bisa-230530h.html
https://nasional.tempo.co/read/1723618/mikroplastik-dibalik-kemasan-botol-dan-gelas-plastik
Sunday, January 28, 2024
Carbon Capture and Storage
Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer. Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan (capture) CO2 dari sumber emisi gas buang (flue gas), pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan (transportation), dan penyimpanan ke tempat yang aman (storage).
Pemerintah mulai memetakan pengembangan teknologi carbon capture and storage yang digadang-gadang akan menjadi jalan baru bagi pemerintah dalam menarik investasi khususnya sektor industri untuk masuk ke Indonesia. Secara sederhana CCS adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan emisi CO2 dari kegiatan industri sehingga tidak mencemari udara.
CO2 yang diinjeksikan ke dalam tanah itu juga bisa mengisi pori-pori batuan. Dengan begitu, CO2 yang telah masuk ke dalam reservoir dipastikan tetap tersimpan dengan aman. Prospek bisnis dari sisi hulu penyedia CCS, adalah dari biaya penyimpanan CO2, biaya injeksi, maupun carbon credit.
Tahapan utama CCS terdiri dari:.
- Pertama, Capture (penangkapan): Tahap awal pemisahan CO2 dari bahan bakar atau gas buang pembakaran. CO2 yang ditangkap kemudian dikompresi menjadi cairan atau fluida superkritis.
- Kedua, Transport (transportasi): CO2 perlu diangkut menggunakan pipa khusus menuju lokasi penyimpanan.
- Ketiga, Storage (penyimpanan): CO2 superkritis disuntikkan ke dalam lapisan batuan yang berpori dan memiliki permeabilitas baik untuk penyimpanan jangka panjang.
Mengurangi emisi CO2 dalam jumlah besar membutuhkan pengendalian gas buang dari pembangkit listrik, namun hal ini tidaklah mudah. Gas buang biasanya memiliki tekanan rendah dan konsentrasi CO2 yang rendah, sehingga proses pemisahan memerlukan energi yang besar.
Meskipun memakan biaya yang sangat besar, biaya dari CCS dapat diturunkan apabila sudah diimplementasikan pajak karbon. Di negara-negara maju seperti Norwegia, teknologi CCS sudah termasuk lazim diimplementasikan sehingga biaya implementasi dapat ditekan drastis. Untuk mengantisipasi jika teknologi ini dijadikan semacam kewajiban untuk diimplementasikan di seluruh dunia oleh negara-negara maju, pembelajaran tentang implementasi CCS penting untuk dilakukan saat ini.
Menurut International Energy Agency (IEA), volume emisi CO2 akibat pembakaran bahan bakar fosil mencapai 56% dari total semua emisi global. Nilai ini berasal dari sekitar 7500 instalasi besar peng-emisi CO2 yang mengemisikan lebih dari 1000.000 ton CO2 setiap tahunnya. Kajian IEA lebih lanjut menyimpulkan bahwa dari jumlah tersebut, pembangkit listrik batubara (PLTU) merupakan sumber emisi utama yang mencapai lebih dari 60%. Selanjutnya PLTG 11% dan PLTD 7%. Sementara itu, industri lain menyumbang sekitar 3-7%.
Dalam upaya mencapai Net Zero Emission pada 2060, Indonesia berambisi mengembangkan teknologi CCS dan membentuk hub CCS. Inisiatif tersebut tidak hanya akan menampung CO2 domestik tetapi juga menggali kerja sama internasional. Sebab, hal ini menandakan era baru bagi Indonesia. CCS diakui sebagai ‘license to invest’ untuk industri rendah karbon seperti blue ammonia, blue hydrogen, dan advanced petrochemical. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya membantu Indonesia dalam mencapai tujuan lingkungan global, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inovatif.
Kenyataan tersebut menjadikan tantangan ke depan yang harus diantisipasi agar dapat menciptakan proses penangkapan CO2 yang efektif dan efisien. Walaupun secara umum teknologi CCS cukup menjanjikan untuk dipergunakan dalam menangani sumber emisi CO2 yang besar, seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil atau industri besar lainnya. Namun masih banyak hal-hal yang perlu diselesaikan sebelum CCS dapat diterapkan secara penuh, seperti perbaikan teknologi, legalisasi dan pembiayaan.
Sumber :
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/carbon-capture-and-storage-3-sistem-penangkapan-co2
https://ekonomi.republika.co.id/berita/s0teq3502/mengenal-carbon-capture-and-storage-yang-mau-dijadikan-ri-untuk-tarik-investasi-asing
https://umsu.ac.id/berita/carbon-capture-and-storage-ccs-definisi-dan-peran-penting-di-indonesia/
http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/potensi-dan-tantangan-implementasi-teknologi-carbon-capture-storage-untuk-mengurangi-emisi-karbon
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20231222211626-532-1040916/apa-itu-carbon-capture-and-storage-yang-ditanya-gibran-ke-mahfud-md.
https://infobanknews.com/istilah-carbon-capture-storage-yang-disebut-gibran-ternyata-jadi-salah-satu-pendorong-ekonomi-ri/#google_vignette
https://news.detik.com/pemilu/d-7105112/apa-itu-carbon-capture-storage-istilah-yang-dipakai-gibran-di-debat.
https://www.liputan6.com/pemilu/read/5490847/istilah-carbon-capture-and-storage-dari-gibran-buat-masyarakat-kepo-ini-dia-artinya?page=2
Tuesday, January 23, 2024
Nikel atau Besi? (LFP Lithium Iron Phosphate Battery)
Nikel berperan penting dalam industri kendaraan listrik, karena nikel merupakan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini juga mendukung transisi energi dari energi tenaga fosil ke energi hijau.
Hal ini bertujuan selain harga bahan fosil yang kian mahal, juga agar lebih ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan. Sebab, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan mengurangi polusi udara.
Nikel dipadukan bersama kobalt dan mangan untuk memproduksi baterai lithium-ion, jenis baterai paling umum digunakan dalam motor maupun mobil listrik. Selain tahan karat, komposisi ini juga unggul dari sisi kepadatan serta harga yang lebih murah dari bahan baku lainnya.
Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai bukanlah hal baru. Produk baterai dari nikel antara lain baterai ponsel, kamera digital, laptop dan alat-alat kelistrikan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi baterai, kini nikel banyak diburu untuk membuat baterai kendaraan berbasis listrik.
Penggunaan nikel ke depan diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Meski saat ini pangsa pasar kendaraan listrik masih kecil, ke depan tren kendaraan listrik diprediksi bakal tumbuh pesat.
Saat ini lebih dari dua pertiga pemanfaatan nikel sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat alias stainless steel. Kandungan nikel dalam pembuatan stainless steel mencapai 75 persen. Stainless steel yang terbuat dari nikel juga mudah dibentuk sehingga penggunaan stainless steel pun sangat luas.
Pemanfaatan nikel saat ini adalah:.
- 69 persen stainless steel.
- 11 persen baterai.
- 7 persen paduan nonbesi.
- 6 persen pelapis.
- 3 persen paduan baja.
- 2 persen pengecoran.
- 2 persen lainnya.
Harga nikel global di seluruh dunia sudah turun kurang lebih 30 persen dalam 12 bulan terakhir, dan diprediksi tahun depan ada surplus stok nikel di dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Jadi dengan begitu gencarnya pembangunan smelter di indonesia, kita membanjiri dunia dengan nikel, harga jatuh terjadi kondisi oversupply.
Namun ada opsi lain, formulasi bahan baterai yang tidak menggunakan nikel. Salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, kini katanya sudah tidak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai lithium yang digunakan, tapi LFP. Khususnya, di pabrik yang basis produksinya di China
LFP (“lithium ferrophosphate”) atau Lithium Iron Phosphate Battery (LiFePO4), adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang digunakan sebagai bahan katodanya.
Baterai LFP memiliki kepadatan energi yang agak rendah daripada oksida kobalt lithium (LiCoO2) yang lebih umum ditemukan di elektronik konsumen. Namun, Baterai LFP menawarkan masa pakai yang lebih lama, kepadatan tenaga yang lebih baik (tingkat energi yang dapat ditarik darinya), harganya yang lebih rendah, lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih aman karena tidak beracun.
LFP memiliki banyak peranan dalam penggunaan kendaraan dan daya cadangan.
Bahan katoda dalam baterai LFP tidak berbahaya, dan karenanya tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau bahaya lingkungan yang negatif. Karena oksigen terikat erat ke molekul, tidak ada bahaya baterai meletus menjadi api seperti yang ada pada Lithium-Ion.
Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan penggunaan LFP untuk mobil listrik memang hanya 27% pada 2022. Namun, cakupan penggunaan ini naik signifikan dari 7% pada 2018.
Sedangkan penggunaan nikel untuk komponen baterai mobil listrik pada 2022 masih sebesar 66%. Namun, cakupan baterai berkandungan nikel tinggi turun dari 78% pada 2022. Ini menunjukkan pangsa pasar LFP terus meningkat sementara baterai nikel tinggi tergerus.
IEA mencatat sekitar 95% LFP diproduksi Cina. Pabrikan mobil listrik asal negara yang sama, BYD, mendominasi penggunaan LFP hingga 50% dari total permintaan baterai tersebut. Sementara, Tesla berkontribusi sebesar 15% dari total permintaan.
Meski Tesla masih menggunakan nikel, penggunaan LFP Tesla meningkat dari 20% dari total mobil yang diproduksi pada 2021 menjadi 30% pada 2022.
Baterai mobil listrik lithium ferro phosphate atau LFP berbahan baku besi dan litium yang tak lagi menggunakan nikel sebagai komponen utama. Pabrikan mobil listrik bahkan yang telah beredar di Indonesia seperti Wuling Air Ev dan Binguo EV, termasuk tiga modeal BYD Atto, Seal maupun Dolphin menggunakan teknologi baterai tersebut.
Mobil listrik milik Wuling seperti Air EV dan Binguo EV memilih penggunaan Lithium Ferro-Phosphate (LFP) untuk pasar Indonesia. Jenis ini disebut memiliki keunggulan dari jangka pakai panjang, hingga daya tahan terhadap suhu tinggi.
Wuling Binguo EV varian long range yang memiliki jarak tempuh 333 km memiliki kapasitas baterai 31,9 kWh, sedangkan versi premium range atau 410 km berkapasitas 37,9 kWh.
Sementara untuk Air EV standard range dan lite dengan jarak tempuh 200 km memiliki kapasitas baterai 17,3 kWh, sedangkan long range berkapasitas 26,7 kWh yang mampu melaju sampai 300 km.
Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230712132850-85-972548/industri-baterai-kendaraan-listrik-dipacu-nikel-diburu.
https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1679815-pernyataan-lengkap-thomas-lembong-soal-lfp-yang-buat-gibran-tanya-apakah-cak-imin-anti-nikel?page=3
https://ciptakaryaenergi.co.id/product/battery-lithium-lifepo4/
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/21/cek-data-mana-baterai-mobil-listrik-lebih-populer-baterai-nikel-atau-lfp-yang-disinggung-gibran
https://m.bisnis.com/amp/read/20240122/46/1734230/baterai-lfp-tanpa-nikel-digunakan-wuling-byd-dan-tesla
Sunday, January 21, 2024
Greenflation
Greenflation atau inflasi hijau adalah jika harga komoditas naik karena transisi menuju ekonomi hijau. Dikutip dari situs resmi Bank Sentral Eropa (ECB), saat ini banyak perusahaan yang mengadaptasi proses produksinya dalam upaya mengurangi emisi karbon.
Berdasarkan Blog Kamus Cambridge, greenflation diartikan sebagai "kenaikan harga akibat peralihan ke ekonomi hijau".
Sebagian besar teknologi ramah lingkungan memerlukan sejumlah besar logam dan mineral, seperti tembaga, litium, dan kobalt, terutama selama masa transisi. Misalnya saja kendaraan listrik yang menggunakan mineral enam kali lebih banyak dibandingkan kendaraan konvensional. Begitu juga pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai membutuhkan jumlah tembaga tujuh kali lipat dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas.
Lalu bagaimana cara mengatasi greenflation?.
Di Eropa, Greenflation memakan korban seperti yang terjadi pada gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) di Prancis. Gerakan rompi kuning mulai mencuat di Prancis pada Oktober 2018 sebelum akhirnya pecah menjadi aksi unjuk rasa pada 17 November 2018. Sejak itu, banyak yang melanjutkan aksi blokade massa yang menyebabkan kemacetan dan kelangkaan bahan bakar menjelang musim libur. Peserta terus menggelar aksi protes setiap Sabtu hingga kini.
Gerakan Rompi Kuning di Prancis sebenarnya fokus ke berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelas pekerja. Pada 2018, Presiden Prancis Emmanuel Macron akhirnya berjanji untuk menaikkan upah dan meringankan pajak setelah demo Rompi Kuning.
Menurut euroactiv, pajak yang dimaksud adalah pajak karbon yang menaikkan harga BBM, sehingga memicu protes.
Dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah (terutama yang berada di daerah pedesaan dan periurban), para pengunjuk rasa menyerukan akhir dari perubahan tersebut dan pengunduran diri Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Gerakan ini telah banyak terlihat di kota-kota Prancis, tetapi daerah-daerah pedesaan telah mengalami mobilisasi luar biasa dalam unjuk rasa tersebut. Rompi kuning dipilih sebagai simbol karena semua pengendara mobil telah diwajibkan oleh hukum—sejak tahun 2008—untuk memiliki rompi bervisibilitas tinggi dalam kendaraan mereka ketika mengemudi. Akibatnya, rompi reflektif telah menjadi tersedia secara luas, murah, dan simbolik.
Sumber :
https://katadata.co.id/tiakomalasari/ekonomi-hijau/65ad2dfeaa68d/apa-itu-greenflation-yang-disebut-gibran-di-debat-cawapres
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240121201943-532-1052499/apa-itu-greenflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud.
https://www.liputan6.com/global/read/5510483/gibran-kaitkan-inflasi-hijau-dengan-gerakan-rompi-kuning-apa-hubungannya?page=2
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240121233627-134-1052596/apa-itu-demo-rompi-kuning-yang-disinggung-gibran-saat-respons-mahfud.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_rompi_kuning
Thursday, January 11, 2024
Carbon Capture Technology & Converting CO2
Carbon Capture Technology & Converting CO2 into Something Useful
By George Vaniotis Ph.D. -August 25, 20220
Carbon Capture Technology
Carbon capture technology has been around for a while, with new advancements being developed to help combat climate change. Carbon capture and storage is a combination of technologies designed to prevent the release of CO2 generated through conventional power generation and industrial production processes and storing the CO2 in underground reservoirs. However, a recent discovery might allow that captured CO2 into valuable products while addressing climate change.
Existing Carbon Capture Technology
CO2 capture technology separates CO2 emissions from the environment and compresses them for storage in a suitable storage location. The compressed CO2 can be transported via pipeline or by traditional shipping methods. The captured CO2 can then be stored in abandoned oil and gas fields, deep saline formations, as well as no longer mineable coal seams. The primary reason CO2 is needed is to reduce emissions generated by industry and power generation, which would allow fossil fuel use to continue for the time being while still generating a significant decrease in CO2 emissions.
Several technologies are currently being employed in the capture, transport, and geological storage of CO2. Typically referred to as “capture technologies”, they can be grouped into three categories, depending on the industry targeted. Development of these technologies has primarily focused on the efficiency of removing CO2 from the other compounds usually emitted by the industrial process.
Post-Combustion: Post-combustion methods involve the capture of CO2 from gas streams produced after the combustion of fossil fuels or other carbon-based materials. The post-combustion separation process involves using solvents to separate carbon dioxide out of the gas and capture it. The thermodynamic driving force for this method is relatively low, typically less than 15%. Common applications for this technology include pulverized coal plants and natural gas combined cycle plants.
Pre-Combustion: This process removes CO2 from fossil fuels before combustion is completed. The fuel in the process is reacted with either steam, air, or oxygen and converted into a mix of carbon monoxide and hydrogen. The carbon monoxide is then converted to CO2 and separated from the hydrogen, which can be used to generate power and/or heat. This process performs slightly better in terms of energy efficiency than post-combustion capture; however, while the energy demand is lower, the capital investment is larger due to the more complex installation.
Oxyfuel Combustion: The oxyfuel combustion process burns fuel using pure oxygen, or a mixture of oxygen and recirculated gas. This produces a flue containing mainly water vapor and a high concentration of CO2 (80%). Since the nitrogen component of air is not heated, fuel consumption is reduced, and higher flame temperatures are possible. The gas is then cooled to condense the water vapor, which leaves an almost pure stream of CO2.
Public Perception & Environmental Impact
With any new technology, there is always some public concern, as well as regulatory uncertainty in its initial stages. The primary concern with carbon capture technology is the storage of CO2 and the potential environmental impact it may cause. While modifications to international legislative provisions have been made recently to accommodate for the offshore storage of CO2, many apprehensions remain concerning storage liability, monitoring responsibility, and the transport of CO2. While general frameworks have been adopted in certain parts of the world, discussions are still ongoing in others, like the United States. According to scientists, this is partly due to the mixed public opinion on the technology, believed to be tied to a general lack of awareness. In fact, in several communities where CO2 storage projects were planned, local stakeholders have shown concern about the risks, leading to protests.
While carbon capture technology and storage can potentially significantly reduce CO2 emissions generated by industrial installations, it still poses a risk to the environment from possible leaks in transportation pipelines or storage sites. CO2 leaking from a pipeline entails similar risks to natural gas leaks, though CO2 is not flammable. Moreover, while not poisonous, it can lead to asphyxiation if the concentration in the air becomes high enough. As such, several countries have established regulatory standards for the transport and permanent storage of CO2. Negative environmental impacts can be associated with the toxicological impact related to the use of solvents to chemically trap the CO2 and the energy penalty required to operate the capture unit.
New Discovery
Engineers at the University of Cincinnati have developed a promising new CO2 conversion procedure that may make the process more economically viable for industries1. The method comprises an electrochemical system that converts emissions from chemical and power plants into useful by-products that can be used to generate new materials. Utilizing a two-step cascade reaction, this new technique converts carbon dioxide first into carbon monoxide and then into ethylene. Ethylene is an important industrial organic chemical that has been called “the world’s most important chemical”1. It’s used in the production of a range of plastics from water bottles to PVC pipe and textiles, to manufacture ethylene oxide, polyethylene for plastics, alcohol, and even rubber found in tires and insulation.
The significance of using a two-stage conversion process is that ethylene selectivity can be increased while also increasing productivity in a process that can be applied to various reactions, given its simple electrode structure. In the future, this technique can be used to reduce carbon emissions while also generating a profit for the industry, eliminating one of the main drawbacks of current carbon capture processes. However, the current process, using copper, requires more energy than it produces in ethylene. While great strides have been made in improving the process, more work still needs to be done, though a superior catalyst than copper would likely solve the economic issue.
Sumber :
https://blog.labtag.com/carbon-capture-technology-converting-co2-into-something-useful/







