Pages

Thursday, May 26, 2022

Carbon Footprint Logistics Companies Ways

5 Ways Logistics Companies Can Lower Their Carbon Footprint


It’s a fact that half of the major logistics players worldwide do not even measure their CO2 emissions. It follows that they are also highly unlikely to be taking measures voluntarily to reduce them.

Haulage companies are part of the supply chain. A growing number of larger non-haulage corporations are very conscious of their environmental impact and demand relevant emission numbers from their suppliers. That is so they can be seen to be at least monitoring the environmental impact of their supply chains.

While being environmentally aware is a desirable sentiment in all of us, logistics companies can reap some deserved PR and commercial benefits where they have made genuine and consistent efforts to go greener.


What constitutes a company’s carbon footprint?

A company’s combined total emissions of greenhouse gases through both direct and indirect activities. It's produced every day by your vehicles, your people, your suppliers, wastage, and even by the products you use.


Where to begin reducing your impact on the environment

If you are not already taking measures to reduce and minimize your company’s environmental impact, then the first step must be a decision to do so.

Then initiate these activities:

  • Institute a method of identifying, measuring, and recording your company’s emissions so that progress can be measured.
  • Determine what steps your company will take and assign actions to individuals or departments.
  • Publish your company’s progress at regular intervals to demonstrate your commitment.

As with many successful initiatives, it pays to open up the debate to the entire workforce. A shared sense of ownership and pride in participating maximizes effort.


Identify the main causes of CO2 emissions and measure them

The most common sources will come as no surprise. These are hotspots to focus on:

  • Haulage fleet
  • Fuel
  • Warehousing
  • Business travel
  • Electricity supply
  • Heating oil and gas supply
  • Waste

The sort of equation you should be aiming to develop is:

Total energy consumption (fuel, electricity) x Emission Factors (fuel, electricity) = carbon dioxide equivalent (CO2e)

There are many websites dedicated to helping you and we suggest starting with this UK not-for-profit organisation, the Energy Saving Trust. There you will find excellent guidelines and links to government and other helpful advice. The UK Business Climate Hub has highly practical advice and examples of ways in which emissions can be cut.


1. Fuel is the most significant contributor to your CO2 emission level

That is perhaps stating the obvious but it makes sense to address the bigger causes first. Even very minor changes will be multiplied by the sheer volume of fuel consumption and may deliver excellent results.

Fuels such as liquid hydrogen are still in the early stages of commercial development and are not something that can be adopted today. Green diesel and other biofuels suffer from poor availability of refueling points.

Electric energy costs are half those of diesel and the payback period is estimated at 8-10 years. Tesla is launching an all-electric HGV with an anticipated list price of £140k. Other suppliers will certainly launch their own range over the next two years.


2. Switch to a green electricity supplier and switch from gas to electricity

Both gas and electricity generate carbon emissions for every energy unit you consume. However, the carbon profile of electricity has diminished in recent years, while that of gas has not changed much, if at all. That’s due to changes in the electricity generating industry because of the greater proportion of supply by wind farms and solar too, to a lesser extent.

Low and zero-carbon electricity suppliers promise to reduce your company’s carbon footprint. This is a burgeoning sector on the UK utility scene, with companies such as this one offering zero-carbon electricity.


3. Insulate, Insulate, Insulate

One of the oldest and longest-standing energy savings methods has often been overlooked by the industry. Older industrial units are notoriously energy inefficient in general. There is always scope to retrofit insulation on floors, walls, ceilings, roofs, windows, doorways, and docking bays.


4. Know your suppliers and their carbon footprint

Indirect carbon emissions count too and your supply chain is a major contributor. A McKinsey investigation reported that the supply chains of many consumer companies generate far more emissions and environmental impact than the company's own operations.

Knowing what your supply chain’s carbon emissions are is one thing. Managing them is a different matter. The Warwick Business School, part of Warwick University published a very useful guide on How to manage your supply chain's carbon footprint.


5. Improve waste management – Reduce, Reuse, Recycle

Aim for a zero-waste approach for immediate environmental benefits. That starts with assessing how and where your company currently generates, manages, and disposes of waste. No business is likely to ever achieve 0% waste but publishing that as a target internally focuses minds on proactive ways of achieving as close as possible to zero.


Finally – it’s really important to make a start

Sustainability is the buzzword of the decade and is likely to remain a highlight of environmental protection and climate change control. Reducing carb emissions is likely to be a journey rather than a quick win, with multiple savings along the way. Making a start is the single most important step you can take today.


Sumber :

https://www.linkedin.com/pulse/5-ways-logistics-companies-can-lower-carbon-footprint-availtech-1c/

Monday, May 16, 2022

Desa Menciptakan Ekonomi Sirkular

Dow serta Bintari bantu pengelolaan sampah di Semarang

Selasa, 17 Mei 2022 | 13:07 WIB

Dow, perusahaan material science bekerja sama dengan Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan serta pembangunan berkelanjutan untuk membantu pengelolaan sampah sekaligus mempromosikan ekonomi sirkular di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Didukung penuh oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, inisiatif ini membantu program pemkot dalam mengatasi masalah sampah melalui sejumlah program pengelolaan sampah di enam desa dalam rentang waktu 1,5 tahun mulai April 2022.

“Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang memberikan apresiasi pada Bintari serta Dow Indonesia atas inovasi mereka dalam menyelenggarakan program pendampingan bank sampah dengan TPS3R sebagai tulang punggung aktivitas daur ulang, serta mengadakan kegiatan yang mendorong sinergi serta kolaborasi antar-pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat khususnya pelaku kegiatan di bank sampah lokal, pemerintah daerah serta kelurahan, sampai pengusaha,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, FX. Bambang Suranggono dalam keterangan resmi Dow pada Selasa.

Ia menambahkan bahwa pendampingan bank sampah serta Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse serta Recycle (TPS3R) merupakan salah satu kunci dari program unggulan Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang di tahun 2022, yakni Program GERAI ESHPE (Gerakan Implementasi Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Sampah Hulu Perkotaan).

Program tersebut antara lain berisi kegiatan edukasi pentingnya pemilahan serta pengelolaan sampah pada 1.000 keluarga yang tinggal di enam desa tersebut, serta meningkatkan kapasitas TPS3R serta bank sampah untuk menciptakan ekonomi sirkular. 

Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan sampah rumah tangga dari 180 kg menjadi 360 kg per hari melalui kolaborasi dengan enam unit TPS3R, yang masing-masing terdapat di setiap desa. 

Keenam TPS3R tersebut ialah TPS3R Resik Mandiri di Desa Sambiroto, TPS3R Kampung Pilah Sampah di Desa Mangkang Kulon, TPS3R Sendang Mulyo di Desa Sendang Mulyo, TPS3R Sido Rahayu di Desa Purwosari, TPS3R Polaman di Desa Polaman, serta TPS3R Gemah di Desa Gemah.

Riswan Sipayung, Presiden Direktur Dow Indonesia, mengatakan sampah merupakan permasalahan kompleks, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, serta diperlukan kolaborasi berkelanjutan antar para pemangku kepentingan untuk mengatasinya.

“Melalui kerja sama dengan Bintari, kami ingin mendorong sinergi antar pemangku kepentingan sekaligus perubahan perilaku pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, dimulai dari lingkungan rumah tangga. 

Kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen kuat Dow untuk mencapai target keberlanjutan perusahaan, sekaligus mendukung target keberlanjutan pemerintah dengan memprioritaskan ekonomi hijau, ekonomi sirkular, serta pengurangan emisi karbon,” katanya. 

Sebagai salah satu kota penghasil sampah terbesar di Indonesia, Semarang menghasilkan sekitar 1.270 ton sampah per hari serta sekitar 900 ton di antaranya dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) setiap hari. Hanya sebagian kecil dari sampah yang didaur ulang serta sisanya terbuang ke laut yang kemudian berdampak terhadap lingkungan.

Pemkot Semarang telah meluncurkan berbagai kebijakan serta inisiatif yang relevan untuk membantu mengatasi masalah pengelolaan sampah, seperti program kantong plastik berbayar untuk meminimalkan jumlah sampah plastik, menetapkan jalur khusus untuk truk sampah, serta memasukkan pengolahan sampah ke dalam Proyek Energi Listrik kota di TPA Jatibarang.


Sumber :

https://portalsidoarjo.com/2022/05/17/dow-serta-bintari-bantu-pengelolaan-sampah-di-semarang-infomenarik.html

Thursday, May 12, 2022

Kijang Innova Listrik

Alasan Toyota Indonesia Kembangkan Kijang Innova Listrik

Sabtu, 2 April 2022 15:07 WIB

Toyota Indonesia membuat kejutan dengan meluncurkan prototipe Kijang Innova listrik pada pembukaan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 31 Maret 2022. EV di belakang nama Kijang Innova menandakan bahwa model tersebut sepenuhnya bertenaga listrik.

Mobil MPV itu tidak hanya dipajang di booth Toyota di dalam pameran IIMS 2022, tetapi sudah dapat dikendarai mengeliling area parkir JIExpo. Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto termasuk salah satu yang pertama kali menjajal Kijang Innova EV.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan bahwa pemilihan Kijang Innova sebagai kendaraan listrik karena sejarah pada model tersebut yang lekat dengan Indonesia. "Dilihat dari sejarahnya, Kijang ini dikembangkan dan lahir di Indonesia, dipasarkan sejak 1977," kata Bob di Ancol, Jakarta Utara, Jumat malam, 1 April 2022.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mninjau pameran Indonesia International Motor Show di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Kehadiran Toyota Kijang Innova listrik ini semakin mendekatkan target pemerintah. Berdasarkan beleid yang sama, pemerintah menargetkan produksi mobil listrik pada 2025 sebanyak 400.000, kemudian pada 2030 bertambah menjadi 600.000 unit, dan pada 2035 sebesar 1 juta unit. Tempo/Tony Hartawan

Selain itu, lanjut dia, prototipe Kijang Innova listrik yang dipamerkan masih dari basis Kijang Innova Reborn tipe Venturer. Mudahnya, dia menambahkan, Kijang Innova konvesional diubah menjadi 100 persen tenaga baterai.

Memanfaatkan model yang sudah ada ini menurut Bob dapat lebih efisien dibanding membuat model yang benar-benar baru. Pada dasarnya, model yang sudah diproduksi secara lokal ini memiliki jaminan supply chain yang sudah mapan. Sudah terstruktur, memiliki kandungan lokal yang banyak (Kijang Innova saat ini memiliki kandungan lokal di atas 80 persen). "Yang sudah berjalan tidak terdisrupsi, tinggal ditambahkan teknologi baru saja," tutur dia.

Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis 31 Maret 2022. Detail spesifikasi Toyota Kijang Innova EV Concept masih dirahasiakan oleh pihak PT TMMIN maupun PT TAM Tempo/Tony Hartawan

"Kami melakukan adjusment terhadap Kijang Innova yang sudah diproduksi selama ini, kami kembangkan dengan versi listrik. Jadinya Kijang Innova listrik ini sebagai study car yang kami akan terus kembangkan dan pelajari."

Bob menyampaikan bahwa setidaknya terdapat 30 persen ubahan pada Kijang Innova Venturer hingga menjadi versi listrik. Ubahan itu berupa penggantian mesin konvensional dengan motor listrik dan instalasi modul baterai yang diletakkan di bawah lantai mobil. "Baterainya 60 kWh, tetapi masih impor," kata Bob yang enggan menyebutkan secara detail baterai buatan pabrikan mana yang digunakan.

Menurut Bob, Toyota Indonesia menghadirkan prototipe Kijang Innova listrik karena ingin menyediakan full range technology pada seluruh modenya. Mulai dari bermesin konvensional (ICE), hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, hingga baterai (mobil listrik). "Prinsipnya semua model disiapkan teknologinya," tutur dia.

Saat ini TMMIN memproduksi lima unit prototipe Toyota Kijang Innova listrik. Tiga unit berada di Indonesia dengan dua unit dipamerkan di IIMS 2022. Sedangkan dua unit lagi dikirim ke Thailand untuk pengembangan dan penelitian.


Sumber :

https://otomotif.tempo.co/read/1577700/alasan-toyota-indonesia-kembangkan-kijang-innova-listrik/full&view=ok

Tuesday, May 10, 2022

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penularan Penyakit Menular Lintas Spesies 

Para peneliti menyarankan setidaknya 15.000 penularan virus lintas spesies baru diperkirakan terjadi pada tahun 2070, didorong oleh perubahan iklim 2 derajat Celcius, yang merupakan skenario terburuk yang disoroti di bawah Perjanjian Paris. 

10 Mei 2022

Para ilmuwan sekarang percaya bahwa pemanasan global akan secara signifikan meningkatkan jumlah penularan virus lintas spesies dalam beberapa dekade mendatang. Perubahan iklim menimbulkan risiko lebih lanjut bagi hewan dan manusia lain dari penyakit menular, seperti COVID-19, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature. 

Ketika suhu global terus meningkat, banyak spesies hewan kemungkinan akan bermigrasi ke lingkungan baru, membawa parasit dan patogen mereka bersama mereka dan memfasilitasi berbagi virus antara spesies yang sebelumnya tidak memiliki interaksi, menurut penelitian tersebut. 

Peningkatan itu kemudian dapat membantu dalam "limpahan zoonosis," atau penularan patogen dari hewan liar ke manusia. 

Para peneliti menyarankan setidaknya 15.000 penularan virus lintas spesies baru diperkirakan terjadi pada tahun 2070, didorong oleh perubahan iklim 2 derajat Celcius, yang merupakan skenario terburuk yang disoroti di bawah Perjanjian Paris. 

Sementara pertemuan baru antara spesies mamalia diharapkan terjadi di mana-mana di dunia, mereka terutama diharapkan terjadi di daerah tropis rumah bagi sebagian besar penyakit menular yang mampu menularkan limpahan zoonosis, seperti wilayah Afrika tropis dan Asia Tenggara yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi pula. 

Peristiwa berbagi virus baru ini diprediksi sebagian besar didorong oleh kelelawar, yang kemungkinan besar menampung virus dengan peluang tinggi untuk menular ke manusia. 

Pergeseran yang didorong oleh iklim di hotspot untuk penyebaran spesies dan evolusi virus mungkin sudah terjadi, mengingat pemanasan sudah berlangsung dengan baik. Virus COVID-19 kemungkinan berasal dari penularan dari hewan ke manusia , menurut Organisasi Kesehatan Dunia. 

Virus kemungkinan ditularkan dari kelelawar ke hewan lain dan kemudian ke manusia, menurut laporan bersama oleh China dan WHO yang dirilis pada Maret 2021. 

Temuan menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi menjadi kekuatan pendorong dominan dalam transmisi virus lintas spesies, yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit menular ke manusia, kata para penulis, menyoroti kebutuhan untuk menggabungkan pengawasan virus dengan penilaian perubahan. untuk rentang spesies sebagai akibat dari perubahan iklim.


Sumber :

https://lifestyle.bisnis.com/read/20220510/106/1531574/perubahan-iklim-tingkatkan-risiko-penularan-penyakit-menular-lintas-spesies.

Saturday, April 30, 2022

How Asian Companies Can Take Part In The Green Start-Up Boom

By Gautam Kumra and Vivek Lath

The opportunities for building green businesses are more attractive than ever and Asian energy players – both established firms and start-ups – should seize the moment and apply the lessons learned globally.

Asia could potentially see up to a ten-fold increase in overall start-up activity over the next three to four years, recent McKinsey research suggests. A large proportion of that could be in green and sustainability-related sectors.

Figures show that over the past three years, more than 25 green businesses around the world have joined the unicorn club, with a combined valuation exceeding $70 billion. There has also been a more than 67% increase in deals since 2018, with a total of $2 billion invested globally in sustainability-themed start-ups across 260-plus deals. Europe and North America currently lead in terms of investment size, with Asia rapidly catching up.

Much of this momentum is concentrated in the energy industry due to advances in technology, financing, and regulatory policies. In power generation renewable energy (RE), sources will only grow, and are expected to account for half of all power generation by 2035. In shipping, the pressure to decarbonize has also encouraged the development of alternative fuels such as liquefied natural gas (LNG), hydrogen and ammonia. In road transport, there is an ongoing major shift from internal combustion engines (ICEs) to hybrid and electric vehicles (EVs).


Committed To Action

Companies should recognize the urgency of the moment and act decisively. Value pools are shifting and all stakeholders – consumers, investors, and regulators – are now committed to sustainability. Firms and investors need to rapidly pivot to greener avenues and be committed to following this path.

The lessons learned from other regions show the strategic way forward on this green path:

  • Identify replicable opportunities. Different regions and different countries are further along their green journey than others. Rates of adoption of the latest technology also differ. As a result, companies can look at various green sectors (such as hydrogen or batteries) in Europe and the United States, or even across neighbors in Asia, and see what they can apply in their respective countries
  • Build with agility and strength. Top business leaders need to achieve a balance between having the agility of a start-up and the strength of an incumbent. Having a focus on leadership, customers, and talent, allows firms to launch new ventures that are both a pathway to organic growth—safeguarding at-risk revenue streams – and new growth areas
  • Corporate Venturing. Leaders need to set up a screening system and then invest meaningfully in innovative startups. Taking such a portfolio approach diversifies risk and builds the capability for launching new businesses. BP, for example, created its in-house, business-building engine called Launchpad to set up five digitally led, low-carbon businesses
  • Find partners. By seeking out partnerships, companies can expand and replicate what other companies have learned. For example, Japanese onshore wind players Japan Wind Development (JWD) and Eurus Energy partnered with Orsted. The Danish firm is the world's largest developer of offshore wind power. Together the partners are jointly bidding to win one of Japan’s first offshore wind projects in 2022 
  • Work with the public sector. Regulatory incentives such as feed-in tariffs and other subsidies are behind many of the notable success stories in green business building. These have also created value beyond the local markets in which they originated. For example, Chinese electric vehicle companies have grown out of domestic subsidies and are now supplying vehicles and components to global markets


Green-Business Value Proposition

Developments in both technology and government policy have decisively shifted momentum towards sustainability in the energy sector. Governments are working towards carbon neutrality with more than 130 nations committed to or considering a net-zero target. One in five global Fortune 2000 companies have pledged the same. At the same time, consumers are paying more attention to the environmental credentials of the brands they consume.

As consumers, investors and regulators demand more sustainability from companies, the green-business value proposition should accelerate. In this dynamic landscape, incumbents will find themselves defending their positions and competing against start-ups hungry for a slice of the pie. The winners will be those that can identify emerging trends, create clear value propositions, work hand in hand with policymakers and execute at speed.


Gautam Kumra is the Chairman of McKinsey’s Asia offices, while Vivek Lath is a partner based in McKinsey’s Singapore office.


Sumber :

https://sponsored.bloomberg.com/article/mckinsey/how-asian-companies-can-take-part-in-the-green-start-up-boom

Friday, April 29, 2022

Dodo Punah karena Evolusi Lambat dan Perubahan Lingkungan

Bagaimana Burung Dodo Bisa Punah? 
29/04/2022


Burung dodo merupakan burung endemik yang tinggal di Pulau Mauritius. Namun, burung dodo kemudian punah dari muka Bumi tanpa satu pun spesimen burung yang mampu bertahan hidup. Burung yang bisa tumbuh hingga berukuran satu meter ini bahkan tak sempat didokumentasikan. 

Peneliti modern harus melihat ke lukisan sejarah dan karya seni untuk mempelajari mengenai seperti apa rupa dodo. 

Itu mengapa kepunahan dodo hingga kini masih menjadi misteri dan bahan penelitian para ahli. Meski begitu, musnahnya burung ini disebut karena kombinasi dari evolusi lambat burung dan perubahan lingkungan yang cepat. 

Mengutip Live Science, Kamis (28/4/2022) spesies yang tak bisa terbang dan lambat berkembang biak ini rentan terhadap datangnya predator baru di pulau tempat mereka hidup yang aman. Selama jutaan tahun, sebelum manusia menginjakkan kaki di Mauritius, pulau tersebut tak memiliki predator darat yang besar. 

Namun saat pulau kedatangan predator, dodo lambat merespons ancaman yang baru datang itu. Artikel di National Geographic menuliskan, dodo dikatakan tak takut pada manusia yang mendarat di pantai pulau mereka, sehingga burung-burung ini mudah ditangkap dan dibunuh oleh para pelaut Belanda yang kelaparan. 

Dan bukan hanya manusia saja yang mengonsumsi dodo. Spesies yang ikut dibawa di pulau termasuk tikus, babi, kambing, dan monyet, menurut sebuah studi di Journal of Vertebrate Paleontology kemungkinan juga menangkap dan memakan dodo beserta telurnya. 

Tragisnya bagi dodo, setiap telur yang dimakan mewakili satu-satunya kesempatan dodo betina untuk bereproduksi tahun itu. Tanggal resmi kepunahan dodo tak pasti. Populasi dodo menyusut jauh dari pengamatan manusia. 

Namun menurut sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature, peneliti yang menggunakan metode statistik memperkirakan kepunahan dodo pada akhir 1690. 

Menghidupkan kembali dodo Beberapa ilmuwan pun berambisi menghidupkan kembali dodo ke Bumi, seperti halnya ambisi mereka menghidupkan mammoth. Tetapi menurut ahli biologi molekuler evolusioner Beth Shapiro di University of California, kecil kemungkinan itu bisa terjadi dalam waktu dekat. 

Ada sejumlah alasan mengapa dodo menjadi rumit untuk dihidupkan kembali. Menurut Shapiro, dodo bukan kandidat yang baik untuk kloning karena hanya ada sedikit sumber DNA, reproduksi burung yang sangat rumit, dan belum tentu ada habitat bagi mereka untuk kembali. 

Kloning sulit dilakukan karena tak ada sel hidup dari dodo yang tersedia sekarang sebagai media untuk mentransplantasikan DNA. Yang bisa dilakukan adalah mengambil genom hewan yang berkerabat dekat kemudian mengubahnya agar menyerupai dodo. 

Adapun kerabat terdekat dodo yang masih hidup adalah merpati Nicobar (Caloenas nicobarica). Itu pun sepertinya juga belum cukup karena perbedaan genetik antara kedua spesies burung jauh lebih besar, sehingga lebih sulit untuk membuat hibrida yang sukses di laboratorium. 

Namun beberapa saat yang lalu Shapiro dan timnya melakukan studi dan menyebut telah berhasil mengurutkan seluruh genom dodo. Penelitian ini belum ditinjau oleh rekan sejawat dan tim bermaksud untuk segera mempublikasikannya. 

Merekonstruksi genom dodo bukanlah hal yang mudah. Pertama, Shapiro dan timnya harus menemukan DNA dodo yang utuh, terkubur di sumsum tulang yang telah bertahan ratusan tahun di lingkungan Mauritius yang hangat dan lembab. 

Kemudian, mereka harus memilah DNA yang ditemukan milik dodo dan mana yang berasal dari jamur serta bakteri yang telah menyerang tulang saat mereka membusuk. Meski pengurutan genom sudah berhasil dilakukan, ini belum menjamin kebangkitan dodo kembali karena sistem reproduksi burung yang terbilang rumit. 

Peneliti menyebut cukup sulit untuk memanen dan memanipulasi sel telur burung dengan aman. Bahkan jika para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali dodo, pulau tempat mereka pernah tinggal adalah tempat yang sangat berbeda saat ini. 

"Jika kita tidak memecahkan masalah yang menyebabkan kepunahan mereka sejak awal, mungkin tidak ada gunanya menghabiskan semua energi dan upaya yang diperlukan untuk membawa mereka kembali," ungkap Shapiro.


Sumber :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bagaimana Burung Dodo Bisa Punah?", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/sains/read/2022/04/29/160300123/bagaimana-burung-dodo-bisa-punah-?page=all#page2.
Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Bestari Kumala Dewi

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Monday, April 18, 2022

Larva Black Soldier Fly

Larva Black Soldier Fly Solusi Penanganan Sampah Dapur yang Mendatangkan Cuan 

Selasa 19 April 2022, 12:30 WIB 

BIOKONVERSI dengan menggunakan tentara lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) selain menjadi solusi penanganan sampah organik, juga bernilai ekonomi tinggi dari produk yang dihasilkan berupa maggot dan kompos. 

"Maggot BSF memiliki keunggulan sebagai pakan ternak. Eropa bahkan telah memanfaatkan larva sebagai salah satu pakan ternak berkelanjutan demi menunjang kebutuhan pangan. Terlebih kebutuhan akan protein hewani meningkat seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan populasi," terang Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dewi Apri Astuti, dikutip dari laman IPB. 

Sampah organik, katanya, dapat digunakan sebagai media pertumbuhan larva. Produknya dapat dikomersialisasikan dalam larva segar, larva kering, tepung maggot dan sisa limbah seperti kitin dan kitosan. Sisa limbah ini dapat dipergunakan di bidang kosmetik dan makanan. 

“Media sangat mempengaruhi bagaimana kualitas larva. Bagusnya limbah-limbah dapur atau pasar dikombinasikan dengan sumber-sumber protein yang lebih tinggi,” sebutnya.   

Dewi mengungkapkan, dari media sampah organik sekitar 800 kg dapat menghasilkan 300 kg larva. Harga media dan biaya operasionalnya berbeda-beda tergantung lokasi. Namun kombinasi dengan bungkil sawit dinilai lebih baik karena dapat menghasilkan larva berprotein tinggi.   

“BSF sudah merambah ke industri yang menjanjikan. Pembudidaya pemula maggot dapat memulainya dengan cukup mengumpulkan (larva) untuk pakan ikan dan unggasnya,” tambahnya. 

Ia menjelaskan bahwa larva BSF merupakan nutrien berkualitas, mudah dipelihara, murah dan memberi solusi dalam masalah lingkungan.  “Kehadiran BSF sebagai pakan ternak ini memiliki potensi untuk mengolah limbah menjadi rupiah,” katanya. 

Menurutnya, kehadiran pakan berkontribusi signifikan untuk menghasilkan produksi ternak yang optimum. Dikarenakan biaya pemberian pakan yang cukup tinggi, dunia peternakan mencari alternatif pakan yang efisien, salah satunya BSF. 

Solusi ini dapat mengatasi tingginya angka impor tepung ikan yang menyebabkan defisit negara. Dewi mengatakan, IPB University juga memiliki rumah BSF dan produksinya sudah kontinyu. Di rumah BSF, ia mengkombinasikan limbah ternak yang biasanya berkadar nitrogen tinggi dengan limbah sayuran/hijauan atau cacahan sisa pakan ternak. Rasio ini dapat menghasilkan komposisi larva yang berkualitas baik. 

“Nutrisi larva BSF sebagai pakan ternak sudah terbukti nyata memiliki keunggulan. Pemberian pada unggas tidak memberikan perbedaan yang nyata dalam hal konsumsi. Bahkan, dapat menekan biaya produksi serta menghasilkan berat telur lebih tinggi serta rendah kolesterol dan tingkat imunitas yang baik,” ujarnya. 

Selain itu, lanjutnya, dapat diolah sebagai susu pengganti anak ternak dan menjadi produk pakan tinggi energi bagi ruminansia. Produk samping kitosannya juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri metanogen pada limbah ternak yang berpengaruh buruk pada kualitas lingkungan.


Sumber: 

https://mediaindonesia.com/humaniora/486771/larva-black-soldier-fly-solusi-penanganan-sampah-dapur-yang-mendatangkan-cuan