Pages

Wednesday, August 2, 2023

Paraben pada Plastik dan Dampaknya

5 Bahaya Paraben untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Harus Diwaspadai

Ada beragam bahaya paraben untuk ibu hamil dan menyusui. Hal ini penting untuk diketahui, sebab paraben banyak digunakan dalam berbagai produk rumah tangga. Tak hanya ibu hamil atau menyusui, bahaya bahan pengawet ini juga bisa berdampak pada buah hati.

Paraben adalah bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kontaminasi kuman dalam berbagai jenis produk, seperti kosmetik, pembersih rumah tangga, makanan, plastik kemasan, dan parfum.

Beberapa jenis paraben yang paling umum digunakan adalah methylparaben, propylparaben, dan butylparaben. Selain itu, paraben juga banyak ditemukan dalam produk perawatan tubuh, misalnya krim stretch mark yang sering digunakan ibu hamil atau menyusui untuk menghilangkan guratan halus di tubuh.

Meski bermanfaat, paraben bagi ibu hamil dan menyusui dipercaya dapat berdampak terhadap kehamilan, bahkan pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari.


Berbagai Bahaya Paraben untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Bahaya paraben bagi ibu hamil dan menyusui diketahui setelah beberapa penelitian mengungkapkan bukti bahwa paraben dapat melewati plasenta dan meresap ke dalam ASI.

Berikut ini adalah beberapa efek paraben apabila digunakan oleh ibu hamil dan menyusui:


1. Meningkatkan risiko obesitas pada anak

Ketika ibu hamil menggunakan kosmetik atau perawatan tubuh yang mengandung paraben, anaknya akan dua kali lebih berisiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari.

Namun, perlu diingat bahwa paraben bukanlah faktor utama seorang anak mengalami kelebihan berat badan. Kurang olahraga dan konsumsi terlalu banyak kalori juga dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami obesitas.


2. Meningkatkan risiko terkena diabetes gestasional

Paraben juga diketahui dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami diabetes gestasional. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah tinggi selama kehamilan dan memengaruhi kesehatan janin.

Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan pengaruh paraben terhadap kadar gula darah selama kehamilan.


3. Memengaruhi berat, tinggi, dan usia kelahiran bayi

Sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa paraben turut memengaruhi kondisi janin. Beberapa dampak tersebut meliputi bayi lahir dengan berat badan rendah, bayi terlahir pendek, dan kelahiran prematur.

Bayi yang terlahir prematur tentu membutuhkan perawatan medis lebih lanjut, karena organ tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.


4. Meningkatkan risiko infertilitas pada anak laki-laki

Efek paraben bagi ibu hamil lainnya adalah memengaruhi kesuburan anak laki-laki yang berada dalam kandungannya. Hal ini berdasarkan sebuah riset mengenai anak yang terpapar paraben selama masa kehamilan berisiko memiliki bentuk dan pergerakan sperma yang tidak normal.


5. Meningkatkan kekambuhan eksim pada bayi

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi sangatlah penting. Akan tetapi, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ibu menyusui yang menggunakan produk dengan kandungan paraben dapat meningkatkan risiko kekambuhan eksim pada bayi.

Meski begitu, faktor pemicu kekambuhan eksim pada bayi juga bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti alergi susu sapi, kulit bayi kering, atau alergi dengan benang dari pakaian yang dikenakan.

Mengingat ada banyak kemungkinan bahaya paraben terhadap ibu hamil dan menyusui, Bumil maupun Busui disarankan lebih cermat dalam memilih produk kosmetik atau perawatan tubuh, seperti tabir surya, pasta gigi, atau serum wajah.

Agar lebih aman, Bumil dan Busui bisa memilih produk bebas paraben atau berbahan alami dan ringan. Selain paraben, ada berbagai zat aktif lainnya yang perlu Bumil dan Busui hindari, seperti retinoid, phthalates, atau oksibenzon.

Itulah berbagai bahaya paraben untuk ibu hamil dan menyusui yang penting untuk diketahui. Agar terhindar dari berbagai bahaya tersebut, Bumil dan Busui dianjurkan untuk konsultasi ke dokter lebih dulu sebelum menggunakan produk kosmetik atau perawatan tubuh tertentu.


Sumber :

https://www.alodokter.com/5-bahaya-paraben-untuk-ibu-hamil-dan-menyusui-yang-harus-diwaspadai

Rokok bagi Kesehatan

31 Mei 2022

Tiap puntung rokok diketahui mengandung 15.600 helai fiber dengan 90% berbahan selulosa asetat. Bahan ini terurai sebatas plastik mikro dan bisa memasuki sistem pencernaan.

Rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan. Sampah sisa rokok berupa puntung juga berdampak pada tubuh. Kandungan plastik mikro dari puntung rokok masuk ke tubuh manusia melalui jalur pencernaan dan pernafasan, demikian disampaikan Eka Chlara Budiarti, peneliti dari organisasi konservasi lingkungan Ecological Observation and Conservation Wetlands atau ECOTON.

Ia mengutip data The Ocean Conservancy, dalam 25 tahun terakhir relawan International Coastal Cleanup (ICC) berhasil mengumpulkan sekitar 53 juta puntung rokok. Konsumsi rokok mengakibatkan sekitar 4,5 triliun puntung rokok dibuang setiap tahunnya di seluruh dunia. Ini setara dengan 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, dan dua juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok.

Riset yang dilakukan Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia di Amerika Serikat, dan dirilis pada 2015 menunjukkan Indonesia sebagai negara nomor dua terbesar penyumbang sampah laut setelah Cina. Ditemukan 187,2 juta ton sampah di laut Indonesia, mayoritas di antaranya adalah puntung rokok.

"Selama ini yang menjadi perhatian adalah abu rokok yang dikategorikan sebagai limbah B3. Padahal, pada puntung rokok ada zat-zat sisa yang harusnya dikategorikan sebagai limbah B3. Indonesia malah masih menganggap puntung rokok sebagai sampah residu," kata Eka kepada DW Indonesia.

Eka mengatakan setiap satu puntung rokok mengandung 15.600 helai fiber dengan 90% berbahan selulosa asetat. Bahan ini sulit terurai menjadi kompos dan hanya terurai sebatas partikel plastik mikro. Puntung rokok yang kembali ke lingkungan, terutama di perairan, akan melepaskan 100 partikel plastik mikro per hari. Limbah mikroplastik tersebut diyakini sama banyak dengan limbah cucian pakaian.

"Mikroplastik dari rokok ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui saluran percernaan yang berawal dari kerongkongan. Bisa juga dari saluran pernafasan dan mengendap di paru-paru sehingga bisa mengiritasi paru-paru," papar Eka.


Dikonsumsi manusia secara tidak langsung

Setiap satu puntung rokok, kata Eka, dapat mencemari 1.000 liter air di perairan Indonesia. Air yang tercemar plastik mikro ikut mencemari bakteri, plankton, dan biota laut lain. Ketika plastik mikro dikonsumsi oleh ikan, ikan ini akan mengalami kekenyangan semu dan akhirnya mati.

"Ikan 'kan tidak memiliki indera perasa, bentuk mikroplastik menyerupai plankton, sehingga ikan memakan mikroplastik tersebut. Akibatnya ikan mati. Bisa juga ikan tersebut dikonsumsi oleh manusia," ujar Eka. 

Eka menambahkan, sekitar 75% sampah plastik mikro tidak terkelola dengan baik atau tercecer dan dapat menyebabkan gangguan pada rantai makanan, menyumbat saluran drainase, pipa PDAM, dan pipa industri.

"Serta masuk dalam siklus hidrologi, akibatnya menjadi vektor penyebaran penyakit," ujarnya sambil menambahkan bahwa partikel plastik mikro juga bisa mengikat limbah-limbah seperti logam berat, dioksin, pestisida dan polutan lain. Jadi, meskipun sudah bertahun-tahun, sifat plastik mikro ini masih bertahan dan ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia.


Produsen harus ikut bertanggung jawab

Eka mengatakan perlu ada pengakuan dari industri rokok bahwa limbah produknya termasuk sampah B3 yang menimbulkan kerusakan lingkungan dan ekosistem, dan dengan demikian turut bertanggung jawab.

UU No.18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah mengatur Extended Producer Responsibility (EPR). EPR adalah tanggung jawab produsen dalam mengatur regulasi pengelolaan kemasan, khususnya yang tidak dapat di daur ulang.

"Sebelum memasarkan, industri rokok harus memastikan bahwa produk mereka memperhitungkan dampak lingkungan. Mulai dari bagaimana setelah produk dikonsumsi, industri rokok harus mempertanggungjawabkannya dari segi EPR ke mana sampahnya harus dibuang, atau bagaimana sampah itu harus diperlakukan," tegas Eka.

Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, mengatakan aturan perundang-undangan jelas menyebutkan bahwa rokok berpengaruh terhadap kesehatan dan lingkungan. Seperti dalam UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan, penggunaan rokok harus diatur agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan serta lingkungan. Selain itu, ada pula undang-undang cukai yang mengatur cukai untuk rokok karena berdampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup.

"Kedua undang-undang ini memastikan bahwa peredaran rokok harus memastikan pengelolaan terhadap kesehatan dan lingkungan. Melihat dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan industri rokok, kami meminta pemerintah membuat kebijakan yang kuat dan tegas untuk menangani dampak lingkungan yang disebabkan industri tembakau, dan mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau sebagai bentuk kepedulian lingkungan dan Kesehatan," demikian ujar Lisda. (ae)


Sumber :

https://www.dw.com/id/bahaya-plastik-mikro-dalam-puntung-rokok-bagi-kesehatan/a-61980207

Filter Rokok Lebih Merusak Lingkungan

Dibanding Sedotan Plastik, Filter Rokok Lebih Merusak Lingkungan

27/01/2019

Kampanye mengurangi sampah plastik mulai terdengar dan dilakukan banyak orang dari berbagai kalangan. Mulai dari mengganti sedotan plastik dengan stainless steel, meniadakan sedotan plastik di rumah makan, dan mengurangi penggunaan kantong plastik. 

Selama ini, sedotan dan kantong plastik mendapat banyak sorotan dan dianggap sebagai polutan terbesar. Namun, sebuah penelitian justru menyatakan bahwa kedua benda itu sebenarnya bukan polutan plastik terbesar. 

Ada yang lebih parah dan mungkin tidak kita sadari, yaitu filter rokok. Filter atau penyaring rokok tersimpan di dalam puntung rokok, dan menjadi benda yang paling banyak mengotori dunia. 

"Banyak perokok berasumsi penyaring rokok terbuat dari bahan yang bisa terbiodegradasi atau bisa diolah. Padahal, filter rokok terbuat dari selulosa asetat (jenis plastik yang butuh sekitar satu dekade untuk bisa terurai)," jelas Elizabeth Smith yang bekerja di kebijakan pengendalian tembakau di Universitas California San Francisco. 

Melansir CNN, Jumat (25/1/2019), sekitar 6 triliun rokok diproduksi setiap tahun dan lebih dari 90 persen filternya mengandung plastik. Ini artinya ada lebih dari 1 juta ton plastik setiap tahun yang diproduksi dari rokok. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, membuang puntung rokok sembarangan adalah hal yang paling sering dilakukan. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan yang kemudian membawanya ke lautan. 

Bukti paling nyata adalah saat petugas Ocean Conservancy yang berbasis di Washington DC secara inisiatif mengumpulkan puntung rokok di sekitar pantai sejak 1986. Hingga saat ini, relawannya telah mengumpulkan lebih dari 60 juta puntung rokok. 

Untuk mengukur apa yang terjadi bila ikan berenang di tengah puntung rokok, ahli membuat eksperimen kecil dengan menempatkan sekelompok ikan di sebuah wadah berisi air dengan puntung rokok. Hanya dalam waktu empat hari, setengah dari ikan mati. 

"Ini menunjukkan air yang tercemar puntung rokok memiliki racun yang dapat membunuh makhluk hidup di dalamnya," kata Thomas Novotny, profesor medis dari Universitas San Diego yang terlibat dalam studi. 

Filter rokok, benarkah melindungi paru-paru? 

Filter plastik dalam rokok pertama kali dipakai pada 1950-an sebagai respons terhadap ketakutan kanker paru-paru. Asap tembakau saat itu diketahui mengandung 250 bahan kimia berbahaya, termasuk logam berat, arsenik, dan polonium-210 yang sangat radioaktif. 

Kemudian 69 di antaranya berpotensi menyebabkan kanker. Untuk itulah, rokok dilengkapi dengan filter supaya dapat memblokir racun dan mencegah kanker paru-paru. Namun pada pertengahan 1960-an, para ilmuwan menyadari bahwa tar dan nikotin yang mereka saring merupakan zat yang memberi kepuasan tersendiri bagi para perokok. 

Dari sini kemudian perusahaan rokok membuat filter yang kurang efektif menyaring nikotin. Informasi tersebut digali oleh Bradford Harris dan seorang mahasiswi pascasarjana sejarah dan teknologi dari Universitas Stanford. 

Mereka mencatat, perusahaan tembakau menjadikan filter rokok sebagai alat pemasaran yang jitu dan mereka tetap memastikan para konsumennya mendapat efek nikotin yang dicari. Perusahaan rokok disebut membuat klaim tentang manfaat kesehatan dari filter rokok. 

Hal ini kemudian dicap oleh WHO sebagai penipuan. Asosiasi Produsen Tembakau yang mewakili sejumlah perusahaan tembakau di Inggris juga dimintai komentarnya oleh CNN, tapi tidak merespons. Filter tidak hanya berfungsi untuk memblokir beberapa racun, tapi juga  membuat asap rokok lebih halus untuk dihirup yang mendorong perokok untuk lebih sering merokok. 

Filter juga telah mengubah cara pembakaran tembakau dan sebenarnya meningkatkan beberapa racun dalam asap. Dengan filter rokok, tingkat kanker paru-paru yang paling umum menurun. Namun jenis kanker paru lain seperti adenokarsinoma meningkat. 

"Tingkat kelangsungan hidup kedua jenis kanker ini kira-kira sama," kata David Wilson, seorang ahli paru dari University of Pittsburgh Medical Center. Ia menambahkan, filter rokok tidak meningkatkan kesehatan perokok, tapi memperburuk lingkungan kita. 

Solusi polusi plastik Di beberapa kota di seluruh dunia, telah disertakan biaya khusus untuk membersihkan jalan di setiap pembelian rokok. Seorang ahli kimia filter rokok, Mervyn Witherspoon, menawarkan solusi dengan mengganti bahan filter dari sesuatu yang lebih ramah lingkungan dan dapat diolah kembali, misalnya dari rami, lenan, atau kapas. 

Namun, usul Witherspoon juga mendapat kontra, salah satunya oleh Elizabeth Smith yang seorang pakar kebijakan tembakau di AS. Ia berkata filter semacam itu masih mengandung racun dan sebenarnya membutuhkan waktu lama untuk terdegradasi. 

Selain itu, perokok mungkin juga jadi merasa diperbolehkan membuang puntung rokok sembarangan karena menganggap ramah lingkungan. Akibatnya, hal ini makin memperburuk masalah. 

Pada Oktober 2018, Parlemen Eropa mendukung proposal radikal untuk mewajibkan negara Uni Eropa menghapus 50 persen plastik di filter rokok pada 2025, dan 80 persen pada 2030. Namun, target itu ditolak. 

Sebagai gantinya, perusahaan rokok bertanggung jawab untuk mendanai kampanya peningkatan kesadaran, penyediaan asbak di tempat umum, pengumpulan limbah dan menambahkan label "mengandung plastik yang merusak lingkungan" pada bungkus rokok. Jika negara lain sudah mulai sadar dampak ini, saatnya kita juga berubah dan bertindak.


Sumber :

https://sains.kompas.com/read/2019/01/27/123912823/dibanding-sedotan-plastik-filter-rokok-lebih-merusak-lingkungan?page=all.

Tuesday, August 1, 2023

Pakar Temukan Mikroplastik di Paru-paru, Masuk via Pernafasan

Jumat, 08 Apr 2022 09:47 WIB

Peneliti menemukan mikroplastik di paru-paru manusia setelah sebelumnya menemukan material tersebut di aliran darah. Para ahli menduga partikel ini masuk melalui saluran nafas.

Istilah mikroplastik pertama kali muncul pada 18 tahun lalu. Kini material tersebut sepertinya ada di mana-mana, termasuk tubuh manusia. Temuan sebelumnya, para ahli menemukan mikroplastik di dalam darah.

Manusia rata-rata mengkonsumsi sekitar 74 ribu partikel plastik per tahun yang sejauh ini belum diketahui efeknya terhadap kesehatan.

Pada Maret lalu, ilmuwan mengumumkan penemuan mikroplastik berada pada aliran darah manusia. Baru-baru ini, mikroplastik ditemukan di bagian manusia yang lebih dalam lagi, yakni di paru-paru.

Studi sebelumnya pada sampel jenazah pengidap kanker paru-paru telah menemukan serat kecil dan serpihan plastik, tetapi tidak ada yang menganalisis susunan polimer sintetis dari temuan tersebut.

Pada studi terbaru ini, beberapa jenis mikroplastik muncul cukup sering, termasuk polietilen, yang ditemukan dalam kantong plastik dan kemasan; resin dari cat, jalan, dan ban; serta nilon dari pakaian.

Meski ditemukan dalam jumlah kecil, mikroplastik tersebar di seluruh paru-paru; semakin bawah lapisan paru-parunya, semakin banyak kontaminasinya.

Tak diduga, partikel-partikel plastik yang ditemukan di dalam paru-paru tersebut berukuran besar.

"Ini mengejutkan karena saluran udara lebih kecil di bagian bawah paru-paru, dan kami mengira partikel dengan ukuran ini akan disaring atau terperangkap sebelum masuk ke dalam paru-paru," jelas spesialis pernapasan Laura Sadofsky dari Sekolah Medis Hull York di Inggris.

Selama beberapa dekade, para ahli memperkirakan hanya partikel dengan diameter di bawah 3 mikrometer yang dapat memasuki daerah alveolus, yang merupakan pusat pertukaran gas di paru-paru.

Saat ini, bukti ilmiah menunjukkan saluran tersebut memiliki diameter sekitar 540 mikrometer dan panjang 1.410 mikrometer.

Namun, penelitian terbaru menemukan partikel plastik dengan panjang hingga 2.475 mikrometer dan lebar hingga 88 mikrometer, yang menurut mereka "terlalu besar untuk ada, namun nyatanya ada."

Studi tersebut menunjukkan bernafas adalah rute reguler paparan mikroplastik bagi manusia, dan kita mungkin menghirup partikel yang lebih besar daripada yang diperkirakan para ahli.

Selain teori tersebut, tak banyak yang diketahui terkait paparan mikroplastik di dalam tubuh. Misalnya, apa sebenarnya pengaruh mikroplastik di paru-paru kita terhadap kesehatan.

"Data ini memberikan kemajuan penting di bidang polusi udara, mikroplastik, dan kesehatan manusia," kata Sadofsky.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220407152811-199-781693/pakar-temukan-mikroplastik-di-paru-paru-masuk-via-pernafasan.

Potensi Mikroplastik pada Ikan Indonesia Kian Tinggi

Selasa 18 Februari 2020

Sampah plastik yang kemungkinan dimakan ikan. Kasubdit Restorasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sapta Putra Ginting menyampaikan bahwa pencemaran laut berdampak pada kandungan mikroplastik dalam ikan-ikan di Indonesia. 

"Semakin hari semakin tinggi, terutama di ruang laut kota-kota besar di Indonesia yang banyak memproduksi sampah plastik dan membuangnya ke laut," kata Sapta, di Kuta, Kabupaten Badung, Selasa (18/2). 

Walau secara keseluruhan, imbuhnya, kondisi ini masih di bawah ambang batas normal, yang artinya ikan masih aman untuk dikonsumsi, tapi tak bisa dibiarkan. Pasalnya bila dibiarkan dan tidak ada gerakan masif untuk mengatasinya, maka ikan yang mengandung mikroplastik akan semakin banyak di wilayah perairan Indonesia. 

Padahal mengonsumsi ikan yang mengandung mikroplastik secara terus menerus berpotensi menimbulkan kanker. Sampai saat ini memang baru beberapa daerah yang lautnya telah dilakukan pemetaan, antara lain daerah Makasar, Jakarta, Pulau Maratua Kalimantan, dan Selat Sumatera. 

Adapun tujuan pemetaan adalah untuk mengetahui seberapa besar ikan-ikan di laut telah mengandung mikroplastik. "Dari 66 ikan yang diteliti di empat titik, ada 20 ikan yang sudah mengandung mikroplastik. 

Ini artinya baru sepertiga. Jumlahnya masih kecil, tapi kalau dibiarkan bisa berbahaya," ujarnya. Dengan kata lain, imbuh Sapta, kandungan mikroplastik pada ikan lebih banyak terjadi di perairan dekat kota besar di Indonesia. 

Oleh karena itu, diperlukan penelitian baru dilakukan di perairan kota-kota besar lainnya, misalnya Surabaya dan Denpasar. Wilayah ini disinyalir memproduksi sampah plastik yang bisa saja dibuang baik sengaja atau tidak sengaja ke laut dan akhirnya disantap ikan. 

Namun, dia optimistis masih ada banyak wilayah laut di Indonesia yang bersih. Sebut saja seperti di wilayah perairan NTT, Maluku, Papua, dan beberapa wilayah timur Indonesia. Kondisi tersebut bisa dipahami sebab saat ini Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah laut terbesar nomor dua di dunia, yakni sebanyak 1,3 juta ton sampah plastik di laut. 

Namun, pemerintah tak tinggal diam, sebab pemerintah bertekad untuk  mengurangi sampah plastik 30% tahun 2025. "Beberapa upaya yang kita lakukan mulai dari edukasi atau penyadaran masyarakat, pembangunan dan pengolahan sampah di darat. 

Selain itu, penegakan hukum terutama bagi yang masih membuang sampah sembarangan," jelasnya. Upaya selanjutnya, kata Sapta, terkait keuangan. "Pemerintah harus membuat aturan cukai plastik. Namun, jangan sampai uangnya dipakai untuk membayar gaji. Gunakan untuk mengolah sampah plastik di daerah," tandasnya.


Sumber: 
https://mediaindonesia.com/nusantara/290901/potensi-mikroplastik-pada-ikan-indonesia-kian-tinggi

Phthalates, Zat Kimia Pembuat Plastik pada Sabun dan Parfum

Mengenal Phthalates, Bahan Kimia yang Disebut Berbahaya untuk Anak dan Ibu Hamil

Kata phthalates mungkin masih terdengar asing di telinga. Namun, tahukah kamu? Phthalates bisa ditemukan dalam banyak produk yang kerap kita gunakan sehari-hari. Paparan bahan ini disebut dapat menimbulkan efek buruk bagi kesehatan, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil.

Phthalates adalah zat kimia yang digunakan untuk membuat plastik menjadi kokoh dan fleksibel. Selain pada plastik, phthalates juga bisa ditemukan pada sabun, sampo, kutek, parfum, detergen, produk perawatan kulit, dan hair spray. Bahkan, phthalates juga bisa ditemukan pada makanan yang kemasannya mengandung bahan ini.


Bahaya Phthalates pada Anak dan Ibu Hamil

Selain dengan mengonsumsi makanan yang sudah terpapar phthalates, zat ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui penyerapan produk perawatan kulit yang mengandung phthalates.

Menghirup aroma parfum, cat kuku, atau cat rumah, atau debu dari produk vinil dan bahan bangunan yang mengandung pthalates juga berpotensi membuat zat ini masuk ke dalam tubuh.

Pada ibu hamil, phthalates yang masuk ke dalam tubuh bisa melewati plasenta dan mengganggu janin. Bahan ini juga bisa tercampur bersama ASI, sehingga bisa masuk ke tubuh bayi. Selain itu, phthalate juga bisa masuk ke dalam tubuh anak saat ia mengisap teether atau memasukkan mainan plastik ke dalam mulutnya.

Melihat banyaknya produk yang mengandung phthalate dan mudahnya zat ini masuk ke dalam tubuh, bahaya phthalate perlu dijadikan perhatian, terlebih pada anak-anak dan ibu hamil.


Berikut adalah bahaya phthalates pada anak dan ibu hamil yang perlu kamu waspadai:

1. Gangguan motorik

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang terpapar phthalates cenderung melahirkan anak yang memiliki masalah pada pertumbuhan dan perkembangan otak. Biasanya hal ini akan terlihat pada keterlambatan dalam perkembangan keterampilan motorik dan berbicara.


2. Gangguan sistem endokrin

Sistem endokrin terdiri dari kelenjar yang bertanggung jawab atas hampir seluruh proses dalam tubuh. Nah, paparan phthalates diketahui dapat menggangu kerja sistem endokrin ini.

Pada janin, phthalates meningkatkan risiko terjadinya kelainan pada organ genital. Sementara itu, phthalates yang bersarang di tubuh anak dapat memicu pubertas dini, gangguan metabolisme dan fungsi organ tubuh, dan gangguan pertumbuhan, serta meningkatkan risiko terjadinya alergi.


3. Keguguran

Selama hamil, ibu hamil perlu menjaga asupan nutrisinya dan menghindari paparan bahan kimia yang bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan janin, salah satunya adalah phthalates.

Penelitian membuktikan bahwa ibu hamil yang terpapar phthalates dalam jumlah yang banyak memiliki kemungkinan 60% lebih tinggi mengalami keguguran dibandingkan dengan ibu yang tidak terpapar.


4. Diabetes gestasional

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa paparan phthalates dalam jumlah tinggi bisa memicu kenaikan berat badan selama kehamilan. Sementara itu, paparan phthalates dalam jumlah sedang bisa membuat ibu hamil 7 kali lipat lebih berisiko mengalami gangguan toleransi glukosa.

Pertambahan berat badan yang berlebihan dan gangguan toleransi glukosa selama kehamilan merupakan faktor risiko diabetes gestasional. Di samping itu, sekitar 50% wanita mengalami diabetes gestasional akan berisiko menderita diabetes tipe 2 setelah melahirkan.


Mencegah Paparan Phthalates pada Anak dan Ibu Hamil

Phthalates memang sulit untuk dihindari. Namun, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi paparan phthalates yang terlalu banyak. Berikut adalah caranya:

  • Batasi penggunakan plastik untuk makanan dan minuman. Beralihlah ke wadah berbadan dasar kaca, keramik, kayu, atau logam. Langkah ini juga bisa dilakukaan untuk mengurangi sampah plastik.
  • Batasi membeli makanan yang tidak dikemas menggunakan plastik, makanan kalengan, atau makanan olahan lainnya. Lebih baik, konsumsi makanan yang baru dimasak dengan kualitas bahan masakan yang baik pula.
  • Jangan memanaskan makanan atau minuman menggunakan plastik.
  • Pilihlah produk perawatan kulit yang tidak mengandung pewangi, baik itu losion, bedak, sampo, sabun atau deterjen.
  • Pilih botol susu, teether, atau mainan bayi yang berlabel bebas phthalates.
  • Pilih botol minum kemasan yang memiliki simbol 1, 2, 4, atau 5 di bawah kemasan botol.
  • Ajaklah anak untuk sering mencuci tangan dengan air dan sabun, terutama sehabis bermain.
  • Pastikan setiap ruangan di dalam rumah memiliki ventilasi agar sirkulasi udara dapat berputar dengan baik.
  • Rutinlah membersihkan peralatan dirumah, termasuk karpet dan jendela rumah, yang mungkin menjadi tempat mengendapnya phthalates.

Untuk melindungi orang-orang di sekitarmu dari bahaya phthalates, khususnya ibu hamil dan anak-anak, coba terapkan cara-cara di atas, ya. Jangan lupa juga untuk selalu mengonsumsi makanan sehat. Dengan begitu, kesehatan ibu hamil serta janinnya bisa terjaga dan tumbuh kembang anak juga lebih optimal.

Selain itu, jangan lupa untuk rutin memeriksakan kondisi kehamilan dan tumbuh kembang anak ke dokter kandungan dan dokter anak. Dengan pemeriksaan yang rutin, kelainan yang terjadi akibat bahaya phthalates bisa ditemukan lebih dini dan diatasi dengan lebih baik.


Sumber :

https://www.alodokter.com/mengenal-phthalates-bahan-kimia-yang-disebut-berbahaya-untuk-anak-dan-ibu-hamil

Masalah Plastik

Lagi-lagi masalah plastik, kali ini dibahas oleh Ferry Irwandi, sang youtuber membahas sampah plastik yang berdampak buat lingkungan DAN juga berdampak buat manusia. 

#masalahplastik #youtuber #ferryirwandi

https://www.instagram.com/p/CvZrpj2SW37/?hl=en