Pages

Saturday, April 30, 2022

How Asian Companies Can Take Part In The Green Start-Up Boom

By Gautam Kumra and Vivek Lath

The opportunities for building green businesses are more attractive than ever and Asian energy players – both established firms and start-ups – should seize the moment and apply the lessons learned globally.

Asia could potentially see up to a ten-fold increase in overall start-up activity over the next three to four years, recent McKinsey research suggests. A large proportion of that could be in green and sustainability-related sectors.

Figures show that over the past three years, more than 25 green businesses around the world have joined the unicorn club, with a combined valuation exceeding $70 billion. There has also been a more than 67% increase in deals since 2018, with a total of $2 billion invested globally in sustainability-themed start-ups across 260-plus deals. Europe and North America currently lead in terms of investment size, with Asia rapidly catching up.

Much of this momentum is concentrated in the energy industry due to advances in technology, financing, and regulatory policies. In power generation renewable energy (RE), sources will only grow, and are expected to account for half of all power generation by 2035. In shipping, the pressure to decarbonize has also encouraged the development of alternative fuels such as liquefied natural gas (LNG), hydrogen and ammonia. In road transport, there is an ongoing major shift from internal combustion engines (ICEs) to hybrid and electric vehicles (EVs).


Committed To Action

Companies should recognize the urgency of the moment and act decisively. Value pools are shifting and all stakeholders – consumers, investors, and regulators – are now committed to sustainability. Firms and investors need to rapidly pivot to greener avenues and be committed to following this path.

The lessons learned from other regions show the strategic way forward on this green path:

  • Identify replicable opportunities. Different regions and different countries are further along their green journey than others. Rates of adoption of the latest technology also differ. As a result, companies can look at various green sectors (such as hydrogen or batteries) in Europe and the United States, or even across neighbors in Asia, and see what they can apply in their respective countries
  • Build with agility and strength. Top business leaders need to achieve a balance between having the agility of a start-up and the strength of an incumbent. Having a focus on leadership, customers, and talent, allows firms to launch new ventures that are both a pathway to organic growth—safeguarding at-risk revenue streams – and new growth areas
  • Corporate Venturing. Leaders need to set up a screening system and then invest meaningfully in innovative startups. Taking such a portfolio approach diversifies risk and builds the capability for launching new businesses. BP, for example, created its in-house, business-building engine called Launchpad to set up five digitally led, low-carbon businesses
  • Find partners. By seeking out partnerships, companies can expand and replicate what other companies have learned. For example, Japanese onshore wind players Japan Wind Development (JWD) and Eurus Energy partnered with Orsted. The Danish firm is the world's largest developer of offshore wind power. Together the partners are jointly bidding to win one of Japan’s first offshore wind projects in 2022 
  • Work with the public sector. Regulatory incentives such as feed-in tariffs and other subsidies are behind many of the notable success stories in green business building. These have also created value beyond the local markets in which they originated. For example, Chinese electric vehicle companies have grown out of domestic subsidies and are now supplying vehicles and components to global markets


Green-Business Value Proposition

Developments in both technology and government policy have decisively shifted momentum towards sustainability in the energy sector. Governments are working towards carbon neutrality with more than 130 nations committed to or considering a net-zero target. One in five global Fortune 2000 companies have pledged the same. At the same time, consumers are paying more attention to the environmental credentials of the brands they consume.

As consumers, investors and regulators demand more sustainability from companies, the green-business value proposition should accelerate. In this dynamic landscape, incumbents will find themselves defending their positions and competing against start-ups hungry for a slice of the pie. The winners will be those that can identify emerging trends, create clear value propositions, work hand in hand with policymakers and execute at speed.


Gautam Kumra is the Chairman of McKinsey’s Asia offices, while Vivek Lath is a partner based in McKinsey’s Singapore office.


Sumber :

https://sponsored.bloomberg.com/article/mckinsey/how-asian-companies-can-take-part-in-the-green-start-up-boom

Friday, April 29, 2022

Dodo Punah karena Evolusi Lambat dan Perubahan Lingkungan

Bagaimana Burung Dodo Bisa Punah? 
29/04/2022


Burung dodo merupakan burung endemik yang tinggal di Pulau Mauritius. Namun, burung dodo kemudian punah dari muka Bumi tanpa satu pun spesimen burung yang mampu bertahan hidup. Burung yang bisa tumbuh hingga berukuran satu meter ini bahkan tak sempat didokumentasikan. 

Peneliti modern harus melihat ke lukisan sejarah dan karya seni untuk mempelajari mengenai seperti apa rupa dodo. 

Itu mengapa kepunahan dodo hingga kini masih menjadi misteri dan bahan penelitian para ahli. Meski begitu, musnahnya burung ini disebut karena kombinasi dari evolusi lambat burung dan perubahan lingkungan yang cepat. 

Mengutip Live Science, Kamis (28/4/2022) spesies yang tak bisa terbang dan lambat berkembang biak ini rentan terhadap datangnya predator baru di pulau tempat mereka hidup yang aman. Selama jutaan tahun, sebelum manusia menginjakkan kaki di Mauritius, pulau tersebut tak memiliki predator darat yang besar. 

Namun saat pulau kedatangan predator, dodo lambat merespons ancaman yang baru datang itu. Artikel di National Geographic menuliskan, dodo dikatakan tak takut pada manusia yang mendarat di pantai pulau mereka, sehingga burung-burung ini mudah ditangkap dan dibunuh oleh para pelaut Belanda yang kelaparan. 

Dan bukan hanya manusia saja yang mengonsumsi dodo. Spesies yang ikut dibawa di pulau termasuk tikus, babi, kambing, dan monyet, menurut sebuah studi di Journal of Vertebrate Paleontology kemungkinan juga menangkap dan memakan dodo beserta telurnya. 

Tragisnya bagi dodo, setiap telur yang dimakan mewakili satu-satunya kesempatan dodo betina untuk bereproduksi tahun itu. Tanggal resmi kepunahan dodo tak pasti. Populasi dodo menyusut jauh dari pengamatan manusia. 

Namun menurut sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature, peneliti yang menggunakan metode statistik memperkirakan kepunahan dodo pada akhir 1690. 

Menghidupkan kembali dodo Beberapa ilmuwan pun berambisi menghidupkan kembali dodo ke Bumi, seperti halnya ambisi mereka menghidupkan mammoth. Tetapi menurut ahli biologi molekuler evolusioner Beth Shapiro di University of California, kecil kemungkinan itu bisa terjadi dalam waktu dekat. 

Ada sejumlah alasan mengapa dodo menjadi rumit untuk dihidupkan kembali. Menurut Shapiro, dodo bukan kandidat yang baik untuk kloning karena hanya ada sedikit sumber DNA, reproduksi burung yang sangat rumit, dan belum tentu ada habitat bagi mereka untuk kembali. 

Kloning sulit dilakukan karena tak ada sel hidup dari dodo yang tersedia sekarang sebagai media untuk mentransplantasikan DNA. Yang bisa dilakukan adalah mengambil genom hewan yang berkerabat dekat kemudian mengubahnya agar menyerupai dodo. 

Adapun kerabat terdekat dodo yang masih hidup adalah merpati Nicobar (Caloenas nicobarica). Itu pun sepertinya juga belum cukup karena perbedaan genetik antara kedua spesies burung jauh lebih besar, sehingga lebih sulit untuk membuat hibrida yang sukses di laboratorium. 

Namun beberapa saat yang lalu Shapiro dan timnya melakukan studi dan menyebut telah berhasil mengurutkan seluruh genom dodo. Penelitian ini belum ditinjau oleh rekan sejawat dan tim bermaksud untuk segera mempublikasikannya. 

Merekonstruksi genom dodo bukanlah hal yang mudah. Pertama, Shapiro dan timnya harus menemukan DNA dodo yang utuh, terkubur di sumsum tulang yang telah bertahan ratusan tahun di lingkungan Mauritius yang hangat dan lembab. 

Kemudian, mereka harus memilah DNA yang ditemukan milik dodo dan mana yang berasal dari jamur serta bakteri yang telah menyerang tulang saat mereka membusuk. Meski pengurutan genom sudah berhasil dilakukan, ini belum menjamin kebangkitan dodo kembali karena sistem reproduksi burung yang terbilang rumit. 

Peneliti menyebut cukup sulit untuk memanen dan memanipulasi sel telur burung dengan aman. Bahkan jika para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali dodo, pulau tempat mereka pernah tinggal adalah tempat yang sangat berbeda saat ini. 

"Jika kita tidak memecahkan masalah yang menyebabkan kepunahan mereka sejak awal, mungkin tidak ada gunanya menghabiskan semua energi dan upaya yang diperlukan untuk membawa mereka kembali," ungkap Shapiro.


Sumber :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bagaimana Burung Dodo Bisa Punah?", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/sains/read/2022/04/29/160300123/bagaimana-burung-dodo-bisa-punah-?page=all#page2.
Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Bestari Kumala Dewi

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Monday, April 18, 2022

Larva Black Soldier Fly

Larva Black Soldier Fly Solusi Penanganan Sampah Dapur yang Mendatangkan Cuan 

Selasa 19 April 2022, 12:30 WIB 

BIOKONVERSI dengan menggunakan tentara lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) selain menjadi solusi penanganan sampah organik, juga bernilai ekonomi tinggi dari produk yang dihasilkan berupa maggot dan kompos. 

"Maggot BSF memiliki keunggulan sebagai pakan ternak. Eropa bahkan telah memanfaatkan larva sebagai salah satu pakan ternak berkelanjutan demi menunjang kebutuhan pangan. Terlebih kebutuhan akan protein hewani meningkat seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan populasi," terang Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dewi Apri Astuti, dikutip dari laman IPB. 

Sampah organik, katanya, dapat digunakan sebagai media pertumbuhan larva. Produknya dapat dikomersialisasikan dalam larva segar, larva kering, tepung maggot dan sisa limbah seperti kitin dan kitosan. Sisa limbah ini dapat dipergunakan di bidang kosmetik dan makanan. 

“Media sangat mempengaruhi bagaimana kualitas larva. Bagusnya limbah-limbah dapur atau pasar dikombinasikan dengan sumber-sumber protein yang lebih tinggi,” sebutnya.   

Dewi mengungkapkan, dari media sampah organik sekitar 800 kg dapat menghasilkan 300 kg larva. Harga media dan biaya operasionalnya berbeda-beda tergantung lokasi. Namun kombinasi dengan bungkil sawit dinilai lebih baik karena dapat menghasilkan larva berprotein tinggi.   

“BSF sudah merambah ke industri yang menjanjikan. Pembudidaya pemula maggot dapat memulainya dengan cukup mengumpulkan (larva) untuk pakan ikan dan unggasnya,” tambahnya. 

Ia menjelaskan bahwa larva BSF merupakan nutrien berkualitas, mudah dipelihara, murah dan memberi solusi dalam masalah lingkungan.  “Kehadiran BSF sebagai pakan ternak ini memiliki potensi untuk mengolah limbah menjadi rupiah,” katanya. 

Menurutnya, kehadiran pakan berkontribusi signifikan untuk menghasilkan produksi ternak yang optimum. Dikarenakan biaya pemberian pakan yang cukup tinggi, dunia peternakan mencari alternatif pakan yang efisien, salah satunya BSF. 

Solusi ini dapat mengatasi tingginya angka impor tepung ikan yang menyebabkan defisit negara. Dewi mengatakan, IPB University juga memiliki rumah BSF dan produksinya sudah kontinyu. Di rumah BSF, ia mengkombinasikan limbah ternak yang biasanya berkadar nitrogen tinggi dengan limbah sayuran/hijauan atau cacahan sisa pakan ternak. Rasio ini dapat menghasilkan komposisi larva yang berkualitas baik. 

“Nutrisi larva BSF sebagai pakan ternak sudah terbukti nyata memiliki keunggulan. Pemberian pada unggas tidak memberikan perbedaan yang nyata dalam hal konsumsi. Bahkan, dapat menekan biaya produksi serta menghasilkan berat telur lebih tinggi serta rendah kolesterol dan tingkat imunitas yang baik,” ujarnya. 

Selain itu, lanjutnya, dapat diolah sebagai susu pengganti anak ternak dan menjadi produk pakan tinggi energi bagi ruminansia. Produk samping kitosannya juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri metanogen pada limbah ternak yang berpengaruh buruk pada kualitas lingkungan.


Sumber: 

https://mediaindonesia.com/humaniora/486771/larva-black-soldier-fly-solusi-penanganan-sampah-dapur-yang-mendatangkan-cuan

Sunday, March 27, 2022

Penggunaan Hidrogen Sebagai Bahan Bakar

Eksperimen Sukses Penggunaan Hidrogen Sebagai Pengganti Bahan Bakar Konvensional

Harga bahan bakar meningkat drastis di seluruh dunia. Kawasan Desa Bosbüll di Jerman utara ingin prioritaskan hidrogen dan tunjukkan bahan bakar ini punya masa depan hijau.

Di sebuah desa di bagian paling utara Jerman terdapat proyek model pertama, di mana sebuah kawasan bertekad untuk bertahan tanpa bahan bakar fosil, dan sepenuhnya menggunakan hidrogen. 

Sejak beberapa pekan belakangan, dua bus berbahanbakar hidrogen digunakan untuk mengangkut penumpang. Untuk proyek itu, dibangun khusus beberapa tempat pengisian bahan bakar hidrogen.  

Bagi Sven Hänsel yang berprofesi sebagai pengemudi bus, jenis bus berbahanbakar hidrogen bagus karena tidak ribut. "Orang hanya mendengar motor listrik dan putaran gigi persneling." Ia menambahkan, mesinnya tidak bising. 


Hidrogen sebagai Sumber Energi Berkelanjutan?

Sampai-sampai jika penumpang di bus mengobrol, dia bisa mendengar percakapan mereka. "Kadang kurang enak. Tapi lama-kelamaan saya tidak mendengar lagi obrolan penumpang, dan hanya memperhatikan situasi lalu lintas”, ujar pengemudi bus berbahan bakar hidrogen ini.


Kendala pompa pengisian bahan bakar

Daniel Marx, pimpinan perusahaan DB Regio Bus Nord mengungkapkan, saat ini masalah aktualnya adalah sulitnya mengisi bahan bakar. "Tepatnya, antara bus dan instalasi tidak ada koneksitas," begitu dikatakan Daniel Marx. Ini masalah piranti lunak, tapi bisa diselesaikan dengan beberapa aktualisasi.

Inti proyek hidrogen adalah instalasi elektrolisis. André Steinau, yang menggagas proyek model bernama eFarm itu, punya perusahaan instalasi elektrolisis dengan biaya pembuatan senilai beberapa juta Euro. Di perusahaan itu, hidrogen diekstrasi dari air di dalam wadah raksasa. Untuk itu dibutuhkan banyak energi listrik.

André Steinau menjelaskan, mereka tidak ingin menyia-nyiakan listrik. Ide mereka adalah, menyimpan listrik untuk dipakai nanti, kalau energi terbarukan tidak bisa diakses. "Selain itu kami juga akan mencari penggunaan di mana energi tidak hanya dikembalikan ke jaringan listrik, melainkan ke sektor-sektor lain seperti mobilitas dan penghangat ruangan," demikian dijelaskan André Steinau. 

Metode yang digunakan saat ini: dengan bantuan listrik dari tenaga angin, hidrogen dipisahkan dari air yang sudah dibersihkan. Ini kemudian diangkut ke tempat pengisian bahan bakar hidrogen. 

Dalam proses untuk mendapatkan hidrogen, terbentuk suhu tinggi. Panas kemudian dialirkan ke jaringan lokal untuk disalurkan. Dengan cara itu, rumah-rumah penduduk dapat dihangatkan saat musim dingin, tanpa melepas emisi CO2.   


Suhu tinggi jadi produk awal

Tepatnya rumah-rumah di desa Bosbüll, yang berlokasi tak jauh dari sana. Max Böhm yang berprofesi sebagai pengrajin di desa itu sudah merasakan keuntungannya. 

Suhu hangat itu jadi hasil awal proyek. Untuk bus-bus, ini juga baru awalnya, kata Max Böhm, sambil menambahkan, tentu lebih baik lagi, jika di sini ada satu atau dua mobil pribadi berbahanbakar hidrogen. 

"Saat ini, dari segi harga belum memungkinkan bagi setiap orang, atau bagi kami untuk membeli mobil hidrogen seperti itu," kata Max Böhm. Tapi ia bisa membayangkan, di masa depan itulah yang akan terjadi. 


140 km/jam

Melintasi kawasan Cuxhaven, Bremerhaven, Bremervoerde, dan Buxtehude, kota-kota yang terletak di bagian utara Jerman, kereta api bertenaga hidrogen pertama di dunia ini beroperasi melayani rute sepanjang 100 km. Dengan kapasitas penumpang sebanyak 150 orang, kereta ini mampu melaju dengan kecepatan 140 km/jam.

Sebuah mobil berbahanbakar hidrogen harganya dua kali lipat dari mobil jenis atau model serupa yang berbahanbakar diesel. Oleh sebab itu baru 30 unit yang ada di kawasan itu.  

Bahanbakarnya juga relatif lebih mahal. Untuk perjalanan 500 km, orang harus membeli bahan bakar seharga 50 Euro. Sedangkan kalau mobil diesel, hanya 47 Euro, dan pada mobil listrik bahkan hanya 25 Euro. 


Perlindungan iklim perlu dana besar

André Steinau mengatakan, “Kita juga harus sadar, perekonomian yang berorientasi pada perlindungan iklim harganya mahal, dibanding yang berbahanbakar fosil." Itulah perlindungan iklim. Sekarang semua orang ingin menyelamatkan bumi, dan sekarang kita berada di awal teknologi yang sudah lama ada, tapi belum diproduksi massal. "Sudah ada penggunaannya, tapi jika massal akan lebih murah,” demikian dijelaskan André Steinau.

Diprediski dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan energi yang ramah iklim sudah akan lebih ekonomis, seperti halnya energi biasa. Banyak orang di  kawasan utara Jerman ini percaya kemungkinan itu. Karena sudah bisa dilihat, tekniknya dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (ml/inovator) 

 

Sumber :

https://www.dw.com/id/bahan-bakar-konvensional-hidrogen/a-61101377?

Thursday, March 24, 2022

Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

24 MARET 2022

    

Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, dua pemuda yang belakangan mendapat banyak sorotan karena keberhasilan mereka dengan masuk ke dalam daftar 30 under 30 Forbes Indonesia.

Bukan tanpa alasan keduanya bisa masuk ke dalam daftar prestisius tersebut. Di usia yang masih terbilang muda, Ashab dan Tubagus pasalnya telah berhasil menghadirkan sebuah inovasi di bidang teknologi untuk mempermudah kehidupan banyak orang, atau lebih tepatnya mereka yang berprofesi sebagai peternak ayam.

Keduanya mendirikan sebuah startup bernama Chickin Indonesia, perusahaan penyedia platform yang dapat memudahkan para peternak ayam di tanah air, dalam melakukan operasional peternakan secara efisien namun di saat bersamaan juga memperoleh peningkatan produktivitas ternak.

Menambah jajaran nama anak muda yang berhasil menghadirkan inovasi membanggakan, seperti apa jalan yang mereka tempuh hingga bisa memberikan dampak besar bagi para peternak ayam di Indonesia?


Kerja 18 jam per hari saat kuliah

Sedikit membahas mengenai latar belakang dua pemuda yang dimaksud, baik Ashab dan Tubagus rupanya berasal dari almamater kampus yang sama yakni Universitas Brawijaya (UB). Ashab yang saat ini diketahui masih berusia 22 tahun merupakan alumnus program studi (prodi) Agroekoteknologi, sedangkan Tubagus yang saat ini berusia 23 tahun merupakan lulusan dari prodi Hubungan Internasional.

Sama-sama menyelesaikan pendidikan kuliah di tahun 2020, keduanya bertemu saat masih berada di tingkat semester satu. Selama itu pula, mereka telah malang-melintang mencoba berbagai bidang usaha.

Yang membuat kagum, selama serius membangun usaha ternak yang menjadi cikal bakal berdirinya startup Chickin, mereka tetap mengimbangi dengan tanggung jawab menjalani perkuliahan sebagai seorang mahasiswa. Bahkan Tubagus diketahui berhasil menyelesaikan masa pendidikan kuliahnya lebih cepat yakni selama 3,5 tahun.

"Terlihat sangat ambisius di usia kami saat itu, karena kami harus bekerja 18 jam per hari untuk menyeimbangkan kehidupan kuliah dan bisnis saat itu," ujar Tubagus, mengutip Detikcom

Pendirian Chickin pun kabarnya bisa berjalan setelah mereka memperoleh modal dari hasil usaha kecil-kecilan, dan memenangkan berbagai ajang kompetisi bisnis. Akhirnya di semester kedua masa kuliah, mereka bertekad mendirikan startup tersebut.

Tidak hanya membutuhkan modal dari segi materi, mereka juga tahu secara pasti permasalahan apa yang biasanya dihadapi oleh para peternak di lapangan, karena keduanya pernah menjadi peternak di daerah Klaten, Jawa Tengah.

“Kita telah melihat banyak sekali kendala dalam membudidayakan ayam dan industri perunggasan yang memiliki potensi besar untuk berkembang," tambah Tubagus.


Teknologi peternakan ayam berbasis IoT

Secara garis besar, startup yang Ashab dan Tubagus dirikan berperan dalam membuat peternak agar tidak perlu melakukan pengontrolan iklim kandang secara manual. peternak hanya perlu memantau kondisi kandang dari jarak jauh dengan performa yang lebih bisa terukur secara nyata.

“Awal kami riset dan development di daerah Klaten Jawa Tengah. Di sana kita jadi peternak, lalu membangun kandang dan mulai usaha ternak ayam sampai akhirnya ketemu banyak permasalahan yang dihadapi peternak lokal. Dari situ kita mencoba solve problem dengan menggunakan teknologi,” ujar Ashab, mengutip laman resmi UB.

Lebih jauh dengan diterapkan teknologi IoT, platform yang mereka kelola juga mampu membantu berbagai kebutuhan seperti mengelola data kandang, mengatur berbagai aktivitas harian mulai dari pengontrolan suhu, memantau kondisi serta umur ayam, hingga memantau data penjualan.

Istimewanya melalui teknologi yang digunakan, produktivitas ayam yang dihasilkan oleh para peternak diketahui juga bisa meningkat hingga 25 persen lebih tinggi. Hal tersebut diakui oleh salah satu peternak bernama Yudi, yang sudah menggunakan platform Chickin dan menurutnya sangat membantu dalam pengelolaan serta manajemen pemeliharaan.

“Apabila dilakukan dengan SOP yang ketat, sistem pemeliharaan akan efisien untuk pakan, mortalitas bisa ditekan dengan cara pencegahan dan pengobatan yang presisi,” ujar Yudi.

Selain menghadirkan platform pengelolaan ternak, Ashab dan Tubagus juga mengelola sistem pengelolaan dan distribusi ayam dari hulu ke hilir, yang membuat ayam hasil produksi dari para peternak dapat terdistribusi dengan baik secara langsung ke sejumlah produsen, atau rumah makan yang ada di Indonesia.

Hingga saat ini diketahui ada sebanyak 14 rumah potong ayam yang mereka kelola, di mana dalam pelaksanaannya juga menjalin mitra dengan sekitar 100 industri makanan sebagai penyuplai daging ayam.

Catatan besarnya lagi, perusahaan rintisan yang telah mereka bangun di usia muda tersebut diketahui sudah berhasil memperoleh pendanaan sekitar Rp35 miliar dari 3 investor global, lewat pendanaan sesi seed round dalam waktu 10 bulan terakhir.

Hingga saat ini, Chickin tercatat sudah digunakan oleh sebanyak seribu peternak se-Indonesia, dengan target 10 juta ayam yang dipelihara tiap bulannya.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/03/24/ashab-dan-tubagus-dua-pemuda-yang-garap-startup-ketahanan-pangan-untuk-peternak-ayam

Sunday, March 20, 2022

Target Sampah Plastik Berkurang 50 Persen

Pemkot Surabaya Targetkan Sampah Plastik Berkurang 50 Persen
Ahad 20 Mar 2022 19:38 WIB



Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) nomor 16 tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Surabaya telah pada 9 Maret 2022. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengaku jajarannya terus melakukan sosialisasi.

Sosialisasi dilakukan dalam waktu 30 hari sejak Perwali tersebut diterbitkan. Sosialisasi dilakukan dengan cara memberi imbauan kepada pedagang, toko swalayan, pasar modern, restoran dan pasar rakyat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik serta mewajibkan menggunakan kantong belanja ramah lingkungan.

Hebi menegaskan, setelah dilakukan sosialisasi selama 30 hari, para pelaku usaha dan warga di Kota Surabaya tidak diperkenankan menyediakan atau membeli kantong plastik. Adanya Perwali ini diharapkan dapat mengurangi 50 persen dari 111.300 ton sampah plastik yang dihasilkan Kota Surabaya setiap tahunnya.

"Ada sanksi administrasinya bagi yang melanggar. Mulai dari teguran lisan, tertulis, sampai dengan sanksi paksaan dari pemerintah baik itu penyitaan kantong plastik maupun paksaan pemerintah lainnya yang bertujuan menghentikan pelanggaran dan atau pemulihan," ujarnya, Ahad (20/3).

Hebi menjelaskan, alasan mendasar ditetapkannya Perwali ini sebagai pelaksanaan ketentuan Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya nomor 5 tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan di Kota Surabaya, sebagaimana telah diubah dengan Perda Nomor 1 Tahun 2019.

Dimana dalam Pasal 10 dijelaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) berwenang untuk menetapkan kebijakan penguranganpenggunaan kemasan dan kantong dari bahan yang sulit terurai oleh proses alam, dengan berpedoman standar nasional berdasarkan peraturan perundang-undangan. 

"Kalau masyarakat mau belanja di pusat perbelanjaan, pasar tradisional, toko swalayan, dan restoran, kami imbau untuk menggunakan kantong ramah lingkungan. Sehingga nantinya tidak ada lagi yang menjual atau menyediakan kantong plastik," kata Hebi. 

Agar Perwali ini berjalan maksimal, lanjut Hebi, Pemkot Surabaya membentuk Satgas khusus untuk menangani kantong plastik. Satgas tersebut dibentuk dari jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), yang nantinya turut serta melakukan sosialisasi dan penindakan. 

Hebi meyakini, adanya Perwali ini bakal menguntungkan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Surabaya, yang memiliki produk kantong ramah lingkungan. Sehingga, nantinya kantong ramah lingkungan itu dapat dijual di toko modern sebagai pengganti kantong plastik. 

"Kita nanti akan berkoordinasi dengan Dinkopdag untuk memunculkan produk kantong ramah lingkungan di pasar modern, swalayan, atau restoran. Karena ini menjadi peluang bagi pelaku UMKM," ujarnya. 

Koordinator Komunitas Nol Sampah Wawan Some merespon positif adanya Perwali nomor 16 tahun 2022 ini. Wawan mendorong aturan ini diterapkan secara serius untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di Kota Surabaya  "Sebenarnya kami sudah mendorong sejak lama aturan ini. Kami siap mendampingi DLH Surabaya untuk mengawasi pelaksanaan perwali tersebut dengan baik," kata Wawan. 

Wawan menjelaskan, hasil dari pantauan di lapangan bersama perguruan tinggi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dari 1.600 ton sampah yang masuk ke TPA Benowo dalam sehari, 27 persennya adalah sampah plastik. Artinya, kata dia, ada sekitar 95 ton sampah plastik per hari."Kalau Pak Hebi menargetkan berkurang 50 persen per tahun, maka akan ada pengurangan sekitar 45 persen per hari," kata dia.


Sumber :
https://www.republika.co.id/berita/r91n3s380/pemkot-surabaya-tergetkan-sampah-plastik-berkurang-50-persen

Energy, Sustainability, and Climate

Hadapi Perubahan Iklim, Pertamina Fokus pada 3 Isu Prioritas

PT Pertamina (Persero) yang menjadi bagian dari task force B20 on Energy, Sustainability, and Climate memusatkan rekomendasi kebijakannya berdasarkan tiga isu prioritas.


Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan tiga isu tersebut diprioritaskan demi menjadi katalisator yang kuat untuk menangkal perubahan iklim, serta untuk mencapai pemulihan yang hijau (green recovery).

Adapun, prioritas yang pertama adalah mempercepat transisi menuju penggunaan energi berkelanjutan dengan memastikan pemanasan global dibatasi maksimal 1,5 derajat celcius.

"Topik utamanya adalah pengembangan bahan bakar alternatif industri, seperti hidrogen dan biofuel." ujar Nicke, Jumat (18/3/2022).

Kedua, memastikan transisi yang sesuai dan terjangkau, kerja sama global dalam memitigasi dampak, serta mendukung adaptasi atau perubahan kerjasama global dalam meningkatkan ketahanan energi.

Mitigasi dan dukungan tersebut dikhususkan untuk rumah tangga dan usaha mikro. kecil, dan menengah (UMKM) sebagai sarana pengentasan kemiskinan ekstrem dan percepatan transisi energi menuju penggunaan energi yang berkelanjutan.

"Kami percaya bahwa peluncuran program strategis saya bekerja sama dengan banyak mitra di seluruh negara dan keberlanjutan energi tidak hanya sekadar diskusi, tetapi juga tindakan nyata yang dampaknya dapat dirasakan oleh semua orang," tambahnya.

Ketiga, Nicke menegaskan Pertamina juga berkomitmen untuk membangun kapabilitas yang kuat di bisnis logistik dengan menjadi pemain kunci dalam menyediakan energi di seluruh Indonesia dan sebagai pedagang energi global.

Pihaknya berencana untuk memiliki kapal dan terminal yang andal, serta efisien dan ramah lingkungan yang akan terus tumbuh dan berkelanjutan di masa depan.

"Kami siap membangun kerja sama untuk mendukung pencapaian tujuan bersama sustainable energy untuk masa depan bumi yang lebih baik," pungkasnya.


Sumber :
https://www.cnbcindonesia.com/news/20220318205610-4-324076/hadapi-perubahan-iklim-pertamina-fokus-pada-3-isu-prioritas