Pages

Monday, August 3, 2020

What on Earth is the Doughnut?


Humanity’s 21st century challenge is to meet the needs of all within the means of the planet. In other words, to ensure that no one falls short on life’s essentials (from food and housing to healthcare and political voice), while ensuring that collectively we do not overshoot our pressure on Earth’s life-supporting systems, on which we fundamentally depend – such as a stable climate, fertile soils, and a protective ozone layer. The Doughnut of social and planetary boundaries is a playfully serious approach to framing that challenge, and it acts as a compass for human progress this century.


The Doughnut of social and planetary boundaries (2017)

The environmental ceiling consists of nine planetary boundaries, as set out by Rockstrom et al, beyond which lie unacceptable environmental degradation and potential tipping points in Earth systems. The twelve dimensions of the social foundation are derived from internationally agreed minimum social standards, as identified by the world’s governments in the Sustainable Development Goals in 2015. Between social and planetary boundaries lies an environmentally safe and socially just space in which humanity can thrive.

Here’s a one-minute introduction to the Doughnut, by the brilliant animator Jonny Lawrence.

And here’s a commentary published in The Lancet Planetary Health, May 2017.

Since the first iteration of the Doughnut was published as a discussion paper by Oxfam in 2012, it has had traction in very diverse places – from the UN General Assembly and the Global Green Growth Forum, to Occupy London.  Why such interest? I think it is because the doughnut is based on the powerful framework of planetary boundaries but adds to it the demands of social justice – and so brings social and environmental concerns together in one single image and approach. It also sets a vision for an equitable and sustainable future, but is silent on the possible pathways for getting there, and so the doughnut acts as a convening space for debating alternative pathways forward.

Commentaries on the first doughnut of 2012

George Monbiot in The Guardian argues that the doughnut highlights the importance of addressing environmental sustainability and social justice together.

Grist writer David Roberts sees the doughnut as a new way to think about economic growth (and wants the T shirt).

Tony Juniper argues that the doughnut helps to forge a way beyond contemporary capitalism.

Will Steffen and Mark Stafford Smith, two leading Earth scientists, reflect on how the doughnut can help to generate a set of Sustainable Development Goals.

Eduardo Gudynas, a Latin American environmentalist, asks whether the doughnut is too Western.

Wolff Olins, the brand consultants, challenge companies to ask themselves, “Is our brand a doughnut?”

Presentations and articles.

I have written about and presented the doughnut and its implications to a wide range of audiences, in the context of many different debates. Some of these include:

Nature Climate Change interview on the implications of the doughnut

Centre for Humans and Nature article on what Doughnut Economics implies for economic growth

State of the World 2013 chapter on planetary and social boundaries as a 21st century compass

Guardian blog presenting the doughnut in the context of the UN’s Rio+20 conference

Guardian podcast on planetary and social boundaries with Johan Rockstrom, Kate Raworth and Gail Whiteman of the World Business Council for Sustainable Development.

Evolving doughnut ideas

My research is focused on exploring what planetary and social boundaries imply for rethinking the concept of economic development. Is it growth or post-growth? How should we measure economic progress? How should we rewrite the economics textbooks so they are fit for tackling 21st century challenges? Join the Doughnut Economics discussion forum and subscribe to my blog at www.doughnuteconomics.org.


Sumber :
https://www.kateraworth.com/doughnut/

Sunday, July 19, 2020

Mengelola Sampah-sampah Bernilai Ekonomis

Perempuan Penenun Sampah Plastik

Sampah plastik jadi masalah hampir di seluruh dunia. Di Lombok, ada perempuan-perempuan yang memanfaatkan sampah plastik, seperti bekas kemasan kopi, snack dan lain-lain, jadi bernilai ekonomis.

Pencetus gerakan bikin kerajinan sampah ini adalah Aisyah. Sampah plastik tak bernilai diolah jadi sebuah karya seni dan bernilai ekonomis tinggi. Kerajinan ini pun sudah ekspor ke beberapa negara Eropa, Jepang, maupun Australia.

Aisyah pernah diundang khusus untuk melatih orang-orang Aborigin di Darwin Australia untuk membuat kerajinan dari sampah plastik

Aisyah juga mengajak bersama para perempuan di kampung halamannya, termasuk perempuan dengan disabilitas.

Satu persatu bungkus kopi itu dilipat jadi bagian kecil, berbentuk persegi panjang. Lipatan satu persatu digabungkan dengan lipatan lain, membentuk siku antara sambungan satu dengan lain. Setelah tersusun puluhan lipatan, terlihat membentuk tali. Seratus bungkus kopi sachet sepanjang sekitar satu meter.

Zohriah melipat bungkus kopi. Rekannya, Maeni, memilah bungkus-bungkus itu.


Setelah mencapai 1-2 meter, Zohriah kembali melakukan hal yang hingga seluruh bungkus kopi habis. Setelah terbentuk tali bak rantai, sambungan bungkus kopi itu membentuk pola. Posisi gambar, warna, bahkan tulisan dalam bungkus kopi itu berada di garis sama.

Zohriah selalu bersama Maeni. Maeni harus memastikan, tak ada merek kopi sachet tercampur.

Zohriah, penderita tunanetra. Dia mengenali bentuk dan komposisi gambar, garis, tulisan di dalam bungkus itu, tetapi tak bisa membedakan merek. Tangan perempuan ini sudah begitu terlatih membuat lipatan dengan ukuran sama persis, posisi lipatan nyaris tak pernah keliru.

Zohriah perlu rekan yang bisa melihat guna memastikan tak ada merek kopi sachet tercampur. Kalau ingin membuat tali dari bungkus kopi tercampur, itu juga harus disiapkan.

Setelah tali-tali dari rangkaian bungkus kopi sachet itu terkumpul, ada rekan yang akan merangkai jadi lembaran. Ukuran bisa seperti keryas kwarto, ada juga lebih besar, tergantung pesanan dari rekan bagian jahit. Dari lembaran-lembaran itu, lalu tim jahit membuat jadi aneka kerajinan tangan. Ada tas pinggang, dompet, tas punggung, dan berbagai karya lain.

Komposisi gambar dalam bungkus kopi yang tersusun diagonal itu jadi motif dalam tas. Begitu juga tulisan dalam bungkus kopi jadi motif, layaknya karya seni tinggi.


Bungkus kopi, sabun, detergen, sampo, dan semua jenis berbahan plastik bisa dirangkai jadi lembaran-lembaran, kemudian dibuat jadi tas. Begitu juga bungkus pasta gigi bisa disulap jadi tas cantik. Bahkan, yang lebih ekstrem, ban dalam bekas. Ban dalam bekas jadi karya seni tinggi, seperti tas model tak kalah dengan merek terkenal, bahkan bisa jadi sepatu.

Untuk barang-barang bernilai seni tinggi ini, dibandrol seharga Rp150.000–Rp500.000, ada juga lebih tinggi tergantung tingkat kesukaran.

Barang-barang kerajinan yang diberi label Eco Lombok Craft ini sudah dikirim ke Belanda, Jamaika, Jepang, dan Australia. Bahkan penggagasnya, Siti Aisyah, pernah diundang khusus ke Darwin, Australia, untuk melatih orang-orang Aborigin memanfaatkan sampah plastik dan ban dalam bekas jadi barang bernilai seni.

***

Aisyah, perempuan dari Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memulai usaha di Batam, Kepulauan Riau. Dia pernah menikmati masa kejayaan Batam. Beragam usaha dilakoni, salah satu yang cukup besar adalah rumah makan. Merasa jenuh di Batam, Aisyah hijrah ke Jogjakarta.

Dia mendengar cerita dari kawan, Jogja itu kota pelajar, banyak potensi. Aisyah membayangkan dengan banyak mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia peluang bisnis terbuka lebar. Aisyah memutuskan memboyong usaha ke Jogja.

Perkiraan Aisyah meleset. Dia yang terbiasa bekerja keras di Batam, merasakan suasana di Jogja terlalu lambat. Harga-harga di Jogja juga terlalu murah. Usaha tidak berjalan mulus. Kemudian Aisyah kembali ke kampung halaman.

Dia sempat melakoni beberapa usaha. Dia juga aktif di beberapa kegiatan sosial, salah satu kegiatan lingkungan.

Aisyah tinggal di kampung padat penduduk. Banyak penduduk miskin, banyak perempuan menganggur. Permukiman padat penuh sampah. Aisyah mencoba usaha kerajinan tangan. Salah satu yang dia lirik adalah kain perca. Aisyah mendapatkan kain perca dari beberapa penjahit. Kebetulan di sekitar rumahnya, banyak penjahit. Aisyah juga melirik sampah plastik. Dia membeli sampah plastik dari pemulung seperti bungkus kopi, aneka camilan, sabun, shampo, dan sampah plastik lain.


Warga juga diminta mengumpulkan sampah rumah tangga mereka. Sampah itu “ditabung” di Aisyah. Belakangan Aisyah menamakan itu “Bank Sampah NTB Mandiri.”

Sampah-sampah ditabung, Aisyah memberikan buku tabungan. Semua nasabah ibu-ibu rumah tangga sekitar rumah. Perlahan Aisyah juga mengajak mereka tak sekadar jadi nasabah, tetapi ikut produksi aneka kerajinan tangan dari sampah plastik itu.

“Banyak di sini yang pintar menjahit,’’ kata Aisyah.

Ketika kerajinan dari sampah itu laku dijual, makin banyak yang bergabung dengan Aisyah. Ibu rumah tangga banyak yang jadi nasabah, banyak juga mitra dalam produksi aneka kerajinan. Mereka juga makin terampil, Aisyah mendampingi dan berikan pelatihan mereka dengan telaten.

Dia melangkah lebih jauh. Kampung halaman yang dulu kumuh, mulai dia tata. Anak-anak muda dia ajak. Melihat kiprah Aisyah selama ini, banyak anak muda bergabung menjadi relawan. Para orangtua, terutama ibu-ibu mendukung penuh.

Lorong-lorong sempit di kampung dicat warna-warni. Tempat pembuangan sampah disulap jadi taman bermain. Rumah-rumah warga makin cantik. Aisyah kemudian, menamakan gerakan ini dengan nama Kawis Krisan, singkatan dari Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu.

Sebelum kampung-kampung wisata booming di Kota Mataram, warga Pejeruk Ampenan, sudah memulai. Kawis Krisan ini jadi kampung pertama yang jadi “kampung warna-warni.”

Belakangan gerakan serupa ada di tempat lain. Merasa tersaingi? Aisyah justru makin senang. Kegiatan positif bersama anak-anak muda di kampungnya diikuti kampung lain.


Pemerintah NTB mencanangkan program zero waste. Dalam program ini, diharapkan tak ada lagi sampah yang dibuang sembarangan. Sampah dikelola mulai dari tingkat kampung, tingkat desa, hanya sisanya dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sayangnya dalam program ini hanya mengelola sampah-sampah bernilai ekonomis, seperti botol bekas air mineral, kardus, kertas, kaleng minuman bersoda. Sampah plastik lain tidak dikelola, apalagi sampah organik.

Aisyah tak sekadar membisniskan sampah plastik juga mengedukasi warga kampung, maupun komunitas-komunitas anak muda. Bertahun-tahun menjalankan kegiatan di Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah melebarkan sayap ke berbagai kegiatan lain. Namanya pun berkibar, jadi aktivis lingkungan.

Aisyah tetap pada semangat awal, kegiatan lingkungan, bisnis, dan sosial. Dalam merekrut tim di workshop, Aisyah memberikan prioritas pada perempuan dan disabilitas. Hampir setiap pekan dia memberikan pelatihan pengolahan sampah pada komunitas-komunitas. Tak sedikit pelatihan diselenggarakan Aisyah dibiayai dari koceknya sendiri. Begitu juga kalau ada komunitas belajar di workshop Bank Sampah NTB Mandiri, Aisyah selalu terbuka. Syaratnya, hanya satu, Aisyah meminta mereka harus menularkan ilmu yang dipelajari ke komunitasnya.

Setiap akhir pekan, beragam kelompok dari kampus, ibu-ibu rumah tangga, komunitas sosial, kelompok disabilitas, pelajar, bahkan sampai rombongan pejabat datang untuk melihat kerja Aisyah. Di tempat Aisyah, mereka baru yakin bahwa zero waste benar-benar ada.

Sampah yang bernilai ekonomis tinggi, yang biasa diambil pemulung justru tak banyak di tempat Aisyah. Sudah banyak yang mengelola sampah jenis itu. Sampah plastik bungkus makanan, minuman, dan bungkur beragam jenis kebutuhan justru diolah Aisyah. bersama tim, sampah itu dibersihkan. Dicuci, dikeringkan, lalu dirajut jadi berbagai karya seni.

Untuk sampah organik, Aisyah membuat bak komposter. Satu bak komposter itu, jika dipakai untuk satu rumah tangga kecil, bisa menampung sampah organik selama setahun. Air rembesan dari sampah bak komposter itu menjadi pupuk. Setelah sampah organik di dalam bak kering, bisa jadi pupuk organik. Bisa dipakai sendiri atau dijual.

“Jadi, tidak ada yang namanya sampah. Semua bisa dikelola,’’ kata Aisyah.

Sampah-sampah plastik berukuran kecil seperti tutup botol, sedotan, dan jenis lain dibuat jadi aneka mainan, maupun seni instalasi. Mainan itu dipajang di sekitar workshop Bank Sampah NTB Mandiri.

Aisyah tak pelit berbagi ilmu dan tak takut jika tersaingi. Dia malahan senang kalau ada yang mau belajar. Tak heran, setiap pekan Aisyah sering diundang oleh komunitas untuk mengisi acara. Tak hanya di sekitar Kota Mataram, dia diundang ke berbagai komunitas.

Aisyah pernah menginjakkan kaki ke Jepang dan Australia. Dia berikan ceramah pengelolaan sampah, dan melatih mereka langsung mengubah sampah plastik menjadi barang seni.

Ke Australia, Aisyah khusus diundang melatih orang Aborigin di Darwin. Dia melatih mereka memanfaatkan barang-barang bekas untuk jadi kerajinan tangan seperti tas, sepatu, dompet, dan hiasan. Barang-barang kerajinan itu bisa dipakai sendiri atau dijual.

Dia juga pernah berkunjung ke beberapa negara. Mendapat berbagai penghargaan di tingkat daerah dan nasional, tak membuat Aisyah lupa menjejak kaki di bumi. Dia selalu ingat komitmen awalnya, memberdayakan komunitas sekitar.


Sekolah alam

Kini, dengan jaringan yang dimiliki di tingkat nasional, internasional, Aisyah makin memperluas jaringan lokal. Aisyah masuk ke desa-desa, membangun mimpi, membangun sekolah alam. Sekolah itu di bawah Yayasan Lombok Eco International Connection (LEIC).

Saat ini, sekolah sekolah pertama sudah berdiri di Dusun Mentigi, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Sekolah ini bukan seperti sekolah umum, siswa masuk setiap hari. LEIC hanya membuka kelas pada Sabtu dan Minggu. Itupun setelah siswa pulang sekolah. Sasaran sekolah ini anak-anak sekolah di kampung itu. Mirip seperti kegiatan ekstrakurikuler.

Di LEIC, mereka memiliki kurikulum khusus lingkungan. Bangunan sekolah pun memanfaatkan bahan alam, seperti sampah sebagai bahan ajar. Paling utama, memberdayakan warga sekitar. Semua anak di kampung sekitar diajak terlibat, para ibu rumah tangga juga ikut.

“Karena tak selamanya kami bisa, jadi kedepan harapan kami dilanjutkan oleh mereka,’’ kata Aisyah.

Sekolah rintisan ini didukung oleh para sahabat Aisyah. Mereka kebanyakan saling kenal melalui berbagai kegiatan sosial. Mereka memiliki visi misi sama, bahwa, kalau ingin membuat lingkungan lebih baik harus mengubah cara pandang terhadap lingkungan.

Pandangan hidup tentang lingkungan itu, katanya, tak bisa hanya melalui kampanye semata, atau hanya melalui program di pemerintahan. “Ini harus jadi gerakan jangka panjang.”


Sumber :
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/07/19/perempuan-penenun-sampah-plastik

Sunday, July 5, 2020

What is Circular Economy

WHAT IS CIRCULAR ECONOMY?

Circular economy is presented as a system of resources utilization where reduction, reuse and recycling of elements prevails

Manufacture, use and disposal? No, reduce, reuse and recycle. The current paradigm of lineal economic model could be coming to an end and its place will be taken by the circular economy.


Reusing elements would be a relief for nature

The current model of production and management of resources, goods and services that seeks to promote short-term consumption is leading the planet to an unsustainable situtation. The nowadays economic system is the opposite of the life cycle of nature and collides with sustainable development, focused on the long term. In nature there is no waste or landfill: all elements play a role continuously and are reused in different stages.


What is the circular economy?

Taking as an example the cyclical nature pattern, circular economy is presented as a system of resources utilization where reduction, reuse and recycling of elements prevails: minimize production to a bare minimum, and when it's necessary to use the product, go for the reuse of the elements that can not return to the environment.

That is, the circular economy promotes the use of as many biodegradable materials as possible in the manufacture of products -biological nutrients- so they can get back to nature without causing environmental damage at the end of their useful life. When it is not possible to use eco-friendly materials -technical nutrients: electronics, hardware, batteries... - the aim is to facilitate a simple uncoupling to give them a new life by reintroducing them into the production cycle and compose a new piece. When this is not possible, it will be recycled in a respectful way with the environment.


Good for users... and businesses

The circular economy: what is it?

Unlike other economic models where the economic aspect prevails over the social or environmental, circular economy is a substantial improvement common to both businesses and consumers. Companies that have implemented this system are proving that reusing resources is much more cost effective than creating them from scratch. As a result, production prices are reduced, so that the sale price is also lowered, thereby benefiting the consumer; not only economically, but also in social and environmental aspects.


Circular economy principles
There are ten principles that define how circular economy should work:


Waste becomes a resource: is the main feature. All the biodegradable material returns to the nature and the not biodegradable is reused.

Second use: reintroduce in the economic circuit those products that no longer correspond to the initial consumers needs.

Reuse: reuse certain products or parts of those products that still work to elaborate new artifacts.

Reparation: find damage products a second life.

Recycle: make use of materials founded in waste.

Valorization: harness energy from waste that can’t be recycled.

Functionality economy: circular economy aims to eliminate the sale of products in many cases to establish a system of rental property. When the product completes its main function returns to the company, where it is dismantled for reusing the valid parts.

Energy from renewable sources: elimination of fossil fuels to produce the product, reuse and recycle.

Eco-design: considers and integrates in its conception the environmental impacts throughout the life cycle of a product.

Industrial and territorial ecology: establishment of an industrial organizational method in a territory characterized by an optimized management of stocks and flows of materials, energy and services.
Do you think that the circular economy principles will change the current economic, social and environmental model? Join our poll and share yur opinion.


Sumber :
https://www.activesustainability.com/sustainable-development/what-is-circular-economy/

Monday, June 29, 2020

Circular Economy to Ease Online Retail's Parcel Waste Woes

Huidu Environmental: Creating a circular economy to ease online retail's parcel waste woes

Aug 28, 2019


Amid rising environmental consciousness in China, a pair of logistics and supply chain industry veterans have come up with a novel system to recycle courier parcel packaging more effectively and sustainably.

China handles the most number of parcel deliveries in the world, with 50bn parcels sent in 2018 alone. That’s 40% of the global business, exceeding the total volume handled by Japan, the US and the EU combined. In 2016, China’s courier parcels consumed 17bn meters of tape, 8.2bn plastic bags and 46m tons of cardboard boxes, equivalent to timber from 72m trees.

Spotting the need for an economical circular economy in China to help mitigate the environmental burden of such staggering volumes of packaging waste, veteran logistics operator Chai Aina, supply chain specialist He Guanghui and PR expert Huang Xianfeng founded Huidu Environmental in August 2017.

The startup combines eco-friendly packaging with a large network of local recycling services that makes it easy for consumers to participate. This creates a smart sustainable model that also helps logistics companies cut costs and revamp courier services to meet global environmental standards.

With seed funding of RMB 10m in 2017 and Series A funding of nearly RMB 100m in January 2019, Huidu is fast expanding nationwide. China Post EMS, e-commerce giants JD.com and Suning and two of China's top five logistics companies YTO Express and STO Express are now all using Huidu's green boxes.


Building recycling eco-systems

Reusing courier parcel packaging is not new. E-commerce giants Alibaba and JD.com, and leading delivery services companies like SF Express, have already begun using more eco-friendly packing materials. But Huidu seeks to optimize the whole recycling process. The biggest difficulty for many companies is the management of the recycling operations network and recycling processes.

“There's a primary difference between green, recyclable boxes and traditional packages. In the past, we throw them away after one-off use. Now we have to return them after rent and use,” said the company's CEO Zou Tao, an e-commerce veteran. Huidu's rent business model means that customers are responsible for returning the boxes after use.

With 2m Huidu boxes already circulating in the market, it’s a huge challenge to ensure that the recycling system works sustainably. A Huidu subsidiary manages the logistics for the recycling process. It has 19 operations centers nationwide to focus on box recycling, reaching out to remote areas like Xinjiang, Tibet and Hainan. Huidu also cooperates with other logistics companies to regularly visit the customers to collect the empty boxes.

In April 2018, a smart recycling locker program Polanwang was launched to recycle Huidu boxes, conventional delivery boxes and batteries. The company also plans to expand its recycling facilities to cover local communities, business districts and convenience stores. This will make it easier for more individuals and small businesses to participate in the collection and return of recyclable packages and other renewable materials.


Reusable, convenient and cost-saving

The Shanghai-based Huidu splits the recycling services into three types. For the face-to-face deliveries such as food and drinks, the deliverymen will bring the boxes back directly after the deliveries. For the deliveries to lockers, the boxes are left behind to allow recipients to get the goods later. Customer guidance notes are also printed on the boxes to remind the recipients to leave the empty boxes in the lockers for collection by the delivery companies.

For the deliveries that need recipients to check and sign later, the recipients may choose to recycle the box when placing their next orders. Huidu will label those boxes to inform the couriers to collect the boxes when delivering the next order. The deliverymen will be given a monetary bonus if they use these boxes to deliver and return.

To popularize the use of the green logistics boxes, Huidu has come up with reusable, durable, convenient and cost-saving boxes. Huidu has patented three kinds of boxes: ZerO Box for electronics, clothes and other consumer goods; Cool Box with food-grade inner membrane for fresh food and waterproof ZerO Bag for files and documents.

The boxes have a locking design that is self-sealing without using any tape or glue. They are made of non-toxic polypropylene that can be recycled and melted in a furnace for secondary use. Records show that the boxes currently used in the market can last for four to seven months on average, with some lasting for one year and even reused for over 80 times.

Degradable boxes have existed in the market for many years but are not widely used because of the high cost, about 5–10 times more than that of conventional cardboard boxes. However, the high reuse rate of each box will reduce the cost per use by 30%, making it a great money-saver after the price hikes of cardboard boxes in recent years.


Sumber :
https://www.compasslist.com/insights/huidu-environmental-creating-a-circular-economy-to-ease-online-retails-parcel-waste-woes

Friday, June 5, 2020

Linier Economy vs Circular Economy


Indonesia memiliki segudang permasalahan lingkungan yang terus-menerus menghantui pembangunan kita, salah satunya soal sampah. Model linear economy yang bersifat take – make – dispose yang kita anut sejak beberapa dekade terakhir telah menampakkan konsekuensi yang tidak menyenangkan saat ini. Beberapa tahun terakhir, para peneliti lingkungan dan ekonomi memandang konsep ini sudah tidak sesuai dan harus mulai ditinggalkan serta beralih ke konsep lain.

Pada 2017, the British Standards Institution (BSI) meluncurkan framework Circular Economy yang pertama yaitu BS 8001:2017 yang digunakan oleh berbagai organisasi. Selanjutnya pada 2018, World Economic Forum, World Resources Institute dan  lebih dari 40 partner meluncurkan Platform for Accelerating the Circular Economy (PACE). 3 Fokus utamanya yaitu mengembangkan model keuangan campuran untuk proyek-proyek circular economy, terutama di negara-negara berkembang; menciptakan kerangka kerja serta kebijakan untuk mengatasi hambatan spesifik untuk memajukan circular economy; dan mempromosikan kemitraan publik dan swasta untuk tujuan ini.

Indonesia sendiri telah menerapkan prinsip circular economy, ditandai dengan telah diselenggarakannya Indonesia Circular Economy Forum yang ketiga kalinya pada November 2019 di Jakarta.  Keberhasilan penerapan konsep circular economy dapat membantu pembuatan produk dan layanan menggunakan inovasi yang membantu memaksimalkan efisiensi penggunaan sumber daya.  Hal ini secara efektif diharapkan akan meningkatkan daya saing, yang dapat membawa peluang pertumbuhan di tingkat global, senilai USD 4,5 triliun pada tahun 2030 (sumber: CEO Guide to the Circular Economy, WBCSD).

Selain itu, circular economy juga dapat membantu mengurangi emisi karbon, yang akan meningkatkan kondisi kehidupan di seluruh dunia dan mewujudkan Kesepakatan Paris serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Dalam circular economy, tidak ada lagi sampah. Perbedaan utama linear economy dengan circular economy dapat dilihat pada diagram di atas.

Toronto, bermitra dengan Enbridge Gas Inc, merupakan salah satu kota yang berhasil menerapkan konsep circular economy dan mendukung program kota Toronto yaitu Long Term Waste Management Strategy, dengan mengubah sampah organik bekas makanan menjadi renewable natural gas (RNG) dan menggunakannya untuk kendaraan truk. Dilansir CBC News, dengan inovasinya dalam proyek RNG, kota ini dikenal secara internasional dan mendapatkan “Energy Vision Leadership Award”.

Inovasi apa yang akan dilakukan Indonesia?


Sumber :
https://www.pertamina.com/id/news-room/market-insight/circular-economy

Tuesday, May 19, 2020

Sampah Menjadi Pakan Ikan dan Pupuk

Sampah Disulap Menjadi Pakan Ikan dan Pupuk

15 November 2019

Siedoo, Inovasi-inovasi dari akademisi terus berkembang. Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia (UI) menerapkan konsep Circular Economy pada sampah. Rancangannya adalah Sistem Aquaponik.

Sistem yang diusung tim yang beranggotakan Mufti Petala Patria, Wildan Maulana (FMIPA) dan Hapsari Setyowardhani (FEB) merupakan sistem pengintegrasikan penguraian limbah organik kantin dengan bantuan larva (maggot) Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens.

Ketua Tim Pengmas, Mufti menuturkan, untuk kelancarandan keberlangsungan asupan sampah sebagai pakan dari maggot, pihaknya telah melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pelatihan pemilahan sampah kepada para petugas kebersihan atau cleaning service yang bertugas membersihkan dan mengumpulkan sampah di kantin FMIPA-UI, belakangan ini.

“Diharapkan program ini dapat berkontribusi yang signifikan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah organik yang telah diolah akan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan produk luaran yang bernilai tinggi dan menyuburkan tanaman di sekitar,” ujar Mufti dilansir dari ui.ac.id.

Sampah organik dari kantin diurai menggunakan maggot yang mampu memakan sampah sampai lima kali berat tubuhnya per hari. Maggot tersebut setelah 14 hari akan berubah menjadi pre-pupa yang dapat digunakan sebagai pakan ikan. Air media pemeliharaan ikan ini dipompa untuk mengairi sayuran pada sistem aquaponik.

Kantin FMIPA UI dipilih untuk dikelola limbahnya. Kantin FMIPA UI pada hari kerja dapat menghasilkan sampah organik sebanyak 3-4 ember bekas cat 20 liter.

Sampah tersebut kemudian dimasukan dalam tempat pemeliharaan maggot dengan sistem ember susun dan biopond. Maggot bila telah menjadi pre-pupa atau pupa dapat langsung dijadikan makanan ikan nila, patin atau lele.

Air pemeliharaan ikan tersebut yang banyak mengandung feses dialirkan ke media tanam aquaponik dengan sistem pasang surut yang berisi tanaman kangkung. Sisa sampah beserta kotoran maggot yang dikenal dengan kasgot dapat pula digunakan sebagai pupuk bernutrisi tinggi.

Baca Juga :  Sebelum 1 Desember, Tiga Kementerian Terkait Pendidikan, Dipastikan Sudah Umumkan Peserta SKB
Sehingga dapat disimpulkan dengan sistem ini, sampah kantin dapat menghasilkan ikan, sayuran dan pupuk. Sampah dan limbah dari aktivitas atau kegiatan manusia saat ini menjadi permasalahan yang dihadapi oleh seluruh wilayah di dunia, termasuk Indonesia.

Tempat-tempat penampungan sampah mulai kesulitan menerima sampah organik maupun non-organik.  Saat ini telah dikembang konsep Circular Economy dalam pengelolaan sampah atau limbah. Konsep tersebut menerapkan 5R yaitu Rethink, Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery/Repair.

Penerapan Prinsip 5R dapat dilakukan melalui pengurangan pemakaian material mentah dari alam (reduce) melalui optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali (reuse) dan penggunaan material hasil dari proses daur ulang (recycle) maupun dari proses perolehan kembali (recovery) atau dengan melakukan perbaikan (repair).


Sumber :
https://siedoo.com/berita-26486-sampah-disulap-menjadi-pakan-ikan-dan-pupuk/

Monday, May 11, 2020

Mountrash

Daur Ulang Sampah, Meraup Penghasilan di Masa Pandemi Covid-19

Fatkhul Maskur - Bisnis.com
11 Mei 2020


Mountrash, aplikasi usaha rintisan (startapp) pengelolaan sampah memberikan solusi kepada semua orang untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah lesunya aktivitas perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Mountrash, aplikasi usaha rintisan (startapp) pengelolaan sampah memberikan solusi kepada semua orang untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah lesunya aktivitas perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Mountrash merupakan besutan PT Mountrash Avatar Indonesia. Aplikasi Mountrash yang dapat diunduh pengguna sejak Oktober 2019 itu terus dibenahi dan diperbarui untuk memudahkan pengguna atau user.

Chief Executive Officer Mountrash Gideon Widjaja Ketaren mengatakan wabah Corona of Disease 2019 (Covid-19) telah menurunkan aktivitas perekonomian, bahkan tidak sedikit karyawan yang dirumahkan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Masyarakat dapat mengunduh aplikasi Mountrash terlebih dulu di Playstore. Kemudian mengumpulkan sampah dan rongsokan di rumahnya, seperti botol plastik, dan kardus. Lalu melalui aplikasi itu, sampah dijual dan dapat dikonversikan menjadi nilai uang sejumlah tertentu sesuai dengan jenis dan banyaknya sampah," katanya, Senin (11/5/2020).

Para pekerja korban PHK dan mereka yang ingin mendaftar Kartu Prakerja pun bisa menukarkan sampah dengan kuota internet melalui aplikasi Mountrash sehingga bisa memperlancar aktivitas pendaftaran Kartu Prakerja.

"Jadi kami secara tidak langsung mendukung solusi mengatasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Mountrash menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi berbagai persoalan, termasuk bersinergi dengan Kartu Prakerja dan manajemen pengeloaan sampah secara digital,” ujar lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Menurutnya, aktivitas bekerja dari rumah (work from home/WFH) di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah meningkatkan volume sampah rumah tangga. Peningkatan sampah rumah tangga itu, kata dia, dapat menjadi peluang menambah penghasilan melalui aplikasi Mountrash.

Gideon menjelaskan semua jenis sampah, seperti plastik, kardus, kertas, besi, dan kaca yang dapat didaur ulang dapat dikonversikan menjadi uang melalui Mountrash.

Pengguna internet hanya perlu membuka Playstore, kemudian memasukkan nomor telepon seluler, memilih fitur jual (dengan memasukkan item barang yang dijual, misal sampah plastik dan kardus). Selanjutnya, pilih sent data tersebut sampai muncul barcode dan screenshot barcode untuk dikirim melalui nomor WhatsApp Mountras 082210108789. Selanjutnya, Mountras akan melakukan penjemputan sampah tersebut.

"Setelah dijemput dan barcode di-scan petugas kami, maka saldo Anda bertambah dan bisa lanjut isi kuota untuk mendaftar Kartu Prakerja, Zooming buat meeting, belajar, WFH, atau aktivitas lainnya," ujarnya.

Selain dapat menambah penghasilan semua orang di tengah kondisi perlambatan ekonomi saat ini, setiap rumah tangga juga dapat berpartisipasi mengurangi sampah plastik. "Sudah menambah penghasilan, mereka juga bisa berpartisipasi dalam mengurangi sampah plastik," ujarnya.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (Inaplas), volume sampah plastik di Indonesia pada 2017 sebanyak 5,76 juta ton. Sampah plastik itu terdiri atas daur ulang 1,66 juta ton, impor 1,79 juta ton, dan produksi dalam negeri 2,31 juta ton. Adapun konsumsi plastik terus meningkat dengan proyeksi pada 2030 menjadi 11,07 juta ton dari 2017 sebanyak 5,76 juta ton.

Waki Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Sampah Plastik Indonesia (ADUPI) Justin Wiganda menjelaskan selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah, terjadi perubahan jumlah dan lokasi sampah plastik.

"Bekerja dari rumah, selain itu perkantoran, ritel, mal, restoran, toko-toko banyak tidak beroperasi sehingga terjadi pergeseran sampah. Selain itu, bahan baku daur ulang berubah secara volume, kualitas, dan lokasi," katanya.

Dia berharap agar kondisi berangsur normal setelah Lebaran sehingga industri daur ulang bisa beraktivitas kembali secara normal.

Sepudin Zuhri, pemilik Alala Recycling--pengolahan sampah plastik jenis polyethylene terephtalate (PET) di Kabupaten Bogor, mengungkapkan terjadinya pergeseran lokasi sampah selama pandemi Covid-19 karena perubahan aktivitas, yaitu tetap tinggal di rumah atau bekerja dari rumah.

"Saat kondisi normal, sampah plastik banyak berasal dari perkantoran, mal, restoran, hotel, dan lainnya. Namun, sekarang banyak perkantoran yang tutup karena bekerja dari rumah sehingga sampah plastik justru banyak berasal dari rumah tangga," ujarnya.

Menurutnya, kondisi saat ini bisa menjadi momentum untuk edukasi memilah sampah dari rumah tangga sehingga memudahkan proses daur ulang. "Jika sampah sudah dipilah dari rumah tangga, biaya daur ulang lebih efisien karena sampah plastik tidak tercampur dengan jenis sampah lain sehingga lebih bersih."

Selain memilah, setiap rumah tangga dapat menjual sampah plastik melalui aplikasi digital seperti Mountrash sehingga menambah pemasukan keluarga di tengah kondisi perlambatan ekonomi saat ini.

Sepudin mengakui pandemi Covid-19 telah memukul industri daur ulang karena permintaan baik bahan baku maupun produk daur ulang terjadi penurunan. Namun, dia meyakini bahwa kondisi ini akan segera berakhir dan normal kembali.


Sumber :
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200511/257/1238656/daur-ulang-sampah-meraup-penghasilan-di-masa-pandemi-covid-19