Pages

Tuesday, January 23, 2024

Nikel atau Besi? (LFP Lithium Iron Phosphate Battery)

Nikel berperan penting dalam industri kendaraan listrik, karena nikel merupakan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini juga mendukung transisi energi dari energi tenaga fosil ke energi hijau.

Hal ini bertujuan selain harga bahan fosil yang kian mahal, juga agar lebih ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan. Sebab, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan mengurangi polusi udara.

Nikel dipadukan bersama kobalt dan mangan untuk memproduksi baterai lithium-ion, jenis baterai paling umum digunakan dalam motor maupun mobil listrik. Selain tahan karat, komposisi ini juga unggul dari sisi kepadatan serta harga yang lebih murah dari bahan baku lainnya.

Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai bukanlah hal baru. Produk baterai dari nikel antara lain baterai ponsel, kamera digital, laptop dan alat-alat kelistrikan lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi baterai, kini nikel banyak diburu untuk membuat baterai kendaraan berbasis listrik.

Penggunaan nikel ke depan diperkirakan akan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai negara. Meski saat ini pangsa pasar kendaraan listrik masih kecil, ke depan tren kendaraan listrik diprediksi bakal tumbuh pesat.

Saat ini lebih dari dua pertiga pemanfaatan nikel sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat alias stainless steel. Kandungan nikel dalam pembuatan stainless steel mencapai 75 persen. Stainless steel yang terbuat dari nikel juga mudah dibentuk sehingga penggunaan stainless steel pun sangat luas.

Pemanfaatan nikel saat ini adalah:.

  • 69 persen stainless steel.
  • 11 persen baterai.
  • 7 persen paduan nonbesi.
  • 6 persen pelapis.
  • 3 persen paduan baja.
  • 2 persen pengecoran.
  • 2 persen lainnya.


Harga nikel global di seluruh dunia sudah turun kurang lebih 30 persen dalam 12 bulan terakhir, dan diprediksi tahun depan ada surplus stok nikel di dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Jadi dengan begitu gencarnya pembangunan smelter di indonesia, kita membanjiri dunia dengan nikel, harga jatuh terjadi kondisi oversupply.

Namun ada opsi lain, formulasi bahan baterai yang tidak menggunakan nikel. Salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, kini katanya sudah tidak lagi menggunakan nikel sebagai bahan baku baterai lithium yang digunakan, tapi LFP. Khususnya, di pabrik yang basis produksinya di China

LFP (“lithium ferrophosphate”) atau Lithium Iron Phosphate Battery (LiFePO4), adalah jenis baterai isi ulang, khususnya baterai lithium-ion, yang digunakan sebagai bahan katodanya. 

Baterai LFP memiliki kepadatan energi yang agak rendah daripada oksida kobalt lithium (LiCoO2) yang lebih umum ditemukan di elektronik konsumen. Namun, Baterai LFP menawarkan masa pakai yang lebih lama, kepadatan tenaga yang lebih baik (tingkat energi yang dapat ditarik darinya), harganya yang lebih rendah, lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih aman karena tidak beracun. 

LFP memiliki banyak peranan dalam penggunaan kendaraan dan daya cadangan.

Bahan katoda dalam baterai LFP tidak berbahaya, dan karenanya tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau bahaya lingkungan yang negatif. Karena oksigen terikat erat ke molekul, tidak ada bahaya baterai meletus menjadi api seperti yang ada pada Lithium-Ion.


Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan penggunaan LFP untuk mobil listrik memang hanya 27% pada 2022. Namun, cakupan penggunaan ini naik signifikan dari 7% pada 2018.

Sedangkan penggunaan nikel untuk komponen baterai mobil listrik pada 2022 masih sebesar 66%. Namun, cakupan baterai berkandungan nikel tinggi turun dari 78% pada 2022. Ini menunjukkan pangsa pasar LFP terus meningkat sementara baterai nikel tinggi tergerus.

IEA mencatat sekitar 95% LFP diproduksi Cina. Pabrikan mobil listrik asal negara yang sama, BYD, mendominasi penggunaan LFP hingga 50% dari total permintaan baterai tersebut. Sementara, Tesla berkontribusi sebesar 15% dari total permintaan.

Meski Tesla masih menggunakan nikel, penggunaan LFP Tesla meningkat dari 20% dari total mobil yang diproduksi pada 2021 menjadi 30% pada 2022.


Baterai mobil listrik lithium ferro phosphate atau LFP berbahan baku besi dan litium yang tak lagi menggunakan nikel sebagai komponen utama. Pabrikan mobil listrik bahkan yang telah beredar di Indonesia seperti Wuling Air Ev dan Binguo EV, termasuk tiga modeal BYD Atto, Seal maupun Dolphin menggunakan teknologi baterai tersebut.

Mobil listrik milik Wuling seperti Air EV dan Binguo EV memilih penggunaan Lithium Ferro-Phosphate (LFP) untuk pasar Indonesia. Jenis ini disebut memiliki keunggulan dari jangka pakai panjang, hingga daya tahan terhadap suhu tinggi.

Wuling Binguo EV varian long range yang memiliki jarak tempuh 333 km memiliki kapasitas baterai 31,9 kWh, sedangkan versi premium range atau 410 km berkapasitas 37,9 kWh.

Sementara untuk Air EV standard range dan lite dengan jarak tempuh 200 km memiliki kapasitas baterai 17,3 kWh, sedangkan long range berkapasitas 26,7 kWh yang mampu melaju sampai 300 km.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230712132850-85-972548/industri-baterai-kendaraan-listrik-dipacu-nikel-diburu.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1679815-pernyataan-lengkap-thomas-lembong-soal-lfp-yang-buat-gibran-tanya-apakah-cak-imin-anti-nikel?page=3

https://ciptakaryaenergi.co.id/product/battery-lithium-lifepo4/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/21/cek-data-mana-baterai-mobil-listrik-lebih-populer-baterai-nikel-atau-lfp-yang-disinggung-gibran

https://m.bisnis.com/amp/read/20240122/46/1734230/baterai-lfp-tanpa-nikel-digunakan-wuling-byd-dan-tesla

Sunday, January 21, 2024

Greenflation

Greenflation atau inflasi hijau adalah jika harga komoditas naik karena transisi menuju ekonomi hijau. Dikutip dari situs resmi Bank Sentral Eropa (ECB), saat ini banyak perusahaan yang mengadaptasi proses produksinya dalam upaya mengurangi emisi karbon. 

Berdasarkan Blog Kamus Cambridge, greenflation diartikan sebagai "kenaikan harga akibat peralihan ke ekonomi hijau".

Sebagian besar teknologi ramah lingkungan memerlukan sejumlah besar logam dan mineral, seperti tembaga, litium, dan kobalt, terutama selama masa transisi. Misalnya saja kendaraan listrik yang menggunakan mineral enam kali lebih banyak dibandingkan kendaraan konvensional. Begitu juga pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai membutuhkan jumlah tembaga tujuh kali lipat dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas.

Lalu bagaimana cara mengatasi greenflation?.

Greenflation merujuk pada kenaikan harga dan krisis tenaga kerja yang terjadi seiring dengan transisi ramah lingkungan. Kenaikan harga terjadi lantaran perusahaan mengeluarkan anggaran lebih untuk melakukan transisi energi mengingat biaya penggunaan energi hijau dianggap masih lebih mahal dibandingkan fosil.

Di Eropa, Greenflation memakan korban seperti yang terjadi pada gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) di Prancis. Gerakan rompi kuning mulai mencuat di Prancis pada Oktober 2018 sebelum akhirnya pecah menjadi aksi unjuk rasa pada 17 November 2018. Sejak itu, banyak yang melanjutkan aksi blokade massa yang menyebabkan kemacetan dan kelangkaan bahan bakar menjelang musim libur. Peserta terus menggelar aksi protes setiap Sabtu hingga kini.


Gerakan Rompi Kuning di Prancis sebenarnya fokus ke berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelas pekerja. Pada 2018, Presiden Prancis Emmanuel Macron akhirnya berjanji untuk menaikkan upah dan meringankan pajak setelah demo Rompi Kuning.

Menurut euroactiv, pajak yang dimaksud adalah pajak karbon yang menaikkan harga BBM, sehingga memicu protes.


Dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah (terutama yang berada di daerah pedesaan dan periurban), para pengunjuk rasa menyerukan akhir dari perubahan tersebut dan pengunduran diri Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Gerakan ini telah banyak terlihat di kota-kota Prancis, tetapi daerah-daerah pedesaan telah mengalami mobilisasi luar biasa dalam unjuk rasa tersebut. Rompi kuning dipilih sebagai simbol karena semua pengendara mobil telah diwajibkan oleh hukum—sejak tahun 2008—untuk memiliki rompi bervisibilitas tinggi dalam kendaraan mereka ketika mengemudi. Akibatnya, rompi reflektif telah menjadi tersedia secara luas, murah, dan simbolik.


Sumber :

https://katadata.co.id/tiakomalasari/ekonomi-hijau/65ad2dfeaa68d/apa-itu-greenflation-yang-disebut-gibran-di-debat-cawapres

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20240121201943-532-1052499/apa-itu-greenflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud.

https://www.liputan6.com/global/read/5510483/gibran-kaitkan-inflasi-hijau-dengan-gerakan-rompi-kuning-apa-hubungannya?page=2

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240121233627-134-1052596/apa-itu-demo-rompi-kuning-yang-disinggung-gibran-saat-respons-mahfud.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_rompi_kuning

Thursday, January 11, 2024

Carbon Capture Technology & Converting CO2

Carbon Capture Technology & Converting CO2 into Something Useful

By George Vaniotis Ph.D. -August 25, 20220


Carbon Capture Technology

Carbon capture technology has been around for a while, with new advancements being developed to help combat climate change. Carbon capture and storage is a combination of technologies designed to prevent the release of CO2 generated through conventional power generation and industrial production processes and storing the CO2 in underground reservoirs. However, a recent discovery might allow that captured CO2 into valuable products while addressing climate change.


Existing Carbon Capture Technology

CO2 capture technology separates CO2 emissions from the environment and compresses them for storage in a suitable storage location. The compressed CO2 can be transported via pipeline or by traditional shipping methods. The captured CO2 can then be stored in abandoned oil and gas fields, deep saline formations, as well as no longer mineable coal seams. The primary reason CO2 is needed is to reduce emissions generated by industry and power generation, which would allow fossil fuel use to continue for the time being while still generating a significant decrease in CO2 emissions.

Several technologies are currently being employed in the capture, transport, and geological storage of CO2. Typically referred to as “capture technologies”, they can be grouped into three categories, depending on the industry targeted. Development of these technologies has primarily focused on the efficiency of removing CO2 from the other compounds usually emitted by the industrial process.


Post-Combustion: Post-combustion methods involve the capture of CO2 from gas streams produced after the combustion of fossil fuels or other carbon-based materials. The post-combustion separation process involves using solvents to separate carbon dioxide out of the gas and capture it. The thermodynamic driving force for this method is relatively low, typically less than 15%. Common applications for this technology include pulverized coal plants and natural gas combined cycle plants.

Pre-Combustion: This process removes CO2 from fossil fuels before combustion is completed. The fuel in the process is reacted with either steam, air, or oxygen and converted into a mix of carbon monoxide and hydrogen. The carbon monoxide is then converted to CO2 and separated from the hydrogen, which can be used to generate power and/or heat. This process performs slightly better in terms of energy efficiency than post-combustion capture; however, while the energy demand is lower, the capital investment is larger due to the more complex installation.

Oxyfuel Combustion: The oxyfuel combustion process burns fuel using pure oxygen, or a mixture of oxygen and recirculated gas. This produces a flue containing mainly water vapor and a high concentration of CO2 (80%). Since the nitrogen component of air is not heated, fuel consumption is reduced, and higher flame temperatures are possible. The gas is then cooled to condense the water vapor, which leaves an almost pure stream of CO2.


Public Perception & Environmental Impact

With any new technology, there is always some public concern, as well as regulatory uncertainty in its initial stages. The primary concern with carbon capture technology is the storage of CO2 and the potential environmental impact it may cause. While modifications to international legislative provisions have been made recently to accommodate for the offshore storage of CO2, many apprehensions remain concerning storage liability, monitoring responsibility, and the transport of CO2. While general frameworks have been adopted in certain parts of the world, discussions are still ongoing in others, like the United States. According to scientists, this is partly due to the mixed public opinion on the technology, believed to be tied to a general lack of awareness. In fact, in several communities where CO2 storage projects were planned, local stakeholders have shown concern about the risks, leading to protests.

While carbon capture technology and storage can potentially significantly reduce CO2 emissions generated by industrial installations, it still poses a risk to the environment from possible leaks in transportation pipelines or storage sites. CO2 leaking from a pipeline entails similar risks to natural gas leaks, though CO2 is not flammable. Moreover, while not poisonous, it can lead to asphyxiation if the concentration in the air becomes high enough. As such, several countries have established regulatory standards for the transport and permanent storage of CO2. Negative environmental impacts can be associated with the toxicological impact related to the use of solvents to chemically trap the CO2 and the energy penalty required to operate the capture unit.


New Discovery

Engineers at the University of Cincinnati have developed a promising new CO2 conversion procedure that may make the process more economically viable for industries1. The method comprises an electrochemical system that converts emissions from chemical and power plants into useful by-products that can be used to generate new materials. Utilizing a two-step cascade reaction, this new technique converts carbon dioxide first into carbon monoxide and then into ethylene. Ethylene is an important industrial organic chemical that has been called “the world’s most important chemical”1. It’s used in the production of a range of plastics from water bottles to PVC pipe and textiles, to manufacture ethylene oxide, polyethylene for plastics, alcohol, and even rubber found in tires and insulation.

The significance of using a two-stage conversion process is that ethylene selectivity can be increased while also increasing productivity in a process that can be applied to various reactions, given its simple electrode structure. In the future, this technique can be used to reduce carbon emissions while also generating a profit for the industry, eliminating one of the main drawbacks of current carbon capture processes. However, the current process, using copper, requires more energy than it produces in ethylene. While great strides have been made in improving the process, more work still needs to be done, though a superior catalyst than copper would likely solve the economic issue.


Sumber :

https://blog.labtag.com/carbon-capture-technology-converting-co2-into-something-useful/

Tuesday, October 3, 2023

Bahaya Kandungan BPA dalam Plastik

Kandungan BPA dalam Wadah Plastik Bahaya untuk Kesehatan, Kok Bisa? 

14/10/2021

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan wadah berbahan plastik masih sering dijumpai. Harganya yang relatif murah dan mudah ditemukan menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar orang menggunakannya. 

Bagi Anda yang menggunakan produk-produk tersebut, mungkin tak asing dengan istilah BPA. Misalnya pada produk bayi yang sering dilabeli dengan logo BPA-Free. Lantas,sebenarnya apa itu BPA? 

Bisphenol-A atau yang biasa disebut dengan BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam kemasan plastik polikarbonat untuk membuat plastik tetap keras dan tidak mudah hancur. Lazimnya, BPA kerap dipakai dalam kemasan galon.  

Selain pada plastik, BPA juga digunakan untuk melapisi bagian kemasan dari makanan kalengan, produk kebersihan, pipa suplai air, dan dental sealant atau lapisan plastik tipis yang dipasang untuk melindungi gigi dari kerusakan. 


Bahaya BPA bagi Kesehatan 

Penggunaan produk yang terkontaminasi BPA secara terus-menerus akan memengaruhi kesehatan tubuh, bahkan bisa membahayakan kesehatan. Terlebih jika bayi atau anak-anak yang terkena paparan BPA tersebut. 

Meski saat ini sudah banyak produk bayi yang tidak lagi menggunakan BPA, namun beberapa produk lainnya masih saja ada yang mengandung BPA. Dalam diskusi virtual bertema "Mendesain Regulasi Bisphenol-A (BPA) yang Tepat" yang diselenggarakan Centre for Public Policy Studies (CPPS), Rabu (13/10/2021), Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengungkapkan bahwa BPA berisiko tinggi memengaruhi kesehatan bayi. 

"Tidak hanya di botol dot tetapi juga di peralatan makan lainnya, di peralatan makanan-makanan kaleng. Yang membuat BPA ini berbahaya adalah ketika ada pemanasan berulang kali dari plastik, sehingga bagian dari BPA ini larut ke dalam makanan yang ada di dalam asupan di dalam botol," ujarnya. 

Pada ibu hamil, BPA dengan mudah masuk ke dalam rantai makanan antara ibu dan bayi. Biasanya BPA ditemukan dalam urin, darah, tali pusar, maupun ASI. "Janin dan bayi juga bisa terpapar BPA karena kalau pun mereka ngga mengonsumsi susu formula, dari tali pusar bisa kena (BPA) dan masuk, lalu bisa juga kalo dia minum ASI, ASInya perahan yang ditaro di dot juga bisa. Atau kalau menyusui (langsung), dan ibunya menggunakan banyak (benda) yang terkontaminasi BPA tanpa disadari," tutur Nia.

Dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Irfan Dzakir Nugroho, Sp.A, M.Biomed mengatakan hal yang senada. Menurutnya, BPA ditemukan di hampir semua anggota tubuh yang mungkin disebabkan masifnya penggunaan kemasan pangan. dr Irfan mengungkapkan ada lebih dari 130 studi yang melaporkan efek berbahaya dari BPA. 

Beberapa di antaranya adalah dapat menyebabkan kanker payudara, pubertas dini, penyakit jantung, infertilitas, katalisator penyakit saraf, dan obesitas. 


Bagaimana Mekanisme BPA Memengaruhi Kesehatan? 

BPA dapat memengaruhi hormon endokrin seperti estrogen, androgen, dan tiroid. Selain itu, paparan BPA yang berlebih dapat menyebabkan gangguan homeostasis metabolik pada anak, gangguan struktur dan fungsi otak, efek kesehatan di usia selanjutnya pada anak. 

"Pada usia dewasa atau usia produktif BPA bisa memengaruhi produktivitas dan bisa juga menyebabkan gangguan pada saat kehamilan dan persalinan. Dan juga menyebabkan obesitas dan beberapa penyakit metabolik," ungkap dr Irfan. 

Kontaminasi BPA dapat membahayakan ibu hamil, karena mengganggu kerja endokrin, dan mampu untuk meniru hormon estrogen. Pada laporan yang terbit pada tahun 2008 oleh Program Toksikologi Nasional AS menemukan bahwa adanya efek pada otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada janin, bayi serta anak-anak akibat paparan BPA yang masuk melalui plasenta, ASI, pemberian susu botol, dan pemberian makanan atau minuman yang telah terkontaminasi BPA. 

"Menurut studi, pemaparan BPA pada fase kehamilan (gestasional) di mana paparan BPA pada masa ibu hamil, maka ini akan berefek terhadap anaknya. Di mana anaknya akan mempunyai gangguan perilaku dan aspek emosional yang kurang baik. (Ganguguan ini) bisa dilihat pada anak-anak di usia 3 tahun," tandasnya. 

Tak hanya pada bayi, BPA juga dapat menimbulkan bahaya pada kelompok usia anak-anak, di antaranya: Menyebabkan gangguan tumbuh kembang, perilaku depresif, ansietas, dan hiperaktif Memengaruhi perilaku emosional dan kekerasan Memengaruhi senyawa yang dihasilkan oleh otak seperti dopamine, serotonin, acetylcholine, dan hormon thyroid


Sumber :

https://www.kompas.com/sains/read/2021/10/14/110300223/kandungan-bpa-dalam-wadah-plastik-bahaya-untuk-kesehatan-kok-bisa?page=all.

Galon BPA atau Plastik PET

Mana Lebih Bahaya Bagi Kesehatan, Galon BPA atau Plastik PET? 

Jumat, 29 Juli 2022

Pertanyaan paling menohok terkait air minum dalam kemasan (AMDK) galon plastik adalah, mana yang lebih berbahaya buat kesehatan manusia, antara galon polikarbonat (PC) plastik keras yang mengandung bisphenol-A (BPA) atau galon yang menggunakan plastik polyethylene terephthalate (PET)?  

Kedua jenis kemasan plastik ini memiliki kelebihan dan kekurangan terkait risiko kesehatan bagi manusia. Terkait produk-produk makanan dan minuman, kemasan polikarbonat yang kita kenal sebagai plastik keras atau kaku itu biasa digunakan sebagai galon isi ulang air minum 19 liter. 

Sementara, kemasan PET biasa digunakan untuk botol air minum ukuran 300 mililiter hingga 1 liter dan galon 15 liter. Sejumlah penelitian mengungkap, BPA berdampak terhadap kesehatan melalui mekanisme gangguan hormon, khususnya hormon estrogen. 

BPA pada gilirannya berkaitan dengan gangguan sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita, diabetes, obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, dan perkembangan kesehatan mental. 

Sementara itu, PET dibuat dari, salah satunya, etilen glikol, yang juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bila dikonsumsi secara ekstrem berlebihan. 

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Andi Cahyo Kumoro, turut memberikan pandangannya.  "Pelepasan BPA pada galon guna ulang rentan terjadi bila galon sampai tergores atau terpapar sinar matahari langsung. Efeknya,  paparan BPA bisa memunculkan gangguan pada sistem saraf dan perilaku anak. Sedangkan pada ibu hamil bisa memicu keguguran," ujar Prof. Andi dalam keterangannya, Jumat 29 Juli 2022.  

NPR Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, turut mendorong rencana pelabelan BPA, agar segera dilaksanakan. Dorongan ini berkaitan dengan masih adanya penolakan atas rencana itu dari kalangan industri air minum dalam kemasan. 

“Efeknya jangka panjang. Kalau (BPA) tidak berdampak, kenapa negara maju sudah membatasi dan melarangnya. Langsung saja wajib labelisasi, kok takut pada industri. Produsen kelas dunia  seperti Danone di Prancis sudah mengganti wadah produknya ke jenis plastik yang bebas BPA," jelasnya.  

"Yang jadi pertanyaan, kenapa unit Danone di negara berkembang tidak mengadopsi hal yang sama? Seharusnya sama-sama fair dong. Lagi pula ini kan hanya pelabelan. Masa label saja keberatan," sambungnya.  

Kekhawatiran terhadap efek BPA juga datang dari Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar. Dia mengatakan, BPA berisiko tinggi memengaruhi kesehatan bayi. Pada ibu hamil, BPA dengan mudah masuk ke dalam rantai makanan antara ibu dan bayi. 

Biasanya BPA ditemukan dalam urine, darah, tali pusar, maupun ASI.   Sementara itu, dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Irfan Dzakir Nugroho, Sp.A, M.Biomed, mengungkapkan, BPA ditemukan di hampir semua anggota tubuh, antara lain disebabkan masifnya penggunaan kemasan pangan.   

Irfan menyampaikan, ada lebih dari 130 studi yang melaporkan efek berbahaya dari BPA. Beberapa di antaranya antara lain menyebabkan kanker payudara, pubertas dini, penyakit jantung, infertilitas, katalisator penyakit saraf, dan obesitas.

BPA diketahui dapat memengaruhi hormon endokrin seperti estrogen, androgen, dan tiroid. Selain itu, paparan BPA yang berlebih bisa  menyebabkan gangguan homeostasis metabolik pada anak, gangguan struktur dan fungsi otak, efek kesehatan di usia selanjutnya pada anak.  

Sedangkan pada usia dewasa atau usia produktif BPA bisa memengaruhi produktivitas dan bisa juga menyebabkan gangguan pada saat kehamilan dan persalinan, termasuk menyebabkan obesitas dan beberapa penyakit metabolik. 

Plastik PET Berbeda dengan kandungan BPA pada polikarbonat, kandungan etilen glikol pada PET tidak memunculkan pengaturan (pelarangan), baik di dalam maupun luar negeri. Sejauh ini, belum ada satu negara pun menerapkan pelabelan terhadap potensi efek etilen glikol pada plastik PET. 

Ini bukan karena tidak adanya penelitian lapangan terkait migrasi zat kimia itu dari kemasan PET. Tetapi lebih karena bahaya dan dampaknya pada kesehatan potensinya lebih besar ada pada galon BPA dibanding plastik PET. 

Frank Welle, ahli kimia yang berfokus pada interaksi bahan kemasan dengan pangan dari University of Freiburg, Jerman, dalam makalahnya “The Facts about PET” menulis bahwa, jika dibandingkan dengan jenis plastik lain, PET lebih lengai (inert) atau tidak mudah mengalami perubahan kimia.  

Pada gilirannya, menurut Welle, monomer PET, seperti etilen glikol, hanya dapat bermigrasi dalam jumlah yang sangat kecil ke dalam pangan yang dikemasnya. Mengutip penelitiannya pada 2004, dia menunjukkan bahwa tingkat migrasi etilen glikol dari kemasan PET, jauh di bawah batas standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

"Nilai kompeten berbahaya di dalam kemasan PET seperti etilen glikol dan antimon (yang hanya digunakan sebagai katalis) masih jauh di bawah standar apabila tidak dilakukan perlakuan khusus layaknya percobaan (seperti dipanaskan pada suhu dan jangka waktu tertentu atau direaksikan dengan bahan kimia tertentu)," kata Welle menyimpulkan.


Sumber :

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1503417-mana-lebih-bahaya-bagi-kesehatan-galon-bpa-atau-plastik-pet?page=all

Kemasan PET Ada Kandungan yang Berbahaya

Pakar IPB: Kemasan PET pun Sebenarnya Ada Kandungan yang Berbahaya

06 Sep 2022, 10:04 WIB

Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma menyayangkan semakin liarnya isu soal BPA di masyarakat. Menurut Edhi, isu BPA bisa memberikan kesalahan persepsi di konsumen bahwa kemasan galon guna ulang itu berbahaya, sementara kemasan plastik-plastik lainnya itu terkesan aman.

"Padahal, seperti yang kita tahu bahwa BPA itu ada di mana-mana, tidak hanya di galon polikarbonat, tetapi ada juga di kemasan kaleng, botol bayi, atau di dot. Itu mestinya dilarang total bagi bayi dan anak-anak," kata Edhi dikutip dari keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 5 September 2022.

Edhi menjelaskan bahwa di makanan kaleng ada riset yang mengatakan hampir 90 persen enamel pada kaleng itu terbuat dari epoksi,"Epoksi itu adalah BPA dan BPA adalah sebagai basic. Jadi, seharusnya ini kan juga perlu dilabeli juga.".  

Sehingga dengan berhembusnya isu BPA, bisa menyebabkan terjadinya mispersepsi di masyarakat bahwa kemasan yang tidak mengandung BPA itu aman-aman saja.

"Padahal, kemasan lain itu juga belum tentu aman. Kemasan PET misalnya, itu juga ada risiko dari bahan senyawa yang lain yang berpotensi ke arah negatif. Di PET ada kandungan antimon, asetildehid, etilen glikol, dan lain-lain yang juga berbahaya," katanya.

Dia juga mengkritisi langkah BPOM yang seolah membiarkan kampanye negatif terhadap galon polikarbonat. Edhi menilai bahwa ini justru bertentangan dengan BPOM sendiri pada aturan label pangan.  

"Jadi, ketidaksepahaman saya pada aturan pelabelan BPA ini adalah, khawatirnya nanti malah ada prasangka buruk kalau BPOM itu dianggap membela salah satu brand. Itu yang pasti akan muncul karena fenomena ini," ujarnya.


Teror Isu BPA Harus Dihentikan

Sementara itu Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, meminta agar 'teror-teror' yang mendiskreditkan produk galon guna ulang kemasan polikarbonat yang ramat lingkungan untuk segera dihentikan.

Asrul, mengatakan, tindakan meneror yang dilakukan terhadap galon guna ulang ini sebenarnya bukan hanya menciderai usaha air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang saja, tapi juga menciderai rakyat.

“Saya katakan bahwa itu bukan menciderai perusahaan AMDK galon guna ulang saja, tapi juga rakyat. Karena, yang masuk-masuk ke rumah tangga itu kan AMDK galon guna ulang," katanya. 

Dia juga mengkritisi BPOM RI yang seakan mendukung tindakan peneroran ini.

"Jadi, kunci permasalahan isu galon guna ulang ini termasuk juga karena BPOM yang seakan membiarkan isu ini terjadi berlarut-larut hingga saat ini," katanya.


BPOM Diminta Tegas

Oleh sebab itu, Asrul berharap BPOM menghentikan sikap yang seakan mendukung beredarnya isu negatif terhadap galon guna ulang ini di masyarakat.

"Sebab, kalau tidak berhenti, hal ini akan jadi bumerang bagi BPOM sendiri yang akan dituding bersikap diskriminatif," katanya.

Dia mengatakan BPOM itu seharusnya tidak hanya fokus mengawasi galon guna ulang saja, tapi juga minuman-minuman lainnya seperti teh, kopi, dan lain-lain.

"Jadi, untuk BPOM, tolong minum-minuman teh, kopi, diperiksa sumber airnya. Ini catatan untuk BPOM, jangan cuma galonnya saja itu yang diawasi. Karena ada ribuan kemasan di supermarket yang harus diurus BPOM di luar galon," katanya.

Dia juga mengingatkan agar perusahaan tidak ada yang melakukan persaingan tidak sehat.

"Boleh produksi dan memasarkan produk, tapi jangan melakukan kampanye negatif terhadap orang lain," katanya.  


Sumber :

https://www.liputan6.com/health/read/5060749/pakar-ipb-kemasan-pet-pun-sebenarnya-ada-kandungan-yang-berbahaya?page=3

Mikroplastik pada Makanan dan Minuman

Mikroplastik Berbahaya yang Mungkin Ada di Makanan Kita

Selasa, 3 Oktober 2023 | 10:36 WIB

Mikroplastik adalah potongan kecil plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Mikroplastik tidak hanya ditemukan di lingkungan seperti di udara, air sungai atau air laut saja. Mikroplastik, bahkan sebenarnya juga ditemukan di dalam air minum dan makanan, yang artinya potongan plastik kecil ini mungkin ada di dalam tubuh kita.

Partikel-partikel mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk pemecahan plastik yang lebih besar, produk-produk plastik mikro dan limbah plastik yang tersebar di lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di dalam tubuh manusia termasuk darah, tinja dan jaringan tubuh yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh.


Dampak Negatif Mikroplastik bagi Tubuh

Mikroplastik dapat berdampak negatif bagi kesehatan tubuh, di antaranya:


Kemungkinan paparan zat kimia

Mikroplastik memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap zat kimia dari lingkungan. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan atau minuman, zat kimia yang menempel pada mikroplastik bisa berpindah ke tubuh manusia.


Risiko peradangan

Risiko peradangan akibat partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia hingga kini masih belum dipahami sepenuhnya dan masih terus diteliti. Namun, potensi reaksi inflamasi tubuh berlebihan mungkin terjadi saat mikroplastik dan zat kimia berbahaya yang diserapnya masuk lebih dalam ke tubuh.

Inflamasi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan autoimun.


Gangguan hormonal

Mikroplastik yang terpapar zat-zat kimia berbahaya bisa masuk ke dalam tubuh dan menjadi zat-zat pengganggu hormon yang memengaruhi sistem endokrin manusia. Ini dapat berdampak pada keseimbangan hormon di dalam tubuh dan memiliki efek jangka panjang yang tidak diinginkan.

Selain zat-zat pengganggu endokrin, mikroplastik juga mungkin membawa logam berat atau polutan organik yang meningkatkan paparan bahan kimia berbahaya di tubuh.


Jenis Mikroplastik yang Mungkin Terkandung di Dalam Makanan dan Minuman

Tidak hanya mungkin terhirup oleh hidung, mikroplastik juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman. Adapun beberapa jenis mikroplastik yang bisa ditemukan di dalam makanan atau minuman di antaranya:


BPA (Bisphenol A)

BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam produksi plastik seperti botol plastik, galon air kemasan, peralatan makan, peralatan dapur, mainan, lapisan pelindung kaleng makanan atau minuman serta produk kemasan makanan lainnya. BPA telah menjadi subjek perhatian karena potensinya sebagai zat kimia yang dapat mengganggu sistem endokrin.


BPA dapat menyebabkan dampak negatif lain bagi tubuh, di antaranya:

  • Memengaruhi perkembangan otak janin dan anak-anak
  • Memengaruh kesehatan reproduksi pria
  • Berdampak pada perubahan perilaku anak-anak
  • Meningkatkan tekanan darah, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular


Dioxin

Dioxin adalah sekelompok senyawa kimia yang sangat beracun yang merupakan produk sampingan dari proses industri dan pembakaran termasuk pembakaran sampah, pembakaran bahan bakar fosil dan proses kimia tertentu. Dioxin dikaitkan dengan masalah sistem reproduksi termasuk gangguan menstruasi, penurunan kesuburan dan masalah perkembangan seksual.

Dioxin juga dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh, gangguan hormonal, meningkatkan risiko perkembangan kanker serta memengaruhi sistem saraf dan perkembangan otak anak-anak secara negatif.


Phthalate

Phthalate adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai agen pemlastis. Bahan kimia ini dapat meningkatkan fleksibilitas, kekuatan dan daya tahan plastik sehingga lebih mudah dibentuk dan tahan lama. Beberapa jenis phthalate dikaitkan dengan gangguan hormonal yang berdampak negatif terutama bagi anak-anak.


Polyethylene dan polypropylene

Kedua jenis bahan kimia ini membuat kemasan menjadi lebih ringan dan tahan lama. Penelitian menemukan bahwa bahan kimia ini mungkin berkontribusi terhadap beberapa jenis kanker.


Sumber :

https://www.ai-care.id/penyakit/mikroplastik-berbahaya-yang-mungkin-ada-di-makanan-kita