Pages

Saturday, July 29, 2023

Dampak Plastik dan Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan, Temuan Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Bahaya sampah plastik makin menghantui kehidupan manusia di bumi. Jumlahnya terus bertambah, menggunung dan ‘abadi’. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mendata, jika sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Jika diumpamakan paus biru, jumlah sampah ini setara 370 ekor paus biru dengan rata-rata panjang 30 meter.

Tak heran jika ada ilmuwan yang memprediksi di tahun 2050 nanti, jumlah sampah di laut lebih banyak dibanding ikan. Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lautan Indonesia sudah tercemar sampah plastik cukup parah. Di tahun 2020, ada sekitar 1772,7 gram sampah per meter persegi. Tak hanya di lautan, sampah plastik juga menghantui daratan juga kehidupan manusia.

Tanpa penanganan yang tepat, bahaya sampah plastik tidak hanya mempengaruhi lingkungan saja, tapi juga kesehatan manusia. Sebuah fakta mengejutkan ditemukan oleh peneliti dari ECOTON, bahwa mikroplastik ditemukan dalam feses manusia. Penemuan ini diabadikan dalam film dokumenter ciamik, Pulau Plastik. Terbaru, ahli ekotoksikologi dari Vrije University Amsterdam Belanda, Dick Vethaak, menyebut partikel mikroplastik ditemukan dalam darah manusia.

Melansir dari laman The Guardian (Microplastics Found in Human Blood for First Time, 4 Maret 2022), bahaya sampah plastik bagi kesehatan manusia ini masih dalam penelitian, terlebih setelah ditemukan mikroplastik dalam darah dan feses manusia.


Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Manusia bisa terpapar mikroplastik karena penggunaan plastik dalam keseharian yang sudah dianggap hal biasa. Bisa dilihat dari sekeliling kita, dari alat makan, elektronik, hingga sabun dan skincare, mengandung plastik. Melansir dari laman Plastic Health Coalition, menyebut jika bahaya sampah plastik bisa berpengaruh pada kesehatan manusia lewat tiga jalur, yakni lewat makanan, minuman, dan udara yang dihirup. Sebuah publikasi dari Environmental Science and Technology (Human Consumption of Microplastics, 2019), menyebut jika air kemasan menjadi salah satu sumber partikel plastik tertinggi yang dikonsumsi manusia. Rata-rata dalam satu botol minum plastik kemasan, mengandung 100 mikroplastik per liternya.

Kedua, bahan kimia tambahan dalam plastik yang dikaitkan dengan masalah kesehatan (kanker terkait hormone, infertilitas dan gangguan perkembangan saraf). Ketiga, mikroplastik bisa menarik mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi tubuh manusia karena dapat menyebabkan infeksi. Bahaya sampah plastik bagi kesehatan manusia memang tidak bisa dilihat secara langsung dan membutuhkan waktu yang cukup panjang.


Temuan mikroplastik di feses manusia

Sebuah publikasi dari Indian J Occup Environ Med (Public Health Impact of Plastic, 2011) memberikan gambaran umum mengapa plastik bisa berbahaya bagi kesehatan manusia. Dalam publikasi itu disebutkan jika bahan berbahaya dalam plastik yang biasa digunakan sebagai bahan untuk membuat mainan anak-anak, menjadi salah satu pemicu masalah kesehatan. Menggigit plastik, seperti mainan penggigit (teether plastik), bisa menjadi jalan masuknya mikroplastik ke dalam tubuh. Mikroplastik tersebut dapat terbawa ke saluran pencernaan, bahkan bisa sampai ke rahim dan mempengaruhi perkembangan janin. Selain itu, paparan bahaya sampah plastik itu dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, gangguan kekebalan tubuh, efek perkembangan dan reproduksi.


Solusi Mengurangi Paparan Mikroplastik

Seperti yang sudah diketahui, usia plastik bisa berkali lipat dari usia manusia. Plastik adalah salah satu penemuan tercanggih manusia, yang sayangnya sangat sulit diuraikan. Butuh waktu ratusan tahun bagi plastik untuk benar-benar terurai. Sebelum terurai, plastik ini akan terpotong-potong menjadi partikel kecil, atau biasa yang disebut sebagai mikroplastik. Bisa dibayangkan jika mikroplastik yang sulit terurai dan bisa bertahan ratusan tahun ini ada di dalam tubuh manusia. Keberadaan mereka bisa mengganggu kinerja organ tubuh, dan menjadi masalah kesehatan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Salah satu solusi dari bahaya sampah plastik bagi kesehatan manusia ini ialah dengan mengurangi interaksi dengan plastik. Terdengar sulit memang, mengingat kehidupan manusia kini sulit terlepas dari plastik. Sebagai individu, kita bisa memulainya dari mengurangi penggunaan barang-barang yang mengandung plastik dan menggantinya dengan barang yang lebih ramah lingkungan, juga untuk kesehatan. Sedangkan pada tingkat lingkungan masyarakat, kita bisa mengajak tetangga untuk mengurangi pemakaian plastik, bahkan dari yang kecil sekalipun.

Selain itu, solusi yang tak kalah penting untuk mengurangi bahaya sampah plastik ialah kebijakan pemerintah, peran pihak swasta dan juga masyarakat. Kebijakan yang ketat mengenai pemakaian plastik dan polimer-polimernya dalam sebuah produk, harus diterapkan untuk kepentingan konsumen dan lingkungan dalam jangka panjang. Selain itu, menyebaran informasi agar masyarakat lebih paham mengenai bahaya sampah plastik yang bisa mengintai kesehatan, juga harus diperluas. Diharapkan dengan makin masifnya penyebaran informasi terkait sampah plastik, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat soal bagaimana pemakaian plastik dan penanganan sampah plastik yang benar.


Sumber :

https://waste4change.com/blog/bahaya-sampah-plastik-bagi-kesehatan-temuan-mikroplastik-dalam-tubuh-manusia/

Tahun 2040 Sampah Plastik akan Menumpuk 710 Juta Ton

Ahli: 710 Juta Ton Sampah Plastik Akan Menumpuk di Bumi 2040

Jumat, 31 Jul 2020 20:25 WIB

Sebuah penelitian memprediksi 710 juta ton plastik akan mencemari lingkungan pada 2040. Polusi plastik adalah masalah global. Plastik ditemukan di seluruh lautan, danau, sungai, tanah, sedimen, atmosfer, hingga biomassa hewan imbas pertumbuhan industri dan ekonomi yang mengabaikan limbah.

Dalam jurnal Science, para peneliti mengatakan peningkatan tajam dalam konsumsi plastik sekali pakai yang meluas telah memperburuk masalah polusi plastik. Selain itu, sistem daur ulang dan pengelolaan limbah yang tidak memiliki kapasitas memadai di tingkat global juga semakin memperburuk situasi.

Secara khusus, studi sebelumnya sudah memperkirakan sekitar 8 juta ton makroplastik dan 1,5 ton mikroplastik primer mencemari lautan setiap tahun.

Sehingga, jika produksi plastik dan timbunan limbah terus tumbuh dengan angka tersebut, maka diproyeksikan polusi meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat pada 2050.

Peneliti Winnie WY Lau dkk menyampaikan semakin banyak bukti menunjukkan dampak buruk pencemaran plastik. Misalnya, hampir 700 spesies laut dan lebih dari 50 spesies air tawar diketahui telah memakan atau terjerat dalam makroplastik.

Bahkan, ada bukti yang berkembang bahwa plastik dicerna oleh berbagai organisme darat.

Polusi plastik juga dinilai berdampak pada banyak aspek kesejahteraan manusia, seperti mempengaruhi estetika pantai, menghalangi drainase dan sistem rekayasa air limbah, serta menjadi tempat berkembang biak bagi vektor penyakit.

Melansir CNN, tim mengatakan tindakan global yang terkoordinasi diperlukan untuk menghindari tumpukan plastik yang lebih besar dari perkiraan 710 juta metrik ton pada tahun 2040.

Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah mengurangi konsumsi plastik, meningkatkan tingkat penggunaan kembali plastik, meningkatkan pengumpulan dan daur ulang limbah, dan memperluas sistem pembuangan yang aman.

"Ini bukan masalah bagi negara berkembang, ini adalah masalah bagi semua orang," Direktur Program Ilmu Konservasi Pew, James Palardy.

Tim peneliti mengaku mengembangkan lima skenario untuk memperkirakan pengurangan polusi plastik antara 2016 dan 2040. Namun, hal itu tidak memberikan solusi untuk mengurangi polusi plastik secara global.

Sebagai gantinya, strategi pengurangan polusi plastik dapat secara luas dibagi menjadi tindakan hulu yakni mengurangi permintaan dan dari hilir yakni dengan pengumpulan dan daur ulang.

Lebih dari itu, komitmen besar untuk memperbaiki sistem plastik global diperlukan dari kalangan bisnis, pemerintah, dan komunitas internasional untuk menyelesaikan masalah ekologi, sosial, dan ekonomi dari polusi plastik, serta mencapai input plastik yang hampir nol ke lingkungan. 


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200724162855-199-529705/ahli-710-juta-ton-sampah-plastik-akan-menumpuk-di-bumi-2040.

Thursday, July 20, 2023

It’s Everything Change

‘It’s not climate change, it’s everything change’: sci-fi authors take on the global crisis

Margaret Atwood and Cormac McCarthy led the way. Now a new crop of novelists is putting the heating emergency at the forefront of their plots

@davidmbarnett

Sun 9 Jul 2023 13.00 BST

Science fiction has always dealt with worst-case scenarios when imagining our possible futures, and the climate has often formed the backdrop of the human struggles.

Some of the biggest names writing in the genre have tackled the climate crisis and its apocalyptic or dystopian consequences – Margaret Atwood’s Oryx and Crake, Cormac McCarthy’s The Road, Bruce Sterling’s Heavy Weather.

But a new generation of writers now believes it is impossible to write “near future” sci-fi without putting the climate emergency at the forefront of their speculative fiction. For many, this is because they are living through the crisis and can imagine all too easily what may happen if real-life behaviour doesn’t change.

“My writing has always been drawn from my own worries and fears, so it was perhaps inevitable that I would choose to write about the climate emergency,” says Rachelle Atalla, a Glasgow-based Scottish-Egyptian author whose second novel, Thirsty Animals, came out this year.

“I have long been interested in water – all life [is] dependent upon it, yet we are also happy to exploit it as a commodity. Particularly in the UK, we behave with the assumption that there will always be an abundance of drinking water.”

Atalla’s book follows a young woman and her mother living on a farm in the Scottish borders during a devastating drought. Enticed by visions of almost bottomless lochs of cool water in Scotland, there is a flood of immigrants from England – until the Scottish government closes the border, huge refugee camps build up and desperate English families who cross are shot.

Atalla says: “Writing Thirsty Animals was an opportunity to bring the realities of climate change and its displacement closer to home. I wanted to really interrogate human behaviour and ask: as our natural resources begin to dwindle, do we take a community-based approach in pursuit of active change? Or do we turn inwards and focus on our individualistic desire to survive?”

Climate change is becoming so prevalent in fiction that there have been attempts to label it – not entirely successfully – with its own sub-genre classification – cli-fi. But just as Atwood said of her MaddAddam trilogy, “It’s not climate change, it’s everything change”, so many of the current crop of science fiction authors feel you can’t actually write about the future without mentioning the threat to the planet.

“I think it would be hard to write near future SF that feels plausible without acknowledging climate breakdown in some way, even if it’s implicit rather than explicit in how it touches people’s lives,” says EJ Swift.

Her novel The Coral Bones, published last year, centres on the Great Barrier Reef in a David Mitchell-esque narrative split between three women – one in the 19th century, one in the present day and one in a future ravaged by global warming.

“Seeing images of corals bleaching on the Great Barrier Reef, I kept thinking about how it would feel to be on the frontline, having to witness the devastation to these extraordinary ecosystems,” she says. “I wanted to write about how our relationship with the more-than-human world has led us to this crisis, and how we might change.

“Climate breakdown is escalating so rapidly that events which 10 years ago might have seemed like the distant future are happening now. Everything is filtered through that lens – even when it’s not the main focus, climate anxiety is there in the periphery.”

Other recent books dealing with the devastation to the climate include Kate Sawyer’s The Stranding, which begins with the striking image of two strangers sheltering in the mouth of a dead, beached whale as a calamitous extinction event hits the world, Susannah Wise’s This Fragile Earth, in which the complete failure of all technology brings into focus our uneasy relationship with nature, and Sarah K Jackson’s Not Alone, about a mother and son surviving in the aftermath of a microplastics storm that has decimated the population.

The science fiction writer Adrian Tchaikovsky, known for his huge, widescreen space opera novels set in distant galaxies, is turning his attention to the climate crisis next year with a horror novella called Saturation Point.

“With the very real science and facts of climate change becoming ever more present and felt in our here and now, is it any wonder that more science fiction writers are using their stories to write cautionary tales of a future where humanity will be forced to adapt and change in order to survive?” says Julie Crisp, a literary agent working mainly with science fiction and fantasy.

Science fiction has always sounded a warning about human behaviour and its possible consequences, she adds. “It deals with a futuristic imagining based on the scientific, moral and social principles of the ‘now’ – and the author taking them a step further, into the ‘then’.

“Whether it’s the imaginings of George Orwell’s Nineteen Eighty-Four and a dystopian future cowed by mass surveillance and regimentation of its people or Margaret Atwood’s The Handmaid’s Tale, with its patriarchal and white supremacist control over women’s bodies – science fiction has shown readers what can happen should the worst actions of society follow an upward trajectory and become a dystopian style-future.”

She cites Kim Stanley Robinson’s The Ministry for the Future and Imbolo Mbue’s How Beautiful We Were as examples of authors using climate change “to paint a grim picture of where, should the inertia of humanity to change their destructive actions continue, it will lead to a future that none of us want”.


Sumber :

https://www.theguardian.com/books/2023/jul/09/climate-change-sci-fi-authors-global-crisis-atwood-mccarthy

Monday, June 19, 2023

Pencinta Mangrove di NTT

Mengenal Steven Mesah pencinta mangrove di selatan Negeri

Selasa, 20 Juni 2023 12:31 WIB

Steven Mesah warga desa Daiama sedang memonitoring anakan magrove yang sudah ditanam dan bertumbuh. Steven Mesah sedang meyeruput kopinya. Sesekali dia berbincang-bincang seru dengan kawan-kawannya di salah satu rumah di Desa Daiama, Kecamatan Landu Tii, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah. Entah apa yang dibicarakan, namun terlihat sangat seru dan sesekali dia dan beberapa temannya tertawa.

Pria kelahiran 1976 di Desa Daiama itu dikenal sebagai orang yang bisa memotivasi, bahkan menggerakkan 300 kepala keluarga di desa itu untuk menjaga wilayah pesisir dengan cara menanam mangrove di Pantai Daiama.

“Terakhir, pada tahun lalu, kami tanam 13.000 anak pohon mangrove di pesisir pantai, salah satunya untuk menjaga pantai kami tidak abrasi,” katanya, saat memulai ceritanya, kepada ANTARA.

Dari 13.000 anak mangrove yang ditanam itu, hanya sekitar 25 persen yang bisa bertahan hingga saat ini. Usai ditanam, datang cuaca musim timur, sehingga gelombang menerjang pesisir wilayah tersebut dan tanaman itu terseret gelombang. Padahal, tanaman itu sudah diikat di kayu, namun akarnya belum kuat.

Steven yang juga ketua kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) wilayah pesisir Desa Daiama tersebut berupaya menjaga dan merawat sejumlah anakan mangrove itu agar tetap hidup dan bertahan. Setiap hari dia dan masyarakat di desa bergantian memonitor perkembangan mangrove yang sudah ditanam.

Tujuannya, agar sejumlah mangrove itu tetap bertahan hidup, apalagi di saat musim atau cuaca yang stabil seperti saat ini.

Sebagai ketua pokmaswas di desa tersebut, dia kini memiliki 12 anggota, sisanya adalah mereka yang turun membantu dan menilai bahwa keberadaan mangrove tersebut penting dan dapat memberikan banyak manfaat.


Manfaat mangrove 

Mangrove merupakan fitur alami yang mampu secara signifikan meredam dan menurunkan abrasi laut dan juga magnitude bencana gelombang tsunami, sehingga eskalasi bencana dan potensi kerugian, serta korban dapat direduksi.

Mangrove juga berperan besar dalam pengendalian perubahan iklim melalui kemampuannya dalam menyimpan dan menyerap karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan.

Semua keunggulan ekosistem mangrove tersebut menjadi pertimbangan penting yang menyatu dengan upaya menjaga kestabilan tata kelola bentang alam dan perbaikan mutu lingkungan.

Tak hanya itu, perbaikan ekosistem mangrove secara paralel akan memperkuat kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mendorong pembangunan hijau melalui ekonomi hijau.

Ekosistem mangrove memiliki multimanfaat, seperti menjadi lahan budi daya ikan, kepiting, atau udang, melalui pola silvofishery, pengolahan produk mangrove non-kayu, serta wisata alam juga memperkuat pengembangan kawasan industri yang hijau.

Oleh karena itu bagi sebagian nelayan, apalagi yang tinggal di pesisir pantai, Steven merasa bahwa keberadaan pohon magrove tidak hanya untuk mencegah abrasi suatu wilayah.

Ada manfaat lain juga yang dapat mendukung ekonomi masyarakat pesisir, yakni sebagai lokasi berkembang biaknya ikan dan juga buah dari pohon itu bisa diolah menjadi bahan yang dicampur untuk kopi.

Dia dan teman-teman juga baru paham setelah ada pelatihan dari Pemerintah pusat tentang bagaimana menjaga dan merawat lingkungan laut, seperti mangrove dan juga terumbu karang sebagai lokasi ikan bertumbuh kembang.

Pria yang tak lulus sekolah dasar (SD) tersebut, pada awalnya bersama sejumlah warga di kawasan pesisir tersebut tidak memahami betul manfaat dari pohon mangrove yang tumbuh di pesisir pantai.

Terkadang pohonnya ditebang dan bahkan tak menganggap bahwa pohon tersebut ada dan telah membantu menjaga kawasan pesisir tersebut.

Sampai akhirnya pada Agustus tahun 2022 ada sosialisasi dari Pemerintah pusat terkait manfaat dari tanaman yang tumbuh di pesisir pantai tersebut.

Tak hanya tanaman mangrove, sosialisasi juga terkait bagaimana menjaga biota langka, terumbu karang, yang menjadi lokasi bersembunyinya plankton-plankton.

Steven yang sudah melaut kurang lebih 40 tahun secara turun temurun tersebut juga mengaku cukup sulit untuk merawat dan menjaga mangrove yang sudah ditanam.

Apalagi di saat cuaca buruk atau cuaca ekstrem wilayah pesisir selalu dihantam oleh gelombang dan hal itu dapat merusak pesisir pantai tersebut jika tidak ditanami mangrove.

Baginya tak masalah jika saat ini dia dan orang tua lainnya di desa itu yang menanam, namun kelak akan dirasakan dan dinikmati oleh anak cucu mereka di tahun-tahun yang akan datang.

Dia tahu bahwa yang menanam tidak akan merasakan manfaat langsung, tetapi setidaknya jika sudah tumbuh akan dirasakan oleh anak cucu mereka, dan manfaatnya akan sangat baik.

Apalagi setelah masuknya Program The Arafura and Timor Seas Ecosystem Action Phase II (ATSEA-2) yang didanai Global Environment Facility (GEF) dan diimplementasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga memberikan pencerahan kepada warga di desa tersebut terkait manfaat dari buah mangrove tersebut.

Program fase dua yang sudah berjalan sejak tahun 2019 mencakup empat negara; Australia, Indonesia, Papua New Guinea, dan Timor-Leste. Di Indonesia, ATSEA-2 berfokus di tiga wilayah kerja, yaitu Kepulauan Aru di Maluku, Merauke di Papua Selatan, dan Rote Ndao di NTT. Di Rote Ndao sendiri, ATSEA-2 berfokus pada pelatihan kepada masyarakat pesisir untuk mengelola hasil laut sebagai pendorong peningkatan ekonomi, sehingga masyarakat pesisir tidak hanya fokus pada tangkapan ikan, tetapi bisa memanfaatkan potensi lain yang ada di pesisir pantai sebagai salah sumber penghidupan.


Perda

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT, merasa penting bahwa diperlukan peraturan daerah (perda) untuk mendukung perlindungan wilayah pesisir di daerah itu.

Perda tersebut saat ini masih dalam pembahasan dan menunggu sidang ke-3 dengan DPRD Kabupaten Rote Ndao. Pada dasarnya isi dari perda tersebut sudah digodok oleh Kanwil Kemenkumham NTT di Kupang.

Diharapkan pada Agustus nanti perda ini bisa segera disahkan sehingga perlindungan terhadap wilayah pesisir sudah ada dasar hukumnya.

Perda yang nantinya segera diberlakukan itu tidak hanya berisi tentang larangan atau perintah untuk tidak boleh melakukan sesuatu, tetapi juga mengatur tentang bagaimana agar hasil laut yang ada di kawasan pesisir bisa dikelola oleh masyarakat sekitar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Selain itu, perda tersebut berisi tentang masalah sampah di wilayah pesisir yang sering menjadi pembicaraan wisatawan karena dapat merusak lingkungan, khususnya ekosistem dalam laut.

Sampah itu bukan hanya plastik, tetapi juga sampah yang dihasilkan dari limbah-limbah kapal, seperti minyak yang digunakan oleh para nelayan juga diharapkan tidak dibuang di sembarang tempat di laut. Salah satu solusinya digali lubang di darat lalu limbahnya dimasukkan, sehingga tidak merusak wilayah pesisir.


Sumber :

https://www.antaranews.com/berita/3597078/mengenal-steven-mesah-pencinta-mangrove-di-selatan-negeri

Thursday, June 15, 2023

Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Sedotan Eco Friendly Berbahan Tepung

Kamis, 15 Juni 2023

Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) yang tergabung dalam kelompok StrawBite berhasil membuat sedotan berbahan dasar tepung beras dan tepung tapioka. Sedotan itu dipamerkan dalam pagelaran Ubaya Innovaction Festival (UNNO FEST) Vol. 02 pada 13-15 Juni 2023, di Plaza Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya.

Alat itu dibuat oleh Alfian Dwi Wahyudi, Clarence Rex Maximilian H., Natasya Octavia, dan Yemima Destaliza Samantha. Alfian Dwi Wahyudi Ketua Tim StrawBite mengatakan, inisiatif membuat sedotan eco friendly itu dilatarbelakangi fenomena masih banyaknya kafe yang menggunakan sedotan plastik.

“Hal ini tentu menjadi permasalahan bagi lingkungan karena plastik tidak bisa diuraikan kembali,” ucapnya pada Kamis (15/6/2023).

Mahasiswa Ubaya yang tergabung dalam kelompok StrawBite saat menunjukkan sedotan berbahan dasar tepung hasil inovasi kelompoknya. Alfian melanjutkan, selain ramah lingkungan, keunggulan dari sedotan StrawBite itu bisa dimakan karena berbahan dasar tepung beras, tepung tapioka, dan air.

“Ketika sudah selesai pakai, sedotan juga bisa dihancurkan dan remahannya bisa ditaburkan ke tanah untuk diserap tanaman. Jadi, sedotan ini benar-benar punya banyak manfaat,” terangnya.

Dia menambahkan, proses pembuatan sedotan yang memiliki panjang 23 cm dan diameter 1,5 mm itu hanya membutuhkan waktu 25-30 menit, dan menghasilkan sepuluh sedotan.

“Sedotan yang sudah jadi, bisa bertahan di ruang terbuka selama 40 hari. Kalau sudah dipakai pada minuman, sedotan dapat bertahan 3 sampai 5 jam,” jelasnya.

Selanjutnya, dia dan tim berencana mengembangkan sedotan StrawBite yang bisa digunakan untuk minuman panas, ditambahkan perasa, serta memperbanyak warna. Sementara itu, Sujoko Efferin Direktur Ubaya InnovAction Hub (UIH) Ubaya mengatakan, produk-produk buatan mahasiswa yang dipamerkan itu, bisa dikembangkan lagi dengan riset dan mendapat pendampingan dari praktisi bisnis.

“Ubaya berharap melalui acara ini dapat mencetak pengusaha sebanyak-banyaknya. Semoga peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya.

Sekadar diketahui, pameran yang diadakan Ubaya InnovAction Hub itu merupakan ajang memperkenalkan produk karya asli dan inovasi mahasiswa mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi, berupa barang dan jasa kepada masyarakat umum.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2023/mahasiswa-ubaya-ciptakan-sedotan-eco-friendly-berbahan-tepung/

Monday, June 5, 2023

Ubah Kotoran Jadi Penyelamat Ekosistem Sungai

Terobosan DLHK Sidoarjo, Ubah Kotoran Jadi Penyelamat Ekosistem Sungai

5 June 2023 18:04 PM

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo terus membuat terobosan agar ekosistem sungai jadi lebih baik. Melalui bulatan-bulatan tanah liat yang dibuat dari campuran kotoran hewan seperti sapi dan kambing serta dicampuri cairan eco lindi, DLHK perkenalkan cara baru dalam merawat dan menjaga lingkungan sungai.

Kepala DLHK Sidoarjo M Bahrul Amig mengatakan, upaya terobosan eco sungai ini sengaja diproyeksikan terlebih dahulu di sungai yang ada di Desa Siwalanpanji, Buduran. Sebelum nantinya terobosan ini akan disebar ke seluruh sungai yang ada di Kota Delta.

“Untuk meyakinkan masyarakat dan terus bisa dievaluasi, nantinya hasil proyeksi akan kita uji lab. Dengan pembuktian tersebut sehingga pertanggungjawaban kualitas lingkungan dan metode yang terukur dapat dilihat langsung,” papar Amig.

Amig juga menyadari, selama ini tingkat pencemaran lingkungan khususnya di sungai masih cukup tinggi. Oleh karenanya, eco sungai yang diperkenalkan saat hari lingkungan hidup ini, salah satu fungsinya adalah untuk merestorasikan air sungai di Sidoarjo.

Selain itu, kata Amig, tujuan dari eco sungai ini juga untuk memperbaiki kualitas air sungai. Dan mendorong kesadaran masyarakat untuk mencintai sungai agar tidak dibuangi dengan sampah.

“Momentumnya sungai menjadi berkah, bukan lagi sungai yang hanya sekadar sungai yang kemudian dikriminalisasi dengan pembuangan sampah seenaknya sendiri,” terangnya.

Dalam pengaplikasiannya, tambah Amig, efek daripada eco sungai tersebut dapat dilihat secara signifikan setelah tujuh hari. Salah satu perubahannya adalah dinamika biota air seperti ikan dan hewan lainnya dapat berkembang biak karena ekosistem sungai kembali berjalan dengan baik. 


Sumber :

https://radarsidoarjo.jawapos.com/kota-delta/05/06/2023/terobosan-dlhk-sidoarjo-ubah-kotoran-jadi-penyelamat-ekosistem-sungai/

Kerja Sama untuk Percepatan Perubahan Iklim

Perusahaan Negara ASEAN dan Jepang Kerja Sama untuk Percepatan Perubahan Iklim 

Selasa, 6 Juni 2023 - 12:34 WIB 

Asean dan perusahaan Jepang Sumber : Humas Share : VIVA Dunia – ASEAN Business Advisory Council (ASEAN BAC) bersama Japan External Trade Organization (JETRO) lakukan kerja sama untuk mendorong percepatan target aksi perubahan iklim.   

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ketua ASEAN BAC yang merupakan Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid dengan Chairman JETRO Ishiguro Norihiko dalam Pembukaan ASEAN Japan Business Week 2023 (AJBW 2023) di Tokyo, Jepang.  

“MoU dimaksud untuk mempercepat proses transisi perusahaan-perusahaan di ASEAN untuk membantu perusahaan Jepang dalam mencapai target-target aksi perubahan Iklimnya,” kata Penanggung Jawab ASEAN Net Zero Hub Muhammad Yusrizki dalam keterangan di Jakarta, Senin, 5 Juni 2023.  

Melalui MoU tersebut, kolaborasi kedua institusi tidak hanya menyangkut kerja sama dalam membuat pusat pengetahuan untuk perusahaan-perusahaan ASEAN, namun juga melakukan langkah-langkah konkret dalam proses dekarbonisasi industri, khususnya dengan memberikan asistensi pada perusahaan-perusahaan untuk membuat rencana transisi yang kredibel dan pengenalan pada teknologi rendah karbon seperti efisiensi energi dan energi baru terbarukan (EBT).    

Selain itu, kedua institusi juga bersepakat untuk mengembangkan riset dan pengembangan jaringan serta business matching antara perusahaan Jepang dan perusahaan setiap negara ASEAN. Masih dengan semangat tema ASEAN Matter: Epicentrum of Growth, kehadiran MoU ini diharapkan dapat diikuti oleh negara-negara mitra ASEAN lainnya, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok.  

Dengan demikian, ASEAN akan tetap menjadi pusat pertumbuhan dunia di tengah-tengah dinamika perubahan Iklim yang juga direspons oleh dunia bisnis. Yusrizki menyebut tanpa ada kawasan ASEAN yang climate resilience, cita-cita ASEAN untuk menjadi Epicentrum of Growth akan sulit terwujud. 

Banyak negara dan kawasan ekonomi di dunia sudah lebih dahulu bergerak ke arah itu, misalnya Uni Eropa dengan kebijakan perdagangannya yang disebut Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), cepat atau lambat memberikan dampak signifikan pada ekspor kawasan ASEAN ke Uni Eropa.    

“Kalau kita masih mau lihat ASEAN tetap melakukan perdagangan dengan kawasan atau negara-negara partner-nya di masa depan,  pelaku usaha di ASEAN harus bergerak ke arah yang sama, yaitu Net Zero Emission,” ujar Yusrizki. 

Perubahan iklim yang sudah menjadi tantangan global tidak luput dari perhatian Jepang dan ASEAN dalam membangun kolaborasi guna menuju kawasan ASEAN yang rendah karbon.  

“Keberlanjutan (sustainability) dan Net Zero adalah satu-satunya jalan (pathway) bagi ASEAN untuk tetap tumbuh dan menjadi kekuatan ekonomi ke depan di tengah-tengah disrupsi ekonomi akibat dari perubahan iklim."  

Yusrizki pun menyebut semua negara di ASEAN harus berkolaborasi untuk membangun Ekosistem Net Zero Emission (NZE) di kawasan untuk dapat membuat semua perusahaan di ASEAN memulai perjalanannya menjadi perusahaan net zero sebagaimana arti penting pembentukan ASEAN Net Zero Hub (NZH).


Sumber :

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1606579-perusahaan-negara-asean-dan-jepang-kerja-sama-untuk-percepatan-perubahan-iklim?page=all