Pages

Tuesday, October 3, 2023

Bahaya Kandungan BPA dalam Plastik

Kandungan BPA dalam Wadah Plastik Bahaya untuk Kesehatan, Kok Bisa? 

14/10/2021

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan wadah berbahan plastik masih sering dijumpai. Harganya yang relatif murah dan mudah ditemukan menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar orang menggunakannya. 

Bagi Anda yang menggunakan produk-produk tersebut, mungkin tak asing dengan istilah BPA. Misalnya pada produk bayi yang sering dilabeli dengan logo BPA-Free. Lantas,sebenarnya apa itu BPA? 

Bisphenol-A atau yang biasa disebut dengan BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam kemasan plastik polikarbonat untuk membuat plastik tetap keras dan tidak mudah hancur. Lazimnya, BPA kerap dipakai dalam kemasan galon.  

Selain pada plastik, BPA juga digunakan untuk melapisi bagian kemasan dari makanan kalengan, produk kebersihan, pipa suplai air, dan dental sealant atau lapisan plastik tipis yang dipasang untuk melindungi gigi dari kerusakan. 


Bahaya BPA bagi Kesehatan 

Penggunaan produk yang terkontaminasi BPA secara terus-menerus akan memengaruhi kesehatan tubuh, bahkan bisa membahayakan kesehatan. Terlebih jika bayi atau anak-anak yang terkena paparan BPA tersebut. 

Meski saat ini sudah banyak produk bayi yang tidak lagi menggunakan BPA, namun beberapa produk lainnya masih saja ada yang mengandung BPA. Dalam diskusi virtual bertema "Mendesain Regulasi Bisphenol-A (BPA) yang Tepat" yang diselenggarakan Centre for Public Policy Studies (CPPS), Rabu (13/10/2021), Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengungkapkan bahwa BPA berisiko tinggi memengaruhi kesehatan bayi. 

"Tidak hanya di botol dot tetapi juga di peralatan makan lainnya, di peralatan makanan-makanan kaleng. Yang membuat BPA ini berbahaya adalah ketika ada pemanasan berulang kali dari plastik, sehingga bagian dari BPA ini larut ke dalam makanan yang ada di dalam asupan di dalam botol," ujarnya. 

Pada ibu hamil, BPA dengan mudah masuk ke dalam rantai makanan antara ibu dan bayi. Biasanya BPA ditemukan dalam urin, darah, tali pusar, maupun ASI. "Janin dan bayi juga bisa terpapar BPA karena kalau pun mereka ngga mengonsumsi susu formula, dari tali pusar bisa kena (BPA) dan masuk, lalu bisa juga kalo dia minum ASI, ASInya perahan yang ditaro di dot juga bisa. Atau kalau menyusui (langsung), dan ibunya menggunakan banyak (benda) yang terkontaminasi BPA tanpa disadari," tutur Nia.

Dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Irfan Dzakir Nugroho, Sp.A, M.Biomed mengatakan hal yang senada. Menurutnya, BPA ditemukan di hampir semua anggota tubuh yang mungkin disebabkan masifnya penggunaan kemasan pangan. dr Irfan mengungkapkan ada lebih dari 130 studi yang melaporkan efek berbahaya dari BPA. 

Beberapa di antaranya adalah dapat menyebabkan kanker payudara, pubertas dini, penyakit jantung, infertilitas, katalisator penyakit saraf, dan obesitas. 


Bagaimana Mekanisme BPA Memengaruhi Kesehatan? 

BPA dapat memengaruhi hormon endokrin seperti estrogen, androgen, dan tiroid. Selain itu, paparan BPA yang berlebih dapat menyebabkan gangguan homeostasis metabolik pada anak, gangguan struktur dan fungsi otak, efek kesehatan di usia selanjutnya pada anak. 

"Pada usia dewasa atau usia produktif BPA bisa memengaruhi produktivitas dan bisa juga menyebabkan gangguan pada saat kehamilan dan persalinan. Dan juga menyebabkan obesitas dan beberapa penyakit metabolik," ungkap dr Irfan. 

Kontaminasi BPA dapat membahayakan ibu hamil, karena mengganggu kerja endokrin, dan mampu untuk meniru hormon estrogen. Pada laporan yang terbit pada tahun 2008 oleh Program Toksikologi Nasional AS menemukan bahwa adanya efek pada otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada janin, bayi serta anak-anak akibat paparan BPA yang masuk melalui plasenta, ASI, pemberian susu botol, dan pemberian makanan atau minuman yang telah terkontaminasi BPA. 

"Menurut studi, pemaparan BPA pada fase kehamilan (gestasional) di mana paparan BPA pada masa ibu hamil, maka ini akan berefek terhadap anaknya. Di mana anaknya akan mempunyai gangguan perilaku dan aspek emosional yang kurang baik. (Ganguguan ini) bisa dilihat pada anak-anak di usia 3 tahun," tandasnya. 

Tak hanya pada bayi, BPA juga dapat menimbulkan bahaya pada kelompok usia anak-anak, di antaranya: Menyebabkan gangguan tumbuh kembang, perilaku depresif, ansietas, dan hiperaktif Memengaruhi perilaku emosional dan kekerasan Memengaruhi senyawa yang dihasilkan oleh otak seperti dopamine, serotonin, acetylcholine, dan hormon thyroid


Sumber :

https://www.kompas.com/sains/read/2021/10/14/110300223/kandungan-bpa-dalam-wadah-plastik-bahaya-untuk-kesehatan-kok-bisa?page=all.

Galon BPA atau Plastik PET

Mana Lebih Bahaya Bagi Kesehatan, Galon BPA atau Plastik PET? 

Jumat, 29 Juli 2022

Pertanyaan paling menohok terkait air minum dalam kemasan (AMDK) galon plastik adalah, mana yang lebih berbahaya buat kesehatan manusia, antara galon polikarbonat (PC) plastik keras yang mengandung bisphenol-A (BPA) atau galon yang menggunakan plastik polyethylene terephthalate (PET)?  

Kedua jenis kemasan plastik ini memiliki kelebihan dan kekurangan terkait risiko kesehatan bagi manusia. Terkait produk-produk makanan dan minuman, kemasan polikarbonat yang kita kenal sebagai plastik keras atau kaku itu biasa digunakan sebagai galon isi ulang air minum 19 liter. 

Sementara, kemasan PET biasa digunakan untuk botol air minum ukuran 300 mililiter hingga 1 liter dan galon 15 liter. Sejumlah penelitian mengungkap, BPA berdampak terhadap kesehatan melalui mekanisme gangguan hormon, khususnya hormon estrogen. 

BPA pada gilirannya berkaitan dengan gangguan sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita, diabetes, obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, dan perkembangan kesehatan mental. 

Sementara itu, PET dibuat dari, salah satunya, etilen glikol, yang juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bila dikonsumsi secara ekstrem berlebihan. 

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Andi Cahyo Kumoro, turut memberikan pandangannya.  "Pelepasan BPA pada galon guna ulang rentan terjadi bila galon sampai tergores atau terpapar sinar matahari langsung. Efeknya,  paparan BPA bisa memunculkan gangguan pada sistem saraf dan perilaku anak. Sedangkan pada ibu hamil bisa memicu keguguran," ujar Prof. Andi dalam keterangannya, Jumat 29 Juli 2022.  

NPR Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, turut mendorong rencana pelabelan BPA, agar segera dilaksanakan. Dorongan ini berkaitan dengan masih adanya penolakan atas rencana itu dari kalangan industri air minum dalam kemasan. 

“Efeknya jangka panjang. Kalau (BPA) tidak berdampak, kenapa negara maju sudah membatasi dan melarangnya. Langsung saja wajib labelisasi, kok takut pada industri. Produsen kelas dunia  seperti Danone di Prancis sudah mengganti wadah produknya ke jenis plastik yang bebas BPA," jelasnya.  

"Yang jadi pertanyaan, kenapa unit Danone di negara berkembang tidak mengadopsi hal yang sama? Seharusnya sama-sama fair dong. Lagi pula ini kan hanya pelabelan. Masa label saja keberatan," sambungnya.  

Kekhawatiran terhadap efek BPA juga datang dari Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar. Dia mengatakan, BPA berisiko tinggi memengaruhi kesehatan bayi. Pada ibu hamil, BPA dengan mudah masuk ke dalam rantai makanan antara ibu dan bayi. 

Biasanya BPA ditemukan dalam urine, darah, tali pusar, maupun ASI.   Sementara itu, dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Irfan Dzakir Nugroho, Sp.A, M.Biomed, mengungkapkan, BPA ditemukan di hampir semua anggota tubuh, antara lain disebabkan masifnya penggunaan kemasan pangan.   

Irfan menyampaikan, ada lebih dari 130 studi yang melaporkan efek berbahaya dari BPA. Beberapa di antaranya antara lain menyebabkan kanker payudara, pubertas dini, penyakit jantung, infertilitas, katalisator penyakit saraf, dan obesitas.

BPA diketahui dapat memengaruhi hormon endokrin seperti estrogen, androgen, dan tiroid. Selain itu, paparan BPA yang berlebih bisa  menyebabkan gangguan homeostasis metabolik pada anak, gangguan struktur dan fungsi otak, efek kesehatan di usia selanjutnya pada anak.  

Sedangkan pada usia dewasa atau usia produktif BPA bisa memengaruhi produktivitas dan bisa juga menyebabkan gangguan pada saat kehamilan dan persalinan, termasuk menyebabkan obesitas dan beberapa penyakit metabolik. 

Plastik PET Berbeda dengan kandungan BPA pada polikarbonat, kandungan etilen glikol pada PET tidak memunculkan pengaturan (pelarangan), baik di dalam maupun luar negeri. Sejauh ini, belum ada satu negara pun menerapkan pelabelan terhadap potensi efek etilen glikol pada plastik PET. 

Ini bukan karena tidak adanya penelitian lapangan terkait migrasi zat kimia itu dari kemasan PET. Tetapi lebih karena bahaya dan dampaknya pada kesehatan potensinya lebih besar ada pada galon BPA dibanding plastik PET. 

Frank Welle, ahli kimia yang berfokus pada interaksi bahan kemasan dengan pangan dari University of Freiburg, Jerman, dalam makalahnya “The Facts about PET” menulis bahwa, jika dibandingkan dengan jenis plastik lain, PET lebih lengai (inert) atau tidak mudah mengalami perubahan kimia.  

Pada gilirannya, menurut Welle, monomer PET, seperti etilen glikol, hanya dapat bermigrasi dalam jumlah yang sangat kecil ke dalam pangan yang dikemasnya. Mengutip penelitiannya pada 2004, dia menunjukkan bahwa tingkat migrasi etilen glikol dari kemasan PET, jauh di bawah batas standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

"Nilai kompeten berbahaya di dalam kemasan PET seperti etilen glikol dan antimon (yang hanya digunakan sebagai katalis) masih jauh di bawah standar apabila tidak dilakukan perlakuan khusus layaknya percobaan (seperti dipanaskan pada suhu dan jangka waktu tertentu atau direaksikan dengan bahan kimia tertentu)," kata Welle menyimpulkan.


Sumber :

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1503417-mana-lebih-bahaya-bagi-kesehatan-galon-bpa-atau-plastik-pet?page=all

Kemasan PET Ada Kandungan yang Berbahaya

Pakar IPB: Kemasan PET pun Sebenarnya Ada Kandungan yang Berbahaya

06 Sep 2022, 10:04 WIB

Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma menyayangkan semakin liarnya isu soal BPA di masyarakat. Menurut Edhi, isu BPA bisa memberikan kesalahan persepsi di konsumen bahwa kemasan galon guna ulang itu berbahaya, sementara kemasan plastik-plastik lainnya itu terkesan aman.

"Padahal, seperti yang kita tahu bahwa BPA itu ada di mana-mana, tidak hanya di galon polikarbonat, tetapi ada juga di kemasan kaleng, botol bayi, atau di dot. Itu mestinya dilarang total bagi bayi dan anak-anak," kata Edhi dikutip dari keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 5 September 2022.

Edhi menjelaskan bahwa di makanan kaleng ada riset yang mengatakan hampir 90 persen enamel pada kaleng itu terbuat dari epoksi,"Epoksi itu adalah BPA dan BPA adalah sebagai basic. Jadi, seharusnya ini kan juga perlu dilabeli juga.".  

Sehingga dengan berhembusnya isu BPA, bisa menyebabkan terjadinya mispersepsi di masyarakat bahwa kemasan yang tidak mengandung BPA itu aman-aman saja.

"Padahal, kemasan lain itu juga belum tentu aman. Kemasan PET misalnya, itu juga ada risiko dari bahan senyawa yang lain yang berpotensi ke arah negatif. Di PET ada kandungan antimon, asetildehid, etilen glikol, dan lain-lain yang juga berbahaya," katanya.

Dia juga mengkritisi langkah BPOM yang seolah membiarkan kampanye negatif terhadap galon polikarbonat. Edhi menilai bahwa ini justru bertentangan dengan BPOM sendiri pada aturan label pangan.  

"Jadi, ketidaksepahaman saya pada aturan pelabelan BPA ini adalah, khawatirnya nanti malah ada prasangka buruk kalau BPOM itu dianggap membela salah satu brand. Itu yang pasti akan muncul karena fenomena ini," ujarnya.


Teror Isu BPA Harus Dihentikan

Sementara itu Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, meminta agar 'teror-teror' yang mendiskreditkan produk galon guna ulang kemasan polikarbonat yang ramat lingkungan untuk segera dihentikan.

Asrul, mengatakan, tindakan meneror yang dilakukan terhadap galon guna ulang ini sebenarnya bukan hanya menciderai usaha air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang saja, tapi juga menciderai rakyat.

“Saya katakan bahwa itu bukan menciderai perusahaan AMDK galon guna ulang saja, tapi juga rakyat. Karena, yang masuk-masuk ke rumah tangga itu kan AMDK galon guna ulang," katanya. 

Dia juga mengkritisi BPOM RI yang seakan mendukung tindakan peneroran ini.

"Jadi, kunci permasalahan isu galon guna ulang ini termasuk juga karena BPOM yang seakan membiarkan isu ini terjadi berlarut-larut hingga saat ini," katanya.


BPOM Diminta Tegas

Oleh sebab itu, Asrul berharap BPOM menghentikan sikap yang seakan mendukung beredarnya isu negatif terhadap galon guna ulang ini di masyarakat.

"Sebab, kalau tidak berhenti, hal ini akan jadi bumerang bagi BPOM sendiri yang akan dituding bersikap diskriminatif," katanya.

Dia mengatakan BPOM itu seharusnya tidak hanya fokus mengawasi galon guna ulang saja, tapi juga minuman-minuman lainnya seperti teh, kopi, dan lain-lain.

"Jadi, untuk BPOM, tolong minum-minuman teh, kopi, diperiksa sumber airnya. Ini catatan untuk BPOM, jangan cuma galonnya saja itu yang diawasi. Karena ada ribuan kemasan di supermarket yang harus diurus BPOM di luar galon," katanya.

Dia juga mengingatkan agar perusahaan tidak ada yang melakukan persaingan tidak sehat.

"Boleh produksi dan memasarkan produk, tapi jangan melakukan kampanye negatif terhadap orang lain," katanya.  


Sumber :

https://www.liputan6.com/health/read/5060749/pakar-ipb-kemasan-pet-pun-sebenarnya-ada-kandungan-yang-berbahaya?page=3

Mikroplastik pada Makanan dan Minuman

Mikroplastik Berbahaya yang Mungkin Ada di Makanan Kita

Selasa, 3 Oktober 2023 | 10:36 WIB

Mikroplastik adalah potongan kecil plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Mikroplastik tidak hanya ditemukan di lingkungan seperti di udara, air sungai atau air laut saja. Mikroplastik, bahkan sebenarnya juga ditemukan di dalam air minum dan makanan, yang artinya potongan plastik kecil ini mungkin ada di dalam tubuh kita.

Partikel-partikel mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk pemecahan plastik yang lebih besar, produk-produk plastik mikro dan limbah plastik yang tersebar di lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di dalam tubuh manusia termasuk darah, tinja dan jaringan tubuh yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh.


Dampak Negatif Mikroplastik bagi Tubuh

Mikroplastik dapat berdampak negatif bagi kesehatan tubuh, di antaranya:


Kemungkinan paparan zat kimia

Mikroplastik memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap zat kimia dari lingkungan. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan atau minuman, zat kimia yang menempel pada mikroplastik bisa berpindah ke tubuh manusia.


Risiko peradangan

Risiko peradangan akibat partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia hingga kini masih belum dipahami sepenuhnya dan masih terus diteliti. Namun, potensi reaksi inflamasi tubuh berlebihan mungkin terjadi saat mikroplastik dan zat kimia berbahaya yang diserapnya masuk lebih dalam ke tubuh.

Inflamasi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan autoimun.


Gangguan hormonal

Mikroplastik yang terpapar zat-zat kimia berbahaya bisa masuk ke dalam tubuh dan menjadi zat-zat pengganggu hormon yang memengaruhi sistem endokrin manusia. Ini dapat berdampak pada keseimbangan hormon di dalam tubuh dan memiliki efek jangka panjang yang tidak diinginkan.

Selain zat-zat pengganggu endokrin, mikroplastik juga mungkin membawa logam berat atau polutan organik yang meningkatkan paparan bahan kimia berbahaya di tubuh.


Jenis Mikroplastik yang Mungkin Terkandung di Dalam Makanan dan Minuman

Tidak hanya mungkin terhirup oleh hidung, mikroplastik juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman. Adapun beberapa jenis mikroplastik yang bisa ditemukan di dalam makanan atau minuman di antaranya:


BPA (Bisphenol A)

BPA adalah bahan kimia yang digunakan dalam produksi plastik seperti botol plastik, galon air kemasan, peralatan makan, peralatan dapur, mainan, lapisan pelindung kaleng makanan atau minuman serta produk kemasan makanan lainnya. BPA telah menjadi subjek perhatian karena potensinya sebagai zat kimia yang dapat mengganggu sistem endokrin.


BPA dapat menyebabkan dampak negatif lain bagi tubuh, di antaranya:

  • Memengaruhi perkembangan otak janin dan anak-anak
  • Memengaruh kesehatan reproduksi pria
  • Berdampak pada perubahan perilaku anak-anak
  • Meningkatkan tekanan darah, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular


Dioxin

Dioxin adalah sekelompok senyawa kimia yang sangat beracun yang merupakan produk sampingan dari proses industri dan pembakaran termasuk pembakaran sampah, pembakaran bahan bakar fosil dan proses kimia tertentu. Dioxin dikaitkan dengan masalah sistem reproduksi termasuk gangguan menstruasi, penurunan kesuburan dan masalah perkembangan seksual.

Dioxin juga dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh, gangguan hormonal, meningkatkan risiko perkembangan kanker serta memengaruhi sistem saraf dan perkembangan otak anak-anak secara negatif.


Phthalate

Phthalate adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai agen pemlastis. Bahan kimia ini dapat meningkatkan fleksibilitas, kekuatan dan daya tahan plastik sehingga lebih mudah dibentuk dan tahan lama. Beberapa jenis phthalate dikaitkan dengan gangguan hormonal yang berdampak negatif terutama bagi anak-anak.


Polyethylene dan polypropylene

Kedua jenis bahan kimia ini membuat kemasan menjadi lebih ringan dan tahan lama. Penelitian menemukan bahwa bahan kimia ini mungkin berkontribusi terhadap beberapa jenis kanker.


Sumber :

https://www.ai-care.id/penyakit/mikroplastik-berbahaya-yang-mungkin-ada-di-makanan-kita

Wednesday, September 27, 2023

Mikroplastik Ada di Jantung hingga Otak

Mikroplastik Ada di Jantung hingga Otak, Masuk via Air Minum

20 September 2023 09:30


Kandungan mikroplastik di air minum ternyata bisa masuk ke jantung hingga otak. Hal ini diketahui berdasarkan penelitian yang dilakukan para ilmuwan tentang dampak mikroplastik terhadap kesehatan.

Studi tersebut menemukan beberapa hasil awal yang bikin ngeri dalam percobaan yang dilakukan pada tikus.

Tikus tua dan muda diuji dengan meminum air dengan kandungan plastik mikroskopis yang tersuspensi selama tiga minggu. Para peneliti di Universitas Rhodes Island menemukan jejak polutan telah terakumulasi di setiap organ tubuh mamalia kecil tersebut, bahkan di otak.

Kehadiran mikroplastik ini juga dibarengi dengan perubahan perilaku seperti demensia pada manusia, serta perubahan penanda imun di hati dan otak.

"Bagi kami, ini sangat mengejutkan. Ini bukan mikroplastik dosis tinggi. Namun hanya dalam waktu singkat, kami melihat perubahannya," jelas ahli saraf Jaime Ross, dikutip dari Science Alert, Selasa (19/9/2023).

"Tidak ada yang benar-benar memahami siklus hidup mikroplastik ini di dalam tubuh, jadi salah satu hal yang ingin kami jawab adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi seiring bertambahnya usia,"

"Apakah Anda lebih rentan terhadap peradangan sistemik dari mikroplastik ini seiring bertambahnya usia? menghilangkannya dengan mudah? Apakah sel-sel Anda memberikan respons yang berbeda terhadap racun-racun ini?"

Hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung pada manusia, tetapi penelitian yang melibatkan model hewan seperti ini adalah langkah awal yang penting dalam penelitian klinis selanjutnya.

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan mikroplastik bersembunyi di usus manusia, beredar di aliran darah, berkumpul di paru-paru, dan merembes ke plasenta.

Pada tahun 2021, para ahli toksikologi memperingatkan bahwa penelitian di masa depan perlu segera mengungkap pengaruh polutan ini terhadap kesehatan manusia, terutama karena paparannya kini hampir mustahil untuk dihindari.


Beberapa tikus juga diberi air minum biasa sebagai kontrol.

Selama uji coba tiga minggu, perilaku tikus dinilai secara teratur selama uji lapangan terbuka yang mendorong perilaku eksplorasi. Mereka juga melakukan tes preferensi terang-gelap, yang didasarkan pada keengganan alami hewan pengerat terhadap area yang terang benderang.

Dibandingkan dengan kelompok yang dikontrol, tikus yang meminum air yang terkontaminasi mikroplastik selama tiga minggu menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Perubahan terjadi terlihat terutama pada tikus yang lebih tua.

Pada akhir tiga minggu, partikel mikroplastik berpendar merah ditemukan di setiap jenis jaringan yang diperiksa tim seperti otak, hati, ginjal, saluran pencernaan, jantung, limpa, dan paru-paru. Plastik juga ada di kotoran dan urin tikus.

Fakta bahwa polutan terdeteksi di luar sistem pencernaan menunjukkan bahwa polutan tersebut mengalami sirkulasi sistemik.

Kehadiran mereka di otak sangat memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa polutan yang berpotensi beracun ini dapat melewati penghalang kekebalan yang memisahkan sistem saraf pusat dari aliran darah tubuh lainnya, sehingga mungkin menyebabkan masalah neurokognitif.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230920075758-37-473918/mikroplastik-ada-di-jantung-hingga-otak-masuk-via-air-minum

Tuesday, August 29, 2023

Plastic Canisters Poisoned Your Body with Nano Particles

Did you know that all plastic canisters poisoned your body with nano particles, these “tubes” as an polymer synthetic elementaire reach you blood vascular vessels and brains. This is in fact the Fibonacci sequence Toroidal spins as the opposite frequency vibrations waves to reject your Krystal frequency energy. This will cause inflammatory all over your body what gives you itches on your skin and other heavy problems as tiredness and anxious behaviours. Aggressive response to hold you in a flow of low frequency! 

It’s better to take natural glass (Kristal) or copper, clay. 

Humanity underestimated the problem of the way of living in this evil system. Take your responsibility NOW and throw it away as much as possible. Even bottles by the process of solvating by light and moisture will cause the same damage to your body.

Sunday, August 27, 2023

Microplastic Fibres were Found Deep in the Lower Lungs

Study finds plastics found in masks present in patients’ lungs

By Amanda Brown Apr 17, 2022  3

Microplastic fibres were found deep in the lower lungs of living human beings in almost every person sampled in a recent UK study.

The study from Great Britain discovered microplastic particles — present in many COVID-19 masks — in the lung tissue of 11 out of 13 patients undergoing surgery.

Polypropylene (PP) and polyethylene terephthalate (PET) were the most prevalent substances present in the lungs.

The microscopic plastic fragments and fibres were discovered by scientists at Hull York Medical School in the UK. Some of the filaments were two millimetres long in patients undergoing surgery whose lung tissue they sampled.

The plastic dust and microscopic debris comprises the same plastics used to manufacture the ubiquitous surgical masks worn by hundreds of millions of people around the world as mandated by governments in an attempt to halt the spread of COVID-19.

The material most commonly used to make these masks is PP — PP fabric is made from a “thermoplastic” polymer, meaning that it’s easy to work with and shape at high temperatures.

Blue surgical masks can also be made of polystyrene, polycarbonate, polyethylene, or polyester, all of which are types of fabrics derived from thermoplastic polymers.

Disposable blue masks are to be found littering almost every city street in the developed world after two years of COVID-19 mandates ruled that masks should be worn in most indoor environments much of the time. Healthy adults, children, the immunocompromised, and the elderly have all been subject to mask mandates.

Microplastics were detected in human blood for the first time in March, showing the particles can travel around the human body and may become embedded in organs. The impact on health is still to be determined.

Researchers are concerned because microplastics cause damage to human cells in the laboratory and air pollution particles are already known to enter the body and cause millions of premature deaths each year.

Mask under a microscope. Image courtesy E.P. Vicenzi/Smithsonian’s Museum Conservation Institute and NIST

“Airborne microplastics (MPs) have been sampled globally, and their concentration is known to increase in areas of high human population and activity, especially indoors. Respiratory symptoms and disease following exposure to occupational levels of MPs within industry settings have also been reported,” the UK study said. “In total, 39 MPs were identified within 11 of the 13 lung tissue samples… These results support inhalation as a route of exposure for environmental MPs, and this characterization of types and levels can now inform realistic conditions for laboratory exposure experiments, with the aim of determining health impacts.”

“We did not expect to find the highest number of particles in the lower regions of the lungs, or particles of the sizes we found,” said Laura Sadofsky, at Hull York Medical School in the UK, a senior author of the study. “It is surprising as the airways are smaller in the lower parts of the lungs and we would have expected particles of these sizes to be filtered out or trapped before getting this deep.”

“This data provides an important advance in the field of air pollution, microplastics, and human health,” she said.

The research used samples of healthy lung tissue from next to the lung region targeted for surgery. It analyzed particles as small as .003mm in size and used spectroscopy to identify plastic types.

It also used control samples to account for the level of background contamination. The study has been accepted for publication by the journal Science of the Total Environment.

An older study published in 2020 looked into the risks associated with mask-wearing and the inhalation of microplastics. The study concluded:

• Wearing masks poses microplastic inhalation risk, reusing masks increases the risk

• Wearing N95 masks poses lowest microplastic inhalation risks in the long term

• Wearing masks, except for N95, poses higher stripe-type microplastic inhalation risk

• Wearing masks poses considerably lower spherical-type microplastic inhalation risk

• Wearing masks leads to lower gross microplastic inhalation risk in the long term


“Surgical, cotton, fashion, and activated carbon masks wearing pose higher fibre-like microplastic inhalation risk, while all masks generally reduced exposure when used under their supposed time (<4 h),” the study said.

Chris Schaefer is a respirator specialist and onsite training expert based in Edmonton, Alta. He has been teaching and conducting respirator fit testing for more than 20 years with his company, SafeCom Training Services Inc. His clients include government departments, Canada’s military, Alberta Health Services, educational institutions, and private industry. Schaefer is a published author and a recognized authority on the subject of respirators and masks.

The Western Standard asked Schaefer if he believed surgical masks of the type used by millions of Canadians, and people throughout the world, presented a significant risk of microplastic inhalation from the masks themselves. He began by clarifying that the face covering generally referred to as a ‘mask’ is not, in fact, a mask, at all.

Schaefer refers to COVID-19 face coverings as “breathing barriers.”

“What has been mandated in hospitals and through the general public through this whole COVID-19 agenda, are not masks. They don’t meet the legal definition [of a mask,] “Shaefer said. “A [proper] mask has engineered breathing openings in front of mouth and nose to ensure easy and effortless breathing. A breathing barrier is closed both over mouth and nose. And by doing that, it captures carbon dioxide that you exhale, forces you to re-inhale it, causing a reduction in your inhaled oxygen levels and causes excessive carbon dioxide. So they’re not safe to wear.”

“As far as whether it could cause somebody to inhale the polypropylene fibres that are used to make this and synthetic polymers that are used to make the filtration of these devices — absolutely. Take a pair of scissors and cut one open. You can see that in between the two main covers that are encapsulating, these loose fibres are breaking away. They’re becoming dislodged from the cover itself, just through normal wear and tear and the agitation of putting it on and taking it off,” Schaefer said.

“The heat and moisture that it captures will cause the degradation of those fibres to break down smaller. Absolutely, people are inhaling [microplastic particles]. I’ve written very extensively on the hazards of these breathing barriers the last two years, I’ve spoken to scientists [and other] people for the last two years about people inhaling the fibres. If you get the sensation that you’ve gotten a little bit of cat hair, or any type of irritation in the back of your throat after wearing them,” said Schrieffer. “That means you’re inhaling the fibres.”

Schaefer said we will have to wait to see the the long-term effects of the inhalation of microplastics from masks.

“So we know that people are inhaling the fibres. What the risks are going to be, what the effects are going to be — it could be anything — but it could definitely cause lung inflammation and could cause full-body inflammation. Absolutely,” Schaefer said.

“This is not normal. Anybody who would normally be exposed to any type of synthetic polymers or polypropylene fibres [in an occupational environment] would have to wear approved respiratory protection. These breathing barriers are not respirators. These fibres break down to between .2 mm, and the large ones are five mm. So they’re totally inhalable, they break down very small and and, well, what that’s going to do to people in the in the form of lung function — as well as toxicity overload in their body — I guess we’ll know in a few years.

Although the latter study assessed the masks’ abilities to filter incoming environmental microplastics, the study did not assess whether particles were shed from the construction of the mask fabric itself on its alternate side — particles that would enter the lungs of a wearer.


Sumber :

https://www.westernstandard.news/features/study-finds-plastics-found-in-masks-present-in-patients-lungs/article_056590f2-0615-5bc9-aab0-730e7704634e.html