Pages

Friday, March 3, 2023

Kiamat dan Sikat Gigi

Tanda Kiamat Makin Banyak Akibat Sikat Gigi, Kok Bisa?

Tanda kiamat yang merujuk pada kehancuran hidup manusia memang semakin nyata dan kita rasakan. Sebut salah satunya perubahan iklim. Menurut PBB, perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang.

Perubahan ini sebetulnya bersifat alami. Namun, sejak tahun 1800-an aktivitas manusia telah memicu perubahan iklim global, seperti pembakaran bahan bakar fosil, efek gas rumah kaca, sampai yang paling tidak diduga, yakni penggunaan sikat gigi. Kok bisa?

Dalam menjalani aktivitas, kebersihan menjadi hal yang diutamakan manusia, termasuk juga kebersihan gigi. Maka, dibutuhkan-lah alat seperti sikat gigi, mouthwash, dan benang gigi. Pada titik inilah sikat gigi mendorong perubahan iklim, setidaknya sejak sikat gigi modern ditemukan pada 1900-an.

Melihat pada sejarahnya, sikat gigi awalnya menggunakan bahan alami, seperti bambu atau kulit kayu, salah satu yang mungkin kita kenal adalah siwak. Lalu seiring berjalannya waktu mulai ada variasi, seperti menggunakan tulang hewan sebagai gagang dan kulit hewan sebagai sikat.

Namun, sejak tahun 1900-an, semua itu berubah. Setelahnya, sikat gigi mengandung bahan yang sangat tidak ramah lingkungan. Gagangnya dari plastik dan bulu sikatnya dari nilon. Menurut Greenbiz, kedua bahan tersebut masuk dalam benda yang tidak dapat diperbaharui dan sangat sulit untuk terurai dalam waktu singkat, sehingga berbahaya bagi manusia.

Menurut National Geographic, permasalahan ini yang membuat sikat gigi menjadi bagian dari krisis. Kenapa?

Perlu diketahui, sikat gigi adalah benda yang tidak awet. Laman American Dental Association (ADA) menganjurkan sikat gigi diganti setiap 3-4 bulan sekali. Artinya, setiap tahun seseorang membuang sikat gigi lama dan menggantikannya dengan yang baru selama 3-4 kali.

Jika penduduk Indonesia ada 273 juta dan diasumsikan rutin mengganti sikat gigi, maka ada lebih dari 1 miliar sampah sikat gigi dalam setahun. Belum lagi jika menghitung berdasarkan jumlah seluruh orang di dunia sebanyak 8 miliar orang. Maka, ada 24 miliar limbah sikat gigi dalam setahun.

Lebih dari itu, apabila asumsi pergantian itu rutin terjadi maka setiap manusia sampai usia 75 tahun akan menggunakan 280-300 sikat gigi. Itu baru seorang, dan belum dikalikan dengan jumlah manusia di bumi. Tentu hasilnya akan sangat fantastis.

Bahkan National Geographic menyebut sampah sikat gigi Amerika Serikat (AS) berpenduduk 331 juta jiwa mampu melilit bumi dalam 4 lilitan dalam setahun saja. Menurut perusahaan Haeckels, yang memproduksi barang ramah lingkungan, di Inggris saja ada 264 juta sikat gigi yang dibuang karena lewat batas pakai. Kalkulasi ini belum memperhitungkan model sikat gigi listrik yang di dalamnya terdapat baterai yang tentu sangat tidak ramah lingkungan.

Sama seperti plastik, sikat gigi pun baru bisa terurai setelah 200-700 tahun. Selama itu, tulis Massachusetts Institute of Technology, plastik akan mengeluarkan gas rumah kaca. Dan jika berada di laut akan mematikan kehidupan zooplankton yang memiliki peran untuk menyerap karbon.

Sayang, mengurai permasalahan limbah sikat gigi tidak seperti benda-benda lain, alias sangat sulit. Sebab, sikat gigi memiliki peran yang tidak tergantikan. Jika mengganti gagangnya dengan bambu pun, tetap saja bulu sikatnya menggunakan nilon. 

"Sangat sulit untuk menemukan opsi sikat bebas plastik. Plastik biodegradable tidak selalu lebih baik untuk bumi daripada plastik yang lebih tradisional," tulis jurnalis Alejandra Borunda di National Geographic.

Beranjak dari sini, mungkin kita harus memikirkan kembali menyikat gigi menggunakan bahan alam semacam siwak atau beralih sepenuhnya ke sikat gigi ramah lingkungan, meski harus merogoh kocek dalam. 


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20230220092314-4-415185/tanda-kiamat-makin-banyak-akibat-sikat-gigi-kok-bisa

Monday, February 13, 2023

Mayora Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik

Mayora Group Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Berteknologi "Food Grade" di Jombang

08/02/2023


Mayora Group bangun pabrik PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ), sebagai pabrik daur ulang plastik Polyethylene terephthalate (PET) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pabrik tersebut diklaim sebagai pabrik daur ulang PET Lokal Indonesia pertama berteknologi food grade atau memenuhi standar keamanan pangan. 

Pabrik itu diresmikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (8/2/2023). Komisaris Utama PT Bumi Indus Padma Jaya, Ronald Atmadja mengatakan, pabrik daur ulang BIPJ memiliki kapasitas produksi 22.000 ton per tahun Recycled PET Plastic (RPET) BIPJ dibangun untuk meningkatkan penyediaan sumber bahan baku Recycled PET (R-PET) dalam negeri, serta sekaligus sebagai komitmen Mayora Group dan Le Minerale dalam mengaplikasikan peta jalan sampah perusahaan. 

"Karena itu didirikanlah PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ), pabrik daur ulang plastik khusus PET yang memenuhi standar keamanan pangan (foodgrade)," kata Ronald, Rabu.  

Ekonomi sirkular PIBJ dibangun juga untuk melengkapi Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale (GESN Le Minerale) yang telah digaungkan sejak 2021 yang lalu. Pabrik yang menyerap 150 tenaga kerja lokal itu menggunakan teknologi pengolahan PET paling modern dan berfokus pada higenitas. 

Ada dua proses utama dalam pengolahan botol plastik PET menjadi food grade recycled plastik resin. Pertama dimulai dengan proses pembersihan dan pembukaan tutup. Lalu botol PET bekas tersebut diseleksi secara otomatis untuk kebersihan warna. 

Setelah itu proses pencacahan menjadi serpihan untuk kemudian pencucian dan pengeringan. Yang kedua yakni proses extrusi, perubahan plastik dari bentuk padat menjadi cair. Lalu, proses dekontaminasi kontaminan dengan proses solid state polycondensation (SSP) dan yang terakhir proses pencetakan pellet plastik. 

"Pellet plastik inilah yang dapat diolah kembali untuk menghasilkan produk plastik baru," ujar Ronald. 

PET sendiri memiliki tingkat daur ulang tertinggi, sehingga bila bekas kemasan plastik PET dapat terkelola dan didaurulang, maka tidak menjadi timbulan sampah di ekosistem. Sedangkan dari sisi ekonomi, tentunya adanya penyerapan tenaga kerja akan berkontribusi terhadap perekonomian wilayah setempat pada khususnya. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi didirikannya BIPJ sebagai industri daur ulang karena sesuai dengan misi Kemenperin dalam menciptakan transformasi industri yang berkelanjutan. 

Dia yakin, BIPJ dapat memperkuat ekosistem daur ulang dan ekonomi sirkular. "Pabrik ini juga dapat meningkatkan tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia, dan berdampak dalam mengurangi sampah plastik dan secara langsung berkonrtribusi dalam peningkatan sosial ekonomi serta devisa negara," ucapnya.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2023/02/08/212013426/mayora-group-bangun-pabrik-daur-ulang-plastik-berteknologi-food-grade-di?page=all#page2.

Wednesday, February 8, 2023

Veolia, Pabrik Daur Ulang Plastik

Veolia Indonesia Bangun Pabrik Daur Ulang Plastik Rp 600 Miliar

Kamis, 21 Maret 2019 13:58 WIB

PT Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) menginvestasikan dana sekitar Rp 600 miliar untuk membangun pabrik daur ulang botol plastik atau Polyethylene terephthalate (PET) di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik yang didirikan di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi ini bakal beroperasi mulai awal 2020.

Presiden Director Veolia Indonesia, Sven Beraud-Sudreau, mengatakan dengan pabrik yang dibangun, pemilahan sampah plastik akan lebih efisien. Jika sudah beroperasi, pabrik tersebut mampu mendaur ulang botol plastik sebanyak 25 ribu ton per tahun. 

“Kami bekerja sama dengan para pemasok dari berbagai kota. Salah satu tujuan kami ialah mengurangi volume sampah plastik di Sungai yang berakhir di lautan,” kata Sven dalam peletakan batu pertama di kawasan industri Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kamis, 21 Maret 2019.

Sven berujar pembangunan pabrik tersebut akan membuat proses daur ulang menjadi lebih efisien dengan skala yang lebih besar untuk mengumpulkan, menyeleksi dan mengelola proses plastik. Didukung Danone-AQUA, kata dia, fasilitas yang ada merupakan upaya untuk memperkuat ekosistem daur ulang serta ekonomi sirkular.

Presiden Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, menuturkan daur ulang botol plastik bekas menjadi kemasan air mineral baru seperti yang dilakukan Veolia Indonesia telah diuji tingkat kesehatannya. Pengujian kesehatan, kata dia, disesuaikan dengan standar keamanan pangan dunia.

“Selain itu Danone-AQUA juga membantu mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi jejak karbon. Apalagi sejak 2017 kami telah meluncurkan program bijak berplastik,” ucap Corine Tap.

Adapun Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Ratnadewi Indriani mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan iklim investasi, khususnya kebijakan pengolahan sampah yang telah menjadi agenda mendesak pemerintah.

Farah meminta partisipasi dunia usaha untuk member masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang baik. “Kolaborasi Veolia Indonesia dengan Danone-AQUA diharapkan dapat memperkuat ekosistem daur ulang dan ekonomi sirkular,” ujar dia.


Sumber :

https://bisnis.tempo.co/read/1187709/veolia-indonesia-bangun-pabrik-daur-ulang-plastik-rp-600-miliar

Tuesday, January 17, 2023

Gunung Tandus di Arab Saudi Berubah Hijau

Gunung Tandus di Arab Saudi Menghijau, Pertanda Apa?

15 January 2023 13:15

Penampakannya terlihat melalui satelit dataran hijau di Jeddah, Makkah Al-Mukarramah dan Al-Madinah Al-Munawwarah. Curah hujan tinggi membuat sejumlah wilayah di Arab Saudi berubah menjadi hijau. 

(Dok: Climate Extremes via ArabiaWeather)


Gunung-gunung tandus di kota suci Makkah, Arab Saudi, kini berubah menjadi hijau. Rerumputan pun muncul. Hal ini pun diungkap media pemerintah Saudi Press Agency (SPA). Media sosial juga ramai dengan penampakan "keanehan" baru tersebut

Lalu apa penyebabnya?

Ini tak lain karena hujan berminggu-minggu yang terjadi. Arab Saudi pada Desember diketahui sempat dilanda banjir bandang.

Hujan deras di negara itu mengikuti seruan pada bulan November oleh penguasa Raja Salman bin Abdulaziz. Ia meminta orang-orang melakukan doa khusus kepada Tuhan untuk hujan yang dikenal sebagai istisqa.

Mengutip Arab News, ini tak lain karena kekeringan parah dua bulan lalu. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Kerajaan, Raja Salman meminta semua orang berdoa kepada Tuhan untuk pertobatan, pengampunan dan belas kasihan.

Sebenarnya peningkatan hujan juga diupayakan badan meteorologi setempat. Mengutip The National News, program peningkatan hujan telah dimulai November di Riyadh, Hail dan Qassim, dan akan dipindahkan pada musim panas ke Abha.

"Kami sedang mengerjakan operasi peningkatan hujan di Madinah, yang hasilnya positif," kata CEO Pusat Meteorologi Nasional dan Pengawas Umum Program Pembibitan Awan, Ayman Ghulam.

Akibat menghijaunya pegunungan, beberapa orang menghubungkan penghijauan yang tiba-tiba di Makkah dengan sebuah narasi oleh Nabi Muhammad (SAW) tentang kiamat.

"Kiamat tidak akan datang sampai tanah Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai," tulis Middle East Monitor mengutip sejumlah warga.

Namun, seorang pengguna media sosial memperingatkan agar tidak membuat kesimpulan prematur. Fenomena tersebut bersifat sementara dan disebut telah terjadi sebelumnya.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20230115115914-4-405505/gunung-tandus-di-arab-saudi-menghijau-pertanda-apa?

Monday, January 16, 2023

Upcycling Produk

Kurangi Limbah Mode, Ciptakan Upcycling Produk

Jumat 13 Januari 2023

Upcycling semakin populer di dunia sustainability. Menurut definisi, "upcycle" berarti mendaur ulang atau menggunakan kembali sesuatu dengan cara yang meningkatkan nilai objek aslinya. Cara terbaik untuk memahami upcycling adalah membandingkannya dengan recycling. Keduanya adalah jenis daur ulang.

Recycling adalah jenis daur ulang yang biasa kita pikirkan, daur ulang kertas atau plastik, misalnya. Bahan-bahan ini dipecah dan digunakan kembali untuk membuat produk yang dianggap kurang berharga dari aslinya. Misalnya, sebagian besar kertas daur ulang, seperti koran bekas, dianggap sebagai kertas bermutu rendah.

Sedangkan upcycling adalah proses yang sama untuk menggunakan kembali bahan lama, tetapi cara ini menciptakan sesuatu yang lebih berharga atau berkualitas lebih tinggi tanpa menghilangkan makna aslinya. 

Contohnya adalah, saat ini Eiger Indonesia sedang menggarap projek upcycling Vol.1 pada produk-produk lama yang telah digunakan dan di daur ulang kembali menjadi produk baru yang lebih berkualitas.

Project upcycling Vol.1 merupakan sebuah gerakan koleksi produk daur ulang yang dirancang untuk memberikan warna baru pada industri mode, sekaligus berkontribusi pada lingkungan hidup. Produk upcycling dari Eiger diciptakan dari pemanfaatan produk yang tidak memenuhi standar kualitas atau tidak layak jual dengan tujuan untuk mengurangi limbah mode.

“Melalui proses upcycling, kami memberikan kesempatan kedua kepada produk-produk yang awalnya tidak layak jual, lalu kami desain dan olah kembali menjadi produk baru dengan memberikan nilai tambah kepada produk tersebut, sehingga dapat diterima konsumen,” ujar Harimula.

Ia menambahkan, ke depannya konsumen dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut dengan mengirimkan barang-barang mereka yang sudah tidak digunakan, untuk kemudian disortir oleh pihak Eiger dan diubah menjadi barang trendi baru.

Pada Eiger Upcycling Collection vol.1, terdapat setidaknya 35 produk yang dihasilkan dari ratusan produk tidak layak jual. Rangkaian produk upcycling kedepannya akan dijual secara terbatas mengikuti ketersediaan bahan baku dan eksklusif hanya di Eiger Adventure Official Store di platform Lazada.


Sumber :

https://www.medcom.id/gaya/your-fashion/xkEjBRMK-kurangi-limbah-mode-ciptakan-upcycling-produk

Sunday, December 25, 2022

Beruang Kutub di Kanada Terus Berkurang

Sabtu , 24 Dec 2022, 06:40 WIB

Beruang kutub di Western Hudson Bay Kanada yang terletak tepi selatan Arktik terus mati dalam jumlah yang tinggi. Survei pemerintah tentang karnivora darat itu menemukan, beruang betina dan anaknya mengalami masa-masa sulit.

Para peneliti mensurvei Western Hudson Bay atau rumah bagi Churchill yang merupakan kota berjulukan 'Ibukota Beruang Kutub Dunia' melalui udara pada 2021. Hasil survei itu memperkirakan ada 618 beruang, jumlah ini berkurang dibandingkan dengan 842 pada 2016, ketika mereka terakhir disurvei.

"Penurunan sebenarnya jauh lebih besar dari yang saya perkirakan," kata Andrew Derocher, seorang profesor biologi di University of Alberta yang telah mempelajari beruang kutub di Teluk Hudson selama hampir empat dekade.

Sejak 1980-an, jumlah beruang di wilayah tersebut telah turun hampir 50 persen. Es yang penting untuk kelangsungan hidup berung telah menghilang.

Beruang kutub mengandalkan es laut Arktik yang menyusut di musim panas dengan suhu yang lebih hangat dan terbentuk lagi di musim dingin yang panjang. Mereka menggunakannya untuk berburu, bertengger di dekat lubang di es tebal untuk melihat anjing laut, makanan favoritnya muncul untuk mencari udara.

Tapi karena Arktik telah menghangat dua kali lebih cepat dari bagian dunia lainnya karena perubahan iklim, es laut retak di awal tahun dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membeku di musim gugur. Kondisi itu telah membuat banyak beruang kutub  di Kutub Utara hanya mendapatkan lebih sedikit es untuk hidup, berburu, dan bereproduksi.

Beruang kutub bukan hanya predator kritis di Kutub Utara. Selama bertahun-tahun, sebelum perubahan iklim mulai memengaruhi orang-orang di seluruh dunia, hewan itu juga merupakan wajah paling terkenal dari perubahan iklim.

Para peneliti mengatakan konsentrasi kematian pada beruang muda dan betina di Western Hudson Bay mengkhawatirkan. “Itu adalah jenis beruang yang selalu kami perkirakan akan terpengaruh oleh perubahan lingkungan,” kata penulis utama yang telah mempelajari beruang kutub selama lebih dari 30 tahun Stephen Atkinson.

Beruang muda membutuhkan energi untuk tumbuh dan tidak dapat bertahan lama tanpa makanan yang cukup. Sedangkan beruang betina berjuang keras karena menghabiskan begitu banyak energi untuk mengasuh dan membesarkan anak.

Kapasitas beruang kutub di Western Hudson Bay  untuk bereproduksi akan berkurang. "Karena Anda hanya memiliki lebih sedikit beruang muda yang bertahan hidup dan menjadi dewasa," ujar Atkinson.


Sumber :

https://repjogja.republika.co.id/berita/rndb3q291/beruang-kutub-di-kanada-terus-berkurang

Wednesday, December 21, 2022

80 Persen Polusi Plastik Kotori Lautan

Sampah Plastik Jejali 1000 Sungai, 80 Persen Polusi Plastik Kotori Lautan 

Written by Marinus L Toruan


Boyan Slat pendiri dan chief executive The Ocean Cleanup (kiri) dan limbah atau sampah plastik yang mencemari sungai-sungai dan selanjutnya meneruskannya ke lautan.

Jangan biarkan sampah plastik jejali 1000 sungai agar laut tak penuhi sampah. The Ocean Cleanup malaporkan, sampah plastik mencemari sungai-sungai di Filipina, Indonesia, Malaysia, Dominika, dan Amerika Tengah. China dan India penghasil sampah plastik terbesar di dunia. 

Mari kita bantu upaya The Ocean Cleanup yang membersihkan sampah plastik dari sungai dan lautan di seluruh dunia. Dari markas utamanya di Rotterdam, Belanda, The Ocean Cleanup mengirimkan rilis ke media ini belum lama ini. 

The Ocean Cleanup menyimpulkan, sungai dan lautan tercemar sampah plastik. Lembaga dengan aktivitas lingkungan tanpa mencari keuntungan atau sebuah organisasi nirlaba, sukses mengembangkan dan menggunakan teknologi terbaik untuk membersihkan sampah plastik yang mengotori sungai dan laut di belahan dunia. 

Melalui rilisnya,  The Ocean Cleanup yang didirikan (tahun 2013) oleh seorang anak muda, Boyan Slat kelahiran tahun 1994, mempresentasikan hasil berupa model pencemaran sungai di berbagai negara di dunia termasuk sungai-sungai di Indonesia.  

Presentasi The Ocean Cleanup merupakan bagian jurnal atau laporan yang telah diperbarui—hasil kerja sama bersama mitranya Science Advances.  Jurnal yang disampaikan oleh The Ocean Cleanup itu mengaktualkan dominasi sampah plastik yang dialirkan melalui sungai-sungai menuju laut lepas.  

Dengan bantuan pengukuran dan bentuk pemodelan baru, hasil studi The Ocean Cleanup menunjukkan sekitar 1000 sungai melepaskan hampir 80 persen emisi plastik.  Jumlah itu mencapai 100 kali lebih banyak dari 10 sungai yang sebelumnya dianggap pemicu atas sebagian besar pencemaran limbah sampah plastik.  

The Ocean Cleanup bekerja sama dengan para peneliti di Universitas Wageningen, Universitas Teknologi Delft, Universitas Utrecht, dan Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz yang melakukan studi yang dalam.  

Tim peneliti menyebutkan bahwa sungai-sungai merupakan sumber utama sampah plastik yang mencemari lautan. Hasil temuan itu memperkuat kenyataan bahwa polusi sampah plastik di lautan berasal dari banyak sungai kecil dan menengah. 

Hal itu merupakan serangkaian faktor geografis yang menentukan kontribusi tertinggi dari sungai atas sampah plastik masuk ke lautan di berbagai belahan dunia.  Secara global, 1000 sungai menghasilkan hampir 80 pesen polusi yang disebabkan limbah atau sampah plastic.

Pemahaman atau kesimpulan ini berbeda dengan perkiraan sebelumnya—bahwa  sejumlah kecil sungai besar merupakan kontributor utama. Secara global, 1000 sungai menghasilkan hampir 80 pesen polusi yang disebabkan limbah atau sampah plastik.  

Dari satu pandangan, penemuan itu mewakili 1 persen dari semua sungai yang ada di dunia. Sedangkan dari sisi lain, diperkirakan sekitar 100 kali lebih banyak sungai dianggap mewakili mayoritas penghasil emisi—ini berdasarkan hasil studi yang dilaporkan pada tahun 2017.  

“Meskipun skala masalah plastik mungkin tampak menakutkan, pemahaman terbaru tentang di mana plastik menjadi sampah plastik di laut memungkinkan intervensi yang lebih terarah. Seperti yang kita lihat, perbedaan besar dalam tingkat polusi di seluruh dunia,” ungkap Boyan Slat, pendiri dan CEO The Ocean Cleanup. 

“Hasil temuan ini justru membantu meningkatkan kecepatan pemecahan masalah dengan cepat. Kami akan menggunakan data baru ini sebagai panduan untuk kegiatan pembersihan sungai dan lautan. Kami berharap orang-orang lain juga melakukan seperti yang kamu lakukan,” ujar Boyan Slat yang didukung oleh 100 orang insinyur.   

Ironisnya, sampah plastik yang mengalir ke lautan tidak hanya ditentukan oleh jumlah limbah plastik yang dihasilkan di suatu wilayah dekat sungai. Hal itu terjadi terutama didorong oleh kombinasi konsentrasi penduduk, perkembangan ekonomi, dan kualitas pengelolaan sampah – juga probabilitas sampah plastik. 

Sampah plastic dimobilisasi, dan diangkut melalui sungai menuju laut.  Pendorong utama kemungkinan sampah plastik mencapai laut adalah, presipitasi dan angin (untuk memobilisasi sampah), penggunaan lahan dan kemiringan medan atau resistensi untuk sampah plastik yang akan diangkut. Jarak ke sungai terdekat dan ke laut merupakan salah satu faktor penumpukan samplah plastik. 

Semakin jauh jarak tempuh sampah plastik, semakin rendah probabilitas mencapai sungai atau laut.  Dengan mempertimbangkan probabilitas ini secara mendetail, tim peneliti membuat gambaran global tentang di mana dan berapa banyak sampah plastik mencapai lautan.  

Hasil studi tersebut memperhitungkan faktor-faktor tambahan  dan menunjukkan pergeseran pemahaman sungai tertentu yang menghasilkan lebih banyak sampah plastik.  Sementara hasil studi sebelumnya memberi peringkat sungai terbesar di dunia sebagai kontributor utama masalah. 

Pusat gravitasi telah bergeser ke sungai kecil yang mengalir melalui kota-kota pesisir di negara-negara berkembang.  Sebagai contoh, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pulau-pulau tropis adalah wilayah dengan probabilitas yang relatif tinggi dengan curah hujan yang melimpah.  

Jarak yang pendek dari sumber-sumber darat ke sungai—cenderung banyak terdapat di pulau-pulau ini—dan  jarak yang jauh lebih pendek ke lautan daripada sungai di benua besar.  Faktor-faktor baru ini menyebabkan konsentrasi pencemaran sampah plastik sungai di banyak negara, termasuk Filipina, Indonesia, Malaysia, Republik Dominika, dan seluruh Amerika Tengah.  

Sementara negara-negara kontinental besar seperti China dan India masih menempati urutan teratas sebagai penghasil sampah plastik.  Sebaliknya, wilayah dengan probabilitas yang relatif rendah untuk menjadi wilayah bermasalah adalah wilayah negara terkurung daratan, wilayah kering dengan sedikit angin atau wilayah di belakang hutan lebat.  

Probabilitas rendah disebabkan oleh jarak tempuh yang jauh lebih jauh yang dibutuhkan plastik, dengan meningkatnya kemungkinan sampah—entah bagaimana terperangkap, dikombinasikan dengan kekuatan pendorong yang terbatas melalui aliran sungai yang lebih lambat.  

Contoh daerah dengan angka polusi rendah adalah Afrika Tengah dan China Barat. The Ocean Cleanup mengembangkan teknologi canggih untuk membersihkan lautan dari plastik di dunia.  Organisasi ini bertujuan untuk mencapai hasil dengan mengambil pendekatan dua arah yakni: membendung aliran masuk melalui sungai dan membersihkan apa yang telah terakumulasi di laut.  

Selanjutnya, The Ocean Cleanup tengah mengembangkan sistem skala besar untuk berkonsentrasi lebih efisien Pada tahun 2020, seperti negara lain di dunia, aktivitas The Ocean Cleanup merasakan hasilnya. Terlepas dari situasinya, tim The Ocean Cleanup menunjukkan ketahanan saat mereka beradaptasi untuk bekerja dari rumah dan menemukan cara baru untuk menggunakan papan gambar (virtual).  

Melalui tekad inilah tim The Ocean Cleanup menyebarkan Interceptor 004 di Republik Dominika, meluncurkan produk pertama The Ocean Cleanup berupa kacamata hitam yang terbuat dari plastik bersertifikat dari Great Pacific Garbage Patch. 

Ini mengonfirmasi kemitraan The Ocean Cleanup dengan Konecranes untuk memproduksi seri Interceptors. Tonggak yang bersejarah ini membuktikan bahwa misi The Ocean Cleanup sama pentingnya dan relevan seperti sebelumnya.


Sumber :

https://www.mmindustri.co.id/sampah-plastik/